Pendekar Super Sakti (I)

22.4K 17 6

Serial Bu Kek Siansu 7
Pendekar Super Sakti (I)

Anak laki-laki berusia kurang lebih sepuluh tahun itu mengintai dari kaca jendela dengan muka marah, mata merah dan gigi berkerot saking marah dan sedihnya menyaksikan keadaan di ruangan dalam rumah gedung ayahnya. Ruangan itu luas dan terang-benderang, suara tetabuhan musik terdengar riuh di samping gelak tawa tujuh orang pembesar Mancu yang sedang dijamu oleh ayahnya. Dari luar jendela ia tidak dapat menangkap suara percakapan yang diselingi tawa itu karena amat bising bercampur suara musik, akan tetapi menyaksikan sikap ayahnya terhadap para tamu pembesar itu, anak ini menjadi marah dan sedih. Ayahnya bicara sambil membungkuk-bungkuk, muka ayahnya yang biasanya bengis terhadap para pelayan dan angkuh terhadap orang lain, kini menjadi manis berlebih-lebihan, ter¬senyum-senyum dan mengangguk-angguk, bahkan dengan kedua tangan sendiri me¬layani seorang pembesar yang brewok tinggi besar, menuangkan arak sambil membungkuk-bungkuk.
Ayahnya yang dipanggil ke kanan kiri oleh para pembesar, menjadi gugup dan kakinya tersandung kaki meja, guci arak yang dipegangnya miring, isinya tertumpah dan sedikit arak menyiram celana dan sepatu seorang pembesar lain yang bermuka kuning. Anak itu dari luar jen¬dela melihat betapa pembesar ini melototkan mata, mulutnya membentak-bentak dan tangannya menuding-nuding ke arah sepatu dan celananya. Ayahnya cepat berlutut dan menggunakan ujung bajunya menyusuti sepatu dan celana itu sambil mengangguk-angguk dan bersoja seperti seekor ayam makan padi! Tak terasa lagi air mata mengalir keluar dari sepasang mata anak laki-laki itu, mem¬basahi kedua pipinya dan ia mengepalkan kedua tangannya.
Ia marah dan sedih, dan terutama sekali, ia malu! Ia malu sekali menyak¬sikan sikap ayahnya. Mengapa ayahnya sampai begitu merendahkan diri? Bukan¬kah ayahnya terkenal sebagai Sie-wangwe (Hartawan Sie) yang amat kaya raya dan disegani semua orang, bukan hanya ka¬rena kaya rayanya, melainkan juga ka¬rena ia terkenal pula dengan nama Sie-siucai (Orang Terpelajar Sie). Ayahnya hafal akan isi kitab-kitab, bahkan dia sendiri telah dididik oleh ayahnya itu menghafal dan menelaah isi kitab-kitab kebudayaan, dan kitab-kitab filsafat. Semenjak berusia lima tahun, dia telah belajar membaca, kemudian membaca kitab-kitab kuno dan oleh ayahnya diharuskan mempelajari isi kitab-kitab itu yang menuntun orang mempelajari hidup dan kebudayaan sehingga dapat menjadi seorang manusia yang berguna dan baik. Akan tetapi, mengapa setelah kini menghadapi pembesar-pembesar Mancu, ayahnya men¬jadi seorang penjilat yang begitu ren¬dah?


Anak itu bernama Han, lengkapnya Sie Han dan panggilannya sehari-hari adalah Han Han. Dia putera bungsu Ke¬luarga Sie, karena Sie Bun An yang di¬sebut Hartawan Sie atau Sastrawan Sie hanya mempunyai dua orang anak. Yang pertama adalah seorang anak perempuan, kini telah berusia tujuh belas tahun, bernama Sie Leng. Han Han adalah anak ke dua.
Pada saat itu, Han Han yang meng¬intai dari balik kaca jendela, melihat ayahnya sudah bangkit kembali, agaknya mendapat ampun dari pembesar muka kuning, dan kini menghampiri pembesar brewok yang sudah setengah mabuk dan memanggilnya. Pembesar brewok itu berkata-kata kepada ayahnya dan ia melihat betapa ayahnya menjadi pucat sekali dan menggeleng-gelengkan kepala. Akan tetapi pembesar brewokan itu menggerakkan tangan kiri dan.... ayahnya terpelanting roboh. Han Han hampir menjerit. Ayahnya telah ditampar oleh pem¬besar brewok itu! Dan semua pelayan yang membantu melayani tujuh orang pembesar itu berdiri dengan muka pucat dan tubuh menggigil. Tujuh orang pem¬besar Mancu kini tertawa-tawa dan riuh-rendahlah mereka bicara, agaknya memaki-maki ayahnya dan mendesak ayahnya melakukan sesuatu.
Si Pembesar Muka Kuning sekarang menggerakkan tangan sambil berdiri dan ia telah mencabut pedangnya. Dengan gerakan penuh ancaman pembesar muka kuning itu menusukkan pedangnya se-hingga ujung pedang menancap di atas meja, berdiri dengan gagang bergoyang-goyang mengerikan.
Han Han membelalakkan matanya dan ia menyelinap turun dari tempat pengintaiannya, kini ia menjenguk dari pintu belakang, terus masuk dan akhirnya ia berhasil masuk tanpa diketahui, berada di ruangan dalam itu, bersem¬bunyi di balik tirai kayu, di mana ia dapat mengintai dan juga dapat men-dengarkan percakapan mereka.
“Sie Bun An!” terdengar pembesar brewok membentak sambil menunding¬kan telunjuknya kepada sastrawan itu yang sudah berlutut dengan tubuh menggigil dan muka pucat, “Apakah engkau masih berani membantah dan tidak memenuhi perintah kami?” Suaranya ter¬dengar lucu karena kaku dan pelo ketika bicara dalam bahasa Han.
“Kaukira kami ini orang-orang macam apa? Kami bukan serdadu-serdadu biasa, tahu? Apa artinya penyanyi-penyanyi dan pelacur-pelacur ini?” Si Muka Kuning menunjuk ke arah para wanita sewaan yang memang disediakan di situ untuk melayani dan menghibur mereka. “Kami adalah pembesar-pembesar militer dan sudah baik kalau kami tidak menghancur¬kan rumahmu. Hayo keluarkan isteri dan puterimu!”
“Ha-ha-ha! Aku mendengar Nyonya Sie dan puterinya amat cantik manis!” berkata seorang pembesar lain yang pe¬rutnya gendut tapi kepalanya kecil.
“Suruh mereka melayani kami, baru kami percaya bahwa engkau benar-benar tunduk dan taat kepada pemerintah baru, bangsa Manco yang jaya!” kata pula seorang pembesar lain yang kurus kering.
“Tapi.... tapi....!” Suara ayahnya sukar terdengar karena menggigil dan perlahan, kepalanya digeleng-geleng, ke¬dua tangannya diangkat ke atas. “Hal itu ti.... tidak mungkin.... ampunkan kami, Taijin....” Melihat ayahnya meratap seperti itu, air mata Han Han makin deras keluar membasahi pipinya. Bukan hanya sedih karena kasihan, melainkan terutama sekali karena malu dan kecewa. Ia tahu banyak keluarga di kota itu yang pergi mengungsi sebelum kota itu terjatuh ke tangan bangsa Mancu, mengungsi dan meninggalkan rumah serta hartanya. Akan tetapi ayahnya tidak mau meninggalkan kota, rupanya sayang ke¬pada hartanya dan percaya bahwa kalau ia bersikap baik dan suka menyuap ke¬pada bangsa Mancu, ia akan dapat hidup aman di situ.
“Kau membantah? Kalau begitu kau memberontak terhadap kami, ya? Hukum¬annya penggal kepala!” Si Perwira Muka Kuning bangkit dari kursinya, mencabut pedang yang menancap di atas meja dan mengangkat pedang itu, siap memenggal kepala Sie Bun An yang masih berlutut. Semua pelayan yang hadir, termasuk penabuh musik dan wanita-wanita sewa¬an, menjadi pucat dan mendekap mulut sendiri agar tidak menjerit. Han Han dari balik tirai memandang dengan mata melotot.
“Tahan....!” Terdengar jerit dari dalam dan muncullah Sie-hujin (Nyonya Sie) berlari dari dalam. “Mohon para Tai¬jin yang mulia sudi mengampuni suami hamba....! Biarlah hamba melayani Taijin....”
Tujuh orang perwira Mancu itu me¬noleh dan berserilah wajah mereka. Per¬wira muka kuning menyeringai dan me¬nyarungkan kembali pedangnya, kemudian sekali tangan kirinya bergerak, ia telah menyambar pinggang Nyonya Sie dan dipeluk, terus dipangkunya sambil tertawa-tawa.
“Benar cantik....! Masih cantik, montok dan harum....! Hemmm....!” Perwira muka kuning itu tidak segan-segan lalu mencium pipi dan bibir nyonya itu yang saking kaget, takut dan malunya hanya terbelalak pucat. Memang Nyonya Sie adalah seorang wanita cantik. Biarpun usianya sudah tiga puluh lima tahun, akan tetapi tubuhnya yang terawat baik itu masih padat, wajahnya yang memang jelita tampak lebih matang menggairah¬kan. Para perwira lainnya tertawa ber¬gelak menyaksikan betapa perwira muka kuning itu mendekap dan mencium sesuka hatinya, seolah-olah di situ tidak ada orang lain lagi, sedangkan para pelayan yang melihat betapa nyonya majikan mereka yang terhormat diperlakukan seperti itu, menggigil dan menundukkan muka tidak berani memandang. Sie Bun An sendiri yang masih berlutut, memandang dengan muka pucat seperti kertas dan ia tidak dapat bergerak, se¬olah-olah telah berubah menjadi arca batu.
“Taijin.... ampun....” Nyonya Sie megap-megap karena sukar ia bicara dengan bibir diciumi secara kasar seperti itu. “.... lepaskan.... ohhh, ampun, saya.... adalah wanita baik-baik....”
Sebagai jawaban, perwira muka ku¬ning itu tertawa dan mencubit dagunya yang halus. “Karena wanita baik-baik, aku suka padamu, manis. Hayo kau mi¬num arak ini untuk menyambut aku, ha-ha-ha!” Perwira itu menyambar cawan araknya yang masih penuh, lalu memaksa nyonya itu minum. Nyonya Sie hendak menolak, akan tetapi dipaksa sehingga sebagian arak memasuki mulut, sebagian tumpah mengenai pakaiannya. Arak me¬rah itu membuat pakaiannya yang putih seperti terkena darah.
Han Han menggigil seluruh tubuhnya, jantungnya berdebar dan ia mengepal tinju dengan air mata bercucuran. Ia hendak melompat maju menolong ibunya, akan tetapi pada saat itu, ia tertarik oleh tingkah perwira brewok yang meloncat berdiri. Gerakannya amat gesit sehingga amat janggal bagi tubuhnya yang tinggi besar dan perutnya yang seperti gentong gandum.
“Ha-ha-ha, kalau ibunya matang dan denok seperti ini, tentti puterinya ranum dan segar. Cocok untukku! Biar kujemput dia!” Sambil berkata demikian, perwira brewok itu sambil tertawa-tiwa melangkah masuk melalui pintu dalam.
“Ha-ha-ha, baik sekali! Jemput dia, jemput dia....!” sorak perwira lain.
“Ohhh, uuuhhhhh....!” Nyonya Sie meronta, akan tetapi perwira muka ku¬ning mempererat pelukannya dan mem¬bungkam mulutnya dengan ciuman kasar.
Han Han menggigil di tempatnya. Kakinya seperti terpaku dan dengan pe¬nuh perasaan jijik ia melihat betapa ayahnya kini bertutut sambil menangis! Alangkah lemahnya ayahnya itu! Mengapa ayahnya diam saja? Mengapa tidak lari mengejar perwira brewok atau menyerang perwira muka kuning? Mati bukan apa-apa untuk membela kebenaran. Bukankah demikian pelajaran dalam kitab? Dalam kitab tentang kegagahan seorang eng-hiong disebut bahwa seribu kali lebih berharga mati sebagai seorang terhormat daripada hidup sebagai seekor anjing penjilat. Dan ayahnya ternyata memilih hidup seperti anjing penjilat! Bukankah peribahasa mengatakan bahwa harimau mati meninggalkan kulit, manusia mati meninggalkan nama? Kulit harimau berharga, nama pun harus berharga. Akan tetapi ayahnya memilih hidup sebagai tikus yang tidak ada harganya sama se¬kali.
Terdengar jerit mengerikan dan tak lama kemudian perwira brewok itu telah muncul kembali sambil memondong se¬orang gadis yang meronta-ronta dan merintih-rintih. Gadis yang cantik sekali, tubuhnya seperti batang pohon yangliu, rambutnya panjang hitam dan kulitnya putih seperti susu baru diperas. Perwira brewok itu melangkah lebar, kemudian duduk kembali di tempatnya sambil me¬mangku Sie Leng dan menciumi muka yang halus putih kemerahan itu dengan mukanya sendiri yang kasar dan penuh cambang bauk sehingga seakan-akan mu¬ka yang halus itu disikat oleh sikat yang kasar dan kaku. Sie Leng yang hendak menjerit tak dapat mengeluarkan suara karena mulutnya tertutup oleh Si Perwira Brewok yang lebar.
Tiba-tiba terdengar teriakan serak dan melompatlah Sie Bun An yang tadi¬nya berlutut. Bangga hati Han Han melihat betapa ayahnya kini menjadi seekor harimau, meloncat bangun dan sambil berteriak menerjang maju hendak me¬mukul Si Perwira Brewok. Akan tetapi kebanggaan hati Han Han berubah men¬jadi kecemasan ketika Si Brewok itu menyambut tubuh ayahnya dengan sebuah hantaman tangan kiri yang tepat me¬ngenai dada ayahnya.
“Dukkk....!” Tubuh Sie Bun An terlempar ke belakang dan mulutnya mun¬tahkan darah segar. Hartawan ini sejak kecilnya hanya tekun mempelajari sastra, sama sekali tidak pandai ilmu silat, ma¬ka tentu saja sekali terkena pukulan berat perwira brewok itu, ia terluka dalam dan muntah darah. Namun, Sie Bun An benar-benar telah menjadi seekor harimau marah. Kemarahan dan sakit hati membuat ia seperti tidak merasakan nyeri akibat pukulan itu dan sambil ber¬teriak, ia maju lagi. Karena ketika dia terlempar, ia jatuh ke dekat tempat duduk perwira muka kuning yang masih menciumi isterinya dan meremas-remas serta meraba-taba tubuh wanita yang ketakutan itu, kini Sie Bun An menye¬rang perwira muka kuning. Akan tetapi, perwira muka kuning itu sudah mencabut pedangnya, menusuk ke depan dan....
“Blesssss....!” pedang itu menembus perut Sie Bun An sampai ke punggung. Tubuh Sie Bun An menegang kaku, mata¬nya terbelalak, dan ketika pedang di¬cabut, ia mendekap perutnya lalu ter-pelanting roboh, berkelojotan dan tak bergerak lagi. Lantai di bawahnya merah oleh genangan darahnya yang masih me¬ngucur keluar dari perut dan punggung.
Han Han hampir pingsan menyaksikan semua ini. Ia melihat betapa ibunya dan cicinya menjerit dan meronta-ronta, na¬mun perwira brewok dan perwira muka kuning sambil tertawa-tawa telah me¬mondong tubuh mereka, bangun berdiri dan Si Brewok berkata dengan suara memerintah kepada lima orang perwira lain yang masih duduk.
“Rumah ini boleh dibersihkan, suruh anak buah masuk membantu!”
Setelah berkata demikian, Si Brewok memondong tubuh Sie Leng masuk ke dalam ruangan belakang, diikuti oleh Si Muka Kuning yang memondong Nyonya Sie. Dua orang wanita ini menjerit-jerit akan tetapi segera dibungkam oleh cium¬an-ciuman. Adapun lima orang perwira itu bersorak dan berpestalah mereka. Pesta yang amat liar karena sambil ber¬teriak memanggil pasukan yang menjaga di luar, mereka ini meraih para wanita sewaan dan berpesta mabuk-mabukan. Mayat Sie Bun An masih menggeletak di situ tidak ada yang berani merawatnya.
Dengan tubuh menggigil saking marah dan dukanya, Han Han menyelinap ke belakang dan memasuki rumah melalui pintu belakang. Ia sudah mengambil ke¬putusan nekat untuk mati bersama ayah dan ibunya. Ia harus menolong ibunya, menolong cicinya! Tanpa mengenal takut lagi anak ini berlari-lari menuju ke ka¬mar ibunya. Akan tetapi sebefum ia me¬masuki kamar ibunya yang sunyi saja, tiba-tiba ia mendengar jerit cicinya di kamar sebelah, yaitu kamar cicinya. Cepat ia mendorong pintu kamar itu dan apa yang disaksikannya membuat darahnya mendidih. Cicinya menjerit-jerit dan berusaha melawan perwira Mancu bre¬wok yang hendak memperkosanya, akan tetapi kembali jeritnya lenyap ke dalam mulut Si Perwira. Pakaian gadis yang bernasib malang itu robek semua dan ia sama sekali tidak berdaya menandingi kekuatan Si Perwira Brewok yang ter¬engah-engah dan terkekeh-kekeh, agaknya makin hebat nona itu meronta dan me¬lawan, makin senanglah hatinya. Dalam pandangan Han Han, ia seolah-olah melihat seekor kucing besar yang memper¬mainkan seekor tikus kecil sebelum ditelannya. Ia sudah melangkah maju de¬ngan tangan terkepal, hendak nekat me¬nubruk dan memukul punggung Si Brewok ketika tiba-tiba terdengar suara ibunya.
“Leng-ji (Anak Leng).... anakku....!”
Suara ini terdengarnya demikian me¬milukan sehingga Han Han mengurungkan niatnya menolong cicinya, atau terlupa karena seluruh perhatiannya kini tertuju kepada ibunya. Agaknya Nyonya Sie yang sudah hampir pingsan karena teringat kepada suaminya dan kini pun tidak berdaya menghadapi rangsangan Si Perwira Muka Kuning, ketika mendengar jerit Sie Leng, timbul kekuatannya dan meronta sambil memanggil anaknya. Ia berhasil melepaskan diri daripada cengkeraman kedua tangan perwira muka kuning dan dengan pakaian hampir telanjang ia lari ke pintu. Namun sekali melompat, per¬wira muka kuning telah menangkapnya kembali dan melemparkannya ke atas pembaringan sambil tertawa.
“Heh-heh, biarkanlah puterimu sedang bersenang-senang dengan kawanku. Mari kini bersenang-senang di sini, Manis. Heh-heh-heh!” Kembali ia menubruk nyo¬nya itu dan pada saat itulah Han Han mendorong pintu kamar ibunya dan me¬loncat masuk. Melihat keadaan ibunya, ia berteriak nyaring dan menerjang maju, memukuli punggung perwira muka kuning, menjambak rambutnya, membetot-betotnya agar melepaskan ibunya.
“Ehhh! Bocah setan....! Mau apa kau....?” Perwira itu menoleh, tanpa menghentikan usahanya menggelut Nyonya Sie.
“Han Han....! Pergilah....! Pergilah jauh-jauh dari sini....!” Nyonya Sie bergerak dan membelalakkan mata melihat puteranya.
“Ibu....!”
“Hemmm, anakmu, ya? Mengganggu saja!” Si Perwira Muka Kuning meloncat, menjambak rambut Han Han sehingga tubuh anak itu tergantung. Akan tetapi Han Han tidak takut, melotot dan kedua tangannya berusaha memukul. Perwira itu lalu menampari mukanya.
“Plak-plak-plak-plak!” Berkali-kali sampai muka itu menjadi matang biru dan membengkak, mulutnya mengeluarkan darah.
Namun anak itu masih memandang dengan mata melotot, penuh kebencian kepada perwira muka kuning.
“Han Han....!” Nyonya Sie menjerit.
Perwira itu membanting tubuh Han Han ke atas lantai, suaranya berdebuk dan tubuh anak itu rebah miring. Akan tetapi Han Han masih bergerak hendak bangun. Sebuah tendangan mengenai tengkuknya, membuat kepalanya nanar dan berkunang. Kemudian kembali kaki perwira itu menendang, keras sekali me¬ngenai dadanya. Tubuh anak itu terlem¬par membentur dinding. Kepalanya ter¬banting pada dinding, napasnya sesak dan anak itu roboh tak sadarkan diri, muka¬nya membengkak dan matang biru se¬hingga matanya tidak tampak, mulutnya mengeluarkan darah, demikian pula hi¬dungnya.
 “Han Han....!” Namun jerit Nyonya Sie ini lenyap dalam suara gaduh di seluruh rumah itu, di mana para serdadu Mancu mulai me¬rampoki barang-barang berharga, dan la¬pat-lapat terdengar jerit tertahan Sie Leng diselingi suara ketawa yang parau dari perwira brewok dan suara kekeh menji¬jikkan dari perwira muka kuning.
Malam yang amat mengerikan. Malam terkutuk bagi keluarga Sie. Malam jaha¬nam di mana terjadi perbuatan-perbuatan terkutuk yang sudah terlampau sering terjadi di dalam jaman perang. Pem¬bunuh-pembunuhan, perkosaan, peram¬pokan! Perbuatan-perbuatan yang tidak sepatutnya dilakukan manusia-manusia beradab. Malam penuh noda, darah mem¬banjir dan iblis tertawa gembira karena malam-malam jahanam seperti itu adalah malam-malam kemenangan baginya.
Han Han tersadar di tengah-tengah suara hiruk-pikuk. Ia segera teringat dan cepat bangkit. Akan tetapi ia mengeluh, kepalanya nyeri bukan main, berdenyut-denyut keras, kiut-miut rasanya seperti akan pecah, dadanya pun nyeri dan na¬pasnya sesak. Ia tentu akan roboh kembali kalau saja tidak melihat ibunya. Ibu¬nya menggeletak di lantai tidak berpakai¬an lagi. Tubuhnya yang berkulit putih itu berlepotan darah dan darah tergenang di bawahnya, mengalir ke bagian yang ren¬dah dari lantai kamar itu. Leher ibunya terluka besar sekali, hampir putus sehingga kepala itu letaknya terlalu miring sehingga aneh.
“Ibu....!” Han Han belum sadar betul akan keadaan ibunya, terhuyung-huyung menghampiri dan hendak mengangkat tubuh ibunya. Akan tetapi matanya ter¬belalak memandang leher yang hampir putus, mata yang terbuka, mata yang tidak bersinar lagi.
“Ohhh.... ohhh.... Ibuuuuu....!” Han Han menjerit dan tergelimpang roboh di dekat mayat ibunya, pingsan kembali.
Rumah gedung Keluarga Sie yang telah dirampok habis-habisan itu kini di¬makan api. Ini adalah siasat para per¬wira tadi yang lebih baik membuat ru¬mah itu menjadi lautan api untuk me¬nutupi perbuatan-perbuatan biadab me¬reka. Kalau rumah sudah hancur menjadi abu, siapa bisa membuktikan bahwa ru-mah itu habis dirampok? Kalau mayat itu sudah menjadu abu, siapa dapat mengatakan bahwa mereka itu diperkosa atau dibunuh?
Tidak ada seorang pun tetangga yang berani muncul. Mereka sendiri masih merasa untung terlewat oleh bencana yang ditimbulkan oleh serdadu-serdadu Mancu itu. Dalam keadaan seperti itu seperti yang terjadi pada setiap negara yang dilanda perang, terbuktilah bahwa segala sesuatu yang tadinya dianggap menguntungkan dan menyenangkan bah¬kan menjadi sebab-sebab malapetaka! Aneh akan tetapi nyata bahwa dalam ke¬adaan seperti itu, mereka yang kaya raya dan mereka yang mempunyai anak-anak perempuan cantik malah menjadi korban, sebaliknya mereka yang miskin tidak mempunyai apa-apa dan yang tidak mem¬punyai anak gadis cantik, malah aman dan tidak terganggu! Kalau sudah begini, tak seorang pun berani mengatakan bah¬wa harta benda dan kekayaan duniawi ini merupakan syarat hidup bahagia!
Di antara sinar api yang membakar ru¬mah gedung Keluarga Sie, yang menerangi kegelapan malam sunyi, tampak bayangan seorang laki-laki tua dengan nekat menyelinap memasuki rumah bagian yang belum dimakan api. Asap tebal me¬nyambutnya, membuatnya terbatuk-batuk dan membuat matanya seperti buta, akan tetapi orang ini terus masuk dan me¬raba-raba. Biarpun api itu amat terang, namun cahayanya membuat mata buta karena setiap mata dibuka, hawa panas menusuk-nusuk. Akan tetapi orang itu agaknya sudah hafal akan keadaan di dalam gedung ini. Buktinya ia dapat terus menyelinap masuk, menuju ke ka¬mar-kamar di sebelah belakang, dekat ruangan dalam yang tadi dipakai pesta-pora, di mana kini menggeletak mayat Sie Bun An dan tiga orang pelayan pria yang juga dibunuh oleh serdadu-serdadu Mancu itu. Laki-laki itu tidak mempe¬dulikan mayat-mayat ini, terus terhuyung-huyung masuk dan akhirnya ia memasuki kamar Nyonya Sie mendorong pintu yang sudah mulai termakan api.
“Sie-hujin....! Kongcu (Tuan Muda)....!” Ia berseru dan cepat berlutut dekat dua sosok tubuh itu. Tubuh Nyonya Sie yang telanjang bulat dan mandi darah itu ha¬nya ia lirik sebentar saja, akan tetapi ketika ia meraba tubuh Sie Han yang belum mati, cepat ia mendukung tubuh anak itu dan hendak dibawanya keluar kamar. Akan tetapi pintu kamar itu kini sudah terbakar semua, bahkan mulai run¬tuh dan atap pun sudah terjilat api!
Laki-laki itu kebingungan lalu menuju ke jendela kamar. Didorongnya jendela itu dengan bahunya, dan asap bercampur api menjilat masuk. Ia tidak peduli akan hawa panas yang menyesak dada, terus saja ia menerobos keluar melalui jendela dan setibanya di luar jendela, sebagian atap yang terbakar menimpanya! Orang itu mendekap tubuh Han Han dan kayu yang membara menimpa kepala dan pun-daknya. Rasa nyeri dan panas menyengat tubuhnya, membuatnya hampir roboh. Akan tetapi ia hanya jatuh berlutut saja, cepat bangkit kembali dan terhuyung-huyung mencari jalan keluar. Beberapa kali ia menerjang lautan api, rambutnya sudah terbakar habis, juga kumis, jenggot dan alisnya, mukanya, sudah hangus dan melepuh, pakaiannya setengah telanjang dan hangus, tubuhnya melepub semua dan napasnya terengah-engah. Akan tetapi akhirnya ia berhasil keluar dari lautan api dan terhuyung-huyung memasuki ta¬man yang gelap. Sinar api hanya me¬nyinar melalui celah-celah pohon kem¬bang dan di tempat inilah laki-laki itu terguling roboh. Tubuh Han Han terlepas dari dukungannya dan terbanting pula ke atas tanah yang bertilam rumput hijau basah dan segar.
“Ibu....!” Han Han siuman kembali dan pertama-tama yang teringat olehnya adalah ibunya. Akan tetapi sinar merah dan suara berkerotokan rumah terbakar itu menyadarkannya dan ia cepat bangkit duduk menoleh ke arah rumah keluarganya yang terbakar. “Ibu....!”
“Aagghhh.... Kongcu.... Ibumu.... sudah tewas....”
Han Han bangkit dan terhuyung-huyung menghampiri orang yang rebah tak jauh dari situ. Ia berlutut dan hampir tak dapat mengenal wajah yang sudah me¬lepuh, kepala yang gundul dan tubuh yang hangus itu. Akan tetapi sinar api kadang-kadang menjilat sampai ke situ dan ia dapat mengenal bentuk muka ini.
“A Sam....!” Ia memeluk. Anak ini amat cerdik dan kuat ingatan. Tadi ia berada di kamar ibunya, sekarang berada di taman dan A Sam luka-luka terbakar. Segera ia dapat menarik kesimpulan bah¬wa pelayannya yang setia inilah yang menolongnya keluar dari rumahnya yang terbakar. Ia teringat ayahnya yang sudah tewas pula, dan teringat cicinya di kamar sebelah.
“Cici Leng....?”
“.... dibawa pergi.... anjing-anjing Mancu.... kau pergilah, Kongcu.... pergilah jauh-jauh.... menyamar sebagai pengemis.... jangan berada di kota ini.... aku.... aku.... auugghhh....” A Sam, pelayan tua yang amat setia dari Keluarga Sie, yang selalu menjadi teman bermain Han Han semenjak ia dapat berjalan, menjadi lemas.
“A Sam....! A Sam....!” Namun orang itu tidak menyahut, dan tidak akan dapat menjawab lagi karena ia telah mati. Mati sebagai seorang yang setia dan karenanya mati sebagai seekor harimau!
Han Han duduk melamun. Ia tidak menangis. Tidak dapat menangis lagi. Dan ia merasa seolah-olah ada sesuatu yang mendorongnya untuk berpikir, untuk berbuat dan menggkinakan akalnya. Matanya melirik ke kanan kiri seperti mata seekor anjing yang dikurung dan mencari kesempatan untuk keluar. Mata yang cerdik sekali. Terjadi pada diri Han Han yang tidak ia sadari sendiri. Ketika tadi ia dibanting lalu ditendang, kepalanya terbanting menumbuk dinding¬ dan getaran bantingan inilah yang agak¬nya mengubah keadaan pikirannya. Mendatangkan ketabahan luar biasa, kecer¬dikan yang aneh, dan membuat ia tidak dapat susah lagi! Biarpun kini menghadapi kematian ayah bundanya, dan kehilangan cicinya, yang berarti bahwa seluruh ke¬luarganya hancur, ia sama sekali tidak merasa susah! Yang ada hanya bayangan tujuh orang perwira, terutama sekali wajah dan bentuk tubuh perwira brewok dan perwira muka kuning, seperti terukir di benaknya, takkan terlupakan lagi olehnya!
Dari peristiwa terkutuk dan malam jahanam itu, terciptalah seorang yang aneh, dan orang yang melihatnya tentu akan mengira bahwa Han Han telah menjadi gila oleh peristiwa mengerikan itu. Ketika anak itu akhirnya membungkuk, mencium dahi gosong bekas pelayannya, kemudian bangkit berdiri dan terhuyung-huyung meninggalkan taman, memasuki bagian-bagian yang gelap, orang yang melihatnya tentu akan merasa kasihan sekali. Akan tetapi orang itu akan ter¬cengang kalau saja dapat melihat betapa mata itu berkilat-kilat, betapa mulut yang masih bengkak itu tersenyum aneh. Bocah ini hanya berhenti sebentar untuk merobek sebagian dari pakaiannya, me¬ngotori tubuhnya dengan abu, membuang sepatunya kemudian menyelinap sampai keluar dari kota.
Peristiwa terkutuk itu terjadi di kota Kam-chi ketika pasukan-pasukan Mancu memperluas wilayahnya dan menyerbu ke jurusan selatan, yaitu pada tahun 1645 dan merampas kota Nan-king. Dan tidak hanya terjadi di Kam-chi saja, melainkan di setiap kota dan dusun selalu terjadilah pembunuhan-pembunuhan, perkosaan-perkosaan, penculikan dan perampokan yang keji. Memang demikianlah sifat kekejian yang ditimbulkan oleh perang, di bagian mana saja di dunia ini, semenjak masa dahulu sampai sekarang.
Gelombang bangsa Mancu ini dimulai ketika di antara bangsa dari utara ini muncul seorang tokoh besar yang menjadi raja mereka, yaitu Raja Nurhacu (tahun 1616) yang menamakan diri sendiri kaisar dan mendirikan wangsa atau Kerajaan Ceng. Di bawah bimbingan Kaisar Nur¬hacu yang kebesarannya menyamai Raja Mongol Jengis Khan yang tersohor itu, mulailah bangsa Mancu membuka dan mengembangkan sayapnya, menaklukkan gerombolan-gerombolan dan suku-suku bangsa yang dipimpin raja-raja kecil sehingga dalam beberapa tahun saja ber¬hasil menguasai seluruh Mancuria.
Melihat kekuasaan dan kekutan bang¬sa Mancu, bangsa Mongol yang sudah lama kehilangan kekuasaannya setelah Pemerintahan Goan hancur, menjadi ter¬tarik dan menggabungkan diri dengan bangsa Mancu. Persekutuan ini amat kuat dan barisan gabungan ini menyerbu dan menundukkan Korea dalam tahun 1637. Kemudian pasukan Mancu yang di¬perkuat dengan pasukan Mongol dan pasukan taklukan dari Korea, di bawah pimpinan Kaisar Abahai yang mengganti¬kan Kaisar Nurhacu (1626-1646), menyer¬bu terus ke Shan-tung, berhasil menun¬dukkan propinsi ini dan menghancurkan bala tentara Beng, lalu terus menyerbu ke arah ibu kotanya, yaitu Peking. Na¬mun penyerbuan ini tertunda karena Kai¬sar Abahai meninggal. Karena putera mahkota masih sangat muda, maka ke-kuasaan dipegang oleh Pangeran Dorgan, saudara mendiang Kaisar Abahai.
Pangeran Dorgan adalah seorang ahli perang yang ulung. Ia mengerti bahwa di dalam pemerintah Beng sendiri terjadi pemberontakan-pemberontakan, dan Pe¬king telah terjatuh ke tangan pemberon¬tak Lie Cu Seng yang menyerbu dari selatan. Dengan cerdik Pangeran Dorgan menghubungi Bu Sam Kwi, panglima yang menjaga tapal batas utara, dan bersama Panglima Beng yang berkhianat ini me-nyerbulah bala tentara Mancu ke Peking dan berhasil mengalahkan barisan pem¬berontak Lie Cu Seng. Lie Cu Seng sen¬diri melarikan dari Peking setelah merampok kota indah itu habis-habisan.
Akhirnya Bu Sam Kwi sadar bahwa ia telah memasukkan srigala ke tanah airnya, maka ia merasa menyesal dan mem¬bawa bala tentaranya mengungsi ke barat daya yaitu ke Se-cwan di mana ia mem-perkuat kedudukannya dan menjadi raja yang berdaulat di situ, jauh dari ke¬kuasaan dan pengaruh pemerintah Mancu yaitu Kerajaan Ceng-tiauw.
Pangeran Dorgan melanjutkan penyer¬buannya ke selatan dan di bawah pinnpin¬an pangeran inilah bala tentara Mancu berhasil terus menduduki Nan-king dan wilayah bagian selatan. Pangeran Dorgan yang amat cerdik itu pandai mengambil hati para pembesar dan hartawan di selatan, mengumumkan tidak akan meng¬ganggu mereka asal mereka suka bekerja sama. Tentu saja ada terjadi kekecualian, yaitu mereka yang tidak mau bekerja sama tentu dirampok habis dan dibasmi keluarganya. Ada pula terjadi hal-hal seperti yang menimpa Keluarga Sie di Kam-chi itu, dan pelaporan ke atas tentu berbunyi sama, yaitu bahwa keluarga itu tidak mau bekerja sama sehingga terpaksa dibasmi!
Demikianlah, cerita ini dimulai pada tahun 1645, dimulai dengan lembaran hitam dan sebagai contoh dari sekian banyaknya peristiwa keji dan terkutuk, diceritakan kemalangan yang menimpa Keluarga Sie.
Beberapa bulan kemudian setelah terjadinya peristiwa terkutuk di Kam-chi itu, tampak seorang anak laki-laki berpakaian penuh tambalan berjalan se¬orang diri memasuki kota Tiong-kwan di lembah Sungai Huang-ho. Kota ini telah lebih dulu ditaklukkan oleh tentara Man¬cu sehingga kini keadaan di situ sudah tampak aman dan tenteram. Rakyat su¬dah mulai bekerja lagi seperti biasa, seolah-olah tidak pernah terjadi perang, seolah-olah rakyat tidak peduli siapa yang berkuasa, siapa yang menjadi raja dan bangsa apa yang menjajah me¬reka! Anak kecil itu berusia sepuluh tahun lebih, berjalan melenggang seenak¬nya dan di pundaknya tergantung sebuah keranjang yang terisi beberapa buah roti kering dari gandum.
Dia bukan lain adalah Sie Han, atau Han Han. Kalau ada orang Kam-chi yang bertemu dengannya, tentu tidak akan dapat mengenalnya sebagai bekas putera sastrawan Sie Bun An. Bukan hanya pa-kaiannya yang penuh tambalan dan kaki¬nya yang telanjang serta kulit kaki ta¬ngannya yang kotor itu yang membuat orang pangling, namun memang terjadi perubahan besar pada diri anak ini. Pandang matanya jauh berbeda, pandang mata yang amat tajam dan manik mata itu seolah-olah mengeluarkan sinar yang menembus dada orang. Bola mata yang bening itu bergerak-gerak lincah sebagai pencerminan otaknya yang dapat bekerja cepat. Rambutnya digelung ke atas dan dibungkus dengan saputangan yang kotor. Ketika berjalan melalui jalan yang sunyi menuju ke kota Tiong-kwan ini, Han Han bernyanyi dengan suara nyaring. Orang tentu akan tercengang keheranan kalau mendengar kata-kata nyanyiannya. Orang yang tidak pernah membaca kitab tentu menganggapnya bernyanyi ngawur saja atau sedikitnya mengira dia tidak waras.
Akan tetapi kaum terpelajar akan lebih tercengang keheranan karena tentu akan mengenal nyanyian dari sajak ciptaan sastrawan besar Go Pek di jaman Kera¬jaan Sui, ratusan tahun yang lalu.
“Bekerja seenaknya tak tertekan tak diperintah,
mengemis ke mana saja mengetuk hati nurani manusia.
Amboi.... betapa bebas dan senangnya!
Mereka yang tidak tahu akan kebahagiaan para pengemis,
tidak tahu pula senangnya kehidupan burung di udara!”
 
Setelah selesai menyanyikan sajak yang ia hafal dari kitab-kitab yang pernah di¬bacanya, Han Han lalu mencela sendiri, dengan ucapan bisik-bisik seperti berkata kepada diri sendiri, mencela nyanyian tadi.
“Wah, Go Pek memang pelamun ko¬song! Kalau ditakdirkan menjadi manusia, mengapa menginginkan kehidupan burung? Manusia dan burung tidak sama. Orang yang malas dan hanya suka mengemis adalah orang yang tiada gunanya. Dan apakah artinya hidup di dunia kalau tidak ada gunanya?” Ia menggeleng-geleng kepalanya lalu bernyanyi lagi akan tetapi sekali ini nyanyiannya jauh berbeda de-ngan tadi, karena nyanyiannya seperti lagu kanak-kanak :
 
“Duk-ceng, duk-ceng!
warna hitam tampak putih,
bau busuk disangka wangi,
suara brengsek terdengar merdu,
rasa pahit katanya manis!
Duk-ceng, duk-ceng!
Jangan percaya mata dan telinga mulut,
semua itu palsu belaka.
Duk-ceng, duk-ceng, duk-ceng-ceng!”
 
Terdengamya saja nyanyian ini seperti nyanyian kanak-kanak. Suara duk-ceng itu adalah suaranya tambur dan gembreng. Akan tetapi sesungguhnya, nyanyian ini adalah nyanyian kaum Agama To dan mempunyai arti yang amat dalam. Nyanyian yang menyindirkan betapa manusia dikuasai oleh panca indranya, betapa manusia selalu menurutkan perasaannya. Betapa tepatnya nyanyian kanak-kanak ini karena setiap hari pun sampai seka¬rang dapat kita lihat “dagelan” (lawak) macam itu. Betapa banyaknya orang melihat hal hitam sebagai putih sehingga yang benar disalahkan, yang salah di-benarkan. Betapa yang busuk-busuk dapat ditutup dengan harta sehingga tercium wangi, suara-suara yang menyesatkan dianggap merdu kalau suara itu meng¬untungkannya, dan masih banyak kenyata¬an-kenyataan lain.
 
Semua itu dikenal Han Han dari kitab-kitabnya. Dia meninggalkan rumah dan keluarganya yang terbasmi habis itu tan¬pa membawa uang sepeser pun. Akan tetapi Han Han seorang anak yang cerdik dan semenjak peristiwa itu terjadi, ia menemukan ketabahan dan keuletan yang luar biasa sekali. Di sepanjang jalan dalam perantauannya yang tiada bertuju¬an ini, ia selalu mencari pekerjaan, membantu petani kalau lewat di dusun, mem¬bantu mencuci piring di restoran, meng¬gosok kuda dan kereta, mengangkut ba¬rang-barang yang dibongkar dari perahu dan lain-lain. Dengan keuletannya ini, ia tidak pernah kekurangan makan dan pada saat itu, ia malah masih mempunyai bekal roti kering yang akan cukup menghindarkannya dari kelaparan selama be¬berapa hari.
Ketika ia memasuki pintu gerbang kota Tiong-kwan dan memasuki tempat yang mulai ramai, Han Han tidak bernyanyi lagi, bahkan sikapnya pun tidak acuh seperti sikap seorang pengemis biasa. Ia melihat-lihat keadaan kota yang cukup ramai itu karena letaknya yang dekat dengan Sungai Huang-ho membuat kota ini mudah melakukan hubungan de¬ngan kota-kota lain. Akan tetapi ada hal yang membuat Han Han diam-diam ter¬menung dan prihatin, yaitu banyaknya pengemis di kota ini. Bukan pengemis-pengemis biasa yang terdiri dari orang-orang tua yang sudah tidak kuat bekerja dan tidak mempunyai keluarga yang menyokongnya, melainkan pengemis-pengemis cilik yang terdiri dari anak-anak sebaya dengan dia sendiri.
Akibat perang, keluhnya diam-diam dengan perasaan tidak senang. Anak-anak yang sudah kehilangan orang tua dan keluarga, atau anak-anak yang orang tua¬nya demikian miskin sehingga mereka ini terlantar dan mencari makan dengan jalan mengemis. Anak-anak usia belasan tahun yang pakaiannya compang-camping, ada yang penuh tambalan, ada pula yang hanya memakai celana butut tanpa baju, dengan tubuh kurus akan tetapi perut gendut tanda perut yang jarang diisi atau diisi secara tidak teratur. Muka yang kurus pucat, sinar mata yang sayu tidak bercahaya, pencerminan hati yang ke-hilangan harapan dan pegangan. Akan tetapi ada pula di antara mereka yang nakal-nakal, dengan sinar mata mence¬moohkan dunia, tidak peduli akan segala perbuatannya, tidak tahu membedakan pula antara baik dan buruk. Pengaruh keadaan!
Tiba-tiba sebatang kayu bercabang meodongnya. Han Han mengangkat mu¬ka, sadar dari lamunan dan melihat bah¬wa yang menodongnya adalah seorang anak laki-laki sebaya dengan dia, akan tetapi tubuhnya amat kurus sehingga tulang-tulang iga yang tidak tertutup baju itu tampak nyata. Muka yang ce¬kung kurus itu membayangkan ketampan¬an, sedangkan matanya bersinar cerdik menimbulkan rasa suka di hati Han Han.
“Berlutut kamu! Berlutut dan tunduk kepada perwira tinggi atau kupenggal kepalamu! Engkau tentu pencuri, he? Atau pencopet?” Mata anak itu melirik ke arah keranjang yang terisi roti kering.
Melihat lagak anak ini seperti seorang perwira menodongkan pedang dengan angkuhnya, Han Han tertawa terbahak dengan hati geli. “Ha-ha-ha-ha! Perwira macam apa ini? Bajunya dari kulit hidup, bukan terhias bintang melainkan terhias tulang-tulang iga. Dan celananya, bukan terhias baju besi melainkan terhias tam¬bal-tambalan! Apakah kamu ini perwira dari neraka?”
Melihat Han Han tidak marah sehingga tidak ada alasan untuk diajak berkelahi, malah tertawa dan mengeluar¬kan kata-kata lucu, anak itu pun me¬nyeringai tertawa. Giginya putih dan rata, menambah ketampanan wajahnya dan menambah rasa suka di hati Han Han.
“Kau orang baru di sini? Bagaimana kau datang? Dan dari mana kau men¬dapatkan roti kering begitu banyak?” tanya anak itu, menyelinapkan rantingnya di pinggang seperti seorang perwira me¬nyimpan pedangnya.
“Kau mau? Lapar? Nih sebuah untukmu,” kata Han Han sambil menyerahkan sehuah roti kering.
Anak itu memandang terbelalak, menelan ludah dan bertanya ragu, “Benar-benar kauberikan sebuah untukku? Tidak main-main?” Ia merasa heran karena belum pernah melihat seorang pengemis lain memberinya sepotong roti dengan sikap begitu royal dan ramah.
“Mengapa tidak? Kalau kau lapar! Mari kita makan di pinggir jalan,” kata Han Han sambil berjalan ke tepi jalan lalu duduk di atas tanah. Anak itu telah menerima roti pemberian Han Han, me¬mandang roti seperti belum percaya, lalu mengikuti Han Han duduk di tepi jalan. Seketika sikap bocah itu berubah ramah dan akrab dan memang itulah sifat aselinya. Kalau tadi ia seperti anak yang memancing perkelahian adalah watak yang dibentuk oleh keadaan sekelilingnya.
“Wah....! Keras....!” Anak itu mengeluh ketika mencoba menggigit rotinya.
Han Han tersenyum. “Memang keras sekali, sengaja dibuat untuk dapat ber¬tahan sampai berbulan-bulan. Makannya harus dicelup air teh, baru nikmat.”
“Wah, dari mana bisa mendapatkan air teh?”
“Beli, kalau kamu mau pergi membeli sebentar.”
“Hah? Beli? Memang kaukira aku ini kongcu (tuan muda) hartawan?”
Han Han tertawa geli dan merogoh sakunya, mengeluarkan sepotong uang kecil, sisa hasil ia membantu pedagang membangkar barangnya kemarin dulu.
“Nih, kaubelilah air teh, kutunggu di sini. Untuk dapat membeli air teh saja masa memerlukan seorang kongcu hartawan?”
Kembali anak itu memandang heran, akan tetapi ia lalu menyambar uang itu dan lari pergi dari situ, membawa roti keringnya. Han Han menghela napas. Kalau dia tidak kembali ke sini, aku tidak akan heran, pikirnya. Bocah-bocah seperti itu patut dikasihani! Benar-benar sebuah pemikiran yang amat janggal. Dia sendiri yang tadinya seorang “kongcu” hartawan dan terpelajar, tinggal di ru¬mah gedung dilayani banyak pelayan, sekarang keadaannya tiada bedanya de¬ngan anak-anak pengemis, namun ia ma¬sih menaruh kasihan kepada mereka!
Dugaan Han Han keliru dan ia menjadi makin suka kepada bocah itu ketika melihatnya datang berlari sambil mem¬bawa sebuah kulit waluh kering yang ternyata terisi air teh. Terengah-engah ia duduk di dekat Han Han. Han Han melirik dan mendapat kenyataan bahwa roti kering di tangan anak itu masih utuh, ia makin suka. Ini menandakan bahwa anak ini memiliki watak jujur dan setia, tidak mau mendahului makan roti dengan air teh sebelum tiba di tempat Han Han!
“Nah, mulailah!” ajak Han Han yang mengambil sepotong roti, mencelupkannya di air teh sampai lama, kemudian mulai makan roti itu. Anak itu menirunya, dan setelah ia berhasil menggigit sepotong roti, ia mengunyahnya dengan lahap sam¬bil mulutnya mengomel.
“Wah, enak! Harum dan gurih....!”
Tidak ada balas jasa yang lebih nik¬mat lagi bagi seorang pemberi kecuali kalau pemberiannya itu dipuji dan me¬nyenangkan hati orang yang diberinya. Wajah Han Han berseri dan teringatlah ia akan ujar-ujar kuno yang berbunyi : “Bahagiakanlah hati orang yang memberimu dengan menghargai pemberiannya!” Bocah ini telah melakukan hal itu. Tak mungkin dia tahu akan ujar-ujar ini, tentu hanya kebetulan saja!
“Siapa namamu?” tanya Han Han.
“Wan Sin Kiat! Ayahku dahulu pera¬jurit, tewas di medan perang melawan anjing.... eh, tentara Mancu.” Bocah itu memandang ke kanan kiri, takut kalau-kalau makiannya terdengar orang. “Ibuku lari bersama seorang perwira Mancu. Aku tidak sudi ikut ibu, maka merantau dan.... beginilah. Engkau siapa?”
“Aku Han Han....”
“Tentu seorang kongcu yang menya¬mar menjadi pengemis!”
“Eh! Sembarangan saja menuduh. Aku bukan kongcu, juga bukan pengemis!”
“Lagak dan sikapmu seperti kongcu. Kau patut menjadi kongcu. Mungkin juga bukan, akan tetapi bukan pengemis? Heh, jangan berolok, kawan. Pakaianmu itu!”
Han Han penasaran. “Biarpun pakaian¬ku butut, aku tidak pernah mengemis! Aku makan dari hasil keringatku. Roti itu pun pemberian pedagang roti yang kubantu membongkar muatan terigu!”
“Ahhh, begitukah?” Sin Kiat meng¬hela napas dan menunduk. “Kalau aku.... aku pengemis tulen.”
Han Han merasa menyesal telah me¬nyinggung perasaan orang tanpa disengaja. Ia memegang lengan anak itu dan ber¬kata, “Engkau sampai menjadi begini akibat perang...., bukan kehendakmu, Sin Kiat.”
Tiba-tiba Sin Kiat berkata penuh se¬mangat. “Kalau sudah besar aku akan menjadi seorang perajurit seperti men¬diang Ayahku! Bahkan aku akan menan¬jak menjadi Perwira. Kau lihat saja!”
Han Han tersenyum. Melihat sema¬ngat bocah ini, kelak dia tidak akan merasa heran kalau benar-benar Wan Sin Kiat menjadi seorang perwira. “Nih, kau ambil lagi rotinya,” ia menawarkan ke¬tika melihat roti pertama sudah habis memasuki perut kawan baru itu.
Sin Kiat mengambil sepotong lagi, kemudian tiba-tiba seperti orang teringat akan sesuatu, ia memegang lengan Han Han dan berkata, “Han Han, apakah eng¬kau suka membagi rotimu kepada anak-anak lain, bukan hanya kepadaku?”
 “Hah? Kalau perlu tentu saja bo¬leh.”
“Bagus! Engkau benar-henar anak jempol! Mari ikut aku!” Sin Kiat bangkit berdiri, menarik tangan Han Han dan mengajak teman baru yang mempunyai banyak roti itu berlari memasuki kota. Mereka lewat di pasar, lalu membelok ke sebuah gedung bobrok yang tadinya ter¬bakar, kini tinggal sisa dinding-dinding gosong dan kotor dan sebagian atapnya. Ketika tiba di situ, ternyata di situ ter¬dapat dua orang anak sebaya dengannya yang juga berpakaian seperti pengemis, bahkan ada pula seorang kakek berpakaian seperti pengemis, kakek yang kurus kering dan rambutnya riap-riapan.
“Mana teman-teman yang lain? Ada rejeki datang!” Sin Kiat berseru dengan wajah berseri-seri.
“Pergi mengemis ke pasar,” jawab seorang anak pengemis yang kepalanya gundul. “Katanya ada pembesar meninjau pasar.”
“Huh, bodoh! Belum tentu mendapat sedekah, yang sudah pasti mererima cambukan para pengawal yang galak,” kata Sin Kiat mengomel.
“Itulah sebabnya mengapa kami berdua tidak ikut pergi,” kata pengemis ke dua. “Aku benci melihat pembesar....”
Terdengar batuk-batuk dari kakek pengemis yang melenggut di sudut. “Hmmm...., anak-anak, hati-hatilah sedikit kalau bicara. Apakah anak-anak sekecil kalian sudah bosan hidup?”
Tiga orang anak pengemis itu menjadi pucat dan celingukan memandang ke kanan kiri. Han Han berpendapat bahwa anak-anak itu seperti anak-anak burung yang ketakutan selalu, maka ia makin kasihan kepada mereka. Tanpa diminta ia lalu mengambil roti-roti kering dari ke¬ranjangnya, pertama-tama ia memberi kepada kakek itu.
“Lopek, silakan makan roti kering seadanya.”
Kakek itu memandang dengan tajam. Han Han terkejut, tidak menyangka bah¬wa kakek itu mempunyai pandang mata yang demikian tajamnya. Lalu kakek itu setelah meneliti Han Han dari kepala sampai ke kaki, mengangguk-angguk dan menerima roti terus melenggut lagi sam¬bil makan roti kering. Kembali Han Han tercengang. Kakek itu sudah tua dan kempot, tanda bahwa giginya sudah tidak lengkap lagi, namun roti kering yang keras itu digigitnya seperti seorang meng¬gigit kerupuk saja! Ia lalu membagi-bagi roti kering kepada dua orang anak lain yang menerimanya dengan gembira.
Han Han lalu menurunkan keranjang rotinya dan mempersilakan siapa saja yang masih lapar untuk mengambil lagi, dan ia pun ikut duduk mendeprok di atas lantai rumah gedung yang terbakar itu. Heran sekali, ia merasa betah di situ, merasa seperti berada di rumah sendiri. Seolah-olah gedung yang bekas terbakar ini adalah gedung keluarganya.
Sin Kiat mendekati kakek pengemis dan berkata dengan suara mendesak, “Kek, kauajarlah aku silat agar kelak aku menjadi orang kuat. Aku ingin menjadi seorang perwira!”
Kakek itu membuka matanya, menjawab malas. “Aku tidak bisa silat....”
“Bohong....! Kakek bohong....!” Sin Kiat dan dua orang temannya berteriak-teriak.
Akan tetapi kakek itu hanya melenggut, mulutnya tersenyum aneh. Han Han memandang penuh perhatian. Banyak sudah ia membaca tentang pengemis-pengemis yang sakti, bahkan membaca tentang sastrawan-sastrawan yang hidup¬nya seperti pengemis.
“Kemarin dulu kau membubarkan selosin serdadu dengan tongkat bututmu itu. Dengan apakah kalau tidak dengan ilmu silat? Hayo, Kek, jangan pelit, ah. Ajar kami ilmu silat. Han Han tadi su¬dah begitu ramah dan murah hati, mem¬bagi-bagikan roti keringnya, apakah kau begini pelit untuk membagi ilmu silat kepada kami? Ingat, Kek, roti yang di¬bagi-bagikan menjadi habis, sebaliknya ilmu silatmu kalau dibagi sampai seribu orang sekalipun takkan menjadi habis!”
Han Han kagum mendengar alasan Sin Kiat ini. Anak cerdik, pikirnya. Akan tetapi ia merasa kasihan dan tidak enak hati melihat kakek tua itu didesak-desak, maka ia segera berkata.
“Aku tidak suka belajar silat!”
“Hehhh??” Tiga orang anak itu berseru heran dan memandang Han Han dengan kecewa. Sin Kiat memegang lengannya dan bertanya, “Mengapa, Han Han? Semua orang yang tertindas dan terhina ingin belajar silat, mengapa kau tidak?”
“Kalau pandai silat, kan kita selalu menang kalau berkelahi dan menjadi jagoan!” kata Si Gundul sambil mem¬busungkan dadanya yang tipis kerempeng.
“Kalau pandai silat, orang-orang akan takut kepada kita dan memberi apa saja yang kita minta!” kata bocah pengemis yang lain.
“Dan aku akan menjadi orang kuat sehingga kelak dapat menjadi perwira,” kata pula Sin Kiat.
Han Han menghela napas. Dari pernyataan-pernyataan ini sudah dapat di¬nilai watak dan cita-cita ketiga orang anak ini. “Aku tetap tidak suka belajar silat. Pandai silat membikin orang men¬jadi kuat, dan hanya si kuat saja yang suka menindas si lemah! Orang yang merasa kuat akan selalu mencari per¬musuhan, suka berkelahi, suka pukul orang, bahkan suka membunuh orang. Ti¬dak! Pandai silat amat tidak baik, orang menjadi jahat karenanya.”
Kakek yang tadinya melenggut dan agaknya lega karena terbebas dari desak¬an anak-anak itu, kini membuka matanya dan tertawa. “Ho-ho-ho! Omongan te¬kebur dan menyeleweng jauh, bocah! Omongan sombong! Siapa bilang ilmu silat menimbulkan kejahatan dan keke¬jaman? Uh-uh, sombongnya! Ilmu silat telap ilmu silat, tidak baik dan tidak jahat. Baik atau jahatnya tergantung si orang yang memilikinya. Kalau digunakan untuk kejahatan menjadi ilmu jahat, kalau dipergunakan untuk kebaikan menjadi ilmu baik. Betapa banyaknya kejahatan dilakukan oleh orang-orang yang tidak pandai silat dan yang lemah tubuhnya. Ho-ho-ho-ho, apa kaukira pedang lebih tajam daripada pena? Pedang hanya dapat membunuh satu orang sekali sabet, akan tetapi pena sekali gores dapat menghancurkan keluarga bahkan dapat menggulingkan kerajaan. Ha-ha-ha!”
Han Han tercengang dan berpikir. Alangkah benarnya ucapan kakek jembel itu. Teringat ia akan sejarah betapa fitnah-fitnah yang amat keji terjadi ka¬rena coretan pena. Dan betapa tepatnya pula filsafat tentang baik buruknya ilmu yang tergantung daripada si pemilik ilmu. Tak disangkanya ia akan mendengar ucapan demikian dalam isinya dari mulut seorang kakek jembel. Melihat betapa bantahan kakek itu membuat Han Han bungkam, Sin Kiat menjadi gembira dan mendapat kesempatan untuk mendesak lagi.
“Hayolah, Kek, ajar kami ilmu silat.”
“Aku tidak bisa ilmu silat.”
“Waaah, Kakek selalu mengelak. Ha¬bis, tongkat bututmu kemarin dulu itu dapat mematahkan tombak, membikin pedang dan golok serdadu-serdadu itu terpelanting, dan membuat mereka ro¬boh,” bantah Sin Kiat.
“Ahhh, itu hanya Ilmu Tongkat Te¬ratai Putih (Pek-lian Tung-hoat).”
“Kalau begitu, ajarkan kami Pek-lian Tung-hoat!” kata Sin Kiat, dibantu oleh dua orang kawannya.
Kakek itu menggeleng kepala. “Tidak mudah, tidak mudah. Kalian tidak berjodoh dengan kami. Yang berjodoh adalah bocah ini. Siapakah namamu tadi? Han Han? Kau berjodoh dengan kami. Marilah ikut bersamaku.” Kakek yang kelihatan lesu dan lemas itu, tiba-tiba sudah bang¬kit berdiri dan ternyata ia jangkung se¬kali. Han Han begitu kaget dan herannya sehingga ia tidak dapat menjawab per¬tanyaan tadi. Kini kakek itu sudah menyentuhkan ujung tongkat bututnya ke pundak kanan Han Han, kemudian mem¬balikkan tubuh dan melangkah pergi dari situ. Anehnya, tubuh Han Han tertarik oleh ujung tongkat yang melekat pundak¬nya sehingga anak ini pun terhuyung maju dan terpaksa melangkah mengikuti kakek itu!
“Heiiiii....! Ehhh....?” Han Han menggunakan kedua tangannya untuk melepas¬kan tongkat dari pundaknya, namun tidak herhasil. Tongkat itu melekat seolah-olah berakar di pundaknya dan ada te-naga membetot yang amat hebat tak terlawan olehnya, membuat ia terseret terus!
Han Han adalah seorang anak yang memiliki kecerdikan luar biasa. Biarpun ia seorang anak yang asing sama sekali akan ilmu silat, namun dari kitab bacaan ia sudah banyak mengetahui bahwa di dunia ini selain terdapat sastrawan-sastra¬wan luar biasa, orang-orang yang pandai berfilsafat dan pandai membuat sajak-sajak indah, juga terdapat orang-orang dari golongan “bu” (persilatan) yang di-sebut pendekar-pendekar sakti. Maka tahulah ia bahwa kakek jembel ini pun tentulah seorang pendekar sakti yang berilmu tinggi. Maka timbul keinginan hatinya untuk mengenalnya lebih dekat dan untuk mengetahui ke mana ia akan dibawa. Ia tidak merasa takut, maka ia lalu berkata, “Locianpwe, kalau memang locianpwe ingin mengajak aku pergi, harap lepaskan tongkat. Tidak enak sekali diseret-seret seperti seekor anjing.”
Akan tetapi kakek itu tidak mempe¬dulikannya, bahkan kini langkahnya lebar-lebar dan cepat sehingga Han Han ter¬paksa harus melangkah cepat pula kalau tidak mau terseret. Sebentar saja mereka telah pergi jauh dan teriakan-teriakan Sin Kiat yang mengingatkan bahwa keranjang rotinya masih tertinggal, kini tidak terdengar lagi. Tak lama kemudian mereka sudah keluar dari kota dan terus menuju ke tepi Sungai Huang-ho. Setibanya di tepi sungai, kakek itu melanjutkan perjalanan ke kanan, jadi ke arah utara.
Mereka berjalan sudah lebih tiga jam, akan tetapi kakek itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Han Han yang juga memiliki kekerasan hati dan pada saat itu di samping keinginan tahunya juga merasa penasaran dan mengkal, merasa dirinya dipaksa pergi setengah diculik, tidak pernah bertanya apa-apa pula. Ia berjalan terus di belakang kakek itu. Tentu saja kakek itu yang melangkah lebar dan cepat membuat ia sering kali harus setengah berlari dan tubuhnya su¬dah lelah sekali. Jalannya tidak rata, menyusup-nyusup hutan dan naik turun. Akan tetapi dengan kekerasan hatinya, Han Han mengikuti terus kakek itu yang akhirnya membawanya masuk ke sebuah hutan di pinggir Sungai Huang-ho.
Di tepi sungai dalam hutan ini, tampaklah oleh Han Han bagian yang sudah dibersihkan, pohon-pohonnya ditebangi dan terdapat tempat terbuka yang amat luas, bahkan dipagari dengan bambu. Dari jauh sudah tampak bentuk yang aneh dari tempat ini, agak bundar, akan tetapi Han Han tidak tahu apa maknanya. Baru se¬telah mereka memasuki pintu gerbang dan membaca papan yang tergantung di depan pintu, tahulah Han Han bahwa bentuk bundar dari tempat itu dengan lingkaran-lingkaran aneh adalah bentuk bunga teratai, sesuai dengan nama tem¬pat itu yang menjadi pusat dari perkum¬pulan Pek-lian Kai-pang (Persatuan Pe¬ngemis Teratai Putih). Han Han berdebar jantungnya. Sudah banyak ia membaca tentang kai-pang dan ketuanya yang sak¬ti, dan baru sekali ini memasuki sarang kai-pang. Siapakah pangcunya?
Kakek itu memasuki pintu gerbang dan tampaklah banyak orang-orang ber¬pakaian pengemis berkeliaran di sekitar tempat itu. Di tengah-tengah terdapat bangunan pondok berbentuk kelenteng dan dari situ mengepul asap hio yang wangi.
Para jembel itu melihat masuknya kakek bersama Han Hang namun mereka hanya melirik saja dan tak seorang pun ambil peduli. Kakek itu menghampiri pondok kelenteng, lalu masuk ke ruangan depan di mana terdapat meja sembahyang. Han Han mengikuti dari belakang dan berdiri memandang heran ketika melihat kakek itu tiba-tiba duduk bersila dengan kedua kaki saling bertumpangan paha di depan meja sembahyang yang berbentuk teratai, kemudian kakek ini melakukan upacara sembahyang yang aneh. Kedua lengannya digerak-gerakkan, dilonjorkan ke depan, diangkat ke atas, ditekuk ke belakang sambil mulutnya berkemak-kemik mem¬baca mantera yang tidak dimengerti Han Han. Kemudian kakek itu berdiri menya¬lakan hio dan bersembahyag seperti biasa. Setelah menancapkan hio di tem¬pat dupa, ia melangkah keluar lagi, mem¬beri isyarat dengan lambaian tangan kepada Han Han untuk mengikutinya.
Han Han ikut terus dan ternyata mereka menuju ke sungai di mana ter¬dapat sebuah kolam besar yang mendapatkan airnya dari sungai, dialirkan ke tempat itu. Karena kolam di pinggir sungai itu cukup lebar dan permukaannya sama dengan permukaan air sungai, maka air di situ tenang. Di atas permukaan air kolam terdapat beberapa belas benda berbentuk bunga-bunga teratai warna putih, terbuat daripada kayu, mengam¬bang dan bergerak-gerak perlahan di permukaan kolam. Yang membuat Han Han tercengang adalah ketika ia melihat beberapa orang sedang berlatih, berlon¬catan dari satu ke lain teratai kayu di permukaan air. Ada tiga orang yang berlatih, sementara itu masih ada tiga puluh orang lebih menonton di pinggir kolam. Mereka semua itu adalah orang-orang berpakaian tambal-tambalan terdiri dari laki-laki dan wanita. Akan tetapi lebih banyak lelaki daripada wanitanya yang hanya ada beberapa orang.
Han Han tidak mengerti ilmu silat, namun menyaksikan tiga orang itu ber¬loncatan ke atas teratai-teratai kayu yang mengambang di air, melihat gerak¬an mereka yang begitu ringan dan gesit, ia kagum. Ternyata mereka itu sedang berlatih, karena setelah tiga orang itu meloncat ke darat, mereka digantikan oleh tiga orang lain. Ada pula yang be¬lum mahir meloncat sehingga terpeleset dan teratai yang diinjaknya miring mem¬buat ia terjungkal ke air. Yang menonton mentertawakannya, ada yang mengejek, ada yang memberi petunjuk, membicara¬kan kesalahannya sehingga ia terjatuh. Ketika kakek yang membawa Han Han muncul, suara tertawa-tawa itu berhenti, akan tetapi tak seorang pun menegurnya. Yang berlatih masih tetap berlatih, na¬mun kini lebih tekun dan serius. Kemu¬dian terdengar kakek itu berkata.
“Latihan gin-kang ini bukan untuk main-main. Tanpa ketekunan kalian tak¬kan mendapat kemajuan. Panggil Sin Lian!”
Han Han melihat betapa semua pe¬ngemis yang berada di situ amat meng¬hormat dan taat kepada kakek ini. Agak¬nya kakek inilah ketua mereka! Akan tetapi mengapa mereka itu seperti acuh tak acuh atas kedatangan kakek itu? Mengapa tidak ada yang memberi hor¬mat? Sungguh mengherankan.
Sementara itu, seorang pengemis tua yang tadi berlari-lari untuk memenuhi perintah kakek ini, datang bersama se¬orang anak perempuan yang juga berlari¬an dan dari jauh sudah memanggil.
“Ayah....!” Anak itu menghampiri ayahnya dan memeluk pinggang kakek itu. Si kakek mengelus-elus rambut anak¬nya dengan penuh kasih sayang.
Kembali Han Han tercengang. Kakek ini sudah amat tua, sedikitnya tentu enam puluh tujuh tahun usianya, akan tetapi anaknya baru berusia paling banyak sembilan tahun! Juga keadaan anak itu amat mencolok, cantik mungil dan pakaiannya indah bersih, wajahnya berseri-seri matanya kocak gembira. Kehadirannya di antara para jembel itu benar-benar merupakan seekor burung murai di antara sekumpulan gagak!
“Lian-ji (Anak Lian), mengapa kau tidak ikut latihan gin-kang (ilmu me¬ringankan tubuh) dengan para Pamanmu?” Suara dalam pertanyaan ini halus dan penuh kasih sayang, namun mengandung teguran.
“Aku pergi ke hutan, Ayah. Bunga mawar sedang bersemi, indah sekali.”
“Hemmm, ada waktunya berlatih, ada pula waktunya bersenang. Jangan cam¬pur aduk. Coba kauperlihatkan latihanmu!”
Anak perempuan itu tertawa dengan sikap manja, lalu melepaskan ayahnya dan menghampiri tepi kolam. Yang berlatih telah mendarat. Mereka semua kelihatan gembira, memandang ke arah gadis cilik itu, dan jelas tampak betapa mereka semua menyayang anak yang bernama Sin Lian ini. Bahkan kini tidak ada lagi yang berlatih, memberi kesempatan kepada anak itu untuk berlatih seorang diri sehingga tidak mengganggu.
“Heiiittttt....!” Anak itu mengeluarkan seruan keras dan nyaring. Tubuhnya lalu meloncat ke tengah kolam, melambung agak tinggi kemudian di udara ia berjungkir-balik sampai dua kali, baru tubuhnya turun dan kakinya hinggap di atas sebuah teratai kayu. Indah bukan main loncatan tadi dan terdengar seruan-seruan, “Bagus....!”
Han Han melongo. Apa yang disaksikannya itu terlalu aneh dan indah. Ka¬gum ia melihat betapa anak perempuan itu kini berdiri di atas teratai kayu yang bergerak-gerak timbul tenggelam dan bergoyang-goyang. Namun tubuh anak itu sedikit pun tidak bergoyang, bahkan ter¬dengar lagi seruannya, “Heeiiittitt!” dan tubuhnya sudah mencelat ke atas lagi, lalu hinggap di atas teratai kayu yang lainnya. Demikianlah, bagaikan seekor katak, anak itu berloncatan dari satu teratai ke lain teratai, makin lama ma¬kin cepat sehingga seakan-akan ia ter¬bang di permukaan air. Hanya benda-benda berbentuk teratai itu saja yang bergerak-gerak timbul tenggelam dan bergoyang-goyang. Seruan-seruan menjerit nyaring itu terdengar susul-menyusul dan akhirnya tubuh anak itu mumbul ke atas dan berjungkir-balik membuat pok-sai (salto) sampai tiga kali dan ketika turun ia melayang ke dekat kakek tadi.
Tepuk tangan memuji dari para pe¬nonton membuat wajah anak perempuan itu makin berseri. Wajahnya menjadi merah karena tadi dia telah mengerahkan banyak tenaga, dan napasnya terengah-engah. Kakek yang menjadi ayahnya mengangkat muka dan terhentilah semua tepuk tangan.
“Masih jauh daripada sempurna, Lian-ji. Teratai-teratai itu masih bergoyang terlalu keras. Lihat baik-baik, juga kalian semua!” Tiba-tiba tubuh kakek itu melayang seperti sehelai daun kering ke tengah kolam, hinggap di atas teratai, lalu meloncat ke lain teratai, terus-menerus dan cepat sekali. Tidak lebih indah daripada permainan Sin Lian tadi, akan tetapi hebatnya, teratai-teratai yang diinjaknya itu sanna sekali tidak bergoyang, seolah-olah hanya kejatuhan sehelai daun kering saja! Kemudian kakek itu mendarat kembali dan berkata.
“Untuk dapat menginjak teratai kayu tanpa menggerakkannya, membutuhkan latihan sedikitnya lima tahun dengan tekun. Apalagi dapat meloncat dan hing¬gap di atas bunga teratai aseli, membutuhkan bakat dan latihan yang amat mendalam.” Setelah berkata demikian, kakek itu menggandeng tangan Sin Lian, menggapai ke arah Han Han dan meng¬ajak mereka memasuki sebuah pondok bambu sederhana di sebelah kiri pondok kelenteng. Juga pondok sederhana ini dihias dengan lukisan-lukisan dan ukir-ukiran teratai putih.
“Bocah ini siapakah, Ayah?” Sin Lian bertanya ketika kakek itu mengajak me¬reka duduk di atas bangku.
“Namanya Han Han. Siapakah she-mu (nama keturunan), Han Han?”
“Aku she Sie bernama Han, biasa disebut Han Han,” jawab anak itu. “Lo¬cianpwe ini siapakah? Apakah ketua dari Pek-lian Kai-pang?”
Kakek itu memandang kepadanya dengan mata terbelalak. “Engkau tahu bahwa di sini sarang Pek-lian Kai-pang? Dari mana kau mengenal nama Pek-lian Kai-pang?”
Han Han teringat bahwa ucapannya tadi membuka rahasianya bahwa ia pan¬dai membaca. Memang tidak patut bagi seorang yang keadaannya seperti penge¬mis macam dia ini pandai membaca.
Maka cepat-cepat ia berkata, “Aku ha¬nya mengira-ngira saja, locianpwe. Kulihat di sini semua berpakaian rombeng, tentu merupakan sebuah kai-pang. Ada¬pun tentang namanya, di sini kulihat banyak sekali hiasan-hiasan berupa tera¬tai putih, maka tentu saja aku menduga bahwa nama kai-pang di sini tentulah Pek-lian Kai-pang.”
Kakek itu mengangguk-angguk. “Nah, kau dengar sendiri, Sin Lian. Betapa cer¬diknya anak ini. Dia ini adalah calon muridku, dan agaknya dialah yang boleh diharapkan kelak untuk....”
“Aku tidak ingin menjadi murid lo¬cianpwe!” Han Han memotong cepat-cepat dengan suara nyaring.
“Wah, bocah sombong engkau!” Sin Lian mendamprat. “Kau tidak mau menjadi murid Ayah, sedangkan seluruh bocah di dunia ini mengilar untuk menjadi muridnya. Kau tidak tahu siapa Ayah? Ayah adalah Lauw-pangcu (Ketua Lauw) yang tersohor di seluruh wilayah Sungai Huang-ho! Apakah engkau lebih suka menjadi jembel busuk yang tiada artinya, mengandalkan hidup dari sisa makanan?”
Merah wajah Han Han. Matanya melotot memandang anak perempuan itu. Ia merasa terhina sekali. “Aku bukan pe¬ngemis! Dan aku tidak suka menjadi murid pengemis! Aku tidak mau menjadi anggauta kai-pang!”
“Lagaknya! Engkau pengemis!”
“Bukan!”
“Pengemis!”
“Bukan!”
“Pengemis! Pakaianmu tambal-tambal¬an, kalau bukan pengemis, apakah kau ini Pangeran?”
“Bukan! Aku bukan pengemis, biar pakaianku tambal-tambalan aku tidak pernah mengemis! Tidak seperti engkau, biar pakaianmu baik tapi....”
“Kau kurang ajar! Beranikah kau ke¬padaku?”
“Mengapa tidak berani? Kalau aku benar, biar terhadap kaisar sekalipun aku berani!”
“Phuhhh! Kalau berani hayo kita ber¬kelahi!”
“Aku bukan tukang berkelahi, bukan tukang pukul, tapi aku tidak takut ke¬padamu.”
“Hayo pukul aku kalau berani!”
“Aku bukan tukang pukul!”
“Kalau kupukul, kau berani membalas?”
“Tentu saja!”
“Plakkk....!” Pipi Han Han sudah kena ditampar Sin Lian sampai Han Han terpelanting dari bangkunya. Ia bangkit dan timbul kemarahannya, akan tetapi Han Han sudah membaca kitab tentang sifat seorang gagah, tentu saja ia malu kalau harus bergelut dengan seorang anak perempuan.
“Tidak sakit!” katanya sambil meraba pipinya yang menjadi merah.
“Balaslah!”
“Membalas anak perempuan? Untuk apa, memalukan saja. Pukulanmu seperti tahu, tidak terasa sama sekali.”
“Sombong kau!” Sin Lian marah sekali, menerjang maju dan gerakannya cepat bukan main. “Dukkk.... plenggggg....!”
Han Han terjengkang roboh. Perutnya menjadi mulas kena ditendang tadi dan kepalanya pening oleh tempilingan yang cukup keras. Gerakan kaki tangan bocah itu luar biasa cepatnya sehingga Han Han tidak tahu bagaimana caranya bocah itu menendang dan memukul. Rasa nyeri membuat lantai seperti berputar. Ia ma¬rah dan kini ia melompat bangun.
“Kau.... perempuan keji!” katanya lalu ia menerjang maju, hendak menam¬par. Namun tamparannya mengenai angin belaka dan sebelum ia sempat melihat, kembali tangan kiri gadis cilik itu mam¬pir di pipinya, menimbulkan suara nya¬ring dan terasa amat panas dan pedas. Tonjokan kepalan kanan yang kecil na¬mun terlatih menyusul, mengenai lehernya, membuat Han Han terhuyung-huyung ke belakang. Tiba-tiba sebuah kaki yang kecil menyapu kedua kakinya. Tanpa ampun lagi tubuh Han Han kembali ter¬pelanting, terbanting pada lantai di mana ia hanya duduk sambil memegangi ke¬palanya yang puyeng seketika.
“Cukup, Lian-ji.” Terdengar kakek itu berkata, suaranya tenang dan halus. Ka¬kek ini tadi diam saja melihat puterinya menghajar Han Han, karena memang hal ini ia sengaja, untuk “membakar” hati Han Han dan menimbulkan semangat jantannya. Dia menduga bahwa setelah mengalami hajaran tentu bocah itu akan merasa terhina dan sadar betapa perlunya mempelajari ilmu untuk memperkuat diri sehingga kelak tidak akan terhina orang lagi. Ia maju dan mengangkat ba¬ngun Han Han, disuruhnya duduk lagi di bangku. Han Han masih pening, ketika ia memandang bocah perempuan itu, wajah yang manis namun menggemaskan hatinya saat itu kelihatan menjadi dua. Meman¬dang benda lain juga kelihatan dua! Maka ia meramkan mata sejenak sampai pe¬ningnya hilang, baru ia membuka mata¬nya memandang kakek itu dengan mata penasaran
 “Nah, bagaimana pendapatmu seka¬rang? Kalau kau menjadi muridku, tidak mungkin kau akan mudah dihajar orang lain begitu saja.”
Akan tetapi jawaban Han Han sung¬guh di luar dugaan Lauw-pangcu. Anak ini mengangkat muka dan dadanya, lalu berkata, “Aku tetap tidak mau belajar berkelahi! Apa sih gagahnya me¬ngalahkan lain orang? Mengalahkan diri sendiri baru patut disebut gagah per¬kasa!” Dalam kemarahannya, tanpa di-sadarinya lagi Han Han mengucapkan ujar-ujar dari kitab.
Kembali kakek itu tercengang. “Aihhh! Dari mana kamu mengetahui filsafat itu?”
“Filsafat apa? Itu pendapatku sendiri. Mengalahkan dan memukul orang paling-paling bisa disebut sewenang-wenang, mengandalkan kepandaian dan menjadi tukang pukul!”
“Dan mengalahkan diri sendiri? Apa yang kaumaksudkan?” Kakek itu meman¬cing.
Han Han cerdik, ia pandai menutupi rahasianya, maka setelah otaknya bekerja, ia berkata, “Tidak tunduk kepada kemarahan sehingga tidak memukul orang, tidak merugikan orang lain karena kepingin, tidak melakukan pekerjaan hina biarpun perut lapar, mengalahkan diri sendiri.” Dengan ucapan ini ia telah menyindir orang yang telah memukulnya, dan menyindir pekerjaan mengemis yang dianggapnya hina.
“Bocah bermulut lancang! Ayah, biar kuhajar lagi dia sampai setengah mam¬pus!”
Lauw-pangcu menggeleng kepala. “Bi¬arkan dia pergi.”
Han Han memang telah berdiri dan melangkah pergi dari tempat itu. Ia ke¬luar dari pintu gerbang tanpa ada yang mengganggunya, kemudian dia berlari cepat untuk segera meninggalkan tempat itu. Ia teringat bahwa tadi ia dibawa ke timur, akan tetapi ia tidak ingin kembali ke barat. Tidak ingin kembali ke kota Tiong-kwan karena takut kalau-kalau bertemu dengan kakek itu lagi kelak dan menimbulkan hal-hal yang amat tidak enak. Sekarang saja ia sudah babak-belur, perutnya masih mulas, kepalanya masih berdenyut-denyut. Sambil berlari ia ter¬ingat akan Sin Lian dan diam-diam ia mengomel.
“Bocah perempuan yang keji dan ga¬lak!”
Han Han berjalan terus ke timur menyusuri Sungai Huang-ho. Setelah ma¬lam tiba, ia mengaso di pinggir sebuah hutan dan mengisi perutnya yang lapar dengan telur-telur burung yang ia temu¬kan di jalan. Juga ada beberapa macam buah-buah yang dapat dimakan sehingga malam itu ia dapat tertidur nyenyak di pinggir hutan.
Pada keesokan harinya, ia melanjut¬kan perjalanan. Dari jauh tampak sebuah dusun. Uang bekal dan makanan sudah habis, ia harus mencari pekerjaan di dusun itu sekedar dapat makan. Di mana pun juga pasti ada pekerjaan. Biarpun di dusun, para petani membutuhkan tenaga bantuan dan tentu ada orang-orang kaya yang membutuhkan tenaga pula. Asal rajin, tak mungkin orang sampai kelapar¬an, asal mau bekerja. Tidak seperti pengemis-pengemis itu, hanya bermalas-malasan, ingin makan enak tanpa be¬kerja, biarpun hanya makanan sisa. Men¬jijikkan! Alangkah hinanya! Tentu saja ia tidak sudi menjadi pengemis, biarpun diberi pelajaran ilmu memukul orang!
Apalagi selalu berdekatan dengan bocah perempuan yang ganas itu. Ia bergidik kalau teringat akan Sin Lian, sungguhpun harus ia akui bahwa wajah bocah itu manis sekali.
Ketika Han Han berjalan sambil ter¬menung sampai di pintu gerbang dusun itu, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari depan. Han Han mengangkat muka dan memandang. Seorang anak laki-laki sebaya dengan dia, berpakaian indah dan berwajah tampan, menunggang seekor kuda yang besar dan membalapkan kuda itu keluar dari dusun. Han Han cepat minggir, akan tetapi sambil tertawa-tawa anak laki-laki itu sengaja menyerempet¬kan kudanya sehingga Han Han yang sudah berusaha melompat masih terlang¬gar dan jatuh terguling. Beberapa orang dusun melihat hal ini berseru tertahan, agaknya mereka takut untuk mengeluar¬kan seruan keras.
“Bocah sombong, apakah kau sudah gila?” Han Han berteriak marah sambil merangkak bangun.
Kuda itu dihentikan dan diputar. Anak laki-laki yang duduk di atasnya kini tidak tertawa lagi, melainkan memandang Han Han dengan wajah bengis. Setelah kuda¬nya tiba di depan Han Han, ia lalu me¬lompat turun, gerakannya tangkas sekali, lalu menghadapi Han Han sambil me¬nudingkan telunjuknya.
“Jembel busuk! Berani engkau memaki aku?”
“Setan kepala angin! Mengapa tidak berani? Yang kumaki bukan orangnya, melainkan perbuatannya. Biar kau kaisar sekatipun, kalau perbuatannya tidak be¬nar, tentu akan dimaki orang!” Han Han membantah berani.
Anak itu usianya antara sebelas tahun, kini mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut seorang anak jembel, menjadi terheran-heran sehingga lupa kemarahannya. “Engkau siapakah berani berkata seperti itu?”
“Aku Han Han dan siapa takut mengeluarkan kata-kata benar?”
“Wah-wah, agaknya sudah miring otakmu. Tidak tahukah engkau bahwa aku adalah Ouwyang-kongcu (Tuan Muda Ouwyang)? Orang sekitar daerah ini tidak ada yang berani kepadaku. Apalagi jem¬bel macam kamu! Hayo bertutut dan mohon ampun!” Bentakan ini mengandung suara marah.
Seorang di antara para penduduk dusun yang mulai datang berkerumun, se¬gera mendekati Han Han dan berkata, “Kau agaknya bukan anak sini. Lebih baik lekas bertutut mohon ampun kepada Kongcu.”
Mendengar ini, Han Han makin marah. Ia berdiri dengan kedua kaki ter¬pentang, kedua tangan bertolak pinggang, lalu berkata, “Apa perlunya minta am¬pun? Orang bersalah sekalipun tidak per¬lu minta ampun dan harus berani me¬nerima hukumannya! Apalagi orang tidak bersalah!”
Ucapan ini rupa-rupanya merupakan pendapat yang baru sama sekali dan mengherankan semua orang. Bahkan pe¬muda tampan itu sendiri terheran dan berkurang kemarahannya, lalu mengomel.
“Tidak salah katamu? Kau berdiri di jalan, menghalang kudaku!”
“Bukan aku yang menghalang, tapi kau yang menabrak! Berani berbuat tidak berani mengaku, laki-laki macam apa kau?”
“Berani kau? Apa sudah bosan hidup?” bentak anak yang disebut tuan muda Ouwyang itu. Setelah berkata demikian, ia menerjang maju. Han Han berusaha melawan, namun ternyata Ouwyang-kongcu ini tangkas dan kuat sekali. Begitu me¬nerjang, Han Han telah kena digampar kepalanya dan ditonjok dadanya. Han Han terjengkang, napasnya sesak. Sebuah ten¬dangan mengenai lehernya dan dunia menjadi hitam bagi Han Han.
“Jembel busuk bosan hidup! Kau be¬lum mengenal kelihaian Kongcumu, ya?” Suara Ouwyang-kongcu ini terdengar sayup-sayup oleh Han Han dan pemuda tampan itu mengeluarkan sehelai tam¬bang dari saku sela kudanya. Diikatnya kaki kiri Han Han, kemudian ia memegangi ujung tali itu dan melompat naik ke atas kudanya. Ketika kudanya dilarikan, tubuh Han Han tentu saja terseret di atas tanah!
Orang-orang yang berada di situ ha¬nya memandang dengan mata terbelalak, tidak ada seorang pun berani membela Han Han. Mereka hanya saling pandang dan menggeleng-geleng kepala dengan hati kasihan kepada anak jembel yang amat pemberani itu.
Han Ham memiliki kenekatan dan nyali yang luar biasa sekali. Juga tubuhnya memiliki daya tahan mengagumkan. Hal ini telah dilihat oleh mata yang awas dari Lauw-pangcu ketua Pek-lian Kai-pang sehingga kakek itu merasa ter¬tarik dan ingin mengambilnya sebagai murid. Biarpun ia tadi telah dipukul he¬bat dan kini tubuhnya diseret seperti itu, ia masih tidak merasa takut. Bahkan ia marah sekali. Tidak dipedulikan punggung dan pinggulnya lecet-lecet, pakaiannya yang sudah penuh tambalan itu makin buruk karena compang-camping. Ia tidak mengeluh, tidak pula minta ampun, bah¬kan ia yang terseret itu berusaha meng¬angkat tubuh atasnya dan menudingkan telunjuknya ke depan, ke arah Ouwyang-kongcu sambil memaki-maki.
“Bocah kejam melebihi iblis! Kelaku¬anmu ini akan menyeretmu ke lembah kecelakaan!”
Pada saat itu, dari arah kanan berkelebat sinar putih. Ternyata itu adalah sebatang piauw (pisau sambit) yang di¬sambitkan oleh seorang gadis cilik. Piauw itu tepat sekali mengenal tambang yang menyeret Han Han sehingga putus se¬ketika dan Han Han terbebas, tidak ter¬seret lagi. Sambil duduk dan berusaha membuka ikatan kakinya, Han Han me¬mandang dengan mata terbelalak ketika mengenal bahwa anak perempuan itu bukan lain adalah.... Sin Lian! Han Han mengeluh. Dia ditolong dari tangan se¬orang anak laki-laki kejam oleh seorang anak wanita ganas! Kedua orang anak itu setali tiga uang, sama-sama ganas dan kejam, tiada yang dipilih!
 Sin Lian sudah meloncat turun dari atas batu di mana ia tadi berdiri dan menyambitkan piauwnya. Sikapnya garang sekali ketika ia memandang Ouwyang-kongcu dan telunjuknya yang kecil run¬cing itu menuding ke arah Ouwyang-kongcu sambil memaki.
“Setan alas kau! Monyet pengecut kau! Beraninya hanya menyiksa bocah jembel yang tidak bisa silat! Hayo lawan aku kalau berani, kalau minta remuk tulang-tulangmu!” Sin Lian memasang kuda-kuda menantang.
Ouwyang-kongcu ini adalah putera seorang bangsawan tinggi, yaitu Pangeran Ouwyang Cin Kok. Dia putera pangeran, tentu saja selain kaya raya juga angkuh dan sudah biasa menerima penghormatan di mana-mana. Namanya adalah Ouwyang Seng dan pada waktu itu ia sedang menerima pendidikan ilmu silat dari guru¬nya, seorang tokoh yang memiliki kepan¬daian tinggi dan sakti. Sebagai putera pangeran, tentu saja dalam perguruannya tersedia segala perlengkapan untuk ke¬butuhannya setiap hari, sampai-sampai tersedia seekor kuda untuknya. Dan ia pun belajar sambil main-main, kadang-kadang menunggang kuda pergi ke dusun-dusun dan ke manapun juga ia pergi, anak nakal ini tentu disambut penduduk dusun dengan ramah dan hormat, sungguhpun di dalam hati mereka ini mem¬bencinya karena kenakalannya suka menggoda orang. Kini, dimaki-maki seperti itu, Ouwyang Seng marah sekali lalu meloncat turun dari atas kudanya.
“Eh, kau bocah dusun! Berani kau memaki Kongcumu? Kau pun sudah bosan hidup agaknya!” Sambil berkata demikian, Ouwyang Seng lalu menggunakan sisa tambang yang berada di tangannya, yang panjangnya ada dua meter lebih untuk menyerang. Serangannya hebat, cepat dan keras sekali sehingga mengejutkan Sin Lian yang cepat melompat dan mengelak. Dari gerakan serangan itu Sin Lian da¬pat menduga bahwa anak nakal ini pan¬dai silat. Memang dugaannya tidak keliru. Ouwyang Seng diasuh oleh seorang guru yang amat pandai sehingga biarpun cara ia belajar kurang tekun, namun jarang ada anak sebaya dengannya yang mampu melawannya, biarpun anak itu pandai silat sekalipun.
Sebaliknya, melihat betapa anak pe¬rempuan yang tadinya hendak ia rangket karena telah berani memakinya itu dapat mengelak demikian cepat, Ouwyang Seng menjadi penasaran dan menerjang lebih gencar lagi. Sin Lian tidak diberi kesem¬patan membalas serangan-serangannya, karena tambang itu menyerang terus-menerus, membuat ia harus menggunakan gin-kang dan berloncatan ke sana ke mari.
“Monyet cilik! Monyet curang! Jangan pakai tambang kalau berani!” Sin Lian memaki kalang-kabut karena ia benar-benar terdesak dan tidak sempat mem¬balas sama sekali, bahkan pahanya telah kena dipecut satu kali sehingga terasa pedas dan panas.
Ouwyang Seng tertawa bergelak. Ia kini tahu bahwa biarpun memiliki ke¬gesitan luar biasa, anak perempuan ini masih bukan merupakan lawan berat bagi¬nya. Maka ia lalu membuang tambang itu dan berkata, “Majulah kalau ingin merasa¬kan kaki dan tangan yang sakti!”
Melihat pemuda cilik itu sudah mem¬buang tambangnya, Sin Lian menjadi girang dan cepat ia menerjang maju de¬ngan kaki tangannya yang gesit. Namun dengan mudah Ouwyang Seng menangkis sambil mengerahkan tenaga, membuat Sin Lian meringis kesakitan. Ouwyang Seng tertawa lagi, lalu mendesak dengan pu¬kulan aneh. Sin Lian berseru kaget, ter¬huyung mundur dan tiba-tiba lututnya kena ditendang Ouwyang Seng sehingga ia roboh terguling.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan tahu-tahu Han Han telah melompat dan menubruk Ouwyang Seng dari bela¬kang. Mulutnya mencela, “Laki-laki apa, menerjang perempuan!” Kedua lengannya merangkul leher dengan sekuat tenaga, kedua kakinya mengait pinggang!
Ouwyang Seng terkejut, meronta-ronta. Akan tetapi biarpun tidak pandai silat, Han Han pada dasarnya memang me¬miliki tenaga besar. Apalagi ia mem¬punyai kelebihan, yaitu nyali dan ke¬nekatan. Biarpun Ouwyang Seng meng¬obat-abitkannya, ia tetap tidak mau me¬lepaskan rangkulan lengan dan kempitan kakinya, seperti seekor lintah yang ke¬laparan menempel pada daging gemuk.
“Lepaskan....! Lepaskan, kau jembel busuk.... lepaskan....!” Akan tetapi Han Han tidak mau melepaskannya, bahkan menggunakan tangannya untuk mencekik leher!
Penduduk dusun yang menghampiri dan menonton perkelahian ini, tidak be¬rani mencampuri, hanya memandang ter¬heran-heran. Orang-orang tidak ada yang berani melawan Ouwyang-kongcu, kini seorang anak perempuan dan seorang pengemis cilik berani menghinanya, me¬makinya, dan melawannya.
Ouwyang Seng yang meronta-ronta akhirnya roboh, membawa tubuh Han Han bersama-sama. Mereka bergulingan di atas tanah, bergelut, namun tetap Han Han tidak mau melepaskan kaki tangannya. Ouwyang Seng mendapat akal, ia lalu menangkap tangan Han Han dan menekuk jari telunjuknya.
Bukan main nyerinya rasa telunjuk itu, sampai terasa menusuk di ulu hatinya. Han Han marah lalu.... menggigit pundak Ouwyang Seng sekuat tenaga.
“Ouwwuw.... aduh.... aduh.... mati aku, aduhhh....!” Ouwyang Seng menjerit-jerit, pundaknya berdarah dan akhirnya ia menangis berkaok-kaok, melolong-lolong sambil meronta-ronta.
Penduduk dusun yang melihat ini men¬jadi khawatir. Takut kalau terbawa-bawa, maka mereka lalu memburu dan cepat melerai, menarik Han Han melepaskan rangkulannya, kempitannya dan gigitan¬nya.
“Hi-hi-hik! Pengecut besar! Bisanya hanya menangis! Hi-hi-hik, kau hebat, Han Han....!” Sin Lian bertepuk-tepuk tangan. Ia masih duduk karena lututnya yang tertendang itu membuatnya tak dapat berdiri, agaknya terlepas sambung¬annya. Juga Han Han merasa betapa telunjuk tangan kirinya sakit sekali, se¬perti patah sambungannya pula.
Ouwyang Seng tadi menangis bukan hanya karena sakit, melainkan terutama sekali karena ketakutan setelah usahanya melepaskan rangkulan gagal. Kini setelah bebas, ia menjadi marah sekali dan me-nerjang Han Han dengan pukulan keras. Han Han terjengkang dan terpaksa me¬nerima hantaman dan tendangan. Sin Lian memaki-maki, dan untuk ini, Ouwyang Seng segera melompat ke dekatnya dan menendang kepalanya. Biarpun tak dapat bangun, namun Sin Lian yang me¬ngerti ilmu silat mencoba untuk menang¬kis dengan lengan, dan akibatnya ia pun roboh terguling-guling.
Ouwyang Seng menjadi mata gelap saking marahnya. Disambarnya sebuah batu sebesar kepalanya dengan kedua tangan dan ia mengangkat batu itu tinggi-tinggi, kemudian dihantamkan ke arah kepala Han Han. Kalau hantaman ini kena, tentu kepala Han Han akan remuk.
Akan tetapi tiba-tiba batu itu ter¬tahan dan di situ telah berdiri Lauw-pangcu. Sekali renggut batu itu terampas dan dibuang ke pinggir. “Anak keji, per¬gilah!” Lauw-pangcu berkata dan ia me¬nangkap tengkuk Ouwyang Seng terus dilempar ke depan. Tubuh anak itu melayang dan.... jatuh tepat di atas punggung kudanya.
Ouwyang Seng maklum bahwa kakek itu amat lihai, akan tetapi dasar seorang anak yang manja, ia malah memaki, “Tua bangka jembel busuk! Kalau berani, katakan siapa namamu!”
Lauw-pangcu hanya mengira bahwa anak itu adalah seorang anak bangsawan manja saja, maka sambil tersenyum ia berkatap “Bocah, aku adalah orang she Lauw.”
Ouwyang Seng menarik kendali kuda¬nya, menendang perut kuda itu yang segera meloncat maju dan membalap ke depan, meninggalkan debu mengebul ting¬gi. Han Han bukan tidak mengerti bahwa nyawanya tertolong oleh kakek itu, dan ia sudah terlalu banyak belajar tentang kebudayaan dan tentang budi, maka ia segera menjatuhkan diri berlutut di de¬pan kakek itu sambil berkata,
“Saya menghaturkan terima kasih atas pertolongan locianpwe.”
Lauw-pangcu tersenyum. “Bangunlah dan mari ikut bersamaku, Han Han.” Ia lalu memondong tubuh puterinya dan Han Han terpaksa mengikutinya karena tidak mau dianggap tak mengenal budi.
Setelah tiba di sarang Pek-lian Kai-pang, Lauw-pangcu mengobati Sin Lian dan telunjuk tangan Han Han. Hebat sekali cara kakek ini membenarkan sam¬bungan tulang karena setelah diurut se¬bentar dan ditempeli koyok, dalam waktu setengah hari saja telah sembuh kembali.
“Pengalamanmu hari ini tentu telah meyakinkan hatimu, Han Han, betapa pentingnya mempelajari ilmu menjaga diri. Berkali-kali engkau dapat dipukuli orang, dan hampir saja tewas. Aku tidak berniat buruk denganmu, bukan hendak mengajarmu menjadi tukang pukul. Aku melihat bakat yang amat luar biasa pada dirimu yang tak akan dapat ditemukan di antara sepuluh laksa orang anak, maka engkau berjodoh untuk mewarisi semua ilmuku, Han Han.”
“Akan tetapi, locianpwe, aku tidak ingin belajar silat.”
“Coba sajalah. Dan pepatah mengata¬kan bahwa tak kenal maka tak sayang. Kalau kau sudah mengenal seluk-beluk ilmu itu, kau tentu akan suka sekali. Sementara ini, biarlah engkau akan me¬nerima menjadi muridku dan coba bela¬jar, hitung-hitung untuk membalas budi kepadaku. Bagaimana?”
Kakek itu memang cerdik. Ia telah mengenal bahwa bocah ini memiliki wa¬tak yang aneh dan keras luar biasa, memiliki kemauan yang tak terpatahkan, tidak dapat dipaksa dan mengenal budi. Karena itu, ia sengaja mengemukakan ten¬tang balas budi untuk mengikat dan memaksa. Dan memang usahanya berhasil, Han Han terjebak. Anak ini sudah mem¬pelajari kitab tentang budi pekerti sampai mendarah daging, di mana diajarkan bah¬wa setiap budi yang dilepas orang harus dibalas berlipat ganda, sebaiknya budi sendiri yang dicurahkan kepada orang lain harus dianggap sebagai kewajiban dan segera dilupakan.
“Baik, locianpwe.”
“Bagus, Han Han. Sekarang engkau telah menjadi muridku. Aku adalah guru¬mu dan Sin Lian ini adalah sucimu (Ka¬kak Seperguruan), biarpun dia lebih muda darimu.”
“Baik, suhu, teecu (murid) mengerti.”
Makin kagum hati kakek itu dan tim¬bul persangkaannya bahwa anak ini tentu bukan keturunan orang biasa ketika mendengar Han Han menyebut dia suhu dan diri sendiri teecu, kemudian betapa anak itu berlutut di depannya dan paikwi (me¬nyembah) sampai delapan kali.
Ia mengangkat bangun muridnya itu dan berkata, “Han Han, muridku yang baik. Sebagai seorang murid, pertama-tama engkau harus mengerti apa yang menjadi kewajiban utama seorang murid?”
“Teecu mengerti. Harus taat dan berdisiplin. Taat terhadap segala perintah suhu, dan berdisiplin dalam memegang tugas, kemudian harus setia dan ber¬bakti terhadap guru.”
Kalau tadi Lauw-pangcu hanya kagum saja, kini ia terheran-heran dan terce¬ngang.
“Sin Lian, dengar baik-baik omongan sutemu (Adik Seperguruan) ini! Engkau dapat belajar banyak dari dia! Han Han, pendapatmu tadi tepat sekali. Nah, se¬karang sebagai perintah pertama dari suhumu, kauceritakanlah pengalamanmu, siapa orang tuamu dan bagaimana engkau sampai menjadi seorang anak terlunta-lunta dan hidup seorang diri.”
Han Han terkejut mendengar per¬tanyaan ini. Ia sudah mengambil keputusan ketika ia meninggalkan rumah orang tuanya yang terbakar, di mana terdapat mayat ayah bundanya, untuk menyimpan rahasia tentang dirinya, untuk melupa¬kan penglihatan itu dan hanya mengingat wajah tujuh orang perwira Mancu, ter¬utama wajah Si Brewok dan Si Muka Kuning. Kini orang yang menjadi gurunya secara terpaksa ini pertama kali meng¬haruskan dia menceritakan pengalaman dan riwayatnya! Ia menundukkan muka¬nya, dan begitu rasa penasaran dan sakit hati timbul karena pertanyaan itu meng¬ingatkan ia akan semua malapetaka yang menimpa keluarganya, mendadak ada rasa aneh sekali di kepalanya. Kepalanya se¬belah belakang kanan yang dahulu ter¬banting pada dinding ketika ia dilempar¬kan panglima muka kuning, kini berde¬nyutan keras, seolah-olah kepala bagian itu bergerak-gerak dan kepalanya menjadi pening. Ia hanya berkata perlahan sambil menunduk.
“Teecu tidak dapat menceritakan itu....”
Tiba-tiba Sin Lian mencela dengan suara keras dan nyaring, “Sute (Adik Seperguruan)! Engkau ini murid macam apa? Sudah tahu akan kewajiban murid, akan tetapi pada kesempatan pertama kau telah tidak mentaati perintah guru!”
Han Han makin marah. Bocah ini benar-benar cerewet sekali, dan ia me¬rasa terdesak. Ia mengangkat mukanya memandang Sin Lian, melihat betapa anak perempuan yang lebih muda dari¬padanya akan tetapi telah menjadi kakak seperguruannya itu juga memandang ke¬padanya dengan sinar mata aneh, seperti orang terpesona, terbelalak keheranan.
Dengan hati marah Han Han memandang dan di dalam hatinya ia memaki.
“Kau bocah cerewet! Kau seperti seekor monyet yang menari-nari!”
Mendadak terjadi hal yang amat aneh. Sin Lian tiba-tiba meloncat mundur dan menggerakkan kaki tangannya menari-nari, mulutnya berbisik-bisik, “Aku seekor monyet.... menari-nari....! Aku seekor monyet yang menari-nari....!” Dan ia menari-nari dengan gerakan lucu, se¬olah-olah ia meniru gerakan monyet!
Lauw-pangcu tadinya mengira bahwa Sin Lian yang memang biasanya nakal itu sengaja hendak memperolok-olok dan mempermainkan Han Han, maka dengan bengis ia membentak puterinya yang manja itu, “Sin Lian! Hentikan itu!”
Akan tetapi, puterinya yang biarpun manja namun selalu mentaati perintahnya itu, masih saja berjoget, secara aneh dan lucu sambil terus berbisik, “Aku seekor monyet menari-nari.... seekor monyet menari-nari....”
Terkejutlah Lauw-pangcu! Ia menoleh dan memandang kepada Han Han dan mukanya berubah pucat, matanya terbelalak. Ia melihat betapa sepasang mata anak ini menyinarkan cahaya yang amat aneh, manik mata yang hitam itu seperti mengeluarkan api, demikian tajamnya seperti menembus otak, membuat ia tidak mampu menggerakkan bola mata, membuat ia terpaksa memandang se¬pasang mata itu, seperti melekat, seperti tertarik besi sembrani! Ia mengerahkan sin-kang, berusaha melawan, namun ter¬dengarlah suara Han Han, padahal anak itu tidak menggerakkan bibir, terdengar suaranya penuh wibawa, penuh pengaruh luar biasa.
“Suhu sudah tua, tidak perlu merisau¬kan suci yang nakal. Lebih baik suhu mengaso dan tidur daripada menjengkelkan kelakuan suci....”
Terjadi keanehan ke dua. Kakek itu menguap dan mulutnya berkata lirih, “Auhhh, aku sudah tua.... ingin mengaso dan tidur....” Lalu kakek itu pun merebahkan kepala di atas meja, berbantal lengan dan tidur!
Han Han melongo saking herannya. Ia menoleh kepada Sin Lian yang masih terus menari-nari sambil berbisik-bisik, “Aku seekor monyet yang menari-nari.... seekor monyet....” Ketika ia menoleh pula memandang gurunya, kakek itu ma¬sih tidur nyenyak! Melihat ini, Han Han makin bingung. Tadi ia mengira bahwa Sin Lian hanya mempermainkannya dan menari-nari untuk mengejeknya, maka ketika memandang gurunya, ia merasa kasihan dan hatinya menghibur gurunya agar supaya jangan jengkel dan supaya guru yang tua itu mengaso dan tidur daripada mempedulikan Sin Lian. Akan tetapi sekarang, gurunya benar-benar tidur dan Sin Lian masih terus menari-nari seperti telah menjadi gila! Dari bingung, Han Han menjadi ketakutan dan diguncang-guncangnya pundak Lauw-pangcu sambil berteriak-teriak.
“Suhu....!Suhu.... Bangunlah, suhu....!” Lauw-pangcu serentak bangun dan matanya terbelalak ketika meloncat dari bangkunya. “Apa.... apa yang terjadi....?” tanyanya seperti orang habis bangun dari mimpi, padahal ia tertidur belum ada dua menit! Ketika ia menoleh ke arah puterinya, wajahnya kembali menjadi pucat. Kakek ini sudah mempunyai pe¬ngalaman yang banyak sekali, akan tetapi apa yang ia alami sekarang ini benar-benar membuat ia tidak mengerti dan terheran-heran. Namun, ia sudah dapat menguasai perasaannya, cepat ia me¬lompat mendekati Sin Lian yang masih menari-nari berloncat-loncatan seperti seekor monyet nakal itu, menangkap pundak puterinya dan menotok punggungnya. Sin Lian mengeluarkan suara me¬rintih perlahan lalu roboh pingsan dalam pelukan ayahnya.
“Dia.... dia kenapakah, Suhu? Suci mengapa tadi....?” tanya Han Han, khawatir juga menyaksikan semua itu karena kini ia dapat menduga bahwa keadaan Sin Lian tadi tidak wajar, bukan menari-nari untuk mengejeknya.
Kakek itu hanya menghela napas pan¬jang, lalu merebahkan tubuh puterinya di atas dipan, memeriksanya sebentar lalu berkata lirih, “Tidak apa-apa, sebentar lagi pun sembuh, ia tertidur.” Kemudian ia mengajak Han Han keluar.
“Han Han, mari kita bicara di luar.”
Dengan hati tidak enak Han Han mengikuti gurunya keluar kamar dan duduk di ruang depan pondok kecil itu. Mereka duduk berhadapan dan Lauw-pangcu kini memandang wajah muridnya dengan pandang mata tajam penuh selidik. Makin tidak enak hati Han Han dan ia menunduk.
“Han Han, pandanglah mataku!” perin¬tah kakek itu.
Han Han mengangkat mukanya me¬mandang. Sejenak pandang mata mereka bertemu dan jantung kakek itu berdebar. Mata yang hebat! Ia merasa betapa sinar mata itu mendesak pandang matanya, menusuk masuk dan membuat jantungnya tergetar. Seperti mata iblis! Akan tetapi saat itu kosong sehingga yang terasa hanya ketajamannya yang menggetarkan dan betapapun kakek ini mengerahkan sin-kangnya, akhirnya ia tidak kuat me¬nahan dan terpaksa mengalihkan pandang matanya, tidak kuat lebih lama beradu pandang. Padahal ia telah memiliki sin-kang (tenaga sakti) yang amat kuat! Tertipukah ia? Adakah bocah ini murid seorang sakti yang telah memiliki tenaga mujijat? Harus kucoba lagi.
Berpikir demikian, Lauw-pangcu meng¬gerakkan tangan kanan cepat sekali, tahu-tahu telah menotok jalan darah kian-keng-hiat di pundak anak itu. Se¬ketika tubuh Han Han menjadi kaku tak dapat digerakkan, akan tetapi hanya sebentar saja karena kakek itu telah menotoknya kembali, membebaskannya. Lauw-pangcu menunduk dan makin heran. Jelas bahwa anak ini tidak mengerti silat, dan tidak pernah belajar silat. Orang yang mengerti ilmu silat tentu memiliki gerak otomatis sebagai reaksi atas penyerangan terhadap dirinya. Anak ini sama sekali tidak mempunyai gerak itu, tidak berusaha mengelak atau me¬nangkis, bahkan urat syaraf di pundaknya tidak menentang, tanda bahwa urat sya¬rafnya juga belum terlatih, tidak biasa akan serangan cepat lawan. Akan tetapi pandang mata itu, pengaruhnya yang hebat!
Adapun Han Han ketika tadi merasa pundaknya disentuh gurunya membuat tubuhnya kaku menegang, kemudian pulih kembali, menjadi heran dan penasaran. Ia tidak tahu apa yang dilakukan suhunya. Akan tetapi ia menganggap suhunya itu penuh rahasia, tidak berterus terang dan seolah-olah tidak mempercayainya. Tiba-tiba suhunya itu memegang kedua pun¬daknya dengan cekalan erat, mata kakek itu menatapnya penuh selidik dan terdengarlah pertanyaannya dengan suara keras mendesak dan bengis.
“Han Han! Dari mana kau mempela¬jari ilmu I-hun-to-hoat (semacam hypno¬tism)?”
“Apa? I-hun-to-hoat, suhu? Mendengar pun baru sekarang. Sudah teecu katakan bahwa teccu tidak pernah mempelajari ilmu apa-apa....”
“Hemmm, jangan mencoba untuk me¬nyangkal. Habis, apa yang kaulakukan terhadap sucimu dan aku tadi kalau bu¬kan Ilmu I-hun-to-hoat?” Ilmu I-hun-to-hoat adalah semacam ilmu hypnotism, membetot semangat dan menguasai ke¬mauan orang dengan penggunaan sin-kang yang sudah mencapai tingkat tinggi.
Han Han makin tak senang hatinya. Ia sudah menentang perasaan hati dan pendapatnya sendiri dan sudah suka men¬jadi murid Lauw-pangcu. Akan tetapi mengapa suhunya ini sekarang menuduh¬nya yang bukan-bukan?
“Suhu, mengapa suhu menuduh yang bukan-bukan? Suhu mengambil murid teecu ini hendak diajar ilmu ataukah untuk dituduh-tuduh saja? Sudah teecu katakan bahwa teecu tidak pernah belajar silat.”
“Tapi.... tapi pandang matamu.... dan peristiwa tadi! Lian-ji menari-nari di luar kehendaknya, aku pun tertidur di luar kemauanku. Hal ini hanya mungkin terjadi kalau orang menggunakan Ilmu I-hun-to-hoat yang amat kuat. Han Han, aku tidak mempunyai niat buruk terhadap dirimu. Kalau kau benar-benar pernah menjadi murid orang sakti, aku pun ma¬lah makin suka kepadamu. Perlu apa kau membohong? Sudah ada buktinya peris¬tiwa tadi, aku sendiri mengalami, dan pandang matamu juga penuh dengan te¬naga mujijat yang hanya timbul dari sin-kang yang tinggi.”
Han Han menjadi tidak sabar. “Teecu tidak mengerti apa yang suhu katakan itu, tidak pernah mendengar apa itu I-hun-to-hoat, dan apa itu sin-kang! Pen¬deknya, teecu belum pernah belajar ilmu silat, bahkan sebelum menjadi murid suhu, teecu membenci ilmu silat. Malah sekarang, karena suhu tuduh yang bukan-bukan, timbul pula rasa tidak senang itu....”
“Han Han, jangan salah mengerti. Memang ada sesuatu yang amat aneh terjadi, dan kurasa, ada sesuatu yang ajaib sekali terdapat dalam dirimu. Aku tidak menuduh sedikitpun juga dan kau pun harap suka berterus terang. Mungkinkah kau pernah membaca kitab kuno tentang ilmu menguasai semangat dan kemauan orang lain, dan telah mempelajarinya?”
“Tidak, sama sekali tidak.”
“Engkau anak aneh. Datang-datang kaubagi-bagikan roti kering kepada lain jembel. Hal ini saja sudah membuktikan keanehanmu. Dan cara kau bicara, sung¬guh tidak seperti seorang anak jembel.”
“Teecu bukan pengemis!”
“Kalau begitu engkau seorang anak keluarga bangsawan yang terlunta-lunta. Bukankah begitu?”
“Tidak, tidak! Teecu sudah katakan bahwa teecu tidak dapat menceritakan asal-usul dan riwayat teecu. Teecu sen¬diri hampir lupa. Mengapa suhu memancing-mancing? Apa artinya riwayat teecu? Pendeknya, teecu seorang yang tiada ayah bunda lagi, tiada saudara, sebatangkara. Suhu, teecu biarpun hidup melarat dan seorang bodoh, namun teecu berpegang kepa¬da peribahasa It-gan-ki-jut-su-ma-lam-twi (Sepatah kata dikeluarkan, empat ekor kuda pun tidak kuat menariknya kembali)!”
Lauw-pangcu tercengang. Ucapan mu¬ridnya ini jelas membuktikan bahwa bocah itu bukan bocah sembarangan, dan bukan hanya memiliki watak yang keras, memiliki pribadi yang aneh, tenaga sakti simpanan yang penuh rahasia, akan tetapi juga memiliki asal-usul yang menarik dan tentu bukan dari keluarga sembarangan. Ia menjadi girang sekali, akan tetapi juga khawatir. Anak ini selain memiliki kekuatan mujijat, juga memiliki watak yang sukar diukur dalamnya, sukar di¬jenguk isinya sehingga bagi dia yang menjadi gurunya, akan sukarlah untuk membentuk watak bocah ini kelak. Diam-diam ia heran dan berpikir keras untuk menduga, ilmu apakah yang telah dimiliki atau yang masuk secara aneh dalam diri bocah ini.
Tentu saja Lauw-pangcu tidak dapat menduganya, tidak mengerti akan keadaan Han Han. Jangankan orang luar, se¬dangkan Han Han sendiri pun tidak me¬ngerti, tidak sadar bahwa ada perubahan hebat pada dirinya, bahwa ada sesuatu yang secara ajaib terjadi di dalam diri¬nya. Ketika ia dihajar oleh perwira muka kuning dahulu di dalam kamar karena ia telah “mengganggu” perwira muka kuning itu yang sedang memperkosa ibunya, ia dilempar dan kepalanya terbanting pada dinding kamar dengan keras sekali se¬hingga ia menjadi pingsan. Entah bagai¬mana hanya Tuhan yang mengatur dan mengetahuinya, bantingan kepala yang terjadi pada saat hatinya merasa ter¬tusuk-tusuk oleh perasaan duka, marah, sakit hati dan gelisah itu, bantingan keras yang menggetarkan otaknya, telah merubah dan mengguncangkan otaknya, merubah susunan syaraf dalam kepala. Tanpa ia sadari, timbullah semacam kekuatan mujijat di dalam kepalanya yang menyinar keluar dari matanya. Kekuatan mujijat ini terutama sekali timbul apabila hatinya terganggu dan membuatnya menjadi marah dan sakit hati. Kekuatan mujijat yang membuat pandang matanya kuat melebihi pandang mata seorang ahli sihir yang bagaimana pandai sekalipun, yang membuat daya ciptanya sedemikian kuatnya sehingga dalam keadaan seperti itu, mudah saja ia “merampas” dan me¬nguasai semangat kemauan orang! Kalau ahli-ahli sihir memperoleh kekuatan me¬reka karena latihan dan ketekunan, ada¬lah Han Han memperolehnya karena ke¬kuasaan Thian yang tiada batasnya. Su¬sunan otak dan syarafnya, seperti manu¬sia-manusia lain, adalah sempurna sekali sehingga segala sesuatu dapat diperguna¬kan secara normal. Akan tetapi, hantam¬an kepalanya pada dinding itu meng¬goyahkan kesempurnaan itu sehingga cara kerja otak dan syarafnya menjadi terganggu. Justeru gangguan ini yang me¬nimbulkan kekuatan hebat itu!
Namun Han Han sendiri tidak sadar akan hal ini. Karenanya ia tidak dapat menguasai kekuatan mujijat ini dan ke¬kuatan ini hanya timbul kalau ia sedang marah seperti yang tadi timbul dan tanpa ia sadari sendiri telah membuat Sin Lian menari-nari seperti monyet dan Lauw-pangcu tertidur pulas di luar ke-hendaknya!
Lauw-pangcu menghela napas panjang. Sebagai seorang yang sudah berpenga¬laman luas, ia telah dapat mengenal sifat-sifat Han Han. Ia tahu bahwa kalau ia mendesak terus, hasilnya malah me¬rugikan karena anak ini tentu akan ke¬hilangan gairah belajar ilmu silat. Pada saat itu, Sin Lian berlari-lari keluar dari kamarnya dan berkata.
“Ayah.... Ayah.... aku mimpi aneh....”
Lauw-pangcu memandang puterinya lalu mengerling kepada Han Han yang menundukkan muka. “Mimpi apa?”
“Aku mimpi menjadi monyet dan menari-nari.... eh, sute masih di sini. Bagaimana, Ayah, apakah dia masih ber¬kepala batu tidak mau menceritakan riwayatnya?”
Lauw-pangcu kembali melirik kepada Han Han mendengar ucapan puterinya itu, dan Han Han masih menunduk, hanya mukanya menjadi merah karena anak ini pun terkejut dan heran di dalam hati¬nya. Tadi dia telah memaki di dalam hatinya, memaki Sin Lian seperti monyet menari-nari dan gadis cilik ini pun lalu menari-nari tanpa sadar. Kemudian sekarang bocah ini mengatakan mimpi menjadi monyet dan menari. Apa yang telah terjadi? Dia sendiri tidak mengerti dan bingung. Akan tetapi hatinya lega ketika mendengar gurunya berkata.
 “Sutemu sama sekali tidak kepala batu, Lian-ji. Jangan kau kurang ajar dan terlalu mendesaknya. Han Han adalah seorang keturunan keluarga Sie, dan ka¬rena dia sudah tiada ayah bunda lagi, memang tidak ada sesuatu yang perlu diceritakan.”
“Aihhhhh...., dia ini jaka lola (yatim piatu)....?” Suara Sin Lian mengandung penuh iba sehingga lunturlah semua ke¬bencian di hati Han Han. Apalagi ketika ia memandang kepada “suci-nya” itu dan melihat pandang mata Sin Lian terhadap¬nya begitu lembut dan penuh kasihan, ia lalu tersenyum kepada Sin Lian. Dara cilik itu membalas senyumnya dan mulai detik itu terjalinlah rasa persahabatan antara mereka.
Mulailah Lauw-pangcu mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepada Han Han. Hatinya girang bukan main karena duga¬annya sama sekali tidak meleset. Bocah ini memiliki ingatan yang amat luar biasa, seperti kertas putih bersih saja, sekali ditulis tidak akan luntur lagi. Mudah saja bocah ini menerima pelajaran kouw-koat (teori silat) dan mendengar terus mengerti dan ingat. Sebentar saja ia sudah dapat menghafal semua nama dan kedudukan bhesi (kuda-kuda). Juga ketika melatih kuda-kuda, sebentar saja ia sudah dapat menguasainya sungguhpun kuda-kudanya itu tentu saja hanya me¬rupakan kulit yang belum ada isinya. Ketika Sin Lian disuruh mengujinya, se¬kali serampang dengan kaki, kuda-kuda yang dilakukan Han Han itu rontok dan ia pun terguling! Maka Lauw-pangcu makin yakin bahwa anak ini memang belum pernah belajar silat. Mulai hari itu, Han Han disuruh berlatih memasang kuda-kuda dengan tekun dan Sin Lian yang menjadi sucinya selalu menemaninya dan mengawasinya dengan rajin pula. Dalam keadaan apapun juga, Han Han diharuskan memasang kuda-kuda dan de¬ngan demikian, ia mulai memaksa otot-otot kakinya, dan melatih otot-otot ka¬kinya itu agar menjadi seperti kaki ahli silat karena sepasang kaki merupakan pilar terpenting bagi seorang ahli silat. Makin kuat kuda-kudanya, makin sempurnalah ilmu silatnya, demikian pendapat para ahli silat.
Han Han merupakan seorang anak yang rajin dan tekun. Akan tetapi ke¬rajinannya ini hanya ditujukan untuk membaca kitab karena memang sejak kecil ia sudah “berkecimpung” dalam lautan kitab-kitab dan huruf-huruf sastra. Kalau disuruh menghafal, sekali baca ia dapat mengingat seribu huruf di luar kepala. Kini, disuruh melatih bhesi, ia merasa tersiksa sekali. Menimba air pun harus dengan sepasang kaki memasang bhesi, di waktu berdiri, di waktu jong¬kok, bahkan di waktu ia berdiri memasak air dan membantu pekerjaan Sin Lian mengurus rumah, ia diharuskan oleh gu¬runya untuk memasang kuda-kuda. Dan semua ini selalu diawasi dan dikontrol secara keras oleh Sin Lian!
“Sute, memang membosankan belajar bhesi seperti ini. Akan tetapi karena bhesi amat penting, sute harus tekun. Aku sendiri semenjak pandai berjalan sudah disuruh belajar bhesi oleh Ayah!”
Han Han menarik napas panjang. Su¬dah hampir sebulan ia berlatih bhesi seperti ini. Bayangkan saja. Dalam se¬bulan itu ia selalu memasang bhesi! Ha¬nya di waktu tidur nyenyak saja kakinya tidak dikakukan karena dalam tidur ia terlupa. Kedua kakinya terasa kaku sekali, bahkan kalau dilonjorkan menimbul¬kan rasa sakit-sakit lagi.
“Suci, apakah belajar silat begini tidak menjemukan? Jangan-jangan kalau sudah lulus, sekali berdiri memasang bhesi kedua kakiku lalu berakar di tanah dan tidak dapat dicabut lagi. Berapa lama aku harus melatih bhesi seperti ini?”
“Tergantung orangnya, sute. Akan tetapi menurut kata Ayah, engkau me¬miliki daya tahan dan bakat yang luar biasa sehingga dalam beberapa hari lagi tentu Ayah akan mengajar lebih lanjut.”
“Mengajar apa?”
“Ilmu silat tentunya. Ilmu pukulan.”
“Wah, aku tidak suka.”
“Mengapa?”
“Ilmu saja kok ilmu memukul orang! Untuk memukul, menyiksa dan membunuh orang digunakan ilmu yang dipelajari. Alangkah kejinya!”
“Sute, kau ini bocah aneh sekali. Ilmu silat bukan semata-mata memukul orang. Memukul hanya merupakan sebuah di antara gerakan silat, di samping gerakan mengelak, menangkis, menendang, menyiku dan lain-lain. Ilmu silat, menurut penjelasan Ayah, adalah ilmu tata gerak menjaga dari pada serangan lawan, juga ilmu kesehatan karena dengan latihan ilmu silat, jalan darah kita beredar de¬ngan lancar dan betul mendatangkan kesehatan, selain itu, juga merupakan seni tari yang indah, dan terakhir merupakan latihan batin, meningkatkan har¬ga diri dan memupuk sifat rendah hati.”
Han Han mendengarkan dengan melongo. Mereka duduk mengaso setelah berlatih kuda-kuda itu di dalam taman liar yang dipelihara oleh Sin Lian, duduk di atas rumput yang tebal. Tak disangkanya bahwa puteri ketua pengemis ini dapat bicara seperti itu! Disangkanya bahwa Sin Lian hanya pandai bersilat dan pandai memaki, galak, ganas, akan tetapi juga ramah sekali.
“Keteranganmu amat menarik,” katanya tersenyum, “dan engkau pandai membela kebaikan ilmu silat. Tentang yang pertama, aku percaya karena engkau pandai menjaga serangan lawan bahkan pandai menyerang. Juga bahwa ilmu silat adalah ilmu menyehatkan tubuh, boleh dipercaya melihat betapa engkau sehat dan kuat serta lincah sekali. Akan tetapi bahwa ilmu silat adalah ilmu yang mengandung seni tari indah, masih kusangsikan.”
“Masih sangsi? Kau lihat dan katakan apakah ini tidak indah,” kata Sin Lian yang sudah melompat bangun dan dara cilik ini mulai bersilat tangan kosong. Gerakannya cepat, namun terutama se¬kali amat indah. Gerakan tangan kaki teratur rapi dan benar-benar membuat Han Han menahan napas. Ia melihat betapa gerakan-gerakan itu, biarpun agak terlalu cepat, namun tiada ubahnya se¬perti seorang dewi yang menari dengan indahnya, sama sekali tidak kelihatan sebagai ilmu untuk berkelahi. Betapa lemasnya kedua lengan dan tubuh itu!
“Bagus! Memang indah sekali, suci!” katanya memuji dengan sejujurnya.
Sin Lian berhenti bersilat, lalu duduk pula di dekat Han Han.
“Harus kuakui bahwa ilmu silat tadi seperti orang menari saja. Kini aku per¬caya bahwa dalam ilmu silat terkandung seni tari yang indah, sungguhpun aku masih sangsi apakah aku dapat belajar bersilat seindah yang kaumainkan itu. Tentang meningkatkan harga diri dan memupuk sifat rendah hati, kurasa hal ini tidak karena ilmu silat, melainkan tergantung daripada sifat orangnya.”
“Ah, tidak bisa! Seorang guru yang baik seperti Ayah, di samping mengajar¬kan ilmu silat, juga menekankan aturan-aturan keras untuk membuat muridnya memiliki harga diri, menjadi pembela kebenaran dan keadilan, serta tidak som¬bong.”
“Kalau begitu aku suka belajar ilmu silat. Biar kuminta suhu mengajarku gerakan kaki tangan.”
Sin Lian menggeleng-geleng kepalanya yang bagus bentuknya. “Tidak begitu mudah, sute. Kuda-kudamu belum sem¬purna benar. Lebih baik kita berlatih lagi agar kuda-kudamu cepat sempurna. Se-telah kuda-kudamu kuat benar, baru kau akan diberi pelajaran gerakan kaki tangan.”
“Berapa lama lagi kiranya? Sebulan, dua bulan, tiga bulan?”
“Tergantung dari kemajuanmu, sute. Mungkin setahun baru diberi pelajaran pukulan.”
Jawaban ini membuat semangat Han Han menjadi lesu kembali. Disuruh bela¬jar bhesi sampai setahun? Wah, berat sekali! Membosankan. Memang pada da¬sarnya ia kurang dapat melihat manfaat-nya ilmu silat dan tadinya sama sekali tidak suka, kini setelah mulai tertarik ia terbentur pada kesukaran belajar kuda-kuda yang membosankan itu sampai se¬tahun!
Sin Lian baru berusia sembilan tahun lebih, akan tetapi ternyata dia seorang bocah yang cerdik. Melihat wajah sute¬nya menjadi muram, ia cepat berkata.
“Sute, jangan memandang rendah kuda-kuda. Karena sesungguhnya pokok kekuat¬an ilmu silat terletak pada kekokohan bhesi inilah. Bagaikan rumah, demikian kata Ayah, bhesi adalah tiang-tiangnya, pukulan tendangan dan gerakan lain hanya bagian atasnya atau cabang-cabangnya be¬rupa daun-daun jendela dan penghias-penghias lain. Apa artinya rumah itu tampak indah dan kuat kalau hanya tampaknya saja dan tiang-tiangnya tidak kuat? Tertiup angin keras sedikit saja akan roboh! Demikian pula orang pandai silat. Kalau ha¬nya kelihatannya saja bagus dan kuat, na¬mun tidak memiliki sepasang kaki yang dapat berkuda-kuda kuat, sekali bertemu lawan berat akan mudah dirobohkan. Me-mang terlalu banyak orang yang hanya ingin pandai memukul, menendang, se¬hingga kelihatannya pandai. Akan tetapi kalau demikian halnya, engkau hanya akan menguasai seni tarinya saja tidak akan dapat menguasai inti sari ilmu silat.”
Kembali Han Han tertegun. Bocah perempuan ini pandai sekali berdebat, dan jalan pikirannya seperti orang de¬wasa saja. Agaknya memang Lauw-pangcu sudah menggemblengnya sejak kecil, bu¬kan hanya digembleng ilmu silat, melain¬kan juga nasehat-nasehat dan wejangan-wejangan.
“Baiklah, suci, aku akan tekun ber¬latih bhesi,” kata Han Han sambil meng¬hela napas. Mulailah ia berlatih lagi, mengulangi berbagai kuda-kuda yang sukar-sukar, diawasi dan diberi petunjuk oleh sucinya yang lebih muda darinya itu. Sampai hari menjadi gelap barulah keduanya meninggalkan taman.
Tiga bulan kemudian Han Han masih belum dilatih gerak pukulan, akan tetapi di samping latihan bhesi, ia mulai dilatih mengatur napas dan bersamadhi oleh gurunya. Pelajaran ini pun membosankan baginya, namun setidaknya ia cukup me¬ngerti akan manfaat siulian (samadhi) dan mengatur pernapasan, karena dalam kitab-kitab kuno hal ini pun selalu di¬sebut-sebut sebagai kewajiban setiap orang yang hendak menguasai diri pribadi dan menguasai nafsu-nafsunya. Ka¬rena itu, latihan siulian dan mengatur napas ini lebih mudah ia pelajari. Hanya bedanya, kalau siulian untuk menguasai diri pribadi dan mengendalikan nafsu di¬lakukan dengan duduk diam dan belajar mengendalikan pikiran dan menenteram¬kan hati serta menutup semua perasaan, adalah siulian yang diajarkan oleh Lauw-pangcu ini ditujukan untuk melancarkan jalan darah, untuk menguasai pernapasan dan terutama sekali untuk menggunakan hawa dalam tubuh sebagai kekuatan!
Lauw-pangcu kembali tertegun dan terheran-heran ketika pada hari-hari pertama ia mengajar murid barunya ini bersamadhi, dalam waktu singkat saja Han Han sudah dapat mematikan semua rasa dan berada dalam keadaan hening yang hanya akan dapat dicapai oleh orang yang sudah berbulan-bulan belajar sama¬dhi! Ia hanya mengira bahwa Han Han memang memiliki bakat luar biasa dan kemauan yang amat keras seperti baja, tidak tahu bahwa hal ini timbul dari keadaan yang “tidak wajar” dalam diri Han Han akibat terbantingnya kepalanya pada dinding dahulu.
Lebih-lebih lagi keheranannya ketika ia melatih Han Han untuk mengumpul¬kan hawa ke pusar dan bertanya apakah ada terasa hawa di situ, anak itu meng¬angguk! Ia lalu menyuruh muridnya meng-gunakan kemauan untuk mendorong hawa panas itu naik ke dada dan kembali Han Han mengangguk, sebagai tanda bahwa ia telah melakukan perintah suhunya. Lauw-pangcu tidak percaya, lalu meraba dada muridnya. Ia terbelalak. Dada itu mengeluarkan getaran yang amat kuat sehingga tubuh bocah itu menggigil, mukanya me¬rah seperti terbakar. Cepat-cepat ia menurunkan lagi hawa panas itu turun ke pusar sehingga keadaan anak itu normal kembali.
Setelah Han Han dan gurunya duduk mengaso tidak berlatih, gurunya berkata. “Dalam latihan siulian, kau cepat maju, Han Han. Hati-hatilah, jangan kau sembrono dengan hawa panas di pusar itu. Itu merupakan kekuatan hebat dan kalau kau sudah dapat mengendalikannya, hawa itu dapat kaudorong ke bagian tubuh yang manapun juga, merupakan kekuatan sin-kang yang luar biasa. Akan tetapi kalau kau sembrono dan keliru menggunakannya, dapat merusak bagian dalam tubuhmu sendiri. Sebaiknya secara perlahan kaulatih dan kuasai hawa itu, mendorongnya perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit maju, sampai dapat kau¬perintah dia maju ke pundak, kemudian turun ke lengan dan sebagainya. Hawa itu dapat diperkuat dengan latihan sama¬dhi dan pernapasan yang benar seperti yang kuajarkan kepadamu. Kau sudah hafal akan teorinya, tinggal melaksana¬kan dalam latihan-latihan yang tekun.”
Demikianlah, hanya dengan setengah hati Han Han melanjutkan latihannya, yakni memperkuat kuda-kuda dan latihan samadhi. Sebetulnya ia sudah tidak ke¬rasan sama sekali tinggal di sarang Pek-lian Kai-pang ini. Ia merasa tidak bebas lagi, tidak seperti ketika ia berkeliaran tanpa tujuan. Sekarang ia terikat oleh kewajiban-kewajiban berlatih dan mem¬bantu pekerjaan rumah tangga yang di¬lakukan Sin Lian. Ia tidak lagi dapat berlaku sekehendak hatinya, mau tidur tinggal tidur, mau jalan tidak ada yang melarang, bisa tertawa sesukanya atau menangis semaunya kalau ia kehendaki. Di situ, ia terpaksa berlaku tidak wajar dan palsu. Ia tidak suka berlatih silat, namun terpaksa ia lakukan. Kalau hatinya sedang mengkal, ia seharusnya cem¬berut, menurutkan hatinya, akan tetapi di depan gurunya, Sin Lian dan para ang¬gauta kai-pang, ia memaksa diri tersenyum! Benar-benar hidup tersiksa baginya. Lebih-lebih kalau ia mengingat akan sikap para suheng-suheng (kakak seper¬guruan) atau susiok-susiok (paman seperguruan) terhadap dirinya, membuat ia makin tidak kerasan lagi. Mereka itu, anggauta-anggauta kai-pang yang taat, memandang rendah dan hina kepadanya karena ia bukan termasuk golongan pe¬ngemis! Kalau tidak mau menjadi pe¬ngemis, mengapa belajar ilmu silat di situ dan memakai pakaian rombeng, demi¬kian mereka sering kali menegurnya. Han Han sering kali dihina, dipukul dan diejek. Akan tetapi dasar dia memiliki watak keras dan berani, sedikit pun tidak mempunyai watak pengecut, ia tidak pernah mengeluh di depan gurunya. Bah¬kan di depan Sin Lian ia tidak pernah menceritakan perlakuan mereka itu ter¬hadap dirinya. Sikap ini menolongnya karena para anggauta kai-pang yang ga¬gah itu merasa kagum menyaksikan sikap Han Han dan gangguan-gangguan mereka makin berkurang.
Sudah lima bulan Han Han berada di sarang Pek-lian Kai-pang itu. Pada suatu pagi, datanglah serombongan pengemis ke tempat itu. Mereka ini terdiri dari belasan orang pengemis, tampak kuat-kuat seperti para anggauta Pek-lian Kai-pang. Hanya bedanya, kalau pakaian para ang¬gauta Pek-lian Kai-pang, biarpun ber¬totol-totol berkembang atau tambal-tambalan, dasarnya selalu warna putih, adalah rombongan pengemis yang datang ini pakaiannya serba hitam! Wajah me¬reka juga bengis-bengis, dan mereka di¬pimpin seorang pengemis tua bongkok berpakaian hitam yang matanya hanya satu, yaitu yang kanan karena mata kiri¬nya buta.
Han Han yang sedang berlatih bersama Sin Lian, segera berlari-lari meng¬hampiri bersama gadis cilik itu yang menjadi tegang dan berbisik, “Ah, mere¬ka adalah orang Hek-i Kai-pang (Per¬kumpulan Pengemis Baju Hitam). Tentu mencari keributan!”
Han Han menjadi berdebar tegang hatinya. Benar-benarkah akan terjadi bentrokan antara para pengemis? Alang¬kah aneh dan lucunya. Sama-sama pe¬ngemis, masih bertengkar! Ia dan Sin Lian menonton dari pinggir karena saat itu, Lauw-pangcu sendiri telah menyam¬but datangnya rombongan pengemis baju hitam ini bersama anak buahnya yang sudah berbaris rapi. Rata-rata para ang¬gauta Pek-lian Kai-pang bersikap keren.
Lauw-pangcu telah mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil berkata, “Biarpun belum pernah jumpa, namun tidak akan keliru dugaan saya kalau yang datang berkunjung ini adalah Song-pangcu (Ketua Pengemis Song) dari lembah uta¬ra!”
Kakek bongkok itu mengeluarkan suara mendengus seolah-olah sikap sopan dan ramah ini malah tidak menyenangkan hatinya. “Benar, Lauw-pangcu. Aku orang she Song ketua Hek-i Kai-pang dari seberang sungai. Tak perlu kiranya kita berpanjang debat, Lauw-pangcu, karena kita sama tahu bahwa di antara anak buah kita sudah sering kali timbul bentrok, dan....”
“Bentrokan yang sengaja dilakukan oleh anggauta-anggautamu, Song-pangcu!” bantah Lauw-pangcu dengan suara keren. “Sudah jelas daerah kita dibatasi sungai, namun para anggautamu sengaja menyeberang sungai dan mendesak daerah kami di selatan!”
“Tidak perlu dibicarakan lagi urusan itu!” Song-pangcu memotong marah. “Kami tidak perlu lagi banyak cakap dengan segala pemberontak....”
“Song-pangcu! Mengapa kau menuduh yang bukan-bukan?”
“Ha-ha-ha! Menuduh, katamu? Siapa tidak tahu bahwa Pek-lian Kai-pang adalah cabang dan pecahan dari Pek-lian-¬kauw yang memberontak dan jahat? Si¬apa tidak tahu akan kontak antara kalian dengan pemberontak di barat?”
Lauw-pangcu menjadi pucat mukanya lalu berubah merah sekali. “Song-pangcu, memang tidak perlu banyak cakap. An¬tara kita terdapat jurang pemisah dan bibit permusuhan. Sekarang, kalian datang mau apa?”
“Ha-ha, mau apa lagi? Membereskan urusan antara kita dengan senjata!” kata It-gan Hek-houw sambil terkekeh dan menggerak-gerakkan tongkatnya yang juga berwarna hitam seperti pakaiannya.
Lauw-pangcu memberi isyarat dengan tangan dan melompatlah lima belas orang anggauta Pek-lian Kai-pang tingkat ting¬gi. Mereka inilah yang oleh Sin Lian dan Han Han disebut susiok (paman guru) dan mereka ini yang mewakili Lauw-pangcu melatih ilmu silat kepada para murid. Hanya Sin Lian dan Han Han berdua saja yang menerima pendidikan langsung dari ketua Pek-lian Kai-pang ini. Lima belas orang itu bergerak secara teratur, berputaran dan terbentuklah sebuah barisan lingkaran tiga lapis. Yang luar terdiri dari delapan orang, sebelah dalamnya lima orang dan yang paling dalam dua orang. Bentuknya seperti teratai.
“Song-pangcu, bicara tentang mengadu senjata berarti mengadu kepandaian. Seorang pangcu yang mempunyai banyak anak buah, tidak patut kalau turun tangan sendiri sebelum mengajukan anak buahnya. Cobalah kaupecahkan barisan kami yang bernama Pek-lian-tin (Barisan Teratai Putih) ini!” kata Lauw-pangcu.
Barisan itu hanya bentuknya saja seperti teratai, akan tetapi sebenarnya merupakan gabungan daripada pat-kwa-tin (barisan segi delapan) yang diwakili oleh lingkaran pertama di luar, ngo-heng-tin (barisan lima unsur) yang diwakili oleh lingkaran ke dua dan im-yang-tin (barisan im-yang) diwakili oleh dua orang, yaitu sesungguhnya bukan barisan hanya kerja sama antara dua orang yang meng¬gunakan dua jenis tenaga yang berlawan¬an dalam gerakan mereka. Dapat diduga betapa hebat dan kuatnya barisan Pek-lian-tin yang terdiri dari gabungan tiga barisan kuat.
Akan tetapi It-gan Hek-houw yang sudah mendengar akan Pek-lian-tin ini memandang rendah dan tertawa meng¬ejek. Ia sudah siap dengan anak buahnya yang dipilih atas tokoh-tokoh ter¬pandai dari Hek-i Kai-pang. Ia pun mem¬beri tanda dengan tongkatnya diangkat ke atas maka majulah lima belas orang pengikutnya yang rata-rata bertubuh ku¬at, tidak seperti ketua mereka yang bongkok. Seperti Pek-lian-tin itu, mereka pun masing-masing memegang sebatang tongkat hitam, yang hanya warnanya saja berbeda dengan tongkat lawan yang putih.
Lima belas orang pengemis pakaian hitam ini lalu bergerak pula membentuk lingkaran besar, mengelifingi Pek-lian-tin. Mereka ini harus terus berlari-larian mengelilingi barisan pengemis Pek-lian Kai-pang yang tetap pada kedudukan mereka, tidak bergerak, hanya pandang mata mereka saja tetap memperhatikan lawan yang berada di depan mereka ma¬sing-masing. Dengan lingkaran terdiri dari lima belas orang itu, maka barisan luar pat-kwa-tin yang terdiri dari dela¬pan orang itu menghadapi jumlah lawan yang hampir dua kali lebih banyak. Na¬mun mereka tetap tenang, siap dengan tongkat di tangan, demikian pula ngo-heng-tin yang berada di dalam, dan dua orang yang membentuk im-yang-tin.
Han Han menonton dengan jantung berdebar. Baru sekali ini ia akan me¬nyaksikan pertempuran hebat antara orang-orang yang pandai ilmu silat dan mulailah rasa tidak senang menggerogoti hatinya. Jadi mereka itu mati-matian berlatih ilmu silat hanya untuk ini? Un¬tuk berkelahi, saling serang dan mungkin saling bunuh? Apakah kelak kalau dia sudah pandai ilmu silat juga seperti me¬reka ini? Ia pun memikirkan tuduhan kakek mata satu itu yang dilontarkan terhadap Pek-lian Kai-pang. Benarkah Pek-lian Kai-pang itu sebuah perkumpulan pemberontak? Benarkah Pek-lian Kai-pang adalah cabang dari Pek-lian-kauw? Dia sudah pernah membaca tentang Pek-lian-kauw ini, yang merupakan perkumpul¬an Agama Teratai Putih, akan tetapi sesungguhnya adalah perkumpulan kaum pemberontak yang gigih terhadap Kerajaan Beng-tiauw yang telah jatuh di tangan bangsa Mancu. Menurut patut, pemberon¬tak terhadap Kerajaan Beng tentunya bekerja sama dengan bangsa Mancu! Akan tetapi mengapa sekarang masih disebut pemberontak dan malah tadi dituduh mengadakan kontak dengan pemberontak di barat? Han Han tidak mengerti dan menjadi bingung, akan tetapi hal itu ia lupakan karena perhatiannya lebih ter¬tarik kepada pertempuran hebat yang akan berlangsung.
“Anjing-anjing hitam itu tidak mung¬kin dapat menangkan Pek-lian-tin!” kata Sin Lian dengan suara berbisik.
“Akan tetapi jumlah mereka lebih banyak. Mana bisa lingkaran luar yang terdiri dari delapan orang dapat bertahan?” bantah Han Han yang mau tidak mau tentu saja berfihak kepada Pek-lian Kai-pang.
“Kau lihat saja, nanti tahu kelihaian Pek-lian-tin, sute.”
Han Han tidak keburu bertanya lagi karena kini pertandingan sudah dimulai, perhatiannya tertarik dan ia menonton dengan hati tegang. Batu pertama kali ini selama hidupnya Han Han menonton pertempuran seperti ini dan karena ia tahu bahwa dalam pertempuran ini akan banyak orang terluka dan tewas, maka hatinya tegang sekali.
Pertempuran itu dimulai dengan ben¬takan-bentakan dan sorakan-sorakan nya¬ring dari kedua fihak. Mula-mula lima belas orang pengemis baju hitam itu se¬telah tadi berlari-larian memutari Pek-lian-tin, bersorak dan menyerbu secara tiba-tiba. Lima belas orang itu bergerak dengan cepat dan dalam detik yang sa¬ma, karena memang mereka itu bergerak menurut aturan barisan yang telah mere¬ka susun dan latih sebelumnya. Tongkat mereka maju menerjang dan setiap dua orang pengemis baju hitam telah memilih seorang pengemis Teratai Putih sebagai lawan sehingga penyerangan mereka tidak kacau, mempunyai sasaran yang tertentu.
Kalau diukur tingkat kepandaian per¬orangan antara anggauta kedua “tin” ini, agaknya berimbang dan tidak banyak selisihnya. Maka jika seorang di antara mereka dikeroyok dua orang lawan, tentu akan kalah. Kalau lingkaran luar Pek-lian-tin itu menerima serangan lawan begitu saja, tentu mereka akan hancur mengingat bahwa jumlah mereka hanya delapan orang menghadapi serangan lima belas orang. Akan tetapi, setelah bertan¬ding, barisan ini memperlihatkan ke¬hebatannya. Tiba-tiba mereka itulah yang sekarang bergerak memutar sambil menangkis sebuah serangan. Dan karena mereka bergerak memutar ini maka se¬tiap orang pengemis Pek-lian Kai-pang hanya cukup menangkis serangan seorang lawan saja lalu bergerak ke kiri meneri¬ma pula serangan tongkat hitam yang lain. Adapun orang ke dua fihak lawan yang menyerangnya otomatis telah “diterima” oleh teman yang datang meng¬geser dari kanan. Memang gerakan ini membuat mereka menerima serangan secara bertubi-tubi, namun tetap saja mereka itu masing-masing hanya menghadapi seorang lawan saja.
Kemudian secara tiba-tiba sekali, barisan sebelah dalam yang terdiri dari lima orang, cepat dan tidak terduga-duga oleh barisan lawan yang sedang gembira mendesak lingkaran luar yang berputaran itu, menerjang dari celah-celah antara dua orang kawan yang membentuk Pak-kwa-tin. Mereka ini menerjang dengan tongkat mereka menuju ke sebuah sasaran saja, yaitu ke arah seorang lawan yang mereka lihat dari dalam tadi berada dalam posisi lemah.
Terdengar teriakan-teriakan kesakitan dan robohlah tiga orang pengemis baju hitam. Lima orang anggauta Ngo-heng-tin itu telah berhasil merobohkan tiga orang lawan dan karena serangan mereka tadi amat tiba-tiba, maka fihak lawan hanya ada dua orang saja yang mampu menangkis, sedangkan yang tiga orang kena dihantam kepalanya dan roboh ber¬kelojotan dengan kepala retak!
“Nah, kau lihat kelihaian Pek-lian-tin!” seru Sin Lian dengan suara nyaring, sebetulnya ucapan ini ditujukan kepada Han Han akan tetapi terdengar oleh semua orang karena keadaan di situ sunyi dan tegang, kecuali suara beradunya tongkat dan terengahnya napas mereka yang sedang bertempur.
Han Han merasa kagum, akan tetapi juga ketidaksenangannya terhadap ilmu silat bertambah. Ia terbelalak meman¬dang ke arah tiga orang pengemis baju hitam yang berkelojotan kaki tangannya, mulutnya mengeluarkan rintihan perlahan, darah mengalir dari mata, telinga, hidung dan mulut. Kemudian mereka berhenti berkelojotan dan tidak bergerak lagi. Han Han bergidik. Untuk inikah ilmu silat dilatih? Untuk inikah perkumpulan kai-pang dibentuk? Ia menyapu wajah mereka yang sedang bertempur seru. Wajah pe¬nuh keringat, berkilat-kilat, akan tetapi masih kalah oleh kilatan mata mereka yang penuh nafsu membunuh, mulut yang menyeringai, seolah-olah mereka amat gembira menghadapi perjuangan antara mati dan hidup ini! Seolah-olah mereka itu sekumpulan kanak-kanak tengah ber¬main-main, tidak ada ketakutan terbayang di wajah mereka, yang ada hanya nafsu untuk menang, untuk menghancurkan lawan, untuk membunuh!
Setelah kehilangan tiga orang kawan, barisan pengemis baju hitam menjadi hati-hati sekali. Mereka maklum bahwa kalau dilanjutkan, selain penyerangan mereka akan gagal, juga mereka akan sukar melindungi diri dari serangan tiba-tiba yang dilakukan oleh lima orang di sebelah dalam barisan lawan itu. Ter¬dengar It-gan Hek-houw ketua mereka bersuit nyaring dan kini barisan pengemis baju hitam mengubah gerakan. Mereka pun berjalan mengitari barisan lawan, mengimbangi gerakan Pat-kwa-tin, ke¬mudian mereka menyerang lagi, bukan menyerang sambil berhenti di tempat seperti tadi, dan kini mereka menyerang tidak berbareng, melainkan berganti-ganti sehingga yang tidak menyerang dapat menjaga kawan yang menyerang dari bahaya. Keadan makin seru dan kacau karena fihak pengemis Pek-lian-tin dibikin bingung oleh penyerangan seperti itu. Mereka melawan sekuat tenaga, kadang-kadang dibantu oleh Ngo-heng-tin dari dalam yang kini bertugas mem¬bela kawan-kawan yang di luar. Perang campuh terjadi dan berjatuhanlah korban kedua fihak. Akan tetapi sekali ini, fihak Pek-lian-tin roboh empat orang sedang¬kan di fihak Hek-i Kai-pang roboh tiga orang lagi.
Pat-kwa-tin yang kehilangan empat orang itu menjadi ompong dan kehilangan daya keampuhannya. Hal ini tidak disia-siakan oleh fihak pengemis baju hitam yang langsung menyerang dan menghim¬pit. Akan tetapi kini bergeraklah barisan Ngo-heng-tin, menutup bagian-bagian yang lowong dan balas menyerang. Ter¬jadi perang tanding yang amat seru dan mati-matian antara sembilan orang pe¬ngemis Pek-lian-tin melawan delapan orang pengemis Hek-i Kai-pang. Akan tetapi terdengar bentakan-bentakan nyaring dan roboh pula empat orang penge¬mis baju hitam. Kiranya sekarang im-yang-tin yang terdiri dari dua orang itu telah bergerak. Gerakan mereka sungguh mengagetkan. Kiranya mereka ini merupakan “inti” dari Pek-lian-tin, dan ting¬kat kepandaian mereka lebih tinggi dari¬pada tiga belas orang teman yang lain. Selain tingkat kepandaian mereka lebih tinggi, juga gerakan mereka sukar di-duga lawan karena mereka itu menyusup di antara dua barisan depan yang senga¬ja menyembunyikan mereka dan hanya bergerak memberi jalan setelah mendapat isyarat dari dalam. Maka sekali mener-jang keluar dalam keadaan tak terduga-duga, tongkat mereka berkelebat dan masing-masing dapat merobohkan dua orang lawan!
Bersoraklah fihak Pek-lian Kai-pang melihat hasil ini. Kini fihak pengemis baju hitam sudah tewas atau luka berat sepuluh orang, sisanya hanya lima orang lagi saja! Sedangkan fihak Pek-lian Kai-pang hanya roboh empat orang, jadi ma¬sih sebelas orang. Kini keadaan terbalik, lima orang pengemis baju hitam melawan sebelas orang pengemis Pek-lian! Namun, harus dipuji semangat bertempur penge¬mis-pengemis baju hitam itu. Agaknya mereka ini merasa sakit hati sekali me¬nyaksikan robohnya teman-teman mereka dan kini mereka bertanding seperti orang-orang kemasukan setan, dengan nekat dan tidak peduli akan diri sendiri. Ka¬rena amukan yang hebat ini, keadaan makin kacau. Fihak Pek-lian Kai-pang baru dapat merobohkan sisa lima orang lawan ini setelah merobohkan fihak sen¬diri dengan empat orang lagi!
Lima belas orang pengemis baju hi¬tam dan delapan orang anggauta Pek-lian Kai-pang menggeletak mandi darah, sebagian besar mati dan sebagian lagi luka-luka berat! Tujuh orang anggauta Pek-lian Kai-pang masih berdiri dalam bentuk barisan biarpun lawannya sudah roboh semua, wajah mereka membayang¬kan kebanggaan karena dalam pertempur¬an ini merekalah yang berada di fihak menang! Tapi pada saat itu, terdengar bentakan nyaring dan tubuh It-gan Hek-houw yang bongkok itu telah bergerak maju, tongkat hitamnya diputar-putar cepat sekali. Ia maju menerjang tujuh orang sisa barisan Pek-lian-tin itu yang tentu saja sudah cepat bergerak me¬nyambut terjangan ketua Hek-i Kai-pang. Namun gerakan Si Bongkok bermata satu itu memang hebat. Tongkatnya yang hitam itu biarpun kecil, mengandung tenaga luar biasa sehingga terdengarlah suara pletak-pletok ketika tongkat-tongkat ketujuh orang lawannya itu patah-patah setelah bertemu dengan tongkatnya dan dalam waktu singkat saja, tongkatnya telah merobohkan tujuh orang Pek-lian-tin itu!
Lauw-pangcu memekik marah melihat ini, dan tiba-tiba tubuh kakek ini men¬celat ke depan, tongkatnya menyambar ganas.
“Desssss....!” Dua tongkat itu bertemu dengan hebat dan akibatnya, ke¬duanya terhuyung mundur. Akan tetapi, kalau Lauw-pangcu hanya terhuyung dua langkah ke belakang, adalah Si Bongkok itu terhuyung enam tujuh langkah dan hampir terjengkang roboh.
“It-gan Hek-houw! Engkau tua bangka tak tahu malu! Jangan hanya memperli¬hatkan kegarangan terhadap anak buahku, hayo lawanlah aku. Kita tua sama tua, mari kita lihat siapakah di antara kita yang lebih unggul!” bentak Lauw-pangcu yang menjadi marah sekali menyaksikan musuh ini merobohkan anak buahnya.
“Orang she Lauw, manusia sombong, pemberontak rendah!” It-gan Hek-houw balas memaki sambil lari maju dan me¬lakukan serangan dengan dahsyat. Lauw-pangcu yang memang sudah siap sedia, menyambutnya dan bertandinglah kedua orang ketua kai-pang ini dengan seru.
Ilmu tongkat Lauw-pangcu yang dicipta¬kannya sendiri dari gabungan banyak ilmu silat tongkat yang dikenalnya, diambil intinya dan bagian-bagian yang paling lihai, yaitu Ilmu Tongkat Pek-lian-kun-hoat, memang lihai luar biasa.
Memang sesungguhnyalah bahwa Lauw-pangcu ini, yang tadinya bernama Lauw Tai Kim, adalah seorang tokoh dari Pek-lian-kauw yang telah dihancurkan oleh Kerajaan Beng-tiauw. Pek-lian-kauw sudah hancur dan tokoh-tokohnya banyak yang tewas, akan tetapi Lauw Tai Kim berhasil menyelamatkan diri. Diam-diam ia lalu mengumpulkan kawan-kawan, dan menerima kawan-kawan baru lalu mem¬bentuk perkumpulan pengemis Pek-lian Kai-pang. Memang benar bahwa Pek¬-lian-pai atau Pek-lian-kauw dahulu ter¬kenal sebagai perkumpulan pemberontak yang merasa tidak puas dengan Kerajaan Beng. Akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa jiwa Lauw-pangcu adalah jiwa pemberontak yang suka bersekutu dengan penjajah asing. Sama sekali tidak. Bah¬kan ketika Kerajaan Beng musnah lalu muncul Kerajaan Ceng yang didirikan oleh bangsa Mancu yang menjajah Tiong-goan, Lauw-pangcu ini diam-diam menen¬tang penjajah ini dan mengadakan hu¬bungan dengan Bu Sam Kwi yang mem¬bangun kerajaan kecil di barat dan me¬nentang pemerintah Mancu. Bahkan perkumpulan Pek-lian Kai-pang ini sekarang dijadikan mata-mata untuk Bu Sam Kwi, dan diam-diam selain mengawasi gerak-gerik pemerintah Mancu, juga melakukan pengacauan-pengacauan, sabotase-sabotase terhadap pemerintah penjajah. Inilah sebabnya mengapa Lauw-pangcu sering kali bentrok dengan serdadu-serdadu Mancu.
Akan tetapi fihak pemerintah Mancu juga tidak bodoh dan buta. Pemerintah ini, dengan menggunakan kekuasaan, pe¬ngaruh dan sogokan harta benda, berhasil pula memikat hati golongan-golongan di Tiong-goan sehingga suka bekerja sama dan membantu pemerintah mereka. Juga perkumpulan Hek-i Kai-pang telah menjadi kaki tangan pemerintah baru. Tentu saja lama-kelamaan gerak-gerik Pek-lian Kai-pang ketahuan dan karena ini pula maka Hek-i Kai-pang memusuhinya dan sampai hari ini terjadi bentrok hebat antara ketua sama ketua!
It-gan Hek-houw juga bukan seorang lemah. Ilmu tongkatnya adalah gubahan dari ilmu toya Siauw-lim-pai, maka me¬miliki gaya yang kokoh kuat dan sukar ditundukkan. Namun. dalam hal ilmu kepandaian, ia masih kalah banyak oleh Lauw-pangcu sehingga setelah lewat lima puluh jurus, Lauw-pangcu berhasil me¬mukul pundak kirinya.
“Krakkk....!” It-gan Hek-houw mencelat ke belakang, lalu terjatuh berlutut, akan tetapi cepat berdiri lagi. Lengan kirinya tergantung lumpuh, tulang pun¬dak kirinya remuk. Mukanya pucat dan matanya yang tinggal sebelah itu menge¬luarkan sinar penuh kemarahan dan ke¬bencian. Tidak sedikit pun terdengar keluhan atau rintihan dari mulutnya dan hal ini saja membuktikan bahwa ketua Hek-i Kai-pang memang gagah.
“Orang she Lauw, hari ini aku mengaku kalah. Akan tetapi kau tunggulah pembalasanku!” Setelah berkata demikian, It-gan Hek-houw lalu membalikkan tubuh dan pergi dari situ, diikuti sisa orang-orangnya yang memondong teman-teman yang terluka.
Beberapa orang tokoh Pek-lian Kai-pang bergerak maju dan hendak mengejar, akan tetapi Lauw-pangcu membentak dan melarang mereka.
“Pangcu, anjing macam dia kalau tidak dibunuh sekarang, besok tentu akan menimbulkan keributan saja,” bantah seorang di antara mereka.
“Jangan gosok-gosok luka yang sudah parah. Kita harus bersiap-siap dan segera pergi dari sini. Tak lama lagi tentu ba¬risan Mancu datang menyerbu. Kalian sudah mendengar sendiri tadi ucapan-ucapan It-gan Hek-houw. Rahasia kita telah diketahui dan lebih baik kita kembali ke barat, bergabung dan menyam¬paikan laporan kepada Ong-ya (Raja). Sehari ini kita harus dapat membereskan segalanya dan berkemas, paling lambat besok pagi kita harus sudah berangkat meninggalkan tempat ini.”
Wajah para pengemis itu berubah, sebagian besar merasa tidak suka untuk pergi dari daerah Tiong-goan yang sudah menjadi tempat mereka mencari rejeki. Akan tetapi tidak seorang pun berani membantah perintah ketua mereka dan diam-diam mereka itu hanya saling pandang, kemudian mulai mengurus mayat teman-teman mereka yang roboh dalam pertandingan tadi, serta merawat yang luka.
“Han Han, engkau di mana....?” teriakan nyaring dari Sin Lian ini me¬nyadarkan Lauw-pangcu yang sedang melamun sambil menonton ahak buahnya menolong para korban. Ia cepat membalikkan tubuhnya, dan menghampiri pu¬terinya.
“Ada apakah, Lian-ji? Ke mana Han Han?”
Sin Lian mengerutkan alisnya yang kecil hitam. “Entahlah, Ayah. Tadi dia berada di sini bersamaku menonton per¬tandingan. Akan tetapi tiba-tiba ia le¬nyap entah ke mana. Kupanggil-panggil tidak menyahut.”
Lauw-pangcu membantu puterinya memanggil-manggil dan mencari Han Han, akan tetapi tidak tampak bayangan anak itu. Bahkan ia lalu memerintahkan beberapa orang anak buah Pek-lian Kai-pang untuk bantu mencari. Namun sia-sia, Han Han telah lenyap tak mening¬galkan bekas.
Ke manakah perginya anak itu? Tadinya Han Han menonton pertandingan, dan ia menjadi kagum sekali menyaksikan ilmu tongkat gurunya yang amat hebat dan aneh. Akan tetapi, di sudut hatinya ia makin tidak senang. Ia benci melihat bunuh-membunuh itu, melihat sesama pengemis saling bunuh seperti itu. Andai¬kata mereka itu merupakan jembel-jembel biasa yang tidak tahu ilmu silat, tidak mungkin mereka itu akan bertengkar dan bercekcok lalu berkelahi saling bunuh seperti itu. Apalagi setelah ia mendengar ucapan gurunya, mengertilah ia bahwa memang betul perkumpulan pengemis yang dipimpin gurunya itu adalah per¬kumpulan pemberontak yang bergabung dengan kekuasaan yang dipimpin “ong-ya” di barat. Ia menjadi makin tidak senang. Bukan ia tidak senang melihat perlawanan terhadap pemerintah Mancu, hanya ia tidak ingin melibatkan diri ke dalam pertentangan politik yang ia tidak mengerti. Semua ini membuat hatinya makin terasa hambar terhadap pelajaran ilmu silat, maka ketika melihat bahwa Sin Lian sedang tertarik dan tidak memperhatikannya, diam-diam anak ini lalu pergi dari situ dan terus berlari cepat keluar dari dalam hutan. Ia takut kalau-kalau gurunya akan mengejar, maka ia berlari terus tak kunjung henti sehingga ketika Lauw-pangcu dan anak buahnya mencari-cari di sekitar hutan, ia telah berada amat jauh di luar hutan.
Han Han kembali ke kota Tiong-kwan. Sudah hampir setengah tahun ia belajar di bawah asuhan Lauw-pangcu. Ketika ia memasuki pintu gerbang kota Tiong-kwan ia merasa betapa cepatnya sang waktu berlalu. Seolah-olah baru kemarin saja ia tiba di Tiong-kwan dan bertemu Lauw-pangcu di bekas rumah terbakar. Masih terbayang jelas betapa ia bertemu de¬ngan jembel cilik dan membagi-bagi roti. Oh ya, siapa pula nama jembel cilik yang bercita-cita menjadi seorang per¬wira itu? Wan Sin Kiat! Berseri wajah Han Han ketika teringat akan bocah yang telah menjadi sahabatnya itu. Ia harus pergi mencarinya. Akan senang juga berkawan dan mengobrol dengan Sin Kiat. Pula, ia harus mencari pekerjaan, mencari hasil untuk mengisi perutnya. Maka pergilah Han Han ke tempat yang dahulu, di dekat pasar, bekas gedung yang terbakar.
Dari jauh sudah terdengar suara ribut-ribut seperti suara anak-anak berkelahi. Han Han lari menghampiri dan ketika ia tiba di tempat itu, ia melihat seorang anak laki-laki berpakaian mewah me¬mukul dan menendang roboh dua orang jembel cilik. Gerakan anak berpakaian mewah itu gesit sekali, dan pukulan ser¬ta tendangannya juga antep buktinya dua orang anak jembel itu roboh dan meng¬aduh-aduh. Ketika Han Han meneliti, kiranya seorang di antara dua anak jem¬bel itu bukan lain adalah Wan Sin Kiat. Dan ketika ia memperhatikan anak ber¬pakaian mewah itu, kemudian melihat pula seekor kuda tinggi besar berdiri di belakang anak itu, ia segera teringat dan merahlah mukanya. Bocah berpakaian mewah itu bukan lain adalah pemuda sombong yang pernah menyiksanya dan menyeretnya dengan kuda lima bulan yang lalu itu! Pemuda yang disebut Ouw¬yang-kongcu (Tuan Muda Ouwyang) dan yang ditakuti penduduk kampung! Melihat betapa kini Ouwyang-kongcu itu memukuli dua orang anak jembel itu, Han Han segera melompat maju dan berdiri meng¬hadapinya sambil membentak marah.
“Kau bocah sombong dan jahat! Di mana-mana kau suka memukul orang!”
Melihat datangnya seorang bocah jembel lain, Sin Kiat yang sudah lupa lagi kepada Han Han, mengeluh dan memegangi pantatnya. “Aduhhh.... kau main curang, awas kau kalau aku sudah dapat berdiri lagi....!” Adapun bocah pengemis ke dua, yang usianya sudah jauh lebih tua, sedikitnya ada empat belas tahun, agaknya tidak memiliki nyali sebesar Sin Kiat. Buktinya dia yang sudah dapat bangkit kembali itu hanya berdiri mengaduh-aduh sambil memegangi pundak yang terpukul.
Bocah berpakaian mewah membawa kuda itu memang Ouwyang Seng adanya. Berbeda dengan Sin Kiat yang sudah pangling dan tidak mengenal Han Han, Ouwyang Seng ternyata memiliki ingatan yang lebih kuat. Apalagi karena dia pernah digigit pundaknya oleh Han Han yang sampai sekarang pun masih ada bekas lukanya. Ia berdiri bertolak pinggang, memandang dengan sikap mengejek, kemudian berkata.
“Hemmmmm, kau ini bocah edan yang dulu pernah kuhajar setengah mampus! Dahulu pun setengah tahun yang lalu, kau bukan lawanku. Apalagi sekarang setelah aku memperoleh kemajuan pesat dengan ilmu silatku. Kau petentang-petenteng, apa kau berani melawan kong¬cumu? Ingat, sekali ini kalau aku turun tangan, kau akan roboh dan tidak akan dapat bangun kembali.”
“Sombong! Mentang-mentang kau ini anak bangsawan dan kaya, pandai silat, apa kaukira aku takut padamu? Apa artinya kebangsawananmu kalau itu tidak ditrapkan dalam tata susila dan kesopan¬an? Apa artinya kaya kalau kau tidak suka membantu orang-orang miskin? Apa artinya pandai silat kalau kau tidak mau membela yang lemah? Semua itu malah akan menyeretmu ke dalam jurang kehinaan, bocah setan!”
Ucapan Han Han ini sungguh tidak patut keluar dari mulut seorang bocah berusia sepuluh tahun seperti dia, akan tetapi Han Han pun hanya menyebut semua itu dari dalam kitab yang pernah dibacanya!
“Wah-wah, yang sombong ini sebenarnya siapa? Engkau ini seorang bocah jembel tidak mengerti ilmu silat, bisanya hanya ngawur dan asal nekat saja. Aku adalah seorang gagah, mana mungkin turun tangan menghajar orang kalau ti¬dak ada sebabnya?”
“Huh, macam engkau bicara tentang kegagahan. Kalau kau memukuli dua orang miskin dan tak berdosa ini, apakah itu juga gagah?”
“Kau tidak tahu! Aku dengan baik-baik menanyakan mereka di mana ting¬galnya jembel tua yang suka berada di sini. Aku menanyakan di mana tinggalnya Lauw-pangcu. Akan tetapi mereka pura-pura tidak kenal. Aku sudah bersedia untuk memberi hadiah kalau mereka mau menunjukkan tempat Lauw-pangcu, akan tetapi mereka ini selain menyangkal malah memaki. Apakah itu tidak patut dihajar?”
Han Han tertarik, jantungnva berdebar. “Mau apa kau tanya-tanya tentang tempat tinggal Lauw-pangcu?”
“Eh, engkau tahu tempatnya?”
“Tentu saja! Aku muridnya!”
Ouwyang Seng terbelalak memandang. “Kau....? Muridnya....? Ha-ha-ha! Kebetulan sekali. Kautunjukkan padaku di mana dia!”
“Mau apa sih?”
Han Han menjadi geli hatinya. Bocah ini amat sombong dan kurang ajar. Me¬mang sebaiknya diberi hajaran. Akan tetapi dia belum belajar ilmu silat. Apakah segala macam kuda kuda Vang pernah ditatihnya itu akan ada gunanya untuk bertanding? Tak mungykin. Kalau ia hanya memasang kuda-kuda, betapa kuat pun kakinya, kalau terus dipukuli dan ditendangi lawan, tentu akan celaka. Akan tetapi, kalau bertemu dengan Sin Lian dan Lauw-pangcu, tentu bocah som¬bong ini akan dihajar sampai kapok. Juga gurunya tentu bukan orang baik, biarlah dihajar sekalian oleh Lauw-pangcu yang sudah ia saksikan kelihaiannya.
“Siapa gurumu? Mana dia? Hayo suruh keluar, biar kutunjukkan kalian ke tem¬pat guruku kalau memang kalian sudah gatal-gatal tubuh kalian minta diberi hajaran!”
“Ha-ha-ha-ha! Aku sudah berada di sini, apakah kau buta tak dapat melihat? Ha-ha-ha!”
Han Han memandang dengan hati terkejut dan terheran-heran. Tadi ia melihat bahwa kuda besar di belakang Ouwyang Seng itu kosong. Kenapa kini tiba-tiba saia ada orang duduk nongkrong di atas punggung kuda? Dari mana da¬tangnya? Ia memandang penuh perhatian dan ternyata yang bicara dan tertawa tadi, yang tahu-tahu telah duduk di punggung kuda, adalah seorang kakek yang lucu sekali mukanya. Kepalanya botak kelimis. Kulit kepala bagian atas itu sama sekali tidak ada rambutnya, kulit-nya halus licin dan terkena sinar mata¬hari, kepala itu berkilauan seperti batu digosok. Sedikit rambut yang tumbuh di sekeliling kepala bagian bawah, kasar dan besar-besar, berwarna putih dan terurai di sekitar pundaknya. Kumisnya panjang, juga putih, melintang di bawah hidung, bergerak-gerak seperti dua ekor ular kecil. Alisnya tebal sekali, dan matanya mengeluarkan sinar aneh, seperti mata orang juling, padahal mata kakek ini tidak juling. Pakaiannya terbuat dari sutera kuning yang halus mahal, sepatu¬nya juga terbuat dari kulit mengkilap. Sukar sekali menaksir usia orang tua ini. Dagunya halus tak berjenggot sama se¬kali, seperti orang-orang muda, sikapnya lincah seperti orang muda pula, tubuhnya kurus tinggi. Ia menggendong sebuah buntalan besar dari kain tebal. Entah apa isinya.
“Suhu, bocah jembel ini adalah murid Lauw-pangcu! Sungguh kebetulan sekali. Kita paksa dia mengantarkan kita kepada kakek jembel itu.”
Si Botak tertawa lagi. “Memang sebaiknya begitu, ha-ha-ha! Sungguhpun tidaklah sukar untuk mencari sendiri. Nah, Kongcu, kaubawakan buntalan ini!”
Memang aneh kalau seorang guru menyebut “kongcu” atau tuan muda ke¬pada muridnya. Memang demikianlah. Guru Ouwyang Seng menyebut kongcu karena bocah ini bukan anak biasa, me¬lainkan putera dari Pangeran Ouwyang Cin Kok yang berpangkat tinggi dalam Kerajaan Mancu. Namun, hanya dalam sebutan saja guru itu menghormat, kare¬na buktinya ia berani memerintah muridnya itu membawakan buntalannya yang besar. Ouwyang Seng menerima buntalan besar yang dilemparkan gurunya kepada¬nya. Cara menerimanya cekatan dan jelas membayangkan tenaga besar pada diri anak yang usianya paling banyak tiga belas atau empat belas tahun ini.
Sambil tertawa Ouwyang Seng lalu mengambil sebuah cambuk dari sela kuda yang kini ditunggangi gurunya, lalu menggerakkan cambuknya ke atas. “Tar-tar-tar! Hei, bocah murid Lauw-pangcu! Siapa namamu?”
Ujung cambuk itu melecut-lecut dan meledak-ledak di atas kepala Han Han, namun Han Han sedikit pun tidak merasa gentar, bahkan berkedip mata pun tidak.
“Namaku Han Han, dan biarpun aku orang miskin, hal ini belum menjadi alas¬an bagimu untuk bersikap sombong ke¬padaku!”
“Ha-ha-ha-ha! Kongcu, bocah ini hebat! Lihat matanya.... aiiihhhhh, sebaiknya jangan lepaskan dia! Boleh dijadikan pelayan.”
Kiranya kakek botak itu bermata tajam, dapat melihat keadaan Han Han yang aneh dan luar biasa. Dan memang kakek botak ini bukan manusia sem¬barangan! Kakek inilah yang oleh dunia kang-ouw diberi nama poyokan Si Setan Botak. Namanya Gak Liat, julukannya Kang-thouw-kwi (Setan Kepala Baja). Setiap orang di dunia persilatan kalau mendengar nama ini menjadi bergidik dan mengkirik, bahkan jarang ada yang bera¬ni mengeluarkan kata-kata keras me¬nyebut nama ini yang lebih ditakuti dari¬pada setan sendiri! Kang-thouw-kwi Gak Liat ini adalah seorang sakti yang me¬miliki tingkat kepandaian tinggi sukar diukur, seorang datuk hitam, pentolan kaum sesat yang hanya ada beberapa orang saja pada masa itu. Dan dialah seorang di antara datuk-datuk yang di¬takuti. Karena pandainya pemerintah Mancu, datuk hitam ini sampai terpikat, tidak saja menjadi “pelindung” Pangeran Ouwyang Cin Kok yang mendapat tugas dari pemerintahnya untuk mempertahankan bagian selatan yang sudah ditakluk-kan, juga Kang-thouw-kwi Gak Liat ber¬kenan mengambil putera pangeran itu sebagai muridnya! Namun sesungguhnya, Kang-thouw-kwi Si Setan Botak tidaklah begitu menaruh harapan besar terhadap muridnya, bocah bangsawan ini. Ilmu-ilmunya terlampau tinggi sedangkan ba¬kat yang dimiliki Ouwyang Seng terlalu rendah.
Inilah sebabnya maka mata Si Setan Botak yang amat awas itu sekali melihat Han Han menjadi tertarik. Dia bertugas untuk mencari dan menyelidiki Lauw-pangcu dan perkumpulan pengemis yang disebut Pek-lian Kai-pang. Hal ini ada sangkut-pautnya dengan serdadu-serdadu yang pernah dihajar oleh Lauw-pangcu sehingga Pangeran Ouwyang Cin Kok yang mendengar akan hal ini, cepat memerintahkan jagoannya untuk turun ta¬ngan karena “gengsi” pasukan Mancu terancam kecemaran. Bagi seorang sakti seperti Setan Botak ini, tidak akan sukar mencari Lauw-pangcu. Akan tetapi ka¬rena muridnya rewel dan hendak ikut menyaksikan gurunya menghancurkan Pek-lian Kai-pang, maka usaha mencari perkumpulan itu menjadi lebih sukar dan lama. Akhirnya, secara kebetulan Ouwyang Seng bertemu dengan Han Han dan anak ini yang ingin memberi “hajaran” kepada Ouwyang Seng dan gurunya yang dipandangnya rendah, bahkan dengan senang hati mengantar mereka ke sarang Pek-lian Kai-pang!
Di tengah jalan, Ouwyang Seng mem¬bentak, “Heh! Han Han! Enak saja kau berjalan tanpa membawa apa-apa. Mari kita mengadu tenaga. Siapa yang kalah harus membawakan buntalan suhuku ini sampai di tempat yang kautunjukkan! Berani tidak kau mengadu tenaga me¬lawan aku?”
Kalau hanya ditantang berkelahi, ten¬tu Han Han tidak sudi melayani. Dibujuk pun ia tidak akan sudi. Akan tetapi di¬tanya “berani atau tidak”, segera bang¬kit semangatnya. Kata-kata tidak berani merupakan pantangan besar baginya, karena di dalam hati bocah ini, semen¬jak kepalanya terbanting pada dinding setengah tahun yang lalu, tidak ada lagi rasa takut atau susah.
“Tentu saia berani. Mengapa tidak? Mengadu tenaga bagaimana? Kalau ber¬kelahi seperti dulu aku tidak sudi. Aku bukan tukang pukul, bukan tukang ber¬kelahi macam engkau!”
“Tidak usah berkelahi, kau takkan menang dan kalau kau mati, kami rugi. Kita saling dorong saja, siapa yang ter¬dorong mundur keluar dari lingkaran yang dibuat di atas tanah, dia akan kalah dan harus memanggul buntalan suhu.”
“Boleh!” Han Han menjawab.
Si Setan Botak hanya tertawa-tawa dan menghentikan kudanya untuk menon¬ton permainan kedua orang anak itu. Ouwyang Seng menurunkan buntalannya, lalu membuat guratan melingkar di atas tanah. Keduanya lalu memasuki lingkar¬an, saling berhadapan.
“Siap?” tanya Ouwyang Seng.
“Siap!” jawab Han Han.
“Mulai!” Ouwyang Seng mengeluarkan kedua lengannya ke depan, diturut oleh Han Han. Mereka mengadu kedua telapak tangan dan mulailah mereka saling do¬rong. Han Han yang merasa betapa ke-dua lengan lawan itu amat kuatnya, ce¬pat ia mengerahkan tenaganya pada ke¬dua kaki, memasang bhesi seperti yang pernah ia latih sampai berbulan-bulan di bawah asuhan Lauw-pangcu dan peng-awasan Sin Lian. Kedua kakinya seperti telah berakar di tanah dan ia memper¬tahankan diri dari dorongan Ouwyang Seng. Untuk balas mendorong, Han Han tidak kuat karena ia segera dapat me-rasakan betapa tenaga yang tersalur pada kedua lengan Ouwyang Seng hebat bukan main. Maka ia sendiri harus menggunakan seluruh tenaganya untuk mempertahankan diri, disalurkan pada kedua kakinya. Ke¬dua lengannya sudah terdorong, siku-siku lengannya sudah tertekuk dan kedua ta¬ngannya terdorong sampai menempel dadanya.“Heh-heh, Han Han, kau masih belum menerima kalah?” Ouwyang Seng tertawa mengejek. Masih dapat bicara dan ter¬tawa dalam adu tenaga ini saja sudah membuktikan bahwa tenaga Ouwyang Seng memang amat besar dan lebih me¬nang daripada Han Han.
Namun Han Han menggeleng kepala. Ia tidak mampu bicara karena menahan napas, akan tetapi ia belum merasa ka¬lah, karena dia belum keluar dari garis lingkaran! Ia sudah tertekuk sikunya, sudah mendoyong ke belakang tubuh atas¬nya, namun kedua kakinya masih kokoh berakar di tanah, belum terdorong mun¬dur dan sama sekali belum keluar dari lingkaran.
“Kau kepala batu!” Ouwyang Seng menegur marah dan mulai mengerahkan seluruh tenaganya untuk menangkan per¬tandingan lebih cepat. Akan tetapi, daya tahan Han Han memang hebat. Tubuhnya sudah mendoyong, hampir terjengkang, namun ia enggan mengangkat kakinya dan bertekad untuk bertahan sampai roboh. Bukankah kalau sudah roboh se¬kalipun, ia masih belum kalah karena belum keluar dari garis lingkaran?
“Huah-ha-ha-ha, anak luar biasa....!” Terdengar tawa Si Setan Botak dari atas kudanya dan tiba-tiba tubuh Han Han terdorong, terseret berikut kakinya sampai keluar dari garis lingkaran! Han Han terkejut dan terheran-heran, mau tidak mau kagum karena mengira bahwa ia terdorong karena tenaga Ouwyang Seng yang hebat. Dia tidak tahu bahwa ia terdorong keluar karena ilmu kesaktian Si Setan Botak yang mengerahkan sedikit tenagat mendorongnya dengan hawa pu¬kulan jarak jauh yang amat ampuh!
Dengan bangga Ouwyang Seng lalu menghampiri Han Han yang masih ter¬engah-engah namun sudah bangkit berdiri memandang heran, setelah putera pange¬ran ini menyambar bungkusan milik suhu¬nya. “Nah, terang kau kalah jauh olehku, Han Han. Sekarang berlututlah engkau, agar mudah aku menaruh bungkusan ini di pundakmu!”
Han Han amat cerdik. Biarpun ia tidak tahu apa sebabnya dan bagaimana caranya, namun ia dapat menduga bahwa kekalahannya tadi tidaklah wajar. Hal ini membuatnya penasaran dan marah sekali. Apalagi sekarang mendengar penghinaan Ouwyang Seng yang menyuruh dia berlutut, padahal tadi tidak ada janji apa-apa tentang yang kalah harus berlutut. Kemarahan membuat jantungnya ber¬debar, darahnya panas naik ke kepala dan pandang matanya berkilat-kilat aneh sekali.
“Aku? Berlutut padamu? Tidak sudi!” Bentaknya dan suaranya makin tegas dan nyaring ketika ia menyambung, “Ouwyang Seng! Engkaulah yang sepatutnya berlutut di depanku, menyerahkan bungkusan itu dengan hormat!”
Tiba-tiba saja Ouwyang Seng lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Han Han dan mengangkat bungkusan itu, di¬sodorkan kepada Han Han, sikapnya pe¬nuh penghormatan seperti sikap seorang bujang yang takut kepada majikannya!
Han Han mengira bahwa Ouwyang Seng benar-benar memenuhi permintaan¬nya karena menyesal atas penghinaan tadi, seketika lenyap kemarahannya. Ia menerima bungkusan itu, mengangkatnya ke pundak sambil berkata, “Wah, engkau baik sekali. Tidak perlu berlutut sungguh-sungguh. Aku hanya main-main!”
Ouwyang Seng kini tersentak kaget seperti orang bangun tidur. Melihat be¬tapa ia berlutut di depan Han Han, ia lalu melompat berdiri dan mulutnya mengomel.
“Kenapa....? Kenapa aku berlutut....?”
“Ajaib.... ajaib....!” Kang-thouw-kwi Si Setan Botak berulang-ulang meng¬omel dan tiba-tiba Han Han merasa be¬tapa tubuhnya melayang ke atas. Tahu-tahu ia telah tergantung di atas kuda, dengan kakek botak itu yang memegangi tengkuk bajunya dan mendekatkan muka¬nya sehingga berhadapan dengan muka Si Botak. Ia melihat betapa sepasang mata Si Botak itu bersinar kekuningan, aneh sekali dan maniknya tidak mau berhenti, bergerak-gerak terus menjelajahi wajah¬nya sendiri. Ia sudah tidak marah lagi, hanya merasa terheran-heran dan juga kaget.
“Ajaib.... bocah ajaib.... matamu ini.... ah, luar biasa!” Si Setan Botak melontarkan tubuh Han Han yang me¬layang turun, akan tetapi ia turun de¬ngan kedua kaki lebih dulu dan dapat berdiri dengan ringan dan seolah-olah lontaran itu sudah diatur tenaganya, membuat Han Han terhuyung pun tidak! Han Han makin terheran, akan tetapi ia sama sekali tidak tahu bahwa itulah penggunaan sin-kang yang amat luar biasa dari Si Kakek Botak.
Adapun Ouwyang Seng yang tidak tahu apa yang telah terjadi atas dirinya tadi, tidak tahu betapa ia menurut dan taat saja “diperintah” oleh Han Han sehingga ia berlutut, kini menjadi uring-uringan.
“Tar-tar-tar!” Cambuk panjang di tangannya dilecutkan ke atas kepala Han Han dan ia membentak, “Han Han, hayo cepat berjalan, bawa kami ke tempat gurumu Si Jembel Tua!”
Han Han sudah berjalan sambil me¬manggul bungkusan besar itu. Mendengar ucapan Ouwyang Seng yang tadinya ia sangka berhati baik dan suka main-main, buktinya suka berlutut kepadanya, Han Han menjadi gemas. “Ouwyang Seng....!”
“Keparat! Menyebut aku harus Kongcu, mengerti? Jembel macam engkau berani menyebut namaku sesukanya?”
“Namamu memang Ouwyang Seng, bukan? Kalau tidak mau dipanggil, sudah¬lah, aku pun tidak butuh memanggil na¬mamu.”
“Setan pengemis! Apa kau minta di¬pukul dan diseret-seret lagi?” Ouwyang Seng kembali membentak dan cambuknya kini menyambar, mengenai punggung dan kaki Han Han.
“Tar-tar....!” Han Han yang merasa betapa punggungnya dan kakinya sakit-sakit terkena ujung cambuk, melepaskan bungkusan itu yang jatuh ke atas tanah, berdebuk.
Biarpun hatinya panas dan marah, namun Han Han maklum bahwa meng¬hadapi Ouwyang Seng dengan kekerasan ia tidak akan menang, apalagi di situ masih ada guru bocah nakal itu, Si Bo¬tak yang aneh dan lihai. Maka ia lalu mengambil bungkusan itu lagi dan me¬manggulnya di atas pundak. Hidungnya mencium bau yang busuk dari dalam bungkusan, membuat ia mau muntah seperti bau bangkai tikus. Akan tetapi ia tidak mau menerima cambukan-cambukan lagi, ia diam saja dan mempercepat lang¬kahnya menuju ke hutan yang menjadi sarang Pek-lian Kai-pang. Rasakan kali¬an nanti, bocah setan dan Si Botak yang sombong. Kalau berada di depan Lauw-pangcu yang banyak anak buahnya, kalian akan menerima hajaran yang setimpal! Demikian ia berpikir.
Senja hari itu mereka tiba di dalam hutan dan langsung Han Han membawa dua orang guru dan murid itu ke sarang Pek-lian Kai-pang. Pada saat itu Lauw-pangcu dan para anak buahnya sedang berkemas karena besok pagi-pagi mereka harus sudah meninggalkan sarang mereka itu. Banyak barang-barang sudah dimuat dalam beberapa buah kereta dan kuda, dan mereka semua sibuk mengangkati barang-barang. Juga Sin Lian tampak membantu ayahnya.
“Han Han....!” Tiba-tiba Sin Lian berseru girang ketika melihat sutenya itu datang memanggul sebuah bungkusan besar, akan tetapi ia tidak jadi lari menyambut karena melihat bahwa Han Han datang bersama Ouwyang Seng dan se¬orang kakek botak yang menunggang kuda, dengan sikap tenang sekali.
Semua anggauta kai-pang yang sedang sibuk bekerja berhenti, siap-siap men¬jaga segala kemungkinan dan semua mata ditujukan kepada penunggang kuda ini dengan kening berkerut. Sungguhpun Si Botak ini sama sekali tidak mendatang¬kan kesan yang mengkhawatirkan, namun semenjak peristiwa penyerbuan Hek-i Kai-pang, para anggauta Pek-lian Kai-pang selalu berhati-hati.
Lauw-pangcu sendiri pada saat itu sedang berkemas di dalam pondok. Ke¬tika mendengar seruan puterinya, ia ter¬kejut dan girang. Ketua Pek-lian Kai-pang ini menaruh harapan besar kepada muridnya, karena ia tahu bahwa ada sesuatu yang hebat dalam diri Han Han, ada semacam kekuatan yang amat mujijat dan yang ia sendiri tidak tahu dari mana datangnya. Tadinya ia kecewa ketika mereka tidak berhasil mencari Han Han yang lenyap dalam pertempuran, maka ia kini girang sekali mendengar Sin Lian memanggil muridnya itu dan bergegas ia lari keluar pondok.
Akan tetapi begitu ia berada di luar pondok dan melihat penunggang kuda yang datang bersama Han Han, seketika wajahnya menjadi pucat sekali dan kedua kaki Lauw-pangcu menggigil. Ia menge¬luarkan suara mendengus dari hidungnya, untuk menekan perasaannya yang gentar dan berguncang, kemudian memaksa kaki¬nya melangkah maju menghampiri kakek botak yang masih duduk di atas punggung kuda. Dapat dibayangkan betapa herannya para anggauta Pek-lian Kai-pang ketika melihat ketua mereka yang terhormat dan yang terkenal lihai itu kini menjura dengan penuh hormat kepada kakek bo¬tak penunggang kuda yang tidak mengesankan itu sambil berkata dengan suara mengandung rasa cemas.
“Sungguh tidak tersangka-sangka dan merupakan penghormatan besar sekali bahwa Gak-locianpwe sudi mengunjungi tempat kami yang butut dan mohon maaf sebesarnya karena tidak tahu lebih da-hulu, kami tidak dapat menyambut de¬ngan sepatutnya.”
Mendengar ucapan itu, para anggauta Pek-lian Kai-pang menjadi makin heran dan di dalam hati mereka bertanya-tanya, siapa gerangan kakek botak yang disebut Gak-locianpwe (Orang Tua Sakti she Gak) oleh ketua mereka itu. Akan tetapi sikap Lauw-pangcu yang sangat merendahkan diri ini seolah-olah tidak dihiraukan oleh Si Setan Bongkok, malah sebaliknya ka¬kek ini menoleh kepada Han Han dan bertanya.
“Bocah, apakah dia ini ketua Pek-lian Kai-pang dan gurumu?”
“Benar,” jawab Han Han.
Si Setan Botak tertawa. “Bagus, kalau begitu, bungkusan itu boleh kau¬hadiahkan isinya kepada gurumu, ha-ha¬-ha!”
Han Han menjadi girang. Memang dia tidak suka perkelahian, apalagi kalau ia ingat betapa perkumpulan suhunya sudah berkelahi sehingga jatuh banyak korban. Tadinya ia ingin supaya gurunya meng¬hajar Ouwyang Seng dan gurunya, akan tetapi siapa kira, Si Botak itu bermaksud baik. Jadi buntalan yang selama ini ia panggul itu adalah hadiah yang akan di¬berikan suhunya! Tanpa berkata apa-apa lagi karena girang ia lalu menurunkan buntalan yang cukup berat itu, menurun¬kannya di depan kaki suhutiya dan mem¬buka tali pengikatnya. Begitu bungkusan terbuka, tercium bau busuk yang membuat Han Han terpaksa menutup hidung, matanya terbelalak memandang isi bung¬kusan. Lauw-pangcu sendiri pucat wajah¬nya dan para anggauta Pek-lian Kai-pang yang tadi ikut melongok untuk melihat apa isi hadiah itu, berseru marah dan kaget. Kiranya bungkusan itu berisi lima buah kepala orang yang sudah kering darahnya. Lima kepala orang anggauta Pek-lian-pai yang merupakan tokoh di bawah Lauw-pangcu! Pantas saja tadi baunya menyengat hidung, seperti bau bangkai tikus!
“Aihhh....!” Banyak mulut mengeluarkan teriakan ini dan terdengar suara ketawa Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Se¬tan Botak.
Lauw-pangcu memandang kepada Han Han dengan mata terbelalak melotot marah sekali. Telunjuk kirinya menuding ke arah anak itu. “Murid jahanam! Eng¬kau kembali membawa malapetaka! Baik¬lah sebelum semua mati, engicau akan mampus di tanganku lebih dulu!” Setelah berkata demikian, Lauw-pangcu sudah menggerakkan tongkatnya dan tubuhnya melayang maju ke arah Han Han. Hebat bukan main serangan ini, gerakan tubuh¬nya seperti seekor naga menyambar, tongkatnya seperti cengkeraman maut menusuk ke arah dada Han Han. Jangan lagi Han Han yang belum mengerti ilmu silat, andaikata ia sudah belajar selama sepuluh tahun di bawah asuhan Lauw-pangcu sekalipun, ia tidak akan mungkin dapat menyelamatkan diri daripada serangan maut ini. Gerakan Lauw-pangcu ketika menyerang ini adalah jurus yang disebut Hui-hong-phu-lian (Angin Meniup Bunga Teratai), sebuah jurus yang paling ampuh dari Ilmu Tongkat Pek-lian-tung-hoat. Lawan yang bagaimana tangguh pun akan sukar menjaga diri dari tikaman dengan tubuh melayang dan meluncur di udara secepat dan sekuat itu.
Mengapa Lauw-pangcu menjadi begitu marah dan membenci Han Han, dan mengapa pula menghadapi seorang bocah yang ia tahu belum pandai ilmu silat itu ia langsung mengeluarkan jurus terampuh untuk menyerangnya? Padahal diserang dengan jurus sembarangan sekalipun Han Han tak mungkin dapat menyelamatkan diri! Sesungguhnya adalah karena salah duga. Lauw-pangcu yang melihat Han Han pulang bersama Kang-thouw-kwi Gak Liat yang sudah ia dengar namanya yang besar, segera dapat menduga bahwa ten¬tu bocah itu yang menjadi penunjuk jalan dan ia tahu pula bahwa ia dan teman-temannya menghadapi bencana hebat. Apalagi melihat Han Han tadi membawakan bungkusan terisi kepala dari lima orang pembantunya, tentu saja ia menganggap bahwa Han Han sudah mengkhia¬nati Pek-lian Kai-pang dan menjadi pembantu musuh! Adapun mengapa ia menge¬luarkan jurus mematikan yang paling ampuh, karena di situ terdapat Kang-thouw-kwi Gak Liat yang ia tahu mem¬punyai kesaktian luar biasa, maka ia ingin agar sekali turun tangan terhadap Han Han tidak akan gagal lagi.
Han Han bukan tidak tahu bahwa gurunya marah-marah tanpa sebab dan hendak memukulnya dengan tongkat, akan tetapi karena dia memang berhati keras dan tidak kenal takut, ia hanya meman¬dang tanpa berkedip.
“Ayahhhhh....!” Sin Lian menjerit. Anak ini lebih maklum bahwa Han Han berada di bawah ancaman maut mengeri¬kan. Dia suka dan sayang kepada sute¬nya, maka tanpa ia sadari ia menjerit.
Tiba-tiba tubuh Lauw-pangcu yang melayang dan yang sudah menggerakkan tongkatnya dekat dengan Han Han, hanya terpisah satu meter lagi, terpental ke samping dan roboh terguling! Kakek ke¬tua Pek-lian Kai-pang ini cepat meng¬gulingkan diri dan meloncat bangun, tong¬kat di tangannya dan wajahnya pucat sekali. Ia menoleh ke arah Si Setan Bo¬tak yang masih duduk di atas kuda, kemudian berkata, suaranya masih hormat namun nyaring dan ketus.
“Gak-locianpwe, saya hendak turun tangan membunuh murid sendiri, mengapa locianpwe mencampurinya? Apakah per¬buatan ini sesuai dengan nama besar locianpwe sebagai seorang di antara Lima Datuk Besar?”
Baru sekarang semua yang hadir, ter¬masuk Han Han sendiri, tahu bahwa tadi Lauw-pangcu yang hendak membunuh Han Han telah dihalangi oleh Si Setan Botak. Semua orang terkejut dan terheran. Ka¬kek di atas kuda itu tidak kelihatan bergerak, bagaimana tahu-tahu Lauw-pangcu yang lihai luar biasa itu terlem¬par dan terbanting ke samping? Lebih-lebih Han Han memandang dengan penuh perhatian. Kakek botak itu manusia atau¬kah setan? Dia tadi sudah menyaksikan keanehannya, yaitu tahu-tahu si kakek itu berada di atas punggung kuda, seperti pandai menghilang saja. Kini tanpa ber¬gerak atau turun dari kuda sudah me¬robohkan Lauw-pangcu dan menolong dia! Terutama sekali ia tertarik ketika mendengar disebutnya kakek botak ini se¬bagai seorang di antara Lima Datuk Besar! Apakah artinya Lima Datuk Besar? Dan siapakah mereka ini?
Kang-thouw-kwi Gak Liat tampak melayang turun dari atas punggung kuda¬nya. Kembali semua anggauta Pek-lian Kai-pang tertegun. Kakek ini turun dari kuda bukan meloncat karena kedua kaki¬nya tidak bergerak sama sekali. Seolah-olah tubuhnya itu “terangkat” oleh tenaga yang tak tampak dan tahu-tahu tubuhnya sudah melayang turun dan berdiri tegak di tengah-tengah kepungan para anggauta Pek-lian Kai-pang, ber¬hadapan dengan Lauw-pangcu! Mulutnya menyeringai dan kumisnya yahS panjang bergerak-gerak seperti dua ekor ular kecil hidup.
“Orang she Lauw! Bagus engkau mengenal aku. Engkau berani menegurku mencampuri urusanmu? Huh, lancang sekali engkau. Mendiang Pek-lian-kauwcu (Ketua Agama Teratai Putih) dahulu pun belum pernah berani menegurku. Bocah ini mungkin muridmu, akan tetapi sekarang telah menjadi pelayanku. Mana bisa kaubunuh dia begitu saja? Pula, ke¬datanganku ini memang hendak membas¬mi Pek-lian Kai-pang perkumpulan pem¬berontak rendah! Nah, kauserahkanlah kepalamu dan kepala semua anggauta-anggautamu seperti yang terjadi pada lima orang pembantu-pembantumu ini.”
Ucapan ini terdengar seperti halilintar di siang hari dan menimbulkan ke¬marahan semua anggauta pengemis Pek-lian Kai-pang yang berkumpul di situ. Mereka tetdiri dari lima puluh orang lebih, tentu saja tidak takut terhadap kakek itu yang hanya datang seorang diri saja. Demikian pula pikiran Lauw-pangcu. Biarpun ia sudah mendengar akan kesak¬tian Kang-thouw-kwi Gak Liat sebagai seorang di antara Lima Datuk Besar, namun teman-temannya amat banyak dan pula, mereka adalah pejuang-pejuang yang tidak takut mati. Lauw-pangcu mengangkat tongkatnya ke atas, memberi isyarat kepada anak buahnya dan seren¬tak para anak buahnya itu menerjang maju dengan tongkat mereka. Bagaikan air bah mereka ini menyerbu dan mener¬jang kakek botak itu dari segala jurusan.
Melihat ini, hati Han Han sudah ber¬debar tegang. Tentu Si Botak akan di¬hajar oleh Pek-lian Kai-pang, pikirnya. Maka ia berseru kepada Sin Lian.
“Suci, mari hajar bocah setan ini!” katanya sambil menuding ke arah Ouw¬yang Seng. Akan tetapi alangkah kaget¬nya ketika Sin Lian tiba-tiba malah me¬nerjangnya sambil memaki.
“Engkau murid murtad!”
Han Han yang amat kaget itu tidak dapat menghindar dan sebuah tendangan mengenai dadanya, tepat di ulu hati, membuat ia terjengkang dengan napas sesak dan jatuh terduduk. Setelah me-robohkan Han Han, Sin Lian lalu mener¬jang Ouwyang Seng yang menyambutnya sambil tertawa-tawa mengejek. Bertandinglah dua orang anak itu dengan seru. Akan tetapi, ternyata Ouwyang Seng jauh lebih pandai dan Sin Lian segera ter¬desak. Hanya karena keberaniannya yang luar biasa ditambah kemarahannya saja yang membuat anak perempuan itu ber¬gerak dengan ganas dan dahsyat sehingga untuk sementara dapat membuat Ouw¬yang Seng repot juga.
Han Han lebih tertarik menonton ke arah Si Setan Botak yang diserbu oleh Lauw-pangcu dan anak buahnya, karena ia menduga bahwa tentu akan terjadi pertandingan hebat sekali. Jauh lebih hebat daripada perkelahian antara dua orang anak itu yang tidak menarik hatinya. Apalagi karena Sin Lian telah me¬nendangnya, ia menjadi marah dan tidak sudi membantu anak perempuan itu menghadapi Ouwyang Seng. Dianggapnya bahwa dua orang anak itu sama saja jahatnya sehingga siapa pun juga yang kalah di antara mereka, ia tidak peduli. Dengan pikiran ini, Han Han lalu bang¬kit, dadanya masih sesak akan tetapi ia memaksa diri berjalan lalu memanjat pohon agar dapat menonton lebih jelas lagi.
Apa yang dilihat Han Han membuat ia begitu kaget dan ngeri sehingga ham¬pir saja ia terjungkal dari atas pohon kalau ia tidak cepat-cepat memeluk ca¬bang pohon. Mula-mula yang maju adalah tujuh Orang pengemis Pek-lian Kai-pang yang mengurung kakek botak itu sambil menerjang dengan tongkat mereka. Akan tetapi Si Setan Botak hanya berdiri te¬gak. Sambil tersenyum ia menangkap tongkat pertama, mencengkeram ujung tongkat menjadi berkeping-keping dan sekali tangannya bergerak memutar, ke¬pingan kayu itu menyambar sekelilingnya dan.... tujuh orang pengemis Pek-lian Kai-pang itu roboh dan berkelojotan te¬rus mati! Itulah semacam kejadian yang seperti main sulap saja, sukar untuk dipercaya. Akan tetapi bagi para ahli silat di situ merupakan kepandaian yang ¬amat hebat. Kepingan-kepingan ujung tongkat kayu itu hanya benda kecil yang ringan dan tidak terlalu keras, namun di tangan kakek botak ini, dapat menjadi senjata rahasia yang tepat sekali menan¬cap dan memasuki dahi tujuh orang la¬wan sehingga menembus otak dan mem¬buat mereka roboh binasa seketika! Kepandaian yang hebat dan juga kekejaman yang amat menyeramkan.
“Heh-heh-heh....!” Si Setan Botak terkekeh, kelihatannya girang sekali dan matanya memandang para anggauta Pek-lian Kai-pang yang menjadi marah dan mengepungnya ketat itu seperti mata seorang guru memandang murid-murid kecil yang nakal!
Kembali belasan orang pengemis maju menerjang dengan tongkat, kini secara berbareng sambil berteriak keras. Harus diketahui bahwa para anggauta Pek-lian Kai-pang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi sehingga serangan mereka ini bu¬kanlah serangan ngawur, melainkan de¬ngan jurus-jurus Pek-lian-kun-hoat yang ampuh. Namun, kakek botak itu sama sekali tidak mengelak. Belasan batang tongkat itu dengan tepat mengenai sa¬saran, ada yang mengemplang kepala botaknya, ada yang menghantam leher, menusuk dada, menotok lambung. Pen¬deknya, seluruh bagian tubuhnya yang berbahaya pada saat yang hampir sama secara bertubi-tubi menerima hantaman atau tusukan ujung tongkat. Riuh-rendah teriakan para pengemis, dan ramai pula suara bak-bik-buk tongkat-tongkat itu mengenai tubuh Si Kakek Botak. Namun sama sekali kakek itu tidak bergeming, senyumnya masih melebar dan tiba-tiba tangan kirinya menyambar kaki seorang pengemis dan mulailah ia mengamuk. Tubuh pengemis yang menjadi senjata di tangannya itu diputar sedemikian rupa dan terdengarlah suara “prak-prak-prak!” berulang kali ketika kepala orang itu bertemu dengan kepala-kepala para lawannya. Para pengeroyok itu roboh ma¬lang-melintang dengan kepala pecah, se¬dikitnya ada sepuluh orang jumlahnya. Mereka itu binasa karena sedikitnya ke¬pala mereka retak-retak bertemu dengan kepala orang yang dijadikan senjata. Adapun kepala orang itu sendiri setelah dilempar ke samping, telah hancur dan tidak menyerupai kepala!
Lauw-pangcu marah bukan main sampai hampir pingsan. Melihat betapa anak buahnya tewas, dalam keadaan mengerikan seperti itu, ia bukannya menjadi takut, sebaliknya ia malah menjadi nekat untuk mengadu nyawa. Sambil berseru nyaring, Lauw-pangcu menyerbu ke depan, diikuti oleh teman-temannya yang masih ada kurang lebih tiga puluh orang.
“Heh-heh-heh, bagus! Biar kubasmi habis kalian hari ini!” kata Si Setan Botak dan tiba-tiba tubuhnya berputar satu kali, kedua lengannya didorongkan ke depan. Han Hen yang melihat kakek itu, terbelalak heran karena melihat betapa telapak kedua tangan kakek itu kemerahan dan mengepulkan asap, seolah-olah tangan itu telah menjadi besi panas! Dan akibatnya hebat sekali. Dua puluh orang lebih menjerit ngeri den roboh bergelimpangan, tak dapat bangun kembali! Hanya Lauw-pangcu, dan dua orang pembantunya yang paling tinggi ilmunya, terhuyung ke belakang akan tetapi tidak roboh. Muka mereka pucat dan napas mereka terengah-engah, mata mereka terbelalak memandang teman-teman yang roboh. Hampir lima puluh orang anggauta Pek-lian Kai-pang dalam sekejap mata saja, dalam tiga gebrakan, telah tewas menjadi korban Si Setan Botak yang ter¬nyata lihai bukan main itu!
Han Han kini menjadi ngeri, akan tetapi di dalam hatinya juga timbul rasa kagum terhadap Si Setan Botak. Bagaimana ada orang sampai bisa begitu sakti? Dan ia mulai khawatir melihat gurunya. Ke¬tika ia mengerling ke arah Sin Lian, ternyata gadis cilik ini pun sudah terdesak hebat, bahkan beberapa kali telah kena ditampar oleh Ouwyang Seng. Ia melihat betapa Sin Lian menjadi nekat, mener¬jang maju tanpa perhitungan lagi den sebuah sabetan kaki Ouwyang Seng mem¬buat gadis itu terguling roboh. Ouwyang Seng menubruknya den menangkap kedua lengannya terus dipuntir ke belakang, ditelikung sehingga Sin Lian tidak mampu bergerak lagi!
“Kau bocah galak seperti kucing! Kucing tidak berpakaian! Maka akan kutelanjangi kau, biar kapok dan hendak kulihat apakah kau masih berani banyak lagak!” kata Ouwyang Seng tertawa-tawa dan tangannya mulai merenggut pakaian gadis cilik itu.
Wajah Han Han menjadi merah. Ter¬ingat ia akan peristiwa di dalam rumahnya, teringat akan keadaan kakak perem¬puannya dan keadaan ibunya, dan dengan hati panas ia memaki.
  “Ouwyang Seng, kau bangsat kecil tak tahu malu! Apa yang akan kaulakukan itu? Tidak tahu sopan, tidak bersusila kau!"
Ouwyang Seng hanya terkekeh dan tangannya sudah mencengkeram leher baju Sin Lian yang meronta-ronta tanpa hasil. Pada saat itu, tubuh Ouwyang Seng terlempar dan seorang wanita cantik sudah berdiri di situ, membangunkan Sin Lian dan berkata halus.
“Anak, kau minggirlah.”
Han Han terbelalak. Gerakan wanita itu amat cepat seperti seekor burung walet menyambar, tiba-tiba sudah di situ, melemparkan tubuh Ouwyang Seng. Dia itu seorang wanita yang usianya antara tiga puluh tahun, cantik dan gagah sekali, pakaiannya serba hitam sehingga membuat kulit leher dan tangannya tampak amat putih kemerahan. Ram¬butnya disanggul tinggi dan di punggung¬nya tergantung sebatang pedang dalam sarung pedang indah terukir. Dan kiranya yang datang secara cepat dan aneh bu¬kan hanya wanita cantik itu, karena entah dari mana Han Han sendiri tidak tahu, di situ telah berdiri pula dua orang. Yang seorang berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, bertubuh pendek kecil dan tangannya memegang sebatang cam¬buk besi. Laki-laki ini biarpun pendek kecil, namun memiliki pandang mata yang keren berwibawa. Adapun laki-laki ke dua adalah seorang berusia empat puluh tahun, bertubuh tinggi besar ber¬wajah gagah, di tangannya memegang sebatang toya kuningan yang kelihatannya berat sekali.
Laki-laki pendek yang memegang cambuk besi itu menjura ke arah Lauw-pangcu yang masih pucat dan berkata, “Lauw-pangcu harap jangan khawatir, sekuat tenaga kami akan membantumu menghadapi iblis ini!”
Lauw-pangcu kelihatan lega ketika menyaksikan munculnya tiga orang ini, akan tetapi ia pun merasa tidak enak dan cepat berkata, “Kang-lam Sam-eng harap tidak mencampuri urusan ini, biarlah kami semua mati sebagai orang gagah di tangan Kang-thouw-kwi Gak Liat!”
Mendengar disebutnya nama ini, tiga orang gagah yang disebut Kang-lam Sam-eng (Tiga Pendekar Kang-lam) ini men¬jadi terkejut sekali. Otomatis mereka itu saling mendekati dan siap dengan sen¬jata masing-masing, bahkan wanita cantik itu pun telah mencabut pedangnya.
“Hemmm, sudah lama mendengar Kang-thouw-kwi Gak Liat sebagai se¬orang datuk persilatan tingkat tinggi, baru sekarang menyaksikan kekejaman¬nya. Lauw-pangcu, kami akan siap mem¬bantu mati-matian!” kata pula laki-laki pendek penuh semangat.
Si Setan Botak memandang penuh perhatian lalu tertawa. “Ha-ha-ha, kalian bocah-bocah kemarin sore! Aku pernah mendengar bahwa Kang-lam Sam-eng adalah jago-jago cilik murid-murid Siauw-lim-pai. Benarkah?”
“Kami memang anak murid Siauw-lim-pai. Dan sudah menjadi tugas setiap orang murid Siauw-lim-pai untuk mem¬basmi orang jahat dan pengkhianat bang¬sa!” kata wanita cantik itu, suaranya nyaring dan merdu.
“Heh-heh, kau cantik dan bersemangat! Apakah kalian bertiga ini murid Ceng San Hwesio?” tanya pula Si Setan Botak memandang rendah.
“Ceng San Hwesio adalah Sukong (Kakek Guru) kami!” kini Si Tinggi Besar menjawab, suaranya sesuai dengan tubuh¬nya, menggeledek.
Tiga orang itu bukanlah orang-orang sembarangan, melainkan murid-murid Siauw-lim-pai yang terkenal gagah per¬kasa. Karena mereka tinggal di Kang-lam dan selalu melakukan perjuangan bersama, maka mereka terkenal sebagai Kang-lam Sam-eng atau Tiga Pendekar Kang-lam yang amat disegani kawan di¬takuti lawan. Yang tertua dan bertubuh pendek kecil itu adalah Khu Cen Tiam berjuluk Thi-pian-sian (Dewa Cambuk Besi). Orang ke dua yang tinggi besar bernama Liem Sian berjuluk Sin-pang (Si Toya Sakti) dan orang ke tiga, wanita cantik itu adalah seorang wanita yang masih gadis tidak mau menikah karena belum juga menjumpai pria yang men¬cocoki hatinya, bernama Bhok Khim dan berjuluk Bi-kiam (Si Pedang Cantik). Sebagai murid-murid Siauw-lim-pai, tentu saja mereka berjiwa patriot dan selalu mendukung perjuangan kaum pemberontak yang menentang masuknya penjajah bang¬sa Mancu.
Akan tetapi ketika Kang-thouw-kwi Gak Liat mendengar jawaban Liem Sian, ia tertawa bergelak, “Ha-ha-ha-ha! Kira¬nya hanya cucu si tua Ceng San Hwesio? Ahhh, bocah-bocah tak tahu diri. Lebih baik kalian lekas pergi karena aku tidak mau melihat Ceng San Hwesio kehilangan tiga orang cucunya. Kalau Ceng San Hwesio sendiri yang datang, barulah pa¬tut melayani aku beberapa jurus.”
Ucapan ini amat tekebur dan memang sesungguhnya bukan semata-mata karena sombong, akan tetapi karena memang tingkat kepandaian Si Setan Botak ini hanya akan dapat dilayani oleh ketua Siauw-lim-pai yang tua itu. Bagi Kang-lam Sam-eng yang belum pernah mengenal kelihaian Si Setan Botak, ucapan itu dianggap sombong dan amat menghina, maka mereka lalu membentak nyaring dan maju menerjang, diikuti pula oleh Lauw-pangcu dan dua orang pembantunya sehingga kini Si Setan Botak dikeroyok oleh enam orang yang berkepandaian tinggi.
Han Han yang menonton dari atas pohon dan dapat melihat setiap pertempuran itu dengan jelas, merasa tak senang hatinya. Ia tidak tahu siapa salah siapa benar, siapa jahat siapa baik di antara kedua fihak itu, akan tetapi terhadap Si Setan Botak ia tidak senang karena menganggapnya amat kejam, membunuhi banyak orang seperti orang membunuh semut saja. Terhadap Lauw-pangcu dan Kang-lam Sam-eng, ia merasa tidak senang karena menganggap mereka ini curang, mengeroyok seorang lawan dengan begitu banyak kawan.
Sebagai murid-murid perguruan tinggi Siauw-lim-pai, tentu saja Kang-lam Sam-eng tidak bersikap seperti para anak buah Pek-lian-pai yang suka “main keroyok” secara kacau-balau. Pertempuran sekacau itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang masih rendah tingkatnya. Memang, mereka mengurung dan mengeroyok, namun mereka melakukan penyerangan secara teratur dan boleh dibilang satu demi satu, hanya saling susul dan berganti-ganti. Mula-mula terdengar bentakan nyaring dan tubuh Bhok Khim si wanita cantik sudah melayang ke atas, pedangnya berubah menjadi sinar terang ketika ia menyerang kakek botak itu. Sebuah serangan yang amat dahsyat, karena selain tubuh itu meluncur ke depan dengan cepat dan kuat, pedangnya digerak-gerakkan ujungnya, sukar diduga lawan bagian mana dari tubuhnya yang akan menjadi sasaran. Namun kakek botak itu hanya tertawa dan masih tetap berdiri tegak seperti tadi, sama sekali tidak mengelak. Ketika sinar pedang sudah menyentuhnya, ia hanya menggerakkan kedua tangan ke atas.
“Krakkk! Brettttt....! Ha-ha-ha-ha!”
Tubuh Bhok Khim mencelat ke sam¬ping dan jatuh bergulingan, lalu gadis itu meloncat bangun, tangan kiri sibuk ber¬usaha menutupkan baju bagian dadanya yang sudah robek lebar memperlihatkan sebagian buah dadanya, sedangkan pedang¬nya sudah pindah ke tangan kakek botak dalam keadaan patah menjadi dua! Pu¬catlah wajah semua orang. Kakek itu tadi menerima sambaran pedang dengan tangan kosong! Menangkap pedang dan mematahkannya sambil tangannya yang satu lagi secara nakal merobek baju Bhok Khim. Sungguh merupakan perbuatan yang amat luar biasa.
“Iblis tua bangka!” Liem Sian mener¬jang dengan toya kuningannya. Siauw-lim-pai amat terkenal dengan ilmu toya¬nya, terkenal kokoh kuat dan sukar di¬cari bandingnya. Dan kini Liem Sian membuktikan keunggulannya. Buktinya kakek botak itu tidak berani lagi berdiri diam, melainkan menggeser kakinya dan begitu ujung toya menyodok perutnya, ia memapaki ujung toya itu dengan ten¬dangan kaki dari samping.
“Ayaaa....!” Liem Sian terhuyung. Bukan main kuatnya tendangan itu, mem¬buat ia hampir saja roboh dan toyanya hampir terlempar.
Saat itu dipergunakan oleh Khu Cen Tiam, orang tertua dari Kang-lam Sam-eng untuk menerjang dengan cambuk besinya. “Tar-tar....!” Cambuk besi ini meledak dan menyambar kepala kakek botak. Kang-thouw-kwi Gak Liat tertawa dan mengangkat pedang rampasan yang tinggal sepotong tadi, membabat ujung cambuk.
“Cringgg....!” Bunga api berpijar dan ujung cambuk itu patah!
Lauw-pangcu dan dua orang kawan¬nya sudah maju pula menubruk dan mu¬lailah Si Kakek Botak dikeroyok. Bahkan Bhok Khim yang sudah membetulkan bajunya yang robek kini telah menyam¬bar sebatang pedang lain yang ia temukan di antara mayat-mayat anggauta Pek-lian Kai-pang, lalu maju mengeroyok.
Kakek botak itu gerakannya tidak cepat, bahkan kelihatan amat lambat. Namun setiap gerakan mengandung tenaga sakti yang dahsyat sehingga senjata lawan tidak ada yang dapat menyentuh ku-litnya. Sambil tertawa-tawa ia menghalau semua serangan dengan dorongan-dorongan hawa pukulan dahsyat ini, kemudian me¬lanjutkan dengan pukulan. Setlap pukulan atau dorongan yang disertai pengerahan sin-kang yang aneh dari tangannya yang berubah merah dan mengeluarkan asap, tentu merobohkan lawannya! Akibatnya, dalam waktu singkat saja, dua orang pembantu Lauw-pangcu roboh tewas, Lauw-pangcu sendiri roboh terluka. Khu Cen Tiam kehilangan cambuk dan lengannya patah tulangnya. Liem Sian patah-patah toya¬nya dan sambungan pundaknya patah pula, adapun Bhok Kim sudah tertotok dan kini pinggang gadis itu dikempit oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat!
Kakek ini terbahak-bahak tertawa sedangkan muridnya, Ouwyang Seng, kini sudah datang mendekat sambil menuntun kuda, wajahnya berseri dan pandang matanya penuh kebanggaan. Sin Lian lari menubruk ayahnya yang terluka dada¬nya sambil memanggil nama ayahnya yang pingsan.
“Ayah...., Ayahhh....!”
Biarpun lengannya sudah patah tulang¬nya, Khu Cen Tiam masih berdiri gagah. Demikian pula Liem Sian yang terlepas sambungan pundak kirinya. Mereka ber¬diri dengan muka pucat dan memandang kakek botak penuh kemarahan dan ke¬bencian.
“Locianpwe adalah seorang datuk terkemuka. Kami sudah kalah, hal ini sudah lazim dalam pertandingan, kalau tidak menang tentu kalah. Akan tetapi mengapa locianpwe menawan sumoi kami? Harap locianpwe membebaskan¬nya,” kata Khu Cen Tiam yang menye¬but locianpwe, karena memang dalam hatinya ia takluk dan kagum akan ke¬hebatan ilmu kepandaian kakek yang merupakan seorang di antara Lima Datuk Hitam itu. Lima Datuk Besar atau Lima Datuk Hitam sama saja karena Lima Datuk itu adalah lima orang berilmu tinggi yang merupakan orang-orang ting¬kat pertama di dunia persilatan, akan tetapi karena kelimanya merupakan tokoh-tokoh yang kejam, maka diam-diam orang menyebut mereka Lima Datuk Hitam!
“Heh-heh-heh, kalau tidak memandang muka Ceng San Hwesio, apakah kalian bertiga masih dapat bernapas saat ini? Sumoimu ini manis, biar dia menemaniku untuk beberapa hari, sebagai penebus nyawa kalian!”
Khu Cen Tiam dan Liem Sian membentak marah. Biarpun sudah terluka, kemarahan mereka membuat mereka menerjang maju, namun dengan hanya dorongan tangan kiri saja, keduanya su¬dah terbanting dan terjengkang ke bela¬kang!
“Baik, kalau kamu iblis tua bangka memang ada keberanian, datanglah ke kota Tiong-kwan tiga hari lagi. Kami para anggauta Ho-han-hwe (Perkumpulan Para Patriot) menantangmu membuat perhitungan!”
“Sute....!” Khu Cen Tiam menegur, akan tetapi ucapan sudah dikeluarkan dan kakek botak itu tertawa bergelak.
“Bagus.... bagus.... kiranya akan diadakan pertemuan di Tiong-kwan? Tentu saja aku datang, sekalian mengembalikan sumoimu yang kupinjam. Ha-ha-ha!”
Setelah berkata demikian, sekali tu¬buhnya melayang, kakek itu sambil me¬ngempit tubuh Bhok Khim yang tak da¬pat bergerak itu sudah berada di atas kuda, kemudian menoleh kepada Ouwyang Seng dan berkata, “Mari, Kongcu. Jangan lupa ajak pelayan itu!” Dengan tangannya kakek itu mendorong ke arah pohon dan “kraaakkkkk!” batang pohon itu patah dan pohonnya tumbang, membawa tubuh Han Han runtuh ke bawah bersama-sama!
Han Han bergulingan, kulitnya lecet-lecet dan cambuk di tangan Ouwyang Seng sudah meledak di atas kepalanya. “Hayo tuntun kuda suhu, kau pemalas!” bentak putera pangeran itu. Han Han menoleh ke arah Sin Lian, melihat Sin Lian melotot kepadanya. Ia menghela napas, mengangkat pundak, lalu berjalan menghampiri kuda dan menuntun kendali kuda itu, berjalan di depan kuda. Terdengar olehnya tangis Sin Lian, akan tetapi karena kuda itu jalannya cepat sehingga punggungnya beherapa kali ter-dorong moncong kuda, Han Han memper¬cepat langkahnya dan sebentar saja sudah keluar dari dalam hutan itu. 
***
Dapat dibayangkan betapa hancur dan sakit hati Lauw-pangcu melihat anak buahnya terbasmi habis oleh Si Setan Botak yang lihai itu. Kematian kurang lebih lima puluh orang anggauta Pek-lian Kai-pang ini hampir menghabiskan semua anggautanya sehingga mereka yang kebetulan tidak berada di situ dan bebas dari kematian hanya tinggal beberapa orang saja. Dengan dendam sedalam laut¬an, Lauw-pangcu mengurus jenazah se¬mua anak buahnya, dibantu oleh Kang-lam Sam-eng yang kini tinggal dua orang, Khu Cen Tiam dan Liem Sian saja karena sumoi mereka, Bhok Khim, terculik oleh Si Kakek Sakti. Dua orang anak murid Siauw-lim-pai ini pun di samping amat menyesal, juga amat marah dan sakit hati.
“Sudah kucegah tadi ji-wi enghiong bersama Bhok-lihiap untuk tidak men¬campuri urusan kami,” demikian Lauw-pangcu berkata penuh penyesalan. “Se¬karang terbukti, selain ji-wi terluka, juga Bhok-lihiap terculik. Ahh, semua ini gara-gara Pek-lian Kai-pang. Lebih celaka lagi, malapetaka ini dibawa da-tang oleh muridku sendiri, si jahanam Sie Han!”
Khu Cen Tiam dan Liem Sian meng¬hibur ketua kai-pang yang berduka itu. “Pangcu jangan berkata demikian. Kita sama-sama anggauta Ho-han-hwe, sudah bersumpah sehidup semati menghadapi penjajah dan para pengkhianat bangsa. Lebih baik kita lekas bereskan pekerjaan di sini dan cepat mengumpulkan saudara-saudara di Ho-han-hwe untuk merunding¬kan hal ini dan agar dapat menolong Sumoi dari tangan iblis itu.”
“Ahhhhh, iblis itu terlampau sakti. Di dunia ini hanya ada lima orang datuk besar yang ilmu kepandaiannya amat luar biasa. Kita di Ho-han-hwe, siapakah kira¬nya yang akan mampu melawannya?” demikian keluh Lauw-pangcu dengan hati gentar kalau ia teringat akan sepak ter¬jang Si Setan Botak tadi.
“Di antara saudara kita banyak yang lihai, kalau perlu aku akan memberi tahu para susiok dan juga tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw. Sute tadi telah menantangnya tiga hari lagi. Dalam waktu tiga hari kita harus dapat mendatangkan bala bantuan untuk membunuh iblis itu dan menolong sumoi.”
Demikianlah, setelah penguburan sekian banyaknya jenazah itu selesai, tiga orang gagah ini bersama Sin Lian yang dalam usia sekecil itu sudah mengalami hal-hal yang menegangkan dan pembunuh¬an-pembunuhan massal yang mengerikan, pergi meninggalkan tempat itu menuju ke kota Tiong-kwan lalu menghubungi para pejuang yang bergabung dalam perkum¬pulan Ho-han-hwe. Sibuklah mereka se¬mua itu mengundang orang-orang pandai dalam persiapan mereka menghadapi Kang-thouw-kwi Gak Liat.
Adapun Kang-thouw-kwi Gak Liat yang menunggang kuda sambil memangku tubuh Bhok Khim yang tertotok lemas, diiringkan oleh Ouwyang Seng dan Han Han, pergi menuju ke timur menyusuri pantai Sungai Huang-ho. Setelah melaku¬kan perjalanan setengah hari, mereka tiba di pantai yang berbatu-batu dan kakek itu berkata.
“Berhenti di sini!” Ia meloncat turun, masih memondong tubuh Bhok Khim.
“Di sinikah tempatnya batu-batu bintang yang dicari suhu?” tanya Ouwyang Seng.
Si Setan Botak mengangguk. “Kau ajak Han Han mencari di pantai, sebanyak mungkin. Kau sudah tahu macamnya, seperti yang pernah kuperlihatkan dulu, Kongcu. Batu-batu itu penting sekali untuk latihanmu. Nah, aku mau mengaso bersama Si Manis ini!”
Ouwyang Seng melihat betapa gurunya membungkuk dan mencium leher Bhok Khim yang menggeliat dan meronta lemah, tertawa bergelak, kemudian me¬nangkap tangan Han Han dan ditarik sambil membentak. “Bujang malas, hayo bantu aku mencari batu bintang!”
Akan tetapi sekali merenggutkan ta¬ngannya, Han Han melepaskan diri. Ma¬tanya terbelalak marah memandang ke arah Gak Liat Si Setan Botak yang sudah duduk di atas batu-batu kecil yang halus sambil memangku tubuh Bhok Khim dan mempermainkan rambut gadis itu yang hitam panjang. Han Han dapat menduga apa yang akan dilakukan oleh kakek botak itu terhadap Bhok Khim dan terbayanglah semua peristiwa jahanam yang me¬nimpa diri kakak perempuannya dan ibu¬nya. Melihat Bhok Khim ia merasa se¬perti melihat cicinya sendiri yang telah lenyap, sungguhpun pandang mata Bhok Khim padanya bukanlah seperti pandang mata cicinya yang penuh kasih sayang. Dengan langkah lebar ia menghampiri Gak Liat dan setelah tiba di depannya, Han Han menudingkan telunjuknya dan berkata, suaranya nyaring.
“Locianpwe adalah seorang yang sakti, dapat mengalahkan pengeroyokan puluhan orang. Akan tetapi mengapa kini melakukan perbuatan yang amat hina dan ren¬dah?”
“Han Han, tutup mulutmu yang bu¬suk!” Ouwyang Seng membentak marah, akan tetapi Si Setan Botak tertawa dan memberi isyarat dengan tangannya ke¬pada muridnya untuk mundur. Kemudian ia memandang wajah Han Han. Sejenak pandang mata mereka bertemu dan kakek botak itu berseru perlahan.
“Demi iblis....! Matamu mata iblis....! Eh, bocah, perbuatan hina dan rendah apa yang telah kulakukan?”
Han Han menuding ke arah Bhok Khim yang menggeliat-geliat di pangkuan kakek botak itu. “Lepaskan cici itu dan aku baru dapat menganggap locianpwe seorang gagah dan sakti yang tidak me¬lakukan perbuatan hina!”
Si Setan Botak memandang terbelalak, lalu menunduk dan memandang wajah Bhok Khim yang cantik manis, kemudian tertawa terbahak-bahak. “Ini kauanggap perbuatan hina dan rendah? Ha-ha-ha-ha!” Dengan sengaja kakek ini lalu meng¬elus-elus pipi Bhok Khim yang halus, kemudian jari-jari tangannya menjalar ke bawah, meraba-raba leher dan dada. Gadis itu menggeliat dan meronta lemah, akan tetapi karena ia berada dalam ke¬adaan tertotok, ia tidak dapat melepas¬kan diri, kemudian meramkan mata dan merintih perlahan.
Kemarahan Han Han memuncak. De¬pgan mata berapi ia memandang kakek botak itu dan membentak, “Locianpwe! Kau tidak akan menghina wanita!”
Kakek itu mengangkat mukanya me¬mandang sambil tertawa, akan tetapi begitu pandang matanya bertemu dengan sinar mata Han Han, seketika tawanya terhenti, ia terbelalak, mulutnya ternganga dan terdengarlah ia berkata perlahan, “Aku.... aku....”
Tentu saja Ouwyang Seng menjadi bengong menyaksikan keadaan suhunya ini, maka ia berseru keras dan heran, “Suhu....! Apa artinya ini....?”
Sesungguhnya, pandang mata dan sua¬ra Han Han yang sedang marah itu me¬ngandung tenaga mujijat yang tidak se¬wajarnya. Demikian kuat dan mujijat tenaga sakti ini sehingga seorang seperti Kang-thouw-kwi Gak Liat sendiri, se¬orang di antara Lima Datuk Besar, sampai terpengaruh! Sayangnya, Han Han sendiri tidak sadar dan tidak tahu akan kekuatan dahsyat yang tersembunyi da¬lam pandang mata dan kekuatan pikiran¬nya sehingga tentu saja ia tidak dapat memanfaatkannya. Selain itu, Kang-thouw-kwi Gak Liat adalah seorang kakek yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali dalam ilmu-ilmunya, maka ia cepat ter¬sadar begitu mendengar seruan muridnya. Ia sadar dengan kaget sekali dan melempar tubuh Bhok Khim ke samping. Gadis itu terguling dan rebah miring, tanpa dapat bangun. Di lain saat Gak Liat telah menyambar lengan Han Han dan ditariknya anak itu duduk di atas batu-batu kali, di depannya. Sejenak kakek itu memandang dengan penuh perhatian se¬pasang mata Han Han yang masih ber¬sinar-sinar sungguhpun kini kemarahan anak itu mereda karena melihat Bhok Khim sudah dilepaskan.
“Eh, Han Han, coba katakan, siapakah nama Ayahmu?”
Kalau Han Han ditanya riwayatnya, tentu ia tidak akan sudi menceritakan¬nya, karena hal itu akan mengharuskan ia bercerita tentang malapetaka ngeri yang menimpa ayah bundanya. Akan te¬tapi kalau hanya ditanya nama ayahnya saja, ia tidak keberatan untuk menjawab, apalagi ia memang hendak menyenangkan hati kakek ini agar selanjutnya tidak akan mengganggu Bhok Khim.
“Ayahku bernama Sie Bun An.”
“Ayahmu ahli silat tinggi dan tokoh kang-ouw?”
“Ah, tidak sama sekali, locianpwe. Ayah seorang sastrawan, dan semenjak kecil Ayah melarang aku belajar silat, hanya memberi pelajaran tulis dan baca.” Ia berterus terang dengan suara keras. Kalau dahulu di depan Lauw-pangcu ia tidak mengaku pandai membaca, kini di depan Si Setan Botak ia malah sengaja mengatakan ayahnya sastrawan. Hal ini pun ada sebabnya, yaitu karena di situ hadir Ouwyang Seng. Han Han yang se¬ring kali mengalami penghinaan dari Ouwyang Seng putera pangeran, kini mendapat kesempatan untuk menyatakan bahwa dia adalah putera sastrawan dan pandai membaca kitab, dan dalam hal ini ia tidak mau kalah oleh Ouwyang Seng!
Mendengar ini, kakek botak itu tam¬pak kecewa dan pandang matanya penuh selidik terheran-heran. “Matamu itu.... hemmm.... Han Han, kaukatakan, siapa nama Kong-kongmu (Kakekmu)? Barang¬kali aku mengenalnya.”
“Aku tidak pernah melihat Kong-kong,” jawab Han Han sejujurnya. “Dan Ayanku tidak banyak bercerita tentang Kong-kong. Hanya mengatakan bahwa Kong-kong adalah seorang perantau dan namanya Sie Hoat....”
Kakek botak itu meloncat bangun dan tertawa terbahak-bahak. “Sie Hoat....? Sie Hoat Si Dewa Pencabut Bunga? Ha-ha-ha-ha-ha, engkau cucu Jai-hwa-sian (Dewa Pencabut Bunga)? Pantas.... pantas....”
Han Han bengong, mengira bahwa Si Botak ini selain lihai juga miring otak¬nya! Ayahnya adalah seorang sastrawan yang kaya raya, biarpun ayahnya belum pernah bercerita tentang kakeknya, na¬mun ia dapat menduga bahwa kakeknya pun tentu seorang sastrawan. Mengapa kakek botak ini menyebutnya Jai-hwa-sian (Dewa Pencabut Bunga)? Dengan pandang mata penasaran Han Han me-natap wajah kakek botak itu dan ber¬tanya.
“Kenapa locianpwe tertawa? Apakah locianpwe mengenal Kakekku?”
“Ha-ha-ha! Mengenal Jai-hwa-sian Sie Hoat? Ha-ha, dia sainganku terbesar dahulu! Dia masih hutang beberapa pukulan dariku. Dan kau.... ha-ha-ha, engkau cucunya mencela aku karena aku membelai seorang gadis cantik? Sungguh lucu, dan ingin aku melihat muka Sie Hoat kalau mendengar dan melihat ini semua ha-ha-ha-ha!”
“Locianpwe, apa yang locianpwe maksudkan....?” Han Han bertanya dengan suara keras, hatinya penuh rasa pena¬saran.
Akan tetapi Kang-thouw-kwi Gak Liat hanya tertawa bergelak, lalu seperti orang gila ia memandang ke atas, ke arah awan yang berarak di langit. “Dan kini cucumu menjadi pelayanku, Sie Hoat! Kalau engkau masih hidup, hayo datang¬lah dan jemputlah cucumu, ha-ha-ha!” Kemudian matanya memandang ke arah tubuh Bhok Khim yang masih rebah mi¬ring di atas tanah dan dengan langkah lebar menghampiri, lalu menyambar tu¬buh itu yang diangkatnya.
“Locianpwe tidak boleh....!”
Akan tetapi ucapan Han Han ini ter¬henti karena lengannya telah ditangkap oleh Ouwyang Seng dan tubuhnya diseret pergi dari tempat itu. “Engkau bocah tak tahu diri, berani sekali mengganggu suhu! Apakah engkau sudah bosan hidup? Anak kecil mencampuri urusan orang tua, sung¬guh lancang. Lebih baik kaubantu aku mencari batu-batu bintang. Kau pem¬berani, aku suka kepada anak pemberani dan aku tidak senang melihat kau di¬bunuh suhu kalau dia sudah marah. Ka¬lau kau baik kepadanya, siapa tahu eng¬kau akan diambil murid seperti aku!”
Han Han yang terus diajak pergi sampai di tepi sungai yang banyak batu-batu karangnya, mengerti juga betapa tak mungkin ia dapat mencegah perbuatan kakek botak yang demikian sakti itu. Sedangkan dalam pegangan Ouwyang Seng saja ia sudah tidak mampu berkutik. Ia tertarik mendengar tentang bintang dan tentang kemungkinan ia diambil mu¬rid.
“Untuk apakah batu bintang? Dan batu bintang macam apa yang dimak¬sud?” tanyanya sambil memperhatikan ketika Ouwyang Seng mulai memilih-milih batu di antara batu karang yang banyak terdapat di situ.
“Kau lihat baik-baik batu ini dan bantu mencari sebanyaknya, nanti kuceritakan,” jawab Ouwyang Seng. Han Han melihat batu yang dipilih bocah itu dan melihat bahwa batu itu kecil-kecil, paling besar sebesar tangannya dan bentuknya seperti pecahan batu karang, runcing-runcing dan tajam, akan tetapi warnanya kemerahan. Ia lalu membantu dan mencari batu-batu seperti itu yang tidak banyak terdapat di situ, harus dicari dan dipilih dengan teliti baru dapat menemukan beberapa potong. Sambil mencari Ouwyang Seng lalu memberi keterangan.
Seperti yang pernah didengar bocah ini dari gurunya, ratusan tahun yang lalu banyak orang menyaksikan benda besar seperti bola api melayang turun di dae¬rah lembah Sungai Huang-ho ini. Benda itu menurut dugaan banyak orang pandai adalah sepotong batu besar pecahan dari bintang, karena itu, melihat bahwa di daerah itu kemudian tampak banyak se¬kali pecahan-pecahan batu berwarna ke¬merahan, batu-batu ini disebut batu bin¬tang. Akan tetapi ketika orang berusaha mempergunakannya, batu-batu yang kecil ini tidak ada gunanya, bahkan untuk bahan bangunan pun tidak sebaik batu kali biasa, maka sampai ratusan tahun kemudian batu-batu ini tidak diperhatikan orang.
“Akan tetapi suhu yang sakti luar biasa melihat sifat yang mujijat dari batu-batu ini,” demikian Ouwyang Seng melanjutkan ceritanya. “Sifat yang cocok sekali untuk memperhebat ilmu kepandaian suhu yang berdasarkan pada tenaga Yang-kang.”
Sambil memandangi batu-batu ke¬merahan itu penuh perhatian dengan hati tertarik sekali, Han Han lalu bertanya.
“Sifat mujijat apakah? Dan apa itu Yang-kang?”
“Ah, dasar kau hijau bodoh tidak tahu apa-apa!” Ouwyang Seng mengomel. “Ma¬sa tidak tahu Yang-kang? Ketahuilah, guruku adalah seorang di antara Lima Datuk Besar, dan ilmu kesaktiannya men-julang setinggi bintang di langit. Di du¬nia ini tidak ada seorang pun manusia sanggup menandingi ilmunya yang disebut Hwi-yang-sin-ciang (Tangan Sakti Inti Api). Dengan hawa dari tangannya, guru¬ku dapat membuat kayu terbakar. Nah, batu-batu bintang ini mengandung tenaga mujijat dari Yang-kang, dan menurut suhu, ada inti panasnya matahari ter¬sembunyi di dalamnya. Agaknya bintang yang pecah ini tadinya berada di dekat matahari, aku tidak tahu jelas. Batu-batu ini dipergunakan oleh suhu untuk melatih kedua lengan.”
“Bagaimana caranya?”
“Kau akan melihat sendiri! Tahukah engkau bahwa kedua lenganku ini dapat bertahan direndam air yang mendidih?”
“Ah, masa....?” Tentu saja Han Han tidak percaya.
Ouwyang Seng tersenyum bangga dan menyingsingkan kedua lengan bajunya se¬hingga tampak kedua lengannya yang berkulit putih dan halus. “Kedua lenganku ini kelak kalau sudah jadi benar seperti kedua lengan suhu, akan membuat aku dapat menjagoi seluruh jagat! Kalau su¬dah selesai latihanku, sekali sampok saja aku dapat membuat hangus tubuh lawan yang bagaimana kuat sekalipun!”
Han Han memandang dengan melongo, setengah tidak percaya, akan tetapi juga ngeri dan kagum. Benarkah di dunia ada ilmu seperti itu? Ia akan melihat dan membuktikan sendiri. Berkali-kali ia di¬hina orang karena ia tidak bisa silat dan tidak memiliki kekuatan yang mujijat. Kalau dia sampai dapat menjadi seorang pandai, bukankah dengan mudah ia dapat menentang semua orang yang jahat-jahat itu? Memang ia dapat membayangkan betapa senangnya memiliki sepasang le¬ngan tangan yang lihai seperti itu, dapat mengeluarkan hawa panas seperti api!
“Benarkah semua yang kaukatakan itu, Ouwyang Seng?”
Tiba-tiba bocah itu melotot dan membentak marah, “Han Han! Di mana ke¬sopananmu? Katamu sendiri kau keturun¬an sastrawan, mengapa tidak tahu sopan santun? Kau sekarang menjadi pelayan suhuku, berarti kau pelayanku juga. Dan ketahuilah bahwa Ayahku adalah Pange¬ran Ouwyang Cin Kok yang berpengaruh besar sekali di kota raja. Sudah seharus¬nya kalau kau juga menghormat padaku kalau kau tahu akan sopan santun!”
Wajah Han Han menjadi merah. Tentu saja ia tahu akan semua peraturan ini, peraturan “sopan santun” yang diciptakan oleh kerajaan, yang mengharuskan si kecil mencium ujung sepatu si bangsawan, si miskin menyembah-nyembah si kaya! Ia mengerti bahwa dia memang bersalah, maka ia menghela napas dan mengulangi pertanyaannya.
“Maaf, benarkah semua yang kauceritakan tadi, Ouwyang-kongcu?”
Berseri wajah Ouwyang Seng. “Bagus! Memang benar dugaanku, kau bukan sem¬barangan pengemis dan kini aku percaya bahwa engkau tentu keturunan seorang terpelajar. Guruku sendiri menyebutku Kongcu, tentu saja engkau pun harus menghormatku. Tentu benar apa yang kuceritakan tadi dan engkau ini memang bernasib baik sekali, Han Han. Menjadi pelayan guruku berarti menemukan harta yang tak ternilai harganya, karena sedikit banyak engkau tentu akan dapat memetik ilmunya. Akan tetapi sudah tentu saja jangan harap mendapatkan sebanyak aku, karena aku muridnya. Mengerti? Hayo cepat kumpulkan batu bintang yang ba¬nyak.”
Han Han mengangguk dan mereka berdua asyik mencari-cari batu bintang sampai terkumpul cukup banyak. Ouw¬yang Seng membungkus batu-batu itu dengan kantung kain yang memang sudah dibawanya, lalu menyuruh Han Han me¬manggulnya. Mereka berdua lalu kembali ke tempat di mana tadi mereka mening¬galkan Kang-thouw-kwi Gak Liat. Ketika kedua orang anak itu tiba di situ, Han Han melihat bahwa kakek botak itu du¬duk di atas batu dengan mata dipejam¬kan dan mulut menyeringai, sedangkan tak jauh dari situ ia melihat Bhok Khim sedang melangkah pergi. Wajah wanita itu pucat dan ia melangkah pergi sambil terisak menangis.
“Ho-ho, Manis, kenapa menangis? Laporkan saja kepada Ceng San Hwesio bahwa akulah yang mengganggumu, dan dia tentu tidak akan bisa berbuat sesuatu ho-ho-ha-ha!”
Wanita muda itu tiba-tiba membalik¬kan tubuhnya dan Han Han melihat be¬tapa mata yang merah itu memandang penuh kebencian, wajah yang pucat itu basah air mata dan ia bergidik. Belum pernah selama hidupnya ia menyaksikan wajah yang membayangkan kemarahan, kebencian dan dendam sehebat itu! Bhok Khim lalu membalikkan tubuhnya lagi dan berlari, meninggalkan isak tangis yang bercampur dengan suara ketawa bergelak Si Kakek Botak.
“Sudah mendapatkan banyak batu bintang? Bagus, mari kita melanjutkan perjalanan pulang agar dapat cepat-cepat engkau berlatih, Kongcu.”
Tubuh kakek botak yang tadinya du¬duk, tiba-tiba melambung ke atas dan pandang mata Han Han sampai menjadi berkunang ketika ia berusaha mengikuti gerakan kakek itu. Tahu-tahu Si Kakek Botak sudah duduk di atas punggung kuda¬nya! Ouwyang Seng agaknya tidak heran menyaksikan demonstrasi kepandaian yang bagi Han Han seperti orang bermain sulap ini, bahkan lalu menepuk pundak¬nya. “Hayo kita berangkat, Han Han. Hari sudah hampir gelap!”
Kembali mereka melakukan perjalanan tanpa banyak cakap. Kuda yang ditung¬gangi oleh kakek botak yang duduk me¬lenggut seperti orang mengantuk itu berjalan di depan, diikuti oleh Han Han yang memanggul kantung berisi batu-batu bintang, dan paling belakang adalah Ouwyang Seng yang berjalan sambil ka¬dang-kadang mendorong pundak Han Han disuruh cepat agar jangan tertinggal langkah kuda.
Menjelang malam, tibalah mereka di tempat yang dijadikan tempat tinggal Kang-thouw-kwi Gak Liat. Han Han tertegun dan memandang kagum. Rumah itu adalah sebuah gedung yang indah sekali, yang letaknya berada di sebelah timur kota Tiong-kwan, di dekat Sungai Suang-ho dan mempunyai tanah yang luas, yang dipagari dengan pagar tembok tinggi. Inilah bukan sembarang rumah, pikirnya. Seperti istana saja!
“Rumah siapa ini....?” tanyanya ketika mereka memasuki rumah itu setelah dua orang pelayan menyambut kuda tung¬gangan Si Kakek Botak dan Ouwyang Seng mengajak Han Han untuk terus menuju ke belakang melalui pintu sam¬ping, berbeda dengan kakek botak yang langsung memasuki gedung dari pintu tengah.
“Heh-heh, rumah siapa lagi? Ini rumahku!”
“Rumahmu....?” Han Han makin kagum.
“Bodoh, bukankah sudah kukatakan bahwa Ayahku adalah Pangeran Ouwyang Cin Kok? Apa artinya rumah ini bagi Ayah? Ini hanyalah sebuah rumah pe¬sanggrahan yang biasanya ditinggali ke¬luargaku di waktu musim panas. Kini dipergunakan oleh suhu untuk mengajar ilmu silat kepadaku. Hayolah! Kau makan dulu, kemudian tidur. Besok kita beker¬ja!” Ouwyang Seng lalu memanggil pelayan, menyuruh pelayan memberi makan kepada Han Han dan memberi sebuah kamar untuk tidur. Kemudian kongcu itu pun melenyapkan diri ke dalam rumah gedung dan malampun tiba.
Pada keesokan harinya, Han Han ter¬bangun pagi-pagi sekali. Keadaan di da¬lam gedung masih sunyi, tanda bahwa semua penghuninya masih tidur. Ia ber¬indap-indap keluar dari kamarnya, yaitu sebuah kamar kecil di antara kamar-kamar untuk bujang di bagian belakang gedung, dan dengan hati-hati Han Han mencari jalan untuk lari minggat dari situ. Betapapun tertarik hatinya untuk menyaksikan Ouwyang Seng berlatih dan kalau mungkin dia sendiri menerima pe¬lajaran dari Setan Botak itu, namun ia masih memilih bebas daripada tekanan mereka dan dipaksa menjadi pelayan.
Karena kedua kaki Han Han telanjang, ia dapat melangkah secara hati-hati sekali tanpa mengeluarkan suara dan berhasil melewati kamar-kamar bujang tanpa membangunkan mereka. Akan tetapi alangkah kecewa hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa rumah gedung itu terkurung tembok tinggi sekali dan tidak ada jalan keluar sama sekali ke¬cuali memanjat pintu gerbang atau tem¬bok! Akan tetapi pintu gerbang pun ter¬lalu tinggi untuknya. Selagi ia termangu bingung, terdengar suara tertawa.
“Ho-ho-ha-ha, kau hendak lari ke mana?”
Han Han terkejut dan cepat menengok, akan tetapi keadaan di sekeliling¬nya tetap sunyi dan gelap. Tidak tam¬pak bayangan seorang manusia pun, juga tidak tampak di mana adanya Setan Bo¬tak tua yang tadi ia dengar suaranya. Ia bergidik. Hebat bukan ilmu kesaktian kakek itu. Mungkinkah dapat melihat¬nya dari dalam gedung dan dapat mengi¬rim suaranya seperti itu? Karena maklum bahwa usahanya untuk lari sia-sia belaka dan tak mungkin dapat ia lakukan, Han Han lalu kembali ke dalam kamarnya dan ia duduk bersila dan bersamadhi seperti yang pernah dilatihnya di bawah bimbing¬an Lauw-pangcu.
Setelah Ouwyang Seng bangun, Han Han diajak pergi ke tempat latihan. Tem¬pat ini dahulunya dijadikan sebuah gu¬dang besar, akan tetapi sejak Gak Liat tinggal di situ, oleh kakek ini dijadikan semacam lian-bu-thia (ruangan bermain silat) lengkap dengan dapurnya di mana ia melatih diri dan muridnya untuk mem¬perkuat Yang-kang dengan bantuan batu-batu bintang. Masih ada lagi sebuah tem¬pat yang letaknya di belakang gedung dan tempat ini penuh rahasia. Kalau para pelayan di gedung itu masih diperboleh¬kan memasuki lian-bu-thia, maka tidak seorang pun kecuali kakek botak itu sendiri yang boleh memasuki tempat terlarang di belakang gedung ini. Tempat itu dahulunya menjadi kebun dari gedung itu, akan tetapi kabarnya sebelum Pa¬ngeran Ouwyang membangun gedung di situ, kebun itu dahulunya sebuah tanah kuburan kuno. Di tempat inilah Gak Liat secara rahasia menggembleng diri mem¬perdalam kesaktian karena sebagai se¬orang di antara Lima Datuk Besar ia harus selalu memperdalam ilmu agar jangan sampai kalah oleh datuk lain.
Han Han mendengar semua ini dari Ouwyang Seng. “Engkau harus taat akan perintah suhu kalau kau ingin hidup,” antara lain putera pangeran itu berkata. “Kalau suhu sudah marah dan menghen¬daki nyawamu, biar ada seribu orang dewa sekalipun tidak akan dapat menolongmu. Kau ingat baik-baik, sekali-kali jangan memasuki daerah terlarang di belakang gedung ini karena siapa saja, termasuk aku sendiri, kalau berani melanggar larangan ini, akan mati!”
Diam-diam Han Han tidak puas hati¬nya. Terlalu sekali Setan Botak itu, de¬mikian pikirnya. Karena ketidaksenangan hatinya ia memberi nama Setan Botak kepada kakek itu. Mudah saja memutus¬kan mati hidupnya orang lain! Akan te¬tapi ia tidak mau banyak cakap. Ia mak¬lum bahwa keadaannya seperti seorang tahanan, tidak dapat lari dan terpaksa ia harus bekerja di situ. Ia tidak bodoh, tidak mau nekat memperlihatkan ketidaksenangannya karena berada dalam keada¬an tidak berdaya. Aku harus dapat me¬metik keuntungan sebanyaknya dalam keadaan seperti ini, pikirnya. Maka ia lalu membantu pekerjaan di dalam lian-bu-thia seperti yang diperintahkan Ouw¬yang Seng. Ia harus mengisi air yang di¬ambilnya dari sumur, memenuhi sebuah kwali baja yang amat besar dan yang ditaruh di atas perapian. Juga ia harus memukuli batu-batu bintang sampai men¬jadi kecil-kecil, mempergunakan sebuah palu besi. Pekerjaan ini sukar dan me¬letihkan karena batu-batu bintang itu cukup keras. Tiap kali beradu dengan palu besi, mengeluarkan titik-titik api dan kalau mengenai kulit lengan, terasa panas sekali!
Pecahan batu-batu bintang ini lalu dituangkan ke dalam kwali besar yang airnya mulai mendidih. Pada saat itu, muncullah Gak Liat dan seperti biasanya, kemunculannya secara tiba-tiba seperti ia pandai menghilang saja. Padahal ia dapat muncul seperti itu karena menggunakan gin-kang yang amat tinggi tingkatnya sehingga gerakannya selain ringan tak terdengar, juga amat cepat.
“Suhu, apakah teecu (murid) sudah boleh berlatih dengan batu bintang?” Ouwyang Seng bertanya.
“Hemmm...., masih jauh! Kedua lenganmu belum cukup kuat, Kongcu. Le¬bih baik kau tekun melatih kedua lenganmu dengan air panas beracun itu. Itu pun amat berguna, dan kelak kalau ting¬katmu sudah cukup kuat, baru akan ku¬latih dengan air panas batu bintang. Mulailah, Kongcu. Dan kau, Han Han, air di kwali besar itu kurang penuh, hayo ambil lagi dan isi sampai penuh, kemu¬dian besarkan apinya. Batu-batu kecil merah itu harus digodok sampai hancur!”
Dengan muka keruh karena kecewa Ouwyang Seng menghampiri kwali yang lebih kecil, yang tadi ia tumpangkan di atas perapian kecil di sudut. Air dalam kwali itu kelihatan menghitam, dan airnya sudah mulai panas akan tetapi masih belum mendidih. Setelah menggulung kedua lengan bajunya, Ouwyang Seng memasukkan kedua tangannya ke dalam kwali air hitam, akan tetapi ia menyeri¬ngai kesakitan dan menarik kembali kedua tangannya keluar.
“Aduh, terlalu panas....!” serunya.
“Hemmmmm, Kongcu kurang tekun berlatih!” Setan Botak menegur dan sua¬ranya jelas membayangkan bahwa hatinya tidak puas. “Yang begini saja tidak kuat, apalagi berlatih dengan batu bintang. Masukkan lagi tangan Kongcu ke dalam kwali itu, jangan ragu-ragu, masukkan!”
Ouwyang Seng memandang ke arah suhunya dengan muka pucat, kemudian ia menggigit bibirnya dan dengan nekat memasukkan kedua lengannya ke dalam kwali di depannya. Tubuhnya menggigil dan hampir ia tidak kuat menahan, akan tetapi tiba-tiba kakek itu mengulur ta¬ngan kiri, menyentuh pundaknya dan tubuh Ouwyang Seng tidak menggigil lagi, bahkan wajahnya kelihatan tenang.
“Bantulah dengan hawa dalam tubuh! Kongcu harus dalam keadaan siulian (sa¬madhi) jika tidak kuat,” suara kakek itu mengomel. Ouwyang Seng lalu meramkan kedua mata dan mulai mengatur napas mengumpulkan perasaan, mengerahkan hawa dari dalam pusar dan ketika kakek itu menarik kembali tangannya, Ouwyang Seng tidak menggigil lagi, wajahnya te¬nang.
“Berlatih terus sampai dua hari dua malam, jangan hentikan kecuali makan, dari ulangi lagi sampai aku kembali dari pertemuan Ho-han-hwe,” pesan Si Kakek sambil berdiri dan bertolak pinggang.
Han Han yang sejak tadi berdiri me¬mandang dan mendengarkan, menjadi terheran. Air hitam itu terang amat panas, bahkan sudah mulai menguap, akan tetapi kini Ouwyang Seng dalam keadaan samadhi mampu menahan dengan kedua lengannya direndam air panas!
“Hei, mana airnya? Cepat tambah sampai penuh dan godok atu bintang sampai hancur. Kalau airnya menguap habis dan batunya masih belum hancur betul, tambah terus dan godok terus sampai hancur. Mengerti?”
Han Han terkejut dan sadar dari ke¬adaan bengong tadi, cepat-cepat ia me¬nyambar ember kosong dan lari ke sumur, mengambil air dan menuangkannya ke dalam kwali besar berisi batu bintang. Kakek itu masih berdiri di situ, kemudi¬an berkata.
“Kerjakan penggodokan batu ini sam¬pai hancur, terus besarkan api sampai aku datang kembali. Awas, kalau aku datang batu-batu ini belum hancur, kau yang akan kumasukkan ke dalam air ini!”
Setelah mengeluarkan kata-kata ini, tubuh Setan Botak yang tinggi kurus itu berkelebat dan lenyap dari situ. Han Han sejenak memandang dan mencari-cari dengan matanya, kemudian melirik ke arah Ouwyang Seng yang masih duduk bersamadhi dengan kedua lengan diren¬dam air hitam yang panas. Han Han mengangkat pundak dan melanjutkan pekerjaannya, maklum bahwa ia tidak berdaya melarikan diri dan terpaksa harus melakukan perintah Setan Botak. Akan tetapi betapa mendongkol hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa batu-batu bintang itu benar-benar amat sukar dicairkan. Sampai berkali-kali ia harus menambah air lagi dalam kwali dan me¬nambah kayu perapian sehingga hawa panas memenuhi ruangan “dapur” dari lian-bu-thia ini.
Baiknya ia bekerja kepada Ouwyang Seng, putera pangeran yang amat di¬hormat, dan diperhatikan keadaannya oleh para pelayan sehingga pada waktu-waktu tertentu tidak pernah pelayan lupa untuk mengantar minuman dan makanan. Ouwyang Seng kelihatan gembira bahwa ia telah memperoleh kemajuan. Kini tanpa bantuan gurunya, ia sudah dapat bertahan merendam kedua lengannya di air racun yang panas. Karena kegembiraannya, ia sering bercerita di waktu me¬ngaso sehingga Han Han banyak tahu akan keadaan yang aneh di tempat itu dan akan keadaan Setan Botak yang amat luar biasa itu. Diam-diam di dalam hatinya Han Han bergidik. Kalau saja ia tahu sebelumnya, tentu ia tidak akan membawa Setan Botak itu kepada sarang Pek-lian Kai-pang! Bergidik ia teringat betapa banyaknya manusia menjadi kor¬ban kekejaman Si Setan Botak ini.
Menurut penuturan Ouwyang Seng yang sesungguhnya tidak banyak pengeta¬huannya tentang keadaan Kang-thouw-kwi Gak Liat, sebagaimana yang ia ceri¬takan penuh kebanggaan kepada Han Han, kakek itu adalah tokoh terbesar di antara Lima Datuk Besar yang pada saat itu menguasai dunia kang-ouw golongan hitam. Merupakan tokoh yang amat ter¬kenal karena ilmunya yang mengerikan, yaitu Hwi-yang-sin-ciang, dan sudah ba¬nyak jasanya terhadap Pemerintah Man¬cu karena ketika barisan Mancu menyer¬bu ke selatan, kakek inilah seorang di antara tokoh-tokoh sakti yang melancar¬kan jalan dengan merobohkan pejuang-pejuang yang memiliki kesaktian.
“Menurut kata Ayahku, Pangeran Ouw¬yang Cin Kok, ilmu kepandaian suhu tidak ada lawannya di kolong langit ini, maka aku disuruh menjadi muridnya. Kaulihat sendiri, betapa hebat ilmunya. Dan aku.... aku sudah mulai dapat meng¬gembleng kedua lenganku agar kelak menjadi jago nomor satu di dunia, setelah suhu.”
Han Han amat tertarik. Belum pernah ia mendengar tentang ilmu kesaktian yang aneh-aneh, sungguhpun sudah banyak ia membaca cerita tentang orang-orang sakti di jaman dahulu. Kini ia tidak saja mendengar, bahkan ia menyaksikan de¬ngan mata sendiri.
“Kongcu, tadi gurumu mengatakan telah mengenal Kakekku dan menyebut Kakekku Jai-hwa-sian, apakah kau pernah mendengar tentang Kakekku itu?”
Ouwyang Seng menggeleng kepala. “Aku belum pernah mendengar nama itu. Mungkin para suheng (Kakak Seperguruan Laki-laki) atau suci (Kakak Seperguruan Perempuan) pernah mendengar dan me-ngetahuinya. Kelak akan kutanyakan mereka.”
“Ah, jadi Kongcu masih mempunyai suheng dan suci?”
Ouwyang Seng mengacungkan jempol¬nya. “Tentu saja, dan mereka pun hebat! Aku mempunyai dua orang suheng dan seorang suci, dan kepandaian mereka saja sudah cukup menggegerkan dunia dan tidak ada lawannya. Akan tetapi menurut suhu, kalau aku tekun belajar, aku akan lebih lihai daripada mereka!”
Han Han dapat menduga bahwa pu¬tera pangeran ini sedang bersombong, maka ia tidak begitu mengacuhkannya. Pikirannya sendiri bekerja dan ia amat tertarik untuk mempelajari ilmu yang aneh-aneh itu, bukan sekali-kaii karena ia ingin menggunakannya untuk berkelahi memukul apalagi membunuh orang, me¬lainkan keanehan ilmu-ilmu itulah yang menarik hatinya. Ingin ia mengetahui rahasianya. Ketika ia menuangkan air tadi, ada air dari kwali, air yang men¬didih dan berwarna agak merah, memer¬cik ke atas dan setetes air mengenai lengannya. Kulit lengannya terasa panas sekali dan melepuh. Hal ini adalah wajar, akan tetapi mengapa Ouwyang Seng dapat merendam kedua lengannya di air panas tanpa terluka?
“Kaulanjutkan pekerjaanmu menggodok batu bintang sampai hancur mencair, Han Han. Jangan sampai gagal dan jangan menggangguku. Ingat lagi, tak boleh se¬kali-kali kau keluar dari lian-bu-thia ini, apalagi berkeliaran di daerah terlarang di belakang gedung. Kalau melanggar, eng¬kau akan mati dalam keadaan mengeri¬kan!”
Sudah menjadi watak Han Han, juga mungkin watak sebagian besar anak-anak, makin terlarang makin ingin tahu.
“Ada apanya sih di daerah terlarang itu, Kongcu?”
“Hush! Mana aku tahu? Di situ tem¬pat suhu bersamadhi dan melatih ilmu, tidak ada yang boleh masuk. Aku pun baru tiga kali diperkenankan masuk dan keadaannya mengerikan dan menyeram¬kan! Ada tengkorak-tengkorak hidup.... hihhh.... ada setan-setannya di situ. Akan tetapi, suhu menguasai setan-setan itu semua yang membantunya memper¬dalam ilmu-ilmunya.”
Han Han merasa seram juga, akan tetapi diam-diam ia makin tertarik dan ingin sekali menjenguk daerah terlarang. Namun tentu saja hai ini hanya ia simpan dalam hati dan karena melihat Ouwyang Seng sudah tekun bersamadhi dan berlatih, ia pun lalu duduk bersila di depan perapian menjaga godokan batu bintang.
***
Ho-han-hwe (Perkumpulan Kaum Patriot) adalah sebuah perkumpulan orang-orang gagah yang menentang pemerintah penjajah Mancu, terdiri dari tokoh-tokoh kang-ouw yang kemudian di dunia kang-ouw sendiri dikenal dengan golongan putih atau kaum bersih sebagai tandingan dari mereka yang mendukung pemerintah penjajah yang mereka namai golongan hitam atau kaum sesat! Di mana-mana ada Ho-han-hwe ini, namun tidak pernah ada tempat atau markasny tertentu karena tentu saja perkumpulan ini me¬rupakan perkumpulan rahasia yang oleh pemerintah Mancu dicap sebagai pem-berontak. Setiap saat dapat saja diadakan pertemuan rahasia antara tokoh-tokoh patriot ini yang secara diam-diam selalu mengadakan hubungan satu dengan yang lain.
Kang-lam Sam-eng Si Tiga Pendekar Kang-lam merupakan tokoh-tokoh ber¬semangat dari Ho-han-hwe. Tiga orang murid Siauw-lim-pai inilah yang meme¬lopori pertemuan antara orang gagah di Tiong-kwan yang menjadi pusat dari Pek-lian Kai-pang. Tentu saja Pek-lian Kai-pang merupakan sepaham atau sahabat karena perkumpulan pengemis di bawah pimpinan Lauw-pangcu ini menjadi anak buah musuh Mancu di barat, yaitu Raja Muda Bu Sam Kwi.
Akan tetapi, tiga hari sebelum per¬temuan penting ini diadakan, terjadilah malapetaka menimpa Pek-lian Kai-pang sehingga hampir seluruh anggauta per¬kumpulan pengemis pejuang ini terbasmi habis oleh datuk hitam Gak Liat, bahkan Lauw-pangcu sendiri terluka, juga Kang-lam Sam-eng yang tadinya datang mengunjungi sahabat mereka ikut pula mengalami nasib malang. Khu Cen Tiam dan Liem Sian terluka dan Bhok Khim Si Pedang Cantik malah tertawan oleh Se¬tan Botak yang lihai luar biasa itu. Se-mua ini masih ditambah lagi dengan terpecahnya rahasia pertemuan Ho-han-hwe sehingga kini pertemuan itu terancam oleh hadirnya Kang-thouw-kwi Gak Liat.
Peristiwa ini yang segera terdengar oleh kaum bersih, membuat mereka sibuk sekali membuat persiapan. Nama besar Gak Liat sudah dikenal mereka semua, sungguhpun belum pernah ada yang ber¬temu, apalagi bertanding melawan datuk hitam itu. Mereka sibuk mengundang tokoh-tokoh besar dari golongan putih, namun tak seorang pun yang merasa akan sanggup menandingi kesaktian Setan Botak. Akhirnya, hati mereka lega, ketika Khu Cen Tiam dan Liem Sian berhasil mengundang Siauw-lim Chit-kiam (Tujuh Pendekar Pedang Siauw-lim-pai) yang masih terhitung paman-paman guru Kang-lam Sam-eng, atau murid-murid dari Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim-pai. Agaknya hanya Siauw-lim Chit-kiam ini sajalah yang akan sanggup menandingi musuh itu.
Selain Siauw-lim Chit-kiam yang di¬undang datang oleh Khu Cen Tiam dan Liem Sian, juga ada beberapa orang to¬koh undangan lain sehingga kedudukan Ho-han-hwe yang diadakan di Tiong-kwan itu cukup kuat. Namun mereka itu telah mengatur siasat dan rencana, karena khawatir kalau-kalau yang muncul bukan hanya Setan Bgtak sendiri dan siapa tahu kalau-kalau di belakang Setan Botak ini terdapat pasukan pemerintah penjajah yang akan membasmi mereka.
Demikianlah, pada hari yang ditetap¬kan, semua orang gagah berkumpul de¬ngan hati berdebar, dalam suasana penuh ketegangan. Mereka memilih tempat di sebuah kuil tua, yaitu sebuah kuil di luar kota Tiong-kwan sebelah barat. Kuil ini selain sudah tua tidak terpakai lagi, juga memiliki pekarangan yang luas dan jauh dari tetangga, letaknya sunyi dan dari tempat itu akan mudah diketahui kalau ada fihak musuh datang menyerang.
Semenjak pagi, sudah banyak ang¬gauta-anggauta Ho-han-hwe yang ber¬datangan. Sambungan pundak Liem Sian yang terlepas telah dapat disambung kembali, dan lengan Khu Cen Tiam juga sudah diobati dan masih terbalut. Semua ini dapat dilakukan berkat ilmu peng¬obatan yang tinggi dari seorang di antara Siauw-lim Chit-kiam. Namun tentu saja kedua orang ini masih harus beristirahat dan tidak mungkin dapat menghadapi dan ikut dalam pertandingan melawan musuh pandai. Ada tiga puluh orang lebih yang berkumpul, kesemuanya merupakan tokoh-tokoh yang tinggi ilmu silatnya. Akan tetapi yang menjadi pusat perhatian, juga menjadi pusat harapan mereka, adalah Siauw-lim Chit-kiam yang rata-rata berusia lima puluhan tahun dan bersikap tenang sekali, ditambah lagi dua orang tokoh undangan lain yang namanya tidak kalah tenarnya dari Siauw-lim Chit-kiam. Mereka ini adalah seorang laki-laki ting¬gi besar berkulit hitam dan seorang lagi kakek kurus kering bermuka pucat. Laki-laki tinggi besar itu bernama Giam Ki, akan tetapi lebih terkenal dengan julukan Ban-kin Hek-gu (Kerbau Hitam Selaksa Kati). Dari julukannya ini saja mudah diduga bahwa laki-laki tinggi besar ber¬usia empat puluhan tahun ini selain me¬miliki ilmu silat Bu-tong-pai yang lihai, juga memiliki tenaga yang dahsyat. Ada¬pun laki-laki berusia enam puluhan tahun yang kecil tubuhnya dan bermuka pucat itu amat terkenal dengan julukannya It-ci Sin-mo (Iblis Berjari Sakti) dan bernama Tan Sun. Kalau Giam Ki terkenal dengan tenaga luar yang dahsyat, adalah Tan Sun ini terkenal sebagai ahli lwee-keh (tenaga dalam) yang amat pandai mempergunakan jari tangan untuk me¬lakukan ilmu tiam-hiat-hoat (menotok jalan darah).
Akan tetapi berbeda dengan sikap Siauw-lim Chit-kiam yang tenang dan diam, kedua orang ini agak sombong dan berlagak memandang rendah ancaman Kang-thouw-kwi Gak Liat! Sikap ini ha¬nya mendatangkan perasaan lega dan percaya di antara golongan muda yang hadir di Ho-han-hwe itu, akan tetapi bagi mereka yang lebih tua, bahkan me¬nimbulkan kekhawatiran dan keraguan.
“Mengapa khawatir menghadapi Si Setan Botak?” Demikian antara lain Ban-kin Hek-gu berkata sambil meng¬angkat dadanya yang lebar dan kuat. “Kita sekalian hanya baru mendengar namanya sebagai seorang di antara Lima Datuk Hitam! Tak perlu gelisah! Macam datuk-datuk hitam yang berkecimpung di dunia kemaksiatan, mana mungkin bisa memiliki kesaktian tulen? Kalau dia datang, biarlah aku yang maju menghadapi¬nya!”
Karena semua orang maklum bahwa Si Kulit Hitam tinggi besar ini memang berkepandaian tinggi dan lihai sekali, mereka tidak mau membantah, apalagi mereka semua sedang dalam suasana berkabung. Sebuah meja sembahyang besar dipasang di tengah ruangan dan mereka tadi satu demi satu telah melakukan sembahyang untuk mengenang dan menghormat kematian teman-teman mereka, yaitu anggauta-anggauta Pek-lian Kai-pang yang telah dibasmi oleh Setan Bo¬tak secara mengerikan.
“Kami percaya akan kemampuan Giam-taihiap dan amat mengharapkan bantuan taihiap yang berharga,” kata pula Khu Cen Tiam tenang. “Akan tetapi kami harap sukalah Giam-taihiap dan semua saudara-saudara yang lain berhati-hati sekali. Setan Botak itu benar-benar amat lihai dan kesaktiannya dahsyat sekali. Kita telah mengatur rencana dan siasat, apabila dia datang dan tak dapat dilawan, kita harus mengandalkan tenaga bantuan ke tujuh orang susiok (Paman Guru) kami untuk menghadapinya.” Sambil berkata demikian, Khu Cen Tiam memandang ke arah tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai yang duduk diam dan sejak tadi tidak berkata-kata, hanya mendengarkan de¬ngan sikap tenang.
Seorang di antara Siauw-lim Chit-kiam yang tertua, kakek berjenggot putih panjang berpemandangan tajam dan bernama Song Kai Sin, berkata dengan suara halus dan tenang.
“Kami bukanlah anggauta-anggauta Ho-han-hwe dan kami datang memenuhi undangan murid-murid keponakan kami hanya karena seorang keponakan perempuan kami ditawan oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat. Meman, Gak Liat amat keji dan jahat, sudah menjadi kewajiban kami untuk menentangnya, apalagi kalau Bhok Khim dia ganggu. Akan tetapi, dia amat sakti, sungguhpun kami sendiri belum pernah melawannya, namun menurut perhitungan kami, hanya kalau kami bertujuh maju bersama, mungkin baru dapat menahannya. Kalau sudah terjadi demikian, hendaknya rencana diteruskan dan jangan pedulikan kami. Kami Siauw-lim Chit-kiam sekali turun tangan memenuhi kewajiban, sudah rela dan siap untuk mengorbankan nyawa untuk membersihkan dunia dari tangan kotor seorang di antara Lima Datuk Hitam.”
Setelah bicara demikian, Song Kai Sin kembali menundukkan mukanya dan bersamadhi seperti enam orang saudara seperguruannya. Ketika orang memperhatikan, kiranya tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai ini sejak tadi bersamadhi untuk mengumpulkan tenaga dan diam-diam mereka sedang meyakinkan latihan untuk menyatukan semangat dan sin-kang mereka. Untuk menghadapi seorang tokoh besar seperti Setan Botak, tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai ini yang sudah mak¬lum akan kelihaian lawan, tanpa banyak cakap telah berlatih dan bersiap-siap.
Lauw-pangcu, ketua Pek-lian Kai-pang yang hadir pula dalam pertemuan ini, telah mendapat pengobatan pula dari lukanya di sebelah dalam tubuh akibat pukulan jarak jauh Setan Botak. Wajah ketua Pek-lian Kai-pang ini pucat sekali dan tubuhnya masih lemah, namun semangatnya sama sekali tidaklah lemah, bahkan berkobar-kobar karena ia merasa sakit hati terhadap Setan Botak atas kematian hampir seluruh anggauta Pek-lian Kai-pang. Setelah membawa puteri¬nya, Sin Lian, ke rumah seorang sahabat¬nya di Tiong-kwan, menitipkan anak itu dan memesan kepada Sin Lian agar ja¬ngan keluar dari rumah, ia sebagai seorang terpenting dalam Ho-han-hwe itu lalu mengatur persiapan bersama Khu Cen Tiam dan Liem Sian. Mereka semua telah bersepakat menjalankan siasat, yaitu dengan cara apa pun harus dapat mereka tewaskan Si Setan Botak, kalau mungkin dalam pertandingan, kalau tidak mungkin, telah disediakan cara untuk membakar Setan Botak hidup-hidup di dalam kuil tua!
Setelah semua hadir, pertemuan itu dibuka oleh Lauw-pangcu yang membica¬rakan tentang usaha perlawanan Raja Muda Bu Sam Kwi di wilayah barat un¬tuk menentang pemerintah penjajah bang¬sa Mancu. Kemudian ia menceritakan pula malapetaka yang menimpa Pek-lian Kai-pang dan dengan suara pilu bercam¬pur sesal hebat ia menambahkan.
“Kalau saya merenungkan betapa malapetaka ini didatangkan oleh.... murid saya sendiri.... sungguh perih sekali perasaan hatiku....” Tak tertahankan lagi, Lauw-pangcu yang sudah tua ini menitikkan air mata. Ia merasa menyesal bukan main telah bertemu Sie Han dan mengambil anak itu sebagai murid. Lebih-lebih perih rasa hatinya betapa muridnya itu membawa datang Si Setan Botak, bahkan membawakan buntalan yang isi¬nya lima buah kepala pembantu-pembantu¬nya! Kenangan ini mendatangkan ke¬marahan luar biasa dan biarpun lukanya masih belum sembuh benar, ia menggerak-kan tangan menghantam remuk sisa arca batu di sampingnya sambil berkata, “Se¬lama hidup aku takkan melupakan murid murtad yang bernama Sie Han itu! Sekali waktu tentu akan kubalas dendam ini!” Napasnya terengah dan ia menyambung, “Mohon bantuan para saudara untuk kelak menangkap murid ini dan menyerahkan¬nya kepada saya.” Setelah berkata demi¬kian, Lauw-pangcu muntahkan darah se¬gar. Song Kai Sin, orang pertama dari Siauw-lim Chit-kiam, berkata tenang.
“Lauw-pangcu, seorang gagah dapat menerima segala keadaan, betapapun buruknya, dengan penuh kesabaran dan ketenangan. Keluh-kesah dan kesedihan tiada gunanya, hanya akan melemahkan semangat dan badan.” Kemudian ia bangkit berdiri, menghampiri Lauw-pangcu dan menggunakan dua jari tangan kirinya menotok jalan darah di punggung ketua Pek-lian Kai-pang yang akhirnya menjadi tenang kembali.
Akan tetapi ucapan kakek ini telah membangkitkan amarah di hati para orang gagah yang hadir dan diam-diam mereka ini pun membenci Sie Han, apa¬lagi Khu Cen Tiam dan Liem Sian dua orang murid Siauw-lim-pai itu yang menganggap bahwa hilangnya sumoi mereka adalah gara-gara murid murtad itu pula. Kalau murid murtad Lauw-pangcu tidak berkhianat, tentu Setan Botak tidak akan datang dan sumoi mereka tidak akan terculik.
Para anggauta Ho-han-hwe itu lalu saling menceritakan hasil perjuangan mereka menentang penjajah dan mengatur siasat untuk melakukan gerakan-gerakan selanjutnya. Ada yang mengusulkan agar mereka itu menculik anak-anak para pembesar Mancu sehingga selain hal ini merupakan pukulan batin bagi para pembesar penjajah, juga dapat mereka pergunakan untuk membebaskan teman-teman seperjuangan yang ditawan. Usul ini diterima, bahkan It-ci Sin-mo Tan Sun dan Ban-kin Hek-gu Giam Ki masing-masing berjanji untuk menculik anak pernbesar yang paling tinggi kekuasaannya, kalau mungkin malah akan menculik putera Raja Mancu! Kesanggupan kedua orang sakti ini tentu saja disambut gembira. Di antara mereka yang hadir dan membicarakan semua rencana perlawanan dengan bermacam cara terhadap penjajah ini, hanya Siauw-lim Chit-kiam saja yang tidak mencampuri dan mereka tetap bersamadhi sambil melatih diri untuk menghadapi Setan Botak yang mereka tahu amatlah lihainya.
Akan tetapi, sehari itu mereka me¬nanti-nanti, Setan Botak belum juga tam¬pak muncul. Menjelang senja, tiba-tiba dari luar menyambar sebatang piauw beronce merah ke arah Khu Cen Tiam. Pendekar Siauw-lim-pai ini cepat meng¬ulurkan tangan dan menyambar piauw itu sambil berseru heran karena ia mengenal piauw ini sebagai senjata rahasia sumoi¬nya. Juga Liem Sian mengenalnya, maka pendekar ke dua dari Kang-lam Sam-eng ini sudah melesat tubuhnya keluar dari kuil tua dan terdengar suaranya di luar kuil.
“Sumoi....!”
Akan tetapi, tak lama kemudian Liem Sian kembali ke dalam kuil dengan wajah muram dan pandang mata heran. “Dia benar sumoi, akan tetapi sudah pergi jauh.” Ucapan ini ia tujukan kepada suhengnya.
Khu Cen Tiam menarik napas pan¬jang. “Biarlah, memang dia tidak ingin datang ke sini, buktinya ini dia mengirim surat dengan piauwnya. Betapapun juga, dia selamat, sute, dan kita boleh ber¬syukur karenanya.”
Akan tetapi setelah Khu Cen Tiam membuka surat yang terikat pada piauw tadi, keningnya berkerut dan ia menoleh ke arah Siauw-lim Chit-kiam yang masih bersamadhi. “Susiok, teecu persilakan membaca surat sumoi,” bisik Khu Cen Tiam kepada Song Kai Sin.
Kakek ini membuka mata memandang, lalu dengan tenang mengulur tangan me¬nerima surat dan dibacanya. Wajahnya masih tenang, namun pandang matanya mengandung sinar kilat, lalu menyerahkan surat itu kepada hwesio gendut di se¬belahnya, orang ke dua dari Siauw lim Chit-kiam. Hwesio ini menerima surat, membaca dan bibirnya bergerak, “Omitohud....!” lalu menyerahkan surat itu kepada orang ke tiga. Sebentar saja su¬rat itu beralih tangan dan Siauw-lim Chit-kiam sudah membaca semua. Yang terakhir dari ketujuh orang tokoh Siaiw-lim-pai ini adalah seorang kakek kurus bermuka merah. Setelah membaca surat itu, bibirnya mengeluarkan suara men¬desis seperti ular dan surat yang dikepalnya itu hancur menjadi bubuk ketika ia membuka kembali tangannya! Kemarahannya membuat kakek ini lupa diri dan kekuatan yang ia perlihatkan sungguh dahsyat. Mengepal hancur benda keras bukanlah hal yang amat mengagumkan, akan tetapi mengepal benda lemas seper¬ti kertas sampai hancur membubuk, benar-benar tidaklah mudah dilakukan oleh sembarang ahli!
“Chit-te (Adik ke Tujuh), simpan te¬nagamu untuk menghadapi lawan tangguh, bukan diumbar dan habis dihisap ke¬marahan,” kata pula Song Kai Sin dengan nada menegur. Orang ke tujuh yang bernama Liong Ki Tek ini menghela napas panjang dan segera meramkan mata kembali.
Apakah bunyi surat yang dikirim se¬cara aneh oleh Bhok Khim itu? Bunyinya pendek saja namun isinya difahami oleh dua orang suhengnya dan tujuh orang susioknya. 
Kedua Suheng,
Perbuatan keji biadab Kang-thouw-kwi memaksa aku tidak ada muka untuk bertemu dengan orang lain, memaksa aku pergi mengurung diri ke dalam “kamar siksa diri” di kuil. Ka¬lau suheng berdua dapat menewaskan¬nya, syukurlah. Kalau tidak, aku akan memperdalam ilmu dan kelak aku sendiri yang akan menghancurkan kepalanya.
Bhok Khim.
 
Tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai itu diam-diam mengeluh dan menangis dalam hati. Mereka tahu bahwa murid wanita Siauw-lim-pai itu telah diperhina oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat dan mereka tahu bahwa mengurung diri ke dalam “kamar siksa diri” merupakan perbuatan nekat seperti orang membunuh diri.
“Siauw-lim Chit-kiam akan mengadu nyawa dengan Kang-thouw-kwi....!” Tiba-tiba Song Kai Sin berseru keras ke arah luar kuil. Semua orang terkejut dan ketika mereka memandang keluar, ternyata Kang-thouw-kwi Gak Liat sudah tampak berdiri di luar kuil bersama dua orang lain yang kelihatan amat menarik karena perbedaan muka mereka. Yang seorang bertubuh tinggi besar bermuka hitam seperti pantat kwali, adapun yang se¬orang lagi bertubuh pendek kurus bermuka putih seperti kapur! Akan tetapi mereka yang mengenal dua orang ini maklum bahwa dua orang yang menemani Si Setan Botak ini bukanlah sembarang orang, melainkan tokoh-tokoh hitam yang amat terkenal, yaitu kakak beradik yang terkenal dengan julukan Hek-pek Giam-ong (Raja Maut Hitam Putih)! Mereka ini adalah murid-murid Si Setan Botak. Ma¬sih ada seorang lagi murid Si Setan Bo¬tak, yaitu seorang murid wanita yang bernama Ma Su Nio, berjuluk Hiat-ciang Sian-li (Dewi Bertangan Darah) yang kabarnya malah lebih lihai daripada Hek-pek Giam-ong dan lebih kejam daripada gurunya. Akan tetapi iblis wanita itu tidak nampak hadir.
“Hah-ha-ha-ha-ha!” Terdengar Si Setan Botak tertawa, akan tetapi tidak mengeluarkan kata-kata, hanya tertawa dengan nada mengejek. Yang membuka mulut bicara adalah Hek-giam-ong, muridnya yang bermuka hitam. Hek-giam-ong me¬langkah maju dan berkata, suaranya nya¬ring sekali.
“Bukankah Siauw-lim Chit-kiam murid-murid Ceng San Hwesio? Sejak kapankah murid-murid Ceng San Hwesio bersekutu dengan para pemberontak?”
“Sejak iblis-iblis macam kalian mem¬bantu penjajah Mancu!” bentak Ban-kin Hek-gu Giam Ki yang suaranya lebih menggeledek dari suara Si Muka Hitam. “Kalau kalian berani, masuklah ke dalam kuil, di sini lega dan memang sudah disediakan untuk kita bertanding meng¬adu ilmu!” Tantangan Ban-kin Hek-gu Giam Ki ini bukan sekedar karena wa¬taknya yang keras dan kasar, melainkan menurut rencana Ho-han-hwe untuk me¬mancing musuh yang tangguh ke dalam kuil.
“Hah-ha-ha-ha-ha!” Si Setan Botak makin keras tertawa dan ia melangkah memasuki kuil, diikuti oleh dua orang muridnya yang kelihatan agak ragu-ragu. Hek-pek Giam-ong maklum betapa ber¬bahaya memasuki “sarang” musuh, akan tetapi karena di situ ada guru mereka, dan melihat guru mereka sudah memasuki kuil, tentu saja mereka berbesar hati dan melangkah masuk sambil mengangkat dada.
Suara ketawa Si Setan Botak makin nyaring dan biarpun mereka bertiga su¬dah tiba di ruangan kuil yang luas, kakek botak ini masih tertawa terus, makin lama makin keras dan terkejutlah mereka semua yang hadir karena tubuh mereka tergetar hebat oleh suara ketawa yang mengandung tenaga khi-kang amat luar biasa ini. Hanya mereka yang sudah tinggi tingkat sin-kangnya saja yang tidak terpengaruh, hanya tergetar dan masih mampu mengatasi getaran hebat ini. Siauw-lim Chit-kiam, kedua Kang-lam Sam-eng, Lauw-pangcu, Ban-kin Hek-gu dan It-ci Sin-mo yang masih dapat bertahan, sungguhpun mereka ini diam-diam harus mengerahkan sin-kang untuk melawan suara ketawa itu. Beberapa orang anggauta Ho-han-hwe juga masih mampu melawan sambil cepat duduk bersila, akan tetapi belasan orang lain yang tingkat tenaga sin-kang mereka ma¬sih kurang kuat, sudah terjungkal dan cepat-cepat merangkak lalu berlari men¬jauhi ruangan itu ke sebelah belakang kuil sambil menutupi telinga mereka! Kalau mereka tidak cepat pergi dan me¬nutupi telinga, mereka akan mati oleh suara ketawa itu yang mengguncangkan jantung!
Melihat ini, Ban-kin Hek-gu Giam Ki yang berwatak keras berangasan menjadi marah sekali. Ia seorang ahli silat tinggi dan tentu saja maklum bahwa Setan Botak itu memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa, mengerti bahwa orang yang telah pandai mempergunakan khi-kang dalam suaranya untuk menyerang lawan dengan Ilmu Ho-kang seperti auman sua¬ra harimau, adalah seorang sakti yang sukar dikalahkan. Akan tetapi, selain kasar dan keras, Ban-kin Hek-gu ini juga terkenal tidak pernah takut menghadapi siapapun juga. Dengan kemarahan memuncak, keberaniannya bertambah dan ia menerjang maju menyerang Si Setan Botak sambil berseru.
“Setan Botak! Jangan menjual lagak di depan Ban-kin Hek-gu!”
Ban-kin Hek-gu bertenaga besar dan kini menyerang dengan penuh kemarahan, maka pukulan tangan kanannya yang dikepal mengarah kepala Kang-thouw-kwi Gak Liat amatlah dahsyatnya. Pukulan belum tiba anginnya sudah menyambar hebat. Akan tetapi kakek botak itu tenang-tenang saja, masih tertawa lebar sungguhpun sudah tidak mengeluarkan suara lagi. Setelah kepalan tangan yang besar itu menyambar dekat, hanya tinggal sepuluh sentimeter lagi dari dahinya, kakek ini mengangkat tangan kirinya dan menerima kepalan tangan Ban-kin Hek-gu dengan telapak tangan.
“Plakkk!”
Si Kerbau Hitam itu terkejut bukan main karena merasa betapa telapak ta¬ngan Setan Botak itu lunak dan panas seperti air mendidih, di mana tenaganya sendiri seperti tenggelam. Cepat ia me¬narik tangannya, akan tetapi kepalan itu melekat pada telapak tangan Setan Bo¬tak yang tertawa-tawa. Ban-kin Hek-gu Giam Ki meronta-ronta dan rasa panas dari telapak tangan itu menerobos lengannya, membuat tubuhnya mandi keringat dan mukanya yang hitam ber¬ubah makin hitam.
“Ha-ha-ha, siapa yang berlagak?” Kang-thouw-kwi Gak Liat tertawa. “Per¬gilah, kau tidak berharga untuk bertan¬ding melawan aku!” Sekali kakek botak itu mendorongkan lengannya, Ban-kin Hek-gu Giam Ki terlempar ke belakang dan jatuh bergulingan. Akan tetapi dia memang bandel dan berani. Cepat ia me-loncat bangun lagi dan memaki.
“Siluman botak! Hayo bertanding menggunakan ilmu silat, jangan meng¬gunakan ilmu siluman! Aku masih dapat berdiri, sebelum mati aku Giam Ki tidak sudi mengaku kalah terhadapmu!”
“Phuahhh, sombongnya!” Hek-giam-ong yang juga bermuka hitam dan sama tinggi besarnya dengan Giam Ki sudah melompat maju dan bertolak pinggang. “Engkau ini berjuluk Kerbau Hitam, me¬mang otakmu seperti otak kerbau! Suhu¬ku telah berlaku lunak terhadapmu, akan tetapi kau masih banyak lagak. Kerbau macam engkau ini tidak perlu suhu me¬layaninya, cukup dengan aku yang akan mencabut nyawa kerbaumu!”
“Bagus! Memang hendak kubasmi sampai ke akar-akarnya, baik guru maupun murid harus dibasmi agar jangan mengo¬tori dunia!” Ban-kin Hek-gu Giam Ki sudah menerjang maju dengan kepalan¬nya yang besar. Akan tetapi sekali ini ia bertemu tanding, sama tinggi besar dan karenanya suka mempergunakan tenaga kasar. Dengan ilmu Toat-beng Hwi-ciang (Tangan Api Pencabut Nyawa) ditambah tenaganya yang besar, dia benar amat lihai. Melihat datangnya pukulan Giam Ki, ia tidak mengelak melainkan menangkis dengan lengannya.
“Dukkk!” Dua buah lengan yang besar dan kuat bertumbuk dan keduanya ter¬pental ke belakang. Tenaga mereka se¬imbang, akan tetapi Hek-giam-ong me¬nang dalam hal “isi” lengannya yang mengandung hawa panas. Giam Ki me¬rasa betapa lengannya panas akan tetapi ia maju terus dan ternyata bahwa gerak¬an tubuhnya lebih cepat daripada gerak¬an Hek-giam-ong. Dengan kemenangan ini ia bisa menutup kekalahannya dalam hal ilmu pukulan Hwi-ciang.
Segera terdengar suara bak-bik-buk dan dak-duk-dak-duk ketika dua orang raksasa ini saling gebuk. Mereka ini se¬lain bertenaga besar, juga memiliki kekebalan sehingga pukulan yang tidak tepat kenanya, tidak cukup merobohkan mereka. Akan tetapi terjadi perubahan aneh pada diri Ban-kin Hek-gu Ciam Ki sehingga membuat teman-temannya yang tentu saja menjagoinya menjadi heran dan juga gelisah. Kini raksasa tinggi besar hitam ini sering mempergunakan kedua tangannya bukan untuk menyerang lawan, melainkan untuk menggaruk-garuk seluruh bagian tubuhnya!
Karena diseling dengan garuk sana garuk sini, pertandingan menjadi kacau karena ternyata gerakan-gerakan meng¬garuk ini malah membingungkan Hek-giam-ong. Raja Maut Hitam ini sudah mengirim pukulan Toat-beng Hwi-ciang ke arah dada lawan. Ketika melihat ta¬ngan kiri Giam Ki bergerak menuju ke dada, Hek-giam-ong menarik kembali pukulannya karena takut lengannya dicengkeram. Akan tetapi ternyata bahwa Giam Ki menggerakkan tangan itu bukan untuk mencengkeram tangan lawan, me¬lainkan untuk menggaruk-garuk keras dadanya. Kemudian Giam Ki berseru aneh dan membawa tangan kanannya ke atas seperti hendak menyerang dari bagi¬an atas. Melihat ini, Hek-giam-ong cepat mengelak, akan tetapi kembali ia kecelik karena tangan kanan yang bergerak ke atas itu kini menggaruk-garuk kepala! Kejadian-kejadian ini aneh dan lucu sekali, juga menegangkan dan mendatang¬kan kekecewaan bagi para teman kedua fihak. Hek-giam-ong menjadi marah, merasa seolah-olah ia dipermainkan, ma¬ka ia menerjang lagi dengan gerakan dahsyat.
Giam Ki yang diam-diam mengeluh di hatinya karena secara tiba-tiba tubuhnya diserang penyakit gatal yang tak tertahankan, cepat menangkis dan kembali pertemuan dua lengan yang kuat itu membuat mereka terpental mundur. Giam Ki meloncat maju lagi, kini menggerakkan tangan kiri ke atas. Hek-giam-ong meragu. Hendak memukul ataukah hendak garuk-garuk tangan itu? Akan tetapi ia tidak mau menanggung resiko dan cepat menggerakkan kedua tangan ke atas, maksudnya kalau lawan memukul benar-benar, ia akan menangkap lengan itu dan akan mematahkannya, kalau hanya garuk-garuk, ia akan mencengkeram kepala lawan.
Dan ternyata tangan kiri Giam Ki itu kembali hanya menggaruk kepala, akan tetapi kepalan kanannya sudah menonjok ke depan. Gerakan ini sama sekali tidak tersangka oleh Hek-giam-ong sehingga dadanya tertonjok.
“Bukkk!” Tubuh Hek-giam-ong terjengkang dan bergulingan di atas tanah. Dadanya ampek, napasnya sesak dan setelah terbatuk-batuk, barulah ia me¬loncat bangun dan menghadapi lawannya dengan mata merah. Akan tetapi Giam Ki tidak peduli dan masih terus garuk-garuk.
“Kau masih belum mampus?” bentaknya dan kembali ia menerjang. Memang gerakan Giam Ki lebih cekatan daripada Hek-giam-ong. Kembali tangan Giam Ki diangkat ke atas.
Hek-giam-ong mengejek dengan dengusan marah, ia tidak mau ditipu lagi dan tahu bahwa lawannya yang agaknya mempunyai penyakit kudis ini tentu meng¬angkat tangan untuk menggaruk kepala yang gatal. Maka ia pun tidak mau meng¬elak, bahkan cepat melangkah maju dan menonjok dada Giam Ki.
“Bukkk! Desssss....!” Dua tubuh yang tinggi besar itu terjengkang dan Ban-kin Hek-gu Giam Ki roboh kelenger (pingsan) karena terton¬jok dadanya sehingga napasnya menjadi sesak, akan tetapi di lain fihak, Hek-¬giam-ong tadi pun kecelik karena sekali ini Giam Ki mengangkat tangan bukan untuk garuk-garuk lagi melainkan untuk memukul sehingga dalam saat yang bersamaan, Giam Ki berhasil menghantam pangkal leher Hek-giam-ong dengan ta¬ngan miring. Robohlah Hek-giam-ong dan tidak bergerak-gerak karena ia pun telah semaput (pingsan)!
Pek-giam-ong sudah menyambar tubuh kakaknya dan ia merasa lega bahwa ka¬kaknya tidak terluka parah, hanya ter¬guncang oleh kerasnya pukulan. Di lain fihak, para anggauta Ho-han-hwe telah mengangkat tubuh Ban-kin Hek-gu, di¬pimpin oleh Lauw-pangcu. Atas isyarat Song Kai Sin orang pertama Siauw-lim Chit-kiang tubuh Giam Ki yang pingsan itu dibawa mendekat. Song Kai Sin cepat memeriksa dan ia menghela napas panjang.
“Untung....” kata tokoh Siauw-lim-pai ini. “Tadinya ia keracunan maka ke¬tika bertanding terus diganggu rasa ga¬tal-gatal di tubuhnya. Tentu ia terkena racun ketika beradu tangan dengan iblis tua itu. Baiknya, pukulan Hek-giam-ong tadi pun mengandung hawa panas dan pukulan ini malah membuyarkan pengaruh racun di tubuhnya sehingga nyawanya tertolong.”
Pek-giam-ong yang marah menyaksi¬kan saudaranya terluka, kini melangkah maju dengan sikap menantang. Akan tetapi ia dibentak gurunya, “Mundurlah!” bagaikan seekor anjing dipecut, Pek-giam-ong mundur dan kembali ia merawat kakaknya. Kini Kang-thouw-kwi Gak Liat melangkah maju, menyapu semua ang¬gauta Ho-han-hwe dengan pandang mata yang membuat mereka itu merasa seram, kemudian sambil tersenyum lebar Si Se¬tan Botak ini berkata.
“Aku sudah datang, siapa di antara anggauta Ho-han-hwe yang ternyata ha¬nyalah segerombolan pemberontak ingin menyusul para anggauta Pek-lian Kai-pang?” Suaranya penuh ejekan, akan te¬tapi matanya menatap ke arah Siauw-lim Chit-kiam karena hanya tokoh-tokoh Siauw-lim-pai ini sajalah yang dipandang cukup berharga untuk menjadi lawannya.
It-ci Sin-mo Tan Sun biarpun tubuh¬nya kecil namun hatinya besar. Ia mak¬lum akan kelihaian kakek botak ini, na¬mun ia merasa tidak puas kalau ia tidak turun tangan. Kalah atau mati sekalipun bukan apa-apa bagi seorang patriot, akan tetapi sungguh hina dan rendah kalau dianggap takut bertemu dengan lawan tangguh.
“Kang-thouw-kwi! Engkau bukan saja seorang datuk hitam yang jahat, juga sekarang malah menjadi pengkhianat bangsa! Aku It-ci Sin-mo Tan Sun tidak takut kepadamu, jagalah seranganku ini!”
Gerakan It-ci Sin-mo Tan Sun cepat sekali, jauh lebih cepat daripada gerakan Ban-kin Hek-gu Giam Ki. Tubuhnya me¬lesat ke depan dan kedua tangannya digerakkan untuk menyerang dengan totok¬an-totokan maut. Si Setan Botak ter¬tawa-tawa dan hanya tampak ia menggoyang-goyangkan tubuhnya akan tetapi aneh, semua totokan It-ci Sin-mo tidak ada satu pun yang menyentuh kulitnya.
“Sut-sut-sut-cet-cet....!” Cepat sekali It-ci Sin-mo Tan Sun melanjutkan totok¬an-totokannya secara bertubi-tubi, tubuh¬nya berloncatan mencari posisi yang baik. Namun, tak pernah ia mampu me¬ngenai tubuh lawan biarpun kecepatan gerakannya membuat ia berada di belakang tubuh Si Setan Botak. Padahal Kang-thouw-kwi Gak Liat tak pernah meng¬ubah kedudukan kedua kakinya, hanya tubuhnya saja yang bergoyang-goyang akan tetapi entah bagaimana semua se¬rangan lawan tidak ada yang berhasil.
Belasan orang anggauta Ho-han-hwe yang melihat betapa It-ci Sin-mo seperti dipermainkan, sudah bergerak mengurung hendak mengeroyok Si Setan Botak. Melihat ini, Pek-giam-ong berteriak keras dan tubuhnya menyambar ke depan, lang¬sung ia menyerbu dan gegerlah tempat itu dengan jerit-jerit kesakitan dan ro¬bohnya beberapa orang anggauta Ho-han-hwe karena amukan Pek-giam-ong.
“Krek-krekkk....!” Setan Botak menggerakkan kedua tangan menampar lengan lawan dan tubuh It-ci Sin-mo Tan Sun terlempar, kedua tengannya tergantung lumpuh karena tulang-tulang lengan¬nya telah patah-patah!
“Huah-ha-ha-ha! Pek-giam-ong, pergi¬lah dan bawa kakakmu pergi!”
Pek-giam-ong yang terkenal berwatak kejam seperti iblis itu kini merupakan seorang murid yang amat taat. Tanpa berani berlambat sedikit pun ia lalu meninggalkan para lawan yang tadi menge¬royoknya, menyambar tubuh kakaknya yang masih pingsan lalu sekali melompat ia lenyap dari tempat itu. Lauw-pangcu dan kedua orang saudara Kang-lam Sam-eng membiarkannya saja lewat, karena yang menjadi sasaran untuk dibinasakan adalah Si Setan Botak yang kini hanya seorang diri saja di dalam kuil.
“Ha-ha-ha, Siauw-lim Chit-kiam, ha¬nya kalianlah yang patut main-main de¬nganku. Majulah!”
Lima orang anggauta Ho-han-hwe yang masih penasaran karena banyaknya kawan mereka yang roboh, masih men¬coba untuk menyerang Si Setan Botak dengan senjata mereka, akan tetapi kini kakek botak itu berseru keras, kedua tangannya mendorong ke depan dan.... lima orang itu roboh dengan tubuh ha¬ngus dan mati seketika! Itulah kehebatan ilmu pukulan Hwi-yang-sin-ciang yang sengaja diperlihatkan oleh Kang-thouw-kwi untuk membikin gentar hati lawan. Memang semua anggauta Ho-han-hwe menjadi pucat wajahnya melihat kedahsyatan ilmu kepandaian kakek botak ini, akan tetapi melihat itu, Siauw-lim Chit-kiam bukannya menjadi gentar, se¬baliknya malah menjadi marah sekali.
“Kang-thouw-kwi, engkau telah berani menghina seorang murid Siauw-lim-pai. Hari ini kami Siauw-lim Chit-kiam akan mengadu nyawa denganmu! Beranikah engkau menghadapi gabungan Siauw-lim Chit-kiam?” kata Song Kai Sin dengan suara tenang namun sinar matanya membayangkan kemarahan.
“Huah-ha-ha-ha! Siauw-lim Chit-kiam masih terlalu ringan, boleh ditambah guru kalian. Mana Ceng San Hwesio ke¬tua Siauw-lim-pai? Boleh datang mem¬bantu kalian, aku masih akan kurang puas. Ha-ha!”
“Omitohud.... engkau benar-benar tokoh sesat yang sengsara, Gak-locian¬pwe,” kata Lui Kong Hwesio orang ke dua dari Siauw-lim Chit-kiam sambil menggeser duduknya, bersila di sebelah kiri Song Kai Sin.
Kemudian secara berjajar, ketujuh orang tokoh Siauw-lim-pai ini duduk ber¬sila, menurutkan urutan tingkat mereka. Dari kanan ke kiri mereka ini adalah Song Kai Sin, Lui Kong Hwesio, Ui Swan dan adiknya Ui Kiong, Lui Pek Hwesio, Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek. Sebetul¬nya, tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai ini merupakan orang-orang berilmu tinggi yang mempunyai keistimewaan masing-masing. Jika dinilai secara perseorangan, tingkat masing-masing masih lebih tinggi daripada tingkat Ban-kin Hek-gu Giam Ki atau bahkan It-ci Sin-mo Tan Sun. Akan tetapi, sekali ini, menghadapi se¬orang di antara Lima Datuk Besar, ya¬itu Kang-thouw-kwi Gak Liat yang amat terkenal di antara golongan sesat sebagai seorang yang memiliki kesaktian luar biasa, ketujuh orang takoh Siauw-lim-pai ini tidak berani berlaku sembrono, tidak berani memandang rendah dan ka¬renanya mereka lalu bergabung untuk mengeluarkan ilmu gabungan mereka yang paling ampuh, yaitu Ilmu Pedang Chit-seng-sin-kiam yang secara khusus digubah oleh Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim-pai untuk diajarkan kepada tujuh orang muridnya. Chit-seng-sin-kiam (Pedang Sakti Tujuh Bintang) ini dapat dimainkan secara perorangan dan sudah merupakan sebuah ilmu pedang yang am¬puh, akan tetapi permainannya tidak akan menjadi lengkap dan utuh kalau tidak dimainkan secara bergabung oleh tujuh orang itu. Kalau dimainkan secara bergabung, maka Chit-seng-sin-kiam me¬rupakan sebuah kiam-tin (barisan pedang) yang sukar dilawan karena amat kuat.
Kang-thouw-kwi Gak Liat memandang dengan wajah berseri. Sudah lama ia mendengar akan ciptaan ilmu pedang ketua Siauw-lim-pai ini yang disarikan dari inti ilmu kepandaian Ceng San Hwe¬sio. Kini ia berhadapan dengan kiam-tin ini, berarti bahwa ia berhadapan dengan Ceng San Hwesio, yang sejak dahulu merupakan lawan seimbang dari¬nya. Kalau ia bisa menangkan kiam-tin ini, berarti ia akan dapat menangkan Ceng San Hwesio pula! Ia melihat betapa tujuh orang murid Siauw-lim-pai itu su¬dah duduk bersila dengan pedang di ta¬ngan kanan, pandang mata lurus ke de¬pan menatapnya. Bahkan tujuh pasang mata itu seolah-olah bersatu ketika memandangnya, menimbulkan wibawa yang kuat sekali.
“Ha-ha-ha, bagus sekali! Memang aku sudah lama ingin melihat sampai di mana lihainya Chit-seng-sin-kiam dari Ceng San Hwesio!” Sambil tertawa, kakek bo¬tak ini lalu duduk bersila pula di depan ketujuh orang tokoh Siauw-lim-pai. Jarak di antara Setan Botak dan tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai itu ada tiga meter jauhnya, dan kalau tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai itu semua bersenjatakan pedang pusaka, adalah Setan Botak ini sambil tersenyum menghadapi mereka dengan kedua tangan kosong! Memang datuk hitam ini sombong, akan tetapi kesombongannya tidaklah kosong belaka. Ia memang amat sakti dan biarpun kakek botak ini menyimpan sebatang pedang lemas yang ia belitkan di pinggang sebelah dalam bajunya, namun tidak pernah orang melihat ia mempergunakan senjata dalam pertempuran. Hal ini berarti bah¬wa ia masih memandang rendah Siauw-lim Chit-kiam!
Song Kai Sin dapat menduga sikap lawan, maka ia pun tidak mau banyak sungkan lagi. Kakek botak ini selain merupakan tokoh sesat yang amat jahat dan sudah sepatutnya dibasmi, juga telah menghina murid keponakan mereka, telah mencemarkannya dan berarti mencemar¬kan kehormatan Siauw-lim-pai pula. Oleh karena itu, Song Kai Sin dan adik-adik seperguruannya maklum bahwa sekali ini mereka akan bertanding mati-matian, bukan saja untuk melenyapkan seorang tokoh sesat yang jahat, juga untuk mem¬pertabankan nama dan kehormatan Siauw-lim-pai.
“Sudah siapkah engkau, Kang-thouw-kwi?”
“Ha-ha, sudah, sudah! Lekas keluarkan Chit-seng-sin-kiam itu!” jawab Si Botak sambil menggerak-gerakkan kedua lengan¬nya yang segera menjadi kemerahan.“Lihat pedang!” Song Kai Sin berseru dan pedang di tangannya itu ia tusukan ke depan. Menurut pendapat dan pan¬dangan umum, biarpun lengan dilonjorkan ditambah panjangnya pedang, masih be¬lum dapat melewati jarak tiga meter itu. Akan tetapi tanpa dapat dilihat mata, dari ujung pedang itu menyambar hawa pukulan yang amat kuat sehingga selain tampak sinar pedang yang keemasan juga terdengar suara mencicit yang aneh. Kang-thouw-kwi mengangkat lengan kiri¬nya dan menggetarkan jari tangannya. Tentu saja tangannya tidak menyentuh pedang yang dipegang Song Kai Sin, akan tetapi jelas tampak betapa pedang itu terpental dan lengan tangan orang per¬tama dari Siauw-lim Chit-kiam itu ter¬getar!
Melihat kehebatan tenaga sin-kang yang amat panas dari tangan Setan Bo¬tak, tokoh Siauw-lim-pai yang lainnya maklum bahwa mereka harus maju ber¬sama. Maka serentak pedang-pedang me¬reka bergerak, ada yang membacok, ada yang menusuk, ada pula yang membabat. Tampak sinar pedang berkelebatan me¬nyilaukan mata, pantulan cahayanya ge¬merlapan di dinding ruangan yang luas itu. Apalagi setelah beberapa orang ang¬gauta Ho-han-hwe tadi menyalakan belas¬an batang lilin dan menaruh lilin-lilin itu di atas lantai di kanan kiri ruangan, maka sinar-sinar pedang itu menjadi amat indahnya. Tanpa terasa, senja telah berganti malam dan kini para anggauta Ho-han-hwe menonton pertandingan yang amat aneh dan yang belum pernah me¬reka saksikan selama hidupnya.
Betapa mereka tidak akan terheran-heran dan bengong menyaksikan pertan¬dingan itu? Baik ketujuh orang tokoh Siauw-lim-pai itu maupun Setan Botak, hanya duduk berhadapan, bersila di atas lantai dan jarak antara mereka terlampau jauh sehingga mereka itu tidak dapat saling menyentuh. Akan tetapi, kini mereka “bertanding” dan tujuh orang itu mengeroyok Si Setan Botak dengan se¬rangan-serangan pedang yang berubah menjadi sinar-sinar gemerlapan. Sebalik¬nya, Setan Botak menggerak-gerakkan kedua lengannya, kadang-kadang menang¬kis, ada kalanya mencengkeram dan men¬dorong, bahkan balas memukul tanpa menyentuh pedang dan tubuh para penge¬royoknya. Kedua tangannya kini selain berwarna merah seperti api membara, juga mengepulkan uap putih seperti asap panas!
Kalau dilihat begitu saja, seolah-olah Si Setan Botak dan ketujuh Siauw-lim Chit-kiam sedang bermain-main. Mereka tidak saling sentuh, namun mereka ber¬gerak dengan sungguh-sungguh dan ruang¬an itu kini seperti dihujani sinar-sinar gemerlapan dan udara menjadi sebentar panas sebentar dingin. Hanya beberapa orang saja di antara mereka, yaitu Lauw-pangcu, kedua Kang-lam Sam-eng, Ban-kin Hek-gu yang sudah sadar dari pingsannya, dan It-ci Sin-mo yang maklum apa yang sedang terjadi dan mereka memandang dengan hati penuh ketegangan. Mereka ini mengerti bahwa Siauw-lim Chit-kiam sedang bertanding me¬lawan Si Setan Botak mengadu ilmu pe¬dang yang digerakkan oleh tenaga sin-kang tingkat tertinggi! Mengerti pula betapa selain sinar-sinar gemerlapan itu me¬ngandung hawa maut, juga gerakan ta¬ngan Setan Botak itu mengandung hawa pukulan jarak jauh yang amat dahsyat.
Akan tetapi mereka yang tidak me¬ngerti cara pertandingan seperti ini, men¬jadi amat penasaran. Si Setan Botak dan kedua muridnya telah menyebar maut, kini Setan Botak itu hanya duduk bersila dan menggerak-gerakkan kedua tangan. Bu¬kankah ini membuka kesempatan baik untuk membinasakannya? Mereka yang merasa amat benci kepada Setan Botak ini yang sudah membasmi Pek-lian Kai-pang dan menewaskan lima puluh orang lebih anggauta perkumpulan itu yang merupakan kawan-kawan seperjuangan mereka, kini ingin membalas dendam. Tujuh orang anggauta Ho-han-hwe setelah saling memberi isyarat dengan kedipan mata dan diam-diam mengambil jalan memutar, serentak maju menerjang tubuh kakek botak yang bersila itu dari bela¬kang. Mereka bertujuh menggunakan sen¬jata dan menyerang secara berbareng.
“Celaka....!” It-ci Sin-mo Tan Sun berseru. Juga teman-temannya yang tahu akan bahaya mengancam, berseru kaget namun sudah tidak keburu mencegah. Segera terdengar jerit-jerit mengerikan disusul robohnya tujuh orang anggauta Ho-han-hwe itu yang roboh tewas dengan tubuh tersayat-sayat dan ada pula yang roboh dengan tubuh hangus! Mereka tadi seperti sekumpulan nyamuk yang mener¬jang api, tidak tahu bahwa udara di se¬kitar arena pertandingan aneh itu penuh dengan berkelebatnya sinar pedang yang tajam dan hawa pukulan yang mengandung panasnya api. Sebelum mereka da¬pat menyentuh tubuh Si Setan Botak, tubuh mereka lebih dulu sudah dihujani sinar pedang yang menyambar-nyambar dan hawa pukulan yang membakar!
Melihat ini, Song Kai Sin orang pertama Siauw-lim Chit-kiam berseru keras. Mereka bertujuh tadi terdesak hebat oleh Setan Botak yang benar-benar amat tangguh dan lihai sekali. Karena mereka melakukan pengeroyokan secara bertubi, maka setiap orang dari mereka mengadu tenaga dengan Kang-thouw-kwi dan ternyata bahwa mereka kalah kuat jauh sekali. Karena itu, gerakan pedang mereka makin lama makin lemah dan terdesak sehingga ketika tujuh orang anggauta Ho-han-hwe tadi maju, biarpun mereka tahu akan bahayanya, mereka tidak keburu menarik sinar pedang dan sinar pedang mereka itu ada yang me¬ngenai tubuh para penyerbu. Maka begitu Song Kai Sin berseru keras, tujuh orang Siauw-lim Chit-kiam lalu menggunakan siasat terakhir. Dengan tangan kiri me¬reka menyentuh punggung kawan yang bersila di sebelah kiri, tangan kanan memegang pedang dan kini mereka te¬lah menyatukan tenaga. Getaran sin-kang mereka bersatu dan karenanya gerakan pedang mereka pun sama, hanya merupakan satu serangan saja, akan tetapi yang mengandung tenaga tujuh kali lipat kuat daripada tenaga perorangan.
Ketika Si Setan Botak menangkis dengan dorongan Hwi-yang-sin-ciang, menghalau sinar pedang yang amat besar dan kuat yang menyambarnya, ia menge¬luarkan seruan marah dan kaget. Ia ber¬hasil menghalau sinar pedang itu, akan tetapi telapak tangan kirinya robek se¬dikit dan mengeluarkan darah!
“Keparat! Kalian sudah bosan hidup!” bentaknya dan kini Si Setan Botak meng¬gunakan kedua tangannya menahan.
Hebat bukan main adu tenaga sakti ini. Tujuh orang Siauw-lim Chit-kiam yang menyentuh punggung dan menyalur¬kan tenaga disatukan dengan teman-teman seperguruan, sehingga tenaga me¬reka menjadi satu, kini menghadapi do¬rongan kedua tangan Setan Botak dan terjadilah adu tenaga, keras lawan keras! Mereka tidak bergerak-gerak lagi, pedang mereka menuding ke satu jurusan, yaitu ke arah Kang-thouw-kwi yang sebaliknya mengulur kedua lengan ke depan, dengan kedua telapak tangan mendorong ke arah tujuh orang pengeroyoknya. Wajah Siauw-lim Chit-kiam pucat dan penuh keringat, di lain fihak, wajah Kang-thouw-kwi menjadi merah sekali dan kepalanya me¬ngepulkan uap panas! Dorong-mendorong terjadi, akan tetapi sedikit demi sedikit keadaan Siauw-lim Chit-kiam terdesak!
Lauw-pangcu yang melihat keadaan tidak menguntungkan ini lalu mendekati Khu Cen Tiam dan Liem Sian. Mereka bertiga ini sudah terluka, tentu saja tidak berani membantu. Andaikata mereka tidak terluka sekalipun, tingkat kepandaian mereka masih terlalu rendah untuk mencampuri pertandingan tingkat tinggi itu. Mereka berbisik-bisik dan akhirnya mengambil keputusan untuk menjalankan siasat yang telah mereka atur sebelumnya, yaitu hendak membakar kuil itu selagi Si Setan Botak terikat dalam pertandingan mati-matian melawan Siauw-lim Chit-kiam! Memang siasat ini kalau dijalankan berarti akan membahayakan keselamatan Siauw-lim Chit-kiam sendiri, namun memang telah mereka sepakati sebelumnya bahwa untuk membasmi Si Setan Botak, Siauw-lim Chit-kiam bersedia untuk mergorbankan nyawa.
Dengan isyarat Lauw-pangcu, mereka semua mengundurkan diri dan mulailah mereka membakar kuil itu dari luar. Khu Cen Tiam dan Liem Sian yang membantu pekerjaan ini mengucurkan air mata, karena maklum bahwa nyawa ketujuh orang susiok (paman guru) mereka ter¬ancam maut bersama nyawa Setan Botak. Para anggauta Ho-han-hwe demikian sibuknya dengan pekerjaan menuangkan minyak dan membakar kuil sehingga me¬reka tidak tahu betapa di antara ke¬gelapan malam itu, sesosok tubuh kecil menyelinap memasuki kuil melalui bagian yang belum terbakar. Tubuh cilik ini bukan lain adalah Lauw Sin Lian, gadis cilik puteri Lauw-pangcu!
Sin Lian tadinya dititipkan kepada seorang sahabatnya oleh Lauw-pangcu. Akan tetapi, anak perempuan ini diam-diam merasa tidak senang. Ia tahu bahwa ayahnya dan teman-teman ayahnya se-dang berusaha membalas dendam atas kematian semua anggauta Pek-lian Kai-pang. Dia ingin sekali menonton, bahkan kalau mungkin ingin sekali membantu! Selain itu, juga anak ini amat meng-khawatirkan keselamatan ayahnya, maka diam-diam ia minggat keluar dari rumah sahabat ayahnya itu dan berlari menyu¬sul ayahnya. Bocah ini amat cerdik dan ia menduga bahwa Ho-han-hwe pasti diadakan di kuil tua yang sudah tak ter¬pakai di luar kota. Tanpa ragu-ragu ia langsung lari menuju ke kuil itu dan malam telah tiba ketika ia akhirnya sampai di tempat tujuan. Karena melihat banyak orang sibuk membakar kuil, hatinya makin gelisah. Ia tidak melihat ayah¬nya, dan untuk bertanya ia tidak berani, takut mendapat marah. Maka ia lalu me¬nyelinap dan berhasil memasuki kuil dari bagian yang gelap dan yang belum di¬cium api.
Ruangan dalam kuil kosong itu mulai berasap. Di antara asap tipis, Sin Lian melihat musuh besar ayahnya, Setan Botak, duduk bersila membelakanginya, tak bergerak seperti sebuah arca batu yang menyeramkan, dengan kedua lengan dilonjorkan ke depan dan telapak tangan dibuka ke arah tujuh orang laki-laki yang bersikap keren dan yang kesemuanya memegang pedang. Juga tujuh orang itu diam tak bergerak seperti arca, akan tetapi muka mereka pucat dan penuh peluh, bahkan tubuh mereka, terutama tangan yang memegang pedang, mulai gemetar.
Melihat musuh besar itu, Sin Lian menjadi marah. Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan tujuh orang berpedang itu dengan musuhnya, akan tetapi me¬lihat musuhnya duduk membelakanginya, diam seperti arca, ia melihat kesempatan baik untuk menyerang! Berindap-indap Sin Lian menghampiri kakek itu, setelah dekat ia lalu menerjang maju, memukul tengkuk.
“Dukkk....!” Sin Lian terjengkang dan terbanting keras. Kepalanya menjadi pening, tangannya sakit, akan tetapi ia bandel, terus melompat bangun dan siap menyerang lagi. Ia tadi merasa betapa tengkuk kakek botak itu keras seperti baja, dan amat panas seperti baja di¬bakar. Ia tidak tahu betapa tujuh orang Siauw-lim Chit-kiam memandang kepadanya dengan heran dan juga khawatir. Memang bocah ini masih baik nasibnya, tidak seperti tujuh orang anggauta Ho-han-hwe tadi yang tewas secara konyol. Kalau Siauw-lim Chit-kiam dan Setan Botak sedang bertanding seperti tadi, serang-menyerang antar sinar pedang yang digerakkan sin-kang dan pukulan jarak jauh Hwi-yang-sin-ciang yang amat dahsyat, tentu sebelum menyentuh tubuh Setan Botak, Sin Lian telah roboh tewas, kalau tidak hangus karena Hwi-yang-sin-ciang, tentu tersayat-sayat oleh sinar pedang Chit-seng-sin-kiam! Akan tetapi kebetulan sekali pada saat itu, kedua fihak sedang mengadu tenaga sehingga kedua fihak seolah-olah saling menempel, saling mendorong dan tidak bergerak ke mana-mana. Inilah sebabnya mengapa ketika Sin Lian memukul, ia tidak ter¬kena pengaruh Hwi-yang-sin-ciang, me¬lainkan terbanting roboh karena kekebal¬an tubuh kakek botak itu.
Betapapun juga, karena berani me¬mukul Kang-thouw-kwi, tentu saja nyawa anak ini berada dalam cengkeraman ma¬ut. Sekali saja Kang-thouw-kwi bergerak, tentu bocah itu takkan dapat tertolong lagi nyawanya. Hal inilah yang membuat Siauw-lim Chit-kiam menjadi gelisah. Keadaan mereka sendiri terancam maut dan sedang terdesak hebat, bagaimana mereka akan dapat menolong bocah ini? Mereka tadinya tidak mengharapkan da¬pat keluar sebagai pemenang karena makin lama, tenaga Setan Botak itu makin hebat, hawa di situ makin panas sebagai bukti bahwa Hwi-yang-sin-ciang makin unggul. Akan tetapi mereka me¬rasa lega bahwa para anggauta Ho-han-hwe sudah mulai bergerak membakar kuil. Mereka akan mati dengan lega ka¬rena merasa yakin bahwa Si Setan Botak juga akan mati terbakar hidup-hidup!
Kang-thouw-kwi Gak Liat maklum akan gangguan seorang anak perempuan di belakangnya. Akan tetapi ia tidak peduli, karena kalau ia membagi perhati¬an, apalagi membagi tenaga, ia akan celaka. Menghadapi persatuan Siauw-lim Chit-kiam ini ia merasa bahwa amat sukar mencapai kemenangan dan hanya dengan pengerahan tenaga sepenuhnya saja ia akan dapat menang. Akan tetapi kini kuil mulai terbakar dan tahulah ia bahwa keadaannya berada dalam bahaya pula. Kalau saja tidak ada gangguan ini, tentu ia akan dapat segera merobohkan Siauw-lim Chit-kiam dan masih ada ke¬sempatan untuk menyelamatkan diri.
Dalam usahanya untuk segera dapat merobohkan tujuh orang pengeroyok yang berilmu tinggi itu, Kang-thouw-kwi Gak Liat tidak mempedulikan Sin Lian sama sekali, karena anak itu sama sekali tidak ada arti baginya. Ia lalu mengerahkan seluruh tenaga, kedua lengannya menggigil dan lengan yang diluruskan ke de¬pan itu menjadi makin panas. Kekuatan mujijat yang amat dahsyat kini mener¬jang maju bagaikan hembusan angin badai yang panas ke arah Siauw-lim Chit-kiam! Getaran gelombang tenaga sakti ini segera terasa oleh Siauw-lim Chit-kiam dan betapa pun mereka ini menggerakkan tenaga mempertahankan diri, tetap saja tangan mereka yang menudingkan pedang gemetar keras.
“Werrrrr.... cringgg.... krak-krak....!”
Pertahanan Siauw-lim Chit-kiam menjadi berantakan ketika dua batang pedang di tangan Ui Swan dan Ui Kiong, dua orang di antara mereka, pa¬tah dan terlepas dari tangan mereka, yang menjadi pucat wajahnya. Melihat betapa orang ke tiga dan ke empat dari Siauw-lim Chit-kiam ini kehilangan pe¬dang yang tadi bergetar keras lalu patah-patah, lima orang tokoh Siauw-lim itu mengerahkan seluruh tenaga untuk me¬nahan gelombang tenaga hebat yang me¬nekannya, namun kini mereka jauh kalah kuat setelah tenaga mereka berkurang dua orang. Pedang mereka mulai tergetar hebat, muka mereka pucat dan napas terengah. Ui Swan dan Ui Kiong yang sudah bertangan kosong, tentu saja tidak dapat berdiam diri begitu saja menyak¬sikan keadaan saudara-saudaranya terdesak, mereka ini lalu menggunakan ta-ngan kanan yang kosong untuk mendorong ke depan dengan pukulan jarak jauh, sedangkan tangan kiri masih menempel punggung saudara yang berada di sebelah¬nya seperti tadi. Akan tetapi dengan pedang di tangan saja mereka tadi tidak dapat bertahan, apalagi bertangan kosong. Begitu mereka mendorong dengan tangan, telapak tangan mereka bertemu dengan hawa panas yang menyusup kuat, terus menyerang isi dada. Kedua kakak beradik Ui ini mengeluh perlahan dan tubuh mereka rebah miring!
Melihat ini, lima orang Siauw-lim Chit-kiam menjadi terkejut. Tahulah mereka bahwa mereka akan roboh semua, namun mereka berkeras untuk memper¬tahankan diri sampai api menjilat tempat itu agar musuh mereka yang amat tang¬guh itu mati pula terbakar. Pada seat mereka terhimpit den terancam hebat itu, tiba-tiba Kang-thouw-kwi Gak Liat berteriak marah den bajunya sudah ter¬makan api! Bagaimanakah baju Setan Botak ini dapat terbakar padahal api kebakaran kuil itu belum menjilat ke situ? Bukan lain adalah hasil perbuatan Sin Lian! Karena tubuhnya terjengkang dan terbanting sendiri ketika memukul tubuh Setan Botak, Sin Lian menjadi penasaran den marah sekali. Sebagai puteri Lauw-pangcu yang tidak asing akan kehebatan ilmu silat, anak ini maklum bahwa tubuh Setan Botak itu kebal dan percuma saja kalau ia memukul. Maka ia lalu mencari akal den barulah ia sadar bahwa tempat itu telah terkurung api yang mulai mem¬bakar ruangan! Dalam kaget dan panik¬nya, timbul akalnya. Ia lalu lari ke tem¬pat kebakaran, mengambil sepotong kayu yang terbakar dan tanpa ragu-ragu lagi ia menghampiri Setan Botak den mem¬bakar pakaian musuh ini dengan api itu! Bahkan ia lalu berusaha membakar ram¬but di kepala botak itu pula!
Kang-thouw-kwi Gak Liat adalah se¬orang ahli Yang-kang, bahkan kedua le¬ngannya sudah memiliki Ilmu Hwi-yang-sin-ciang yang bersumber pada panasnya api. Boleh jadi kedua lengannya itu sudah kebal terhadap api, namun tubuhnya ti¬dak, apalagi rambut di kepalanya. Begitu melihat bahwa bajunya terbakar, bahkan sebagian rambutnya dimakan api, ia terkejut dan marah sekali. Sambil berteriak dan menggereng seperti harimau, ia menggulingkan tubuhnya ke kiri, pertama untuk memadamkan api yang berkobar pada bajunya, ke dua untuk menyingkir¬kan diri daripada gelombang sinar pedang Siauw-lim Chit-kiam. Kemudian, setelah bergulingan dan keluar dari sasaran la¬wan, ia membalikkan tubuhnya dan me¬mukul ke arah Sin Lian dari jarak jauh. Saking marahnya, kini ia menumpahkan semua kemarahan dan kebencian kepada anak perempuan itu.
Kelima orang Siauw-lim Chit-kiam maklum bahwa nyawa bocah itu berada di cengkeraman maut. Mereka juga mak¬lum bahwa bocah perempuan itulah yang telah menyelamatkan nyawa mereka yang tadi sudah tertekan hebat. Tentu saja sebagai pendekar-pendekar gagah perkasa, kini mereka tidak mungkin dapat ber¬peluk tangan saja menyaksikan penolong mereka terancam. Tanpa komando, lima orang Siauw-lim Chit-kiam itu kini menodongkan pedang mereka dan mengerah¬kan tenaga, menghadang pukulan jarak jauh Setan Botak yang ditujukan kepada Sin Lian. Tenaga serangan itu tertangkis oleh sinar pedang, akan tetapi biarpun Sin Lian dapat diselamatkan, sebagian hawa pukulan menerobos dan sedikit saja sudah cukup membuat Sin Lian terguling roboh dan pingsan dengan muka gosong!
Karena ruangan itu mulai terbakar, Gak Liat yang tahu akan bahaya lalu tertawa dan tubuhnya sudah melesat keluar menerjang api lalu lenyap di da¬lam kegelapan malam di luar kuil. Lima orang Siauw-lim Chit-kiam tidak menge¬jar, karena selain mereka harus menye¬lamatkan dua orang saudara yang terluka dan gadis cilik yang pingsan, juga me¬ngejar keluar kuil apa gunanya? Mereka takkan mampu mengalahkan Setan Botak yang lihai itu. Diangkutlah Ui Swan dan Ui Kiong, juga tubuh Sin Lian dan me¬reka pun cepat-cepat menerjang api me¬nerobos keluar sebelum ruangan itu am¬bruk.
Para anggauta Ho-han-hwe menjadi kecewa dan berduka. Tidak saja usaha mereka menewaskan Setan Botak itu gagal sama sekali, juga mereka harus ¬cepat-cepat angkat kaki dari Tiong-kwan karena kini tentu kaki tangan pemerintah Mancu akan mencari untuk membasmi mereka. Terutama sekali Lauw-pangcu yang kehilangan lima puluh lebih ang¬gauta Pek-lian Kai-pang, menjadi berduka sekali. Akan tetapi di samping kedukaan ini, ada sinar terang yang membahagia¬kan hati ketua kai-pang ini, yaitu bahwa Siauw-lim Chit-kiam berkenan mengambil Sin Lian sebagai murid mereka! Setelah Ui Swan dan Ui Kiong diobati, dan juga Sin Lian sembuh, anak ini lalu dibawa pergi Siauw-lim Chit-kiam untuk men-dapat gemblengan ilmu di kuil Siauw-lim-si.
Adapun Lauw-pangcu sendiri lalu per¬gi ke barat untuk menyampaikan laporan kepada Raja Muda Bu Sam Kwi dan mem¬bantu perjuangan raja muda itu dalam usahanya mengusir penjajah Mancu dari tanah air. Juga semua anggauta Ho-han-hwe yang mengunjungi pertemuan itu, cepat-cepat meninggalkan Tiong-kwan, akan tetapi tak seorang pun di antara mereka menghentikan atau mengurangi semangat perjuangan mereka yang anti penjajah.
***
Kurang lebih setengah tahun lamanya Han Han berada di dalam gedung besar di pinggir kota Tiong-kwan, menjadi pe¬layan dari Setan Botak bersama murid¬nya Ouwyang Seng. Mengapa Han Han dapat bertahan sampai demikian lamanya menjadi pelayan di situ? Sesungguhnya hatinya amat tidak senang menjadi pela¬yan Ouwyang Seng, akan tetapi karena anak ini menemukan hal-hal yang amat menarik hatinya maka ia memaksa diri tidak mau meninggalkan tempat itu. Ia tertarik melihat cara-cara latihan yang diajarkan Setan Botak kepada Ouwyang Seng. Bahkan diam-diam kalau tidak dilihat guru dan murid itu, ia pun mulai melatih kedua lengannya dan merendamnya di dalam air panas bercampur racun!
Mula-mula ia tidak berani, akan tetapi karena tekadnya memang luar biasa, ketika ia diberi tugas menggodok air beracun, ia mencelup kedua tangannya. Dengan kemauan yang amat luar biasa, terdorong oleh sifat aneh yang menguasai¬nya, akhirnya dalam sebulan saja ia su¬dah mampu menahan kedua lengannya direndam air panas beracun sampai se¬malam suntuk! Apa yang dicapai oleh Ouwyang Seng dalam latihan dua tiga tahun, dapat ia peroleh hanya dengan latihan sebulan saja! Dan pada bulan-bulan berikutnya, ia bahkan telah jauh melampaui Ouwyang Seng karena ia su¬dah dapat bertahan untuk merendam kedua lengannya ke dalam air panas batu bintang! Padahal latihan merendam le¬ngan di air batu bintang ini hanya di¬lakukan oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat, sedangkan Ouwyang Seng hanya baru mulai dengan latihan yang berat ini!
Guru dan murid yang wataknya aneh dan keras itu ternyata merasa suka ke¬pada Han Han yang juga tidak kalah aneh wataknya. Han Han dapat menjadi seorang anak yang pendiam dan penurut sekali kalau ia kehendaki, dan ia pandai menyimpan rahasia, sehingga guru dan murid itu merasa suka, bahkan akan me¬rasa kehilangan kalau tidak ada Han Han yang mengerjakan segala keperluan mereka berdua itu dengan alat-alat dan keperluan berlatih.
Apalagi Ouwyang Seng, sama sekali tentu saja tidak pernah menduga bahwa kacung itu telah ikut berlatih, bahkan telah melampauinya. Sedangkan gurunya, Kang-thouw-kwi Gak Liat sendiri tidak pernah mimpi bahwa bocah jembel itu ternyata selain melatih diri dengan da¬sar-dasar ilmu Hwi-yang-sin-ciang, juga sudah berani memasuki daerah terlarang, tempat ia berlatih dan yang merupakan tempat terlarang bagi semua orang! Dan tidak pernah menduga bahwa semua ajar¬an teori yang ia berikan kepada Ouwyang Seng, diam-diam telah didengar jelas oleh Han Han, bahkan bocah ini segera mempraktekkan ajaran-ajaran itu.
Apabila Kang-thouw-kwi Gak Liat sedang bepergian, dan hal ini sering kali ia lakukan tanpa ada yang mengetahui ke mana perginya, Ouwyang Seng yang pada dasarnya malas berlatih dan lebih suka berkuda atau berjalan-jalan keluar kota mengumbar kenakalannya, kesempatan ini dipergunakan sebaiknya oleh Han Han. Setelah ia dapat bertahan merendam kedua lengannya dalam air cairan batu bintang, mulailah ia diam-diam memasuki daerah tertarang! Mula-mula jantungnya berdebar dan ia merasa ngeri. Di kebun yang liar itu terdapat banyak lubang-lubang dan ketika ia memperhatikan, ia terbelalak memandang ke arah kerangka-kerangka manusia yang berada di dalam lubang-lubang itu. Tahulah ia bahwa ku¬buran-kuburan yang berada di situ seperti yang pernah diceritakan Ouwyang Seng kepadanya, kini telah dibongkar dan tu¬lang-tulang manusia serta tengkorak-tengkorak berserakan di tempat itu! Be¬nar-benar bukan merupakan tempat latih¬an seorang manusia. Lebih tepat dinama¬kan tempat seekor siluman atau iblis. Teringat pula ia akan cerita Setan Botak kepada Ouwyang Seng bahwa kalau latihan merendam lengan dalam cairan batu bintang sudah mencapai puncaknya, maka latihan dilanjutkan dengan membakar kedua lengan di atas api bernyala!
“Bukan api sembarang api,” demikian ia menangkap pelajaran yang diberikan Setan Botak kepada Ouwyang Seng. “Me¬lainkan api yang menyala dari tulang-tulang manusia yang dibakar. Api dari tulang-tulang itu mengandung sari hawa Yang-kang, sudah merupakan racun Hwi-yang. Dengan latihan itu, sari Hwi-yang akan meresap ke dalam kedua lengan memperkuat tulang lengan. Akan tetapi untuk mencapai tingkat ini, kau harus berlatih dengan tekun sampai sedikitnya sepuluh tahun, Kongcu.” Demikian antara lain penjelasan Setan Botak.
Entah mengapa ia suka mempelajari semua ini, Han Han sendiri tidak akan dapat menjawab. Ia tidak bermaksud mendapatkan kekuatan pada kedua le¬ngannya karena ia tidak suka, bahkan benci berkelahi. Akan tetapi mungkin sifat aneh pada pelajaran inilah yang menarik hatinya dan yang membuatnya ingin mencoba dan melatih diri! Maka setelah ia mendapat kesempatan memasuki daerah terlarang, ia segera mulai dengan latihan-latihan yang menegangkan hatinya. Mula-mula ia memanaskan kwali tua yang terisi cairan tulang-tulang teng¬korak manusia, merendam kedua lengan¬nya dalam cairan yang menjijikkan itu sebagaimana ia dengar dari penjelasan Setan Botak kepada Ouwyang Seng. Ke¬mudian mulailah ia melatih kedua le¬ngannya di atas api bernyala yang ia buat dengan bahan bakar kayu-kayu dan tulang-tulang kering manusia yang ber¬serakan di tempat itu.
Sampai setengah tahun lebih Han Han melatih diri di daerah terlarang itu. Tentu saja hal ini dilakukannya secara sembunyi-sembunyi, karena ia pun tahu bahwa kalau sampai hal ini diketahui Setan Botak, nyawanya takkan tertolong lagi! Kini sudah lebih dari setahun ia menjadi pelayan Ouwyang Seng dan guru¬nya, dan mulailah ia merasa bosan. Me¬mang ia melatih diri selama ini tanpa pamrih apa-apa, hanya karena tertarik dan kini setelah ia dapat bertahan menaruh tangannya di dalam api berkobar sampai api itu mati sendiri kehabisan bahan bakar, ia menjadi bosan dan menganggap bahwa apa yang dicarinya sudah dapat. Ia mulai bosan setelah mengingat betapa ia telah mem¬buang waktu dengan sia-sia. Kalau ia re¬nungkan dan bertanya sendiri, apakah yang ia dapatkan selama setahun lebih ini? Ia ti¬dak dapat menjawab karena harus ia akui bahwa kedua lengannya yang dapat me¬nahan panasnya api itu sesungguhnya tidak ada guna atau manfaatnya sama sekali! Sungguh ia tidak tahu bahwa sebetulnya ia telah dapat menguasai dasar-dasar Ilmu Hwi-yang-sin-ciang yang amat hebat! Tidak tahu bahwa bakatnya jauh melampaui Setan Botak sendiri sehingga kalau ia latih terus dan melatih pula ilmu pukulannya, ia akan menjadi seorang ahli Hwi-yang-sin-ciang yang tidak ada tandingannya di dunia ini.
Sayang bahwa Han Han sama sekali tidak tertarik kalau ia melihat Ouwyang Seng berlatih silat, juga tidak mau men¬dengarkan kalau Setan Botak memberi penjelasan tentang kouw-koat (teori silat) kepada Ouwyang Seng. Sampai saat itu pun Han Han masih belum suka akan ilmu silat, bukan hanya tidak suka, ma¬lah membencinya. Apalagi kalau ia ter¬kenang akan pertandingan antara Setan Botak dengan orang-orang Pek-lian Kai-pang, ia menjadi muak dan makin mem¬benci ilmu silat yang dianggapnya hanya merupakan ilmu membunuh manusia lain!
Kalau dipikirkan memang lucu sekali. Anak ini membenci ilmu silat yang di¬anggapnya ilmu yang keji. Akan tetapi tanpa ia ketahui sama sekali, ia kini telah memiliki dasar Ilmu Hwi-yang-sin-ciang, padahal ilmu ini adalah ilmu go¬longan hitam atau ilmu sesat yang amat keji! Ilmu meracuni kedua lengan seperti ini, yang sebagian menggunakan tulang-tulang dan tengkorak-tengkorak manusia, tidak akan dipelajari oleh orang gagah di manapun juga kecuali oleh kaum sesat. Untuk memperkuat kedua lengan tangan, kaum gagah di rimba persilatan biasanya menggembleng lengan dengan pasir panas, pasir besi panas, dan lain-lain yang pada dasarnya hanya untuk memperkuat kedua lengan. Akan tetapi kaum sesat mencam¬purkan racun dalam latihan ini sehingga tangan mereka menjadi tangan beracun yang sesuai dengan watak mereka. Han Hen sama sekali tidak tahu akan hal ini, maka amatlah lucu kalau dipikirkan bah¬wa dia membenci ilmu silat namun diam-diam meniadi calon ahli Hwi-yang-sin-ciang!
Akan tetapi, kebosanannya melatih diri ini menolongnya. Kalau ia lanjutkan, tentu akhirnya ia akan ketahuan dan hal ini berarti mati baginya. Dan kebetulan sekali sebelum kebosanannya membuat ia berlaku nekat dan minggat dari situ, pada pagi hari itu Setan Botak pulang dan siang harinya ia dipanggil Ouwyang Seng.
“Han Han, lekas berkemas, bungkus pakaian-pakaianku yang terbaik. Kita akan pergi dari sini ke kota raja!”
“Kota raja?” Han Han bengong. Se¬butan kota raja hanya ia dapat dalam kitab-kitabnya saja karena selama hidup¬nya belum pernah ia melihat kota raja.
“Ya, kota raja di utara! Ha-ha-ha! Engkau akan bengong keheranan kalau melihat kota raja, dan aku sudah rindu kepada orang tuaku, kepada teman-teman¬ku. Lekas berkemas, kalau terlambat, suhu akan marah.”
“Aku.... aku diajak, Kongcu?” Han Han menyembunyikan debar jantungnya. Kalau ia minggat, ia sendiri tidak tahu akan pergi ke mana. Akan tetapi ia akan bebas dan merasa berbahagia. Dia tidak suka untuk menjadi pelayan selamanya. Betapapun juga, kalau diajak ke kota raja, ia akan mengesampingkan dulu ketidaksukaannya menjadi pelayan. Kota raja! Ia harus melihatnya!
“Tentu saja kau kuajak. Bukankah kau pelayanku? Habis, kalau tidak diajak, siapa yang akan mengurus keperluan kami?” bentak Ouwyang Seng marah.
“Siapa saja yang pergi, Kongcu?”
“Siapa lagi kalau bukan suhu, aku dan engkau? Sudahlah, cerewet amat sih! Lekas berkemas dan suruh tukang kuda menyediakan dua ekor kuda untuk suhu dan aku!”
“Dan aku sendiri jalan kaki? Apakah hal itu tidak akan memperlambat per¬jalanan, Kongcu?” Han Han membantah, penasaran.
“Huh, mana ada pelayan menunggang kuda? Akan tetapi kalau suhu menghen¬daki perjalanan cepat, boleh mem¬bonceng di belakangku. Cuma, jangan lupa. Sebelum berangkat kau mandi yang bersih pula. Nah cukup, lekas berkemas!”
Han Han berkemas dan diam-diam mengomel. Biarpun ia menjadi pelayan, namun tidak pernah ia menerima upah, tidak pernah menerima pakaian, hanya mendapat makan setiap hari. Pakaiannya masih pakaian setahun yang lalu, penuh tambalan. Namun ia mempunyai satu stel pakaian cadangan, pemberian seorang pe¬layan di situ yang menaruh kasihan ke¬padanya. Pakaian ini pun sudah ia tambal-tambal. Dengan adanya cadangan pakaian ini, ia selalu berpakaian bersih, yang satu dipakai, yang satu dicuci. Biarpun penuh tambalan, pakaiannya selalu ber¬sih!
Setelah selesai berkemas, berangkatlah Kang-thouw-kwi Gak Liat, Ouwyang Seng dan Han Han meninggalkan gedung di kota Tiong-kwan. Perjalanan itu amat melelahkan bagi Han Han karena, ber-beda dengan Kang-thouw-kwi dan murid¬nya yang masing-masing menunggang kuda, Han Han berjalan kaki. Akan te¬tapi biarpun amat melelahkan, perjalanan ini pun mendatangkan kegembiraan di dalam hatinya. Terlalu lama ia terkurung di dalam gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok di Tiong-kwan dan kini ia selalu berada di alam terbuka, menyaksikan keindahan alam dan melalui bermacam kota dan dusun. Kadang-kadang kalau Kang-thouw-kwi menghendaki perjalanan dipercepat, baru Han Han diperbolehkan membonceng Ouwyang Seng, duduk di punggung kuda di belakang pemuda bang-sawan itu. Dan di sepanjang perjalanan ini dia pulalah yang melayani segala keperluan mereka.
Hanya dehgan kemauan keras yang dikendalikan kecerdikannya saja mem¬buat Han Han dapat menekan perasaaan¬nya yang panas penuh dendam dan kebencian setiap kali ia memasuki kota-kota besar dan melihat tentara-tentara dan perwira-perwira Mancu berkeliaran dengan lagak sombong. Melihat tentara penjajah ini, teringatlah ia akan keluar¬ganya yang terbasmi dan terbayang ma¬kin jelaslah wajah tujuh orang pembesar Mancu yang dilayani ayahnya ketika me¬reka berpesta-pora di dalam rumahnya. Terbayanglah wajah dua orang di antara ketujuh perwira itu, wajah yang sudah terukir di hatinya dan yang selamanya takkan pernah dapat ia lupakan, yaitu wajah perwira muka kuning dan perwira muka brewok.
Pada suatu pagi mereka tiba di kaki Pegunungan Tai-hang-san dan Kang-thouw-kwi Gak Liat menyuruh muridnya berhenti. “Kita berhenti dan mengaso di sini!” kata Setan Botak itu sambil me¬loncat turun dari kudanya. Han Han ce¬pat-cepat meloncat turun dari belakang Ouwyang Seng dan menuntun kuda Setan Botak untuk diikat kepada sebatang po¬hon. Kemudian ia merawat kuda tunggangan Ouwyang Seng Pula. Sejak pagi-pagi sekali mereka melarikan kuda dan kini kedua ekor kuda itu berpeluh dan terengah-engah. Han Han cepat mengeluarkan kain kuning dari buntalannya yang tergantung di sela kuda, dan me¬nyusuti tubuh kuda yang berpeluh. Dua ekor kuda yang sedang makan rumput itu menggosok-gosokkan telinga dan muka pada Han Han, seolah-olah mereka me¬nyatakan terima kasih.
“Kongcu, lihatlah, puncak di sana itu menjadi tempat tinggal seorang kenalan baik yang daerahnya sama sekali tidak boleh diganggu.”
Ouwyang Seng memandang suhunya dengan heran. Baru sekali ini suhunya memperlihatkan dan memperdengarkan suara yang sifatnya segan kepada se¬seorang. “Suhu, siapakah kenalan suhu itu? Dia orang macam apa?”
Kang-thouw-kwi Gak Liat memandang ke arah puncak gunung yang tertutup awan putih itu dengan kening berkerut, termenung sejenak lalu berkata, “Nama¬nya Siangkoan Lee, julukannya Ma-bin Lo-mo (Iblis Tua Bermuka Kuda)! Semenjak muda dia menjadi sainganku, menjadi lawanku yang paling ulet. Hemmm.... lebih lima tahun aku tidak pernah ber¬temu dengannya. Entah bagaimana se¬karang tingkat ilmunya yang paling diandalkan.”
 “Ah, jadi di sanakah tempat tinggal Ma-bin Lo-mo yang amat terkenal itu? Suhu, bukankah dia seorang diantara tokoh-tokoh yang disebut datuk-datuk besar di samping suhu?”
 “Benar dialah orangnya....” Kembali Kang-thouw-kwi tampak melamun, teringat ia akan masa dahulu di mana ia bersama Ma-bin Lo-mo malang-melintang di dunia kang-ouw dan hanya Si Muka Kuda itu sajalah yang merupakan lawan yang paling tangguh. “Dia bekas seorang menteri di Kerajaan Beng lima puluhan tahun yang lalu, kemudian mengundurkan diri. Entah bagaimana kedudukannya di jalan kerajaan baru ini....”
“Ilmu apakah yang paling ia andalkan, suhu?”
Setan Botak itu menghela napas panjang. “Dia sengaja memperdalam ilmu untuk menandingi Hwi-yang-sin-ciang! Ilmunya itu disebut Swat-im-sin-ciang (Tangan Sakti Inti Sari Salju). Ah, betapa inginku mengetahui sampai di mana se¬karang tingkat ilmunya itu....”
“Suhu, kenapa kita tidak naik ke sana saja kalau suhu ingin mencobanya? Teecu yakin suhu tidak akan kalah!”
“Hemmm, Kongcu. Lupakah engkau akan pelajaranku bahwa kalau kita ingin dapat lama bertahan di dunia kang-ouw, kita harus selalu pandai menilai keadaan lawan? Turun tangan kalau sudah yakin akan menang, dan berhati-hati apabila menghadapi keadaan yang akan dapat merugikan. Itulah syarat utama dan syarat itulah yang kupakai selama puluhan tahun ini sehingga namaku masih men¬julang tinggi tak pernah runtuh.”
Ouwyang Seng mengangguk-angguk dan diam-diam ia merasa kagum dan penasaran kepada tokoh yang julukannya Ma-bin Lo-mo itu. Ia tidak mau percaya dan tidak mau mengerti bahwa ada orang yang akan dapat menandingi gurunya. Adapun Han Han yang menyusuti keringat kuda, ikut mendengarkan semua itu. Tentu saja ia sama sekali tidak setuju dengan pendapat Setan Botak yang dianggapnya pengecut dan sama sekali tidak tepat menjadi watak orang gagah. Orang gagah mendasarkan wataknya kepada yang baik dan jahat. Betapapun kuatnya lawan, kalau jahat harus ditentang, sebaliknya, biarpun lawan lemah, kalau benar tidak semestinya ditentang, bahkan harus dibantu. Akan tetapi dia tidak peduli akan watak guru dan murid itu, hanya merasa kagum dan ingin sekali melihat tokoh yang dijuluki Iblis Tua Muka Kuda itu.
“Han Han, lekas pergi ke dalam hutan di depan itu mencarikan buah-buahan untuk suhu! Jangan kembali kalau belum mendapatkan buah-buahan yang cukup banyak!” Ouwyang Seng yang melihat bahwa Han Han mendengarkan percakapan mereka tadi memerintah karena betapapun juga ia merasa tidak senang melihat kacungnya itu mendengar betapa suhunya seolah-olah jerih terhadap tokoh yang berjuluk Iblis Tua Muka Kuda itu.
Han Han yang juga merasa lapar, mengangguk lalu meninggalkan tempat itu, memasuki hutan yang berada di se¬buah lereng dekat kaki gunung itu. Tim¬bul lagi kegembiraan hatinya. Memasuki hutan liar itu seorang diri saja amat menyenangkan hatinya. Ia merasa seolah-olah menjadi satu dengan hutan itu, be¬bas lepas seperti burung yang beterbang¬an di antara pohon-pohon raksasa, seperti seekor di antara kera-kera yang ber¬loncatan, kelinci-kelinci yang berlarian. Ah, betapa ingin hatinya untuk meng-gunakan kesempatan itu melarikan diri. Akan tetapi, ia ingin menyaksikan kota raja, dan juga ia tahu bahwa kalau ia melarikan diri, tentu akan mudah dikejar Setan Botak yang amat sakti itu, dan dia tentu akan mengalami hukuman di tangan Ouwyang Seng yang kejam dan suka me¬nyiksa orang. Biarlah kucarikan buah untuk mereka, pikirnya. Belum tiba saat¬nya bagi dia melarikan diri.
Untung baginya bahwa hutan itu mempunyai banyak pohon berbuah yang sudah matang dan tinggal pilih saja. Akan tetapi selagi ia menengadah mencari buah-buah apa yang akan dipilihnya, tiba-tiba ia mendengar suara bentakan-bentakan halus dan nyaring, “.... heiiiiit.... siaaat.... heiiiiittt!”
Han Han tertarik dan cepat ia menyelinap di antara pohon-pohon itu ke arah datangnya suara. Ternyata bahwa yang membentak-bentak itu adalah se¬orang anak perempuan, usianya takkan jauh selisihnya dari usianya sendiri. BO¬cah itu sedang berlatih ilmu silat, me¬mukul, menangkis menendang, berloncatan dan sekali-kali mengeluarkan jerit mem¬bentak untuk memperkuat pukulan atau tendangan. Anak perempuan berusia se¬puluh atau sebelas tahun itu amat cantik dan mungil, gerakannya gesit bukan ma¬in, mengingatkan Han Han akan Sin Lian, puteri Lauw-pangcu. Akan tetapi gadis cilik ini lebih cantik, dan mukanya manis sekali, tidak membayangkan kegalakan dan keliaran seperti yang terbayang pada wajah Sin Lian. Adapun gerakan-gerakan¬nya jauh lebih cepat daripada gerakan Sin Lian, hal ini saja menjadi tanda bahwa tingkat kepandaian ilmu silat anak perempuan ini lebih tinggi daripada puteri Lauw-pangcu.
Selain cepat, juga ilmu silat yang di¬mainkan gadis cilik itu bagi Han Han kelihatan amat indahnya, seperti me¬nari-nari. Tubuh yang semampai itu ber¬kelebatan, berloncatan dan kadang-kadang membuat gerakan kaki tangan demikian halus dan indah sehingga ia memandang dengan bengong penuh kekaguman. Ada sepuluh menit anak perempuan itu ber¬latih, kemudian mengakhiri latihannya dengan tendangan berantai dan tubuhnya mencelat ke atas, ketika kakinya seperti kitiran membuat gerakan menendang secara bertubi-tubi dengan kedua kaki bergantian sampai lima kali, baru tubuh¬nya berjungkir balik melompat ke bela¬kang. Indah sekali gerakannya.
“Bagus sekali....!” Tak terasa lagi pujian ini keluar dari mulut Han Han.
Anak perempuan itu menengok dan memandang. Han Han terkejut dan tahu bahwa dia telah berlaku lancang. Ia me¬ngira bahwa anak perempuan itu, seperti halnya Sin Lian, tentu akan marah dan memakinya. Setelah ia bergaul dengan Sin Lian, kesannya terhadap anak perempuan adalah mudah marah, mudah me¬maki, akan tetapi mudah pula tertawa.
Akan tetapi ia kecelik! Anak perem¬puan itu tidak marah melainkan meman¬dang kepadanya dengan sinar mata penuh selidik, memperhatikannya dari atas sam¬pai ke bawah, kemudian tersenyum dan melangkah maju menghampirinya. Setelah mereka berdiri saling berhadapan, gadis cilik itu memperhatikan pakaian di tubuh Han Hang membuat Han Han menjadi merah mukanya karena ia merasa betapa pakaiannya sungguh tidak boleh dibangga¬kan. Penuh tambalan dan tidak begitu bersih lagi karena dia belum sempat berganti pakaian.
Gadis cilik itu tiba-tiba merogoh saku bajunya den mengeluarkan dua potong uang tembaga, tanpa berkata-keta menj¬ulurkan tangan, memberikan dua potong uang tembaga itu kepada Han Han. Ten¬tu saja Han Han melongo dan tidak me¬ngerti, terpaksa bertanya.
“Untuk apa ini....?”
“Sedekah seadanya untukmu. Engkau tersasar jalan, di daerah ini tidak akan kautemui dusun, akan percuma mencari sumbangan....”
“Aku bukan pengemis!” Han Han mem¬bentak dan mundur dua langkah, mata¬nya memandang penasaran.
Gadis cilik itu menatap wajahnya dan agaknya kaget sekali ketika bertemu pandang dengan Han Han, lalu cepat-cepat menyimpan kembali uangnya dan mengalihkan pandangnya, meneliti pakaian tambal-tambalan dan kaki telanjang itu. Han Han merasa menyesal mengapa ia membentak karena kini ia tahu bahwa gadis cilik itu sama sekali bukan ber¬maksud menghinanya, melainkan keadaan pakaiannyalah yang membuat anak itu menduga bahwa dia seorang pengemis. Begitu berjumpa, tanpa diminta telah memberi sumbangan, benar-benar hati bocah ini tidak buruk, pikirnya. Cepat-cepat ia berkata dengan suara halus.
“Aku memang miskin, pakaianku tam¬bal-tambalan, akan tetapi aku belum pernah mengemis. Maafkan penolakanku.”
Kembali anak itu mengangkat alis dan memandang dengan heran. Ucapan Han Han begitu halus dan susunan kata-kata¬nya teratur rapi, bukan seperti seorang anak dusun, apalagi pengemis!
“Kau.... siapakah? Dan apakah kehendakmu datang ke tempat ini?”
“Aku bernama Han, she Sie. Aku hanya seorang kacung yang kebetulan mengikuti perjalanan majikanku. Mereka berhenti di kaki gunung dan menyuruh aku mencari buah-buah di hutan ini. Engkau siapakah? Kalau tadi kaukatakan di sini tidak ada dusun, bagaimana engkau bisa berada di sini?”
“Namaku Cu, she Kim. Aku memang penghuni daerah ini, di puncak sana itu. Lebih baik engkau lekas pergi, dan kata¬kan kepada majikanmu agar cepat pergi meninggalkan daerah ini. Daerah ini mi¬lik suhuku dan siapapun juga tidak boleh berada di sini. Lekas pergilah bersama majikanmu sebelum terjadi hal-hal yang hebat menimpa kalian.”
 “Nona Kim Cu, engkau baik sekali.”
“Eh, baik bagaimana?”
“Aku lancang memuji ilmu silatmu, kau tidak marah. Kini engkau menasehati aku agar tidak sampai tertimpa mala¬petaka. Benar-benar engkau seorang anak yang amat baik.”
Anak perempuan itu menggeleng ke¬pala. “Apa sih artinya baik? Engkau ini yang amat aneh. Pakaianmu seperti pe¬ngemis akan tetapi engkau tak pernah mengemis. Pekerjaanmu sebagai kacung akan tetapi sikap dan bicaramu seperti seorang anak terpelajar. Dan kau.... agaknya kau pandai ilmu silat, ya?”
Han Han cepat menggeleng kepala. “Ah, mana aku bisa? Aku tidak bisa ilmu silat....”
“Kalau tidak bisa, bagaimana tadi dapat memuji ilmu silatku?”
“Karena memang bagus dan indah, seperti tarian. Nona Kim Cu, apakah gurumu itu pandai sekali ilmu silatnya? Aku tadi mendengar percakapan majikan¬ku dan muridnya, menyebut-nyebut nama Ma-bin Lo-mo yang tinggal di In-kok¬-san. Kenalkah engkau dengan dia?”
Tiba-tiba wajah gadis cilik itu ber¬ubah agak pucat dan seperti lupa diri, dia memegang lengan Han Han. “Wahy celaka....! Siapa majikanmu itu, begitu berani mati menyebut-nyebut nama su¬hu....?”
Melihat gadis cilik yang menimbulkan rasa suka di hatinya ini kelihatan gelisah, Han Han juga memegang tangannya dan berkata menghibur, “Nona, tidak perlu khawatir. Majikanku juga bukan orang biasa, julukannya Kang-thouw-kwi....”
“Ihhhh....?”
Pada saat itu, terdengar bentakan.
“Han Han! Kau kacung malas! Disuruh mencari buah-buahan malah bermain gila dengan seorang gadis gunung!”
Han Han cepat melepaskan pegangan¬nya pada tangan Kim Cu, menoleh dan memandang kepada Ouwyang Seng dengan penuh kemarahan. Ucapan yang menghina dirinya tidaklah mendatangkan kemarah¬an, akan tetapi teguran itu sekaligus menghina Kim Cu yang begitu baik. Ma¬sa Kim Cu dikatakan gadis gunung dan dituduh bermain gila dengan dia?
“Ouwyang-kongcu, jangan bicara sembarangan....!”
Kim Cu yang sudah melepaskan ta¬ngannya dan dengan langkah lebar gadis cilik ini telah menghadapi Ouwyang Seng. Sepasang mata yang tadinya berseri dan bening itu kini kelihatan memancarkan cahaya kilat.
“Sie Han, mengapa manusia macam ini kau sebut Kongcu? Pantasnya engkau¬lah yang harus dia sebut Kongcu, karena menurut pendapatku, dia ini menjadi kacungmu saja masih belum patut!”
“Budak hina, jangan membuka mulut besar kalau tidak ingin kuhajar mulut¬mu!” bentak Ouwyang Seng yang menjadi marah sekali. Selama hidupnya baru se¬kali ini ada orang berani menghinanya seperti itu.
“Kau yang membutuhkan hajaran!” Kim Cu berseru dan tubuhnya sudah melesat ke depan dengan serangan kilat. Kedua kepalan tangan yang kecil itu dengan gerakan cepat sekali sudah meng¬hantam ke arah kepala dan dada Ouw¬yang Seng! Akan tetapi, murid Kang-thouw-kwi ini tertawa mengejek, menggerakkan kedua tangannya untuk menang¬kap kedua kepalan itu. Anehnya, gadis cilik itu tidak peduli, bahkan membiarkan kedua kepalan tangannya tertangkap, padahal ini merupakan bahaya besar baginya. Ouwyang Seng memperkeras ke¬tawanya karena ia yakin bahwa sekali cengkeram, kepalan kedua tangan gadis itu akan remuk-remuk tulangnya. Namun, segera dia berseru kaget, cepat melepas¬kan cengkeramannya dan berusaha meloncat mundur. Terlambat! Perutnya ma¬sih kena serempet ujung sepatu Kim Cu sehingga ia terjengkang ke belakang sam¬bil memegangi perutnya dan meringis. Biarpun tidak mengalami luka, namun setidaknya perutnya menjadi mulas se¬ketika. Dengan kemarahan meluap-luap, Ouwyang Seng kini membalas dengan serangan yang dahsyat.
Bertempurlah kedua orang anak itu, ditonton oleh Han Han yang menjadi makin kagum. Jelas tampak betapa gadis cilik itu telah memiliki dasar yang ma¬tang, gerakan-gerakannya jauh lebih cepat daripada Ouwyang Seng sehingga dialah yang lebih banyak menghujankan serangan daripada murid Setan Botak itu.
“Rebahlah, manusia sombong!” Kim Cu berseru keras dengan serangan desak¬an yang sukar sekali dijaga karena kedua tangan itu seolah-olah telah berubah menjadi banyak saking cepat gerakahnya, dan tubuhnya pun berkelebatan di kanan kiri lawan.
“Bukkk....! Aduuuhhhhh....! Kembali Ouwyang Seng terjengkang karena pukul¬an tangan kiri Kim Cu bersarang di da¬danya. Kini agak tepat kenanya sehingga napasnya menjadi sesak. Namun Ouwyang Seng yang terlath sejak kecil telah me¬miliki kekebalan, dan biarpun ilmu silatnya lebih unggul dan gin-kangnya lebih tinggi daripada Ouwyang Seng, namun agaknya gadis cilik itu belum memiliki tenaga yang cukup kuat untuk merobohkan lawan dengan beberapa kali pukulan saja.
“Budak hina, engkau sudah bosan hi¬dup!” Ouwyang Seng marah sekali. Kedua matanya merah, mulutnya menyeringai¬ seperti mulut harimau haus darah. Ia meloncat bangun, menggerak-gerakkan kedua lengannya kemudian ia menerjang maju, mengirim pukulan dengan men¬dorongkan kedua lengannya itu dengan jari-jari terbuka ke arah Kim Cu, tubuh¬nya agak merendah. Melihat ini, Han Han terkejut sekali. Itulah pukulan be¬racun yang dilatih Ouwyang Seng, dengan tenaga inti api sebagai hasil latihan me¬rendam kedua lengan ke dalam air be¬racun mendidih.
“Kongcu....!” Ia berseru, akan tetapi Ouwyang Seng yang sudah amat marah itu lupa pula akan pesan suhunya bahwa tidak boleh ia semberangan memperguna¬kan dasar pukulan Ilmu Hwi-yang-sin-ciang itu.
Kim Cu yang tadinya sudah beberapa kali berhasil memukul lawannya, tentu saja memandang rendah dan melihat datangnya pukulan, ia menangkis sambil miringkan tubuh.
“Plakkk....! aughhh....!” Tubuh Kim Cu terlempar dan masih untung bahwa ketika menangkis tadi ia miringkan tubuh sehingga pukulan api beracun itu tidak mengenainya dengan tepat. Namun hawa pukulan yang hebat itu cukup membuat gadis cilik itu terlempar dan terbanting keras. Dan selagi Kim Cu masih pening, berusaha bangkit, Ouwyang Seng yang masih belum puas telah meloncat dekat dan mengirim pukulan api beracun untuk kedua kelinya. Kalau mengenai tepat dan tidak ditangkis, pukulan ini akan mem¬bahayakan nyawa Kim Cu!
“Jangan....!” Han Han cepat meloncat dekat dan mendorongkan kedua tangannya menyambut pukulan maut yang dilakukan Ouwyang Seng itu.
“Desssss....!”
“Aiiihhhhh....!” Kini tubuh Ouwyang Seng yang terlempar ke belakang sampai tiga meter lebih dan jatuh bergulingan lalu meloncat bangun dengan muka pucat sekali. Kedua lengannya seperti terbakar rasanya dan tenaganya tadi begitu bertemu dengan dorongan Han Han telah membalik dan membuat ia terlempar. Saking nyeri, marah dan heran ia sampai bengong terlongong. Akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan Setan Botak dan Han Han mengeluh karena ia sudah roboh tertotok oleh Setan Botak yang tahu-tahu telah berada di situ.
“Anak setan, dari mana kau mencuri pukulan itu?” bentak Setan Botak yang kemudian menoleh kepada Ouwyang Seng dan bertanya, “Ouwyang-kongcu, engkau tidak apa-apa?”
Ouwyang Seng menggeleng kepala, kini kemarahannya ditimpakan semua kepada Han Han. Cepat ia menyambar sebatang kayu yang terletak di bawah pohon, kemudian meloncat ke depan dan menggunakan ranting itu memukuli tubuh Han Han yang tertotok dan tidak mampu bergerak itu. Terdengar suara “bak-buk-bak-buk” ketika ranting itu jatuh seperti hujan di seluruh tubuh Han Han!
“Pengecut....!” Bentakan ini dikeluarkan oleh Kim Cu yang telah menerjang maju dan sebuah tendangannya tepat mengenai lengan Ouwyang Seng yang memegang ranting sehingga ranting itu terlepas di atas tanah. Ouwyang Seng sendiri meloncat ke belakang karena khawatir kalau mendapat serangan susulan dari gadis cilik yang amat cepat gerakannya itu. Di depan gurunya, tentu saja ia tidak berani lagi menggunakan pukulan api beracun.
Kim Cu menolong Han Han dan membangunkannya, akan tetapi Han Han sudah dapat bergerak kembali dan kini ia bangkit duduk. Biarpun totokan Setan Botak itu amat lihai, akan tetapi karena tubuh Han Han memang memiliki sifat luar biasa, hanya sebentar saja anak ini terpengaruh. Dengan kemauannya yang hebat, timbullah hawa tan-tian dari pusarnya, mendorong jalan darahnya sehingga pengaruh totokan itu buyar.
“Budak hina, kacung busuk! Tunggu saja, kalian tentu akan kuhajar sampai mampus!” Ouwyang Seng menudingkan telunjuknya dan mengancam.
 “Engkau bangsawan berwatak rendah melebihi anjing!” Kim Cu balas memaki dan diam-diam Han Han kecewa sekali mendengar betapa gadis cilik ini pun pandai memaki seperti Sin Lian. Dia sendiri amat marah kepada Ouwyang Seng dan diam-diam ia meraih ranting yang terletak di depannya, yang tadi dipergunakan kongcu itu untuk mencam¬buki tubuhnya.
Akan tetapi perhatian Ouwyang Seng segera terpecah dan tertarik ketika ia mendengar suara ketawa terkekeh-kekeh yang amat aneh, persis suara ringkik kuda. Ketika ia memandang, kiranya suhunya telah bertanding melawan se¬orang kakek berpakaian hitam yang aneh sekali. Kakek itu mukanya persis muka kuda, lonjong dan meruncing ke depan. Rambutnya riap-riapan, namun pakaian¬nya yang serba hitam itu amat indah dan mewah, dihias pinggiran benang yang kuning emas! Caranya bertanding me¬lawan gurunya juga aneh. Mereka itu tidak bergerak-gerak dari tempat masing-masing. Si Muka Kuda itu berdiri dengan kedua kaki terpentang, tangan kiri ber¬tolak pinggang dan hanya dengan tangan kanan yang dibuka jari-jarinya saja ia menandingi Setan Botak!
Ouwyang Seng belum pernah melihat suhunya berwajah serius seperti ketika berhadapan dengan Si Muka Kuda itu. Suhunya berdiri tegak pula dengan kedua kaki teguh memasang kuda-kuda, yang kiri di belakang yang kanan di depan, kemudian tangan kanannya menampar dengan jari terbuka ke arah dada Si Muka Kuda. Andaikata didiamkan saja pukulan itu pun tidak akan menyentuh baju Si Muka Kuda. Akan tetapi pukulan itu bukanlah sembarang pukulan, melain¬kan pukulan dahsyat yang amat ampuh dengan Ilmu Hwi-yang-sin-ciang!
“Hi-yeh-heh-heh-heh-heh!” Si Muka Kuda itu meringkik lalu menggerakkan tangan kanannya seperti menangkis. Bu¬kan tangan Setan Botak yang ditangkis¬nya, melainkan hawa pukulan itu yang bagaikan angin panas menyambar-nyambar dah¬syat. Dari kibasan atau tangkisan tangan kanan Iblis Tua Muka Kuda ini bertiup hawa yang dingin luar biasa karena untuk menghadapi pukulan sakti lawan, ia pun mengeluarkan ilmunya Swat-im Sin-ciang yang berhawa dingin melebihi salju!
“Darrr....!”
Pertemuan dua hawa yang bertentangan itu menimbulkan suara nyaring di¬barengi sinar berapi, seperti pertemuan dua hawa Im dan Yang di angkasa yang menimbulkan kilat halilintar! Dan tubuh kedua orang tokoh besar itu tergetar dan masing-masing mundur dua langkah.
“Hi-yeh-heh-heh....! Hwi-yang Sin-ciang tidaklah begitu buruk....!” Si Muka Kuda tertawa mengejek.
Kang-thouw-kwi Gak Liat diam-diam terkejut sekali. Dari pertemuan tenaga sakti itu tadi saja ia sudah dapat meng¬ukur kehebatan Swan-im Sin-ciang yang ternyata dapat menandingi ilmunya. Pa¬dahal di dalam hatinya ia sudah meng¬anggap bahwa Hwi-yang Sin-ciang yang dilatihnya itu paling hebat di dunia. Ia menjadi penasaran dan mukanya merah oleh ejekan lawan.
“Siangkoan Lee, kausambutlah ini....!”
Kini dari tempat ia berdiri, Setan Botak itu mengerahkan seluruh tenaga Hwi-yang Sin-ciang disalurkan ke dalam se¬pasang lengannya. Mengepullah uap putih dari sepasang lengan itu yang kulitnya berubah makin merah seperti besi dibakar. Melihat ini, kembali Si Muka Kuda terkekeh meringkik-ringkik, namun sambil meringkik itu dia pun telah mengerahkan tenaganya sehingga kedua tangannya tampak menge-bulkan uap pula, uap putih yang bergerak naik, keluar dari dalam lengan bajunya. Biarpun sepasang lengan mereka itu masing-masing mengeluarkan uap putih, akan tetapi sesungguhnya amatlah jauh beda¬nya. Uap yang keluar dari sepasang lengan Setan Botak adalah panas, sebalik¬nya yang mengebul keluar dari lengan Si Muka Kuda adalah uap dingin.
Bentakan Kang-thouw-kwi itu disusul dengan mencelatnya tubuhnya ke udara dan ia telah menerjang Si Muka Kuda dengan pukulan Hwi-yang Sin-ciang se¬kuatnya. Namun Si Muka Kuda yang tahu pula akan kelihaian serangan ini, sudah melesat pula ke atas untuk menyambut pukulan lawan dengan pukulan Swat-im Sin-ciang pula. Kalau gebrakan yang pertama tadi dilakukan di atas tanah dan masing-masing hanya ingin mengukur ke¬hebatan ilmu pukulan lawan, kini mereka bertumbukan di udara dengan pengerahan tenaga sepenuhnya. Karena kini mereka mengerahkan seluruh tenaga dan meng¬gunakan kedua telapak tangan, maka benturan tenaga yang berlawanan sifat¬nya ini terjadi dengan dahsyatnya. Ledakan keras disusul sinar terang menyi¬laukan mata dan tubuh keduanya men¬celat ke belakang seperti dilontarkan! Hanya bedanya, kalau Kang-thouw-kwi roboh setengah terbanting sehingga ia terhuyung-huyung di atas tanah, adalah Si Muka Kuda dapat berjungkir-balik dengan indahnya dan kemudian turun ke atas tanah dalam keadaan tenang. Hal ini membuktikan dalam hal gin-kang (ilmu meringankan tubuh) Si Muka Kuda masih berada di atas Setan Botak tingkatnya.
“Suhu.... suhu.... tolong....!”
Mendengar seruan muridnya ini, Kang-thouw-kwi meloncat ke kiri di mana Ouwyang Seng sedang dihajar oleh Han Han dengan ranting, dicambuki dan se¬tiap kali Ouwyang Seng hendak melawan, Han Han dibantu oleh Kim Cu. Dikeroyok dua, Ouwyang Seng menjadi repot sekali, dan tubuhnya sudah babak-belur dihajar sabetan ranting di tangan Han Han. Sam¬bil meloncat, Kang-thouw-kwi mengulur tangannya dan tiba-tiba saja Han Han dan Kim Cu kehilangan lawan karena Ouwyang Seng telah lenyap dari depan mereka. Ketika mereka memandang ke depan, ternyata pemuda tanggung itu telah dikempit oleh lengan Kang-thouw-kwi yang sudah mengangguk ke arah Si Muka Kuda sambil berkata.
“Siangkoan Lee, Swat-im Sin-ciang yang tersohor itu tidak buruk! Karena aku ada keperluan di kota raja, tidak ada waktu untuk lebih lama melayanimu. Kauperdalam ilmumu itu agar kelak ka¬lau ada kesempatan dapat kita bertan¬ding tiga hari tiga malam lamanya!”
Si Muka Kuda meringkik keras sekali, kemudian menjawab, “Gak Liat, engkau memang licik. Akan tetapi karena tidak sengaja kau datang melanggar wilayahku, biarlah kali ini kuampuni nyawamu! Lain kali boleh kita bertanding sampai mam¬pus untuk menentukan siapa yang lebih unggul di antara kita.”
Mendengar ucapan mereka itu, Han Han mendapat kesan bahwa keduanya adalah orang-orang yang tinggi hati dan sombong, menganggap diri sendiri ter¬pandai. Akan tetapi pada saat itu, Kang-thouw-kwi sudah menoleh kepadanya dan membentak, “Han Han, hayo kita kem¬bali!”
Pada saat itu, Han Han merasa be¬tapa tangan kirinya dipegang orang, di¬pegang oleh sebuah tangan yang ber¬kulit lunak halus. Tanpa melirik ia me¬ngerti bahwa yang memegang tangannya tentulah anak perempuan yang bernama Kim Cu tadi. Ia merasa suka kepada anak ini, merasa seolah-olah mereka telah menjadi sahabat lama. Dan ia pun maklum bahwa ikut kembali bersama Kang-thouw-kwi dan Ouwyang Seng ber¬arti mengalami siksaan karena Ouwyang Seng tentu akan membalas dendam. Maka ia lalu berkata dengan suara lantang.
“Saya tidak mau kembali! Saya tidak sudi lagi dipaksa menjadi pelayan Ouw¬yang-kongcu yang jahat dan kejam!”
Sepasang mata Setan Botak mengeluarkan sinar kemarahan. Sejenak ia me¬mandang tajam, lalu terdengar kata-kata¬nya, “Engkau telah mencuri ilmu pukul¬anku, dan sekarang engkau tidak mau ikut, sepatutnya engkau mampus!” Se¬telah berkata demikian, dengan lengan kiri masih mengempit tubuh muridnya, Kang-thouw-kwi mendorongkan tangan kanannya ke arah Han Han. Ia memukul anak itu dengan Hwi-yang Sin-ciang dari jarak jauh dengan penuh keyakinan bahwa sekali pukul tubuh bocah itu tentu akan menjadi hangus! Han Han maklum akan datangnya bahaya, maka ia menjadi ne¬kat. Cepat ia pun mengerahkan seluruh kemauannya dan memaksa hawa di pusarnya bergerak ke arah kedua lengannya yang ia dorongkan menyambut pukulan kakek botak itu.
“Desssss....!” Han Han tertumbuk hawa yang amat panas. Kedua lengannya yang ia dorongkan seolah-olah remuk seperti ditusuk-tusuk jarum nyerinya. Tubuhnya terlempar ke belakang, ber¬gulingan dan ia roboh dengan mata men¬delik. Ia telah pingsan! Kim Cu lari menubruknya dan melindungi tubuhnya sam¬bil berteriak ke arah kakek botak yang memandang terheran-heran, “Jangan bunuh dia....!”
Kang-thouw-kwi Gak Liat benar-benar terheran-heran dan penasaran bercampur marah bukan main menyaksikan betapa kacungnya itu mampu menangkis dorong¬annya sehingga tidak roboh hangus dan mati, melainkan hanya pingsan saja! Dan ia juga dapat merasakan betapa dorongan anak itu mengandung hawa yang jauh lebih panas daripada tingkat yang dimiliki Ouwyang Seng. Tingkat seperti itu tidak mungkin dapat dimiliki anak ini kalau hanya meniru-niru Ouwyang Seng dalam berlatih, maka timbullah kecurigaannya bahwa kacung itu tentu telah menggera¬tak ke dalam daerah terlarang di gedung di Tiong-kwan itu yang menjadi tempat ia berlatih dengan rahasia!
“Bocah setan, pencuri busuk! Mam¬puslah!” Ia mengirim pukulan lagi, tidak peduli bahwa pukulannya kali ini mem¬bahayakan pula Kim Cu yang berlutut di dekat tubuh Han Han.
 “Desssss....!” Hawa yang amat dingin menangkis pukulannya dari samping. Ki¬ranya Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee, Si Muka Kuda itu telah menangkisnya dan kini berdiri bertolak pinggang sambil berkata.
“Gak Liat, apakah engkau sudah tidak memandang aku sebagai orang setingkat, bahkan lebih tinggi daripadamu? Di dae¬rahku ini tidak boleh engkau membunuh orang sembarangan saja tanpa seijinku!”
“Siangkoan Lee, aturan apa ini? Bocah ini adalah kacungku sendiri, mau kubunuh atau tidak, apa sangkut-pautnya denganmu?” Setan Botak itu membentak marah.
Ma-bin Lo-mo tertawa meringkik. “Engkau boleh membunuh bocah itu, akan tetapi aku pun akan membunuh muridmu itu.”
Gak Liat makin marah. “Mengapa?”
“Hemmm, engkau ini tua bangka yang pura-pura bodoh. Kalau tidak ada bocah itu yang menolong muridku dari pukulan muridmu, apakah kaukira aku tinggal diam saja? Kalau bocah ini tadi tidak menangkis pukulan muridmu, tentu aku yang turun tangan dan apa kaukira mu¬ridmu masih dapat hidup sekarang? Aku sudah memandang mukamu yang buruk, apa engkau berani memandang rendah kepadaku? Aku telah mengampuni murid¬mu, apakah engkau masih berkeras hen¬dak membunuh anak ini?”
“Tapi, dia bukan muridmu, dia kacungku!”
“Kau keliru. Setelah dia menolong muridku, berarti dia pun menjadi orang In-kok-san!”
“Ahhh! Engkau tidak tahu siapa dia! Hemmm, dia telah mencuri ilmuku....”
“Itu bukan alasan. Salahmu sendiri. Pendeknya, aku melarang engkau mem¬bunuhnya dan kalau engkau hendak melanjutkan pertandingan, silakan.”
Setan Botak itu meragu. Ia tidak sayang kepada Han Han dan ia tidak peduli anak itu menjadi murid In-kok-san. Apalagi mengingat kakek anak itu! Hanya ia membenci anak itu yang sudah mencuri Hwi-yang Sin-ciang, sungguhpun ia tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. Ia mendengus marah. “Baiklah, lain kali masih banyak waktu untuk mem¬bunuhnya dan lain kali aku akan mem¬balas kebaikanmu ini!” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat lenyaplah Setan Botak itu bersama muridnya.
“Panggil saudara-saudaramu, bawa dia ke atas!” Ma-bin Lo-mo berkata kepada Kim Cu dan ia pun berkelebat lenyap dari tempat itu. Kim Cu lalu memasuk¬kan dua buah jari tangannya ke dalam mulut, menekuk lidah dan bersuit keras dam nyaring sekali. Suara suitan itu bergema ke empat penjuru dam dari sana-sini terdengar suitan-suitan balasan. Tak lama kemudian muncullah dua orang anak laki-laki dan dua anak perempuan yang usianya antara sepuluh sampai tiga belas tahun, berlari-larian dengan gerakan ri¬ngan. Mereka itu adalah anak-anak yang tampan dan cantik, dan segera mereka merubung Kim Cu dengan hujan pertanya¬an sambil memandang tubuh Han Han yang masih menggeletak pingsan di atas tanah.
“Nanti saja kuceritakan. Namanya Sie Han, dia murid baru suhu. Mari bantu aku menggotongnya ke puncak.”
Beramai-ramai lima orang anak ini menggotong tubuh Han Han. Sambil ber¬cakap-cakap mereka menggotong Han Han mendaki puncak dan asyik sekali Kim Cu menceritakan peristiwa yang telah terjadi, tentang Kang-thouw-kwi Gak Liat yang sudah lama mereka de¬ngar namanya itu.
Siapakah sebenarnya kakek yang mukanya berbentuk muka kuda ini? Seperti telah diceritakan Setan Botak kepada mu¬ridnya, dia bernama Siangkoan Lee dan julukannya adalah Ma-hin Lo-mo. Kakek ini di waktu mudanya adalah seorang pembesar tinggi Kerajaan Beng-tiauw, akan tetapi karena menyalahgunakan kedudukannya dan bersikap sewenang-wenang mengandalkan kedudukan, harta dan terutama sekali ilmu silatnya yang tinggi, ia dimusuhi orang-orang gagah di dunia kang-ouw sehingga akhirnya ia dipecat. Siangkoan Lee lalu melarikan diri dan memperdalam ilmunya sehingga kemudian ia muncul sebagai seorang tokoh atau datuk golongan sesat, melakukan segala macam perbuatan kejam dan tidak peduli akan prikemanusiaan. Nama¬nya makin meningkat dan ditakuti semua orang setelah belasan tahun yang lalu ia berhasil mendapatkan sebuah di antara ilmu-ilmu yang mujijat dan tinggi yang seolah-olah disebarkan oleh penghuni Pulau Es yang hanya dikenal dengan sebutan Koai-lojin (Kakek Aneh). Ber¬sama-sama dengan puluhan orang tokoh kang-ouw dia mengejar dan memperebut-kann ilmu-ilmu ini dan akhirnya ia ke¬bagian ilmu yang diciptakannya menjadi Swat-im Sin-ciang, di samping Setan Botak yang mendapatkan ilmu inti sari tenaga Yang sehingga ia dapat mencipta¬kan Ilmu Hwi-yang Sin-ciang.
Biarpun puluhan tahun Ma-bin Lo¬mo hidup sebagai seorang manusia iblis, namun di dasar hatinya dia adalah se¬orang yang berjiwa patriot. Dia tidak secara langsung menentang pemerintah penjajah Mancu, akan tetapi di lubuk hatinya ia membenci bangsa Mancu ini. Maka ia lalu memilih In-kok-san di Pegunungan Tai-hang-san, di mana ia me¬ngumpulkan anak-anak berusia belasan tahun, anak-anak yang dia pilih bertulang dan berbakat baik, juga yang memiliki wajah yang elok-elok. Ia sudah mengum¬pulkan belasan orang anak yang ia gem¬bleng sebagai murid-muridnya dengan cita-cita untuk kelak membentuk barisan murid-murid yang pandai untuk menentang dan menggulingkan pemerintah pen¬jajah memimpin rakyat yang berniat memberontak terhadap Kerajaan Mancu. Ma-bin Lo-mo boleh jadi kejam dan tak berprikemanusiaan terhadap lawan-lawan¬nya, akan tetapi ia memimpin murid-muridnya penuh ketekunan dan kasih sayang, bersikap seperti seorang kakek terhadap cucu-cucunya. Namun, di sam¬ping kasih sayang ini, ia pun menekankan disiplin yang amat keras sehingga kalau perlu ia tidak segan-segan untuk mem¬beri hukuman yang mengerikan kepada murid yang bersalah.
In-kok-san (Puncak Lembah Berawan) merupakan puncak indah yang mempu¬nyai banyak lapangan datar. Di situ Ma-bin Lo-mo membangun beberapa buah pondok untuk dia dan murid-muridnya. Han Han digotong naik ke puncak In-kok-san dan dibawa masuk ke sebuah pondok. Ma-bin Lo-mo sendiri mengobati anak ini dari pengaruh dorongan hawa Hwi-yang Sin-ciang yang amat hebat. Dalam beberapa hari saja Han Han sudah sembuh kembali. Ketika ia siuman dari pingsannya, ia melihat Ma-bin Lo-mo, Kim Cu dan dua orang anak laki-laki berada di pondok menjaganya. Ia cepat bangkit dan memandang ke sekeliling. Sinar matanya penuh pertanyaan dituju¬kan kepada Kim Cu. Anak perempuan ini tertawa lalu berkata.
“Han Han, engkau berada di In-kok-san dan engkau telah menjadi seorang di antara kami, menjadi murid suhu.”
Mendengar ini, Han Han cepat me¬loncat turun dan berdiri memandang kakek muka kuda. “Aku.... aku tidak mau menjadi murid di sini! Aku tidak mau belajar silat!”
“Eh, kenapa, Han Han?” Kim Cu ber¬tanya heran. “Engkau sudah memiliki pukulan sakti! Kalau engkau pandai silat, tentu tidak akan mudah dipukul orang, seperti yang dilakukan Kongcu keparat itu kepadamu.”
Dengan keras kepala Han Han meng¬geleng. “Belajar silat menjemukan, mem¬buang waktu sia-sia belaka. Kalau sudah pandai hanya dipakai untuk memukul orang! Aku benci ilmu silat! Kalau aku tidak bisa silat, aku tidak akan berdekat¬an dengan orang pandai silat dan tidak akan mengalami pukulan.”
“Wah, seorang jantan harus berani menghadapi pukulan, malah membalas lebih hebat lagi. Harus tabah dan tegas agar tidak sampai kalah oleh orang lain. Apakah senangnya menjadi orang lemah dipukul orang kanan kiri dan menjadi pengecut?” Ucapan ini keluar dari se¬orang anak laki-laki usianya paling ba¬nyak sepuluh tahun, bahkan lebih muda dari Kim Cu yang kurang lebih berusia sebelas tahun.
Han Han yang merasa dimaki penge¬cut menjadi marah sekali. Ia menghadapi anak itu dan membentak, “Kau bilang aku pengecut? Siapa yang pengecut? Bukan aku, melainkan engkaulah! Engkau....!”
Di luar kesadarannya, Han Han kembali dalam kemarahannya telah memandang anak itu dengan sinar matanya yang aneh, membentaknya dengan suara yang mengandung getaran hebat. Anak laki-laki itu menjadi pucat, tubuhnya meng¬gigil, kemudian jatuh berlutut dan mulutnya berbisik-bisik, “Ya.... aku...., akulah yang pengecut....”
“Heiii, sute! Mengapa kau ini....?” Kim Cu meloncat dan menarik bangun anak itu. Han Han menjadi sadar dan teringat akan peristiwa aneh yang sama ketika ia marah-marah kepada Sin Lian dan Lauw-pangcu. Ia terkejut dan cepat menahan kemarahannya, menggunakan kekuatan kemauannya untuk tidak me¬lanjutkan pengaruh aneh yang menguasai dirinya dan yang kalau ia pergunakan mudah saja mempengaruhi orang lain itu. Ia menundukkan mukanya, tidak peduli terhadap anak itu yang telah bangkit berdiri dan terheran-heran berkata, “Apa yang terjadi....? Ahhh.... apakah aku mimpi....?”
“Ehhh.... tak mungkin....!”
Seruan ini keluar dari mulut Ma-bin Lo-mo dan ia sudah meloncat maju dan memegang kedua pundak Han Hang me¬maksa anak itu memandang wajahnya. Han Han sudah pernah diperiksa seperti ini oleh Lauw-pangcu dan juga oleh Kang-thouw-kwi, maka sekali ini ia berlaku cerdik. Cepat ia menindas segala perasa¬annya sehingga batinnya berada dalam keadaan “kosong”, maka ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Ma-bin Lo-mo, kakek itu tidak mendapat¬kan sesuatu yang aneh kecuali sinar ma¬ta bocah itu benar-benar amat terang dan tajam, seolah-olah dapat menjenguk ke dalam hatinya melalui sinar matanya.
“Hemmm, aneh sekali. Bocah aneh, engkau akan hidup senang menjadi murid di sini, akan tetapi di samping itu pun engkau harus belajar taat. Aku menjamin kepada semua muridku kelak akan men¬jadi jago yang sukar dicari bandingnya, akan tetapi kalau tidak taat dan me¬langgar peraturan, akan kuhukum berat. Kalau berhati keras dan berkepala batu seperti engkau, sekali dijatuhi hukuman, lehermu akan putus! Hayo lekas cerita¬kan kepadaku tentang dirimu dan siapa saja yang pernah memberi pelajaran ilmu silat kepadamu!”
Di lubuk hati Han Han menentang, akan tetapi ketika ia mengerling kepada Kim Cu, ia melihat gadis cilik itu ber¬kedip-kedip dan mengangguk kepadanya, pandang mata anak perempuan itu penuh kekhawatiran dan penuh pembelaan. Sa¬darlah Han Han. Ia tidak boleh main-main. Kakek ini tidak kurang kejamnya daripada Setan Botak. Kalau ia menen¬tang dan dibunuh, apa untungnya? Pula belajar di sini agaknya lebih menyenang¬kan, terutama karena di situ ada Kim Cu yang manis budi.
Ia duduk kembali di pembaringan menghadapi Ma-bin Lo-mo. Teringat ia akan tata susila, dan karena ia tidak melihat jalan keluar lagi, terpaksa ia lalu menekuk lututnya, berlutut di depan kakek muka kuda itu sambil berkata.
“Teecu Sie Han menerima kebaikan suhu untuk memberi bimbingan.”
“Heh-heh-hiyeeehhhhh....! Anak baik, lekas ceritakan riwayatmu. Tunggu dulu, mari kita keluar dan kau Kim Cu, kum¬pulkan semua saudaramu agar mengenal muridku yang baru, Sie Han!”
Han Han mengikuti mereka keluar dari pondok dan ternyata di luar pondok itu adalah tanah datar berumput yang luas sekali. Dari jauh tampak awan putih berkelompok seperti sekelompok domba berbulu putih. Hawanya dingin sekali dan di sekeliling tempat itu tampak halimun tipis seperti sutera putih yang jarang. Seperti juga tadi, Kim Cu memasukkan dua buah jari tangan ke mulut lalu ber¬suit nyaring beberapa kali. Terdengar suitan-suitan balasan dari empat penjuru dan tak lama kemudian datanglah ber¬lari-larian lima belas orang anak-anak yang sebaya dengan Kim Cu, sekitar sepuluh sampai tiga belas tahun usianya. Jumlah semua murid, termasuk Han Han, ada lima orang anak perempuan dan empat belas orang anak laki-laki, ke¬semuanya sembilan belas orang. Dengan mata terbelalak Han Han melihat bahwa tiga orang laki-laki di antara mereka cacad, yang seorang buntung kaki kiri¬nya, seorang buntung lengan kirinya dan seorang lagi buntung kedua daun telinga¬nya! Namun gerakan mereka sama cepat¬nya dengan yang lain. Bahkan Si Buntung kaki itu pun dapat berlari cepat dibantu sebatang tongkat.
Ma-bin Lo-mo duduk di atas sebuah batu hitam yang halus permukaannya, kemudian menarik tangan Han Han dan menyuruh anak itu duduk di dekatnya sambil mengelus-elus kepala anak itu. Diam-diam Han Han merasa agak ter¬haru. Benarkah guru barunya ini adalah seorang yang kejam? Sentuhan tangan pada kepalanya mendatangkan perasaan haru karena semenjak ia tidak berayah ibu lagi, belum pernah ada orang men¬curahkan kasih sayang seperti kakek ini. Namun hanya sebentar saja ia sudah dapat menguasai keharuan hatinya.
“Nah, berceritalah, muridku.”
“Jangan sungkan-sungkan dan banyak aturan, Han Han sute (Adik Seperguruan)!” kata Kim Cu gembira. “Di sini kita berada di antara keluarga sendiri!”
“Benar! Benar sekali!” teriak anak-anak itu dan mereka pun duduk mem¬bentuk lingkaran kipas menghadapi Han Han dan guru mereka.
Timbul kegembiraan di hati Han Han. Agaknya, guru dan murid-muridnya ini merupakan orang-orang yang amat baik. Maka lenyaplah keraguan dan kesungkan¬an hatinya dan ia pun mulai bercerita.
“Namaku Sie Han dan kedua orang tuaku, seluruh keluarga terbunuh oleh orang-orang Mancu yang kejam....”
“Aaahhh, aku juga, begitu....!”
“Orang tuaku juga!”
“Keluargaku juga terbunuh orang Mancu....!”
Han Han tercengang. Semua anak itu, delapan belas orang banyaknya, termasuk Kim Cu, berteriak-teriak mengatakan bahwa orang tua dan keluarga mereka pun terbasmi oleh orang-orang Mancu! Mengapa begini kebetulan? Ataukah ka¬kek muka kuda itu memang sengaja me¬ngumpulkan murid-murid dari keluarga yang terbasmi orang Mancu? Betapapun juga, ia menjadi terharu dan baru kini terbuka matanya bahwa bukan dia se¬orang saja yang bernasib buruk, kehilang¬an orang tua dan keluarga yang menjadi korban keganasan orang Mancu. Baru sekarang yang berkumpul di In-kok-san saja sudah ada begini banyak, belum yang tidak ia ketahui.
“Seorang diri aku mengembara me¬rantau tak tentu arah tujuan. Kemudian aku bertemu dengan Lauw-pangcu dan menjadi muridnya hampir setengah ta¬hun.”
“Kaumaksudkan Lauw-pangcu ketua Pek-lian Kai-pang?” Ma-bin Lo-mo tiba-tiba bertanya.
“Benar, suhu.”
“Hemmm, apa saja yang ia ajarkan kepadamu?”
“Dalam waktu lima bulan lebih teecu hanya belajar memasang kuda-kuda dan langkah-langkah kaki saja, di samping belajar bersamadhi dan mengatur pernapasan.”
“Bagus, coba kau berlatih langkah-langkah kaki menurut ajaran Lauw-pangcu.”
Han Han mulai tertarik kepada kakek ini. Berbeda dengan Lauw-pangcu, agak¬nya guru baru ini penuh perhatian ter¬hadap dirinya, maka sekaligus timbul kegairahan hatinya untuk belajar. Ia lalu melangkah ke depan, kemudian memain¬kan gerak-gerak langkah yang pernah ia pelajari dari Lauw-pangcu, atau lebih tepat dari Sin Lian karena anak perempuan itulah yang lebih banyak memberi pe¬tunjuk-petunjuk kepadanya. Ia sudah siap untuk bersikap sabar apabila murid-murid yang lain akan mentertawakannya karena ia tahu bahwa mereka itu rata-rata, seperti Kim Cu, tentu telah memiliki kepandaian ilmu silat yang tinggi. Akan tetapi ternyata mereka itu tidak ada yang tertawa, hanya memandang penuh perhatian. Setelah selesai mainkan langkah-langkah itu, Han Han kembali duduk di dekat gurunya yang mengangguk-ang¬guk.
“Baik sekali. Dasar-dasar langkah yang diajarkan Lauw-pangcu tepat dan memudahkan engkau mempelajari ilmu selanjutnya. Sekarang lanjutkan ceritamu.”
“Kemudian muncul Kang-thouw-kwi yang membasmi Pek-lian Kai-pang dan dia memaksa aku ikut pergi bersamanya dan menjadi kacung di gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok di Tiong-kwan. Aku dipaksanya melayani semua keperluan dia dan Ouwyang Seng yang berlatih ilmu silat di sana. Sampai setahun lamanya aku menjadi kacung mereka, lalu mereka mengajak aku melakukan perjalanan me¬nuju ke kota raja dan akhirnya bertemu dengan suhu di sini....”
“Nanti dulu, Han Han. Selama setahun engkau bekerja kepada Gak Liat. Apakah dia mengajar silat kepadamu?”
“Sama sekali tidak, suhu.”
“Hemmm, kalau tidak sama sekali, bagaimana engkau bisa melakukan pukul¬an Hwi-yang Sin-ciang?”
“Pukulan Hwi-yang Sin-ciang?” Han Han memandang gurunya yang baru ini penuh keheranan. “Teecu sama sekali tidak mengerti dan tidak bisa....”
“Perlihatkan lenganmu!”
Han Han mengangsurkan kedua le¬ngannya. Ma-bin Lo-mo memegang ta¬ngan muridnya ini dan menekan. Rasa dingin menjalar ke dalam tangan Han Han, membuat kedua lengannya meng¬gigil. Makin lama makin dingin dan kare¬na ia merasa tidak tahan, terpaksa ia mengerahkan hawa dari pusarnya untuk melawan hawa dingin ini. Hawa panas yang timbul karena latihan-latihan secara diam-diam di tempat latihan Setan Botak merayap keluar melalui kedua lengannya dan kedua lengan itu menjadi hangat kembali. Ma-bin Lo-mo melepaskan kedua lengan anak itu dan berkata, alisnya berkerut.
“Han Han, awas jangan engkau membohong. Apakah engkau minta dihukum?”
Ketika kebetulan Han Han mengerling ke arah Kim Cu, ia melihat wajah anak perempuan itu menjadi pucat dan anak itu memberi tanda dengan kedipan mata.
 “Teecu sama sekali tidak membohong. Memang Setan Botak itu tidak memberi pelajaran apa-apa kepada teecu.”
“Dari mana engkau bisa mendapatkan hawa panas yang keluar dari tan-tian di pusarmu?” Wajah yang tadinya ramah dari kakek itu kini menjadi bengis, se¬perti muka seekor kuda marah.
Wajah Han Han menjadi merah karena malu. “Teecu mencurinya dari mendengarkan ajarannya kepada Ouwyang Seng dan secara diam-diam teecu ber¬latih seorang diri tanpa mereka ketahui.”
Anak-anak itu kini tertawa, akan tetapi sama sekali bukan mentertawakan¬nya karena terdengar mereka memuji. Bahkan Kim Cu bersorak, “Bagus sekali! Engkau cerdik sekali, Han Han!”
Han Han memandang anak-anak itu, hampir tidak percaya dia. Juga gurunya kelihatan girang dan mengangguk-angguk. Bagaimana mereka ini? Mendengar dia mencuri malah dipuji, dan dikatakan cerdik!
Agaknya Ma-bin Lo-mo mengerti akan kebingungan muridnya, maka ia berkata, “Kemajuan hanya dapat diperoleh dengan kecerdikan. Untuk memperoleh kemajuan, segala jalan dapat ditempuh, bahkan mencuripun baik saja. Demi tercapainya cita-cita, segala cara boleh digunakan dan tidak ada yang buruk! Anak-anak semua, contohlah perbuatan Han Han yang cerdik!”
Di dalam hatinya Han Han sama sekali tidak menyetujui pendapat ini, akan tetapi mulutnya tidak membantah. Bah¬kan ia mulai meragukan pendapatnya sendiri berdasarkan kitab-kitab filsafat yang menyatakan bahwa kalau jalan yang ditempuh buruk, maka hasilnya pun tidak baik. Kalau dia yang benar, mengapa semua murid Ma-bin Lo-mo ini menerima dan menyetujui nasehat guru ini? Beta¬papun juga, kebenaran pendapat Ma-bin Lo-mo sudah terbukti. Kalau dia tidak mencuri, mana mungkin dia bisa memiliki kekuatan yang timbul dari latihan me¬rendam kedua lengan datam air panas, bahkan membakarnya dalam nyala api tulang-tulang manusia? Han Han masih terlampau kecil untuk dapat yakin akan kebenaran, dan tentu saja anak seusia dia itu mudah terpengaruh keadaan sekeliling¬nya. Tanpa ia sadari, mulailah pengaruh-pengaruh buruk kaum sesat memasuki hatinya.
“Coba ceritakan bagaimana caramu melatih kedua lenganmu di sana,” kata pula Ma-bin Lo-mo dengan suara me¬merintah. Anak-anak yang lain tidak ada yang bergerak atau mengeluarkan suara, semua mendengarkan dengan penuh per¬hatian.
“Pertama-tama teecu merendam ke¬dua lengan ke dalam air mendidih, yaitu air yang dicampuri obat-obatan dan ra¬cun oleh Kang-thouw-kwi, entah racun apa. Mula-mula memang terasa panas, akan tetapi dengan mempertebal tekad dan memperkuat kemauan sambil me¬ngerahkan hawa dari pusar ke arah kedua lengan, akhirnya teecu kuat bertahan sampai semalam suntuk. Kemudian kare¬na teecu disuruh menggodok batu bintang....” Han Han berhenti dan teringat dengan hati menyesal mengapa ia ceri-takan ini semua! Ilmu yang dipelajari itu adalah rahasia. Mengapa ia begitu bodoh untuk menceritakan kepada orang lain? Kalau barang rahasia dibuka, tentu saja akan hilang keampuhannya.
“Batu bintang? Benar-benarkah Si Botak mempergunakannya? Di mana dia mengumpulkan batu bintang itu?” Ma-bin Lo-mo bertanya penuh perhatian.
Han Han tidak dapat mundur lagi. Biarlah kuceritakan sampai pada batu bintang itu saja, pikirnya. “Batu-batu bintang itu didapatkan di sepanjang Su¬ngai Huang-ho di sebelah timur kota Tiong-kwan.”
“Lalu bagaimana? Teruskan....!” Desakan ini keluar dari mulut para murid Ma-bin Lo-mo yang agaknya ingin sekali tahu bagaimana cara melatih diri untuk mendapatkan Ilmu Pukulan Sakti Inti Api itu.
“Diam-diam teecu lalu merendam kedua tangan teecu ke dalam air larutan batu bintang yang mencair setelah di¬godok berhari-hari lamanya. Panasnya hampir tak tertahan, akan tetapi berkat ketekadan teecu, akhirnya teecu kuat juga. Nah, hanya itulah yang secara diam-diam teecu lakukan, akan tetapi sesungguhnya, teecu tidak pernah mem¬pelajari ilmu pukulan apa-apa dari Kang-thouw-kwi.”
“Inilah yang dinamakan bakat dan jodoh! Han Han, engkau berbakat secara ajaib sekali sehingga tanpa bimbingan engkau dapat berhasil melatih Hwi-yang Sin-ciang. Dan engkau berjodoh dengan kami, berjodoh untuk menjadi muridku dan ini merupakan nasib baikmu. Aku akan menyelidiki Hwi-yang Sin-ciang, dan kelak engkau akan membikin Gak Liat kecelik karena kau akan melawannya dengan ilmunya sendiri. Ha-ha-ha, jangan khawatir, aku akan menyempurnakan latihanmu di samping kau mempelajari ilmu ciptaanku. Akan tetapi, untuk itu membutuhkan waktu yang lama dan ke¬tekunan yang luar biasa. Sekarang, eng¬kau harus melakukan kewajiban bersem¬bahyang dan bersumpah, muridku.”
“Bersumpah....?” Han Han tertegun dan terheran ketika melihat murid-murid itu tanpa diperintah telah berlari-lari dan mempersiapkan meja sembahyang di ruangan depan pondok.
“Semua murid harus menjalankan sumpah,” ia mendengar Kim Cu berkata.
Gadis cilik ini membawa sesetel pakaian dan menyerahkannya kepada Han Han. “Untuk sementara kaupakailah dulu pa¬kaian seorang suheng (Kakak Seperguru¬an) ini sebelum dapat kubuatkan yang baru untukmu. Yang ada hanya warna putih ini. Warna apa yang paling kausukai?”
“Putih....” jawab Han Han sekedarnya. Ia tidak ingin memakai pakaian orang lain, akan tetapi karena pakaian¬nya penuh tambalan dan kotor, dan dia tidak tega untuk menolak kebaikan Kim Cu, ia menerimanya juga. Pula, bukankah ia kini sudah menjadi murid di situ, ber¬arti menjadi seorang di antara anak-anak itu? Masa ia memakai pakaian seperti pengemis?
“Lekas kaupakai pakaian itu dan mem¬bersihkan diri. Suhu telah menanti untuk upacara pengambilan sumpah. Hayo kuantar, di sana ada air....” Tanpa menanti jawaban, Kim Cu memegang tangan Han han, ditariknya dan diajak berlarian ke belakang puncak. Ternyata di situ ter¬dapat sumber air yang amat sejuk dan jernih sehingga segala batu-batuan di dasarnya tampak jelas dan air itu sendiri agak kehijauan saking jernihnya.
“Lekas kau mandi dan tukar pakaian, sute.”
Mendengar sebutan sute ini, sejenak Han Han tertegun kemudian ia teringat akan Sin Lian yang juga menyebutnya sute (adik seperguruan). Ia tersenyum dan diam-diam merasa geli hatinya. Ada dua orang gadis cilik yang keduanya lebih muda dari padanya, akan tetapi keduanya adalah sucinya (kakak perem¬puan seperguruan)!
“Eh, kenapa kau tersenyum-senyum dan tidak lekas mandi?”
Han Han tertawa. “Engkau.... engkau baik sekali, suci.”
“Tentu saja! Bagaimana seorang suci tidak baik kepada sutenya? Kaupun harus baik dan taat kepada sucimu. Nah, hayo lekas mandi dan tukar pakaian bersih.”
Han Han mendekati air dan hendak membuka bajunya. Akan tetapi ia melihat betapa Kim Cu masih berdiri di situ menghadapinya dan memandangnya, maka ia melepaskan lagi baju yang sudah ia pegang untuk ditanggalkan. “Eh, suci. Harap jangan memandang ke sini....”
“Mengapa sih?”
“Malu ah....”
Kim Cu mengangkat alisnya, mem¬belalakkan kedua mata kemudian tertawa terkekeh-kekeh, menutup mulut dengan tangan sambil membalikkan tubuh mem¬belakangi Han Han. “Hi-hi-hik, engkau benar-benar orang aneh! Apakah tubuhmu mempunyai cacad maka kau malu untuk ditonton? Lekaslah mandi dan tukar pa¬kaian, aku menanti di sana. Jangan lama-lama karena suhu sudah menunggu!”
Gadis cilik itu berlarian pergi dan Han Han cepat menanggalkan pakaian lalu membersihkan tubuh dengan pikiran melayang-layang. Benar aneh. Apakah bagi anak-anak di situ, bertelanjang di depan orang lain bukan merupakan hal yang membuat malu? Ia tidak mau mempedulikan hal itu lebih lanjut, melainkan cepat ia mandi. Air itu dingin sekali, membuatnya menggigil, akan tetapi se¬perti biasa, berkat kekuatan kemauannya yang luar biasa, secara otomatis timbul hawa dari pusarnya melawan rasa dingin sehingga tubuhnya tidak menggigil lagi, bahkan terasa sejuk dan segar. Setelah cepat-cepat berpakaian dengan warna putih yang bersih dan masih baru, me¬makai pula sepatu yang disediakan oleh Kim Cu, Han Han merasa seolah-olah menjadi orang baru. Di dalam saku baju itu ia menemukan sebuah pita rambut, maka setelah memeras rambutnya sampai kering, ia lalu mengikat rambutnya di atas kepala dan ketika pemuda tanggung ini kembali ke pondok, semua murid Ma-bin Lo-mo memandangnya dengan mata berseri dan kagum. Apalagi Kim Cu. Nona cilik ini menyambutnya dengan kata-kata memuji.
“Sute, engkau benar-benar tampan dan gagah!”
Dipuji secara begitu terbuka di depan banyak anak-anak, wajah Han Han men¬jadi merah. Ma-bin Lo-mo tertawa dan memanggilnya dari belakang meja sem¬bahyang.
“Han Han, muridku yang baik. Lekas engkau menyalakan sembilan batang hio dan bersembahyang, kemudian berlutut di depan meja sembahyang untuk bersumpah menirukan semua kata-kataku.”
“Baik, suhu.”
Han Han menghampiri meja sembahyang, ditonton semua murid di situ. Sam¬bil menyalakan sembilan batang hio, ia mengangkat muka memandang. Di atas meja sembahyang itu terdapat arca se¬tengah badan, arca seorang kakek tua yang wajahnya keren, hidungnya agak bengkok seperti hidung burung. Wajah yang tampan dan gagah akan tetapi membayangkan kekejaman.
“Arca siapakah itu....?” Ia berbisik, akan tetapi gurunya tidak menjawab, dan sebaliknya ia mendengar suara Kim Cu di sebelah kanan.
“Jangan banyak bertanya. Itu arca Suma-couwsu (Kakek Guru she Suma)....”
Hemmm, arca itu tentulah arca guru Ma-bin Lo-mo atau kakek guru yang di¬puja-puja di tempat itu. Ia tidak peduli lalu mulai bersembayang, mengacung-acungkan dupa bernyala itu dengan sikap hormat, kemudian menancapkan hio (dupa) itu di atas tempat dupa dan menjatuhkan diri berlutut dengan kedua tangan terkepal di depan dada. Pada saat itu, ter¬dengar suara Ma-bin Lo-mo yang dituju¬kan kepadanya.
“Murid baru Sie Han, sekarang ber¬sumpahlah dan meniru semua kata-kata¬ku.”
“Baiklah, suhu. Teecu siap,” jawab Han Han, bulu tengkuknya meremang juga karena suasana hening itu menyeramkan, dengan asap hio mengepul dan berbau harum, ditambah suara Ma-bin Lo-mo yang terdengar parau mengandung getar¬an penuh kesungguhan. Maka bersumpah¬lah Han Han, tidak sepenuh hatinya ka¬rena ia hanya menirukan ucapan Ma-bin Lo-mo, dia bukan bersumpah secara suka rela, hanya untuk syarat paksaan.
“Teecu Sie Han bersumpah di hadapan Couwsu yang mulia bahwa mulai saat ini teecu menjadi murid Suhu Siangkoan Lee dan berjanji akan belajar dengan tekun dan rajin, mematuhi segala perin¬tah dan larangan suhu, siap untuk menerima hukuman apa pun juga jika teecu melakukan pelanggaran. Mulai saat ini, teecu menyerahkan jiwa raga ke tangan Suhu Siangkoan Lee yang akan menurun¬kan ilmu-ilmu warisan dari Couwsu yang mulia. Ilmu-ilmu itu kelak akan teecu pergunakan untuk mengangkat tinggi nama besar Couwsu dan nama besar suhu, untuk mengusir penjajah dari tanah air dan untuk melaksanakan segala perin¬tah suhu.”
Di dalam hatinya, Han Han amat tidak setuju dengan isi sumpahnya itu. Tentang ketaatan dan hukuman ia dapat menerimanya, akan tetapi mengapa se¬telah tamat belajar, cita-citanya hanya mengusir penjajah dan mengangkat tinggi nama guru? Mengapa tidak disebut-sebut tentang kewajiban para pendekar yang membela dan mempertahankan keadilan dan kebenaran, membela orang-orang ter¬tindas dan menentang fihak yang sewenang-wenang? Akan tetapi agaknya Ma-bin Lo-mo memiliki ilmu untuk men¬jenguk isi hati orang, demikian pikir Han Han, karena kakek itu lalu mengajak mereka duduk di lapangan di luar pondok kemudian berkata.
“Han Han, dan semua muridku. Ja¬ngan kalian mudah disesatkan oleh pendapat orang-orang yang menyebut diri pendekar-pendekar kang-ouw bahwa se¬orang yang berkepandaian berkewajiban untuk membasmi orang jahat dan mem¬bela orang benar. Karena, jahat dan baik atau benar itu merupakan pendapat pri¬hadi yang sering kali menyesatkan! Yang penting bagi kita adalah kita sendiri! Tunjukkanlah setiap tindakan kalian un¬tuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri. Manusia adalah mahluk yang paling tidak mengenal budi, sehingga akan percuma belaka kalau kalian meng¬gunakan kepandaian demi orang lain. Keliru sama sekali! Yang penting adalah diri kita sendiri dan demi tercapainya cita-cita kita, yaitu mengusir penjajah dan membentuk pemerintah bangsa sen¬diri dengan kita sebagai tokoh-tokoh pimpinan!”
Kembali timbul keraguan di dalam hati Han Han akan segala yang pernah dibacanya tentang syarat-syarat menjadi seorang budiman dan gagah, karena ia melihat semua murid mengangguk-angguk dengan wajah berseri, dan ia pun merasa bahwa yang terpenting di atas segalanya memang diri sendiri lebih dahulu. Bukti¬nya, dia sudah banyak mengalami peng¬hinaan dan kesengsaraan, tidak ada orang yang membelanya. Kalau dia tidak mem¬bela diri sendiri, tentu selamanya ia akan hidup terhina dan sengsara seperti itu. Pula, kalau dia tidak berkepandaian tinggi bagaimana ia akan dapat mengusir penjajah dan terutama sekali, menghan¬curkan tujuh perwira terutama perwira muka brewok dan muka kuning bangsa Mancu yang telah membasmi semua keluarganya?
“Han Han, sebagai murid baru kini engkau mendapat kesempatan untuk bertanya. Tanyakantah apa yang perlu kauketahui, dan jangan sembunyi-sem¬bunyikan perasaan. Segala pertanyaanmu akan kujawab,” kata Ma-bin Lo-mo. Sam¬pai lama Han Han memandang gurunya yang baru ini. Sukar baginya untuk menilai kakek yang bermuka kuda ini, kare¬na muka itu tidak membayangkan sesuatu kecuali keanehan. Ia tidak tahu apakah gurunya ini jahat dan keji seperti Setan Botak, ataukah baik dan gagah seperti Lauw-pangcu. Betapapun juga, ia tahu bahwa gurunya ini amat lihai, dan pri¬badi suhunya diliputi banyak keanehan. Ingin ia mengetahui riwayat gurunya. Karena itu tanpa ragu-ragu lagi ia lalu bertanya.
“Hanya ada sebuah pertanyaan teecu. Yaitu, siapakah suhu ini, bagaimana ri¬wayat suhu dan siapa pula Couwsu yang kita puja-puja itu?”
Terdengar seruan-seruan heran di antara murid-murid yang berada di situ. Semua murid ketika diterima selalu di¬beri kesempatan bertanya, akan tetapi mereka semua menanyakan tentang ilmu silat. Baru sekali ini ada murid baru yang datang-datang bertanya tentang riwayat gurunya dan riwayat Couwsu yang amat dihormati itu! Kim Cu memandang gurunya dengan wajah khawatir, karena ia takut kalau-kalau gurunya akan marah dan semua murid maklum betapa¬ akan hebat akibatnya kalau guru itu marah. Akan tetapi aneh. Ma-bin Lo-mo malah tertawa dan suara ketawanya persis kuda yang meringkik-ringkik. Para murid lainnya tidak ada yang merasa heran, akan tetapi Han Han kembali memandang suhunya dengan mata ter¬belalak. Memang gurunya ini seorang aneh, lebih aneh daripada Setan Botak.
 “Pertanyaan yang aneh, akan tetapi sudah semestinya kalau murid-muridku mengenal siapa sesungguhnya guru mereka, terutama sekali Couwsu mereka. Dengarlah baik-baik, murid-muridku, karena sesungguhnya kalian adalah murid-murid dari orang yang bukan sembarangan! Couwsu kalian yang kita puja-puja itu adalah keturunan pangeran, nama lengkapnya adalah Suma Kiat. Ilmu silatnya tinggi bukan main, seperti dewa! Murid-muridnya hanya dua orang, yaitu aku sendiri dan suhengku yang bernama Suma Hoat, puteranya sendiri, putera tunggalnya. Betapapun tekun dan rajin aku belajar, namun dibandingkan dengan supekmu (Uwa Gurumu) Suma Hoat itu, aku masih kalah jauh!” Kakek itu menarik napas panjang seolah-olah ceritanya mengingatkan dia akan masa lalu dan membuatnya ter¬menung sejenak.
“Di manakah supek itu sekarang, suhu?” tanya Kim Cu dengan suara pe¬nuh kagum.
“Entahlah, sudah dua puluh tahun lebih aku tidak pernah bertemu dengannya, bahkan tidak pula mendengar namanya. Dia seorang yang suka sekali merantau, seorang petualang tulen yang ingin menikmati hidup ini sebanyak mungkin. Yang terakhir aku bersama supek kalian itu pergi mencari kakek sakti Koai-lojin untuk mohon bagian ilmu-ilmu yang beliau bagi-bagikan. Aku mendapat dasar-dasar Im-kang sehingga dapat kuciptakan Swat-im Sin-ciang, dan pada saat yang sama Kang-thouw-kwi Gak Liat mendapatkan dasar Yang-kang sehingga ia menciptakan pukulan Hwi-yang Sin-ciang. Adapun supek kalian itu mendapatkan lebih banyak lagi. Entah mengapa, agaknya Koai-lojin kakek sakti itu menaruh kasih sayang kepada supek kalian. Ilmunya menjadi amat tinggi dan sampai lama dia menjagoi di antara semua tokoh kang-ouw. Dia banyak me¬lakukan hal-hal menggemparkan sehingga dimusuhi tokoh-tokoh kang-ouw, akan tetapi memang itulah sebuah di antara kesukaannya, yaitu berkelahi!”
Semua murid, termasuk, Han Han, mendengarkan dengan kagum.
“Dan suhu sendiri?” tanya Han Han.
“Aku membantu sukong kalian, kemudian memperoleh kedudukan. Akan tetapi, mungkin karena petualangan supek kalian, atau juga karena kedudukan tinggi dan kepandaian sukong kalian me¬narik banyak orang gagah menjadi iri dan memusuhinya, sukong kalian banyak dimusuhi orang kang-ouw. Termasuk aku sebagai muridnya yang setia. Namun sukong kalian dan aku selalu mempertahankan diri dan selalu berhasil meng¬halau mereka yang datang memusuhi kami. Akhirnya, setelah sukong kalian meninggal dunia, aku tidak mau menghadapi sekian banyakriya musuh seorang diri, apalagi karena supek kalian yang dapat diandalkan telah pergi merantau entah ke mana. Aku lalu meninggalkan kedudukanku sebagas pembesar tinggi, merantau pula dan akhirnya aku tinggal di sini, apalagi setelah Kerajaan Beng-tiauw digulingkan oleh bangsa Mancu. Aku ingin menentang Mancu, akan tetapi sendirian saja mana mungkin berhasil? Banyak tokoh-tokoh besar, seperti Gak Liat itu, rela dijadikan penjilat penjajah. Aku tidak sudi dan aku lalu mengumpulkan kalian murid-muridku yang keluarganya telah dibasmi orang Mancu untuk kuwarisi kepandaianku agar kelak dapat menjadi patriot-patriot yang perkasa!”
Cerita itu jelas merupakan singkatan saja. Masih banyak hal-hal yang tersem¬bunyi dan tidak diceritakan oleh Ma-bin Lo-mo. Namun yang ia ceritakan adalah bagian-bagian yang baik sehingga para murid menjadi kagum dan bangkit semangat mereka untuk belajar lebih tekun agar kelak dapat berjuang meng¬usir penjajah yang tidak saja sudah men¬jajah negara dan bangsa, juga telah mem¬basmi keluarga mereka.
Mulai hari itu Han Han menjadi mu¬rid di In-kok-san dan belajar ilmu silat. Mula-mula, ketika menerima pelajaran-pelajaran pokok, ia berlatih dengan te¬kun. Akan tetapi setahun kemudian, ia merasa bosan karena pelajaran yang diberikan hanya itu-itu saja dan diulang-ulang kembali. Memang benar bahwa kini ia selalu memakai pakaian baik, makan pun tidak pernah kekurangan, banyak teman dan setiap hari berlatih ilmu silat. Akan tetapi diam-diam Han Han menjadi bosan dan ingin sekali ia bebas seperti dahulu. Hidup menjadi murid Ma-bin Lo-mo merupakan hidup yang telah diatur dan seolah-olah ia telah dapat melihat bagaimana kelak jadinya dengan dirinya kalau ia berada di situ terus. Ia melihat dirinya seolah-olah logam yang digembleng dan dibentuk oleh Ma-bin Lo-mo! Dan dia tidak suka dirinya dibentuk seperti baja. Tidak suka dia hidupnya diatur oleh orang lain, menjadi dewasa menurut kehendak dan bentuka Ma-bin Lo-mo. Ia ingin bebas!
Di antara murid-murid di situ, dia merupakan murid termuda, bukan muda usia melainkan muda karena dialah orang terbaru. Maka lima orang murid perempuan di situ adalah suci-sucinya, dan murid-murid laki-laki adalah suheng-suhengnya. Di antara mereka, hanya ada tiga orang murid yang paling ia sukai, dan yang merupakan sahabat-sihabatnya. Pertama tentu saja adalah Kim Cu yang selalu bersikap manis kepadanya. Ke dua adalah seorang suci lain yang usianya sebaya dengan Kim Cu, namanya Phoa Ciok Lin, juga seorang anak yatim-piatu yang orang tuanya dibunuh orang-orang Mancu. Ke tiga adalah seorang suheng, usianya baru sebelas tahun, setahun lebih muda daripada Han Han, namanya Gu Lai Kwan, seorang anak yang selalu gem¬bira, penuh keberanian dan pandai bicara. Dengan tiga orang anak-anak inilah Han Han sering kali bermain-main dan berlatih. Akan tetapi sering kali, kalau Kim Cu yang lebih pandai daripada mereka, berlatih dengan Ciok Lin atau dengan Lai Kwan, Han Han termenung seorang diri, disiksa rasa rindunya akan kebebasan. Ia ingin merantau, ingin melihat kota raja. Cerita tentang supek mereka amat menarik hatinya. Ia ingin seperti supek¬nya itu, tukang merantau, petualang dan menikmati hidup sebanyak mungkin. Ter¬ingat ia akan bunyi sajak yang meng¬anggap bahwa hidup ini laksana anggur, dan selagi hidup sebaiknya meneguk ang¬gur sebanyaknya, sekenyangnya dan se¬puasnya!
Sering kali ia termenung dan kalau sudah demikian, Kim Cu yang selalu mendekatinya dan menegur serta menghiburnya. Kim Cu merupakan satu-satu¬nya kawan yang agaknya mengenal ke¬adaannya.
“Kenapa kau murung selalu, sute?” pada suatu petang setelah mengaso dari berlatih, Kim Cu bertanya. Mereka duduk di bawah pohon dan Kim Cu menyusuti peluh yang membasahi leher dan dahinya.
“Tidak apa-apa, suci. Hanya.... ah, aku kepingin sekali berjalan-jalan keluar, turun gunung agar melihat pemandang lain. Bosan rasanya terus-menerus begini, sudah setahun lamanya....”
“Tunggulah sebulan lagi, sute. Pada hari raya Sin-cia (Musim Semi atau lebih terkenal dengan istilah Tahun Baru Im¬lek), biasanya Suhu memperkenankan kita untuk turun gunung selama beberapa hari.”
“Syukurlah kalau begitu. Kim-suci, senangkah engkau di sini?”
Gadis cilik yang kini berusia dua belas tahun itu memandang wajah sute¬nya yang lebih tua setahun dari padanya, lalu tersenyum manis.
“Mengapa tidak senang, sute? Habis ke mana lagi kalau tidak di sini? Aku.... sudah tidak mempunyai keluarga searang pun.”
“Suci, engkau telah mendengar riwa¬yatku, akan tetapi aku belum pernah mendengar riwayatmu. Maukah kau menceritakan riwayatmu kepadaku?”
“Apakah yang dapat kuceritakan? Ayah bundaku tinggal di utara, di sebuah dusun dekat kota raja. Kami diserbu orang-orang mancu, ayah bundaku dan tiga orang kakakku dibunuh semua. Aku ditolong suhu dan dibawa ke sini semenjak aku berusia delapan tahun, empat tahun yang lalu. Nah, hanya itulah yang kuingat.”
“Dan semua suci dan suheng itu, apakah mereka itu juga yatim-piatu?”
“Benar.”
“Dan semua ditolong suhu?”
“Begitulah, hanya engkau seorang yang tidak. Karena itu engkau murid istimewa. Menurut suhu, kelak engkau yang paling hebat di antara kita.”
“Wah, jangan memuji, suci.”
“Sesungguhnyalah, sute.” Dengan sikap ramah Kim Cu memegang tangan Han han. “Ada sesuatu yang aneh pada diri¬mu. Engkau belum pandai silat namun engkau memiliki tenaga sakti Hwi-yang Sin-ciang. Engkau amat kuat dan pandai akan tetapi engkau selalu menyangkal dan selalu merendahkan diri. Engkau hebat, sute.”
Muka Han Han menjadi merah dan ia menarik tangannya. Jantungnya berdebar dan ia membenci diri sendiri mengapa ia menjadi begitu girang mendengar pujian Kim Cu. Untuk mengalihkan percakapan, ia cepat bertanya.
“Tiga orang suheng yang cacad itu, apakah mereka menjadi korban orang-orang Mancu?”
“Ah, belum tahukah engkau? Tidak, mereka itu adalah murid-murid yang mengalami hukuman.”
“Hukuman? Siapa yang menghukum mereka?”
“Siapa lagi kalau bukan suhu? Kumaksudkan, suhu yang menjatuhkan hu¬kuman, tentu saja murid-murid lain yang melaksanakannya. Siauw-sute itu, yang kedua telinganya buntung, dijatuhi hu¬kuman potong kedua daun telinga karena dia berani melanggar larangan dan mendengarkan suhu ketika suhu bercakap-cakap di dalam pondoknya dengan se¬orang tamu, sababat suhu.”
“Wah....!” Han Han juga tahu akan larangan mendengarkan atau mengintai suhu mereka kalau sedang berada di pondok. “Siapa yang melaksanakan?”
“Aku.”
“Hah....?” Han Han memandang sucinya dengan mata terbelalak.
Kim Cu tersenyum geli. “Mengapa?”
“Kau.... kau tega melakukan itu....? Kau.... mengapa begitu kejam....?”
Kim Cu menggeleng kepala. “Sama sekali tidak, sute. Aku hanya mentaati perintah suhu dan syarat utama seorang murid harus taat kepada gurunya. Pula, aku melakukan hal itu sama sekali bukan karena kejam atau tidak tega, melainkan sebagai pelaksanaan hukuman yang harus diterima oleh Siauw-sute. Setelah mem¬buntungi kedua daun telinganya, aku pula yang merawatnya sampai sembuh.”
“Dia.... tidak mendendam kepadamu?”
“Ah, tidak sama sekali. Dia mengerti bahwa dia harus menjalani hukuman itu.”
“Dan.... yang lengannya buntung?”
“Kwi-suheng? Dia telah mencuri baca kitab milik suhu tanpa ijin. Hal itu dianggap mencuri dan karena lengannya yang mencuri kitab, maka lengannya dibuntungkan.”
“Yang buntung kakinya?”
“Lai-suheng? Dia hendak minggat, tertangkap dan karena kakinya yang me¬larikan diri, maka sebelah kakinya dibuntungkan.”
Han Han bergidik. Kim Cu berkata lagi, “Akan tetapi cacad mereka tidak menjadi halangan karena suhu tidak membenci mereka, malah mengajarkan ilmu yang khusus untuk mereka. Kami semua diajar ilmu-ilmu yang khusus di¬sesuaikan dengan keadaan dan bakat kita. Ilmu silat dasar memang sama, akan tetapi perkembangannya berlainan. Suhu memiliki ilmu-ilmu yang amat banyak.”
“Hemmm...., sungguh ganjil. Tamu tadi, yang bicara dengan suhu di pondok, siapakah dia? Sudah setahun aku tidak pernah melihat ada tamu datang.”
Kini Kim Cu memandang ke kanan kiri, kelihatannya jerih dan takut. “Tamu itu seorang manusia yang hebat, dan ilmunya kata suhu melampaui tingkat suhu. Dia itu adalah Ibu Guru dari suhu....”
“Apa....? Suhu masih mempunyai Ibu Guru? Kalau begitu, dia isteri Suma-sukong itu....?”
Kim Cu mengangguk. “Tidak ada yang tahu jelas. Pernah dalam keadaan mabuk suhu bercerita bahwa sukong mempunyai banyak sekali isteri dan agaknya Ibu Guru yang ini adalah isteri yang paling muda. Lihainya bukan main, bahkan suhu amat takut kepadanya. Suhu masih mencinta kita dan melakukan hukuman ber¬dasarkan pelanggaran. Kalau Sian-kouw itu....”
“Kau menyebutnya Sian-kouw (Ibu Dewi)?”
Kim Cu mengangguk dan menelan ludah, agaknya hatinya tegang membi¬carakan wanita itu. “Kita para murid suhu diharuskan taat kepadanya dan me¬nyebutnya Sian-kouw. Namanya tak pernah disebut suhu, akan tetapi julukannya adalah Toat-beng Ciu-sian-li (Dewi Arak Pencabut Nyawa).”
Han Han bergidik. “Mengapa Ciu-sian-li (Dewi Arak)?”
“Ke mana-mana dia membawa guci arak dan hampir selalu mabuk. Akan tetapi makin mabuk makin lihai dia. Sudahlah, sute, tidak baik kita bicara tentang Sian-kouw....”
“Kalau begitu kita bicara tentang tokoh-tokoh lain, suci. Ceritakanlah kepadaku tentang tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw. Aku ingin sekali mendengar dan aku suka mendengar akan petualangan mereka, terutama sekali supek yang disebut-sebut oleh suhu, putera dari su¬kong itu.”
“Banyak sekali tokoh-tokoh besar yang pernah diceritakan suhu kepada kami. Mengenai tokoh-tokoh yang dikenal suhu, kiraku Sian-kouw itulah yang paling lihai ilmunya. Menurut suhu, Sian-kouw banyak mewarisi ilmu silat sukong. Akan tetapi, tokoh-tokoh besar yang penuh rahasia dan amat aneh, yang tidak pernah dikenal suhu namun sudah terkenal namanya di jaman dahulu, banyak sekali.”
“Seperti Koai-lojin (Kakek Aneh) yang pernah disebut suhu dahulu? Yang suka membagi-bagi ilmu?”
Kim Cu mengangguk. “Benar, dialah merupakan orang pertama yang agaknya menduduki tempat paling atas dari segala golongan. Baik golongan yang menyebut dirinya golongan bersih maupun golongan yang disebut golongan sesat.”
“Kita ini masuk golongan mana?”
Kim Cu tersenyum. Manis sekali ka¬lau gadis itu tersenyum, pikir Han Han dan tiba-tiba kedua pipinya menjadi me¬rah ketika ia sadar bahwa perasaannya ini benar-benar tidak sopan dan tidak patut!
“Kita ini golongan sesat, begitulah menurut pendapat dunia kang-ouw seperti yang diceritakan suhu. Akan tetapi, apa artinya sebutan-sebutan itu? Tentu mere¬ka yang tidak suka kepada golongan kita yang menyebutnya sesat. Apakah artinya sesat? Dan siapa yang tidak sesat?”
Han Han menjadi bingung. “Ceritakan¬lah tentang Koai-lojin itu, suci.”
“Dia itu, menurut suhu, merupakan manusia dewa yang tak diketahui tempat tinggalnya oleh siapa pun. Juga usianya tidak ada yang tahu, mungkin dua ratus tahun, mungkin lebih atau kurang. Ting¬kat kepandaiannya pun tidak ada yang dapat mengukurnya, akan tetapi seluruh tokoh tingkat tinggi masih mem¬butuhkan ilmu darinya. Juga tidak ada yang tahu dia itu sekarang sudah mati ataukah masih hidup. Sejak dahulu, semua tokoh besar selalu mencari-carinya, termasuk suhu sendiri. Namun tak pernah ada yang berhasil.”
“Seperti dongeng saja....” kata Han Han kagum.
“Memang seperti dongeng, dan bukan hanya nama Koai-lojin itu saja pernah didongengkan suhu. Menurut suhu, dunia kang-ouw pada jaman sukong masih muda, lebih seratus tahun yang lalu, atau bahkan dua ratus tahun yang lalu, memang seperti dongeng karena, menurut suhu pada waktu itu hidup tokoh-tokoh yang memiliki ilmu kepandaian silat seperti dewa saja! Suma-sukong sudah hebat kepandaiannya, akan tetapi Ayah Sukong kabarnya lebih luar biasa lagi dan tokoh-tokoh di jaman itu malah banyak yang memiliki ilmu silat aneh-aneh. Yang amat terkenal kabarnya adalah pendekar sakti Suling Emas yang kabarnya me¬nerima ilmu-ilmunya dari manusia dewa Bu Kek Siansu!”
“Manusia Dewa? Namanya Bu Kek Siansu? Mengapa disebut manusia dewa?”
“Entahlah. Siapa tahu? Menurut dongeng suhu, ada yang mengabarkan bah¬wa Koai-lojin kakek aneh itu pun me¬nerima ilmu-ilmu dari manusia dewa itu. Masih ada lagi nama-nama tokoh besar dalam dongeng, seperti pendekar wanita sakti Mutiara Hitam yang sesungguhnya adalah Puteri Ratu Khitan. Antara Mu¬tiara Hitam dan Suling Emas ini masih ada pertalian hubungan keluarga yang dekat, entah bagaimana. Akan tetapi menurut suhu, keluarga Suling Emas ini amat hebat dan menurunkan orang-orang yang sukar dilawan. Suma-sukong yang berkepandaian seperti dewa itu pun ma¬sih ada hubungan keluarga, entah bagai¬mana dengan Pendekar sakti Suling Emas.”
Han Han mendengarkan penuh ke¬kaguman dan melamun. Di dunia ini ba¬nyak terdapat orang-orang pandai seperti itu. Kalau dia hanya bersembunyi di In-kok-san saja, mana mungkin ia bertemu dengan orang-orang pandai yang kepandai¬annya melebihi tingkat Setan Botak atau Setan Muka Kuda yang kini menjadi gu¬runya?
“Heiiii, sute dan sumoi, kenapa kali¬an enak mengobrol saja? Hayo kita ber¬latih!” Terdengar seruan Lai Kwan yang datang berlari-lari sambil bergandengan tangan dengan Ciok Lin, menghampiri Kim Cu dan Han Han. Dua orang anak ini lalu menjatuhkan diri duduk di atas rumput dengan muka berseri.
“Sie Han sute bertanya tentang Suma-sukong dan tokoh-tokoh aneh dalam do¬ngeng yang diceritakan suhu,” kata Kim Cu.
Gu Lai Kwan yang berwatak gembira itu tertawa bergelak dan menepuk-nepuk pundak Han Han. “Eh, sute, apakah engkau ingin menjadi seorang yang sakti seperti Suma-sukong? Mana mungkin? Ilmu kepandaian suhu tentu saja kurang cukup mengajarmu menjadi seorang sakti seperti Suma-sukong!”
 “Agaknya baru mungkin kalau engkau mendapat hadiah ilmu-ilmu dari Koai-lojin, sute,” Kim Cu ikut pula menggoda. “Atau ketemu dengan manusia dewa Bu Kek Siansu!”
“Ha-ha-ha!” Lai Kwan tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perut¬nya. “Untuk bertemu dengan dewa-dewa dalam dongeng itu, agaknya sute harus berangkat ke nirwana, karena mereka kini tentu telah berada di sana.”
Han Han diam saja dan akhirnya Kim Cu yang menaruh kasihan, menarik ta¬ngannya dan berkata menghibur, “Sudah¬lah, sute. Kalau kita belajar dengan tekun di bawah bimbingan suhu, kelak pun kita akan dapat menjadi orang-orang gagah. Siapa orangnya yang tidak ingin menjadi sakti seperti Suma-sukong? Akan tetapi pada jaman ini kiranya tidak akan ada orangnya yang dapat mengajar kita....”
Tiba-tiba terdengar suara ketawa terkekeh yang sekaligus membuat ucapan Kim Cu terputus.
“Hih-hih-hih-he-he-he! Dua pasang anak-anak yang elok dan bersemangat! Kalian ingin menjadi seperti Suma Kiat? Akulah orangnya yang akan dapat mem¬bimbing kalian menjadi selihai dia, dan mulai saat ini kalian berempat menjadi muridku!”
Empat orang anak itu cepat mem¬balikkan tubuh dan kiranya di depan mereka telah berdiri seorang nenek yang amat aneh. Begitu melihat nenek ini, Kim Cu, Ciok Lin dan Lai Kwan cepat-cepat menjatuhkan diri, berlutut dan mengangguk-angguk penuh hormat sambil menyebut, “Sian-kouw....!”
Kim Cu menarik kaki Han Han dan anak ini pun cepat menjatuhkan diri berlutut di samping Kim Cu. Han Han tadi terkejut mendengar sebutan tiga orang temannya, dan dari bawah ia mengerling ke atas penuh perhatian. Nenek itu benar-benar amat aneh dan menye¬ramkan. Melihat wajahnya yang kurus penuh keriput, masih dapat diduga bahwa dahulunya dia tentu seorang wanita can¬tik sekali. Kini muka itu penuh keriput, rambutnya sudah putih semua terurai ke belakang dan disisir rapi, mukanya ber¬sih dan diselimuti bedak putih, mulut yang tak bergigi lagi itu kelihatan ter¬senyum selalu, senyum mengejek dan memikat. Yang hebat adalah kedua telinganya. Kedua telinga ini dihias dengan rantai besar dari perak, yang kanan agak pendek terdiri dari sembilan lingkaran mata rantai, yang kiri dua kali lebih panjang. Mata rantainya besar-besar seperti gelang tangan dan setiap kali kepalanya bergoyang, terdengarlah suara gemerincing yang amat nyaring. Tubuh¬nya yang kecil langsing itu masih seperti tubuh wanita muda, memakai pakaian dari sutera yang mahal dan mewah sung¬guhpun potongannya ketinggalan jaman. Di tangan kanannya tampak sebuah guci arak yang mengeluarkan bau harum dan amat keras. Muka yang putih keriputan itu agak merah di kedua pipi dan di pinggir mata, tanda bahwa nenek itu da¬lam keadaan terpengaruh hawa arak!
“Hi-hi-hik, aku suka mendengar se¬mangat kalian! Aku akan mengajar kali¬an menjadi seperti Suma Kiat! Hi-hik, yang dua laki-laki akan menjadi seperti Suma Kiat, dan yang dua perempuan akan menjadi seperti aku di waktu mu¬da. Hebat!” Tiba-tiba nenek itu lalu berpaling ke arah pondok dan suaranya me-lengking nyaring, “Heiiiii, Siangkoan Lee....! Ke sinilah kamu....!” Ketika berseru memanggil ini, sikap Si Nenek Tua seperti seorang puteri memanggil hambanya, kemudian ia menenggak arak¬nya dari guci arak, caranya minum arak dengan menggelogok begitu saja dan kasar sehingga ada dua tiga tetes arak tumpah dari ujung bibirnya.
“Teecu datang menghadap....!” Suara ini bergema dan datangnya dari arah pondok disusul berkelebatnya bayangan dan tahu-tahu Ma-bin Lo-mo sudah berada di situ, berdiri membungkuk penuh hormat kepada nenek tua itu.
“Harap Sian-kouw sudi maafkan, karena tidak tahu akan kedatangan Sian-kouw, maka teecu terlambat menyambut.” Sikap dan kata-kata Si Muka Kuda benar- benar amat menghormat, seperti seorang murid terhadap ibu gurunya. Hal ini saja sudah menjadi bukti bagi Han Han yang amat memperhatikan sejak tadi bahwa nenek aneh ini tentu memiliki ilmu kepandaian yang hebat, jauh lebih hebat daripada kepandaian Si Muka Kuda. Ter¬ingat ia akan cerita Kim Cu bahwa nenek ini berjuluk Toat-beng Ciu-sian-li (Dewa Arak Pencabut Nyawa)!
“Siangkoan Lee, aku datang untuk memberitahukan hal penting kepadamu. Akan tetapi lebih dulu aku beritahukan bahwa empat orang anak ini, dua pasang yang elok, mulai saat ini menjadi murid-muridku dan aku sendiri yang akan men¬didik mereka menjadi Suma Kiat kecil dan Bu Ci Goat kecil!”
Ma-bin Lo-mo mengangguk. “Terserah kepada Sian-kouw dan hal itu hanya ber¬arti bahwa nasib mereka ini amatlah baik.”
“Karena mereka telah menjadi murid-muridku yang akan kudidik dan latih di tempatmu ini, maka mereka bukan orang lain dan biar mereka ikut mendengarkan. Siangkoan Lee, engkau harus cepat-cepat bersiap karena kini pemerintah Boan (Mancu) sudah mulai berusaha mencari Pulau Es. Celakalah kalau sampai kita kedahuluan mereka! Semua orang gagah juga sudah sibuk dan sudah dimulai lagi perlombaan mencari Pulau Es yang sudah puluhan tahun dianggap lenyap dari permukaan laut itu.”
Ma-bin Lo-mo mengerutkan keningnya dan wajahnya berubah keruh. “Ah, apa saja yang tidak dilakukan anjing-anjing penjajah itu! Dan sudah tentu Gak Liat Si Setan Botak itu menjadi pelopor, men¬jadi anjing penjilat penjajah.”
“Soal Gak Liat mudah saja. Kalau aku turun tangan, apakah dia masih berani banyak cakap lagi? Yang penting seka¬rang engkau harus dapat meneliti gerak mereka. Pemerintah baru ini telah mem¬bangun sebuah kapal besar. Maka engkau cepat pergilah melakukan persiapan, men¬cari anak buah dan mengusahakan sebuah perahu besar. Kalau mungkin supaya dapat mulai bekerja sehabis musim semi, jadi paling lama dua bulan lagi.”
Ma-bin Lo-mo mengangguk-angguk.
“Sudahlah, kau boleh membuat persiapan dan aku akan mulai mengajar kouw-koat (teori silat) kepada empat muridku yang tampan-tampan dan manis-manis. Pondok terbesar untuk aku dan murid-muridku!” kata pula Si Nenek.
Ma-bin Lo-mo kembali mengangguk-angguk lalu berkelebat pergi. Nenek itu lalu melangkah ke arah pondok besar sambil memberi isyarat dengan lirikan mata dan senyum yang dahulunya, puluh¬an tahun yang lalu, tentu akan amat manis tampaknya, akan tetapi sekarang kelihatan menyeramkan seperti kalau orang melihat seorang gila tersenyum-senyum. Empat orang anak itu saling pandag, kemudian Kim Cu yang agaknya paling tabah, juga di antara mereka ber¬empat dialah murid yang tertua dalam kedudukan, memberi tanda dengan ang¬gukan kepala. Tiga orang adik seperguru¬annya lalu bangkit dan bersama dia meng¬kuti nenek itu memasuki pondok.
“Kalian semua sudah pernah disumpah, bukan?” tanya nenek ini setelah dia duduk di atas pembaringan di dalam pondok, sedangkan empat orang muridnya itu berlutut di atas lantai.
Empat orang anak itu mengangguk.
“Syarat-syarat dan hukum-hukumnya tidak berubah, hanya kini akulah guru kalian dan aku pula yang akan menjalan¬kan keputusan hukum terhadap setiap pelanggaran. Biarpun kalian menjadi muridku, namun kalian harus tetap me¬nyebut Sian-kouw dan kelak tidak ada yang boleh menyebut namaku sebagai guru. Pelanggaran ini akan dihukum de¬ngan pemenggalan kepala. Tahu?”
Empat orang anak itu mengangguk-angguk kembali akan tetapi di hatinya Han Han mengomel. Guru macam apa ini? Tidak mau diaku sebagai guru. Mana pertanggungan jawabnya? Timbullah rasa tidak suka di hatinya, akan tetapi karena ia tahu bahwa nenek itu lihai sekali dan dia mulai suka mempelaiari ilmu-ilmu yang aneh-aneh seperti tokoh-tokoh da¬lam dongeng yang ia dengar dari Kim Cu, maka ia pun menyimpan saja pe¬rasaan tak senang itu dalam hatinya.
“Gerak silat boleh kalian latih terus seperti yang telah kalian pelajari dari Siangkoan Lee. Yang penting, aku akan mengajarkan kalian menghimpun sin-kang, karena dengan kuatnya sin-kang di tubuh, maka kalian akan dapat melatih segala macam ilmu silat dengan mudah. Lihatlah aku! Aku sudah berusia seratus delapan puluh tahun paling sedikit! Akan tetapi lihat wajahku. Masih muda dan cantik, bukan?” Nenek itu menggoyang-goyang muka ke kanan kiri agar murid-muridnya dapat melihat mukanya dari berbagai ju¬rusan. Kemudian ia bangkit berdiri di atas pembaringan sambil bertolak pinggang dan menggoyang-goyang pinggangnya ke kanan kiri sambil berkata, “Lihat pula tubuhku. Masih seperti seorang dara remaja, bukan? Nah, inilah berkat kekuatan sin-kang yang hebat!” Ia duduk kembali. Han Han tertawa geli di dalam hatinya. Celaka, pikirnya, biarpun lihai, kiranya guru yang baru ini seorang yang miring otaknya!
 “Golongan kami mengutamakan Im-kang, karena itulah maka Siangkoan Lee menciptakan ilmu pukulan Swat-im Sin-ciang yang mengandung tenaga Im-kang. Jangan kalian memandang rendah sin-kang dingin ini, karena kalau sudah dapat menguasai dengan sempurna, kalian akan dapat membunuh setiap orang lawan hanya dengan sebuah pukulan. Sekaii pukul, biarpun targan tidak mengenai tubuh lawan, cukup membuat darah di tubuh lawan membeku, jantungnya berhenti berdenyut dan tentu dia mampus seketika. Lihat baik-baik ini!”
Nenek itu mengangkat cawannya dan menuangkan arak ke mulut, terus ditelan. Kemudian mulutnya menyemburkan ke atas dan.... berdetakanlah butir-butir es keluar perutnya melalui mulut, bertebar¬an di atas lantai!
“Im-kang yang sudah amat kuat dapat membuat air panas seketika menjadi butiran es, dapat membuat air membeku, juga darah di tubuh lawan dapat dibikin beku dengan pukulan yang mengandung Im-kang kuat. Nah, sekarang kalian harus mulai belajar samadhi untuk menghimpun Im-kang.”
Setelah memberi pelajaran teori ten¬tang ilmu silat dan samadhi, nenek itu lalu meninggalkan empat orang muridnya di dalam pondok dengan perintah bahwa mereka harus berlatih samadhi dan tidak boleh berhenti sebelum diperintah! Dan ternyata kemudian bahwa nenek itu tidak memerintahkan empat orang muridnya menghentikan latihan siulian sebelum dua hari dua malam! Dapat dibayangkan be¬tapa hebatnya penderitaan mereka. Bagi Hen Hang hal seperti itu biasa saja ka¬rena memang dalam tubuh anak ini ter¬dapat suatu kelebihan yang tidak wajar, dan dia memiliki kemauan yang luar biasa pula. Akan tetapi tiga orang te¬mannya amat sengsara. Biarpun begitu, Kim Cu dan teman-temannya tidak ada yang berani melanggar karena mereka maklum betapa kejamnya hukuman bagi pelanggar.
“Bagus, kalian memang patut menjadi muridku!” Demikian nenek itu memuji dengan suara gembira. Dan sesungguhnya nenek itu sama sekali bukan ingin me¬nyiksa empat orang murid barunya, me-lainkan hendak menguji mereka. Setelah memberi kesempatan mereka makan dan mengaso, nenek itu mulai memberi pen¬jelasan tentang latihan samadhi yang akan dapat menghimpun sin-kang mereka, bahkan ia sendiri turun tangan “mengisi” mereka dengan sin-kangnya untuk mem¬buka jalan darah mereka seorang demi seorang.
Akan tetapi ketika tiba giliran Han Hang nenek itu terkejut setengah mati. Seperti tiga orang murid lain, Han Han disuruhnya duduk bersila dan dia lalu menempelkan tangannya pada punggung anak itu, lalu mengerahkan Im-kang untuk disalurkan ke dalam tubuh anak itu, membantu anak itu agar dapat mem-bangkitkan tan-tian yang berada di dalam pusar. Harus diketahui bahwa setiap ma¬nusia mempunyai tan-tian ini, yang merupakan pusat bagi tenaga dalam di tu¬buh manusia ini. Hanya bedanya, tanpa latihan maka tan-tian ini akan menjadi lemah dan tidak dapat dipergunakan, hanya melakukan tugas menjaga tubuh manusia dari dalam, bekerja, diam-diam menciptakan segala macam obat yang diperlukan oleh tubuh manusia. Namun dengan latihan samadhi dan peraturan napas dengan cara tertentu, tan-tian menjadi kuat dan hawa sakti akan tim¬bul dan dapat dikuasai. Nenek itu me¬ngerahkan Im-kang dan dapat dibayang¬kan betapa kagetnya ketika ia merasa betapa Im-kang yang ia salurkan itu tiba-tiba “macet” dan berhenti penyalurannya.
“Aihhhhh....! Di mana kau belajar mengerahkan sin-kang untuk melawanku?”
Han Han juga kaget. Cepat ia me¬nyimpan kembali hawa yang timbul se¬cara otomatis dan di luar kesadarannya itu sambil berkata, “Maaf, Sian-kouw. Teecu hanya pernah belajar dari Lauw-pangcu dan dari Suhu Siangkoan Lee.”
“Hemmm, kau jauh lebih kuat dari saudara-saudaramu. Sekarang kosongkan tubuhmu dan jangan melawan.”
Han Han merasa tersiksa sekali. Ber¬beda dengan Kim Cu dan teman-teman lain yang pada dasarnya belum memiliki sin-kang dan yang dapat menerima Im-kang yang tersalur dari nenek itu secara wajar, dia merasa betapa tubuhnya di¬jalari hawa dingin yang seolah-olah hen¬dak meremukkan tulang-tulangnya. Ia memaksa diri tidak melawan akan tetapi ketika Im-kang itu menyusup sampai ke pusarnya, otomatis hawa sakti di pusarnya bergerak dan menolak.
“Nah, latihlah dengan tekun. Engkau masih belum dapat menguasai tenagamu sendiri.” Akhirnya nenek itu berkata setelah memberi penjelasan kepada empat orang muridnya. Cara nenek ini melatih sungguh amat jauh bedanya dengan cara Ma-bin Lo-mo melatih murid-muridnya. Nenek ini melatih secara langsung dan kemajuan yang diperoleh empat orang murid ini memang cepat dan hebat. Akan tetapi bagi Han Han, latihan yang diperolehnya ini amat menyiksa dan ia tidak pernah berhasil karena selalu terjadi pertentang¬an dan perlawanan dalam tubuhnya an¬tara hawa Im dan hawa Yang. Hawa Yang dia peroleh dari latihan diam-diam ketika ikut Kang-thouw-kwi. Dan cara nenek ini memberi contoh melatih siulian juga amat jauh bedanya dengan yang diberikan Lauw-pangcu dan yang ia baca dari kitab-kitab. Misalnya tentang pe¬musatan pikiran. Lauw-pangcu mengajarnya untuk bersamadhi dengan memusat-kan pikiran pada pernapasannya sendiri, yang oleh Lauw-pangcu disebut bersama¬dhi sambil menunggang naga sakti. Yang diumpamakan naga sakti adalah pernapas¬an sendiri yang keluar masuk melalui hidung, dengan napas panjang-panjang sesuai dengan aturan bernapas dalam samadhi. Latihan ini dapat membuat pikirannya terpusat sehingga akhirnya dapat membuat ia mudah menguasai pri¬badinya sehingga terbukalah jalan untuk menghimpun tenaga sakti di dalam tu¬buhnya. Sungguhpun cara yang diperguna¬kan Lauw-pangcu ini berbeda dengan cara-cara yang ia kenal dari kitab kuno, namun tidaklah menyimpang.
Banyak cara yang terdapat dalam kitab-kitab tentang pelajaran samadhi, sesuai dengan kebiasaan dan agama yang mengajarkan soal samadhi. Kaum ber¬agama To menganjurkan agar dalam sa¬madhi, orang selalu menujukan pikirannya kepada Thai-siang-lo-kun dengan mantera yang disebut berulang kali : Gwan-si-thian-cun. Thong-thian-kauw-cu, Thai-siang-lo-kun. Bagi yang beragama Buddha menujukan pikirannya kepada Sang Bud¬dha dan membaca mantera : Lam-bu-hut, Lam-bu-kwat, Lam-bu-ceng. Dan bagi para pemuja Khong-cu menujukan pikiran kepada Thian dengan mantera : Hwi-le-but-si, Hwi-le-but-thing, Hwi-le-but-gan, Hwi-le-but-thong. Kesemuanya itu untuk mencegah agar panca inderanya jangan melantur, agar pikiran jangan menyeleweng sehingga dapat dipusatkan.
Akan tetapi yang diajarkan Toat-beng Ciu-sian-li lain lagi. Nenek ini menase¬hatkan agar murid-muridnya dalam ber¬samadhi mengikuti saja ke mana jalan pikirannya melayang, kemudian kalau sudah mendapat sesuatu yang disenangi, terus-menerus memikirkan hal ini, tidak peduli hal ini dianggap baik atau pun buruk.
“Kalau engkau suka membayangkan tubuh seorang wanita telanjang dan kau menikmati bayangan itu, tujukan pikiran¬mu ke situ! Kalau engkau menaruh den¬dam kepada seseorang dan bayangan orang itu selalu tampak, tujukan pikiran¬mu mengingat dendammu! Yang penting tujukanlah pikiran kepada hal yang men¬jadi perhatian pikiranmu dan demi ke¬senangan hatimu. Dengan demikian engkau akan dapat menguasai pikiranmu.”
Memang cara yang aneh, akan tetapi sesungguhnya jauh lebih mudah dilaksana¬kan daripada ajaran-ajaran yang lain karena memang pikiran itu amat sukar dikendalikan. Justeru pelajaran nenek itu tidak mengharuskan si murid mengendali¬kan pikiran, bahkan disuruh membebas¬kan pikiran ke mana ia melayang!
Tanpa disadarinya, mulailah Han Han tenggelam makin dalam ke cara-cara kaum sesat mengejar ilmu silat dan ke¬saktian. Dan memang cara yang dipergu¬nakan kaum sesat ini lebih menarik dan lebih mudah dilaksanakan. Makin sering Han Han melatih diri secara ini, makin sukarlah baginya kalau ia hendak me¬musatkan pikiran melalui atau menggunakan cara-cara kaum bersih seperti yang ia baca dalam kitab atau seperti yang pernah ia latih dibawah bimbingan Lauw-pangcu.
Sebulan lewat dengan cepat. Sin-cia atau perayaan menyambut musim semi tiba. Murid-murid In-kok-san diberi ke¬bebasan selama tiga hari untuk pergi ke mana mereka suka. Mereka malah diberi pakaian-pakaian baru dan diberi bekal uang untuk berfoya-foya ke bawah gunung. Adapun Ma-bin Lo-mo sendiri se¬dang sibuk mempersiapkan perahu besar untuk melaksanakan tujuan yang dipe¬rebutkan kaum kang-ouw, yaitu mencari Pulau Es yang terahasia. Juga Toat-beng Ciu-sian-li tidak tampak di puncak In-kok-san, entah ke mana perginya tidak ada orang mengetahui.
Han Han tadinya diajak oleh Kim Cu untuk berpesiar ke kaki gunung sebelah selatan. Akan tetapi Han Han menolak¬nya dan seorang diri ia turun dari pun¬cak menuju ke utara. Keadaannya kini jauh bedanya dengan hampir setahun yang lalu. Setahun yang lalu ia berpakai¬an compang-camping penuh tambalan seperti pakaian seorang pengemis. Akan tetapi kali ini pakaiannya indah dan ber¬sih, rambutnya tersisir rapi dan diikat di atas kepala. Usianya sudah tiga belas tahun dan ia kelihatan tampan dan gagah. Tubuhnya tegap dan berisi, membayangkan kekuatan. Han Han kelihatan seperti seorang kongcu muda yang berpesiar seorang diri, wajahnya berseri dan mulutnya tersenyum-senyum. Berjalan seorang diri, timbul pula kegembiraan hatinya karena ia merasa bebas lepas seperti burung di udara.
Ia melakukan perjalanan menuruni bukit dan menjelang senja ia sudah berada jauh di sebelah utara kaki bukit. Dengan hati gembira Han Han memasuki sebuah dusun yang cukup besar dan ra¬mai. Seperti juga kota-kota dan dusun lain pada hari itu, penduduk dusun itu merayakan hari raya Sin-cia dengan me¬riah. Apalagi dusun itu merupakan dusun kaum petani. Musim semi merupakan musim yang dinanti-nanti dan dicinta, karena musim ini menjadi harapan para petani agar mendatangkan kemakmuran bagi mereka. Musim semi adalah musim bercocok tanam, maka disambutlah mu¬sim semi sebagai menyambut seorang dewa yang membagi-bagikan rejeki kepada mereka.
Menyaksikan kegembiraan dan kemeriahan dusun itu, Han Han menjadi gembira sekali. Wajah semua orang nampak berseri, terutama sekali anak-anak ber¬pakaian serba baru kelihatan riang gembira, berlari-larian dan bermain-main setelah perut mereka terisi kenyang de¬ngan hidangan-hidangan istimewa, tangan mereka membawa main-mainan yang di¬hadiahkan oleh orang tua mereka.
Akan tetapi betapa heran hati Han Han ketika ia melalui sebuah rumah ge¬dung yang berpekarangan lebar, ia men¬dengar suara anak perempuan menangis! Suara tangis ketakutan disusul bentakan-bentakan suara laki-laki kasar dan parau. Saking herannya, apalagi karena hatinya tergerak penuh rasa iba kepada anak yang menangis, Han Han lupa diri dan memasuki pintu gerbang pekarangan itu. Padahal kalau dalam keadaan biasa, ia tidak akan berani melakukan hal yang tidak sopan ini, memasuki tempat ke¬diaman orang tanpa ijin!
Begitu memasuki pintu gerbang, alis Han Han berkerut. Ia melihat seorang gadis cilik, paling banyak sepuluh tahun usianya, berpakaian compang-camping penuh tambalan, sedang berdiri dan menangis, menyusuti air mata yang membasahi kedua pipi yang pucat dengan jari-jari tangannya yang kotor. Seorang laki-laki yang bermuka kejam, berpakaian sebagai seorang jago silat atau seorang tukang pukul, berdiri dengan muka merah di atas anak tangga, tangan kanan ber¬tolak pinggang di atas sebatang golok besar yang tergantung di pinggang, tangan kiri menuding-nuding dengan marahnya sambil membentak-bentak.
“Maling cilik! Bocah hina! Kalau ti¬dak lekas minggat, kuhancurkan kepala¬mu!”
Anak itu menggigil seluruh tubuhnya. “Aku.... tidak mencuri apa-apa....”
“Tidak mencuri, ya? Kau hendak ma¬ling buah dan bunga, masih berani bilang tidak mencuri? Mau apa kau memanjat pohon ang-co (korma) tadi?”
“Aku.... aku ingin makan buahnya.... dan ingin memetik sedikit bunga, masa tidak boleh?”
“Setan alas! Masih banyak memban¬tah?” Laki-laki itu lalu melangkah maju dan mencengkeram baju anak perempuan itu. Sekali ia menggerakkan tangan kiri yang mencengkeram, tubuh anak itu ter¬angkat ke atas. Anak itu terbelalak ke¬takutan memandang wajah yang begitu bengis menakutkan, yang amat dekat dengan mukanya. Mata anak perempuan itu amat lebar, dan karena muka dan tubuhnya kurus, mata itu kelihatan makin lebar.
Tiba-tiba laki-laki itu menyeringai. “Eh, engkau cantik juga, ya? Mukamu manis, kulitmu halus putih....! Hemmm, sayang engkau masih begini kecil, dan kurus....” Kini tangan kanan laki-laki itu meraba-raba ke dada anak yang tergan¬tung itu secara kurang ajar. “Ah, masih terlalu kecil.... kalau kau lebih besar dua tahun lagi, hemmm.... hebat juga....!”
“Lepaskan aku....! Lepaskan....!” Anak itu meronta-ronta.
“Ha-ha, tentu saja kulepaskan kau. Minggat!” Laki-laki itu lalu melontarkan tubuh itu ke arah pintu gerbang.
Han Han cepat menggerakkan tubuh dan menangkap tubuh anak perempuan itu. Ia lalu menurunkan tubuh anak pe¬rempuan yang menggigil ketakutan dan menangis itu, kemudian melangkah maju sambil memandang laki-laki yang kejam tadi dengan sinar mata penuh kebencian.
“Kau manusia berhati keji, pengecut rendah yang hanya berani menghina anak perempuan kecil!” Han Han memaki.
Laki-laki itu terbelalak heran dan kaget ketika melihat tubuh anak perempuan itu tahu-tahu disambar oleh seorang pe¬muda tanggung. Melihat pakaian pemuda itu, laki-laki yang bekerja sebagai pe¬ngawal dan tukang pukul di gedung itu mengira bahwa Han Han adalah putera seorang berpangkat atau hartawan, maka ia berkata.
“Kongcu siapakah dan hendak mencari siapa? Harap jangan pedulikan jembel busuk ini!”
“Keparat! Hayo lekas berlutut dan mohon ampun kepadanya!” Han Han menuding ke arah anak itu.
Merah muka si tukang pukul. “Apa? Engkau siapakah?”
“Aku seorang pelancong yang kebetul¬an lewat dan menjadi saksi kekejamanmu.”
“Wah-wah, lagaknya. Habis, kau mau apa kalau aku tidak mau minta ampun?” Tukang pukul itu mengejek dan berdiri tegak sambil bertolak pinggang. Tentu saja ia memandang rendah pemuda tang-gung yang kelihatan lemah ini.
“Kalau tidak mau, aku akan memak¬samu!”
“Ha-ha-ha! Engkau bosan hidup? Baik, mampuslah!”
Tukang pukul yang mengandalkan kekuatan dan ilmu silatnya ini sudah menerjang maju dengan sebuah tendangan kilat ke arah dada Han Han. Melihat gerakan orang itu masih amat lambat, Han Han tidak menjadi gugup. Ia meng¬atur langkah, menggerakkan tubuhnya miring mengelak dan tangan kirinya de¬ngan jari-jari terbuka ia hantamkan ke arah kaki yang menendang.
“Krakkk....! Aauggghhh....!” Tubuh laki-laki itu terpelanting dan ia meringis kesakitan karena tulang betisnya telah patah!
“Tidak lekas minta amppn?” Han Han membentak dan di dalam hatinya anak ini merasa puas. Wajah laki-laki itu bagi¬nya seolah-olah berubah menjadi wajah perwira muka kuning dan muka brewok, dan anak perempuan itu mengingatkan ia akan cicinya dan juga ibunya yang sudah diperhina dan diperkosa perwira-perwira tadi.
“Setan kecil!” Tukang pukul itu tentu saja tidak mau terima dan biarpun kaki¬nya terasa nyeri, ia sudah meloncat ba¬ngun, golok besar terpegang di tangan¬nya. Sambil menggereng seperti harimau terluka ia meloncat terpincang-pincang, menggunakan goloknya membacok. Biar¬pun dia pandai ilmu silat, akan tetapi ilmu silatnya hanyalah ilmu silat tukang pukul rendahan, sedangkan Han Han bi¬arpun tidak pandai silat namun dia telah dibimbing oleh orang-orang sakti yang berilmu tinggi. Dengan mudah Han Han mengelak dan kini karena dorongan hawa marah, tangan kanannya memukul ke arah kepala orang itu.
“Prokkk....!” Tubuh orang itu terbanting, goloknya terlempar dan kepala¬nya pecah! Di luar kesadarannya, Han Han yang amat marah itu telah meng¬gunakan tenaga yang timbul karena la¬tihan Hwi-yang Sin-ciang! Dia terbelalak dengan muka pucat, sejenak seperti arca memandang ke arah mayat orang itu yang menggeletak dengan kepala pecah, muka penuh darah, amat mengerikan. Tiba-tiba ia mendengar tangis terisak-isak. Cepat ia menoleh dan melihat be¬tapa anak perempuan jembel itu me¬nangis, menggosok-gosok kedua matanya seolah-olah hendak menyembunyikan penglihatan yang menimbulkan takut di hati¬nya. Han Han tersadar bahwa dia telah membunuh orang, dan tentu akan ber-akibat hebat. Maka ia cepat meloncat, mendekati anak perempuan itu, me¬nyambar tangannya dan diajaknya anak itu berlari. “Hayo kita cepat pergi dari sini!” bisiknya
Berlari-larianlah kedua orang ansk itu keluar dari dalam dusun. Penduduk dusun yang sedang berpesta-ria merayakan hari Sin-ciag tidak ada yang mempedulikan mereka karena memang dalam suasana pesta seperti itu, tidak mengherankan melihat dua orang anak itu berlari-larian yang mereka anggap sebagai dua orang anak yang sedang bergembira dan ber¬main-main. Keganjilan melihat seorang anak laki-laki berpakaian utuh dan baik belari-lari menggandeng tangan seorang anak perempuan yang pakaiannya seperti anak jembel, tidak terasa pada saat itu.
“Aduhhh.... aduhhh.... kakiku.... aahhh, berhenti dulu.... napasku mau putus....!” Anak perempuan jembel itu menangis dan merintih-rintih, kakinya terpincang-pincang dan ia tersaruk-saruk ketika diseret oleh gandengan tangan Han Han yang lupa diri dan mempergunakan ilmu lari cepat.
Mereka telah tiba jauh di luar dusun, di tempat sunyi. Han Han berhenti dan melepaskan tangan anak itu. Anak perempuan itu lalu menjatuhkan diri sa¬king lelahnya, duduk dan memijit-mijit kedua kakinya sambil menangis. Han Han berdiri memandangnya.
“Engkau bocah cengeng benar!” ka¬tanya dengan suara gemas, akan tetapi sebenarnya, hatinya penuh rasa iba ter¬hadap anak ini. Teringat ia akan keada¬annya sendiri dahulu, yang menjadi se¬orang jembel berkeliaran tanpa teman.
Anak perempuan itu mengangkat mu¬ka memandang. Sepasang matanya lebar sekali, lebar dan jeli, memandang dengan sinar mata polos ke wajah Han Han, air matanya menetes turun ke atas pipi, kemudian terdengar ia berkata, “Apakah engkau juga akan membunuhku?”
Melihat sepasang mata itu, seketika timbul rasa suka di hati Han Han, rasa suka dan kasihan. Wajah dan sikap serta kata-kata anak ini jelas menunjukkan bahwa dia bukan seorang bocah dusun biasa. Hanya pakaiannya yang jembel, tapi anaknya sendiri tidak patut menjadi jembel. Han Han segera ikut pula duduk di atas rumput dekat anak itu.
“Tentu saja tidak! Engkau siapakah? Di mana rumahmu? Siapa orang tuamu dan mengapa engkau berkeliaran di dusun itu dalam keadaan seperti anak jembel?”
Mendengar pertanyaan ini, anak itu menutupi mukanya dan menangis lagi, kini menangis sesenggukan. Han Han menghela napas dan menggeleng-geleng kepala. Ia sebenarnya jengkel melihat anak ini perengek benar, akan tetapi karena dia pernah mengalami hal-hal yang amat pahit dalam hidupnya, ia da¬pat memaklumi keadaan anak ini dan bersikap sabar. Ia membiarkan anak itu menangis, kemudian setelah tangis itu agak reda, ia berkata.
“Sudahlah, jangan bersedih. Engkau hidup sebatangkara, bukan? Kehilangan keluargamu?”
Anak itu mengangguk, pundaknya bergoyang-goyang karena isaknya.
“Nah, aku pun sebatangkara, aku pun kehilangan keluarga. Biarlah mulai se¬karang engkau menjadi adikku, dan aku menjadi kakakmu. Dengan begitu, kita masing-masing mendapatkan seorang saudara, bukan?”
Anak perempuan itu menghentikan tangisnya dan memandang kepada Han Han dengan mata merah dan muka basah. Sejenak mereka berpandangan, anak itu seolah-olah hendak menyelidiki ke-sungguhan hati Han Han dengan sinar matanya yang bening. Han Han terse¬nyum.
“Maukah engkau menjadi Adikku?”
Anak itu mengangguk perlahan, ke¬mudian tersenyum pula, senyum di antara isak tangis. Dan hati Han Han makin suka kepada anak ini. Tidak hanya se¬pasang matanya yang indah bening dan lebar, juga senyumnya membuat sinar matahari menjadi makin cerah!
“Engkau menjadi Adikku dan kusebut engkau Moi-moi, sedangkan kau menye¬but aku Koko, namaku Han Han, she Sie. Nah, Moi-moi, sekarang ceritakan, siapa¬kah namamu dan bagaimana kau sampai sebatangkara dan tiba di tempat ini?”
Sejenak anak itu memandang Han Han dengan mata terbuka lebar, kemudian tiba-tiba ia menubruk dan merangkul Han Han, menangis di atas dada Han Han. Kali ini ia menangis keras, sampai ter¬sedu-sedu. Dan mulut yang kecil itu ber¬bisik, setengah mengerang atau merintih.
“Koko.... Han-ko (Kakak Han).... Koko....!”
Han Han menjadi terharu. Ia mengerti bahwa anak perempuan ini sekarang me¬nangis karena mendapat hiburan yang amat mendalam, menyentuh hatinya se¬olah-olah anak yang tadinya terombang-ambing dipermainkan ombak sehingga dalam keadaan ketakutan dan kengerian selalu, tiba-tiba mendapatkan pegangan yang dapat dijadikan penyelamat. Maka tak terasa lagi Han Han mengedip-ngedip¬kan kedua matanya agar matanya yang mulai menjadi panas tidak sampai men¬jatuhkan air mata. Setelah tangis anak itu mereda, ia lalu memegang kedua pundaknya, mendorong muka dari dadanya, memandangnya dan berkata.
“Moi-moi yang baik, sekarang katakan, siapa namamu?”
“Lulu....”
Han Han tercengang. “Eh, namamu lucu sekali! Lulu? Ayahmu she apa?”
“Ayahku seorang pembesar Mancu di kota raja....”
“Haaahhh....?” Han Han benar-benar merasa kaget sekali dan ia memandang wajah Lulu dengan mata terbelalak. Dia ini anak Mancu? Anak pembesar Mancu?
“Ayahmu seorang perwira Mancu?” tanyanya seperti dalam mimpi dan ter¬bayanglah wajah perwira muka kuning. Suaranya mengandung kebencian dan terdengar ketus dan dingin. Kedua ta¬ngannya yang masih memegang pundak Lulu mencengkeram.
Lulu terkejut dan meringis kesakitan. Cengkeraman itu tidak terlalu erat, na¬mun cukup menyakitkan. “Ada apakah, Han-ko....?”
Akan tetapi Han Han sudah men¬dorong tubuh anak itu sehingga terjeng¬kang dan bergulingan. Anehnya, sekali ini Lulu malah tidak menangis, melainkan merangkak bangun dan berdiri menghadapi Han Han dengan matanya yang lebar itu terbelalak.
“Ko-ko, engkau kenapakah?”
“Aku benci orang Mancu!” bentak Han Han sambil membalikkan tubuhnya membelakangi anak itu karena sesungguh¬nya hatinya penuh penyesalan mengapa ia telah memperlakukan Lulu seperti itu. Melihat sepasang mata itu, ia tidak da¬pat menahan dan membalikkan tubuh. Lulu lari menghampiri dan memegang lengan Han Han, sinar matanya yang tajam dan polos itu menjelajahi wajah Han Han penuh pertanyaan.
“Kenapa, Han-ko? Apakah kau membenci aku juga? Engkau begitu baik....”
“Benci, ya, benci! Aku benci semua orang Mancu!”
“Tapi, kenapa....? Tentu ada alasannya. Apakah engkau.... pemberontak?”
Kalau bukan Lulu yang ia hadapi, tentu ia sudah meninggalkan anak itu, pergi dan tidak sudi bicara lebih banyak lagi. Akan tetapi pandang mata itu se¬perti mengikutinya, membuat ia tidak dapat pergi, bahkan kini ia menjawab sebagai penjelasan sikapnya.
“Orang tuaku dibunuh, keluargaku dibasmi oleh orang-orang Mancu! Maka aku benci orang Mancu.”
“Membenci aku juga?”
“Kalau kau orang Mancu, ya!”
“Tapi aku Adikmu!”
“Aku tidak sudi mempunyai Adik seorang Mancu.”
Tiba-tiba Lulu menjatuhkan diri berlutut di depan Han Han, lalu memeluk kedua kakinya. Ia tidak menangis, tapi muka pucat sekali dan Lulu berkata dengan suara gemetar.
“Han-ko, jangan.... jangan membenci aku. Aku Adikmu.... jangan membenci aku. Aku Adikmu...., dan aku akupun sebatangkara. Ayah bundaku, biarpun orang-orang Mancu, mengalami nasib yang sama dengan orang tuamu. Ayah bundaku dibunuh orang, keluargaku di¬basmi, dan aku dilepas oleh orang-orang itu hanya dengan maksud agar aku men¬derita, agar aku menjadi seorang jembel. Malah pakaianku ditanggalkan lalu aku dipaksa memakai pakaian jembel....! Yang melakukan pembasmian keluargaku adalah pemberontak-pemberontak, para pengemis pemberontak, dan dan.... mereka adalah sebangsamu. Akan tetapi.... aku tidak membenci semua orang pri¬bumi, tidak membenci engkau, Koko!”
Han Man tertegun mendengar ini. Ia menunduk dan memandang wajah yang tengadah itu dan ia percaya. Kenyataan bahwa gadis cilik yang dibasmi keluarga¬nya ini tidak membenci semua orang yang sebangsa dengan mereka yang mem¬basmi keluarganya, menusuk perasaannya. Memang sungguh tidak adil kalau dia membenci semua orang Mancu, apalagi gadis cilik ini yang tidak tahu apa-apa. Mereka berdua hanyalah menjadi korban perang yang kejam dan jahat.
“Maafkan aku, Moi-moi....” Ia berkata dan menarik bangun Lulu yang tiba-tiba terisak lagi sambil memeluk Han Han. Mereka berpelukan dengan perasaan dua orang kakak beradik yang saling menemukan setelah lama berpisah dan hilang. Kemudian Han Han mengajaknya melanjutkan perjalanan memasuki hutan, karena ia khawatir kalau-kalau ada yang mengejar mereka dari dusun. Padahal tidak mungkin akan terjadi demikian karena andaikata orang telah mendapat¬kan mayat si tukang pukul, siapa yang akan menyangka seorang anak kecil se¬perti dia yang telah membunuhnya?
“Lulu-moi, kau bilang tadi bahwa pembasmi keluargamu adalah kaum pe¬ngemis?”
Lulu mengangguk sambil berjalan di sisi Han Han. Mereka bergandengan ta¬ngan, atau lebih tepat Lulu yang selalu memegang tangan Han Han, agaknya anak ini khawatir sekali kalau-kalau dia ditinggalkan kakak angkatnya ini.
“Ayah sedang berangkat ke selatan untuk menempati tugas baru di selatan, sekalian memboyong keluarganya, yaitu ibu, dua orang Kakakku, aku sendiri dan para pelayan. Di tengah jalan kami di-hadang oleh sekelompok pengemis, ter¬jadi perang dan rombongan Ayah terbasmi semua. Hanya aku seorang yang tidak dibunuh, melainkan ditukar pakaianku dengan pakaian ini dan disuruh pergi. Para pemberentak itu lihai sekali, semua pengawal Ayah dibunuh. Terutama sekali kepalanya, seorang jembel tua yang membawa tongkat butut, tinggi kurus dan rambutnya riap-riapan. Dialah yang mem-basmi Ayah Ibuku dan kedua Kakakku, akan tetapi dia pulalah yang melarang anak buahnya membunuhku kemudian membebaskan aku. Dia pembunuh Ayah bunda dan Kakakku, aku tidak akan lupa kepadanya, dan sekali waktu aku pasti akan membalas semua ini. Aku tidak akan melupakan kakek jembel yang di¬sebut Lauw-pangcu itu!”
Tiba-tiba kaki Han Han tersandung batu sehingga ia membawa Lulu terseret ke depan, terhuyung hampir jatuh.
“Hemmm...., dia....?” kata Han Han dengan jantung berdebar. Pembunuh orang tua dan saudara Lulu ini adalah gurunya, guru pertama, Lauw-pangcu!
“Mengapa? Kau kenal dia Koko?”
“Ya, begitulah.”
“Kau hebat, kau lihai, dapat membunuh tukang pukul tadi. Engkau tentu bukan orang sembarangan, Koko. Maukah kau membalaskan sakit hatiku ini ter¬hadap Lauw-pangcu? Aku kan Adikmu. Mau, bukan?”
“Ah, mudah saja kau bicara, Moi-moi. Untuk dapat membalas musuhmu, juga musuhku, kita membutuhkan kepandaian yang amat tinggi. Marilah engkau ikut bersamaku dan kita belajar sampai menjadi orang-orang pandai, baru kita bicara tentang membalas dendam. Mulai sekarang engkau ikut dengan aku, ke manapun aku pergi.”
Lulu mempererat pegangannya, hati¬nya terhibur dan ia sudah tersenyum-senyum lagi, wajahnya yang manis ber¬seri dan matanya yang lebar itu ber¬sinar-sinar. “Baiklah, Koko. Sampai mati aku tidak mau berpisah darimu.”
Ucapan terakhir ini mengharukan hati Han Han. Mereka melanjutkan perjalanan dan Han Han memutar otaknya. Tidak ada lain jalan lagi. Dia harus membawa Lulu kepada Ma-bin Lo-mo, minta kepada gurunya itu untuk menerima Lulu men¬jadi murid. Hanya dengan jalan inilah adik angkatnya tidak akan berpisah dari¬nya, dan Lulu akan dapat mempelajari ilmu yang tinggi.
“Sute....!”
Han Han dan Lulu berhenti dan mem¬balikkan tubuh. Kiranya Kim Cu yang memanggil Han Han dan anak perempuan ini datang berlari-lari cepat sekali se¬hingga Lulu memandang penuh kekagum¬an. Kim Cu memakai pakaian yanS in¬dah, dan sebuah bungkusan menempel di punggungnya. Wajah yang ayu itu ke¬merahan karena ia telah berlarian cepat mengerahkan tenaga ketika dari jauh melihat bayangan Han Han.
“Wah, sute! Setengah mati aku mencarimu!”
“Ada apakah, suci? Bukankah waktu libur masih sehari lagi sampai besok?”
“Ada perubahan, sute. Suhu sendiri yang memerintah aku agar menyusulmu. Kita semua harus kembali sekarang juga karena suhu hendak pergi jauh, juga Sian-kouw akan pergi, karena itu kita harus berada di sana. Dan.... eh, siapakah dia ini?” Agaknya karena ketegangan hatinya dan kegembiraannya dapat menemukan orang yang dicari, baru sekarang Kim Cu mendapat kenyataan bahwa di situ ada orang ke tiga, seorang anak perempuan bermata lebar yang berdiri memandang¬nya penuh kagum dan heran.
“Aku hendak membawa dia menghadap suhu, agar dapat diterima menjadi murid di In-kok-san.”
“Wah, agaknya tidak akan mudah, sute. Siapa sih anak ini?”
“Namanya Lulu, seorang becah Mancu.... heee, tahan, suci....!”
“Dukkk!” Tubuh Kim Cu terhuyung-huyung ke belakang ketika pukulannya ke arah Lulu ditangkis oleh Han Han. Muka Kim Cu menjadi merah, matanya melotot marah.
“Sute! Apa-apaan ini? Kenapa kau malah melindungi seorang setan cilik Mancu? Melindungi musuh? Biarkan aku membunuh dia!” Kim Cu melangkah maju mendekati Lulu yang berdiri dengan mata terbelalak ketakutan itu.
“Tidak, suci. Jangan! Dia ini bukan musuh kita.”
“Siapa bilang bukan kalau dia seorang setan cilik Mancu? Orang-orang Mancu yang telah membasmi keluargaku, dan keluargamu juga!”
“Benar, akan tetapi bukan dia ini yang membasmi keluarga kita, suci. Se¬baliknya, keluarga Lulu ini pun terbasmi habis oleh bangsa kita, dan Lulu toh tidak menganggap kita sebagai musuhnya. Kita harus berpikir luas dan adil, suci. Kalau seseorang melakukan kesalahan lalu seluruh bangsa orang itu dianggap ikut bersalah, alangkah picik dan tidak adilnya ini! Bangsa apa pun juga di dunia ini pasti mempunyai orang-orang yang jahat, termasuk bangsa kita, suci. Kalau karena kejahatan beberapa gelintir orang-orang itu lalu bangsanya dianggap jahat juga, wah, agaknya dunia ini tidak akan ada bangsa yang baik dan perang akan terus-menerus terjadi. Tidak, suci. Lulu ini bagi kita bukanlah orang jahat, bukan musuh kita biarpun dia anak seorang perwira Mancu.”
Kim Cu termenung. Memang semen¬jak berdekatan dengan Han Han, dia tahu betapa sutenya ini amat pandai, betapa pikiran sutenya amat luas dan sutenya mengerti akan segala macam urusan dunia. Hanya ilmu silat sajalah yang agaknya tidak begitu diperhatikan sutenya dan tingkat sutenya masih lebih rendah daripada tingkat murid lainnya. Ucapan Han Han itu berkesan di dalam hatinya dan sekaligus membuat Kim Cu timbul rasa kasihan kepada Lulu yang berdiri dengan mata terbelalak. Alangkah indahnya mata itu, pikirnya, dan melihat pakaian Lulu begitu buruk, ia makin kasihan dan lenyaplah semua kemarahan¬nya. Memang Kim Cu seorang anak yang jujur dan wataknya bersahaja, mudah pula menguasai perasaan hatinya.
 “Agaknya engkau benar dalam hal ini, sute. Akan tetapi engkau salah besar kalau engkau hendak membawa Lulu kepada suhu untuk dijadikan muridnya. Begitu dia bertemu suhu, dia tentu akan langsung dibunuh tanpa banyak cakap lagi. Engkau harus pulang bersamaku dan kau tidak boleh membawanya ke In-kok-san, sute.”
“Tidak bisa, suci. Kalau dia ini tidak bisa ikut dan akan dibunuh suhu, lebih baik aku tidak kembali ke In-kok-san.”
“Eh, mengapa begitu? Apamukah bocah ini, sute? Jangan bodoh....”
“Dia ini Adikku!”
“Apa? Adikmu? Anak Mancu ini.... mana mungkin Adikmu....?”
“Dia betul Adikku, dan aku Kakaknya. Baru saja kami telah bersaudara. Aku sudah berjanji akan melindunginya, tidak akan berpisah lagi. Dia tidak punya siapa-siapa, hanya aku yang telah menjadi kakaknya, suci,” kata Han Han, suaranya tetap.
Wajah Kim Cu menjadi berduka. “Sute, kalau kau tidak kembali.... bagaimana dengan aku? Aku akan kehilangan....”
“Suci, engkau adalah murid In-kok-san, dan engkau mempunyai banyak saudara-saudara seperguruan. Sedangkan Lulu tidak mempunyai siapa-siapa. Dia harus ikut bersamaku, dan pula, sudah berkali-kali aku katakan bahwa aku tidak betah tinggal lebih lama lagi di In-kok-san. Aku akan pergi bersama Adikku ini, suci. Harap suci suka mengingat hubungan baik kita dan membiarkan aku pergi.”
Kim Cu termenung dengan muka se¬dih. “Kalau engkau tidak kembali, suhu akan marah sekali. Terutama sekali Sian-kouw. Lupakah kau bahwa kau telah menjadi murid Sian-kouw? Engkau pasti akan dicari suhu, dan kalau sampai engkau tertangkap.... ah, hukumannya mengerikan, sute.”
“Kalau melarikan diri dan tertawan, hukumannya potong kaki, bukan?”
Lulu mengeluarkan jerit tertahan. “Keji....!”
Kim Cu memandang bocah itu dengan mata marah. “Tidak keji. Ini peraturan dan orang yang berdisiplin saja yang akan mendapatkan kemajuan! Sute, eng¬kau sudah tahu akan hukumannya. Maka harap kau jangan pergi.”
“Biarlah, aku sudah mengambil ke¬putusan. Aku akan melarikan diri ber¬sama Adikku, akan bersembunyi. Kalau sampai tertangkap, terserah. Akan tetapi aku percaya engkau tidak akan mengata¬kan di mana kau bertemu denganku, suci.”
Kim Cu menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepala. “Aku tidak akan memberi tahu, sute. Tapi.... ah....”
“Sudahlah, suci. Harap suci suka kem¬bali. Aku mau pergi sekarang juga. Mari¬lah, Lulu.”
Kim Cu berdiri dengan muka sedih memandang bayangan dua orang itu yang makin menjauh.
“Sute....! Tunggu dulu....!” Ia meloncat dan berlari mengejar.
Han Han membalikkan tubuh, alisnya berkerut. “Suci, benarkah engkau akan melupakan persahabatan dan hendak menghalangi aku?”
Kim Cu maju dan memegang tangan Han Han. Air matanya menitik turun.
“Tidak sama sekali, sute. Aku.... aku hanya mengkhawatirkan engkau. Dan dia ini.... ah, setelah dia menjadi Adikmu, mana bisa berpakaian seperti itu? Tunggu dulu....” Gadis cilik ini lalu menurunkan buntalan pakaiannya, mengeluarkan se¬pasang sepatu cadangan dan satu stel pakaian, diserahkannya kepada Lulu.
“Lulu, kaupakailah ini agar engkau pantas menjadi adik Sie Han sute.”
Lulu menerima pakaian dan sepatu, memandang terharu, lalu berkata, “Enci, kau baik sekali, dan alangkah mendalam cinta kasihmu terhadap Han-koko....”
“Cihhhhh....! Kanak-kanak bicara tentang cinta! Cinta apa?”
“Engkau mencinta Han-ko, Enci....”
“Hush! Sudahlah....!” Suara Kim Cu mengandung isak dan gadis cilik ini lalu membalikkan tubuh dan lari dari situ dengan gerakan yang amat cepat.
Han Han berdiri melongo, memandang bayangan Kim Cu sampai gadis itu le¬nyap dari pandang matanya, kemudian ia menoleh kepada Lulu dan berkata, “Apa kau bilang tadi? Cinta? Cinta bagai-mana?”
Lulu tersenyum. “Dia sungguh cinta kepadamu, Koko. Dan dia seorang gadis yang baik sekali. Kelak aku akan senang sekali mempunyai seorang soso (kakak ipar) seperti dia.”
“Eh-eh, gilakah engkau?” Entah bagai¬mana, sungphpun ia hanya menduga-duga dan hanya mengerti setengah-setengah saja apa yang dimaksudkan Lulu, mukanya menjadi panas dan jantungnya ber-debar-debar. “Lebih baik lekas pakai pakaian itu dan kita melanjutkan per¬jalanan.”
Lulu segera bersembunyi di balik semak-semak untuk bertukar pakaian. Ketika ia muncul kembali, Han Han memandang kagum. Benar saja. Lulu ternyata adalah seorang gadis cilik yang cantik jelita. Setelah kini pakaiannya bersih dan baik, dia menjadi seorang anak yang manis sekali.
“Kita ke mana, Koko?”
“Hayo ikut sajalah. Aku ingin ke kota raja, akan tetapi belum tahu jalannya!”
“Aku datang dari sana, akan tetapi juga tidak tahu jalannya. Di jalan kita nanti tanya-tanya orang, tentu akan sam¬pai juga.”
Maka pergilah kedua anak ini, tergesa-gesa karena Han Han ingin cepat-cepat menjauhkan diri dari In-kok-san. Ia tahu bahwa gurunya, Ma-bin Lo-mo tentu marah sekali dan akan mencarinya, dan kalau yang mengejar dan mencarinya seorang sakti seperti itu, benar-benar tak boleh dibuat main-main. Juga ia tidak berani sembarangan bertanya-tanya pada orang, bahkan menghindari perjumpaan dengan orang-orang agar tidak meninggal¬kan jejak. Ia selalu mengambil jalan yang sunyi, keluar masuk hutan, naik turun gunung. Karena perjalanan mengambil jalan yang liar dan sukar ini maka biarpun pakaian yang dipakai Lulu pemberian Kim Cu itu masih bersih dan baik, se¬telah lewat sebulan mulai robek di pun¬dak dan oleh Lulu ditambal sedapatnya mempergunakan robekan ujung baju yang baginya agak kepanjangan.
Han Han menjadi makin suka kepada Lulu, setelah mendapat kenyataan bahwa gadis cilik itu benar-benar memiliki wa¬tak yang menyenangkan. Biarpun usianya baru sembilan atau sepuluh tahun, Lulu adalah seorang anak yang tahu diri, tidak rewel, tidak banyak kehendak, penurut dan juga tahan uji. Ia mentaati segala kehendak Han Han sebagai seorang adik yang baik, bersikap penuh kasih sayang kepada kakaknya ini, dan juga tidak pernah mau ketinggalan kalau Han Han mencari makanan untuk mereka. Betapa¬pun lelahnya jika Han Han memaksanya melanjutkan perjalanan yang sukar, gadis cilik ini tak pernah mengeluh, maklum bahwa kakaknya kini menjadi seorang buronan. Ia pun berkali-kaii menyatakan kegelisahannya kalau-kalau kakaknya akan tertangkap oleh guru kakaknya yang dianggapnya seorang manusia keji dan me¬ngerikan. Banyak ia bertanya tentang Ma-bin Lo-mo dan Han Han juga men¬ceritakan apa yang ia ketahui tentang Ma-bin Lo-mo, Toat-beng Ciu-sian-li dan lain-lain tokoh kang-ouw yang terkenal. Lulu amat tertarik mendengar cerita itu dan berkali-kali menyatakan bahwa ia pun ingin belajar silat agar kelak men¬jadi seorang yang pandai, sehingga ia akan dapat membalas dendam kepada musuh yang telah membasmi keluarganya.
Harus diakui bahwa Han Han yang semenjak kecil banyak membaca kitab-kitab, pengertian umumnya sudah amat dalam, bahkan ia tahu akan filsafat-filsafat hidup. Namun karena ia hanyalah seorang bocah, tentu saja wawasannya pun amat terbatas dan banyak hal-hal yang tidak ia ketahui benar intinya. Se¬dapat mungkin ia berusaha untuk me¬nerangkan Lulu tentang dendam pribadi dan tentang bencana akibat perang.
“Lulu adikku yang baik, kurasa engkau keliru kalau menaruh dendam kepada Lauw-pangcu, karena sesungguhnya dia seorang yang baik, seorang patriot sejati yang gagah perkasa,” katanya hati-hati ketika pada suatu hari mereka mengaso di bawah pohon besar dalam sebuah hutan.Lulu memandang kakaknya dengan mata lebar dan penuh penasaran. “Koko, keluargamu terbasmi oleh perwira-perwira Mancu seperti yang pernah kauceritakan kepadaku. Apakah engkau tidak menden¬dam kepada perwira-perwira itu?”
 “Tentu saja.”
“Kalau engkau menaruh dendam kepada pembasmi keluargamu, mengapa aku tidak boleh mendendam kepada pembas¬mi keluargaku?”
“Ah, jauh sekali bedanya, Moi-moi. Keluargaku terbasmi oleh orang-orang yang melakukan hal itu menurutkan nafsu mereka pribadi, tidak ada sangkut-paut¬nya dengan perang sungguhpun hal ini terjadi dalam perang. Pembasmi-pembasmi keluargaku melakukannya dengan rasa benci dan nafsu pribadi, terdorong oleh watak mereka yang jahat dan kejam. Keluargaku bukanlah musuh mereka dalam perang, dan mereka melakukan pembasmian itu karena dua hal, yaitu ingin memperkosa wanita-wanita dan ingin merampok harta benda! Berbeda sekali dengan apa yang dilakukan oleh Lauw-pangcu kepada keluargamu. Lauw-pangcu dengan kawan-kawannya adalah pejuang-pejuang yang berusaha menentang bangsa Mancu yang menjajah, dan Ayahmu ada¬lah seorang pembesar Mancu. Tentu saja Lauw-pangcu menganggap keluargamu musuh, bukan musuh pribadi, melainkan musuh negara dan bangsa. Lauw-pangcu melakukan pembasmian bukan berdasar¬kan kebencian pribadi, melainkan sebagai pelaksanaan tugas perjuangan. Tahukah engkau bahwa dalam sekejap mata saja anak buah Lauw-pangcu yang jumlahnya lima puluh orang lebih dibasmi habis oleh seorang kaki tangan Mancu?”
Lulu merengut dan menggeleng-geleng¬kan kepalanya. “Apapun yang menjadi alasan, akibatnya sama saja, Koko. Apa pun yang menjadi dasar daripada per¬buatan para pembasmi yang kejam itu, akibatnya tiada bedanya, buktinya engkau menjadi yatim-piatu dan aku pun sama juga. Apakah engkau hendak mengatakan bahwa aku tidak lebih sengsara dari padamu? Apakah karena sebab-sebab itu aku lalu diharuskan memaafkan mereka?”
Ditegur oleh bocah yang matang dalam penderitaan ini, Han Han membung¬kam, ia tidak dapat menjawab, hanya berkali-kali menghela napas kemudian berkata, “Ah, entahlah, Moi-moi. Memang kalau dipikir-pikir, semua perbuatan yang sifatnya membunuh di dalam perang adalah keji! Perang menimbulkan mala¬petaka yang mengerikan. Perang mem¬buktikan betapa kejamnya mahluk yang disebut manusia. Perang dan bunuh-mem¬bunuh antar manusia dilakukan dengan penuh semangat, demi perjuangan dan cita-cita alasannya. Perjuangan dan cita-cita yang hanya diciptakan oleh beberapa gelintir manusia belaka! Aku tidak tahu, hanya yang kuketahui sekarang, kalau kita sudah memiliki kepandaian, kita harus membasmi orang-orang yang men¬jadi musuh kita, orang-orang yang kita anggap jahat!”
“Koko, bagaimanakah orang yang ja¬hat itu? Lauw-pangcu dalam anggapanku adalah seorang yang sejahat-jahatnya karena dia telah membuat keluargaku lenyap, telah membuat hidupku merana. Akan tetapi engkau tidak menganggapnya sebagai orang jahat, malah gagah perkasa. Bagaimana ini?”
“Tidak tahulah.... tidak tahulah.... mungkin kelak kita akan lebih mengerti.”
Mereka melanjutkan perjalanan dan setelah mereka keluar dari hutan itu, tampaklah sebuah bukit di sebelah de¬pan. Senja telah mendatang dan di dalam cuaca yang sudah suram itu samar-samar tampak dinding di puncak bukit.
“Di puncak bukit itu tentu tempat tinggal para pendeta, kalau tidak kuli tentu sebuah dusun. Sebaiknya kita pergi ke sana. Aku akan bekerja untuk men¬carikan beberapa stel pakaian untukmu, Moi-moi.”
“Bukan hanya untukku, Koko, engkau pun perlu akan pakaian cadangan. Lihat, pakaianmu sudah mulai rusak pula. Aku pun dapat bekerja, apa saja, kalau perlu membantu di sawah, atau mencuci, mem-bersihkan rumah, apa saja.”
“Engkau puteri seorang pembesar, mana bisa bekerja kasar?”
“Jangan begitu, Koko. Dahulu puteri pembesar, sekarang hanya seorang bocah jemb....”
“Hanya Adikku yang baik dan manis!” Han Han memotong dan mereka tertawa, bergandengan tangan dan mulai mendaki bukit yang tidak berapa tingginya itu. Namun, ketika mereka telah tiba di le¬reng, tak jauh lagi dari puncak di mana tampak dinding putih yang ternyata ada¬lah pagar tembok yang tinggi, Lulu menuding dan berseru.
“Lihat! Kebakaran!”
Benar saja. Api yang berkobar-kobar tampak di balik dinding itu, makin lama makin membesar dan sinar api merah itu memperlihatkan dengan jelas bahwa di balik pagar tembok itu terdapat sekelom¬pok rumah-rumah yang kini terbakar.
“Celaka....! Hayo kita naik terus, sedapat mungkin kita bantu mereka me¬madamkan api, Moi-moi.”
“Aku.... takut...., Koko.”
“Ada aku di sampingmu, takut apa? Hayolah!” Han Han menggandeng tangan adiknya dan dengan bantuan sinar api mereka mendaki terus menuju ke pagar tembok. Akhirnya mereka tiba di luar pagar tembok dan tiba-tiba Han Han menarik tangan adiknya untuk mendekam dan berlindung di tempat gelap. Dari pintu gerbang yang terbuka mereka dapat melihat ke sebelah dalam perkampungan itu dan keadaan di dalam perkampungan itulah yang membuat Han Han menarik tangan adiknya diajak bersembunyi. Kira¬nya di dalam perkampungan itu terjadi perang tanding yang hebat. Tampak bayangan-bayangan manusia berkelebatan, kilatan-kilatan senjata tajam dan ter¬dengar nyaring suara senjata beradu. Di sana-sini, jelas tampak karena disinari api yang membakar rumah, menggeletak mayat-mayat orang, malang-melintang dalam keadaan mandi darah. Mengerikan! Tubuh Lulu menggigil ketika ia merapat¬kan diri kepada kakaknya, napasnya ter¬engah-engah. Han Han juga merasa tegang, akan tetapi ia mengelus-elus kepala adiknya untuk menenangkannya.
Perang tanding yang lebih banyak terdengar daripada terlihat itu berlang¬sung semalam suntuk! Demikian pula kebakaran yang agaknya tidak ada yang berusaha memadamkannya itu. Dapat di-bayangkan betapa gelisah dan sengsara dua orang bocah yang bersembunyi di luar tembok. Jerit-jerit ketakutan dan pekik-pekik kematian terdengar oleh mereka, bercampur dengan suara pletak-pletok terbakarnya rumah-rumah yang makin menghebat. Kiranya rumah-rumah dalam perkampungan itu amat berdekatan sehingga setelah api membakar dan tidak ada usaha memadamkannya, semua di¬makan api dan kebakaran itu berlangsung sampai pagi!
Han Han yang memberanikan hatinya merangkak dan mengintai dari balik pintu gerbang, menjadi silau matanya menyak¬sikan berkelebatnya dua sinar putih. Sebagai seorang yang pernah menjadi murid seorang pandai, ia dapat menduga bahwa dua sinar putih itu tentulah sinar senjata yang dimainkan oleh dua orang yang amat tinggi ilmu kepandaiannya. Dua sinar itu berkelebatan di antara puluhan orang yang mengepungnya dan ia dapat menduga babwa tentu ada dua orang lihai yang dikeroyok oleh banyak sekali orang. Yang mengerikan hatinya adalah ketika di antara tumpukan mayat ia melihat pula mayat-mayat wanita dan anak-anak kecil.
Semalam suntuk tidak tidur sekejap mata pun, semalam suntuk terus men¬dekam bersembunyi, namun bagi kedua orang anak itu, agaknya semalam itu lewat dengan amat cepatnya. Tahu-tahu sudah pagi! Dan menjelang pagi, api mulai padam dan ketika mereka men¬dengarkan, ternyata tidak ada suara apa-apa lagi. Sunyi di dalam perkampungan itu, hanya tampak asap hitam mengepul dan masih ada suara pletak-pletok lirih. Akan tetapi tidak ada suara manusia, tidak ada suara pertempuran.
Han Han bangkit berdiri, akan tetapi terduduk kembali karena ujung bajunya sebelah belakang dipegang erat-erat oleh Lulu yang ketakutan. Han Han menoleh dan melihat betapa tubuh Lulu gemetar, adiknya yang biasanya cerah itu kini pucat dan matanya terbelalak seper¬ti seekor kelinci dikejar harimau. Ia memberi isyarat agar adiknya itu bang¬kit berdiri, kemudian ia memasuki pintu gerbang itu perlahan-lahan. Lulu yang masih menggigil ketakutan, berjalan di belakangnya, tidak pernah melepaskan ujung bajunya yang belakang. Dua orang anak itu seperti sedang main naga-naga-an, berjalan perlahan dan muka bergerak memandang ke kanan kiri, wajah pucat dan mata terbelalak. Hati siapa tidak akan ngeri menyaksikan keadaan dalam perkampungan itu. Semua pondok habis terbakar, kini menjadi arang dan hanya tinggal asapnya karena sudah tidak ada lagi yang dapat dibakar. Yang amat me¬ngerikan adalah banyaknya mayat orang berserakan di mana-mana. Ada puluhan orang banyaknya, bahkan mungkin seratus orang lebih. Sebagian besar laki-laki tinggi besar akan tetapi banyak pula wanita-wanita, tua dan muda, ada pula anak-anak. Mereka semua telah mati dengan tubuh terluka besar, seperti ter¬babat senjata tajam, ada yang perutnya pecah, dadanya berlubang, leher hampir putus. Mayat ini mandi darahnya sendiri.
 “Han-koko.... aku.... aku takut hiiii....!” Hampir Lulu tidak dapat melangkahkan kakinya yang menggigil, wa¬jahnya pucat sekali dan sepasang mata yang lebar itu terbelalak.
“Tenanglah, Adikku.... aku pun takut, akan tetapi mari kita lihat ke sana..... eh, dengar.... ada orang merintih....! Hayo ke sana, suaranya datang dari belakang puing rumah itu....”
“Aku.... aku takut.... nge.... ngeri....!”
Akan tetapi Han Han sudah menarik tangan adik angkatnya. Melihat sekian banyaknya manusia menjadi mayat, tidak seorang pun yang masih hidup, tidak ada yang merintih atau bergerak, membuat hatinya menjadi tertarik sekali ketika ia mendengar suara merintih itu. Dari jauh ia sudah melihat dua orang yang tidak mati, namun terluka hebat karena dua orang itu masing-masing tertusuk pedang di bagian perut, tertusuk sampai tembus ke punggung! Mengerikan sekali, akan tetapi juga aneh, karena justeru dua orang ini di antara puluhan mayat yang hidup.
Han Han memiliki ketabahan yang luar biasa, tidak lumrah manusia biasa. Biarpun Lulu sudah hampir pingsan sa¬king ngerinya, namun Han Han tidak apa-apa, bahkan ia lalu melepaskan ta¬ngan Lulu dan mempercepat langkahnya menghampiri dua orang itu sambil ber¬kata.
“Moi-moi, ada orang terluka. Mari kita tolong mereka....!”
Kasihan sekali Lulu. Sudah takutnya setengah mati, kakaknya melepaskan ta¬ngannya dan lari meninggalkannya. Seper¬ti seekor kelinci ketakutan ia lalu memaksa kakinya yang lemas itu untuk lari pula mengejar. “Koko.... Han-ko, tunggu aku....!”
Han Han sudah berlutut di dekat dua orang yang terluka itu. Ia memandang dengan kagum dan terheran-heran. Dua orang itu adalah seorang kakek dan se¬orang nenek. Usia mereka tentu tidak akan kurang dari tujuh puluhan tahun, akan tetapi jelas tampak betapa mereka berdua itu dahulunya tentulah orang-orang yang elok dan gagah. Kakek itu masih tampak gagah dan tampan, pakaiannya bersih dan dari rambutnya sampai sepatu¬nya terawat rapi, pakaiannya seperti seorang sastrawan. Jenggot dan kumisnya terpelihara baik-baik. Adapun nenek itu biarpun sudah tua masih nampak cantik, tentu di waktu mudanya merupakan se¬orang wanita yang jelita. Juga pakaiannya rapi dan bersih. Kakek itu bersandar pada meja batu yang terdapat di taman, sebatang pedang menancap di perutnya sampai tembus punggung. Adapun nenek itu setengah rebah menyandarkan kepala di pundak kanan itu, juga sebatang pe¬dang menancap di dadanya, menembus ke punggung. Yang mengherankan Han Han, pedang itu sama benar bentuknya, juga serupa gagangnya, pedang yang amat indah, yang putih berkilau seperti perak. Si nenek menyandarkan kepalanya sambil merintih dan rintihan nenek inilah yang tadi terdengar oleh Han Han. Tangan nenek itu meraba-raba perut kakek yang tertancap pedang. Kakek itu sendiri sama sekali tidak mengeluh, seolah-olah perut ditembusi pedang tidak terasa nyeri oleh¬nya, dan lengannya merangkul si nenek penuh kasih sayang.
“Tenanglah, Yan Hwa.... tenanglah menghadapi maut bersamaku, sumoi (Adik Seperguruan) tenanglah, Adikku, ke¬kasihku....”
“Oughhh.... suheng (Kakak Seperguruan) aduhhh, Koko (Kanda), mengapa baru sekarang menyebut kekasih....? “Aku.... aku.... selamanya cinta kepadamu, suheng....”
“Hushhh.... ada orang datang, diam¬lah....”
“Aughhh.... ahhh, panas rasa kerongkonganku....,  aduh, Kanda, minum.... minum....”
Hati Han Han sebenarya sudah tidak mudah lagi terharu. Perasaan hatinya sudah setengah membeku oleh peristiwa hebat yang dialaminya dahulu. Namun kini menyaksikan keadaan kakek dan nenek itu, ia terheran-heran dan juga timbul rasa iba di hatinya.
“Locianpwe, biarlah saya yang men¬carikan air minum....!” Tanpa menanti jawaban dua orang yang sedang dalam sekarat itu, ia bangkit den cepat pergi mencari air.
“Han-ko.... tunggu....!” Lulu berteriak dan meloncat pula mengejar kakaknya. Anak kecil ini merasa terlalu ngeri ka¬lau ditinggal sendirian di dekat kakek dan nenek yang sekarat itu.
“Mari kita mencari air minum untuk mereka. Kasihan mereka....” kata Han Han yang menanti adiknya lalu meng¬gandeng tangan adiknya. Sebentar saja mereka mendapatkan sebuah tempat air dan mengisinya dengan air lalu kembali ke dalam taman. Wajah kedua orang tua itu sudah pucat karena darah mereka terus mengucur keluar dari luka di perut dan dada.
“Ini airnya, locianpwe,” kata Han Han. Ia menyebut locianpwe karena ia dapat menduga bahwa mereka berdua itu tentulah bukan sembarang orang, bahkan ia menduga bahwa kematian puluhan orang itu tentu ada hubungannya dengan mereka. Adapun Lulu berdiri di belakang Han Han, terbelalak memandang dua orang yang terluka berat dan sedang saling berpelukan mesra itu.
“Oohhh, mana air....?” Nenek itu mengeluh. Kakek itu membuka matanya dan sejenak pandang matanya bertemu dengan pandang mata Han Han. Kakek itu membelalakkan mata, seperti terpesona memandang wajah Han Han, akan tetapi segera menerima tempat air dan memberi minum nenek yang kehausan dan sedang sekarat itu. Air diminum dengan lahap sampai terdengar meng¬gelogok dan sebagian besar tumpah. Nenek itu terengah kepuasan, wajahnya menjadi tenang, dengan sikap manja merebahkan pipi kirinya di atas pundak kakek itu, tangannya memeluk pinggang, matanya merenung seperti orang ngantuk, akan tetapi tidak merintih lagi. Kakek itu tidak minum, bahkan tiba-tiba ia menggerakkan tangan yang memegang tempat air. Han Han terkejut sekali melihat tempat air itu melayang jauh sekali dan jatuh ke atas tanah, tidak pecah, bahkan air di dalamnya yang masih setengah itu tidak tumpah, muncrat setetes pun tidak, seolah-olah tempat air itu dibawa melayang tangan yang tidak tampak dan diletakkan di tempat itu! Wajah kakek itu kelihatan dingin ketika memandang kepadanya dan bertanya.
“Engkau siapa?”
Han Han adalah seorang anak yang amat kukoai (aneh), babkan tidak kalah kukoai oleh datuk-datuk persilatan yang bagaimana aneh wataknya sekalipun. Kalau tadi ia merasa iba, kini menyaksi¬kan sikap kakek itu, timbul keberanian¬nya dan ia pun hanya berdiri sambil memandang. Sinar kemarahan terpancar keluar dari pandang matanya dan ia men¬jawab, sama kakunya dengan suara kakek itu.
“Namaku Sie Han!” Hanya sekian ia berkata karena tidak ada hasrat hatinya lagi untuk mengetahui siapa adanya kakek dan nenek itu dan apa yang terjadi sehingga mereka terluka seperti itu.
Kembali dua pasang mata beradu pandang dan kakek itu makin terbelalak.
“Eh....! Matamu....!”
“Mataku kenapa?” balas tanya Han Han, makin penasaran.
“Seperti....”
“Mata setan!” Han Han melanjutkan, makin mendongkol dan teringat akan pengalamannya dengan Lauw-pangcu dan juga dengan Kang-thouw-kwi dan Ma-bin Lo-mo. Mereka itu semua menyata¬kan keheranan akan matanya. Lama-lama ia menjadi bosan juga kalau tokoh besar selalu menyebut-nyebut matanya.
Kakek itu menggeleng-geleng kepala, dan aneh.... dia tersenyum geli. “Wah, tidak hanya matanya, juga wajahmu dan sikapmu yang kepala batu.... akan tetapi pada dasarnya berhati penuh welas asih.... eh, engkau benar-benar bocah aneh, mengingatkan aku akan seorang sahabatku yang amat baik.”
“Hemmm, locianpwe yang aneh. Bi¬cara tentang sahabat, akan tetapi keadaan locianpwe berdua ini tidak membayangkan bahwa locianpwo baru saja bertemu dengan seorang sahabat,” Han Han menuding ke arah dua batang pedang yang masih menancap di tubuh mereka.
Nenek itu mengangkat muka memandang kakek yang masih dipeluknya. “Koko.... siapa bocah setan ini? Perlu apa bicara dengan dia? Mana.... mana dia.... Jai-hwa-sian?”
“Sabar, Moi-moi.... Jai-hwa-sian belum juga datang.... ahhh, sayang sekali.... kalau sampai kita keburu mampus sebelum dia muncul....”
Han Han terkejut sekali. Tadinya ia merasa geli dan juga iba mendengar betapa dua orang tua renta ini demikian kemesra-mesraan dan menyebut koko dan moi-moi. Akan tetapi mendengar nama Jai-hwa-sian disebut-sebut, ia terkejut.
“Locianpwe mencari Kong-kongku?”
Kakek itu mengangkat muka meman¬dang, cemberut. “Siapa mencari Kong-kongmu? Siapa itu Kong-kongmu?”
“Jai-hwa-sian....!”
“Hehhh....?”
“Ihhhhh....?”
Kakek dan nenek itu berseru kaget dan kini memandang Han Han yang masih berdiri dengan muka merah. Dia tadi telah kelepasan bicara, mungkin ia mengaku Jai-hwa-sian sebagai kakeknya hanya karena merasa penasaran tidak dipandang mata oleh kakek itu, juga karena ia terkejut dan teringat akan sangkaan Kang-thouw-kwi bahwa dia adalah cucu Jai-hwa-sian.
 “Heh, anak setan, siapa nama Kong-kongmu?”
“Namanya Sie Hoat.”
Kakek itu mengerutkan alisnya, sedangkan nenek itu yang masih lemah telah menyandarkan kembali pipinya ke pundak Si Kakek dengan sikap manja.
“Bagaimana kau tahu kakekmu itu berjuluk Jai-hwa-sian?”
“Yang memberi tahu adalah Setan Botak.”
“Setan Botak? Kaumaksudkan Setan Botak si....?”
“Siapa lagi kalau bukan Setan Botak Kang-thouw-kwi? Apakah ada Setan Botak ke dua di dunia ini?” kata Han Han, masih panas hatinya, apalagi karena ka¬kek itu menganggapnya main-main.
Kini mata kakek itu makin terbelalak. Baru sekarang, setelah menghadapi ke¬matian, ia menemukan seorang anak yang begini kukoai, berani memaki Kang-thouw-kwi dengan julukan Setan Botak. Padahal, ratusan orang gagah di dunia kang-ouw akan berpikir-pikir seratus kali lebih dulu untuk berani memaki seperti itu!
“Di mana Kakekmu yang berjuluk Jai-hwa-sian itu sekarang?” Kakek itu mulai menduga-duga barangkali Jai-hwa-sian benar-benar datang bersama cucunya dan sengaja menyuruh cucunya itu datang lebih dulu. Kalau anak ini benar-benar cucu Jai-hwa-sian, tidaklah begitu aneh kalau berani memaki Kang-thouw-kwi.
Akan tetapi anak itu menggeleng-geleng kepala. “Aku sendiri tidak tahu. Mungkin sudah mati, seperti yang diduga Ayah. Aku sendiri tidak pernah melihatnya, sudah puluhan tahun pergi merantau, menurut dongen Ayah....”
“Siapa nama Ayahmu dan di mana tinggalnya?”
“Ayah bemama Sie Bun An, dahulu tinggal di Kam-chi....”
“Sie Bun An? Suma Bun An? Di Kam-chi katamu? Ha-ha-ha-ha-ha, betul juga!” Kakek itu tertawa bergelak sehingga Han Han menjadi heran dan mengira bahwa tentu kakek yang sudah sekarat ini men-jadi berubah ingatannya alias menjadi gila.
“Sekarang di mana adanya Ayahmu itu? Di mana Suma Bun An?”
“Locianpwe! Ayahku adalah Sie Bun An, apa ini Suma-suma segala?”
“Ha-ha-ha! Dasar pengecut, mengingkari she apakah berarti dapat mem¬bersihkan diri dari noda? Ya-ya, biarlah, Sie Bun An. Di mana dia kalau engkau tidak tahu di mana adanya Kakekmu?”
“Ayah dan sekeluargaku telah dibunuh perwira-perwira Mancu....”
“Ha-ha-ha-ha-ha, hukum karma....! Ha-ha-ha, tak dapat dihindarkan lagi....”
“Locianpwe!” Han Han membentak, marahnya bukan main. Belum pernah dia menceritakan riwayatnya kepada siapapun juga dan kalau dia mau menceritakan tentang ayahnya dam keluarganya kepada kakek ini hanyalah karena ia tahu betul bahwa orang yang perutnya sudah tertembus pedang itu takkan dapat hidup lebih lama lagi. Akan tetapi, dia yang sudah berterus terang menceritakan, malah ditertewakan! Inilah yang benar-benar dapat disebut bocengli (tak tahu aturan)!
Akan tetapi kakek itu tidak peduli, malah tertawa terus dan berkata-kata seorang diri, “Ha-ha-ha, hukum karma! Jai-hwa-sian, engkau tak dapat lari dari kenyataan! Engkau orang sesat, datuk sesat, hukum karma pasti mengejarmu, betapapun engkau baik terhadap kami. Hukum karma akan mengejar setiap manusia, semua perbuatan jahat akan menimbulkan akibat, buah daripada pohon perbuatan sendiri akan dipetik sendiri.... seperti juga kami berdua...., kami berdua mungkin lebih sesat daripada engkau, maka buahnya pun lebih pahit.... aahhh!” Kakek itu kini menangis terisak-isak!
“Kakek.... kenapa menggali hal-hal lampau....? Tidak, buah yang kita petik tidak begitu pahit.... engkau mati di tanganku, aku mati di tanganmu, kita menemukan kembali cinta kasih, di ambang maut.... kita mati dalam cinta.... alangkah bahagianya....” Dengan napas terengah-engah nenek itu memeluk leher kakek itu dan mencium bibirnya! Mereka berciuman seperti dua orang muda yang sedang diamuk asmara, berciuman mulut dengan mesra, sedangkan darah menetes-netes dari mulut mereka!
Kini Han Han berdiri melongo. Ke¬marahan dan penasaran di hatinya lenyap tak berbekas seperti awan ditiup angin. Ia terheran-heran dan memandang terbelalak, menyaingi sepasang mata Lulu yang sejak tadi terbelalak penuh kengerian. Akan tetapi nenek itu sudah hampir putus napasnya, tidak kuat berciuman lama, dan ia terengah-engah, meletakkan kembali pipi kirinya di atas pundak Si Kakek, bibirnya merah sekali, merah terkena darah, darahnya sendiri dan da¬rah kakek itu. Bibirnya tersenyum, penuh kebahagiaan, penuh pasrah, seperti seorang bayi akan tidur di pangkuan ibunya.
“Moi-moi.... anak ini cucunya.... kita berikan saja kepadanya, ya?”
“Terserah, Koko.... terserah kepadamu. Lekas berikan.... aku sudah ingin sekali me¬layang pergi bersamamu, Koko....”
Kakek itu kini dengan tangan menggigil merogoh sakunya di sebelah dalam jubahnya, dan tangan kirinya mengeluarkan sebuah kitab dari saku bajunya, sedangkan tangan kanannya meraba-raba dan merogoh saku di balik baju Si Nenek, mengeluarkan sebuah kitab pula yang sama bentuk dan warnanya, kekuning-kuningan. Ia menumpuk dua buah kitab itu di tangan kirinya lalu berkata, suaranya sungguh-sungguh, namun lemah sekali.
“Dengar, anak yang bernama Sie Han.... dengarlah baik-baik, berlututlah....”
Suara yang lemah menggetar itu mem¬punyai wibawa yang luar biasa dan Han Han tak dapat membangkangnya. Ia tahu bahwa saat kematian kakek dan nenek itu sudah dekat sekali, maka demi meng¬hormat dua orang yang hendak mati, ia pun berlututlah. Lulu yang tidak disuruh berlutut, namun juga dapat merasakan suasana penuh kengerian dan ketegangan ini, merangkap kedua tangan di depan dada, penuh hormat dan takut-takut.
Dengan tangan gemetar, kakek itu mengangsurkan tangan kirinya yang me¬megangi dua buah kitab kuning. “Kauterimalah ini.... kausimpan baik-baik dalam bajumu! Lekas.... jangan bertanya, simpan dulu, nanti kuberi pen¬jelasan....”
Han Han tidak diberi kesempatan membantah dan seperti ada sesuatu yamg menggerakkan hatinya anak ini menerima sepasang kitab yang kecil itu, langsung ia masukkan ke balik bajunya.
“Dekatkan telingamu....”
Han Han menggeser lututnya, men¬dekat dan mendengar mulut kakek itu berbisik lirih di dekat telinganya, “Tam¬bah satu titik di kiri, tambah dua coret¬an melintang, buang dua titik di bawah, buang satu coretan menurun....”
“Sudah mengertikah engkau?”
Han Hen mengangguk dan mencatat pesan itu di dalam hatinya, sungguhpun ia sama sekali tidak mengerti apa mak¬sudnya.
“Simpan kitab-kitab itu dan kalau kelak kau dapat bertemu dengan Jai-hwa-sian, berikan kepadanya berikut pe¬san yang kubisikkan tadi. Berjanjilah sebagai seorang jantan untuk memenuhi pesan kami berdua, pesan dua orang yang mau mati.”
Kembali Han Han penasaran. Tidak percayakah kakek ini kepadanya? “Aku berjanji, locianpwe.”
Kakek itu menarik napas panjang, agaknya hatinya menjadi lega. Keadaan¬nya sudah makin lemah terutama nenek itu yang kini benar-benar sudah seperti orang tertidur pulas. Kakek itu menge¬rahkah tenaga, mengembangkan dada, lalu berkata, suaranya tidak selemah tadi, penuh semangat.
“Sie Han, dengarkan baik-baik, tiada banyak waktuku. Ketahuilah, kami berdua yang dikenal sebagai Siang-mo-kiam (Sepasang Pedang Iblis). Tidak ada datuk persilatan yang tidak mengenal kami berdua. Kami datang dari utara, men¬jagoi di empat penjuru. Aku Can Ji Kun bukan sombong, mungkin aku sendiri atau sumoiku Ok Yan Hwa ini masih dapat ditandingi orang, akan tetapi kalau kami berdua bergabung menjadi satu, aku Si Iblis Jantan dan dia ini Si Iblis Betina, tidak akan ada orang yang mampu mengalahkan kami....”
“Juga Koai-lojin tidak mampu....?”
Untuk terakhir kalinya kakek yang bernama Can Ji Kun itu terbelalak heran.
“Engkau tahu pula akan Koai-lojin?”
“Hanya mendengar penuturan orang lain. Akan tetapi aku memang bermaksud hendak mencari Koai-lojin,” jawab Han Han sederhana dan sejujurnya.“Anak, engkau memang anak yang aneh, dan aku makin percaya bahwa kakekmulah Jai-hwa-sian itu. Kulanjutkan penuturanku selagi aku masih kuat bicara. Kami suheng dan sumoi, seperti engkau saksikan
sendiri, saling mencinta dan kelihatannya rukun dan saling membela, saling membantu, saling melindungi. Sayang sekali, kenyataannya selama puluhan tahun tidaklah demikian. Kami tidak bisa menjadi suami isteri, tidak bisa menikah karena sumpah kami di depan guru kami....”
“Sumpah apakah, locianpwe?” Han Han bertanya, tertarik hatinya. Juga Lulu yang masih berdiri di belakang Han Han, mendengarkannya dengan hati ter¬tarik dan berkurang rasa ngerinya. Ke¬adaan yang bagaimana mengerikan sekali¬pun akan kalah oleh biasa, lama-kelamaan hati akan terbiasa juga.
“Guru kami menyumpah bahwa murid-muridnya tidak boleh menikah, kalau dilanggar harus ditebus nyawa....”
“Iihhh...., kejam....!” seru Lulu.
“Karena itu, biarpun saling mencinta, kami berdua tidak dapat mengikat tali perjodohan. Hal ini membangkitkan semacam kedukaan, kekecewaan dan akhirnya berubah menjadi kebencian. Kami lalu mulai mengumbar nafsu kebencian ini, kami saling berlomba berebut untuk membunuh-bunuhi orang yang dianggap jahat. Kami tidak pandang bulu, dan karena itulah kami dikenal sebagai Se¬pasang Pedang Iblis yang telengas. Dusun ini adalah sarang berandal, dahulu, pu¬luhan tahun yang lalu kami berdua ham¬pir celaka oleh kecurangan perampok-perampok ini, untung ada Jai-hwa-sian yang menolong kami. Karena itu, hari ini kami yang kebetulan mendapatkan sarang mereka, datang membasmi mereka. Akan tetapi, kembali kami saling berlomba dan akhirnya kami tidak hanya bersaing, me¬lainkan saling serang sehingga akhirnya.... engkau lihat sendiri akibatnya....” Kakek itu mulai lemah suaranya.
Nenek itu membuka mata dan ber¬kata, suaranya seperti orang berbisik, “Memang, jodoh antara kira harus ditebus dengan nyawa, Koko.... dan aku.... aku girang sekali.... aku bahagia....”
Kakek itu mencium kening nenek itu. “Sie Han.... Thian (Tuhan) telah mengi¬rim engkau sebagai ahli waris kami.... kalau engkau tidak dapat menemukan Jai-hwa-sian, sepasang kitab itu kuberi¬kan kepadamu.... engkau.... engkau mulai saat ini menjadi murid kami, dan aku girang mempunyai murid seperti eng¬kau....”
Han Han yang tahu bahwa dua orang itu takkan bebas dari kematian, tidak mau mengecewakan mereka. Gurunya sudah banyak. Lauw-pangcu, Ma-bin Lo-mo dan yang terakhir Toat-beng Ciu-sian-li. Sekarang ditambah lagi dengan Sepasang Pedang Iblis ini, tidak meng¬apalah. Ia lalu menelungkup sebagai peng¬hormatan dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Teecu (murid) menghaturkan terima kasih kepada suhu dan subo (Ibu Guru).”
Akan tetapi kakek itu sudah tidak mempedulikannya karena kini ia meng¬alihkan perhatiannya kepada nenek itu. Mereka kembali saling rangkul, saling mencium dan.... mereka menghembuskan napas terakhir dalam keadaan seperti bersandar pada meja batu dan kalau saja tidak ada sepasang pedang yang menan¬cap dan menembus tubuh mereka, tentu mereka itu disangka sebagai dua orang yang sedang tenggelam dalam permainan cinta.
“Suhu....! Subo....!” Han Han mengguncang-guncangkan tubuh mereka, seperti orang hendak membangunkan dua orang dari tidur nyenyak. Namun mereka ber¬dua itu tidak akan bangun lagi dan gun¬cangan tubuh mereka itu membuat rang¬kulan terlepas dan tubuh mereka terguling, satu ke kanan satu ke kiri.
“Me.... mereka.... sudah mati.... oohhh....!” Lulu menahan isaknya, merasa ngeri kembali karena baru sekarang selama hidupnya ia melihat orang meng¬hembuskan napas terakhir.
“Aku harus mengubur mereka....”
“Hayo kita pergi. Han-ko...., aku takut sekali....”
“Nanti dulu, Lulu. Aku harus mengu¬bur jenazah mereka. Mereka ini adalah suhu dan subo. Aku tidak mau menjadi seorang murid yang tidak mengenal budi. Tunggulan sebentar.”
“Kalau begitu, mari kubantu engkau, Han-ko.”
Dua orang anak itu lalu bekerja keras mengggali sebuah lubang di bawah pohon dalam taman itu. Untung bahwa Han Han ¬memiliki tenaga besar yang tidak disadarinya, sehingga dalam waktu be-berapa jam, setelah matahari naik tinggi, tergalilah sebuah lubang cukup besar. Lulu juga membantunya, mempergunakan dua buah cangkul yang mereka temu¬kan di dusun yang sudah terbakar itu.
“Pedang-pedang itu bagus sekali!” bisik Lulu.
Han Han menggeleng kepala. “Untuk apa pedang bagi kita, Moi-moi? Pedang itu adalah pedang mereka dan agaknya mereka itu senang sekali terbunuh de¬ngan pedang masing-masing. Biarlah kita mengubur mereka berikut pedang-pedang¬nya.”
Lulu tidak berani membantu ketika Han Han mengangkat tubuh dua orang tua itu, satu demi satu, ke dalam lubang. Akan tetapi ia membantu dengan rajin ketika Han Han menguruk lubang itu dengan tanah galian. Selesailah penguburan sederhana itu, dan Han Han lalu berlutut memberi hormat untuk ter¬akhir kalinya di depan makam suami isteri yang menjadi gurunya. Lulu juga ikut-ikutan berlutut memberi hormat.
“Sekarang kita harus cepat pergi dari sini....” kata Han Han. Sebetulnya Lulu telah lelah sekali bekerja setengah hari dan tidak makan, hanya minum air yang bisa mereka dapatkan di bekas dusun itu. Akan tetapi karena ia merasa ngeri un¬tuk berdiam lebih lama lagi di dusun yang penuh mayat bergelimpangan, ia merasa girang diajak pergi dan setengah berlari mereka keluar dari dusun yang terbasmi habis oleh keganasan sepasang manusia aneh itu.
Setelah agak jauh dari dusun itu, Han Han teringat bahwa keadaannya tadi amatlah berbahaya. Puluhan mayat ber¬ada di dalam dusun yang terbakar habis, dan yang hidup hanyalah dia dan Lulu!
Bagaimana kalau sampai ada orang lain datang ke dusun itu? Tentu dia dan Lulu akan disangka menjadi penyebab kejadian mengerikan itu. Berpikir demikian, ia lalu memegang tangan Lulu dan diajaklah anak itu berlari.
“Aduh.... aduh.... perlahan-lahan, Koko.... kakiku sakit....!”
Akan tetapi Han Han yang kini sadar akan bahaya yang mengancam mereka kalau sampai ada orang tahu, segera berjongkok dan berkata, “Lekas, mari kugendong....”
Lulu sudah merasa lelah sekali, lelah karena semalam tidak tidur, ditambah tadi bekerja keras menggali kuburan, terutama sekali karena mengalami ketegangan hebat. Maka giranglah hatinya ketika kakak angkatnya hendak meng¬gendongnya. Tanpa banyak cakap ia lalu merangkul leher Han Han dari belakang dan mengempit pinggang kakaknya de¬ngan kedua kaki. Han Han bangkit ber¬diri lalu lari secepatnya. Tubuh Lulu yang hangat menempel tubuhnya mem¬buat hatinya merasa girang sekali, merasa bahwa kini ada orang yang menya¬yangi, yang juga amat disayangnya dan yang harus ia lindungi. Keluarganya sudah habis, dan kini semua rasa sayang terhadap keluarganya itu ia tumpahkan kepada diri Lulu. Sambil merangkul kedua kaki adik angkatnya, ia berlari terus tanpa mengenal lelah. Ia harus pergi sejauh mungkin dari bukit di mana ter¬dapat dusun perampok yang terbasmi habis itu.
Sambil berlari, Han Han teringat akan semua peristiwa tadi. Ia bingung dan terheran-heran. Benarkah kakeknya adalah orang yang berjuluk Jai-hwa-sian itu? Kalau benar, mengapa ayahnya atau ibu¬nya tidak pernah bercerita tentang ka¬keknya? Pernah ia bertanya tentang ka¬keknya, namun ayahnya hanya mengata¬kan bahwa kakeknya sudah pergi jauh tak diketahui tempatnya semenjak ayahnya masih kecil. Yang ia ketahui hanya bahwa kakeknya itu bernama Sie Hoat. Agaknya tidak mungkin kalau kakeknya itu adalah seorang sakti dan aneh seperti mendiang Can Ji Kun si Iblis Jantan, atau seperti Kang-thouw-kwi dan datuk-datuk lain. Kalau kakeknya seorang sakti, sedikitnya tentu ayahnya seorang yang berkepandaian pula. Akan tetapi ayahnya.... ah, hatinya kecewa sekali kalau ia teringat akan ayahnya. Teringat akan segala pe¬ristiwa yang menimpa ayahnya. Ayahnya memang tewas sebagai seorang gagah yang membela keluarga, akan tetapi seorang gagah yang lemah dan sama sekali tidak memiliki kepandaian silat. Ayahnya seorang lemah. Mungkinkah ayahnya putera seorang sakti?
Jai-hwa-sian! Dewa Pemetik Bunga! Sudah banyak ia baca, dan ia tahu apa artinya seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga), yaitu seorang penjahat cabul yang suka memperkosa wanita! Biarpun sakti dan berilmu tinggi, akan tetapi jahat. Dan dia menjadi cucu se¬orang penjahat cabul? Ah, tak mungkin! Dan ia tidak sudi. Tentu hanya kesalahan tafsir belaka. Bukan! Dia bukan cucu Jai-hwa-sian. Akan tetapi, dia harus me¬menuhi permintaan Sepasang Pedang Iblis tadi yang telah menjadi gurunya, dia harus mencari Jai-hwa-sian dan menye¬rahkan sepasang kitab ilmu pedang itu. Apa pula rahasianya? Han Han memiliki daya ingatan yang amat kuat. Ketika ia mengenangnya kembali, terngiang di telinganya bisikan Can Ji Kun si Iblis Jan¬tan, “Tambah satu titik di kiri, tambah dua coretan melintang, buang dua titik di bawah, buang satu coretan menurun.”
Dia tidak tahu apa artinya ucapan itu, akan tetapi dia harus menghafalnya dan tak boleh melupakannya, karena ucapan rahasia itu harus disampaikan pula kepada Jai-hwa-sian bersama se-pasang kitab ilmu pedang. Akan tetapi ke mana ia harus mencari Jai-hwa-sian? Dan ke mana ia harus pergi? Suhunya yang ke dua, Ma-bin Lo-mo tentu akan mencarinya dan kalau ia sampai ditang¬kap, celakalah! Dia harus pergi jauh, bersama Lulu. Ke mana? Ke kota raja! Dengan keputusan hati ini, Han Han melanjutkan larinya. Tanpa ia sadari kedua kakinya sudah lelah sekali. Hanya berkat kemauannya yang keras luar biasa maka ia dapat berlari terus sampai menjelang senja di mana ia tiba di pinggir sebuah sungai yang airnya jernih. Melihat air gemilang inilah yang membuat lemas seluruh persendian tulangnya. Sekali ia melihat air dan merasa haus, terasalah seluruh kebutuhan jasmaninya. Haus, lapar, lelah! Kakinya tersandung batu dan ia jatuh terguling! Akan tetapi karena teringat kepada Lulu, ia cepat memutar tubuh dan menyambar tubuh adik angkat¬nya, membiarkan dirinya yang jatuh terbanting di bawah, sedangkan tubuh Lulu tidak sampai terbanting. Bahu dan pun¬daknya terasa nyeri, akan tetapi ketika ia memandang Lulu yang dipeluknya, ia tertawa.
“Bocah malas! Enak saja kau, ya?” Ia mengomel, akan tetapi yang diomelinya tidak menjawab sama sekali karena sejak tadi Lulu memang sudah tertidur pulas di atas punggung Han Han. Demikian pulas tidurnya sampai dia tidak merasa bahwa dia hampir terbanting jatuh.
Melihat keadaan adiknya, hati Han Han diliputi penuh rasa sayang dan ka¬sihan. Ia lalu merebahkan tubuh anak perempuan itu perlahan-lahan di atas rumput hijau tebal di pinggir sungai, kemudian ia turun ke sungai, mandi dan minum sampai kenyang. Setelah itu, ia kembali ke bawah pohon di mana Lulu masih tertidur nyenyak. Ia lalu menang¬galkan bajunya dan diselimutkan pada tubuh Lulu karena ia melihat betapa anak itu dalam tidurnya agak menggigil, menarik kedua kakinya sampai lutut menempel ke dada tanda kedinginan.
“Kasihan....” bisiknya penuh kasih sayang. Aku harus mencarikan makanan untuknya. Akan tetapi pada saat Han Han berdiri dan membalikkan tubuh hen¬dak mencari makan, hampir ia menjerit saking kaget dan cemasnya. Ternyata, tanpa dapat didengarnya sama sekali, di situ telah berdiri Ma-bin Lo-mo! Bukan hanya kakek muka kuda itu sendiri yang datang, melainkan berempat, yaitu ada tiga orang lain lagi yang berdiri seperti arca dengan pandangan mata tak acuh kepada Han Han. Seorang adalah laki-laki gundul seperti hwesio, ke dua se¬orang laki-laki bermuka tengkorak saking kurusnya, dan yang ke tiga seorang laki-laki bermuka bopeng, penuh totol-totol hitam. Usia mereka itu rata-rata lima puluhan tahun, dengan sikap dingin yang menyeramkan. Adapun Ma-bin Lo-mo sendiri memandang kepada Han Han de¬ngan muka bengis!
Han Han bukan seorang penakut. Sa¬ma sekali tidak. Rasa takut seakan-akan telah terhapus dari hatinya bersama de¬ngan terbasminya keluarganya. Dan ia memiliki rasa tanggung jawab yang ter¬cipta daripada pengetahuannya tentang filsafat. Ia cerdik pula, kecerdikan yang timbul dari keadaan tidak wajar setelah ia hampir mati disiksa para perwira di rumahnya yang terbasmi dahulu. Kini ia pun cepat menggunakan pikirannya, tahu bahwa ia tak mungkin dapat meloloskan diri dari tangan gurunya yang amat lihai ini. Tahu pula bahwa tiada gunanya me¬lawan atau mencoba untuk melarikan diri. Nasibnya sudah pasti. Akan tetapi dia tidak mau kalau sampai Lulu ter¬bawa-bawa mengalami bencana. Oleh karena itu, cepat pikirannya bekerja dan ia sudah menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Ma-bin Lo-mo.
“Suhu.”
“Hemmm, murid durhaka! Engkau sadar akan dosamu?”
“Teecu sadar dan teecu tidak me¬nyangkal. Teecu telah melarikan diri dari In-kok-san karena teecu ingin bebas.” Dia tidak mau menyebut terus terang bahwa kepergiannya itu terutama sekali karena ia tidak mau berpisah dari Lulu. “Karena itu, harap suhu suka menjalan¬kan hukuman. Teecu menyerahkah se-belah kaki teecu, aken tetapi setelah hukuman terlaksana, harap Adik angkat teecu ini tidak diganggu dan biarkan teecu bersama dia.” Setelah berkata demikian, Han Han mengubah duduknya, tidak berlutut melainkan duduk dan me¬lonjorkan kedua kakinya untuk dipilih suhunya, mana yang akan dibikin buntung!
Diam-diam Ma-bin Lo-mo kagum bu¬kan main. Belum pernah selama hidupnya ia menyaksikan seorang bocah yang me¬miliki ketabahan dan kekerasan hati se¬perti ini! Menyerahkan kaki begitu saja untuk dihukum potong tanpa sedikit pun memperlihatkan hati takut atau gentar, bahkan penyesalan pun tidak, minta ma¬af pun tidak, melainkan berani bertang¬gung jawab sepenuhnya!
“Enak saja kau bicara! Karena Sian-kouw yang langsung mengajarmu, dia pula yang berhak menghukummu. Dan bocah ini yang menjadi gara-gara, akan kuhukum sendiri, hukum penggal kepala di depanmu!”
Kaget bukan main hati Han Han. Hal ini sama sekali tak pernah ia sangka-sangka, maka ia lalu menoleh kepada Lulu. Anak perempuan itu agaknya terjaga karena mendengar suara ribut-ribut, membuka matanya, mengucek-ucek mata kemudian memandang dengan sepasang mata lebar kepada Ma-bin Lo-mo dan tiga orang temannya. Melihat Han Han duduk ber¬simpuh, ia seperti merasa bahwa ada hal-hal tidak beres. Cepat ia menubruk kakaknya dan berkata.
“Koko...., ada apakah....? Siapakah orang-orang buruk ini?”
“Ssttt, diamlah Moi-moi. Beliau ini adalah guruku dan karena aku sudah bersalah meninggalkan perguruan, kakiku yang harus dihukum potong. Akan tetapi tidak mengapa asal kita tidak saling berpisah....”
“Kakimu dipotong....? Tidak....! Tidak boleh! Wah, kau manusia jahat! Tidak boleh mengganggu Kakakku! Pergi.... pergi....!” Lulu yang biasanya penakut itu, mendadak saja menjadi beringes dan galak seperti seekor anak harimau, ber¬diri menentang Ma-bin Lo-mo dengan mata terbelalak marah.
“Moi-moi, ke sini....! Jangan begitu, aku melarangmu!” Han Han berkata, maklum betapa berbahayanya sikap Lulu itu.
“Tidak, sekali ini aku tidak mau me¬nurutmu, Koko! Aku harus menentang niat keji manusia-manusia jahat ini! Enak saja, masa kaki mau dipotong? Tidak boleh, hayo kalian pergi, kakek-kakek jahat!” Lulu masih berdiri dengen sikap menantang dan matanya yang lebar itu seolah-olah mengeluarkan api yang hen¬dak membakar Ma-bin Lo-mo dan tiga orang temannya.
Ma-bin Lo-mo memandang Lulu dengan alis berkerut. “Eh, bocah, kau si¬apakah? Mengapa kau membela muridku yang durhaka ini?”
“Namaku Lulu dan aku telah menjadi adiknya, kakakku Han Han. Tentu saja aku membelanya!”
“Lulu namamu?” Ma-bin Lo-mo menggerakkan lengannya dan tahu-tahu ia sudah menyambar baju di punggung anak itu dan mengangkatnya. Lulu meronta-ronta dengan mata terbelalak, bergidik ketakutan melihat muka yang seperti kuda itu begitu dekat, mata yang ber¬sinar aneh itu menelitinya. “Hemmm, namamu Lulu dan mukamu seperti ini, matamu.... hemmm, kau anak Mancu, ya?”
Biarpun mulai ketakutan, namun Lulu masih marah.
“Bukan, suhu.... bukan....!” Han Han berteriak, mukanya pucat dan ia meng¬khawatirkan keselamatan adik angkatnya itu.
Akan tetapi alangkah kaget dan gelisahnya ketika ia mendengar Lulu men¬jawab nyaring, “Benar! Ayahku perwira Mancu dan keluargaku dibasmi orang-orang jahat seperti engkau ini! Lepaskan aku! Lepaskan!”
“Ngekkk!” Lulu dibanting dan anak itu pingsan seketika.
“Suhu! Jangan bunuh dia! Buntungkan kakiku, bunuhlah aku, akan tetapi jangan bunuh dia!” Han Han berteriak-teriak sambil meloncat maju hendak menolong Lulu yang disangkanya mati.
Sebuah tendangan membuat tubuh Han Han terguling. Ma-bin Lo-mo memandang¬nya dengan mata melotot marah.
“Bocah setan! Murid durhaka! Engkau bersahabat malah mengangkat saudara dengan anak seorang perwira Mancu? Keparat! Tak tahu malu! Seharusnya kuhancurkan kepalamu sekarang juga kalau engkau bukan sudah menjadi murid Sian-kouw! Biar Sian-kouw yang akan meng¬hukum dan menyiksamu! Dan bocah Mancu ini....” Ma-bin Lo-mo mengangkat tangan ke atas hendak memukul tubuh Lulu yang sudah pingsan tak bergerak itu.
“Suhu, jangan....!”
Tiba-tiba terdapat perubahan pada wajah Ma-bin Lo-mo. Ia menyeringai dan mengangguk-angguk.
“Hemmm...., bagus sekali. Dia anak seorang perwira Mancu, ya? Bagus! Bisa dipakai untuk mengundurkan orang-orang Mancu yang menjadi saingan mencari pulau....” Ia tidak melanjutkan kata-katanya, melainkan cepat sekali tangan¬nya bergerak dan ia sudah menotok Han Han. Kemudian ia memberi isyarat ke¬pada tiga orang kawannya. Laki-laki muka tengkorak lalu menyambar tubuh Lulu yang sudah lemas dan dikempitnya. Adapun laki-laki yang mukanya bopeng dan bertotol-totol hitam itu lalu me¬nyambar tubuh Han Han yang tak mampu bergerak, juga dikempitnya. Kemudian mereka berempat lalu lari cepat sekali meninggalkan tempat itu.
Kiranya tak jauh dari situ terdapat sebuah perahu yang diikat di pinggir sungai. Mereka melompat ke dalam pe¬rahu dan setelah mendayung perahu ke tengah dan layar dipasang, meluncurlah perahu itu, menuju ke laut. Han Han dan Lulu diikat kaki tangannya lalu dilempar¬kan ke dek perahu, kemudian totokannya dibebaskan. Lulu juga sudah siuman dan mengeluh. Ketika melihat, bahwa dia terbelenggu dan terlentang di atas dek perahu, Lulu cepat memandang ke arah kaki Han Han yang juga terbelenggu di sampinnya. Anak ini menarik napas lega dan berbisik.
“Han-ko.... syukur kakimu masih utuh....” Anak ini terisak.
“Diamlah Lulu. Jangan menangis...”
“Aku.... aku.... takut, Koko.”
“Jangan putus harapan. Selama nyawa kita masih ada, tidak perlu kita putus harapan.”
“Tapi.... mereka jahat sekali....”
“Hushhh, diamlah....”
Mereka itu seperti dua ekor kelinci muda yang akan disembelih. Hanya mata mereka saja yang dapat bergerak me¬mandangi empat orang itu yang duduk di tengah perahu. Si Muka Bopeng menge¬mudikan perahu dan yang tiga lainnya duduk diam tak bergerak. Kemudian Ma-bin Lo-mo yang duduknya paling dekat dengan kedua orang anak itu, memandang Han Han dan menghela napas panjang seperti orang menyesal sekali. Mulutnya mengomel.
“Murid murtad....! Murid durhaka....!”
Han Han tidak putus harapan. Kalau gurunya itu hendak membunuh Lulu, ten¬tu dilakukannya sejak tadi. Dengan me¬nawan mereka berdua, hal itu menyata¬kan bahwa untuk sementara ini mereka berdua selamat, tidak akan terbunuh, dan tentu masih dibutuhkan. Dia tidak takut menghadapi hukuman potong kaki, yang dikhawatirkan adalah keselamatan Lulu yang kini telah dikenal sebagai puteri seorang perwira Mancu.
“Suhu, murid sudah mengaku berdosa dan siap menerima hukuman. Akan tetapi Lulu ini sama sekali tidak berdosa, harap suhu mengampuni anak kecil yang tidak tahu apa-apa ini.”
“Cerewet! Engkau akan menerima hukuman dari Sian-kouw sendiri, adapun bocah Mancu itu, setelah aku tidak membutuhkannya lagi, akan kupenggal di de¬pan matamu!”
“Suhu....!”
“Diam! Kau murid murtad, pengkhi¬ahat yang berkawan dengan musuh! Mem¬buka mulut lagi, akan kutampar mulutmu sampai rusak!”
Han Han tidak bodoh, dan tidak mau lagi membuka mulut. Ma-bin Lo-mo se¬gera bercakap-cakap sambil berbisik-bisik dengan tiga orang kawannya, tidak mempedulikan lagi kepada Han Han dan Lulu.
“Han-ko,” Lulu berbisik. “Dia itu ke¬jam dan jahat, mengapa engkau berguru kepada seorang seperti dia?”
“Hushhh, diamlah, Lulu. Dia sakti sekali, maka aku berguru kepadanya.”
Perahu kecil itu meluncur cepat se¬kali dan menjelang malam perahu masuk ke lautan dan mulailah pelayaran itu amat sengsara bagi Han Han dan Lulu. Perahu diombang-ambingkan ombak laut dan kedua orang anak yang tidak biasa naik perahu di laut itu menjadi mabuk laut. Han Han yang telah memiliki sin-kang yang amat kuat, dapat menahan rasa mabuk itu dan tidak terlalu pening, akan tetapi sungguh kasihan sekali keadaan Lulu. Bocah ini menjadi pening, mukanya pucat sekali dan ia muntah-muntah. Karena tangan kedua orang anak itu dibelunggu ke belakang, maka Han Han tidak dapat menolongnya dan Lulu sendiri terpaksa hanya dapat memutar tubuhnya, rebah miring sehingga muntah¬annya tidak mengotorkan pakaian.
“Suhu....! Harap tolong membebaskan belenggu tangan Adikku lebih dulu....! Dia....! Dia sakit!”
Ma-bin Lo-mo hanya menengok, lalu memberi isyarat kepada Si Kepala Gun¬dul yang bangkit berdiri menghampiri Lulu. Tangannya bergerak cepat menotok pundak Lulu yang segera menjadi lemas dan.... tertidur. Karena tertidur ini maka anak itu tertolong, tidak begitu men¬derita lagi dan tidak lagi mabuk-mabuk. Han Han bersyukur akan tetapi juga kagum. Kiranya tiga orang kawan gurunya itu pun bukan orang-orang sembarangan dan tentu memiliki kepandaian yang amat lihai.
Malam itu mereka berdua diberi ma¬kan dan minum dan untuk keperluan ini mereka dibebaskan sebentar. Setelah makan dan minum, mereka disuruh tidur di dekat dek perahu dengan kedua ta¬ngan masih dibelenggu ke belakang de¬ngan tubuh mereka, akan tetapi kaki mereka bebas. Tentu saja dalam keadaan seperti itu, Han Han dan Lulu sama sekali tidak dapat tidur pulas. Lulu mulai menangis, akan tetapi dihibur oleh Han Han yang tetap bersemangat tinggi dan berhati besar.
“Lihat, alangkah indahnya pemandang¬annya, Adikku. Lihat itu di langit, bintang-bintang bertaburan seperti intan berlian. Dan laut amat tenangnya, se¬olah-olah kita tidak bergerak, ya? Pada¬hal lihat layarnya berkembang dan pe¬rahu ini sebetulnya maju cepat sekali.”
Lulu terhibur dan setelah melihat ke kanan kiri yang adanya hanya air yang tertimpa sinar bintang-bintang yang su¬ram, ia bertanya.
“Kita ini.... dibawa ke mana, Koko?”
“Entahlah, akan tetapi kalau tidak salah, suhu dan teman-temannya itu sedang mencari sebuah pulau. Pernah aku mendengar para suheng dan suci bercerita tentang Pulau Es.”
“Pulau Es? Di mana itu? Mau apa ke sana?” Lulu bertanya, suaranya penuh kekhawatiran.
“Aku sendiri pun tidak tahu. Aku selalu berada di sampingmu, bukan? Selama aku di sampingmu, tidak usah kau takut. Aku akan melindungimu dengan sekuat tenagaku.”
“Koko....!” Lulu menangis.
“Eh, malah menangis. Ada apa?”
“Koko, mengapa kau begini baik kepadaku?” Suara Lulu terisak-isak.
“Aihhh, aneh benar pertanyaanmu. Kau kan Adikku, tentu saja aku baik kepadamu. Di dunia ini aku hanya mem¬punyai kau, dan kau hanya mempunyai aku.”
“Han-ko....!” Lulu kembali menangis dan anak ini lalu menggeser tubuhnya, me¬rebahkan kepalanya di dada kakak ang¬katnya itu. Dalam keadaan seperti ini, akhirnya kedua orang anak itu tertidur.
Perahu kecil itu melakukan pelayaran selama tiga hari tiga malam. cepat se¬kali karena di waktu angin berkurang, mereka berempat menggunakan dayung dan karena mereka berempat merupakan orang-orang sakti yang memiliki sin-kang kuat sekali, biarpun hanya didayung, pe¬rahu itu meluncur amat cepatnya. Tuju¬an perahu itu adalah ke arah utara. Kalau air laut sedang tenang, Han Han dan Lulu tidak amat menderita, akan tetapi apabila perahu dipermainkan ge¬lombang besar, mereka menderita sekali, terutama Lulu.
Pada hari ke empat, pagi-pagi sekali matahari mulai muncul di permukaan air sebelah timur, Si Muka Bopeng tiba-tiba berseru kaget.
"Perahu di sebelah depan!"
Mereka semua memandang, termasuk Han Han dan Lulu. Benar saja, di sebelah depan tampak sebuah perahu yang mengembangkan layarnya, perahu yang bercat hitam, juga layarnya berwarna hitam.
Ma-bin Lo-mo memandang ke utara, ke arah perahu itu dan melinduhgi matanya dari sinar matahari dari kanan. Pandang matanya tajam sekali, lebih tajam daripada kawan-kawannya dan setelah memandang dengan pengerahan tenaga sakti pada kedua matanya, ia berkata.
"Perahu itu bukan perahu pemerintah Mancu. Selain tidak begitu besar, juga kulihat tidak ada tentara di atas perahu, hanya ada belasan orang. Juga bukan perahu nelayan, agaknya perahu orang-orang kang-ouw yang akan menjadi saingan kita. Kejar! Kita harus basmi mereka, lebih sedikit saingan lebih baik!"
Layar tambahan dipasang, Si Muka Bopeng memegang kemudi dan tiga orang sakti itu masih menambah kelajuan perahu dengan gerakan dayung mereka. Perahu kecil ini meluncur cepat sekali melakukan pengejaran terhadap perahu yang berada di depan. Tak lama kemudian perahu itu dapat disusul dan agaknya perahu yang berada di depan juga melihat adanya perahu kecil yang menyusul mereka, dan para penumpangnya agaknya tidak merasa takut, buktinya perahu itu tidak melarikan diri, bahkan seolah-olah menanti datangnya perahu kecil yang mengejar. Akhirnya perahu itu berdekatan, dengan jarak hanya beberapa meter. Kini tampak jelas kebenaran ucapan Ma-bin Lo-mo tadi. Perahu itu bukan perahu pemerintah, juga bukan perahu nelayan. Yang berada di atas perahu itu adalah tiga belas orang, yang sebelas pria yang dua wanita. Kedua orang wanita itu berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, cantik dan gagah. Sebelas orang pria itu berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun. Yang amat mencolok adalah pakaian mereka yang dasarnya berwarna hitam dan mereka semua membawa golok yang tergantung di pinggang dan tampaknya sikap mereka gagah.
Han Han memandang dengan hati tegang. Ia maklum bahwa akan terjadi hal yang mengerikan. Ketika ia menoleh ke arah Ma-bin Lo-mo, ia melihat Iblis Muka Kuda itu duduk bersila dan memandang ke arah perahu itu dengan pandang mata dingin dan sikap tak acuh. Si Hwesio dan Si Muka Bopeng juga memandang penuh perhatian, sedangkan orang yang bermuka tengkorak segera berkata lirih kepada Ma-bin Lo-mo.
"Mereka adalah orang-orang dari Hek-liong-pang (PerkumpuJan Naga Hitam)!"
"Sikap saja, habiskah mereka!" kata Ma-bin Lo-mo dengan suara dingin sehingga Han Han yang maklum maksudnya menjadi ngeri. Lulu hanya memandang dengan mata terbelalak, tidak tahu apa yang akan terjadi.
"Akan tetapi, Siangkoan-locianpwe mereka itu adalah orang segolongan…." Si Muka Tengkorak berkata dengan muka berubah, ragu-ragu dan khawatir.
Ma-bin Lo-mo memandang kawannya ini dengan sinar marah. "Orang she Swi, kau ini pembantu macam apakah? Kita sudah berjanji, kalian bertiga yang sudah biasa dengan pelayaran dan tahu jalan, menjadi pembantu-pembantuku dan jika berhasil perjalanan ini, kalian akan kuberi masing-masing sejilid kitab ciptaanku mengenai ilmu silat tinggi. Syaratnya kalian harus menurut dan melaksanakan semua perintahku. Sian-kouw yang memilih kalian. Apakah kini engkau hendak membantah? Apakah kau takut menghadapi tikus-tikus itu?"
“Tidak…. tidak takut… hanya…”
"Cukup! Hadapi mereka, dan sampaikan pesanku agar mereka tiga belas orang itu cepat meloncat ke laut karena perahu mereka akan kutenggelamkan. Dengan demikian, kita tidak membunuh mereka, hanya merusak perahunya.”
Han Han bergidik. Gurunya ini benar-benar kejam sekali. Kalau tiga belas orang itu dipaksa meninggalkan perahu dan meloncat ke laut, apa bedanya dengan membunuh mereka? Mereka berada di laut bebas, tidak tampak daratan, mana mungkin mereka dapat berenang menyelamatkan diri? Kalau tidak mati tenggeJam tentu akan mati di perut ikan!
Sementara itu, tiga beJas orang di atas perahu hitam itu agaknya sudah mengenal Si Muka Tengkorak. Seorang di antara mereka, yang tertua, berusia empat puJuh tahun dan berjenggot panjang, segera mengangkat tangan menjura ke arah Si Muka Tengkorak sambil berkata nyaring.
"Ah, kiranya Swi Coan Lo-enghiong yang membalapkan perahu mengejar kami? Harap Lo-enghiong menerima salam hormat kami yang melakukan perintah ketua kami melakukan pelayaran ini."
"Cu-wi (Tuan Sekalian) melaksanakan perintah apakah maka berlayar sampai disini?" Suara Si Muka Tengkorak terdengar dingin.
Pimpinan orang-orang Hek-liong-pang itu mengerutkan alisnya yang tebal. "Kami menerima tugas rahasia dari Pangcu (Ketua) kami dan bukanlah hak kami untuk menceritakannya kepada siapa juga. Kalau Lo-enghiong ingin mengetahui, hendaknya Lo-enghiong bertanya kepada Pangcu kami sendiri."
"Bukankah kalian disuruh mencari Pulau Es dan menyaingi kami?" Si Muka Tengkorak bertanya, suaranya marah karena biarpun di hatinya ia tidak setuju akan perintah Ma-bin Lo-mo, namun untuk melaksanakan perintah ini ia harus mencari alasan.
Pimpinan rombongan Hek-liong-pang yang berjenggot panjang itu tersenyum dan berkata.
"Mana mungkin kami dapat menang bersaing dengan Lo-enghiong? Kami hanya mengandalkan nasib baik Pangcu kami."
"Hemmm, kalian sudah berani mati menyaingi kami mencari Pulau Es, maka jangan sesalkan aku kalau harus mengambil kekerasaan terhadap kalian."
Tiga belas orang Hek-liong-pang itu mengeluarkan seruan marah. Mereka semua mengenal Si Muka Tengkorak dan tahu akan kelihaiannya, akan tetapi karena selama ini Si Muka Tengkorak bersahabat dengan Pangcu mereka, sungguh mereka tidak menyangka bahwa orang tua itu akan memusuhi mereka.
"Swi Coan Lo-enghiong! Pulau Es adalah sebuah pulau yang bebas, bahkan pemerintah sendiri belum pernah menguasainya. Siapapun berhak untuk mencarinya. Kami melaksanakan perintah Pangcu kami, dan Lo-enghiong adalah seorang yang sudah mengenal baik Pangcu kami. Dalam usaha yang bebas ini, bagaimana Lo-enghiong mengatakan kami menyaingi dan Lo-enghiong hendak melarang kami? Harap Lo-enghiong suka ingat akan persahabatan Lo-enghiong dengan Pangcu kami."
"He-hemmm…." Si Muka Tengkorak terbatuk-batuk dan menjadi agak kikuk juga. Dia tidak takut kepada orang-orangHek-liong-pang ini, dan terhadap Pangcu mereka, dia hanya merupakan seorang kenalan saja. Tentu saja ia merasa sungkan, akan tetapi dia pun sudah mengenal siapa Ma-bin Lo-mo dan melanggar janji terhadap kakek sakti ini berarti bunuh diri. Maka ia lalu berkata.
"Kalian mentaati perintah, aku pun demikian. Tidak ada jalan lain, kalian harus meninggalkan perahu kalian, sekarang juga karena perahu kalian harus ditenggelamkan di sini!"
Kembali seruan marah dan penasaran keluar dari tiga belas buah mulut dan wajah para rombongan Hek-liong-pang menjadi merah. Si Jenggot Panjang yang tahu bahwa perintah itu merupakan perintah yang mengajak berkelahi, menyangka bahwa tentu diantara orang-orang yang berada di samping Swi Coan itu yang merupakan biang keladinya. Akan tetapi dia tidak mengenal yang lain-lain dan melihat bahwa di situ terdapat dua orang anak dalam keadaan terbelenggu, dia mengerutkan keningnya dan bertanya.
"Kalau kami boleh bertanya, siapakah yang mengeluarkan perintah gila itu? Apakah Losuhu (sebutan untuk hwesio) itu?"
Si Muka Tengkorak Swi Coan tersenyum dan mukanya makin mengerikan karena seperti tengkorak yang dapat tertawa. "Losuhu ini adalah sahabatku yang terkenal di dunia kang-ouw, yaitu Kek Bu Hwesio seorang tokoh dari Kong-thong-pai."
Tiga belas orang anak buahHek-liong-pang terkejut. Nama Kek Bu Hwesio memang amat terkenal sebagai seorang tokoh yang menyeleweng dari Kong-thong-pai sehingga terusir dari perkumpulan silat yang besar itu. Mereka semua maklum bahwa hwesio itu memiliki kepandaian yang tinggi sekali.
"Adapun dia itu adalah Ouw Kian yang terkehal dengan julukan Ouw-bin-taihiap (Pendekar Besar Bermuka Hitam)."
Kembali tiga belas orang itu terkejut. Dalam dunia kang-ouw nama Si Muka Bopeng ini sungguh tidak kalah oleh nama besar Kek Bu Hwesio atau bahkan Si Muka Tengkorak sendiri. Ouw-bin-tai-hiap hanya julukannya saja taihiap (pendekar besar), akan tetapi sebetulnya memiliki cacad yang amat menyolok, yaitu merupakan seorang pendekar yang biarpun suka memusuhi orang-orang golongan liok-lim (perampok dan bajak) namun terkenal pula sebagai seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga alias tukang memperkosa wanita). Tak mereka sangka bahwa Si Muka Tengkorak itu kini berkawan dengan orang-orang pandai itu.
"Hemmm, nama besar kedua orang Lo-enghiong ini pun sudah kami dengar sejak lama, namun sepanjang ingatan kami, belum pernah kami dari Hek-liong-pang bentrok dengan mereka. Mengapa mereka sekarang memusuhi kami?"
"Sama sekali tidak memusuhi!" kata Si Muka Tengkorak Swi Coan. "Seperti juga aku, kedua orang sahabatku ini pun hanya pembantu-pembantu yang mentaati perintah beliau ini." Dia menuding ke arah Ma-bin Lo-mo yang masih duduk bersila sambil tidak menghiraukan mereka sama sekali, seperti orang mengantuk.
Kini tiga belas pasang mata memandang ke arah Ma-bin lo-mo dengan heran dan penuh rasa penasaran. Kakek berpakaian hitam itu kelihatannya saja aneh, mukanya amat buruk dan lucu, seperti muka kuda. Akan tetapi mereka belum pernah melihatnya sama sekali. Tiga orang itu biarpun sakti, namun para anak buah Hek-liong-pang yang mengandalkan jumlah banyak masih tidak merasa gentar, apalagi terhadap kakek asing yang mukanya seperti kuda itu.
"Siapakah locianpwe ini?" tanya Si Jenggot Panjang menyebut locianpwe karena dapat menduga bahwa biarpun mereka belum mengenalnya, namun kakek yang memiliki tiga orang pembantu seperti tiga orang tokoh itu pastilah seorang yang amat tinggi kepandaiannya dan pastilah terkenal.
Swi Coan tersenyum lebar. "Kalian ini orang-orang muda seperti tidak bermata dan tidak bertelinga, masa tidak mengenal Siangkoan-locianpwe dari In-kok-san?"
Si Jenggot Panjang dan para adik seperguruannya memandang dengan mata terbelalak penuh perhatian, namun mereka tidak juga dapat mengingat siapa adanya seorang sakti she Siangkoan yang berdiam di In-kok-san. Akan tetapi seorang di antara dua wanita itu berkata lirih.
"Mukanya…. jangan-jangan dia…. Ma-bin Lo-mo….”
Tiga belas orang itu terkejut dan memandang makin terbelalak. Ma-bin Lo-mo menengok dan memandang tiga belas orang itu. "Lihat baik-baik, bukankah mukaku seperti muka kuda? Aku benarlah Si Iblis Ma-bin Lo-mo. Hayo kalian lekas-lekas meloncat ke air dan hal ini hanya kulakukan mengingat kalian telah mengenal Swi Coan."
Tiga belas orang anggauta Hek-liong-pang itu benar-benar kaget. Mereka tidak pernah mengira akan berjumpa dengan seorang di antara datuk-datuk persilatan yang kabarnya sudah menyembunyikan diri itu, di antaranya adalah Si Muka Kuda ini. Akan tetapi karena perintah gila itu sama artinya dengan membunuh diri, tentu saja mereka sedapat mungkin hendak membela diri.
"Maaf, Locianpwe. Terpaksa kami tidak dapat meninggalkan perahu, karena kami harus tunduk terhadap perintah Pangcu kami."
"Swi Coan, tidak lekas turun tangan menunggu apa lagi?" Ma-bin Lo-mo membentak kepada tiga orang pembantunya.
"Kalian tidak lekas meloncat meninggalkan perahu?" teriak Si Muka Tengkorak sambil berjalan ke pinggir perahu, diikuti oleh dua orang temannya.
"Suhu! Kalau mereka disuruh meloncat ke air, bukankah hal itu sama saja dengan membunuh mereka? Mereka tidak bersalah, mengapa akan dibunuh?" Han Han tidak dapat menahan kemarahannya lagi, berteriak nyaring.
"Tutup mulutmu, murid murtad!" bentak Ma-bin Lo-mo marah.
Tentu saja tiga belas orang anggauta Hek-liong-pang menjadi terheran-heran mendengar betapa anak laki-laki yang dibelenggu itu menyebut suhu kepada Ma-bin Lo-mo. Murid sendiri dibelenggu seperti itu, apalagi terhadap orang lain. Alangkah kejamnya Si Muka Kuda itu. Akan tetapi karena mereka semua maklum bahwa kalau meloncat ke air tentu mati, Si Jenggot Panjang berkata.
"Sungguh mentakjubkan! Si murid lebih bijaksana daripada gurunya! Sam-wi Lo-enghiong (Tiga Orang Tua Gagah), karena kami adalah orang-orang yang menjunjung kegagahan dan sebagai anak buah Hek-liong-pang yang mentaati perintah Pangcu, juga sebagai orang-orang gagah yang tentu saja hendak mempertahankan nyawa, kami terpaksa akan membela diri dan tidak mau menurut perintah gila itu!"
"Orang-orang muda yang keras kepala!" teriak Ouw Kian si muka Bopeng dan mereka bertiga sudah melonca t dengan gerakan ringan sekali ke atas perahu Hek-liong-pang itu. Sebagai orang-orang yang lebih tinggi tingkatnya, tiga orang itu tidak mengeluarkan senjata mereka dan hendak memaksa tiga belas orang lawan mereka itu untuk dilempar ke laut.
Akan tetapi mereka kecelik. Tiga belas orang itu adalah tokoh-tokoh pilihan dari Hek-liong-pang dan kini ketua mereka mengutus mereka melakukan pekerjaan yang amat penting, yaitu mencari Pulau Es. Tentu saja ketua Hek-liong-pang tidak mau mengutus anak buah yang kepandaiannya rendah. Begitu melihat tiga orang kakek yang lihai itu meloncat ke perahu mereka, tiga belas orang itu sudah siap mencabut golok masing-masing dan membentuk sebuah barisan melingkar, merupakan lingkaran yang kokoh kuat, barisan golok yang sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Begitu tiga orang kakek itu mendarat di perahu mereka, tiga belas orang yang membentuk lingkaran ini sudah bergerak, setengah berlari berputaran sehingga lingkaran itu bergerak-gerak dan tiga orang kakek berada di luar lingkaran.
Ketika tiga orang kakek itu sambil berteriak maju menyerang dengan kedua tangan mereka, hendak mencengkeram seorang lawan dan dilempar ke laut, mereka masing-masing bertemu, dengan tiga empat buah golok yang sekaligus menangkis dan membacok secara lihaissekali. Mereka terkejut dan cepat mengelak dan hendak membalas dengan hantaman kilat. Namun lingkaran itu bergerak dan mereka berhadapan dengan lain lawan sehingga mereka kembali harus mengubah posisi dan gerakan. Ternyata barisan tiga belas golok ini lihai sekali dan dapat bekerja sama dengan baik, saling membantu dan saling melindungi.
Tiga orang kakek itu mulai berputaran mengelilingi lingkaran itu, melakukan segala usaha untuk menyerang, namun selalu tidak berhasil. Andaikata tiga belas orang anggauta Hek-liong-pang itu mau menyerang, tentu mereka bertiga akan dapat "memasuki" pertahanan mereka dan merobohkan seorang di antara mereka. Akan tetapi, tiga belas orang itu tahu bahwa tingkat kepandaian lawan mereka jauh lebih tinggi maka mereka memusatkan perhatian dan tenaga mereka semata-mata untuk pertahanan sehingga kedudukan mereka kuat sekali. Betapapun tiga orang kakek itu berusaha, selalu serangan mereka gagal, karena setiap serangan seorang diantara mereka berhadapan dengan tiga empat orang yang menangkisnya.
Setelah lewat dua puluh jurus belum juga tiga orang pembantunya merobohkan seorang pun di antara tiga belas orang anggauta Hek-liong-pang Ma-bin Lo-mo menjadi hilang sabar.
"Sialan! Kalian menjadi pembantu-pembantuku namun tiada gunanya. Mundur semua!" Seruan ini segera diturut oleh tiga orang pembantunya yang meloncat kembali ke perahu kecil. Sesungguhnya, kalau mereka itu mau mencabut, senjata masing-masing dan mengeluarkan seluruh kepandaian, agaknya mereka akan berhasil. Namun mereka memang setengah hati dalam pertandingan itu, masih agak segan mengingat bahwa Hek-liong-pang bukanlah musuh dan bahkan masih terhitung segolongan. Ketua Hek-liong-pang yang bernama Ciok Ceng, berjuluk Hek-hai-liong (Naga Laut Hitam) adalah seorang bajak laut dan juga bajak sungai yang terkenal sekali, dan terkenal sebagai bajak yang hanya mau membajak perahu-perahu saudagar dan pembesar, tidak pernah mengganggu rakyat atau nelayan, dan juga tidak pernah memusuhi orang-orang kang-ouw.
Kini terdengarlah lengking tinggi yang menyeramkan dan tubuh Ma-bin Lo-mo yang tadinya masih duduk bersila, tahu-tahu mencelat ke arah perahu Hek-liong-pang itu dengan gerakan yang cepat sekali. Tiga beJas orang itu terkejut melihat tubuh kakek muka kuda itu tahu-tahu sudah menyambar ke arah mereka dan barisan itu cepat bersiap-siap dengan golok melintang di dada. Akan tetapi mereka menjadi makin terkejut karena kakek itu begitu menotolkan kedua kaki di perahu mereka, perahu itu terguncang keras sehingga kuda-kuda kaki mereka pun menjadi kacau. Dan pada saat itu Ma-bin Lo-mo melakukan gerakan meloncat seperti terbang mengelilingi mereka dengan kedua lengannya bergerak-gerakseperti mendorong. Terdengar pekik-pekik mengerikan dan dalam sekejap mat a saja terdengar golok terlepas dari tangan, berjatuhan di lantai perahu berkerontangan disusul robohnya tubuh mereka. Tiga belas orang itu roboh malang-melintang dan menggeliat-liat dengan wajah berubah, mula-mula pucat, kemudian makin lama menjadi biru dan tubuh mereka yang menggeliat-geliat itu menggigil kedinginan. Mereka itu telah menjadi korban pukulan Swat-im Sin-ciang dan akibatnya benar-benar mengerikan sekali. Mereka itu mati tidak hidup pun tidak, melainkan tersiksa oleh rasa nyeri yang diakibatkan oleh hawa dingin yang seolah-olah membuat isi dada mereka membeku!
"Hemmm, kalian memang sudah bosan hidup!" kata Ma-bin Lo-mo, kemudian kakek sakti ini menyambar sebatang golok musuh yang berserakan di lantai perahu, dan dengan senjata ini ia meloncat ke kepala perahu, membacok beberapa kali ke lantai dan pecahlah dasar perahu sehingga air mulai menyemprot masuk! Setelah melempar golok itu ke air, ia lalu melompat dengan enaknya ke perahu sendiri. Empat orang kakek itu berdiri di perahu mereka, memandang perahu hitam yang mulai tenggelam, membawa tiga belas orang yang menggeliat-geliat dalam sekarat.
"Ohhh…. kejam sekali…. aahhh, Koko, aku takut…." Lulu berkata lirih dan mulai menangis. Han Han hanya menggigit bibir dan diam-diam membuat perbandingan antara kakek yang menjadi gurunya ini dengan Kang-thouw-kwi Gak Liat, sukar ia menentukan siapa di antara kedua orang itu yang lebih kejam hatinya. Memang mereka memiliki "pegangan" yang berbeda, yaitu kalau Kang-thouw-kwi Gak Liat merupakan seorang yang mau tunduk kepada kerajaanMancu, sedangkan Si Muka Kuda ini menjadi seorang penentang bangsa Mancu, namun baginya, kedua orang itu merupakan orang-orang yang memiliki pribadi yang amat mengerikan, memiliki watak kejam yang mudah saja membunuhi orang lain seperti orang membunuh semut saja. Ketika perahu Hek-liong-pang itu tenggelam, Han Han membuang muka, bukan merasa ngeri, melainkan merasa muak dan diam-diam ia mempertebal keinginannya untuk mempelajari ilmu silat sehingga menjadi orang pandai yang kelak akan dapat menentang manusia-manusia iblis seperti Kang-thouw-kwi Gak Liat dan Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee yang dianggap sebagai datuk-datuk golongan hitam ini.
Kembali tiga hari tiga malam telah lewat. Kini mereka benar-benar berada di tengah lautan yang bebas dan kedua orang anak itu kini tidak dibelenggu lagi, karena mereka diharuskan membantu memasak air dan nasi. Han Han dan Lulu bekerja tanpa banyak cakap, hanya di waktu malam, kalau Lulu kedinginan karena mereka diharuskan tidur di dek yang terbuka, Han Han memeluk adiknya ini untuk menghangatkan tubuh adiknya, menghibur jika adiknya menangis dan ketakutan. Dan pada hari ke empatnya, jadi telah tujuh hari mereka memasuki lautan, perahu tiba di daerah yang banyak pulau-pulaunya. Pulau-pulau kecil yang mulai tampak dari jauh.
"Sudah belasan kali aku berkeliaran di antara pulau-pulau itu, selama puluhan tahun yang lalu, namun tak pernah berhasil menemukan Pulau Es," kata Ma-bin Lo-mo kepada tiga orang pembantunya sambil berdiri di kepala perahu dan menghela napas. "Akan tetapi, sekarang kabarnya banyak yang mulai mencari-cari, tentu pulau itu telah muncul pula di permukaan air."
"Apakah dahulu pulau itu tenggelam?" tanya Kek Bu Hwesio, tertarik.
"Begitulah, agaknya. Ada kalanya tenggelam dan ada kalanya timbul. Kalau tidak begitu, masa dahulu dicari oleh banyak orang tidak pernah dapat ditemukan?"
"Siangkoan Locianpwe, benarkah kabarnya bahwa di atas Pulau Es itu dahulu tinggal seorang yang maha sakti?" Tanya Si Muka Tengkorak.
"Saya mendengar, manusia dewa Koai-lojin tinggal di sana….?" tanya Ouw Kian si Muka Bopeng.
"Kalian bantu saja aku mendapatkan Pulau Es itu, tak usah banyak tanya-tanya. Kalau berhasil, kitab-kitab ciptaanku akan membuat kalian menjadi orang-orang yang benar-benar lihai, tidak seperti sekarang ini, mengalahkan tiga belas ekor tikus Hek-liong-pang saja masih sulit."
"Ada perahu lagi….!" Terlambat Han Han menutup mulut Lulu dengan tanganya. Empat orang itu sudah menengok ke belakang dan benar saja, tampak sebuah perahu besar sekali datang dengan cepatnya dari arah belakang. Kalau Han Han yang melihatnya, dia tentu tidak akan mau memberi tahu karena ia khawatir kalau-kalau penumpang-penumpang perahu itu akan menjadi korban kekejaman Ma-bin Lo-mo lagi. Akan tetapi mereka sudah mendengar dan sudah melihat datangnya perahu itu, maka ia pun hanya ikut memandang dengan kening berkerut.
Seperti juga tiga hari yang lalu ketika perahu Hek-liong-pang itu muncul, kini Ma-bin Lo-mo menggunakan kekuatan pandang matanya untuk meneliti perahu besar itu dan suaranya terdengar tegang ketika ia berkata.
"Wah, sekali ini perahu Mancu! Kalian bertiga harus hersiap-siap dan jangan seperti anak kecil seperti ketika menghadapi Hek-liong-pang. Kurasa Setan Botak berada di pulau itu dan kita harus bersiap untuk bertempur mati-matian. Lawan yang sekarang ini tidak boleh dipandang rendah."
"Setan Botak ? Kang-thouw-kwi...?" Si Muka Tengkorak Swi Coan berkata dengan suara gentar. Menggelikan sekali bagi Han Han melihat orang yang mukanya buas mengerikan seperti itu kini kelihatan ketakutan!
"Tak usah khawatir! Gak Liat adalah lawanku dan kalian hanya menghadapi orang-orang Mancu. Gak Liat tidak akan begitu bodoh untuk membawa orang-orang kang-ouw membantunya. Dia sendiri mengilar untuk mendapatkan pulau itu, dan hanya membonceng kepada orang-orang Mancu. Ha-ha-ha!"
Sekali ini pun dugaan Ma-bin Lo-mo amat tepat. Perahu besar itu perahu Kerajaan Mancu dan karena besar dan layarnya banyak, amat laju dan sebentar saja perahu Ma-bin Lo-mo tersusul. Setelah makin dekat, tiga orang kakek itu pun dapat melihat seorang botak berdiri di kepala perahu, sedangkan anak buah perahu besar itu terdiri dari kurang lebih tiga puluh orang tinggi besar berpakaian perwira-perwira Mancu!
"Bagus! Hanya tiga puluh orang perwira Mancu! Tiga belas orang Hek-liong-pang tadi masih lebih berat kalau dibandingkan dengan tiga puluh ekor anjing Mancu. Kalian bertiga sikat habis mereka, dan mengenai Setan Botak, akulah lawannya!" kata Ma-bin Lo-mo penuh semangat. "Mereka berada di sekitar daerah ini, kalau begitu tujuan kita tidak keliru. Pasti Pulau Es berada di sekitar tempat ini. Perwira-perwira Mancu itu tidak akan membuang waktu sia-sia kalau belum tahu dengan pasti."
Pada saat itu, biarpun jarak di antara kedua perahu itu masih jauh, terdengar suara yang terbawa angin, jelas dan mengandung getaran amat kuatnya!
"Ha-ha-ha-ha! Iblis Muka Kuda, engkau di sana itu? Ha-ha-ha, bagus sekali! Aku akan setengah mati kegirangan menyaksikan engkau mampus di tengah lautan!”
Swi Coan, Kek Bu Hwesio, dan Ouw Kian terkejut sekali. Seorang yang memiliki khikang begitu kuat, yang dapat mengirim suara menerobos angin laut sehingga dalam jarak sejauh itu dapat terdengar begitu jelas, adalah seorang lawan yang amat berat! Akan tetapi kegelisahan mereka lenyap dan terganti kagum ketika mereka melihat Ma-bin Lo-mo berdiri di kepala perahu sambil mengeluarkan suaranya yang didorong oleh khikang yang amat kuat. Suara itu terdengar perlahan saja oleh tiga orang itu, akan tetapi menggetar dan penuh tenaga mujijat.
"Gak Liat Si Setan Botak! Engkau menggiring anjing-anjing Mancu ke sini? Bagus, dekatkan perahumu dan mari kita bertanding sampai seorang di antara kita menjadi santapan ikan! Adapun anjing-anjing Mancu itu, suruh mereka mengeroyok!"
"Ha-ha-ha, Ma-bin Lo-mo, apakah kaukira aku begitu bodoh? Kulihat kau membawa pembantu-pembantu. Si MukaTengkorak, Si Hwesio Palsu, dan Si Muka Bopeng! Para Ciangkun yang datang bersamaku tentu tidak mau merendahkan diri bertanding melawan pembantu-pembantumu. Ha-ha! Kau sendiri tentu akan mampus kalau melawanku, akan tetapi ada pekerjaan penting yang lebih berharga bagiku. Maka, menyesal sekali aku tidak ada waktu untuk melayanimu, Iblis Muka Kuda! Sekarang mampuslah bersama para pembantumu!"
Setelah terdengar suara Kang-thouw-kwi ini, dari perahu para perwira Mancu itu meluncur banyak anak panah yang tertuju kepada Ma-bin Lo-mo dan tiga orang pembantunya. Namun, dengan kibasan tangan mereka, empat orang kakek sakti itu dapat meruntuhkan semua anak panah yang menyambar mereka. Adapun Han Han cepat menarik tangan Lulu diajak bertiarap di atas dek perahu, kemudian sambil merangkak Han Han menggandeng Lulu, hendak diajak mengungsi dan bersembunyi di dalam kamar perahu. Melihat ini, Si Muka Tengkorak lalu menendang kedua orang anak itu roboh.
"Belenggu mereka, agar jangan mengganggu!" kata Ma-bin Lo-mo yang teringat bahwa Han Han pernah menjadi kacung Setan Botak dan khawatir kalau-kalau murid murtad itu akan berkhianat. Si Muka Tengkorak cepat melaksanakan perintah ini, mengikat tubuh kedua orang anak dengan tangan mereka ditelikung ke belakang, kemudian melemparkan mereka di sudut lantai perahu.
"Ha-ha-ha, Setan Botak! Anak panah-anak panah macam ini kaukirim kepada kami? Boleh habiskan anak panah-anak panah semua anjing Mancu!" Ma-bin Lo-mo tertawa mengejek untuk memanaskan hati lawan agar perahunya makin mendekat sehingga ia bersama tiga orang pembantunya dapat meloncat dan menyerbu. Ia percaya bahwa tiga orang pembantunya pasti akan dapat mengalahkan para perwira Mancu dan agaknya hal itu diketahui pula oleh Kang-thouw-kwi. Akan tetapi, ternyata Kang-thouw-kwi amat cerdik dan biarpun para perwira Mancu membujuk dengan hati panas untuk mendekatkan perahu, Si Setan Botak menolaknya, bahkan lalu memberi saran untuk melepas anak panah berapi!
Serangan ini dilakukan dan terkejutlah Ma-bin Lo-mo. Tak disangkanya musuh akan menggunakan akal ke ji ini. Setelah puluhan batang anak panah yang membawa kain berminyak dan berkobar itu datang meluncur berhamburan, dia dan tiga orang pembantunya menjadi repot sekali. Selain harus menangkis dan menghindarkan diri, mereka harus pula berusaha memadamkan api yang dibawa anak panah menancap pada bilik perahu dan pada layar.
"Celaka, perahu terbakar!" seru Kek Bu Hwesio dan benar saja. Tiga orang itu kekurangan tenaga untuk memadamkan api yang mulai membakar perahu. Mereka masih terus berusaha, namun akhirnya bilik perahu itu dimakan api. Api berkobar besar dan mengancam untuk membakar semua yang berada di perahu. "Kita harus meninggalkan perahu!" seru Ma-bin Lo-mo. "Putuskan pengapung perahu dari bambu di kanan kiri dan pergunakan untuk penyelamat diri!"
Tiga orang pembantunya yang sudah panik itu cepat melompat dari atas perahu yang terbakar. Mula-mula Si Muka Tengkorak yang lebih dahulu meloncat ke air, disusul oleh Si Muka Bopeng yang tadinya berusaha memadamkan api di atas atap bilik. Dari atas atap bilik ia melayang turun ke air dengan gerakan seperti hendak terbang. Adapun Kek Bu Hwesio yang tangannya gosong terjilat api, cepat meloncat pula ke air. Tiga orang ini mematahkan bambu pengapung perahu di kanan kiri dan mempergunakan bambu-bambu itu untuk menyelamatkan diri dari bahaya tenggelam. Adapun Ma-bin Lo-mo sendiri sudah masuk ke dalam bilik yang berkobar, dan keluar kembali membawa sebuah ember. Ember yang disangkanya berisi minyak yang disediakan untuk memasang lampu itu ia siramkan ke atas tubuh Han Han dan Lulu sambil tertawa, "Aku tidak berhak menghukummu, biarlah sekarang kalian ikut berkobar bersama perahu!" Setelah menyiramkan isi ember yang disangkanya minyak itu, Ma-bin Lo-mo melompat ke air menyusul kawan-kawannya.
Han Han segera mengerti bahwa dalam keadaan marah dan panik itu Ma-bin Lo-mo telah keliru ambil. Di dalam bilik hanya terdapat sebuah ember yang terisi minyak, dan belasan ember terisi air, yaitu air persediaan untuk minum. Begitu disiram, Han Han tahu bahwa yang membasahi dia dan Lulu bukanlah minyak, melainkan air. Diam-diam ia menjadi geli dan girang, akan tetapi hanya sebentar. Bagaimana dia bisa girang kalau bahaya api itu sedemikian hebatnya? Melompat ke air berarti mati tenggelam karena kedua tangan mereka terbelenggu. Tidak melompat akan mati terbakar.
"Koko…. aku takut….. api itu akan membakar kita….”
Tiba-tiba saja air laut bergelombang hebat dan sinar matahari tertutup mendung tebal yang tanpa mereka sadari sejak tadi telah mengumpul. Di udara yang gelap oleh mendung itu tampak kilat menyambar-nyambar. Agaknya langit menjadi marah menyaksikan ulah nanusia-manusia yang berwatak bejat itu. Atau kebetulan sajakah pada saat itu badai mulai mengamuk? Tak ada manusia yang dapat menjawab, namun kenyataannya, ombak makin membesar dan langit makin gelap.
"Lulu, lekas berdiri contohlah aku. Kita bakar belenggu kita pada api!" kata Han Han sambi angkit berdiri dan mendekati api yang membakar bilik perahu. Dia mendekatkan belenggu tangannya pada api dan hal ini dapat ia lakukan dengan mudah karena begitu terjilat api, otomatis tenaga inti Hwi-yang Sin-kang yang sudah berada di tubuhnya bekerja sehingga kedua tangannya tidak terasa panas sama sekali, bahkan hangat-hangat nyaman! Akan tetapi ketika Lulu mencoba untuk mencontoh kakaknya, ia menjerit dan cepat-cepat menarik kembali tangannya yang untung belum terlanjur terbakar.
Han Han dapat membebaskan belenggu tangan yang sudah terbakar. Cepat ia lalu melepaskan ikatan adiknya.
"Hayo kita meloncat ke air!" teriak Han Han.
"Tidak….! Aku takut….!" kat a Lulu sambil menangis dan menutupi mukanya agar jangan terlihat olehnya gelombang hebat yang seolah-olah hendak menelannya itu.
Angin menderu keras dan Han Han berteriak melawan suara angin, "Apakah kau ingin terbakar api?"
Sebagai jawaban, tiba-tiba terdengar kilat menyambar di atas kepala, keras sekali dan kedua orang anak itu dengan gerakan reflex yang tak disengaja sudah bertiarap di atas lantai perahu sambil menutup kedua telinga dengan tangan. Ketika mereka merangkak dan hendak bangkit kembali, tiba-tiba Lulu berteriak.
"Hujan…!”
Bukan air hujan, melainkan percikan air gelombang yang mengamuk. Perahu menjadi miring dan banyak air menyiram perahu sehingga bilik yang terbakar itu segera padam. Makin keras perahu terayun, makin hebat gelombang mengamuk dan makin gelaplah langit. Hart Han yang dilempar ke dek oleh guncangan perahu, cepat menyeret tangan adiknya, dibawa memasuki bilik perahu yang sudah tidak terbakar lagi. Ia berhasil menyeret tubuh Lulu yang menggigil itu ke dalam bilik dan biarpun perahu masih terayun-ayun sehingga tubuh mereka menabrak kanan kiri dinding, namun tidak ada bahaya mereka terlempar keluar perahu. Babak-bundas tubuh mereka, terutama Lulu dan benturan terakhir membuat kepala Lulu terbanting pada dinding sehingga anak itu roboh pingsan di pelukan Han Han. Han Han sendiri sudah payah mempertahankan diri. Ketika dia bersama tubuh Lulu terbanting ke kanan, ia melihat dua buah kitab di dekatnya. Ia mengira bahwa itu tentulah kitab yang ditinggalkan oleh Sepasang Pedang Iblis, maka ia cepat mengambilnya dan memasukkannya kembali ke balik bajunya. Pada saat itu ia terbanting lagi ke kanan dan kepeningan membuat Han Han meramkan mata. Namun dalam keadaan yang setengah pingsan itu ia masih selalu teringat kepada Lulu yang dipeluknya erat-erat di dadanya.
Entah berapa lamanya badai mengamuk, Han Han tak dapat mengira-ngira. Cuaca selalu gelap sehingga tidak ada bedanya antara siang dan malam, hanya ia tahu bahwa badai mengamuk lama sekali, terlalu lama. Untung bahwa di luar kesadarannya, Han Han memiliki daya tahan yang tidak lumrah manusia biasa. Badai itu mengamuk sampai dua hari dua malam, dan selama itu Lulu menggeletak dalam keadaan setengah pingsan, hanya sebentar-sebentar mengerang lalu "tertidur" lagi. Namun Han Han tetap sadar!
Ketika perahu berhenti terayun dan cuaca menjadi terang kembali, keadaan amat tenangnya, Han Han baru merasa betapa tubuhnya nyeri semua. Tulang-tulang tubuhnya seperti remuk-remuk dan Lulu merintih perlahan.
"Bangunlah, Adikku, bangunlah. Badai sudah berhenti," bisiknya dan Lulu membuka matanya perlahan.
"Han-ko…, apakah kita sudah…. sudah mati….? Tubuhku lemas sekali dan semua terasa sakit…."
Han Han merasa kasihan sekali. "Kita masih hidup, Lulu." Ia mencari-cari dalam bilik yang sudah rusak keadaannya. Alangkah girang hatinya ketika ia menemukan guci arak milik Ma-bin Lo-mo. Guci ini terbuat daripada perak dan tertutup rapat-rapat sehingga biarpun terguncang dan terlempar-lempar, tidak rusak dan isinya tidak terbuang. Ia cepat membuka tutup guci dan menuangkan sedikit arak ke mulut adiknya. Lulu meneguk arak dan tersedak, terbatuk-batuk. Akan tetapi hawa yang hangat memasuki tubuhnya dan anak itu biarpun masih amat lemah sudah dapat bangkit dan duduk, malah kemudian berkata, "Perutku lapar….”
Han Han tertawa dan pada saat itu ja pun baru sadar betapa perutnya amat perih dan lapar. Ia lalu membongkar-bongkar semua barang yang terjungkir balik di dalam bilik itu, mencari-cari perbekalan makanan Ma-bin Lo-mo dan akhirnya dengan girang ia menemukan beberapa potong roti kering. Biarpun roti ini sudah basah oleh air laut dan terasa asin, namun cukup lumayan untuk pengisi perut yang kosong, mencegah kematian karena kelaparan.
Setelah terisi roti dan arak, tenaga mereka agak pulih kembali. Han Han lalu menggandeng tangan adiknya diajak keluar dari bilik itu. Mereka mengintai keluar dan melihat bahwa mereka berada di taut bebas, tidak tampak lagi pulau-pulau kecil, tidak tampak sarna sekali perahu besar milik Kang-thouw-kwi. Han Han berusana mencari-cari Ma-bin Lo-mo dan tiga orang kawannya, akan tetapi tak tampak pula bayangan mereka. Tentu mereka sudah tenggelam, pikirnya. Dan perahu besar milik perwira-perwira Mancu itu tentu telah hanyut jauh oleh badai yang mengamuk. Hatinya agak lega karena kini dia dan adiknya terbebas daripada ancaman manusia-manusia iblis itu. Akan tetapi ancaman maut yang lebih mengerikan berada di depan mata. Mereka tidak mempunyai persediaan makanan cukup, terutama sekali air minum, dan selain perahu sudah rusak sehingga tidak dapat dikemudikan, layarnya pun sudahtinggal sedikit di bagian atasnya saja, juga tidak tampak ada daratan yang dekat. Betapa mungkin mereka dapat hidup di atas perahu rusak ini? Mereka akan mati kelaparan dan Han Han tidak tahu apa yang dapat ia lakukan untuk menyelamatkan diri daripada ancaman maut ini.
Memang, kalau menurut perhitungan akal budi manusia, agaknya nasib dua orang anak itu sudah dapat dipastikan tewas di atas perahu itu. Tidak ada jaIan keluar lagi dan akal manusia tidak akan dapat menyelamatkan mereka. Akan tetapi, nyawa manusia berada sepenuhnya di tangan Tuhan. Apabila Tuhan menghendaki seseorang mati, biarpun orang itu memiliki nyawa seribu rangkap, memiliki kesaktian, memiliki segala-galanya dia akan mati juga karena tiada kekuasaan di dunia ini yang akan dapat membebaskannya daripada kehendak Tuhan. Kalau Tuhan sudah menentukan dia mati, biar dia bersembunyi di lubang semut, maut tetap akan datang menjemput. Sebaliknya, jika Tuhan belum menghendaki seseorang mati, biarpun tampaknya sudah tidak ada harapan baginya, namun ia tetap akan lolos dari ancaman maut. Demikianlah pula dengan halnya Han Han dan Lulu. Kedua orang anak ini sama sekali tidak mempunyai daya untuk lolos dari keadaan itu. Namun, pada malam harinya, tiba-tiba saja turun hujan sehingga mereka dapat membasahi tenggorokan yang sudah mengering dan membengkak! Dan hujan ini disusul dengan tiupan angin yang mengguncang air sehingga ombak datang bergulung-gulung. Han Han dan Lulu kembali bersembunyi di dalam bilik perahu yang sudah rusak, saling berpelukan dan menghadapi kematian yang agaknya sekali ini takkan dapat mereka hindarkan lagi. Mereka merasa betapa perahu itu bergerak, dilontarkan oleh gelombang air laut. Lulu tidak dapat menangis lagi, hanya memeluk pinggang Han Han, menyembunyikan mukanya di dada kakaknya sambil berbisik dengan suara gemetar.
"Kita mati, Koko…. kita mati…. akan tetapi jangan tinggalkan aku…. kita bersama…”
Suara dan ucapan Lulu itu mendatangkan rasa puas dan lega di hati Han Han. Apapun yang akan terjadi, dia tidak sendirian, dia mempunyai seorang adik yang mencintanya dan yang dicinta. Dia tidak akan merasa penasaran biarpun dia akan mati, asal dia dapat mati bersama Lulu agar di mana pun juga, ia akan dapat mengawani dan melindungi adiknya ini.
Karena tubuh mereka sudah amat lemah, kepala pening dan pikiran mereka menjadi lemah pula, mereka tidak tahu lagi berapa lama mereka berdekapan di dalam bilik. Perahu itu diombang-ambingkan terus dan cuaca menjadi gelap, kemudian berubah terang, gelap lagi sampai lama sekali dan tiba-tiba mereka terlempar dan menumbuk dinding. Perahu itu membentur sesuatu!
Han Han membuka matanya dan melihat bahwa cuaca sudah menjadi terang. Ada sinar menerobos masuk ke dalam bilik dan hawa udara amatlah dinginnya. Perahu itu tidak bergerak lagi.
"Lulu, badai sudah berhenti lagi… mari… mari kita keluar…." kata Han Han dengan suara lemah.
Lulu membuka matanya. Ia merasa nyaman dan senang dalam pelukan Han Han, seperti dininabobokkan dan ia merasa malas untuk bangun, malas untuk membuka mata. Ingin rasanya ia memejamkan mata dan tidur selamanya dalam keadaan seperti itu. Ia takut akan melihat dan menemukan hal-hal yang mengerikan kalau membuka matanya.
"Lulu…. mari kita keluar….. kita harus berusaha, untuk mendarat…."
"Oohhh…. lebih senang begini, Koko….." Lulu mempererat rangkulannya pada pinggang Han Han dan sama sekali tidak mau membuka matanya.
Han Han menunduk dan ketika ia melihat wajah adiknya yang kurus dan amat pucat seperti mayat itu, hatinya seperti ditusuk rasanya. Entah mengapa ia seperti mendapat firasat bahwa kalau didiamkannya saja keadaan adiknya ini, tak lama lagi ia akan kehilangan Lulu!
Maka ia menguncang pundak Lulu dan berkata keras. "Tidak! Selama nyawa masih di badan kita, kita harus berusaha! Bangunlah, Adikku sayang. Jangan takut, Kakakmu akan selalu berada di sampingmu!"
Lulu membuka matanya dan seperti seorang yang baru bangun dari mimpi buruk ia mengejap-ngejapkan matanya, seolah-olah silau melihat cahaya terang yang memasuki bilik perahu. Kemudian dengan tubuh lemas ia bangkit dan menggandeng tangan kakaknya. Ketika Han Han menariknya berdiri, Lulu menuding ke lantai dan berkata.
"Koko, kitab-kitabmu tercecer…."
Han Han menunduk dan ia terheran. Ia meraba-raba pinggangnya dan mendapat kenyataan bahwa kitab-kitabnya memang tidak berada di saku bajunya sebelah dalam lagi. Akan tetapi, mengapa ada tiga buah kitab? Bukankah Sepasang Pedang Iblis memberinya dua buah kitab yang sudah disatukan? Ia berjongkok dan mengambil kitab-kitab itu. Yang sebuah adalah kitab tebal dan ternyata adalah dua buah kitab yang disatukan, kitab peninggalan SepasangPedang Iblis. Akan tetapi yang dua buah lagi adalah kitab-kitab yang baru dilihatnya saat itu. Kini mengertilah ia bahwa dua buah kitab yang dia simpan di balik bajunya ketika perahu terbakar, adalah dua buah kitab yang baru inilah. Sekilas pandang ia membaca judul dua buah kitab itu. Yang sebuah berjudul “Menghim pun Tenaga Im-kang” dan yang ke du berjudul "Berlatih Samadhi dan Lwee-kang", keduanya ditulis oleh Ma-bin Lo-mo. Mengertilah ia kini bahwa dua buah kitab itulah yang agaknya oleh Ma-bin Lo-mo dijanjikan kepada tiga orang pembantunya. Tentu ada sebuah kitab lagi yang entah lenyap di mana, akan tetapi ia tidak peduli. Ia mengambil tiga buah kitab itu dan menggandeng tangan Lulu diajak keluar dari bilik. Ketika mereka muncul di luar bilik perahu, mereka mengeluarkan seruan kaget, kagum dan juga girang. Kiranya perahu rusak itu telah terdampar di antara kepulauan yang kelihatannya aneh sekali, serba putih! Bahkan pohon-pohon yang tampak di situ diliputi salju. Pulau Es! Pikiran ini memasuki ingatan Han Han dan ia diserang rasa girang yang amat luar biasa sehingga terhuyung ke depan.
"Pulau Es….! Lulu, kita berada di Pulau Es !" Han Han berteriak-teriak dan menarik tangan Lulu untuk keluar dari perahu itu. Lupa akan kelemahan tubuhnya dan lupa bahwa Lulu tidak berkepandaian. Han Han yang menarik tangan adiknya itu membawanya melompat turun dari perahu ke atas daratan yang tertutup salju. Untung bahwa salju itu merupakan tilam yang lunak sehingga ketika mereka bergulingan jatuh, mereka tidak terluka. Mereka bahkan tertawa-tawa karena merasa bahwa kini mereka akan tertolong.
“Kita selamat…! Kita mendarat….!” seru Han Han sambil tertawa-tawa dan napasnya terengah-engah. Anak ini dengan keadaan tubuhnya yang tidak lumrah, telah berhari-hari dapat bertahan terhadap segala kesengsaraan dan semua itu terdorong oleh semangatnya untuk menyelamatkan Lulu. Kini, setelah kekuatan yang luar biasa dan yang tadinya ia pergunakan untuk mempertahankan dirinya itu mendapat jalan keluar karena kelegaan dan kegembiraannya, ia tiba-tiba menjadi lemah sekali dan bernapas pun menjadi sukar. Ia berjalan maju, tersandung-sandung sambil tertawa-tawa, diikuti dari belakang oleh Lulu yang terus memegangi tangan kirinya. Tiba-tiba Han Han yang tertawa-tawa itu terguling roboh menelungkup di at as salju. Tiga buah kitab yang tadi dipegang di tangan kanannya, terlepas.
"Koko….! Han-ko…..! Ah, Han-ko, bangunlah…." Lulu mengguncang-guncang tubuh kakaknya, akan tetapi Han Han tidak bergerak. Melihat kakaknya seperti itu, Lulu menjerit-jerit dan menangis tanpa mengeluarkan air mata karena sudah terlalu banyak menangis dan matanya sudah terlalu kering sehingga agaknya tidak mempunyai air mata lagi.
"Han-ko….! Jangan mati, Han-ko…., jangan tinggalkan aku….!" Lulu menjerit-jerit dan memeluki tubuh Han Han.
“Gerrrrr……!”
Suara gerengan yang menggetarkan pulau itu membuat Lulu terkejut sekali dan anak ini mengangkat mukanya yang tadi ia letakkan di atas punggung Han Han. Ketika ia bangkit dan mengangkat muka, matanya terbelalak lebar sekali, mulutnya ternganga dan wajahnya yang sudah pucat itu menjadi seperti kertas. Tidak ada suara keluar dari mulutnya. Lulu menjadi begitu kaget dan ngeri sehingga ia sudah kehilangan suaranya, hanya melongo seperti orang mimpi atau kehilangan akal. Di depannya, dekat sekali, berdiri seekor binatang yang amat besar, seekor biruang yang berbulu putih. Biruang itu berdiri di atas kedua kaki belakangnya, besar dan tinggi sekali, mengeluarkan suara menggereng-gereng dan matanya yang merah itu sejenak memandang ke arah perahu yang terdampar, kemudian menunduk dan memandang kepada Han Han dan Lulu. Mulutnya yang terbuka itu memperlihatkan rongga mulut dan lidah yang merah dan gigi bertaring yang putih, kuat dan meruncing.
Setelah menggereng beberapa kali, binatang besar itu lalu menurunkan kedua kaki depannya, merangkak menghampiri Han Han.
"Ohhhhh, tidak…. jangan…" Lulu menggeleng kepalanya. " jangan mengganggu Han-ko…." Memang luar biasa sekali cinta kasih bocah ini terhadap kakak angkatnya. Andaikata tidak ada kekhawatirannya terhadap Han Han, tentu ia sudah roboh pingsan seketika itu juga saking ngerinya. Kini, melihat biruang itu mendekati Han Han, Lulu melupakan rasa takutnya dan berusaha mengusir biruang itu dengan suara dan gerakan tangan!
Namun, biruang itu agaknya tidak mempedulikan Lulu, menggunakan kedua kaki depan seperti sepasang lengan manusia, memondong tubuh Han Han dengan amat ringannya, kemudian bangkit berdiri lagi dan berjalan terseok-seok sambil memondong tubuh Han Han yang masih pingsan!
Lulu terbelalak, seperti terpesona. Biruang itu tidak menggigit Han Han, tidak menganggunya, malah memondong dan seperti hendak menolongnya! Ia pun lalu bangkit perlahan, mengambil tiga buah kitab yang tertinggal di situ, kemudian berjalan perlahan-lahan mengikuti biruang itu. Dia merasa terlalu takut kalau biruang itu menjadi marah dan mengganggu Han Han, maka Lulu melangkah maju tanpa mengeluarkan suara, bahkan setengah menahan napas karena mengkhawatirkan keselamatan kakaknya. Betapa indahnya dunia ini kalau perasaan kasih sayang yang begitu murni dan berada dalam hati setiap orang manusia itu diperkembangkan! Betapa sucinya cinta kasih sehingga dalam detik-detik yang mengancam diri sendiri, orang masih lupa akan bahaya yang mengancam diri pribadi, bahkan mengkhawatirkan keselamatan orang yang dikasihinya. Cinta kasih murni ini sajalah yang mampu mengalahkan dan mengusir kelemahan utama manusia, yaitu mementingkan diri pribadi (egoism). Cinta kasih adalah suatu sifat yang suci, sebuah di antara sifat Tuhan Yang Maha Kasih.
Biruang putih atau biruang es itu berjalan terus membawa Han Han ke tengah pulau. Dalam kekhawatirannya akan keselamatan kakaknya, Lulu yang sebetulnya sudah amat lemah itu, kini dapat berjalan terus mengikuti biruang itu sampai ke tengah pulau. Padahal tadi, melangkah setidak pun sudah terasa amat berat, bagi tubuhnya yang kurang makan sampai berhari-hari dan telah mengalami kesengsaraan hebat itu.
Alangkah heran hati Lulu ketika ia melihat sebuah bangunan yang cukup besar di tengah pulau dan ke arah bangunan itulah biruang besar tadi membawa Han Han. Jantungnya berdebar tegang. Kalau ada rumahnya, tentu ada orangnya! Orang macam apakah yang tinggal di pulau kosong ini? Lulu terus mengikuti biruang itu yang membawa Han Han memasuki bangunan, terus masuk ke dalam. Lulu melongo. Bangunan itu amat indahnya, dibuat dengan gaya seni yang luar biasa. Akan tetapi ia tidak sempat untuk mengagumi semua itu karena matanya mencari-cari penghuni rumah itu. Kosong dan sunyi saja. Dan biruang itu membawa Han Han masuk kesebuah kamar yang besar, kemudian membaringkan tubuh Han Han di atas sebuah pembaringan yang bertilam kain berbulu tebal. Kamar itu pun bersih dan dindingnya penuh dengan tulisan-tulisan tangan yang indah-indah. Di sudut kamar itu terdapat sebuah tempat perapian. Lulu yang tidak tahu harus berbuat apa, duduk di tepi pembaringan, memegang tangan Han Han dan mengguncang-guncangnya. Namun Han Han seperti orang tertidur pulas, tidak juga terbangun. Dengan ketakutan yang makin meningkat, Lulu mengikuti gerakan-gerakan biruang itu dengan pandang matanya dan ia makin terbelalak keheranan. Biruang itu benar-benar luar biasa sekali, seperti manusia saja. Kini binatang yang berdiri seperti manusia itu menghampiri perapian, kaki depannya yang tergantung di depan dengan kaku itu lalu mengambil kayu kering, dilemparkannya ke perapian dan dituangkannya minyak di atas perapian. Semua ini dilakukan dengan jepitan kedua tangan atau kedua kaki depannya yang besar. Kemudian, binatang itu mengambil dua batang pedang pendek yang tadinya tergantung di dinding, di atas perapian.
Lulu menahan pekiknya dengan tangan. Kiranya biruang itu hendak menyembelih dia dan Han Han, pikirnya dengan hati ngeri. Ia melihat betapa biruang itu, mencengkeram sepasang pedang dengan kedua kaki depannya, kemudian membuat gerakan seperti orang bersilat pedang. Dua batang pedang itu berkelebat menjadi sinar putih dan saling bertemu, menerbitkan suara yang nyaring sekali.
“Cringgggg….!”
Bunga api muncrat di dekat perapian, menyambar kayu yang sudah basah oleh minyak dan bernyalalah kayu itu di dalam tungku dan biruang itu dengan mulut menyeringai lalu mengembalikan sepasang pedang tadi, digantungkan di atas dinding. Kemudian binatang itu menambahkan kayu kering sehingga api dalam tungku membesar dan terusirlah hawa dingin setelah hawa panas api di tungku itu mulai terasa oleh Lulu.
Biruang itu lalu memandang Lulu, mengeluarkan suara gerengan pendek kemudian keluar dari kamar. Lulu seperti baru sadar dari mimpi, mengguncang-guncang pundak Han Han. "Koko….! Koko…! Bangunlah…. Ada… ada binatang aneh….!" Akan tetapi Han Han belum juga sadar sehingga akhirnya Lulu menangis di atas dada kakaknya.
Akan tetapi ia segera menghentikan tangisnya karena biruang itu sudah kembali memasuki kamar, mulutnya menggigit daun-daunan yang membeku dan kedua kaki depannya membawa benda putih membeku sebesar kepala orang. Ia menurunkan semua itu di atas meja dekat perapian, kemudian ia menoleh ke arah Lulu dan kembali mengeluarkan suara gerengan-gerengan, kedua kaki depannya bergerak-gerak seperti seorang gagu kalau hendak menyatakan sesuatu. Lulu adalah seorang gadis cilik yang cerdik juga. Kini ia mulai dapat mengerti bahwa binatang itu sama sekali tidaklah jahat.
"Apakah kehendakmu?" katanya perlahan sambil turun dari pembaringan dan menghampiri biruang itu. Binatang itu kelihatan girang, lalu menuding ke arah dinding di mana terdapat perabot-perabot dapur yang cukup, terbuat daripada petak. Ia menuding ke arah panci dan Lulu mengerti bahwa agaknya dia disuruh masak. Mungkin daun itu adalah obat untuk menyembuhkan kakaknya! Teringat akan hal ini, cepat dia mengambil panci itu dan membawanya ke depan biruang yang kini mengambil sebongkah es yang ia masukkan ke dalam panci, kemudian dengan suara "arrhh-arrhh-urrhh-urrhhh" ia menunjuk ke perapian. Lulu tidak mengerti mengapa dia disuruh masak es, akan tetapi ia melakukannya juga, mendekati tungku dan menaruh panci itu di atas perapian. Ketika es di dalam panci mencair menjadi air, barulah anak ini mengerti dan menjadi girang sekali. Cepat ia mengambil air dalam panci itu dan menghampiri Han Han untuk memberi minum kakaknya yang ia tahu, seperti juga dia, amat kehausan. Akan tetapi ia kaget sekali ketika tiba-tiba biruang yang besar itu melompat dengan ringannya, menghadang dan melarang dia menghampiri Han Han, lalu menunjuk-nunjuk dengan kaki depannya ke arah tungku.
"Paman biruang, aku mau memberi minum Han-ko, mengapa tidak boleh?"Biruang itu hanya menggereng-gereng dan menunjuk ke arah tungku perapian. Kini rasa takut Lulu terhadap binatang itu sudah lenyap karena dia makin merasa yakin bahwa binatang ini tidaklah jahat dan tentu ada tersembunyi maksud-maksud baik dalam semua perbuatannya ini. Ia lalu menghampiri tungku dan menduga bahwa binatang itu menghendaki dia masak terus air dari es itu, maka ia meletakkan panci di atas api dan biruang itu mengangguk-angguk! Lulu kini mengerti. Agaknya air itu harus dimasak sampai mendidih lebih dulu sebelum diminumkannya kepada kakaknya. Akan tetapi dugaannya keliru karena kini binatang itu mengambil daun-daun beku dari atas atas meja dan memasukkan daun-daun itu ke dalam panci air.
"Ah, kiranya disuruh masak obat untuk Han-ko? Begitukah, Paman Biruang?"
Biruang itu mengangguk-angguk dan Lulu menjadi girang sehingga anak ini lalu memeluk perut biruang yang gendut dan mendekapkan mukanya pada dada yang bidang dan kuat itu. Biruang itu mengeluarkan suara ngak-ngak-nguk-nguk dan kaki depannya yang kiri dengan gerakan halus mengusap rambut kepala Lulu! Bccah ini menjadi girang sekali dan cepat-cepat ia menambah kayu pada perapian sehingga tak lama kemudian daun-daun beku itu termasak dan air berubah menjadi kemerahan. Setelah air masakan daun ini tinggal sedikit, biruang itu memberi tanda supaya Lulu memberi minum Han Han dengan air obat itu. Air yang tadinya mendidih, sebentar saja menjadi dingin dan Lulu cepat memberi minum obat itu dengan hati-hati, menuangkannya ke dalam mulut Han Han setelah ia membuka dengan paksa mulut itu dengan tangan kirinya.
Hatinya girang sekali karena biarpun keadaannya amat lemas, ternyata Han Han dapat menelan obat itu. Kemudian atas isyarat-isyarat binatang yang luar biasa itu, Lulu memasak benda putih biasa itu, Lulu memasak benda putih yang ternyata adalah segumpal gandum yang bubur encer dan mulailah anak yang amat mencinta kakaknya itu menyuapkan bubur ke mulut Han Han yang sudah dapat bergerak namun agaknya masih belum sadar betul itu. Setelah Han Han tertidur dengan wajah agak merah, barulah Lulu teringat untuk makan dan minum. Kemudian ia pun menggeletak tertidur di atas pembaringan di dekat kaki Han Han.
***
Atas perawatan yang tekun dari Lulu yang selalu diberi petunjuk oleh biruang es yang luar biasa itu, dalam waktu sepekan saja Han Han telah sembuh daripada sakitnya. Dengan terheran-heran setelah sadar benar, Han Han mendengarkan cerita Lulu tentang biruang es itu dan Han Han tanpa ragu-ragu lalu bangkit memeluk binatang itu yang mengeluarkan suara seperti orang kegirangan! Setelah Han Han pulih kembali kesehatannya, barulah ia bersama Lulu mengadakan pemeriksaan, diantar oleh biruang putih.
Bangunan itu cukup besar dan mewah sekali. Mempunyai banyak kamar yang serba lengkap. Kamar dimana Han Han dibaringkan adalah kamar dapur, lengkap dengan perabot dapurnya. Ada tiga buah kamar tidur yang indah dan lengkap, adapula ruangan yang amat luas untuk belajar ilmu silat, ada pula sebuah “taman” yang aneh karena disitu bunga-bunga tidak dapat tumbuh subur dan hanya beberapa macam tetumbuhan saja yang dapat hidup karena disitu selali diliputi es dan salju. Taman ini terhias dengan batu-batu yang bentuknya indah, dengan jembatan-jembatan kayu yang mungil dan pondok kecil yang di buat dengan gaya seni indah.
Ternyata pula bahwa satu-satunya makhluk hidup yang tinggal di pulau itu hanyalah biruang es itulah. Pantas saja kalau binatang itu menjadi kegirangan karena sekaligus ia memperoleh dua orang teman! Dan tentu saja hal ini dapat dirasakan oleh biruang itu yang agaknya dahulu telah dipelihara orang.
Yang amat menarik perhatian Han Han adalah sebuah kamar perpustakaan di mana terdapat banyak sekali kitab-kitab yang aneh-aneh dan hebat-hebat. Kitab-kitab pelajaran ilmu silat, pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi-tinggi tersusun rapi di lemari buku yang besar. Kini dia mulai mengerti mengapa orang-orang kang-ouw berlomba untuk menemukan Pulau Es ini. Kiranya untuk kitab-kitab inilah!
Han Han dapat menduga bahwa yang pernah tinggal di tempat aneh ini tentulah seorang manusia sakti. Hal ini bukan hanya dapat dilihat dari adanya kitab-kitab itu, melainkan dengan mudah dapat menduga dengan melihat keadaan biruang putih itu. Hanya seorang sakti saja yang mampu menundukkan dan melatih binatang itu menjadi seekor binatang yang luar biasa, selain cerdik seperti manusia, juga memiliki tenaga yang hebat dan gerak-geriknya tangkas seperti seorang ahli silat yang pandai.
Mula-mula Han Han dan Lulu merasa seolah-olah mereka menjadi pencuri-pencuri yang memasuki rumah orang. Akan tetapi karena pulau itu benar-benar kosong, maka mereka menjadi biasa dan menganggap bahwa rumah yang mewah seperti istana itu sebagai rumah sendiri. Kamar pertama adalah kamar yang paling besar, perlengkapannya tidaklah sangat mewah, namun menyenangkan. Dinding kamar ini penuh dengan tulisan-tulisan yang berbentuk sajak dan Han Han amat kagum membaca sajak-sajak ini yang selain mengandung filsafat yang da!am-dalam dan pandangan yang amat luas dan bijaksana, juga ditulis amat indah. Di bagian lain dari dinding tertulis di rumah itu, ia mendapatkan tulisan-tulisan yang sifatnya mengandung keluh-kesah, sajak-sajak duka yang membayangkan kepatahan hati. Kemudian di dalam laci sebuah meja di kamar pertama itu ia mendapatkan pula beberapa sampul surat dari kain yang dibungkus rapat dalam sebuah kantung karet. Di luar bungkusan karet ada tulisannya : "Diharap yang menemukan ini menyampaikannya kepada yang berkepentingan." Sajak terbesar yang berada di dalam kamar pertama ditulis dengan cara yang lain daripada sajak-sajak dan tulisan-tulisan lain. Kalau tulisan lain dilakukan dengan alat tulis biasa, adalah sajak terbesar ini entah ditulis dengan apa, akan tetapi kenyataannya huruf itu seperti diukir dalam dinding. Amat indah goresannya, amat kuat dan bunyi sajaknya sukar dimengerti atau diselami oleh Han Han yang usianya baru dua belas atau tiga belas tahun itu.
Betapa ingin mata memandang mesra
Betapa ingin jari tangan membelai sayang
Betapa ingin hati menjeritkan cinta
Namun Siansu berkata:
Bebaskan dirimu daripada ikatan nafsu!
Mungkinkah pria dipisahkan dari wanita?
Tanpa adanya perpaduan Im dan Yang, dunia takkan pernah tercipta!
Betapapun juga, cinta segi tiga membahagiakan!
Menyenangkan yang satu menyusahkan yang lain
Akibatnya hanya perpecahan dan permusuhan
Ikatan persaudaraan dilupakan
Akhirnya yang ada hanyalah duka dan sengsara.
Kesimpulannya, benarlah pesan Siansu bahwa sengsaralah buah daripada nafsu!
 
Membaca sajak-sajak dan tulisan-tulisan yang memenuhi dinding rumah indah itu, Han Han hanya dapat menduga bahwa penghuni rumah ini tentulah seorang sakti yang ahli pula dalam kesusastraan, namun seorang yang banyak mengalami penderitaan dalam hidupnya sehingga tulisan-tulisannya membayangkan hati yang merana dan berduka.
Adapun kamar yang ke dua dan ke tiga menunjukkan dengan jelas bahwa kamar-kamar itu adalah kamar wanita. Selain bersih dan mewah, juga berbau harum dan di situ masih lengkap dengan segala benda keperluan wanita, dari pakaian-pakaian sutera yang indah-indah, perhiasan emas permata sampai alat-alat kecantikan dan alat-alat menjahit dan menyulam! Tentu saja Lulu menjadi girang sekali dan menempati sebuah di antara kedua kamar ini. Juga di kamar pertama terdapat pakaian-pakaian pria sehingga kedua orang anak itu tidak perlu khawatir lagi tentang kebutuhan pakaian.
Mengenai keperluan makan, kedua orang anak itu pun sama sekali tidak khawatir. Atas "petunjuk" biruang es, di dalam gudang di bawah tanah terdapat banyak sekali gandum yang dibekukan dan tidak pernah menjadi rusak. Selain ini, juga lengkap terdapat bumbu-bumbu masak. Adapun untuk keperluan daging, amat mudah didapat berkat bantuan biruang es. Binatang ini adalah seekor mahJuk yang amat ahli menangkap ikan laut. Dengan demikian, segala keperluan hidup kedua orang anak itu sudah tersedia lengkap dan mulai hari itu, Han Han dan Lulu memasuki hidup baru yang amat aneh, terasing daripada dunia ramai.
Mulailah Han Han menggembleng diri sendiri dan adiknya dengan pelajaran ilmu dari kitab-kitab yang banyak terdapat di situ. Kitab pelajaran melatih lweekang, bersamadhi dan dasar-dasar ilmu silat tinggi. Akan tetapi bagi Han Han sendiri terdapat kesulitan. Begitu membuka dan mempelajari kitab-kitab yang di tinggalkan oleh manusia sakti penghuni Pulau Es, kepalanya menjadi pening dan hatinya mendingin, sama sekali ia tidak tertarik. Sebaliknya, ketika ia membaca dua buah kitab yang ia temukan di dalam perahu, kitab tulisan Ma-bin Lo-mo, ia dapat melatihnya dengan mudah! Selain itu, ketika ia mulai membuka kitab-kitab peninggalan Sepasang Pedang Iblis, ia menjadi bingung dan terheran-heran karena kitab itu ditulis dengan huruf-huruf yang sama sekali tidak dikenalnya! Huruf-hurufnya amat aneh, dengan coretan-coretan yang tak dapat dibaca sama sekali!
Akan tetapi Han Han memiliki kecerdikan yang tidak wajar. Ia mengingat pesan kakek Pedang Iblis Jantan, mengingat kembali kata-kata yang dibisikkan di dekat telinganya. "Tambah satu titik di kiri, tambah dua coretan melintang, buang dua titik di bawah, buang satu coretan menurun." Ia membuka dua kitab yang disatukan itu, memeriksa huruf-hurufnya dan mengingat bisikan itu. Sebentar saja Han Han sudah tersenyum kegirangan. Kiranya huruf-huruf itu sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga tanpa memiliki kuncinya, takkan dapat dibaca orang. Dengan mengingat kuncinya, maka setiap huruf dapat ditambah atau dibuang titik maupun coretannya dan akhirnya ia dapat mengenal huruf-huruf itu! Dengan tekun Han Han lalu mulai membaca kitab-kitab itu, kitab-kitab peninggalan Sepasang Pedang Iblis dan kitab-kitab Ma-bin Lo-mo, bahkan lalu mulai melatih diri dengan cara-cara yang tersebut dalam kitab-kitab peninggalan para datuk golongan sesat ini. Karena pada desarnya Han Han melatih diri dengan ilmu-ilmu sesat, maka tentu saja ia lebih mudah menggembleng diri dengan ilmu sesat dan tanpa disadarinya, dia telah mengisi dirinya dengan ilmu dari manusia-manusia sesat dan yang ternyata amat cocok dengan dirinya yang sebenarnya telah menjadi tidak normal sebagai akibat ketika ia disiksa para perwira Mancu dan kepalanya dibenturkan dinding sedangkan perasaan hati dan pikirannya menghadapi peristiwa malapetaka hebat yang menimpa keluarganya.
Adapun Lulu yang juga mulai belajar ilmu karena bercita-cita untuk membalas kematian keluarganya, dibimbing oleh Han Han, namun anak yang masis "bersih" ini lebih dapat menyesuaikan diri dengan ilmu yang didapat dari kitab-kitab peninggalan manusia sakti penghuni Pulau Es. Hanya sukar sekali baginya karena kitab-kitab itu mengandung ilmu-ilmu yang amat tinggi, sedangkan sebelum belajar ia sama sekali tidak memiliki dasar apa-apa. Baiknya Han Han pernah dipimpin oleh Lauw-pangcu maka biarpun amat terbatas dan secara meraba-raba dan ngawur, sedikit banyak dapat juga Lulu memperoleh kemajuan.
Mula-mula, Han Han mencari di antara kitab-kitab dalam perpustakaan dan menemukan kitab pelajaran siulian dan berlatih napas yang sesuai dengan ajaran Lauw-pangcu. Ia lalu menyuruh Lulu melatih diri melalui kitab ini. Untung bahwa Lulu sebagai puteri seorang perwira, sejak kecil sudah diajar membaca sehingga lebih mudah bagi Han Han untuk membimbingnya. Dan didasari hati mendendam karena kematian orang tuanya, ditambah pula dengan meniru watak Han Han yang keras hati dan tak mengenal jerih payah, Lulu berlatih dengan tekun sekali sehingga biarpun bakatnya dalam ilmu ini tidak sehebat bakat Han Han yang memang luar biasa, dapat juga ia merasakan hasilnya. Biasanya, semenjak berdiam di pulau yang amat dingin itu, Lulu melindungi tubuhnya dengan pakaian-pakaian dari bulu yang terdapat dalam kamar yang ditempatinya. Akan tetapi berkat latihan-latihannya, setelah dua tahun, anak itu dapat mengerahkan sinkang yang mulai terkumpul di tubuhnya untuk melawan hawa dingin. Hanya kalau hawa luar biasa dinginnya, ia terpaksa masih mengenakan baju bulu yang hangat. Setelah tubuhnya menjadi kuat dan gerakannya menjadi lincah, Han Han mulai memberi petunjuk kepadanya tentang pelajaran memasang kuda-kuda dan gerakan langkah kaki. Mulailah Lulu belajar silat dari sebuah kitab yang mengajarkan ilmu silat tangan kosong. Ilmu silat ini amat tinggi tingkatnya seperti juga semua kitab yang berada di situ. Tentu saja karena dasar yang dimiliki Lulu terlampau rendah, maka dia hanya dapat menguasai gerakan-gerakannya saja, sedangkan intinya hanya dapat ia petik sebagian kecil.
Kemajuan Lulu menggirangkan hati anak itu sendiri yang mengira bahwa kini dia telah menjadi seorang "ahli silat" dan yang kelak, kalau mereka berhasil keluar dari tempat terasing ini, dapat ia pergunakan untuk membalas dendam. Adapun Han Han yang melatih diri dengan penggabungan ilmu dalam kitab-kitab Ma-bin Lo-mo, Sepasang Pedang Iblis, dicampur dengan latihan-latihannya ketika ia "mencuri" ilmu dari Kang-thouw-kwi, menjadi tersesat tidak karuan dan secara ngawur ia telah dapat melatih dirinya sehingga memperoleh kemajuan yang aneh dan mengerikan. Kalau seorang ahli lain melatih diri dengan sinkang berdasarkan pengerahan tenaga sakti di tubuh yang dapat dipergunakan untuk membangkitkan tenaga Yan-kang atau Im-kang, Han Han sebaliknya malah membenamkan diri dalam cengkeraman hawa sakti Im-kang karena ia melatih diri dengan menggunakan hawa dingin sebagai ujian.
Sebetulnya, dengan inti dari Ilmu Hwi-yang Sin-kang yang ia curi dari Kang-thouw-kwi, Han Han dapat membuat tubuhnya terasa panas untuk mengatasi hawa dingin di pulau itu, sung,guhpun hal ini akan merupakan sebuah cara yang berbahaya karena ia seolah-olah melawan dingin dengan kekuatan sinkangnya. Kalau dia menang, dia tidak akan kedinginan, akan tetapi kalau sampai kalah, dia yang menggunakan Yang-kang secara ngawur akan terancam bahaya maut. Untung bahwa dia tidak sampai terancam bahaya ini karena dia memulai latihannya dengan menggunakan kitab peninggalan Ma-bin Lo-mo dan Sepasang Pedang Iblis. Kitab Ma-bin Lo-mo mengajarkan tentang menghimpun tenaga Im-kang dan karena di dalam diri Han Han telah terkandung tenaga mujijat, begitu ia bersamadhi dan mulai melatih diri, sebntar saja ia dapat menghimpun tenaga "dingin" ini. Berlatih menghimpun tenaga dingin, di dalam hawa yang dinginnya seperti Pulau Es itu, pada hari-hari pertama merupakan siksaan hebat pada tubuhnya. Darahnya seolah-olah menjadi beku dan hampir saja Han Han beberapa kali terancam maut kalau saja Lulu tidak selalu menjaganya. Kalau sudah melihat kakaknya menggigil kedinginan, mukanya membiru seperti itu, Lulu cepat turun tangan, menyelimuti tubuh kakaknya dengan baju bulu, atau membuat api unggun di dekat kakaknya, atau mengguncang-guncang tubuh Han Han sehingga terpaksa Han Han menyudahi latihannya menghimpun tenaga dingin.
Akan tetapi Han Han memiliki kekerasaan hati yang tidak lumrah manusia biasa. Dia tidak pernah merasa kapok dan selalu berlatih Im-kang di waktu hawa sedang dinginnya sehingga akhirnya ia dapat membuat keadaan tubuhnya lebih dingin daripada hawa dingin di luar tubuhnya. Dengan begini, karena dia membuat suhu tubuhnya lebih dingin daripada suhu di luar tubuh, setelah latihannya matang, ia malah merasa bahwa hawa yang amat dingin, yang bagi orang lain akan tak tertahankan itu masih kurang dingin! Setelah berlatih tiga tahun lamanya, di waktu hawa di Pulau Es itu amat dingin, Han Han mulai berlatih sambil membuka sepatunya dan pakaiannya!
Demikianlah, dengan ditemani biruang es yang merupakan teman bermain bahkan teman berlatih silat amat tangguh dari Lulu, kedua orang anak itu hidup terasing dan menggembleng diri dengan ilmu-ilmu aneh tanpa bimbingan sehingga kepandaian yang mereka peroleh amatlah aneh bagi umum!
Setelah tinggal di Pulau Es selama tiga tahun, Han Han dan Lulu menganggap pulau itu seperti milik mereka sendiri dan makin banyak mereka mengenal istana itu, makin tebal keyakinan mereka bahwa dahulu tempat ini merupaan tempat tinggal orang-orang sakti dan bahwa kemudian terjadi hal-hal yang amat hebat di situ sehingga kemudian ditinggalkan para penghuninya. Akan tetapi selama tiga tahun itu, Han Han dan Lulu tidak pernah menemukan sesuatu yang menceritakan tentang para penghuni itu. Tulisan-tulisan di dinding hanya merupakan sajak-sajak yang selain mengandung filsafat-filsafat hidup, juga membayangkan kepahitan dan penderitaan batin si penulisnya namun tidak pernah menyinggung soal nama maupun riwayat mereka yang dahulu tinggal di istana Pulau Es itu.
"Ah, Paman Biruang! Kalau saja engkau mampu bicara, tentu ceritamu tentang para penghuni istana Pulau Es ini amat menarik hati," kata Han Han sambil mengelus bulu putih lengan binatang itu.
"Mungkin dia sudah berkali-kali bercerita kepada kami dengan gerakan-gerakannya. Sayang kita yang tidak mengerti," kata Lulu sambil tertawa.
"Boleh jadi!" kata pula Han Han, juga tertawa setelah memandang wajah adik angkatnya penuh kagum. Kini Lulu telah menjadi seorang gadis cilik dan jelas tampak betapa manis dan cantik anak ini, matanya yang lebar itu bersinar-sinar, mulutnya kelihatan manis dengan lesung pipit di pipi kiri.
“Benarkah, Paman Biruang? Apa sih yang hendak kauceritakan kepada kami tentang manusia-manusia sakti yang telah melimpahkan kebaikan kepada kami sehingga kami ditinggali segala kemewahan ini?”
"Nguk-nguk ger-gerrrrr….!” Lulu meniru suara biruang itu dan menggerak-gerakkan kedua lengannya. dengan lagak seperti biruang itu sehingga Han Han menjadi tertawa geli.
Mendadak biruang itu menggereng, kemudian menyergap hendak mencengkeram pundak Lulu. Akan tetapi dengan sigap sekali Lulu miringkan tubuhnya sehingga cengkeraman itu luput.
"Ihhh, salah sangka selalu kau, Paman Biruang! Aku tidak ingin mengajak kau berkelahi!" kata Lulu dan melihat gadis cilik itu tidak balas menyerangnya, biruang itu pun hilang semangatnya dan tidak menyerang terus.
Mendadak terdengar desir angin yang amat keras sampai salju-salju beterbangan dan dari tempat yang agak tinggi itu tampak air laut dari jauh bergelombang besar. Lulu dan Han Han memandang ke arah laut sambil melindungi muka dari hantaman salju tipis yang terbawa angin. Keduanya teringat akan peristiwa tiga tahun yang lalu ketika mereka diombang-ambingkan perahu yang menjadi permainan badai. Angin cepat sekali berubah makin membesar dan suaranya berdesir menakutkan.
"Agaknya badai akan mengamuk lagi…!" kata Han Han dan biarpun mereka tidak perlu mengkhawatirkan badai karena sekarang berada di tengan Pulau Es, namun teringat akan pengalamannya tiga tahun yang lalu, Lulu merasa ngeri juga.
Mendadak biruang es itu mengeluarkan bunyi pekik yang belum pernah mereka dengar selama ini. Pekik ini seperti suara yang mengandung kecemasan dan tiba-tiba Han Han dan Lulu terkejut karena binatang besar itu telah menyambar tangan mereka dan menarik mereka memasuki istana.
"Paman biruang, bukan waktunya untuk main-main!" Lulu berusaha untuk merenggutkan tangannya.
"Dia tidak main-main, Lulu. Dia ketakutan dan mengajak kita masuk. Tentu ada sebabnya. Hayo kita ikut dia masuk!" kata Han Han dan berlari-larianlah mereka memasuki istana. Akan tetapi biruang itu sambil mengeluarkan suara mengeluh panjang mendorong-dorong untuk terus masuk dan menuruni anak tangga yang membawa mereka ke dalam gudang di bawah tanah, yaitu gudang tempat penyimpanan bahan makanan. Setelah mereka tiba di gudang bawah tanah ini, biruang es itu lalu berjingkrak-jingkrak seperti mabuk atau ketakutan, dan menuding-nuding ke arah dinding sebelah belakang sambil membuat gerakan seperti mendorong dengan kedua lengannya ke arah dinding.
"Apa maksudnya?" tanya Han Han.
"Aneh sekali, dia seperti minta kita mendorong dinding. Padahal kalau memang begitu, tenaganya yang amat besar tentu lebih berhasil daripada kita," jawab Lulu dan anak ini lalu menghampiri dinding, mengerahkan tenaga dan berusaha mendorong seperti yang diperlihatkan dengan gerakan oleh binatang itu. Akan tetapi dinding itu tetap tidak bergerak.
"Eh, Paman Biruang. Kalau memang harus didorong, kaubantulah aku!" kata Lulu rnendongkol karena tidak mengerti maksud binatang itu. Han Han menghampiri dinding itu mencoba untuk mendorongnya, membantu Lulu. Akan tetapi tiba-tiba biruang itu memegang pundaknya dan menariknya ke belakang, lalu menggereng-gereng dan menggeleng-celeng kepala, kemudian membuat gerakan mendorong lagi dari jauh sambi! menuding-nuding ke arah Han Han.
Mereka telah tiga tahun bergaul dengan binatang itu dan sedikit banyak sudah dapat mengerti bahasa gerakan ini.
"Han-ko, agaknya Paman Biruang minta engkau yang mendorong dinding!" kata Lulu.
Han Han mengerutkan kening. “Tidak, aku tadi mendorong dia tarik ke belakang. Ah, jangan-jangan dinding ini ada rahasianya dan harus didorong dengan hawa sinkang dari jarak jauh. Mundurlah, Lulu."
Ketika mendengar ini dan melihat Lulu mundur, biruang itu mengangguk-angguk dan mengeluarkan suara seperti kalau dia sedang bersenang hati. Makin yakin hati Han Han dan ia lalu mundur. Dalam jarak satu meter ia lalu menekuk kedua lututnya, memusatkan perhatian, menahan napas, mengerahkan hawa sin-kang di dasar perut dan disalurkan ke arah kedua lengannya lalu mendorong ke arah dinding. Karena setiap hari selama tiga tahun ini ia melatih hawa sakti Im-kang, tentu saja ketika mempergunakan dorongan ini ia pun otomatis mempergunakan Im-kang. Kemajuan yang diperoleh Han Han selama berlatih tiga tahun ini amatlah hebatnya. Hawa dingin yang amat dahsyat menyambar dari kedua tangannya yang mendorong itu dan dinding yang terbuat dari baja itu tergetar hebat, akan tetapi tidak ada perubahan apa-apa. Yang sebelah kirinya tergetar keras, akan tetapi yang sebelah kanan tidak tergoyang sedikit pun.
"Bagus! Sudah tergetar, Koko! Coba lagi, lebih kuat!" kata Lulu setengah berteriak, mengharapkan untuk membuka rahasia tempat ini dan ingin sekali mengetahui apa yang akan terjadi. Sementara itu, suara badai mengamuk di luar istana terdengar amat santer dan angin malah masuk sampai ke tempat itu. Dapat dibayangkan betapa hebatnya badai mengamuk kalau anginnya dan suaranya sampai memasuki ruangan di bawah tanah itu!
Han Han sudah siap untuk mencoba lagi, akan tetapi biruang itu menggereng-gereng marah dan menggerak-gerakkan kedua kaki depan tanda tidak setuju, akan tetapi masih tetap membuat gerakan mendorong-derong dinding. Han Han tidak jadi mendorong lagi, lalu mempergunakan pikirannya. Memang dia harus mendorong, akan tetapi agaknya keliru cara menggunakan sinkang. Kalau dorongan ini hanya membutuhkan tenaga kasar, tentu binatang itu sendiri akan sanggup melakukannya, karena dalam hal tenaga kasar, biruang itu jauh lebih menang dibandingkan dia. Tentu harus menggunakan sinking, akan tetapi mengapa salah? Tiba-tiba ia teringat. Ah, dia melatih sin-kangnya berdasarkan ilmu-ilmu dari Ma-bin Lo-mo yang ia gabungkan dengan ilmu dari kitab Sepasang Pedang Iblis, yaitu mempergunakan Im-kang. Inilah agaknya yang menjadi kesalahannya. Tentu saja ilmu dari penghuni istana di Pulau Es ini berbeda sinkangnya dengan Ma-bin Lo-mo.
Akan tetapi, tenaga sinkang ada dua macam, kalau tidak hawa sakti dingin tentu hawa sakti panas, yaitu Yang-kang. Dia sudah mencuri ilmu ini dari Kang-thouw-kwi, akan tetapi sudah tiga tahun ia tidak pernah melatih Yang-kang. Betapapun juga, Han Han masih belum melupakan untuk mempergunakan tenaga yang keluar dari hawa sakti itu. Latihan-latihannya dengan batu bintang dan dengan nyala api tulang manusia sudah cukup mantang.
“Apakah dengan tenaga Yang-kang?" Ia bertanya kepada diri sendiri, sedangkan Lulu hanya memandang, tidak berani mengganggu karena maklum bahwa ka-
kaknya sedang berusaha keras untuk membuka rahasia dinding ini. Han Han kembali menekuk kedua lututnya, kemudian ia berdiam sampai lama, berusaha mengobarkan hawa Yang-kang di tubuhnya. Memang amat sukar dan sebentar saja peluh membasahi muka dan lehernya, akan tetapi ternyata ia berhasil karena kedua tangannya mulai menjadi panas, bahkan mengepulkan asap! Lulu terbelalak kagum dan biruang itu meloncat ke belakang ketakutan. Memang luar bfasa sekali anak ini. Keadaan jasmaninya yang tidak wajar lagi menimbulkan kekuatan mujijat dan kekuatan kemauannya bukan main besarnya sehingga hawa sakti di tubuhnya itu lebih dikuasai kemauannya daripada kematangan latihannya.
Setelah merasa kedua lengannya menggetar-getar dengan hawa panas seperti dahulu kalau ia berlatih secara diam-diam di daerah terlarang belakang istana Pangeran Ouwyang Cin Kok, Han Han lalu melakukan gerakan mendorong untuk kedua kalinya ke arah dinding itu.
Kembali dinding itu tergetar hebat seperti tadi. Akan tetapi, sekali ini yang tergetar hebat adalah bagian dinding di sebelah kanannya, sedangkan di sebelah kiri sama sekali tidak bergerak, menjadi sebaliknya daripada tadi. Biruang itu mulai "mengomel" lagi dan membanting-banting kaki belakang seperti orang marah, lalu menuding-nuding Han Han lagi sambil menggunakan gerakan mendorong-dorong. Han Han menjadi bingung. Kalau dengan Im-kang dan Yang-kang keduanya gagal, habis cara bagaimana ia harus mendorong dinding itu? Sementara itu, kini angin yang masuk dengan santer membawa pula butiran-butiran es yang keras sehingga mengejutkan mereka.
"Han-ko, apa bedanya doronganmu yang pertama dengan yang ke dua?" Tiba-tiba Lulu yang sejak tadi memperhatikan itu bertanya.
“Yang pertama menggunakan hawa sakti dingin, yang kedua menggunakan hawa sakti panas."
Lulu bertepuk tangan dan wajahnya berseri. "Ah, sekarang aku mengerti! Ketika engkau menggunakan Im-kang yang pertama tadi, dinding sebelah kiri yang terguncang hebat sedangkan yang kanan tidak bergerak. Sebaliknya, ketika kau menggunakan Yang-kang, dinding di kanan yang tergetar sedangkan yang kiri tidak. Sekarang, kau doronglah dengan kedua hawa sakti Im dan Yang. Kalau lengan kirimu mendorong dengan Im-kang ke sebelah kiri dinding dan lengan kananmu mendorong dengan Yang-kang ke sebelah kanan, tentu akan terbuka rahasia ini, Koko!"
"Agaknya engkau benar, akan tetapi betapa mungkin menggunakan dua hawa sakti yang berlawanan secara berbareng?"
“Mengapa tidak mungkin Koko? Kita pernah membaca kitab tentang ilmu silat Im-yang-kun yang berada diperpustakaan. Bukankah ilmu itu pun mempergunakan dua macam sinkang?"
"Benar, dan sepasang kitab Suhu dan Subo yang diberikan kepadaku pun mengandung tenaga yang berlawanan. Akan tetapi hal itu dimainkan oleh dua orang, tentu saja dapat. Kalau aku seorang diri harus mengerahkan tenaga yang berlawanan, betapa mungkin? Aku belum pernah belajar tentang itu!"
"Koko, engkau seorang yang paling cerdik dan pandai di seluruh dunia ini! Apa yang tidak mungkin bagimu? Cobalah, engkau tentu bisa! Lihat, badai makin hebat mengamuk! Butiran-butiran es seperti peluru dan aku harus selalu menangkis, akan tetapi butiran-butiran itu hancur kalau mengenai tubuhmu dan kau seperti tidak merasakan! Koko, aku dapat menduga bahwa tentu ada tempat persembunyian rahasia dan Paman Biruang agaknya hendak mengajak kita bersembunyi di tempat itu!"
Han Han meooieh dan melihat betapa biruang itu repot menutupi mukanya agar jangan terkena hantaman butiran-butiran es yang kalau mengenai matanya atau hidungnya tentu akan mengakibatkan luka. Binatang ini ketakutan dan mengeluarkan bunyi seperti anak kucing.
Harus kucoba, pikirnya dan mulailah ia menekuk kedua lututnya, menghadapi dinding dan mulailah ia mengatur hawa sinkang yang disalurkan dari pusarnya, naik ke atas dan dia mencoba untuk membaginya menjadi dua hawa sakti Im dan Yang. Sesungguhnya, hanya orang yang sinkangnya sudah amat tinggi saja yang akan dapat mengerahkan Im-kang dan Yang-kang secara berbareng. Di luar kesadarannya, Han Han telah memiliki tenaga sinkang yang amat kuat. Akan tetapi karena dia belum pernah berlatih di bawah bimbingan ahli, maka ia repot sekali membagi sinking ini. Kedua tangan sakti itu menarik-narik, kadang-kadang menjadi Im-kang semua yang amat hebat sehingga tubuhnya menggigil kedinginan, kadang-kadang Yang-kang menang kuat dan semua tenaga menjadi hawa sakti yang panas membuat kepalanya mengepulkan asap! Ia merasa tersiksa sekali, dadanya sampai terasa nyeri dan napasnya terengah-engah.
Akan tetapi ketika ia hendak membatalkan usahanya yang sia-sia ini dan melirik ke arah Lulu, ia melihat adiknya itu memandang kepadanya penuh kekaguman dan penuh kepercayaan. Hal ini memberi kekuatan luar biasa kepadanya dan cukup memberi dia kenekatan untuk berusaha sampai berhasil biarpun dia akan menderita sampai mati sekalipun. Memang hebat sekali tenaga kemauan hati Han Han. Tenaga mujijat inilah yang membuat ia memiliki kekuatanpada matanya sehingga tanpa belajar ia telah mempunyai kepandaian menundukkan kemauan dan semangat orang lain! Kini tenaga kemauannya ini ia tujukan ke dalam dan biarpun ia belum pernah melatih untuk mengendalikan sinkang, kini ia berusaha lagi untuk "mencegah" sinkangnya menjadi dua macam, sekali ini dia berhasil! Akan tetapi keadaannya seperti seorang yang mengendalikan dua ekor kuda yang berlawanan larinya, sehingga ia harus mengerahkan seluruh tenaga yang ada melawan sinkang sendiri agar jangan sampai menyeleweng ke kanan atau ke kiri! Kembali ia mendorong dengan kedua lengan yang berlawanan hawa saktinya.
Dinding itu tergetar hebat, terdengar keras sampai mengeluarkan suara dan disusul suara berderit aneh kemudian.… dinding itu terpecah menjadi dua bagian dan terbuka seperti ada tenaga rahasia mendorongnya ke kanan kiri!
"Kau berhasil, Han-ko….!!" Lulu bersorak akan tetapi kegirangannya segera berubah menjadi kaget ketika melihat .tubuh Han Han roboh terguling. Lulu cepat melompat dan berhasil memeluk tubuh kakaknya sehingga Han Han tidak sampai terbanting.
Biruang itu pun berseru girang, akan tetapi ia lalu menyambar tubuh Han Han, dipondongnya dan ia menunjuk-nunjuk ke bawah di mana terdapat anak tangga dari batu, memberi isyarat kepada Lulu untuk menuruni anak tangga sedangkan dia sendiri sambil memondong tubuh Han Han, mengikuti dari belakang dengan wajah takut-takut.
Lulu yang menjadi cemas melihat kakaknya pingsan, segera menuruni anak tangga tanpa ragu-ragu, karena ingin segera dapat menolong kakaknya yang dipondong biruangnya. Melihat kakaknya dipondong biruang itu, teringatlah ia beberapa tahun yang lalu ketika mula-mula mereka datang, hanya bedanya, kalau dahulu dia yang mengikuti binatang itu, sekarang dialah yang berjalan di depan. Anak tangga itu amat dalam, dua kali lebih dalam daripada anak tangga yang menuju ke gudang bawah tanah. Dan ketika ia sampai di dasar anak tangga, Lulu menjadi bengong. Tentu ia sudah bersorak gembira kalau saja tidak ingat akan keadaan kakaknya. Ruangan yang berada di dasar tangga itu benar-benar mempesonakan sekali, jauh lebih indah daripada semua ruangan di atas! Benda-benda yang berada di situ berkilauan, terbuat daripada emas dan perak. Biruang itu sudah menurunkan tubuh Han Han ke atas lantai yang terbuat daripada batu putih bersih dan mengkilap, kemudian biruang itu berlari ke tengah ruangan dan menjatuhkan diri berlutut di depan tiga buah patung yang terbuat daripada batu pualam. Berlutut sambil mengeluarkan suara seperti menangis.
Biarpun merasa heran sekali, akan tetapi Lulu tidak lagi memperhatikan binatang itu, tidak pula memperhatikan ruangan yang indah karena semua perhatiannya telah ia curahkan kepada Han Han yang menggeletak terlentang di atas tanah. Ia berlutut di dekat kakaknya dan memeriksa. Alangkah kagetnya ketika ia melihat betapa kulit muka kakaknya itu berwarna dua macam! Yang kanan berwarna hitam seperti terbakar gosong, adapun yang kiri berwarna putih kebiruan seperti muka mayat. Han Han rebah tak bergerak, dan napasnya tinggal satu-satu.
"Koko…, Han-ko….. ahhh, Koko….!" Lulu memeluk tubuh kakaknya dan menjadi kebingungan. Akan tetapi ia lalu teringat bahwa kakaknya tentu menderita luka di sebelah dalam, akibat dari pengerahan sinkang yang dibagi menjadi dua hawa sakti tadi. Ia sudah banyak membaca kitab tentang latihan sinkang, bahkan dia sendiri sudah melatih diri di bawah bimbingan kakaknya. Yang ia latih adalah sebuah kitab dari perpustakaan di istana Pulau Es itu yang sesuai dengan latihan yang pernah dipelajari Han Han dari Lauw-pangcu. Tanpa mereka sadari, kalau Han Han menggembleng diri dengan ilmu kaum sesat, adalah Lulu malah melatih diri dengan ilmu kaum bersih! Melihat keadaan kakanya sekarang ini, Lulu teringat akan ilmu memindahkan sinking ke tubuh orang lain untuk membantu orang itu. Maka, biarpun latihannya belum matang benar, Lulu tanpa ragu-ragu lagi duduk bersila dan menempelkan kedua telapak tangannya ke dada dan perut Han Han, kemudian ia mengheningkan cipta, bersamadhi mengumpulkan semua tenaga dalam di tubuhnya yang ia paksa keluar melalui kedua tangannya memasuki tubuh Han Han!
Han Han siuman dan merasa betapa ada hawa hangat yang halus lembut memasuki dadanya. Ketika ia membuka mata dan melihat betapa Lulu bersila meramkan mata dan menempelkan kedua telapak tangan ke badannya, ia menjadi terharu sekali den rasa sayangnya terhadap adiknya ini makin mendalam.
"Cukuplah, Lulu. Jangan menyia-nyiakan sinkangmu yang masih belum kuat..." katanya halus sambil mendorong kedua tangan Lulu perlahan-lahan. Lulu membuka matanya akan tetapi menutup mulutnya yang sudah akan bertanya ketika ia melihat betapa kakaknya bangkit dan bersila sambil meramkan mata. Ia tahu bahwa kakaknya sedang mengerahkan tenaga untuk mengobati diri sendiri dan perlahan-lahan muka kakaknya yang tadinya berwarna dua kini menjadi pulih kembali. Hatinya menjadi lega dan mulailah dia menyapu keadaan sekeliling ruangan indah itu dengan pandang matanya.
Ruangan itu benar-benar amat indah. Di tengah ruangan terdapat tiga buah patung, yang tengah merupakan seorang laki-laki yang tampan sekali, akan tetapi bagian kepalanya, di dahi, terdapat dua buah lubang seolah-olah bagian kepala patung ini ada yang menusuknya dengan senjata dua kali. Di sebelah kiri patung pria ini adalah sebuah patung wanita, cantik jelita dengan tubuh ramping dan dengan wajah lemah lembut, akan tetapi sebelah kakinya buntung! Adapun yang berada paling kanan adalah patung seorang wanita yang juga cantik jelita, lebih tinggi daripada wanita buntung, akan tetapi kecantikan wanita di kanan ini bercampur dengan kekerasan hati dan kekejaman yang membayangkan pada wajah cantik itu. Hanya patung inilah yang tidak ada cacadnya.
Tiba-tiba Lulu tertawa. Memang lucu melihat tingkah laku biruang es ketika itu. Binatang ini seperti kesurupan atau telah menjadi gila. Kadang-kadang ia lari dan menjatuhkan diri didepan patung pria, memeluk kaki patung itu, mengeluarkan suara seperti menangis, kemudian berlutut di depan patung wanita buntung, berdongak ke atas memandang wajah patung itu dengan wajah membayangkan rasa saying, akan tetapi selalu ia kembali ke patung aebelah kanan dan ia berlutut di depan wanita cantik tanpa cacad itu sambil mengangguk-angguk dan membentur-benturkan kepala ke lantai dan mengeluarkan suara seperti sedang ketakutan. Melihat biruang itu berlutut di depan tiga patung dengan tiga macam tingkah laku, kelihatan lucu bukan main sehingga Lulu tertawa.
Han Han membuka matanya. Ia pun terpesona akan keindahan ruangan itu dan kini tahulah ia mengapa biruang itu mengajak mereka ke situ. Dari tempat ini, suara badai mengamuk tidak terdengar lagi dan mereka memang aman daripada gangguan suara den ancaman hujan butiran ea keras yana beterbangan seperti peluru. Akan tetapi, melihat biruang itu seperti gila berlutut di depan tiga buah patung itu, ia memandang terbelalak dan hatinya berdebar keras. Tidak salah lagi, tentu patung-patung itu adalah patung dari para penghuni istana Pulau Es yang telah meninggalkan kesemuanya untuk dia dan Lulu! Sudah meninggal duniakah mereka bertiga itu? Ia bangkit lalu menggandeng tangan Lulu, dan berbisik.
"Lulu, jangan sembrono. Kurasa mereka itu adalah patung daripada Locianpwe yang dahulu menjadi penghuni Istana Pulau Es. Mari kita memberi hormat….”
Lulu menurut dan sambil bergandengan tangan mereka menghampiri tengah ruangan itu. Melihat betapa tiga buah patung itu menggambarkan Seorang laki-Jaki muda dan tampan dan dua orang wanita yang cantik jelita seperti puteri-puteri istana, Han Han terbelalak dan meragu. Inikah manusia-manusia sakti yang menjadi penghuni Istana Pulau Es? Akan tetapi, menyaksikan sikap biruang itu, ia tidak ragu-ragu lagi dan ia membimbing tangan Lulu dan diajaknya adiknya itu berlutut di depan ketiga patung itu sambil berkata.
"Teecu Sie Han dan Sie Lulu mohon ampun kepada Sam-wi Locianpwe bahwa teecu berdua berani mendiami Istana Pulau Es tanpa ijin Sam-wi, dan teecu berdua menghaturkan banyak terima kasih atas segala kebaikan yang ditinggalkan Sam-wi Locianpwe untuk keperluan teecu berdua."
Biruang itu kelihatann girang sekali melihat Han Han dan Lulu berlutut. Ia pun berlutut di depan patung pria itu dan mengeluarkan suara menguik-nguik seolah-olah ia pun menceritakan bahwa dua orang anak-anak itu adalah orang baik-baik dan selama ini menjadi sahabat-sahabatnya!
"Koko, mengapa aku bernama Sie Lulu?" Lulu berbisik setelah mereka bangkit dan melihat-lihat keadaan ruangan yang indah itu.
"Habis, engkau Adikku. Kalau tidak ber-she Sie seperti aku, mau pakai she apa lagi?"
"Koko, para Locianpwe yang katanya orang-orang sakti, kenapa masih begitu muda-muda dan kelihatan seperti orang-orang lemah?"
"Hussshhh, jangan berkata demikian, Lulu. Kau lihat biruang itu mengenal majikan-majikannya, kiranya tidak salah lagi. Mereka adalah penghuni istana ini dahulu, entah berapa puluh tahun yang lalu. Menurut percakapan tokoh-tokoh yang kudengar, Pulau Es ini dicari sejak puluhan tahun yang lalu dan Kim Cu suci pernah mendongeng bahwa di sini dahulu dikabarkan tinggal seorang manusia yang maha sakti seperti dewa…."
“Ah…. Cici Kim Cu yang baik itu sekarang tentu sudah menjadi seorang gadis jelita. Dia mencintamu, Koko….!"
"Husssh, yang bukan-bukan s.aja kau ini! Kau tahu apa tentang cinta! Di tempat sesuci ini jangan bicara begitu…"
Kembali mereka berdua memperhatikan tiga buah patung batu pualam itu dan melihat betapa kini biruang itu duduk mendeprok di dekat kaki patung pria dengan sikap anteng dan tenang, juga sikap binatang itu jelas menunjukkan ketaatan dan penghormatan yang mendalam. Patung-patung itu amat indah buatannya, halus dan seolah-olah hidup. Dan Han Han yang mempelajari wajah patung-patung itu melihat betapa mata patung pria itu mengandung kebijaksanaan yang luar biasa, mendatangkan rasa kagum dan tunduk. Patung wanita kaki buntung cantik sekali, membayangkan kehalusan budi dan sepasang matanya seolah-olah memancarkan kasih sayang yang amat besar. Akan tetapi yang paling menarik hatinya adalah patung wanita cantik di sebelah kanan. Harus ia akui bahwa selama hidupnya belum pernah ia menyaksikan wanita secantik ini, cantik dan menggairahkan sehingga Han Han yang mulai dewasa itu berdeber jantungnya, seakan-akan ia terangsang oleh wajah cantik dan bentuk tubuh yang elok itu. Ia kagum dan sekiranya patung wanita itu benar-benar hidup, tentu ia akan suka mengabdi kepada wanita ini asal dapat selalu berdekatan. Sifat keras hati dan ganas yang terbayang pada bibir yang penuh dan mata yang lebar indah itu baginya malah menambah daya tarik.
Menjelang senja, badai di luar Istsna Pulau Es itu mereda dan mereka pun keluar dari tempat rahasia itu. Han Han mengajak Lulu memberi hormat lagi kepada tiga patung itu sambil berlutut. Kemudian, didahului oleh biruang yang agaknya telah tahu bahwa badai telah berhenti, mereka keluar, mendaki anak tangga rahasia. Setibanya di luar, seperti digerakkan tenaga gaib, dinding yang tadinya terbuka itu dapat menutup sendiri! Tentu saja Han Han dan Lulu menjadi terkejut dan merasa seram. Adakah mahluk tersembunyi di tempat itu yang menutupkan dinding baja ini? Mereka diam-diam mengambil keputusan untuk tidak memasuki tempat rahasia itu lagi kalau tidak amat perlu, karena kehadiran mereka seolah-olah mengganggu ketentereman dan kesunyian tiga patung yang indah itu.
***
Ke manakah perginya perahu Mancu yang dipimpin oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat pada tiga tahun yang laJu ketika perahu itu bertemu dengan perahu Ma-bin Lo-mo? Seperti telah diceritakan di bagian depan, dengan licik sekali Kang-thouw-kwi dapat mengalahkan Ma-bin Lo-mo dengan anak panah-anak panah berapi sehingga perahu Ma-bin Lo-mo terbakar dan memaksa Ma-bin Lo-mo dan tiga orang pembantunya meloncat ke laut meninggalkan perahu yang terbakar.
Si Setan Botak tertawa bergelak, suara ketawanya yang mengandung tenaga khikang amat kuatnya itu terbawa angin laut dan terdengar sampai jauh, seperti suara ketawa iblis taut sendiri. Adapun Ma-bin Lo-mo dan tiga orang kawannya, dapat menghindari maut dengan jalan mengapungkan diri berpegangan kepada bambu-bambu yang mereka renggut putus dari perahu, yaitu bamboo-bambu pengapung yang dipasang di kanan kiri perahu yang terbakar itu. Pada ssat itu, badai mulai mengamuk dan Gak Lia bersama anak buahnya terlalu repot dan sibuk menyelamatkan perahu mereka melawan ombak membadai sehingga mereka tidak melihat betapa Ma-bin Lo-mo dan tiga orang pembantunya mempergunakan kekuatan tangan mereka untuk mendayung bambu-bambu pengapung itu mendekati perahu Mancu itu. Tidak melihat betapa empat orang sakti itu akhirnya berhasil menempel di tubuh perahu dan berpegang kuat-kuat sehingga betapapun badai mengamuk dan perahu itu diayun dan diguncangkan, mereka tetap menempel pada tubuh perahu seperti empat ekor lintah menempel di perut kerbau.
Setelah badai mereda, perahu itu dibawa jauh dari sekumpulan pulau-pulau itu dan terdampar di sebuah pulau kecil yang kosong. Gak Liat dan anak buahnya lalu mendarat dan para perwira Mancu itu lalu mempergunakan sebuah alat teropong untuk menyelidiki keadaan sekitar pulau itu. Tiba-tiba seorang di antara para perwira itu berseru keras dalam bahasa Mancu dan menunjukkan teropongnya ke arah utara.
Sekali meloncat, Gak Liat sudah tiba di dekat perwira ini dan menyambar teropongnya. Biarpun dia memiliki ilmu tinggi dan pandang matanya jauh lebih awas daripada mata orang biasa, namun dibandingkan dengan kekuatan teropong itu ia masih kalah jauh. Ia lalu memakai teropong itu dan menujukan pandangannya ke utara, kemudian ia berkata girang.
“Tidak salah lagi! Itulah Pulau Es! Kita berhasil….!” Teriaknya
Tentu saja hatinya girang ketika ia melihat sebuah puJau yang putih diliputi salju dan melihat samar-samar sebuah bangunan indah di tengah pulau, dibagian yang agak tingi. Akan tetapi pada saat itu terdengar teriakan ngeri dan empat orang perwira Mancu roboh terjungkal dan tewas seketika. Seperti iblis-iblis penghuni pulau, muncullah empat orang kakek yang pakaiannya basah kuyup, dan biarpun keadaan empat orang kakek ini cukup payah karena terendam di air laut terlalu lama, namun mereka itu dapat dikenal sebagai Ma-bin Lo-mo, Si Muka Tengkorak Swi Coan, Kek Bu Hwesio, dan Si Muka Bopeng Ouw Kian! Mereka herhasil mendarat pula dan begitu muncul, mereka berempat menyerang empat orang perwira yang roboh dan tewas seketika!
“Iblis Muka Kuda! Engkau masih belum mampus?" teriak Setan Sotak dengan nyaring dan terheran-heran.
"Si Botak yang buruk! Bukan aku, melainkan engkaulah yang akan mampus!" balas Ma-bin Lo-mo yang segera maju menerjang Si Setan Botak. Adapun tiga orang pembantunya sudah dikurung oleh dua puluh enam orang perwira Mancu. Pertandingan hebat din mati-matian terjadilah di pulau kosong itu. Terjangan Ma-bin Lo-mo sudah disambut dengan tangkisan Kang-thouw-kwi. Dua buah lengan yang amat kuat bertemu dan keduanya terpental ke belakang. Biarpun hawa sakti yang tersalur di tangan mereka berlawanan dan amat berbeda, yang seorang adalah ahli Yang-kang dan yang ke dua adalah ahli Im-kang, namun karena tingkat mereka sudah amat tinggi dan seimbang, keduanya terpental keras dan masing-masing harus mengakui bahwa lawan tldak boleh dipandang ringan. Maka mereka segera saling menggempur dengan hati-hati sekali, karena mereka maklum bahwa satu kali saja terkena pukuJan lawan, berarti bahaya maut mengancam nyawa mereka.
Pertandingan antara tiga orang pembantu Ma-bin Lo-mo yang dikeroyok dua puluh enam orang perwira Mancu juga berjalan dengan sengit dan mati-matian. Para perwira itu bukanlah perajurit-perajurit sembarangan, melainkan perwira-perwira pilihan yang sengaja diutus oleh kaisar untuk mencari Pulau Es di bawah pimpinan Setan Botak. Mereka mengeroyok dengan senjata golok mereka secara teratur dan tidak serampangan karena mereka pun tahu bahwa tiga orang itu adalah orang-orang sakti yang berilmu tinggi. Kalau saja tiga orang sakti itu berada dalam keadaan segar seperti biasa, biarpun dikeroyok dua puluh enam orang, tipis harapan bagi para perwira itu untuk dapat menang. Akan tetapi tiga orang pembantu Ma-bin Lo-mo itu telah mengalami penderitaan hebat ketika mereka menempel pada tubuh perahu yang diombang-ambingkan gelombang lautan. Gempuran-gempuran air laut membuat mereka lelah sekali, kehabisan tenaga, ditambah ketegangan yang mengerikan, sehingga kini ketika mereka menghadapi pertempuran, tenaga mereka tinggal setengahnya. Hal inilah yang membuat mereka terdesak hebat dan terancam. Sampai puluhan jurus, mereka bertiga belum juga mampu merobohkan seorang di antara para perwira yang bekerja sama secara rapi dan membalas dengan serangan-serangan berganda yang ganas.
Antara Gak Liat Si Setan Botak dan Siangkoan Lee Si Iblis Muka Kuda terjadilah pertandingan yang seru dan hebat. Keduanya sekali ini dapat melanjutkan pertandingan beberapa tahun yang lalu dan sungguhpun mereka itu merupakan dua di antara para datuk yang enggan untuk saling bermusuhan, apalagi saling membunuh, namun pertandingan sekali ini lain lagi sifatnya. Pulau Es sudah tampak di depan mata, dan satu sama lain merupakan penghalang terbesar untuk dapat memiliki semua pusaka di pulau itu yang diidam-idamkan oleh golongan kang-ouw seluruhnya, baik dari kaum bersih maupun kaum sesat. Mereka ini para tokoh kang-ouw, sudah tahu bahwa Pulau Es itu merupakan tempat bertapa Kaoi-lojin, seorang mewa yang memiliki kesaktian luar biasa dan yang telah meninggalkan benda-benda pusaka termasuk kitab-kitab pelajaran segala macam ilmu di pulau itu. Karena ingin mendapatkan benda pusaka, kini Gak Liat dan Siangkoan Lee bertanding mati-matian, maklum bahwa sebelum berhasil menewaskan lawan berat ini, tak mungkin mereka itu akan dapat mencapai idam-idaman hati masing-masing.
Setelah lewat kurang lebih satu jam, pertandingan antara Gak Liat dan Siangkoan Lee masih berlangsung seru dan sukar untuk diduga siapa diantara mereka yang lebih unggul dan akan mencapai kemenangan. Memang sudah tentu sekali seorang di antara mereka akan kalah, akan tetapi hal ini tentu akan terjadi lama sekali, mungkin sehari penuh, atau dua bahkan tiga hari. Dan dapat diduga pula bahwa kalau sampai terjadi seorang di antara mereka kalah dan tewas, dia yang menang tentu takkan keluar sebagai pemenang yang utuh, sedikitnya tentu akan mengalami luka-luka parah.
Namun dalam pertempuran kurang lebih satu jam itu, telah terjadi perubahan pada pertandingan antara dua orang pembantu Ma-bin Lo-mo dengan para perwira. Tiga orang sakti itu mengamuk hebat sekali, melupakan kelelahan tubuh nereka karena mereka maklum bahwa kalau mereka tidak dapat keluar sebagai pemenang, mereka akan tewas di pulau kosong itu. Swi Coan si muka tengkorak sudah menggunakan senjatanya yang ampuh, sebuah thi-pian, yaitu sebatang pecut besi yang biasanya ia libatkan di pinggang sebagai sabuk. Pecut besi itu kini menyambar-nyambar dan mengeluarkan suara meledak-ledak seperti halilintar yang menyambar-nyambar di atas kepala para pengeroyoknya yang amat banyak jumlahnya itu. Adapun Kek Bu hwesio tokoh Kong-thong-pai yang meyeleweng itu menggunakan senjatanya yang kelihatan sederhana namun sesungguhnya tidak kalah ampuhnya, yaitu jubahnya sendiri yang kini ia lolos dan dipergunakan sebagai senjata. Jangan dipandang ringan senjata ini, karena di tangan pendeta kosen ini, jubah itu dapat menjadi lemas dan dipakai melibat senjata lawan, juga dapat menjadi kaku seperti sebatang tongkat baja. Ouw Kian si muka bopeng telah mempergunakan senjata pedang, sebatang pedang yang lemas sekali, tipis namun amat keras dan tajam sehingga ketika di mainkan, berubah menjadi segulung sinar putih yang membentuk lingkaran-lingkaran dan melindungi tubuhnya dari atas ke bawah dari hujan golok yang dilancarkan oleh para pengeroyoknya.
Betapapun lihainya tiga orang tokoh ini dengan senjata-senjata mereka yang ampuh, namun jumlah pengeroyok terlalu banyak sehingga setiap kali senjata-senjata mereka itu menyambar, tentu akan bertemu dengan tangkisan delapan sampai sembilan batang golok di tangan para perwira Mancu yang rata-rata memiliki tenaga besar. Setelah pertandingan ini berjalan kurang lebih satu jam, mereka itu masing-masing telah menewaskan dua pengeroyok sehingga ada enam orang perwira yang roboh tewas, akan tetapi mereka bertiga pun tidak luput daripada luka-luka bacokan golok. Biarpun luka-luka itu tidak parah, hanya merobek kulit dan melukai sedikit daging, namun darah yang keluar membuat mereka menjadi makin lemas dan mulailah mereka merasa khawatir karena kalau dilanjutkan, agaknya mereka itu sendiri akan roboh biarpun mungkin mereka akan dapat menewaskan lebih banyak lawan lagi. Dengan demikian, keadaan tiga orang pembantu Ma-bin Lo-mo ini terancam bahaya, sedangkan keadaan Ma-bin Lo-mo sendiri pun belum pasti, kesempatannya untuk menang masih setengah-tengah atau paling banyak dia hanya menang seusap saja.
Pertandingan yang berlangsung amat serunya ini membuat mereka semua tidak sempat memperhatikan soal-soal lain yang terjadi di sekitar pulau kosong itu. Tidak tahu betapa dari sebelah belakang pulau mendarat pula sebuah perahu layar yang keadaannya pun tidak lebih baik daripada perahu Mancu, dan jelas tampak bekas-bekas amukan badai sehingga layar perahu ini sebagian kecil robek-robek, tiangnya ada sebuah yang patah. Tidak melihat betapa dari perahu ini meloncat turun ke darat tujuh orang yang gerakannya ringan dan gesit, tanda bahwa mereka itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Mereka itu terdiri dari tujuh orang kakek yang usianya paling sedikit lima puluh tahun, dan di punggung masing-masing tampak menggemblok sebatang pedang yang gagangnya terukir indah dan dihias ronce-ronce beraneka warna, ada yang merah, hijau, kuning dan biru.
Siapakah mereka ini? Para pembaca sudah mengenal mereka, karena tujuh orang kakek gagah perkasa ini bukan lain adalah Siauw-lim Chit-kiam (Tujuh Pedang Siauw-lim-pai), jago-jago pedang dari Siauw-lim-pai yang telah terkenal keampuhan ilmu pedang mereka. Seperti juga para tokoh kang-ouw yang lain, mereka ini tertarik akan Pulau Es, bahkan sekali ini atas perintah ketua Siauw-lim-pai, mereka menggunakan perahu untuk mencari pulau rahasia itu setelah mendengar bahwa pemerintah Mancu juga menaruh minat atas pulau yang mengandung benda-benda pusaka yang amat penting bagi dunia persilatan itu. Dan seperti juga halnya perahu-perahu Mancu dan Ma-bin Lo-mo, Siauw-lim Chit-kiam ini pun diserang badai sehingga perahu mereka dipermainkan gelombang tanpa mereka dapat berbuat sesuatu yang berarti. Tenaga manusia, betapapun kuat dan pandainya mereka, akan tampak kecil tak berarti setelah berhadapan dengan kekuasaan alam yang maha hebat. Akhirnya, tanpa mereka kehendaki, perahu mereka juga terdampar pada pulau kosong itu seperti juga perahu Mancu, hanya bedanya, mereka terdampar di pantai yang berlawanan dengan pantai di mana perahu Mancu mendarat.
Siauw-lim Chit-kiam tidak membawa teropong seperti yang dimiliki para perwira Mancu, maka pandangan mata mereka tidak dapat mencapai Pulau Es yang tampak samar-samar di jauh. Karena ini, mereka tidak tahu bahwa Pulau Es yang diidam-idamkan berada tak jauh lagi dari pulau kosong ini. Mereka lalu mendarat dan tiba-tiba mereka melihat pertandingan hebat yang sedang berlangsung di pantai yang berlawanan itu. Sebagai orang-orang gagah tentu saja mereka tertarik sekali menyaksikan pertandingan mati-matian itu, maka tanpa dikomando mereka lalu berloncatan mendekati tempat pertandingan.
Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika mendapat kenyataan bahwa yang sedang bertanding itu adalah Setan Botak Gak Liat melawan Iblis Muka Kuda Siangkoan Lee, dan banyak sekali perwira Mancu mengeroyok tiga orang kakek yang keadaannya telah payah dan terancam hebat. Siauw-lim Chit-kiam mengenal siapa adanya dua orang kakek sakti yang bertanding mati-matian itu, tahu bahwa mereka itu keduanya adalah datuk-datuk sesat yang berwatak aneh dan kejam luar biasa. Bahkan mereka pun hampir saja tewas di tangan Setan Botak Gak Liat ketika Setan Botak itu membasmi anak buah Lauw-pangcu. Mereka pun tahu bahwa Ma-bin Lo-mo adalah seorang datuk kaum sesat yang amat kejam dan jahat, yang tidak patut dijadikan sahabat maupun sekutu sungguhpun mereka tahu pula betapa kakek sakti ini membenci penjajah Mancu.
Akan tetapi kini menyaksikan pertandingan itu, tidaklah sukar bagi mereka untuk memihak. Bukan sekali-kali karena mereka menaruh simpati kepada Ma-bin Lo-mo sama sekali tidak. Mereka sebagai tokoh-tokoh Siauw-lim-pai yang bernama bersih dan terkenal sebagai pendekar-pendekar pedang yang gagah, tentu saja tidak sudi bersekutu dengan manusia iblis seperti Ma-bin Lo-mo. Akan tetapi mereka memiliki permusuhan pribadi dengan Kang-thouw-kwi Gak Liat. Permusuhan itu timbul ketika keponakan wanita mereka, yaitu Bi-kiam Khok Khim, anak murid Siauw-lim-pai yang cantik, telah menjadi korban kekejian Gak Liat, telah diperkosa oleh Setan Botak ini. Di samping permusuhan pribadi ini, juga mereka teringat akan pembasmian anak buah Lauw-pangcu oleh Set an Botak. Semua ini ditambah lagi dengan kenyataan sekarang betapa Gak Liat bersekutu dengan para perwira Mancu, yaitu perwira-perwira penjajah. Tentu saja kenyataan-kenyataan ini memudahkan Siauw-lim Chit-kiam untuk memihak dan serta-merta mereka mencabut pedang sambil menghampiri Gak Liat yang masih bertanding seru melawan Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee.
"Kang-thouw-kwi, bersiaplah untuk menerima hukuman atas dosa-dosamu!" bentak Song Kai Sin yang menjadi wakil dari para sutenya. Bentakan ini pun merupakan isyarat komando karena serentak mereka bertujuh sudah menggerakkan pedang mereka sehingga tampak sinar pedang mereka bergulung-gulung dan terdengar suara bercuitan nyaring sekali. Gak Liat terkejut bukan main melihat munclnnya tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai yang menjadi musuhnya ini. Kalau saja dia tidak sedang menghadapi Ma-bin Lo-mo yang lihai, tentu dia tidak gentar menghadapi Siauw-lim Chit-kiam. Akan tetapi di situ ada Ma-bin Lo-mo, dan dia sudah pernah bertanding melawan Siauw-lim Chit-kiam yang kalau bergabung merupakan lawan yang amat tangguh pula. Kini melihat gulungan sinar pedang itu, ia mengeluarkan seruan keras dan cepat melempar tubuhnya ke belakang, menggunakan tenaga dorongan Ma-bin Lo-mo sehingga tubuhnya terjengkang lalu bergulingan cepat sekali, tahu-tahu ia sudah meloncat ke depan Song Kai Sin yang berada paling dekat lalu mengirim pukulan Hwi-yang Sin-ciang!
Maklum akan lihainya pukulan ini Song Kai Sin meloncat jauh namun hawa pukulan itu masih menyerempet pundaknya sehingga ia terhuyung. Pada saat itu, enam orang sutenya sudah menyerang secara berbareng kepada Gak Liat, sedangkan Ma-bin Lo-mo sendiri yang tidak menyia-nyiakan kesempatan sudah mengirim pukulan Swat-im Sin-ciang kepada Setan Botak itu.
Gak Liat terkejut setengah mati. Ia tahu bahwa pukulan Ma-bin Lo-mo yang paling berbahaya maka ia cepat menangkis dengan lengan kirinya. “Dukkk!” Sekali lagi tubuh kedua orang ini terpental dan Gak Liat cepat mengelak sambil mendorong dengan tangannya ke arah enam sinar pedang, akan tetapi biarpun ia berhasil meloloskan diri dari cengkeraman maut, pundaknya masih tergurat pedang sehingga bajunya robek dan pundak berdarah! Pada saat itu, sebuah dorongan datang lagi dari Ma-bin Lo-mo. Gak Liat mencoba menangkis, namun gerakannya kurang cepat sehingga ia terdorong ke belakang dan kembali sebuah tusukan pedang mengenai pangkal lengan kirinya. Kakek ini mengeluarkan gerengan keras dan menggulingkan tubuhnya menjauhi para pengeroyoknya.
"Ha-ha-ha." Ma-bin Lo-mo tertawa dan mendadak kakek ini membalik dan mengirim pukulan Swat-im Sin-ciang kepada tujuh orang Siauw-lim-pai itu. Serangan ini benar-benar amat tidak terduga sehingga kedua kakak beradik Oei Swan dan Oei Kiong roboh terguling dengan muka menjadi pucat sekali. Untung bahwa pukulan itu ditangkis oleh saudara-saudara mereka sehingga tenaganya banyak berkurang. Mereka hanya terluka di sebelah dalam yang tidak terlalu parah, hanya membuat tubuh mereka menggigil kedinhinan, namun setelah bersila sebentar mengerahkan sinkang, rasa dingin itu lenyap!
Siauw-lim Chit-kiam kini bersatu dan mereka kini terpecah menjadi tiga kelompok, tidak bergerak-gerak dan saling memandang, menanti fihak lawan bergerak lebih dulu. Mereka menjadi bingung sendiri karena maklum bahwa mereka tidak boleh saling bantu. Bagi Siauw-lim Chit-kiam, keadaan mereka paling sulit. Kalau dibuat ukuran, di antara mereka tiga kelompok, kedudukan Siauw-lim Chit-kiam yang paling lemah. Kalau, mereka mengeroyok Gak Liat dengan bantuan Ma-bin Lo-mo, tentu mereka akan berhasil membalas dendam dan membunuh Setan Botak, akan tetapi mereka tahu bahwa watak Ma-bin Lo-mo amat aneh sehingga mereka itu akhirnya pasti akan berhadapan dengan Iblis Muka Kuda yang berhati palsu ini! Kalau mereka kini menghadapi Ma-bin Lo-mo dan Setan Botak membantu mereka, tentu Ma-bin Lo-mo akan dirobohkan, akan tetapi mereka pun akan diserang oleh Gak Liat yang mempunyai banyak kawan perwira-perwira Mancu.
Si Setan Botak Gak Liat yang tadinya merasa khawatir sekali melihat munculnya Siauw-lim Chit-kiam, kini tertawa bergelak melihat Ma-bin Lo-mo menyerang mereka. Ia maklum bahwa bukan sekali-kali hal itu dijakukan oleh Si Muka Kuda karena memiliki rasa setia kawan terhadap dirinya. Sama sekali bukan. Ia tahu bahwa Ma-bin Lo-mo menganggap bahwa orang-orang Siauw-lim-pai itu sebagai pesaing juga dalam memperebutkan pusaka-pusaka Pulau Es! Maka ia tertawa bergelak dan berkata.
"Ha-ha-ha, Iblis Muka Kuda! Kiranya engkau cerdik juga. Pulau Es sudah tampak di depan mata, kalau kita mati-matian saling gempur, akhirnya kita berdua roboh den enak sekali bagi tikus-tikus Siauw-lim ini. Kita menjadi seperti dua ekor anjing tua memperebutkan tulang dan akhirnya tikus-tikus ini yang akan mendapat tulangnya. Ha-ha-ha!"
Mendengar ini, Siauw-lim Chit-kiam tercengang dan jantung mereka berdebar. Pulau Es sudah di de pan mata? Benarkah Pulau Es sudah dekat dengan pulau kosong ini? Adapun Ma-bin Lo-mo juga bersiap-siap. Kalau tadi ia menyerang Siauw-lim Chit-kiam, bukan sekali-kali ia hendak menolong Gak Liat. Ia melihat Gak Liat sudah terluka sehingga kini pasti ia akan dapat mengalahkan Setan Botak itu. Ia tahu bahwa setelah ia mengalahkan Setan Botak, tentu tenaganya tinggal sedikit karena lelah dan Siauw-lim Chit-kiam ini bukanlah lawan yang empuk. Dan ia pun tahu bahwa mereka bertujuh ini tentu akan mendahuluinya mengambil pusaka-pusaka Pulau Es kalau tidak dapat ia binasakan bersama dengan Setan Botak. Kini ia meragu dan bersikap hati-hati karena kalau sampai Setan Botak dapat membujuk mereka ini menghadapinya, ia akan celaka!
Pada saat itu, tujuh orang Siauw-lim Chit-kiam yang setelah mendengar disebutnya Pulau Es lalu mencari-cari dengan pandang mata mereka, tiba-tiba mereka itu melihat ke kiri dan menjadi bengong. Melihat keadaan mereka ini, Ma-bin Lo-mo dan Kang-thouw-kwi ikut pula menengok dan mereka pun terkejut dan melongo. Apakah yang mereka lihat? Kiranya para perwira yang jumlahnya tinggal dua puluh orang mengeroyok tiga orang pembantu Ma-bin Lo-mo yang sudah terluka dan mulai kehabisan tenaga itu pun sekarang telah menghentikan pertempuran mereka. Akan tetapi mereka itu bukan berhenti bertempur dalam keadaan sewajarnya. Mereka itu masih dalam sikap bertanding, bahkan berhenti di tengah-tengah gerakan silat akan tetapi sudah menjadi kaku seperti berubah menjadi arca-arca batu! Tahulah orang-orang sakti yang memandang heran bahwa dua puluh orang Mancu dan tiga orang pembantu Ma-bin Lo-mo itu dalam keadaan kaku karena tertotok jalan darah mereka! Kalau dua puluh orang perwira Mancu itu sampai menjadi kaku tertotok, hal ini tidaklah amat mengherankan benar. Akan tetapi tiga orang pembantu Ma-bin Lo-mo adalah orang-orang berilmu tinggi, tidak mudah tertotok begitu saja. Dan hebatnya, mereka itu, dua puluh tiga orang banyaknya, tertotok dalam waktu yang serentak, padahal mereka itu sedang bergerak-gerak cepat dalam pertandingan mati-matian. Manusia mana yang sanggup melakukan totokan seperti itu?
Kenyataan inilah yang membuat mereka makin terbelalak memandang ketika tampak seorang kakek yang bertubuh tegap tinggi muncul di pantai. Sebuah perahu nelayan kecil tampak di belakangnya dan kini kakek ini melangkah perlahan-l.ahan menuju ke tempat mereka. Kakek itu tidak dapat dilihat mukanya karena tertutup oleh sebuah caping nelayan yang amat lebar. Hanya dapat dilihat betapa pakaiannya amat sederhana, pakaian seorang nelayan miskin. Biarpun kini dia sudah melangkah makin dekat, sembilan orang sakti itu tetap tidak dapat melihat mukanya yang terus terlindungi caping lebar. Langkahnya perlahan dan sikapnya amat tenang, namun kehadirannya ini membuat seorang sakti dan ganas macam Kang-thouw-kwi dan Ma-bin Lo-mo sekalipun menjadi bergidik.
Siauw-lim Chit-kiam juga tidak mengenal kakek nelayan ini. Akan tetapi gerak-gerik kakek ini yang penuh dengan ketenangan, wibawa yang seolah-olah tergetar keluar dari sikap kakek ini mengingatkan mereka akan guru mereka, Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim-pai. Oleh karena itu, mereka segera tunduk dan maklum bahwa mereka bertemu dengan seorang sakti yang menyembunyikan diri. Dipelopori oleh Song Kai Sin, tujuh orang gagah ini menekuk lutut kanan memberi hormat dan berkatalah Song Kai Sin.
"Teecu bertujuh Siauw-lim Chit-kiam menghaturkan hormat kepada Locianpwe dan mohon maaf apabila teecu sekalian mengganggu tempat kediaman Locianpwe tanpa disengaja. Mohon Locianpwe memperkenalkan diri."
Kakek nelayan itu tetap menyembunyikan mukanya di balik caping lebar dan terdengarlah suaranya yang halus dan penuh getaran kesabaran dan welas asih, "Chit-wi-sicu datang di pulau kosong milik alam, aku nelayan tua mana bias mempunyai pulau ini? Jauh-jauh menempuh bahaya mencari apa? Lebih baik pulang melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat bagi dunia dan manusia."
Sementara itu, Ma-bin Lo-mo dan Kang-thouw-kwi yang menyaksikan keadaan kakek ini, menjadi khawatir hati mereka. Sikap kakek ini jelas membayangkan bahwa kakek ini pasti akan berfihak kepada Siauw-lim Chit-kiam, karena itu mereka pikir lebih baik turun tangan lebih dulu selagi kakek ini tidak memperhatikan. Seperti telah bermufakat terlebih dahulu, kedua orang sakti ini tiba-tiba saja menyerang dari kanan kiri. Setan Botak melancarkan pukulan Hwi-yang Sin-ciang dari arah kanan kakek itu sedangkan dalam detik yang sama, Ma-bin Lo-mo menyerang dengan pukulan Swat-im Sin-ciang dari kiri. Siauw-lim Chit-kiam terkejut sekali akan tetapi mereka tidak sempat lagi berbuat apa-apa, selain itu, menghadapi dua pukulan dahsyat ini, mereka dapat berbuat apakah? Akan tetapi kakek itu dengan sikap tenang sekali mengembangkan kedua lengannya ke kanan kiri.
“Dessss…..! Desssss….!”
Dorongan kedua orang kakek sakti dari kanan kiri itu bertemu dengan lengan kakek nelayan yang dikembangkan. Tenaga mujijat yang tak tampak bertumbuk di udara dan akibatnya hebat sekali. Kakek nelayan masih berdiri tenang dan kini sudah menurunkan kembali kedua lengannya yang dikembangkan, bahkan lalu bersedakap, tetapi Setan Botak dan Iblis Muka Kuda jatuh terduduk. Muka Setan Botak menjadi merah sekali dan kepalanya mengepulkan asap, sedangkan Iblis Muka Kuda menjadi pucat kebiruan mukanya den tubuhnya menggigil, keduanya cepat bersila mengerahkan sinkang masing-masing untuk memulihkan getaran yang membuat mereka hampir tidak dapat bertahan itu karena tenaga sakti mereka tadi membalik dan menyerang diri mereka sendiri.
Kakek nelayan itu bersenandung, suaranya lirih namun jelas terdengar, "Tenaga Im dan Yang adalah hebat sekali dan Ji-Wi telah dapat menguasainya. Sayang, tenaga murni sehebat itu bukan dipergunakan untuk menyebar kebaikan, melainkan untuk memupuk keburukan, sungguh sayang karena akibatnya akan menimpa diri sendiri...”
Setan Botak dan Iblis Muka Kuda itu terbelalak dan mulut mereka berseru kaget, “Koai-lojin.....!”
Pada saat itu, Siauw-lim Chit-kiam yanng melihat betapa dua orang kakek iblis itu menyerang Si kakek nelayan, sudah siap dengan pedang mereka dan kini melihat kesempatan baik, tujuh sinar pedang menyambar ke arah Setan Botak yang jatuhnya lebih dekat dengan mereka. Kejadiah ini amat cepatnya sehingga Kang-thouw-kwi Gak Liat sendiri hanya terbelalak, tak kuasa menghindarkan diri karena dia sendiri masih lemah oleh getaran yang diakibatkan tangkisan kakek nelayan. Ia maklum bahwa nyawanya berada di ujung rambut, maka ia hanya mengeluh dan memandang terbelalak.
Mendadak kakek nelayan itu mengibaskan lengan kanannya ke depan, telapak tangannya mendorong ke arah sinar pedang dan..... “Trangggg....!!” Tujuh batang pedang itu runtuh semua di atas tanah dan tujuh orang pendekar Siauw-lim-pai itu meloncat ke belakang dengan muka pucat. Kembali kakek itu bersenandung, suaranya tetap halus dan tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa yang penting.
"Tujuh pedang lihai takkan ada gunanya kalau titik sasarannya terpencar, jika titik sasaran dipusatkan, alangkah akan kuatnya..."
Tujuh orang pendekar pedang itu terkejut dan menjadi girang sekali karena mereka mendapat petunjuk yang menjadi rahasia kekuatan ilmu pedang mereka dan yang tak pernah mereka pikirkan, maka mereka cepat mengambil pedang masing-masing dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek nelayan ini yang mereka ketahui adalah Koai-lojin, manusia dewa yang pernah mereka dengar disebut-sebut suhu mereka namun yang tak pernah mereka jumpai itu.
"Hendaknya Cu-wi sekalian kembali ke tempat asal masing-masing. Tiada gunanya memperebutkan pusaka karena pusaka yang diperebutkan melalui cucuran darah orang lain hanya akan mendatangkan kutuk. Mencari sesuatu harus dengan cucuran keringat sendiri, bukan dengan cucuran darah orang lain. Dan kalau tidak berjodoh, takkan mendapat.
“Hendaknya segera Cu-wi meninggalkan tempat berbahaya ini dan kiranya kepandaian Cu-wi sudah lebih dari cukup untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan manusia.” Dia berpaling ke arah Ma-bin Lo-mo dan berkata.
“Siangkoan-sicu kehilangan perahu, boleh menggunakan perahu nelayanku yang berada di sana itu. Nah, selamat berlayar."
Kakek nelayan itu sudah duduk bersila di atas tanah. Kiranya di bawah capingnya yang lebar itu terdapat tirai sutera hitam yang menyembunyikan mukanya, akan tetapi dari balik tirai sutera hitam itu tampak sepasang mata yang mengeluarkan cahaya lembut namun penuh wibawa sehingga mereka yang berada di situ, terrnasuk Gak Liat dan Siangkoan Lee yang biasanya ganas seperti iblis, tidak berani membantah lagi.
Gak Liat bersungut-sungut dan mengumpulkan sisa para perwira Mancu yang kini tiba-tiba dapat bergerak kembali yang menandakan bahwa totokan itu memang dilakukan dengan sengaja menghentikan gerakan mereka untuk beberapa menit saja. Akan tetapi buyarlah harapan Gak Liat yang diam-diam masih hendak mencari Pulau Es ketika secara aneh sekali semua teropong yang berada di situ telah lenyap. Mereka berbondong-bondong kembali ke perahu sambil membawa mayat teman-teman mereka, dan betapa heran dan mendongkol hati Gak Liat ketika mendapat kenyataan bahwa teropong-teropong yang disimpan di perahu juga lenyap semua. Terpaksa mereka melayarkan perahu dan mencari-cari secara ngawur saja, namun akhirnya tidak berhasil juga dan karena daerah itu banyak diserang badai, mereka akhirnya pergi ke selatan. Demikian pula dengan Ma-bin Lo-mo dan tiga orang pembantunya. Dengan perahu nelayan kecil mereka tidak berani mengambil resiko diserang badai, maka mereka juga berlayar kembali ke selatan. Siauw-lim Chit-kiam meninggalkan pulau itu dan mereka langsung berlayar kembali ke selatan. Di waktu semua orang meninggalkan pulau, terdengar lapat-lapat suara nyanyian kakek neJayan:
 
"Yang tidak ingin itu cukup dan puas
Yang ingin itu kurang dan kecewa!
Yang tidak mencari akan mendapat
Yang mencari akan sia-sia....!
Yang ada tidak dimanfaatkan
Yang tidak ada dicari-cari!"
 
Tak lama kemudian, setelah tiga buah perahu itu mulai mengecil dan hanya tampak sebagai titik hitam di kaki langit, tampak kakek nelayan ini meninggalkan pulau. Dilihat dari jauh, dia seolah-olah melayang di atas air dengan jubah berkibar-kibar tertiup angin. Akan tetapi andaikata ada yang dapat melihat dari dekat, akan tampaklah betapa kakek nelayan yang aneh ini sesungguhnya berdiri di atas dua batang bambu dan bambu itu meluncur cepat ke depan karena jubah kakek itu tertiup angin dan sengaja dikembangkan sehingga menjadi pengganti layar!
***
"Han-ko....! Sadarlah! Engkau sudah tiga hari tiga malam di situ!" Lulu berteriak sambil berdiri bertolak pinggang di pondok taman, memandang kepada Han Han yang duduk bersila tanpa sepatu di atas batu es. Sebagian tubuh dan di atas kepala Han Han penuh dengan salju membeku. Di belakangnya, biruang es sedang menggaruk-garuk salju yang menutup air, agaknya dia menciumm ikan di bawah situ.
Lulu kini bukanlah Lulu enam tahun yang lalu. Ketika datang ke pulau itu terbawa perahu bersama Han Han, usianya baru sembilan tahun. Kini dia telah menjadi seorang gadis remaja berusia lima belas tahun, berwajah cantik dengan sepasang mata lebar dan indah, tubuhnya ramping kecil namun singset dan padat membayangkan tenaga sakti yang amat kuat. Adapun Han Han yang duduk bersila itu pun bukan kanak-kanak lagi sekarang. Dia kini telah berusia delapan belas tahun, telah menjadi seorang jejaka remaja yang tampan dan gagah, tubuhnya tinggi tegap, dadanya bidang pinggangnya kecil, tubuhnya kelihatan kuat sekali dan bibirnya selalu tersenyum, akan tetapi matanya mengeluarkan sinar yang aneh dan jarang ada orang akan dapat bertahan bertemu pandang dengan pemuda luar biasa itu. Dia sedang melatih diri dan kini Han Han yang tekun berlatih menghimpun Im-kang selama enam tahun itu telah memperoleh kemajuan yang amat mentakjubkan. Tenaga sinkang yang ia kerahkan menjadi Im-kang amat dahsyat sehingga sekali dorong dengan kekuatan Im-kang, ia dapat membuat air membeku seketika menjadi gumpalan es yang besar! Dan kalau dia sedang melatih diri, dia sengaja duduk di luar, membiarkan dirinya diserang hujan salju dan ia bertelanjang kaki. Namun hawa dingin tidak lagi mengganggunya karena dengan tenaga sinkang ia telah membuat tubuhnya lebih dingin daripada yang di luar dirinya, sehingga tubuhnya seolah-olah berubah menjadi es dan salju yang melekat pada tubuhnya
sampai membeku!
"Koko! Terlalu sekali kau! Masa aku kaudiamkan sampai tiga hari tiga malam? Benar-benar kakak yang tidak menyayang adik!" Lulu membanting-banting kaki kanannya dengan jengkel!
Akan tetapi Han Han sama sekali tidak mendengar ucapan adiknya ini karena dia masih tenggelam ke dalam samadhi. Alisnya berkerut, wajahnya berseri dan bibirnya yang tersenyum itu membayangkan senyum yang mengejek. Dalam keadaan terlelap itu timbul bayangan-bayangan yang menyenangkan hatinya, yaitu betapa dengan amat mudahnya ia menangkap para perwira yang dahulu membasmi keluarga orang tuanya, dan membawa mereka itu ke pulau ini, kemudian melaksanakan pembalasannya dengan memuaskan sekali. Ia memikirkan dan mencari-cari cara yang paling mengerikan, paling kejam dan paling menyakitkan untuk membunuh musuh-musuhnya itu sedikit demikian sedikit, untuk menyiksa mereka dengan siksaan-siksaan yang mengalahkan siksaan di dalam neraka seperti yang pernah ia baca dalam kitab-kitab. Dan ia telah mencurahkan segala perhatiannya kepada cara-cara penyiksaan ini ketika ia mulai siulian, tepat seperti cara mencurahkan perhatian dalam samadhi seperti yang pernah diajarkan Toat-beng Ciu-sian-li kepadanya. Tidaklah mengherankan apabila wajahnya kini mengandung sinar yang kejam karena pemuda ini tanpa disadari telah melatih diri dengan ilmu yang amat sesat.
"Han-ko... Han-ko.... tolong..... Paman Beruang diserang ular....!”
Kalau lulu hanya mengomel dan marah-marah, kiranya Han Han takkan dapat sadar dari keadaan samadhinya. Akan tetapi mendengar adiknya yang dicintanya itu menjerit minta tolong, seketika ia sadar dan membuka matanya. Setelah pikirannya yang tadi sedang membayangkan siksaan yang paling kejam terhadap musuh-musubnya sudah mulai terang, ia menoleh. Dilihatnya Lulu, sedang menarik seekor ular dari leher biruang yang terkapar di atas salju sambil berkelojotan. Dia merasa heran sekali mengapa biruang es yang selain bertenaga besar, juga kebal kulitnya dan dapat bergerak sigap itu kini terkapar hanya oleh gigitan seekor ular merah darah yang entah bagaimana tadi menggigit leher biruang dan membelit leher itu.
Pada waktu itu, Lulu telah menjadi seorang gadis remaja yang memiliki kepandaian tinggi. Dengan pengerahan sin-kang, ia dapat merenggut tubuh ular itu terlepas dari tubuh biruang dan ular merah itu tiba-tiba melejit sehingga terlepaslah pegangan tangan Lulu karena ular itu licin dan tenaganya ketika melejit besar sekali. Ular merah yang panjangnya ada semeter dan besarnya hanya seibu jari kaki itu kini meluncur dari bawah dan menyerang ke arah leher Lulu! Namun gadis ini sudah menyambar dengan tangannya dan dengan gerakan manis dan tepat sekali jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya sudah menangkap dan menjepit leher ular itu. Ia mengangkat tinggi-tinggi tangannya, dua buah jarinya yang kecil itu seperti sepasang sumpit menjepit, dan ular itu .tidak dapat melepaskan dirinya lagi, hanya dapat meronta-ronta dan mulai melibat tangan Lulu yang menjadi jijik dan geli.
Ketika merasa betapa tubuh ular yang licin dan panas itu menggeliat-geliat dan membelit-belit tangannya, bulu tengkuk Lulu berdiri dan ia sudah siap mencengkeram kepala ular dan diremas hancur dengan tangan kiri.
"Tunggu, Moi-moi. Jangan bunuh dulu!" tiba-tiba Han Han meloncat dan sekali tubuhnya bergerak, ia telah berada di depan lulu. Gerakan Han Han benar-benar luar biasa cepatnya dan ginkang yang tidak lumrah manusia biasa ini pun ia dapatkan dari hasil latihan-latihannya yang menyeleweng.
"Mau apa kau? Enak-enak saja siulian dan setelah ular jahat ini kutangkap, tidak boleh kubunuh!" Lulu mengomel.
"Jangan dibunuh begitu saja. Terlalu enak bagi ular keparat itu kalau dibunuh begitu saja. Lihat apa yang telah ia lakukan. Lihat Paman Biruang itu!" Han Han menunjuk ke bawah, Lulu menengok ke arah biruang dan gadis ini mengeluarkan jerit. Han Han cepat menyambar ular itu dan ia pegang pada lehernya. Dengan mudah ia melepaskan belitan tubuh ular dari tangan lulu dan gadis ini pun tidak mempedulikan lagi kepada ular itu, melainkan cepat menubruk tubuh biruang sambil memekik-mekik memanggil.
"Paman Biruang.... Paman.....! Akan tetapi biruang es itu telah mati dalam keadaan yang mengerikan karena mukanya yarig putih menjadi biru sedangkan kulit pada telapak keempat kakinya ada totol-totol merah.
Sampai lama Lulu menangisi biruang yang mati itu. Kemudian baru Lulu teringat mengapa Han Han tidak ikut menangisi biruang yang mati. Ketika ia menengok, ia melihat Han Han berdiri di bawah pohon yang tidak berdaun, entah sedang melakukan apa, hanya tampak olehnya asap mengebul seolah-olah kakaknya itu sedang membakar sesuatu.
"Apa yang kaulakukan itu, Koko?" Lulu bangkit berdiri dan berlari menghampiri kakaknya. Ketika melihat apa yang dilakukan Han Han, gadis ini memandang dengan mata terbelalak. Ternyata Han Han telah mengikat leher dan ekor ular itu dengan akar halus dan menggantung binatang itu di pohon, kemudian menggunakan sebatang ranting kering yang bernyala untuk membakar ular itu sedikit demi sedikit! Ular itu menggeliat-geliat kepanasan akan tetapi Han Han tidak membakarnya terus melainkan menyentuh-nyentuh tubuh ular dengan api, menyiksanya dengan kejam sekali, seolah-olah merasa puas dan gembira menyaksikan betapa ular itu menggeliat-geliat dan berkelojotan. Andaikata ular itu dapat bersuara, tentu sudah melolong karena kesakitan.
"Han-ko, kenapa tidak kaubunuh saja dia?”
"Ha-ha, terlalu enak kalau dibunuh begitu saja, Lulu. Biar dia rasakan hukumannya dan dalam penderitaan sakit ini biar dia sadar akan dosanya telah membunuh Paman Biruang. Lihat dia menggeliat-geliat berkelojotan! Setelah dia cukup tersiksa, akan kuambil darahnya untuk kita minum!"
"Ihhh, jijik! Aku tidak mau!"
"Mengapa, Lulu? Ingat, ular ini kulitnya berwarna merah, dan gigitannya amat berbisa. Aku pernah membaca kitab yang menyatakan bahwa makin berbisa seekor ular, makin lezat dan makin banyak khasiat darah dan dagingnya. Selain untuk menikmati darahnya dan dagingnya, juga kalau kita makan dia, berarti kita membalaskan sakit hati Paman Biruang! Apakah kau tidak ingin membalas dendam kematian raman, Biruang?"
"Tentu saja! Biar kuhancurkan kepalanya!"
"Eiiiiit, jangan! Dia harus dihukum dan kalau dibunuh sekarang, darahnya akan membeku. Darahnya akan kuambil dan kita minum, kemudian dagingnya kita bakar dan kita makan. Biar arwah Paman Biruang melihatnya dan menjadi puas. Kepalanya kita kubur bersama mayat Paman Biruang." Berkata demikian, sinar mata Han Han bercahaya penuh kepuasan.
"Koko, kau tidak menengok... dia....?" Lulu menuding ke arah tubuh biruang
yang sudah menjadi mayat.
"Perlu apa? Dia sudah mati. Dia bukan Paman Biruang lagi, dia adalah bangkai yang akan kita kubur nanti. Nah, kau lihat, aku akan mengambil darah ular keparat ini." Setelah berkata demikian, Han Han mengambil sebuah cawan dari dalam rumah, kemudian dengan kekuatan tangannya ia merobek kulit dan daging di bagian ekor ular itu. Binatang ini berkelojotan dan darah yang merah sekali mulai menetes-netes keluar yang segera ditadahi Han Han ke dalam cawan. Makin deras darah menetes, makin keras tubuh ular menggeliat dan makin berseri wajah Han Han. Lebih setengah jam darah itu bertetesan sampai setengah cawan, kemudian tubuh ular itu makin lemah menggeliat dan akhirnya hanya bergerak-gerak lemas, darahnya tidak menetes lagi. Han Han membawa cawan darah itu ke dekat mayat biruang di mana Lulu berlutut sambil membelai bulu biruang dengan penuh kesedihan.
"Lulu, mari kita minum darah ini di depan mayat Paman Biruang sebagai tanda pembalasan terhadap ular." Setelah berkata demikian, Han Han minum sebagian besar darah ular itu dari cawan, kemudian menyerahkan cawan dengan sisa darahnya kepada Lulu.
Lulu menerima cawan itu, mukanya berkerut dan menyeringai. "Ihhh, aku... jijik...., Koko!”
"Lulu," kata Han Han sambil menjilat sedikit darah ular di bibirnya dengan lidahnya. "Rasanya manis dan enak pula .apakah kau tidak mau menyenangkan
arwah Paman Biruang? Dia saat ini mungkin sedang menggereng marah meliha ketidaksetiaanmu."
Lulu bergidik dan memandang ke kanan kiri seolah-olah mencari arwah itu, kemudian ia menengok ke arah bangkai biruang itu. Kebetulan sekali muka biruang itu menghadapnya dan biruang itu mati dengan mata terbuka. Dalam pandangan Lulu, seolah-olah mata biruang yang sudah mati itu mendelik marah
kepadanya! Kembali ia bergidik, kemudian sambil meramkan matanya ia minum darah ular itu sampai habis. Memang benar ada rasa manis, akan tetapi baunya amis dan ia harus menahan diri dengan meraba leher agar jangan muntah.
"Koko.... badanku.... menjadi panas....!"
"Bagus! Itu tandanya bahwa darah ular ini benar-benar besar khasiatnya, Lulu. Nah, sekarang kaubantu aku memanggang daging ular, kita makan didepan mayat Paman Biruang sebagai upacara sembahyang, kemudian kita kubur mayat Paman Biruang bersama kepala ular yang tadi menggigitnya, agar di akherat Paman Biruang dapat mengejek dan menyiksa ular yang hanya tinggal
kepalanya saja."
Ular itu sudah mati dan karenanya Lulu tidak jijik lagi. Han Han menguliti ular itu setelah memenggal kepalanya yang ia putar dan patahkan begitu saja dengan jari-jari tangannya yang kuat. Kepala ular itu ia taruh ke dalam telapak kaki depan biruang, kemudian Lulu memanggang daging ular yang putih kemerahan itu.
“Upacara" makan daging panggang ular itu lebih menyenangkan bagi Lulu, karena ternyata bahwa daging itu benar-benar gurih dan sedap lezat sehingga sebentar saja habislah daging ular sepanjang satu meter itu! Setelah itu, mereka lalu menggali lubang sampai tampak tanah dan terus menggali sedalam satu meter lebih, kemudian mengubur mayat biruang bersama kepala ular. Lulu menangis terisak-isak ketika mereka menguruk lubang itu. Teringat kepada biruang yang selama enam tahun menjadi kawan bermain dan kawan berlatih silat, Lulu menjadi berduka sekali den terus menangis di atas gundukan salju yang menjadi kuburan biruang. Han Han membiarkan adiknya menangis. Dia lalu pergi mencari batu untuk dijadikan batu nisan kuburan biruang es. Ia mendapatkan sebuah batu lonjong yang terpendam setengahnya dalam salju. Dengan tenaganya yang besar ia mencabut batu ini dan heranlah ia melihat betapa di bagian tengah dan bawah batu itu terdapat ukirukiran huruf. Cepat ia membersihkan batu itu dari tanah dan salju, kemudian membaca huruf-huruf terukir itu.
"Betapa menjemukan ular salju merah itu! Aku datang ke sini untuk menjauhi wanita, dan daging ular itu membuat aku menderita hebat! Dan hari ini, tiga hari kemudian, pulau diserbu ribuan ekor ular salju merah, memaksa aku harus pergi. Keparat! Pulau Es ini pulau terkutuk, agaknya tanah di bawahnya menjadi istana ular-ular salju merah! Ataukah nenek moyangku yang terkutuk sehingga Suma Hoat tidak berjodoh dengan Pulau Es?"
Demikianlah bunyi tulisan itu dan jantung Han Han berdebar. Penulis itu bernama Suma Hoat? Teringatlah ia akan patung yang dipuja di In-kok-san, yang menurut cerita Ma-bin Lo-mo dan Kim Cu adalah sucouw mereka bernama Suma Kiat! Dan menurut cerita itu selanjutnya, Ma-bin Lo-mo mempunyai seorang suheng yang menjadi perantau, yang ilmu kepandaiannya tinggi sekali, yaitu putera tunggal sucouw itu dan bernama Suma Hoat! Kalau begitu, suheng dari Ma-bjn Lo-mo itukah penghuni Pulau Es? Patung pria yang tampan itu adakah itu Suma Hoat? Akan tetapi coretan, huruf terukir di batu ini amat jauh bedanya dengan tulisan-tulisan di dinding istana yang amat indah. Coretan ini huruf-hurufnya buruk dan kasar. Disebut pula tentang ular salju merah. Apakah ular yang telah membunuh biruang?
Akan tetapi Han Han tidak mempedulikan lagi. Semua yang ada hubungannya dengan In-kok-san tidak menarik hatinya, apalagi kalau ia teringat betapa ia terancam hukuman potong kaki oleh perguruan itu. Membaca tulisan Suma Hoat itu mengingatkan dia bahwa sampai kini pun tetap ia terancam bahaya hukuman itu. Cepat ia mengangkat batu itu dan meletakkannya di depan kuburan biruang, dengan ukiran huruf-huruf itu ia taruh di bawah agar tidak tampak!
Ditaruhnya batu nisan di depan kuburan ini membuat Lulu menangis makin keras, sampai gadis ini tersedu-sedu. Han Han memeluknya, kemudian setengah
memaksanya bangkit berdiri dan menuntunnya ke dalam pondok di taman.
"Sudahlah, Adikku. Untuk apa ditangisi lagi? Biar engkau menangis air mata darah sekalipun, Paman Biruang tidak akan dapat hidup kembali. Ketahuilah bahwa kini mungkin dia sedang enak-enak mengganyang kepala ular yang membunuhnya.!"
Akan tetapi hiburan ini tidak menghentikan tangis Lulu yang karena kematian biruang jadi teringat akan kematian orang tuanya. Gadis itu terisak-isak menangis sambil bersandar di dada Han Han. Akhirnya pemuda itu mendiamkannya saja dan tiupan angin laut membuat gadis yang berduka itu akhirnya tertidur di dalam pelukannya. Han Han merasa tubuhnya panas dan aneh sekali ada ribuan ekor semut di balik kulit tubuhnya merayap-rayap. Angin bersilir sejuk dan akhirnya ia pun tertidur sambil duduk di lantai pondok yang terbuat daripada marmer, dengan Lulu masih bersandar di dadanya.
Mereka berdua tertidur seperti orang mabuk, tidur nyenyak sehingga tidak tahu betapa malam telah tiba. Malam bulan purnama clan cahaya bulan menerobos masuk ke dalam pondok yang tidak berdinding itu. Hawa udara pun amat dinginnya. Namun aneh sekali, kedua orang muda itu berpeluh!
"Han-ko..... ah, Han-ko....."
Han Han membuka matanya, jantungnya berdenyut-denyut tidak karuan, tubuhnya panas dan telinganya mendengar suara terngiang-ngiang. Suara panggilan Lulu seperti mengambang di atas lautan suara mengiang itu. Ia melihat wajah Lulu dekat sekali di atas dadanya, wajah yang cantik jelita, bersinar-sinar keemasan tertimpa sinar bulan. Sepasang mata yang lebar dan indah itu kini seperti berlinang air, memandang kepadanya dengan aneh. Cuping hidung yang kecil itu kembang-kempis, seolah-olah sukar bernapas dan mulut yang kecil itu pun terbuka, membantu pernapasan hidung. Ada apakah dengan Lulu? Dan apa yang terjadi pada dirinya? Ia merasa panas sekali!
“Lulu...!”
"Han-koko....!" Suara gadis itu seperti mengerang lirih, muka mereka berdekatan, pandang mata mereka melekat dan ada dorongan aneh yang membuat Han Han menundukkan mukanya, menyentuh dahi adiknya dengan hidung. Belaian seperti ini tidaklah aneh bagi mereka. Sudah sering kali kalau menghibur adiknya, ia mencium dahi atau pipi Lulu. Akan tetapi begitu hidungnya menyentuh dahi adiknya, jantungnya berdebar keras sekali, napasnya sesak. Ia seperti mencium bau harum yang tak pernah selamanya ia alami, dan ia terus mencium, bahkan kini dengan bibirnya, dengan mulutnya! Gilakah dia? Han Han masih sadar akan hal yang tidak semestinya ini, dan dia menjadi makin kaget ketika merasa betapa Lulu juga membalas menciumnya, tidak seperti biasa, melainkan ciuman yang penuh nafsu panas sehingga akhirnya mulut mereka bertemu dalam ciuman, mesra. Akan tetapi keduanya seperti terkejut dan keduanya merenggut muka masing-masing, saling pandang dengan mata terbelalak dan malu, kemudian Han Han melepaskan pelukannya, pura-pura tidak sadar akan apa yang baru saja terjadi.
“Aku... aku.... panas sekali....” dengan suara terputus-putus Han Han berkata lirih untuk menutupi hal yang baru saja terjadi.
"Aku pun.... begitu..... Koko...." Lulu juga bicara dengan bingung sambil berusaha mengelakkan pandang mata mereka agar jangan bertemu.
Han Han yang merasa betapa tubuhnya menjadi panas dan tidak karuan rasanya, menekan ketegangan yang ditimbulkan oleh ciuman tidak semestinya tadi dengan tertawa aneh. "Heh mungkin racun ular hemmm, tidak tertahankan panasnya, lebih baik kubuka bajuku!"
Karena dia sudah biasa dalam latihannya membuka baju atasnya di depan Lulu, maka ia sekarang membuka bajunya dengan maksud agar keadaan perasaannya biasa kembali. Akan tetapi kini pandang mata Lulu menatap setiap gerakannya, dan mata yang lebar itu memandangnya penuh kemesraan, memandang tubuh atasnya yang telanjang itu dengan pandang mata luar biasa.
"Lulu! Kau kenapa?" Han Han membentak karena pandang mata itu seperti menembus dadanya dan mendatangkan rangsang yang lebih hebat lagi. Ia seingaja membentak marah untuk menutupi perasaannya.
Lulu terkejut dan menggeleng-geleng kepala. Pipi gadis itu menjadi merah seperti dibakar dan pandang matanya seperti orang mabuk. "Entahlah...... aku...... pun merasa panas sekali, tak tertahankan, Koko....." Gadis itu seperti dalam keadaan tidak sadar membuka kancing bajunya bagian atas sehingga tampaklah pakaian dalamnya yang tipis. Han Han meramkan matanya dan meloncat bangun. Ia mengerahkan seluruh sinkangnya untuk melawan perasaan panas ini, akan tetapi hasilnya malah membuat tubuhnya makin panas, lalu berubah dingin, dan seluruh tubuh seperti dimasuki gelembung-gelembung tenaga mujijat yang membuat ia merasa seperti sebuah bola karena penuh angin. Ia mengeluh danterhuyung-huyung.
"Han-ko....., kau kenapa..... hati-hati, kau bisa jatuh!" Lulu meloncat bangun dan memeluk kakaknya untuk mencegah kakaknya terguling. Akan tetapi sentuhan tubuh mereka yang tadinya sebagai sentuhan seperti biasa itu mendatangkan getaran yang mujijat dan mereka akhirnya berpelukan dan kembali mereka berciuman dengan penuh nafsu, penuh gairah dan dalam keadaan tidak atau setengah sadar! Seluruh hati dan pikiran mereka sepenuhnya dikuasai oleh nafsu yang bergolak tak tertahankan, membuat darah mereka mendidih dan pikiran mereka gelap. Mereka lupa segala, saling membelai mesra, berdekapan dengan mata dipejamkan. Ketika Han Han membuka mata dan melihat betapa tanpa disadari ia hampir menelanjangi Lulu yang tidak melawan bahkan membantunya penuh gairah nafsu berahi, ia terkejut seperti disambar halilintar. Kekuatan batin dan sinkang Han Han jauh lebih besar daripada Lulu, maka ia masih dapat sadar dan cepat ia mendorong tubuh adiknya itu sehingga Lulu terhuyung dan roboh terlentang dengan napas terengah-engah dan mata terpejam, tubuh menggeliat-geliat.
"Lulu! Itti tidak benar! Engkau Adikku!!" Han Han berkata, berteriak dengan suara nyaring.
"Han-ko..... ahhh, Han-ko..... jangan tinggalkan aku.... aku bukan Adikmu,
Han-ko.....!"
"Gila!" Han Han membentak lagi, menahan diri sekuatnya agar tidak menubruk dan memeluk gadis itu, melanjutkan hasrat berahi yang memenuhi benak dan hatinya. "Kita keracunan! Ular merah itu! Keparat....!" Terlintas dalam benaknya bunyi tulisan pada batu dan kini mengertilah ia mengapa Suma Hoat mengutuk ular salju merah. Agaknya Suma Hoat juga makan daging dan darah ular itu dan merasa pula rangsangan nafsu berahi seperti ini. Teringat akan ini, Han Han lalu mengeluarkan pekik menyeramkan dan tubuhnya meloncat keluar dari dalam pondok itu. Ia berlari-lari seperti orang gila menjauhi pondok dan ketika ia tiba di pantai yang berbatu-batu, ia lalu mengamuk. Dipergunakan kaki tangannya untuk memukul, menendang, dengan pengerahan tenaga sinkang, kadang-kadang menggunakan tenaga inti Hwi-yang Sin-ciang di luar kesadarannya, akan tetapi lebih banyak ia menggunakan tenaga Im-kang. Terdengar bunyi ledakan-ledakan keras ketika batu-batu besar itu pecah berantakan oleh amukan Han Han yang seperti telah menjadi gila. Han Han terus mengamuk sepanjang malam sampai pagi, sampai habis tenaga sinkangnya dan ia menggunakan tenaga biasa sehingga kaki dan tangannya luka-luka dan akhirnya ia roboh pingsan di antara batu-batu yang sudah hancur berantakan itu.
Matahari telah naik tinggi ketika Lulu mengguncang-guncang tubuh Han Han yang menggeletak di pantai, tubuh atas telanjang, tangan kaki luka-luka. Gadis itu menangis dan memanggil-manggil.
"Han-koko…. Han-ko….. jangan tinggalkan aku…..! Han-ko…..!!"
Han Han membuka matanya, mengejap-ngejapkan matanya karena silau oleh sinar matahari.
"Han-ko, kau kenapakah ?" Lulu bertanya penuh kekhawatiran, air mata masih membasahi kedua pipinya.
Han Han menggoyang-goyang kepalanya mengusir sisa kepeningannya. Juga mengusir pemandangan yang aneh. Kini, melihat wajah Lulu yang cantik, sepasang pipi yang merah itu, ia merasa berbeda dari biasanya. Tidak seperti biasanya ia memandang gadis ini seperti adiknya. Kecantikan Lulu kini menyentuh hatinya dan membingungkannya, sungguhpun gairah gila seperti yang mendorongnya malam tadi sudah lenyap.
"Tidak apa…. Aku….. aku hanya mimpi buruk….. tanpa sadar, kuhantami batu-batu ini…." ia melihat kaki dan tangannya yang lecet-lecet.
"Aku pun mimpi, Koko. Mimpi aneh akan tetapi indah sekali….."
"Mimpi apa?" Han Han memandang tajam, diam-diam memaki diri sendiri nengapa kini Lulu tampak lain dalam pandangannya.
"Aku tadi pagi terbangun di pondok taman dan….. dan pakaianku tidak karuan, aku mimpi….. engkau seperti bukan Kakakku, melainkan…. ah, sungguh aneh akan tetapi aku aku senang sekali, Koko…." Dan gadis itu menundukkan mukanya. Kedua pipinya menjadi makin kemerahan sampai ke telinganya.
"Hushhh! Kau gila! Kita keracunan ular keparat itu!"
Lulu memandang muka Han Han penuh selidik. Gadis ini masih terlalu murni dan polos dan dia bertanya, "Betulkah, Koko? Keracunan ular itu? Akan tetapi…., setelah mimpi itu, aku…. heran sekali, kau seperti bukan Kakakku dan aku khawatir kalau-kalau kau akan meninggalkan aku…”
"Sudahlah, jangan berpikir yang bukan-bukan. Lulu, kita harus meninggalkan pulau ini." Ucapan ini dikeluarkan dengan suara tetap karena di dalam hatinya Han Han maklum bahwa makin lama mereka berada di pulau itu, makin besar bahayanya dan ia khawatir bahwa akhirnya ia tidak akan kuat bertahan. Ia mengeraskan hatinya, memusatkan tenaga batinnya dan kemauannya untuk mengambil keputusan bahwa gadis ini adalah adiknya, adiknya! Ia merasa kuat kini dan mulai berani memandang wajah Lulu lagi, diperkuat oleh kemauannya yang memaksa hati dan pikirannya bahwa Lulu adalah adiknya, bukan orang lain dan bahwa tidak boleh ia mencinta Lulu seperti perasaannya malam tadi. Lulu adiknya! Lulu adiknya! Kekuatan kemauan Han Han memang luar biasa dan ia sudah tenang kembali. Sambil tertawa ia menangkap tangan Lulu, diajak bangkit berdiri dan sambil berkelakar ia berkata.
"Kita harus membuat perahu, kita akan meninggalkan tempat ini secepat mungkin! Kau bocah malas, harus membantu!"
Kekuatan kemauan yang tetpancar keluar dari mat a Han Han mempengaruhi Lulu pula. Gadis itu pun menjadi biasa dan bertanya keras.
"Pergi ke mana, Koko?"
"Eh, anak bodoh dan pelupa. Apakah kau selamanya akan tinggal di pulau ini sampai menjadi nenek-nenek? Apakah kau tidak ingin rnencari musuh besarmu?"
Lulu menjadi bersemangat. "Betul! Kita harus pergi mencari musuh besar kita!"
Demikianlah, kedua orang muda itu lalu mulai membuat perahu. Han Han bukan seorang ahli maka tentu saja membuat perahu amatlah sukar baginya. Namun, berkat tenaga dan kemauannya yang kuat, tiga hari kemudian selesailah dia membuat sebuah rakit dari kain dan bambu seadanya, menggandeng-gandengnya dengan ikatan akar yang cukup kuat. Ia menyediakan dua buah cabang pohon untuk mendayung. Baru saja selesai ia mengikat sambungan terakhir, tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis keras sekali dan terdengar Lulu berlari-lari sambil menjerit-jerit.
"Ular….! Ular…..! Banyak sekali ular…..!"
Han Han terkejut dan menengok. Dilihatnya Lulu beriari-lari menghampirinya dengan wajah pucat penuh jijik dan dari jauh tampaklah ratusan, mungkin ribuan ekor ular merah mendatangi sambil mengeluarkan suara mendesis mengerikan sekali.
"Cepat! Naikkan bekal makanan dan air itu ke atas perahu!" teriak Han Han dan sibuklah mereka mengangkuti bekal makanan dan minuman ke atas perahu. Beberapa ekor ular merah sudah datang dekat dan Han Han membunuhnya dengan injakan-injakan kakinya pada kepala ular-ular itu. Setelah semua bekal diangkut ke perahu, Han Han lalu mendorong perahu rakit itu ke air dan bersama Lulu ia mendayung perahunya ke tengah laut.
Ular-ular itu agaknya tidak takut air, buktinya mereka itu terus mengejar dan berenang sambil terus mendesis-desis. Lulu yang merasa geli itu memukuli ular-ular terdekat dengan dayungnya. Tenaga pukulan gadis ini sudah kuat sekali sehingga dalam waktu singkat puluhan ekor ular mati dengan kepala remuk. Han Han mengerahkan tenaga mendayung perahu yang meluncur cepat sehingga mereka dapat meninggalkan ular-ular yang mengejar. Dari jauh, kedua orang anak muda itu memandang ke arah pulau dengan pandang mata sayu. Betapapun juga, selama enam tahun mereka hidup di pulau itu, Pulau Es yang tadinya amat indah, namun yang kini menjadi pulau ular yang menyeramkan. Dari jauh tampak warna merah ular-ular itu seolah-olah pulau itu penuh dengan bunga-bunga merah yang mulai mekar.
"Arah mana yang kita tuju ini, Han-ko?" tanya Lulu sambil membantu kakaknya mendayung.
"Arah selatan. Pulau Es adanya hanya di utara, maka kita harus kembali ke selatan."
"Bagaimana kau tahu bahwa arah yang kita tempuh ini menuju ke selatan?"
"Ha-ha, kau bodoh sekali! Kau tahu dari mana munculnya matahari?"
"Dari timur."
"Nah, kau lihat. Matahari yang baru muncul itu berada di sebelah kiri kita, berarti kita kini maju ke arah selatan."
Mulailah Han Han dan Lulu menuju kepada pengalaman-pengalaman baru dengan hati penuh ketegangan, juga kegembiraan karena mereka kini akan memasuki dunia ramai yang sudah enam tahun mereka tinggalkan. Bekal yang mereka bawa cukup banyak, juga mereka membawa bekal pakaian. Han Han tidak lupa untuk membawa kantung karet berisikan surat-surat peninggalan manusia sakti penghuni Pulau Es, karena sesuai dengan pesan di luar sampul, ia hendak menyampaikan surat-surat peninggalan itu kepada yang berhak sebagai tanda terima kasih dan tanda bakti kepada penghuni Pulau Es. Tentu saja ia tidak tahu kepada siapa surat itu akan diberikan, akan tetapi hal ini akan dia selidiki kelak.
Sungguhpun kedua orang muda itu, terutama sekali Han Han, kini telah merupakan seorang yang memiliki tenaga luar biasa dan jauh sekali bedanya dengan ketika dahulu menjadi tawanan Ma-bin Lo-mo, namun perjalanan pulang ini bukanlah merupakan perjalanan yang mudah. Apa.lagi kalau diingat bahwu perahu mereka bukanlah perahu biasa, melainkan hanya batang-batang kayu dan bambu disambung-sambung sehingga biarpun mereka dapat mendayung dengan kuat dan cepat, namun perahu yang melaju di laut bebas itu sering kali mundur lagi karena terbawa ombak. Juga dalam perjalanan selama belasan hari ini tiga kali mereka diserang badai yang ganas sehingga kalau saja mereka tidak kuat-kuat berpegang kepada rakit itu, tentu mereka sudah terlempar ke laut dan binasa. Perbekalan mereka hanya sedikit saja yang dapat diselamatkan selama mereka diserang badai dan akhirnya mereka harus berjuang melawan ombak selama tiga hari tiga malam, tanpa makan dan minum! Untung bahwa mereka berdua telah memiliki daya tahan yang luar biasa sehingga mereka hanya merasa lelah sekali ketika akhirnya mereka berhasil mendarat di pantai yang sunyi dan penuh dengan hutan liar.
Dapat dibayangkan betapa gembira hati mereka setelah dapat mendarat, melihat tanah dan pohon-pohon berdaun hijau. Selama enam tahun mereka tidak pernah melihat tanah karena daratan di Pulau Es itu seluruhnya tertutup salju dan es membatu.
Juga di Pulau Es, hanya ada beberapa macam tanaman saja yang dapat hidup dan berdaun, dan sekarang mereka melihat pohon-pohon raksasa yang hidup subur dengan daun-daun hijau.
Sambil tertawa-tawa kedua orang muda itu lalu mencari buah-buah yang dapat mereka makan dan ketika mereka menemukan buah-buah apel yang dapat dimakan dan sudah masak, mereka makan buah-buahan seperti seorang kelaparan! Han Han juga menangkap seekor rusa yang mereka panggang dagingnya dan sehari itu mereka berdua berpesta-pora dan makan dengan lahap sampai perut mereka penuh kekenyangan.
"Kita mendarat di mana, Koko?"
"Siapa tahu? Dan aku tidak peduli, pokoknya mendarat di tanah! Ah, Lulu, aku merasa seolah-olah hidup kembali! Mari kita melanjutkan perjalanan terus ke selatan. Akhirnya tentu kita bertemu manusia menuju ke kota raja!"
"Keluarga Ayahku dahulu tinggal di kota raja!" kata Lulu dengan suara terharu, teringat akan keluarganya yang sudah terbasmi habis.
"Dan musuh-musuhku tentu berada di kota raja pula!" kata Han Han penuh semangat dan terbayanglah wajah-wajah para perwira Mancu yang menjadi musuh besarnya. Dengan penuh semangat. clan kegembiraan, kedua orang muda itu melanjutkan perjalanan menuju ke barat, menjauhi pantai taut. Mereka melakukan perjalanan sampai belasan hari, naik turun gunung, masuk keluar hutan dan belum juga mereka bertemu dengan dusun yang ada manusianya. Namun mereka tidak menjadi putus asa dan terus melakukan perjalanan seenaknya. Mereka tidak tergesa-gesa karena tidak ada sesuatu yang memaksa mereka tergesa-gesa.
***
Kurang lebih dua bulan kemudian, setelah Han Han dan Lulu bertemu dengan dusun dan mendapat keterangan bahwa kota raja tidak jauh lagi berada di sebelah selatan, pada suatu pagi mereka memasuki sebuah hutan besar. Mereka mengikuti jalan yang masuk ke hutan itu, sebuah jalan umum yang biasa dipergunakan oleh orang yang melakukanperjalanan jauh. Ada tapak-tapak kereta menjalur panjang di jalan itu dan dengan hati gembira Han Han dan Lulu berjalan sambil melihat-lihat burung yang beterbangan di antara dahan-dahan pohon menyambut datangnya pagi dengan kicau dan tarian mereka dari dahan ke dahan.
Keadaan Han Han mengherankan orang-orang yang melihatnya. Pemuda ini bertubuh tegap dan jangkung, pakaiannya cukup bersih dan terbuat dari kain mahal, akan tetapi bentuknya sederhana. Yang amat menarik adalah rambutnya
yang dibiarkan terurai ke punggungnya, rambut yang hitam dan kaku mengkilap, tak pernah disisir karena Han Han memang sarna sekali tidak mempunyai keinginan untuk bersolek. Lebih hebat lagi adalah sepasang matanya. Mata itu kini merupakan dua buah benda yang mengeluarkan sinar aneh. Kadang-kadang tenang seperti air telaga, seperti orang termenung kehilangan semangat, kadang-kadang secara tiba-tiba menjadi amat tajam dan panas seperti mengandung bara api. Tidak pernah ada orang yang berani menentang pandang mata Han Han dan setlap orang yang beradu pandang menjadi ngeri mengkirik karena pandang mata itu seolah-olah menelanjangi mereka dan dapat menembus terus ke lubuk hati.
Lulu juga amat menarik perhatian orang, akan tetapi bukan karena anehnya, melainkan karena cantik jelitanya dan karena sikapnya yang polos dan tidak pernah malu-malu seperti gadis-gadis biasa. Sepasang mata gadis remaja inilah yang menjadi daya penarik luar biasa, sepasang mata yang lebar dan jeli, yang pandang matanya dapat membuat segala sesuatu di dunia ini tampak lebih cemerlang, lebih indah. Pakaian Lulu termasuk mewah dan indah karena gadis ini memang mengenakan pakaian-pakaian indah yang ia dapatkan di dalam kamarnya. Bahkan ia memakai pula sebuah anting-anting bermata mutiara yang amat besar dan mahal. Namun hanya sepasang anting-anting dan pita rambut sutera merah saja, yang menghias tubuhnya, dengan jikat pinggang kuning emas, baju berwarna merah muda dan sepatu putih. Gadis remaja ini benar cantik jelita mengagumkan semua pria yang memandangnya. Akan tetapi setiap orang pria yang memandang kagum, begitu bertemu pandang dengan kakak gadis itu, seketika mengkeret dan mundur teratur karena merasa ngeri.
"Koko, apakah kau mengetahui nama musuh-musuhmu, para perwira yang membunuh orang tuamu?"
Sebetulnya Han Han tidak pernah merasa suka membicarakan tentang musuh-musuhnya dengan adik angkatnya ini. Bukankah Lulu seorang anak perwira Mancu pula? Bicara tentang perwira-perwira Mancu yang menjadi musuh besarnya tentu mendatangkan rasa tidak enak dalam hati Lulu.
"Tidak, Lulu. Aku tidak tahu," jawabnya singkat.
"Tapi kau mengenal wajah mereka? Aku ingin sekali melihat mereka yang begitu kejam terhadap keluargamu, Koko. Engkau seorang yang begini baik. Kalau Ayahku masih ada, tentu perwira-perwira yang kejam itu akan dilaporkan dan dijatuhi hukuman! Aku masih ingat be tapa Ayah dahulu mencela keras perajurit-prajurit yang melakukan perampokan.
Han Han diam saja. Hemm, benarkah ayah Lulu perwira yang baik? Adakah perwira Mancu yang baik? Ma-bin Lo-mo dan semua murid In-kok-san mengutuk semua orang Mancu. Demikian banyaknya anak-anak yang menjadi murid Ma-bin Lo-mo adalah korban-korban kebiadaban orang-orang Mancu, termasuk Kim Cu. Bahkan Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak itu, baru menjadi kaki tangan Mancu saja sudah begitu kejamnya!
Orang-orang Mancu dan kaki tangannya adalah orang-orang yang seperti iblis! Akan tetapi, Han Han membantah sendiri pendapat ini, Ma-bin Lo-mo adalah seorang yang anti Mancu, akan tetapi mengapa kekejamannya tidak kalah oleh Gak Liat? Apakah semua orang yang berkepandaian tinggi di dunia ini adalah orang-orang berwatak iblis? Han Han menjadi bingung dan ia mengambil keputusan untuk menentang semua orang-orang yang berilmu tinggi!
"Bagaimana, Koko?"
“Ha….? Apa…..?”
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Apakah kau mengenal wajah mereka?"
Han Han mengangguk dan terbayanglah wajah tujuh orang perwira Mancu itu, terutama Si Muka Kuning dan Si Brewok. Yang lima lainnya juga akan dikenalinya setiap saat dan tujuh orang ini harus ia bunuh, lebih-lebih dua orang perwira yang telah memperkosa ibunya dan kakaknya! "Aku mengenal mereka, akan tetapi sukar dikatakan….. sudahlah, Lulu. Aku tidak suka membicarakan mereka."
"Baiklah, Han-ko. Memang sebuah kenang-kenangan yang tidak enak. Akan tetapi aku akan mencari Lauw-Pangcu….”
“Sukar, Lulu….”
"Mengapa sukar?" tanya Lulu dan memandang penuh selidik.
“Dia seorang pejuang….”
"Pemberontak, maksudmu?"
"Ya, pemberontak bagi fihak Mancu, pejuang bagi rakyat. Sama saja. Kalau tidak dia sudah mati, tentu dia selalu bersembunyi, sukar ditemukan….."
"Aku tidak khawatir. Ada engkau di sampingku, masa tidak dapat mencarinya? Kau tentu akan membantuku, Koko."
"Tentu saja, Moi-moi. Hanya, kurasa sukar melawan dia. Kau takkan menang,
dia lihai sekali."
"Kalau kau membantuku, tentu akan menang!" kata pula Lulu dengan suara mengandung penuh kepercayaan.
"Belum tentu. Kawan-kawannya banyak sekali dan amat lihai…."
Tiba-tiba terdengar bunyi derap kaki kuda dan bunyi roda kereta. Terpaksa Lulu menghentikan percakapan itu dan hati Han Han menjadi lega. Bagaimana ia dapat bicara dengan enak hati kalau pembicaraan itu mengenai permusuhan dengan Lauw-pangcu, gurunya yang pertama? Bagaimana nanti sikap Lauw Sin Lian puteri Lauw-pangcu kalau dia membantu Lulu memusuhi Lauw-pangcu?
Kereta yang lewat tak lama kemudian menyusul mereka itu adalah sebuah kereta besar ditarik oleh empat ekor kuda dan di dalamnya tidak ada penumpangnya, melainkan dua buah peti yang panjangnya ada dua meter, tinggi dan lebarnya satu meter. Dua buah peti itu ditaruh berjajar di dalam kereta dan di atas kereta hanya ada seorang kusir dan seorang laki-laki bersenjata golok. Di kanan kiri dan belakang kereta ada belasan orang berpakaian piauwsu (pengawal) yang dikepalai oleh seorang laki-laki berjenggot panjang. Mereka ini semua menunggang kuda, sikap mereka keren dan gerak-gerik mereka membayangkan bahwa para piauwsu ini memiliki kepandaian si!at yang tidak lemah. Ketika para piauwsu ini lewat, semua mata mereka ditujukan kepada Lulu dan mereka tertawa-tawa, pandang mata mereka kagum sekali. Han Han tidak mempedulikan hat ini, dan Lulu malah tersenyum, sama sekali dia tidak tahu bahwa mereka itu bersikap kurang ajar. Han Han hanya memperhatikan sebuah bendera di atas kereta, bendera yang bersulam gambar seekor burung garuda putih di atas dasar biru, dan empat huruf besar yang berbunyi HOA SAN PEK ENG (Garuda Putihdari Hoa-san) sedangkan di bawahnya terdapat dua huruf kecil yang berbunyi Piauwkiok (Perusahaan Pengawal Barang).
"Mereka itu ramah!" kata Lulu setelah rombongan piauwsu ini lewat. Han Han tidak menjawab. Dia juga tidak tahu bahwa seperti kebanyakan kaum pria kalau melihat wanita cantik, para piauwsu tadi tertawa-tawa dengan sikap kurang ajar, hanya ia harus mengakui bahwa mereka itu ramah sungguhpun keramahan mereka tidak menyenangkan hatinya.
"Hoa-san Pek-eng Piauwkiok! Apa artinya itu, Koko?"
"Mereka itu adalah rombongan piauwsu, yaitu pengawal-pengawal barang kiriman dan nama itu adalah merknya. Mungkin piauwkiok itu dipimpin oleh orang dari Hoa-san atau…. ah, benar juga. Agaknya pemimpinnya adalah seorang anak murid Hoa-san-pai."
"Kalau begitu, mereka itu adalah orang-orang kang-ouw, Koko! Kenapa tidak kaukatakan dari tadi?”
"Kalau mereka orang-orang kang-ouw, habis mau apa?"
"Ah, kita harus berkenalan dengan mereka. Tentu mereka dapat bercerita banyak tentang dunia kang-ouw. Bukankah engkau menjadi buronan In-kok-san? Dan engkau pun mencari tahu tentang penghuni Pulau Es, bukankah kau ingin menyampaikan surat-surat peninggalan manusia sakti itu? Mungkin sekali para piauwsu yang tentu banyak pengetahuannya tentang dunia kang-ouw, akan dapat memberi keterangan kepada kita."
"Wah, kau benar juga, Moi-moi. Mari kita kejar mereka!" Han Han lalu menggunakan kepandaiannya untuk berlari cepat dan Lulu juga cepat mengejarnya. Biarpun Lulu tidak dapat bergerak secepat Han Han, namun dibandingkan dengan orang biasa, gadis ini dapat berlari amat cepat karena ia memiliki keringanan tubuh, tenaga sinkang, dan napasnya tidak kalah panjang oleh napas kuda.
Lebih dari seperempat jam mereka berlari cepat dan hutan itu makin lebat. Ketika mereka tiba di bagian yang berbatu-batu, mereka mendengar suara ribut-ribut dan sayup-sayup terdengar pula suara beradunya senjata berdencing-dencing.
"Koko, ada orang bertempur….!"
"Hemmm, agaknya para piauwsu itu menghadapi musuh. Mari kita percepat lari kita!" Han Han mengerahkan tenaganya meloncat dan tentu saja Lulu tertinggal jauh. Akan tetapi Lulu sekarang bukan seperti Lulu enam tahun yang lalu. Dahulu ia penakut, akan tetapi sekarang Lulu menjadi seorang yang tabah dan pemberani, biarpun tertinggal di belakang ia tidak takut dan mempercepat juga larinya agar dapat sampai ke tempat pertempuran itu.
Dugaan Han Han ketika dia bicara dengan Lulu tadi memanglah tepat. Pek-eng-piauwkiok adalah sebuah piauwkiok yang kenamaan di kota Kwan-teng. Terkenal sebagai piauwkiok yang boleh dipercaya dan yang dapat menjamin keamanan semua barang kiriman sehingga tidak hanya para saudagar besar menjadi langganannya, bahkan para bangsawan yang mengirimkan barang-barang berharga selalu minta diantar dan dikawal oleh perusahaan pengawalan barang Garuda Putih ini. Hal ini bukan hanya karena Pek-eng-piauwkiok mempunyai banyak sekali piauwsu yang cakap dan kosen, melainkan terutama sekali karena piauwkiok itu dipimpin oleh seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ketua atau pemimpin piauwkiok ini adalah seorang tokoh Hoa-san-pai, seorang bekas pendekar perantauan yang gagah perkasa bernama Tan Bu Kong yang berjuluk Hoa-san Pek-eng (Garuda Putih dari Hoa-san). Setelah ia bosan merantau dan sudah berusia lima puluh tahun, juga mengingat bahwa sebagai seorang kepala keluarga tidak baik kalau dia menjadi perantau terus, ia membuka piauwkiok itu yang ia beri nama mengambil dari julukannya yang sudah terkenal. Dalam masa sepuluh tahun saja, nama piauwkiok itu menjadi terkenal sekali dan setiap pengiriman barang yang diberi tanda bendera piauwkiok ini tentu akan lewat dengan aman sampai ke tempat tujuan karena para perampok dan penjahat merasa segan untuk memusuhi Pek-eng-piauwkiok.
Setelah perusahaannya menjadi besar, Tan-piauwsu lalu mendatangkan adik-adik seperguruannya, yaitu anak-anak murid Hoa-san-opai yang masih menganggur untuk membantunya bekerja, mewakilinya mengantar barang-barang yang penting. Kiriman barang yang tidak begitu penting cukup dikawal oleh orang-orangnya yang kesemuanya adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi. Dengan demikian, selain ia dapat menjamin nafkah hidup para sutenya, juga mereka dapat berkumpul dan dapat melanjutkan cita-cita yangdipesansankan oleh guru besar Hoa-san-pai, yaitu diam-diam membantu perjuangan para patriot yang menentang kekuasaan pemerintah Mancu. Akan tetapi, perjuangan ini selalu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, karena pada waktu itu, kekuasaan pemerintah Mancu sudah terlalu
meluas dan hampir seluruh pedalaman telah diduduki sehingga perlawanan berupa perang terbuka takkan ada gunanya dan pasti akan mengalami kekalahan dan kegagalan. Dengan demikian, di samping tugasnya menjadi piauwkiok, Pek-eng-piauwkiok juga menjadi tempat rahasia dari para patriot untuk mengadakan pertemuan, perundingan, pengiriman barang-barang rahasia, dan juga pembantu dalam bidang pembiayaan.
Beberapa hari yang lalu, kantor pusat Pek-eng-piauwkiok di Kwan-teng kedatangan seorang wanita yang cantik jelita dan berpakaian mewah. Wanita ini datang berkuda dan melihat pakaiannya, mudah diketahui bahwa dia adalah seorang gadis Mancu yang berpengaruh dan berkuasa. Kedatangannya saja dikawal oleh selosin perajurit Mancu yang bersenjata lengkap. Adapun gadis cantik ini sendiri menunjukkan bahwa dia bukan gadis biasa, melainkan seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian. Hal ini dapat dilihat dari cara melompat turun dari kuda, dari gerak-geriknya yang gesit, dan dari cara bicaranya. Gadis bangsawan Mancu ini dengan suara keras menyatakan kepada para penjaga piauwkiok bahwa dia ingin berjumpa dengan ketua Pek-eng-piauwkiok!
Hati Tan-piauwsu merasa tidak enak, akan tetapi sebagai seorang tokoh kang-ouw yang berpengalaman, ia keluar dengan sikap tenang dan dengan sikap hormat ia menyambut gadis Mancu yang usianya kurang lebih delapan belas tahun itu. Ia memberi hormat, mempersilakannya duduk, menghidangkan air teh kemudian menanyakan maksud kedatangannya.
Biarpun gadis itu masih berpegang kepada kebiasaan lama, yaitu berpakaian sebagai seorang wanita bangsawan Mancu, namun setelah membuka mulut bicara, ternyata ia dapat berbicara bahasa Han dengan fasih sekali.
"Apakah saya berhadapan dengan Tan Bu Kong piauwsu sendiri yang berjuluk Hoa-san Pek-eng?"
Tan-piauwsu tidak menjadi heran menyaksikan lagak gadis muda ini. Dalam pengalamannya ia sudah banyak menyaksikan wanita-wanita yang berkepandaian, dan sudah mendengar bahwa di antara para tokoh Mancu banyak terdapat wa:a-wanita yang berilmu tinggi. Apalagi wanita-wanita yang berasal dari bangsa Khitan dan yang kini banyak masuk dalam pasukan Mancu sehingga pasukan itu merupakan pasukan gabungan yang amat kuat. Maka ia selu menjura dan menwab.
"Tidak salah dugaan Nona. Saya adalah Tan Bu Kong yang memimpin piauwkiok ini. Apakah yang dapat saya lakukan untukmu, Nona?"
"Pek-eng-piauwkiok adalah sebuah piauwkiok kenamaan yang katanya dapat menjamin keamanan setiap barang kiriman. Sampai di manakah kebenaran
berita itu?"
"Saya tidak perlu bersombong, Nona. Namun kenyataannya, selama sepuluh tahun ini, tidak ada barang kiriman yang tidak sampai di tempat tujuannya. Sungguhpun ada terjadi gangguan-gangguan di tengah jalan, namun semua gangguan dapat diatasi dan kami belum pernah merugikan para langganan kami."
Gadis itu tersenyum mengejek. Senyumnya manis sekali dan pasti akan mudah merobohkan hati setiap orang pria, akan tetapi di balik senyum ini membayang kekerasan hati yang dingin membeku sehingga diam-diam Tan-piauw-su bergidik. Wanita muda ini amat berbahaya, pikirnya.
"Hemmm, bagus kalau begitu. Saya memiliki dua buah peti kiriman yang harus dibawa ke Nam-keng. Apakah engkau berani menjamin bahwa barang-barang itu akan sampai ke tempat tujuan dengan seJamat, Tan-piauwsu?"
"Menjamin sampainya barang kiriman ke tempat tujuan dengan selamat adalah kewajiban mutlak setiap piauwkiok, Nona, karena itu, saya berani menjamin!"
Kembali senyum mengejek itu sehingga Tan-piauwsu menjadi mendongkol, akan tetapi segera ditutupnya dengan sikap hati-hati dan waspada.
"Bagaimana andaikata kiriman itu dirampok di tengah jalan?"
"Akan kami bela mati-matian!”
"Bagaimana andaikata….. hemmm, maaf, piauwsu. Bagaimana andaikata kalian gagal mempertaruhkan keselamatan barang-barang itu dan kemudian sampai terampas orang?"
"Hah! Tak mungkin! Dan kalau terjadi demikian…. hal ini….. tak ada lain jalan kecuali mengganti harga barang-barang kiriman itu."
Gadis itu tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi yang putih seperti mutiara. "Barang-barangku dalam dua peti itu biarpun diganti dengan seluruh benda milikmu ditambah milik penduduk kota ini masih takkan cukup, Tan-piauwsu! Dengar baik-baik. Aku menghendaki dua buah peti mati itu dikirimkan sekarang juga dan berapapun kau minta untuk biayanya akan kubayar! Akan te:api, kalau sampai hilang di jalan, tanggungannya adalah nyawamu! Engkau akan ditangkap dan dihukum mati sebagai pemberontak!"
Berubah wajah Tan-piauwsu dan ia nemandang gadis muda itu dengan alis :erangkat. "Mengapa begitu?"
"Tentu saja! Selama sepuluh tahun engkau mengawasi barang, kesemuanya selamat, akan tetapi sekarang mengawal benda penting dari seorang Puteri Mancu, kalau sampai hilang maka ini berarti bahwa kau sengaja membikin hilang dan berarti kau memusuhi pemerintah Mancu! Nah, sekarang kutanya engkau, Tan-piauwsu. Beranikah engkau mengawal barang-barangku ini ke Nam-keng?"
Ditanya begitu, Tan-piauwsu merasa tersinggung kehormatannya. Juga piauwsu yang berpengalaman luas ini berpikir bahwa kalau ia menolak, akan menimbulkan kesan bahwa dia anti kepada pemerintah Mancu. Ia percaya bahwa para tokoh kang-ouw tidak ada yang akan mengganggunya, apalagi di daerah selatan ia memiliki banyak sahabat dan namanya sudah terkenal. Siapa yang akan berani dan mau mengganggu barang kiriman yang dikawalnya?
"Baiklah! Akan tetapi karena jaminannya adalah nyawa, maka biaya pengirimannya tentu harus lipat sepuluh kali dari biasa!"
"Hi-hik! Jangankan sepuluh kali lipat, biar dua puluh kali pun kubayar sekarang juga. Nih, cukupkah?" Gadis itu mengeluarkan sebuah pundi-pundi uang dan melemparkannya di atas meja. Tan-piauwsu mengambilnya dan membuka. Matanya terbelalak melihat bahwa pundi-pundi itu isinya potongan-potongan emas belaka yang menurut taksirannya berharga tiga empat puluh kali daripada tarip biasa!
"Terlalu banyak! Saya tidak setamak itu dan nyawa saya yang tua pun tidak semahal ini," katanya tersenyum.
"Engkau benar-benar jujur dan gagah, Tan-piauwsu. Saya boleh berlapang dada kalau dua buah petiku itu dilindungi oleh Pek-eng-piauw-kiok. Biarlah semua emas itu kuserahkan kepada Pek-eng-piauwkiok, akan tetapi kuminta hari ini juga barang-barangku dikirim."
"Di manakah dua peti itu?"
Gadis itu kembali tersenyum. "Sudah tersedia di luar pintu piauwkiok ini!" Ia bertepuk tangan tiga kali dan selosin pengawalnya memberi hormat di depan pintu. "Bawa masuk dua peti ke sini."
Para pengawal mundur dan tak lama kemudian mereka masuk lagi menggotong dua buah peti yang panjangnya dua meter, lebar dan tingginya satu meter. Peti-peti itu terbuat dari kayu besi yang kuat dan keras, dicat keemasan dan selain kokoh kuat, juga rapi dan halus. Batas antara peti dan tutupnya tidak tampak sehingga agaknya untuk membuka peti itu jalan satu-satunya hanya merusaknya, yaitu membukanya secara paksa. Agaknya hal ini sengaja dilakukan untuk mencegah orang luar yang ingin tahu membuka peti-peti itu.
"Agaknya Nona tidak akan memberi tahu apa isi buah peti ini?" Tan-piauwsu memancing.
"Perlukah itu? Tugasmu hanya mengawal dan mengantar sampai ke tempat tujuan. Tentang isinya adalah rahasiaku, Tan-piauwsu."
"Baiklah, dalam waktu paling lama sebulan dua buah peti ini tentu akan tiba di tempat tujuannya di Nam-keng. Harap Nona suka memberi alamat penerimanya.”
Gadis Mancu itu lalu menuliskan alamat penerimanya dengan gerakan tangan cepat dan ternyata huruf-huruf tulisannya amat indah dan halus. Alamat di Nam-keng itu adalah alamat sebuah rumah penginapan!
"Eh, mengapa tidak ada nama penerimanya? Hanya nama penginapan."
"Tidak perlu karena penerimanya adalah aku sendiri yang tentu akan berada di rumah penginapan itu pada saat barang-barang itu tiba."
Tan-piauwsu tidak mau banyak bertanya lagi, padahal merupakan hal yang aneh kalau gadis ini menyatakan dapat berada di sana lebih dulu daripada rombongan piauwsu yang melakukan perjalanan cepat! Dia mulai menaruh curiga, akan tetapi untuk menjaga keselamatan diri dan piauwkioknya, dia tidak dapat menolak kiriman itu.
"Nah, sampai bertemu kembali, Tan-piauwsu! Hati-hati, kalau sampai gagal, aku sendiri yang akan memimpin pasukan untuk menangkapmu!" Setelah berkata demikian, gadis itu tertawa dan meninggalkan piauwkiok, dikawal oleh selosin orang perajurit. Suara derap kaki kuda mereka meninggalkan kesan yang menyeramkan bagi para piauwsu yang berada di situ, seolah-olah derap kaki kuda itu mendendangkan peringatan yang mengerikan.
Setelah gadis Mancu yang tidak memperkenalkan namanya bersama para perajurit Mancu Itu pergi, Tan-piauwsu cepat berkata kepada seorang di antara sutenya yang bertubuh kurus tinggi.
"Teng-sute, lekas kauselidiki ke mana mereka itu pergi!”.
Orang she Teng yang kurus itu mengangguk dan sekali berkelebat ia sudah lari keluar dari tempat itu. Dia memang ahli ginkang yang dapat berlari cepat sekali, maka dialah yang disuruh oleh Tan-piauwsu untuk mengejar rombongan gadis itu dan mengetahui dj mana tempat tinggal dan siapa gerangan gadis aneh itu. Kemudian Tan-piauwsu mengumpulkan lima orang sutenya yang lain dan diajaknya masuk ke ruangan dalam untuk berunding.
"Sute sekalian, gadis Mancu tadi amat mencurigakan. Aku dapat merasa yakin bahwa tentu ada sesuatu yang tidak beres. Tentu dia mengandung maksud tertentu di balik pengiriman ini."
"Aku pun berpikir demikian, Suheng. Mengapa Suheng tidak menolak saja tadi?" berkata sutenya yang tertua, seorang berusia lima puluh tahun lebih, berjenggot panjang dan bertubuh kecil pendek, namun bermata tajam. Dia ini adalah seorang Hoa-san-pai yang bernama Lie Cit San dan dialah merupakan orang ke dua di Pek-eng-piauwkiok karena tingkat kepandaiannya pun paling tinggi di antara para sute dari Tan-piauwsu.
"Tidak bisa menolak, Sute. Dia sudah sengaja memilih kita dan kalau aku menolak, dia memiliki alasan untuk mengecap kita sebagai pemberontak-pemberontak yang tidak mau mengawal barang milik seorang Puteri Mancu. Aku khawatir kalau-kalau rahasia perjuangan kita tercium oleh mereka dan sekarang ini mereka menggunakan ujian di balik pengiriman barang."
"Dugaanmu bagaimana, Suheng?"
"Ada dua kemungkinan. Kalau dia mau mengganggu kita, mungkin dia sendiri yang akan mempersiapkan orang-orangnya untuk merampas peti-peti itu di tengah jalan sehingga dengan mudah akan menghancurkan kita."
"Keji sekali! Akan tetapi kita akan lawan dia, Suheng!" kata Ok Sun, sutenya yang berangasan, seorang berusia tiga puluh lebih yang bertubuh kekar dan di pinggangnya tergantung sebuah golok besar.
"Tentu saja akan kita lawan, akan tetapi ada kemungkinan lain yang lebih melegakan hati. Yaitu mungkin ini hanya merupakan ujian bagi kesetiaan kita terhadap Pemerintah Mancu. Kalau benar demikian, kita akan selamat."
"Jangan-jangan dua peti itu terisi peralatan untuk menghancurkan kawan-kawan seperjuangan kita!" kata seorang sute lain.
"Hal itu tidak penting dan kurasa tidak demikian. Untuk menjaga kemungkinan pertama, yaitu gadis aneh itu mengerahkan orang-orang untuk mengganggu kita di jalan, aku sendiri akan mengawalnya!" kata Tan-piauwsu sambil mengepal tinju. Dia harus unjuk gigi, dan untuk menjaga nama baik Pek-eng-piauwkiok, akan dia lawan mati-matian setiap usaha untuk merampas dua buah peti itu.
Tiba-tiba Kwee Twan Giap, sutenya yang paling muda akan tetapi terkenal paling cerdik, berkata.
"Suheng, justeru inilah yang ku khawatirkan. Agaknya justeru pemikiran dan keputusan Twa-suheng ini yang sudah diperhitungkan mereka!"
“Apa maksudmu, Kwee-sute?"
"Bukan lain, tipu muslihat memancing harimau keluar dari sarang!"
Tan-piauwsu dan empat orang sutenya yang lain terkejut dan membelalakkan mata. Tan-piauwsu meninju meja di depannya. "Ah, tepat sekali, Sute! Mengapa hal yang mungkin sekali ini kulupakan? Memancing harimau keluar dari sarang! Ah, bisa jadi itulah inti dari rahasia pengiriman aneh ini. Kita harus bersiap-siap untuk kemungkinan itu!”
"Sebaiknya begini saja, Twa-suheng," kata pula sute termuda yang cerdik itu. "Pengawalan barang ini diserahkan saja kepada seorang di antara kami, karena untuk menghadapi gangguan di jalan, kurasa tidaklah amat berat. Apalagi kalau diingat bahwa perjalanan itu menuju ke Nam-keng. Daerah sepanjang perjalanan ke selatan penuh dengan sahabat-sahabat kita, sehingga kalau terjadi sesuatu, banyak sahabat yang dapat membantu. Adapun Suheng sendiri bersama para Suheng lainnya menjaga di sini untuk menghalau setiap gangguan dan juga untuk dapat melihat perkembangan, kalau perlu merundingkan dengan kawan-kawan seperjuangan yang datang dan lewat di kota ini."
Usul ini dapat diterima dan akhirnya Tan Bu Kong menetapkan Lie Cit San dan Ok Sun sebagai wakilnya mengawal dua buah peti itu, membawa pasukan piauwsu pilihan sebanyak lima belas orang. Berangkatlah hari itu juga dua orang piauwsu dan lima belas orang anak buahnya, mengawal dua buah peti yang dimasukkan ke dalam kereta yang ditarik empat ekor kuda besar.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, di dalam hutan, rombongan piauwsu ini bertemu dengan Han Han dan Lulu. Ketika dari jauh mereka melihat seorang pemuda dan seorang pemudi berjalan di hutan yang liar dan sunyi itu, Lie Cit San sudah menjadi curiga dan berbisik.
"Awas, semua siap sedia! Dua orang di depan itu mencurigakan!"
Demikianlah, rombongan piauwsu itu lewat dan ketika mereka melihat bahwa yang mereka curigai itu hanyalah seorarg pemuda sederhana dan seorang gadis remaja yang cantik, mereka tertawa-tawa dan memandang ke arah Lulu dengan kagum dan tentu saja timbul sifat-sifat kurang ajar mereka, sungguhpun di depan Lie Cit San dan Ok Sun para anak buah itu tidak berani mengeluarkan kata-kata yang kurang sopan.
Ketika rombongan ini tiba di tengah hutan, di bagian yang berbatu, mendadak muncul sembilan orang laki-laki yang gagah sikapnya dan mereka ini sengaja menghadang di tengah jalan. Usia sembilan orang ini dari dua puluh sampai empat puluh tahun dan melihat pakaian mereka yang rapi dan seperti biasa dipakai orang-orang yang pandai ilmu silat, mereka itu seperti bukan golongan perampok. Seorang di antara mereka, yang paling tua, sudah mengangkat tangan ke atas dan berseru.
"Pek-eng-piauwsu yang mengawal kereta, berhenti dulu!"
Lie Cit San yang menunggang kuda, segera mengajukan kudanya, mengerutkan kening dan matanya yang tajam memandang penuh selidik, kemudian bertanya.
"Sahabat-sahabat yang berada di depan siapakah dan apa maksudnya menghentikan kami? Hendaknya diketahui bahwa kami mewakili Suheng kami Hoa-san Pek-eng untuk mengawal barang-barang dalam kereta menuju ke Nam-keng. Harap sahabat-sahabat suka minggir dan membiarkan kami lewat!"
Sembilan orang laki-laki itu mengeluarkan suara marah dan yang tertua di antara mereka segera mengangkat tangan memberi isyarat agar teman-temannya bersikap tenang. Kemudian ia berkata kepada Lie Cit San.
"Orang-orang Hoa-san-pai amat sombongnya sehingga seperti buta, tidak membedakan orang! Kami bukanlah golongan perampok rendah yang menjadi sahabat para piauwsu! Kami adalah anak-anak murid Siauw-lim-pai yang sengaja mencegat kalian di sini untuk membalas dendam!"
Lie Cit San terkejut sekali dan mengerutkan alisnya. Dia memang tahu bahwa beberapa bulan yang lalu terjadi bentrokan antara beberapa orang anak murid Siauw-lim-pai dengan anak murid Hoa-san-pai, akan tetapi bentrokan itu terjadi antara orang-orang muda yang masih kurang pengalaman dan hal itu telah dibereskan oleh golongan tua. Urusannya hanya kecil karena terjadi hubungan cinta antara seorang murid wanita Hoa-san-pai dengan seorang murid pria Siauw-lim-pai. Hubungan cinta ini menimbulkan rasa iri pada saudara-saudara seperguruan lain sehingga terjadilah bentrokan itu. Dalam bentrokan itu pun hanya mengakibatkan luka-luka tak berarti di kedua fihak. Mengapa hal yang sudah padam itu kini hendak digali dan dipanaskan kembali oleh sembilan orang anak murid Siauw-lim-pai yang tidak dapat dikatakan orang-orang muda ini?
Lie Cit San bukan seorang anak muda yang berdarah panas, maka ia menyabarkan hatinya dan mengangkat kedua tangan setelah meloncat turun dari atas kuda. Sutenya, Ok Sun yang tadinya berada di atas kereta, juga meloncat turun dengan gerakan gesit, berdiri di dekat suhengnya dalam keadaan siap-siap. Tokoh Hoa-san-pai yang berangasan ini sudah meraba-raba gagang senjata.
"Maafkan kalau kami salah menyangka," kata Lie Cit San. "Kiranya Gu-wi adalah para Enghiong dari Siauw-lim-pai! Lebih baik lagi kalau begitu. Hendaknya Cu-wi suka memberi tahu apakah sebabnya Cu-wi sekalian menahan kami?"
Ok Sun yang marah menyambung, "Biarpun anak-anak murid Siauw-lim-pai namun lagaknya seperti perampok, menghadang perjalanan orang. Suheng, kurasa mereka ini telah menjadi antek-antek Mancu dan sekarang mereka diperalat oleh gadis Mancu itu!"
"Tutup mulutmu!" bentak seorang pemuda diantara sembilan orang murid Siauw-lim-pai itu.
Lie Cit San dan pemimpin rombongan Siauw-lim-pai segera menghardik saudara masing-masing agar suka diam. Kemudian orang Siauw-lim-pai itu berkata, "Aku Liong Tik adalah seorang anak murid Siauw-lim-pai yang menjunjung kebenaran dan keadiIan! Maksud kami sembilan orang murid Siauw-lim-pai menahan kalian tidak lain hanya untuk bertanya apa isinya kereta yang kalian kawal!"
"Ada sangkut-paut apakah hal itu dengan kamu orang-orang Siauw-lim-pai yang sombong?" bentak Ok Sun yang memang berangasan dan sebagai seorang murid Hoa-san-pai tentu saja masih panas hatinya oleh bentrokan antara murid-murid keponakannya dengan murid-murid Siauw-lim-pai beberapa bulan lalu. Akan tetapi kembali Lie Cit San yang masih sabar itu menyambung.
"Mengapakah para sahabat gagah dari Siauw-lim-pai ingin mengetahui hal itu? Hendaknya Cu-wi sekalian tahu bahwa kami sendiri hanya bertugas untuk mengawal barang dan sama sekali tidak tahu apa isinya dua buah peti yang kami kawal, bahkan kami pun tidak ingin mengetahui barang milik orang lain."
“Dua buah peti….?” Sembilan orang Siauw-lim-pai itu saling pandang penuh arti, kemudian memandang marah ke arah kereta.
Liong Tik yang tertua di antara saudara-saudaranya mengimbangi kesabaran Lie Cit San dan kini ia berkata, suaranya masih halus namun nadanya memaksa, "Kami percaya bahwa dua orang saudara Hoa-san-pai yang gagah tidak mengetahui isinya, akan tetapi kami minta agar kedua buah peti itu dibuka agar kita bersama dapat melihat isinya!"
"Perampok-perampok berkedok Siauw-Jim-pai! Kalau ternyata isinya emas permata tentu kalian akan merampoknya!" bentak Ok Sun sambil mencabut golok besarnya. Para anak murid Siauw-lim-pai juga sudah mencabut senjata masing-masing dengan sikap marah.
Lie Cit San menggeleng kepala. "Tidak mungkin hal itu dilakukan,” katanya. “Kami harus menjaga nama baik kami sebagai piauwsu, tidak akan membuka peti kiriman barang orang lain, juga tidak memperbolehkan siapa juga membukanya."
"Twa-suheng, sudah jelas bahwa mereka hendak menyembunyikan. Kalau tidak lekas turun tangan, mau menanti apa lagi?" bentak seorang di antara anak murid Siauw-lim-pai yang paling berangasan sambil meloncat maju dengan pedang di tangan. Ok Sun menggereng dan kedua orang itu sudah bertanding dengan sengit. Melihat ini, Lie Cit San dan Liong Tik maklum bahwa bentrokan tak dapat dielakkan lagi, terpaksa mereka pun maju. Lie Cit San mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu sebatang cambuk besi yang kecil panjang, sedangkan Liong Tik mengeluarkan senjata sepasang tombak bercagak dan kedua orang ini pun sudah bertanding hebat. Tujuh orang anak murid Siauw-lim-pai yang lain sudah menyerbu ke arah kereta dan mereka disambut oleh lima belas orang anak buah piauwsu sehingga sebentar saja di situ terjadi pertandingan yang seru, terdengar bunyi senjata-senjata bertemu diseling teriakan marah mereka. Pertandingan antara dua orang murid Hoa-san-pai melawan dua orang murid Siauw-lim-pai terjadi seru dan berimbang, akan tetapi lima belas orang anak buah rombongan piauwkiok itu segera terdesak hebat oleh tujuh orang anak murid Siauw-lim-pai dan setelah lewat belasan jurus, mulailan fihak piauwkiok terdesak dan empat orang sudah roboh terjungkal mandi darah.
Tiba-tiba terdengar bentakan yang amat keras, "Semua berhenti!!"
Aneh sekali. Bentakan itu selain keras dan penuh wibawa, juga mengandung tenaga mujijat yang membuat mereka yang sedang bertempur itu serentak meloncat mundur dengan kaget dan gentar, menahan senjata masing-masing dan memandang terbelalak kepada seorang pemuda rambut riap-riapan yang tahu-tahu sudah berada di tengah antara mereka. Pemuda ini bukan lain adalah Han Han yang segera dapat memilih fihak karena melihat betapa tadi rombongan piauwsu itu terdesak, bahkan ada empat orang di antara mereka yang roboh dan tewas. Kini ia memutar tubuh, membelakangi para piauwsu, menghadapi para murid Siauw-lim-pai dan membentak marah.
"Perampok-perampok laknat, berani kalian mengganggu orang lewat? Orang-orang jahat macam kalian ini patut dibasmi!"
Para piauwsu yang mengenal Han Han sebagai pemuda yang tadi mereka lewati, memandang heran namun juga geli. Pemuda hijau macam ini mana mungkin dapat menakuti hati para anak murid Siauw-lim-pai yang lihai itu. Dan betul saja dugaan mereka, murid-murid Siauw-lim-pai marah sekali karena mengira bahwa pemuda liar yang bermata setan ini pasti seorang anak murid Hoa-san-pai pula. Maka seorang di antara mereka yang termuda, yang tidak memandang mata kepada Han Han, sudah menerjang sambil membentak.
"Bocah setan, mampuslah!" Pemuda Siauw-lim-pai itu bersenjata sebuah toya dan senjata toya ini memang merupakan sebuah di antara senjata kaum Siauw-lim-pai yang ampuh. Begitu tara digerakkan terdengar bunyi mengaung dan ujung toya itu tergetar menimbulkan bayangan belasan batang banyaknya. Kini toya itu rneluncur ke arah tubuh Han Han, menyodok ke dadanya. Han Han sama sekali tidak bergerak.
"Krakkk!!" Toya itu dengan tepat menyodok ulu hati Han Han, akan tetapi pemuda ini sama sekali tidak bergeming, sebaliknya toya itu patah-patah rnenjadi tiga potong! Anak murid Siauw-lim-pai itu terdorong tenaganya sendiri sehingga menubruk tubuh Han Han. Pemuda ini mengangkat tangan kiri yang terbuka, memukul ke arah tengkuk lawannya.
"Krekkk!" Murid Siuw-lim-pai roboh dengan batang leher patah dan tewas seketika!
Peristiwa ini menirnbulkan geger. Delapan orang anak murid Siauw-lim-pai menjadi marah sekali dan mereka maju dengan senjata mereka menerjang Han Han. Saking marahnya menyaksikan seorang saudara mereka tewas, mereka itu lupa akan sifat kegagahan dan delapan orang jagoan Siauw-lim-pai dengan senjata di tangan kini menerjang dan mengeroyok seorang pemuda tanggung yang tak terkenal dan bertangan kosong!
Pada saat itu, Lulu juga sudah tiba di situ dan gadis ini dengan mata berkilat dan muka berseri berteriak-teriak, "Han-ko, sikat saja perampok-perampok itu!"
Akibat pengeroyokan itu sungguh hebat! Han Han kaku sekali gerakannya dan ia tidak mempunyai ilmu silat tertentu untuk dimainkan menghadapi pengeroyokan itu. Biarpun ia sudah mempelajari gerak kaki, namun gerak tangannya hanya ia pelajari sepintas lalu saja karena selama enam tahun ini ia hanya memusatkan ketekunannya untuk memupuk tenaga sinkang. Ia memasang bhesi dengan kuda-kuda Chi-ma-se, kedua kakinya terpentang dan lutut ditekuk, akan tetapi kedua lengannya dikembangkan dan diputar-putar menghadapi setiap serangan para pengeroyok. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya kedua fihak yang bermusuhan melihat akibat pertandingan ini. Setiap kali ada senjata datang menyerang, Han Han memapakinya dengan dorongan atau kibasan tangannya dan…. si penyerang terguling, senjatanya patah-patah dan orangnya roboh tewas, ada kalanya tewas dengan muka kebiruan seperti membeku, ada kalanya pula tewas dengan tubuh hitam seperti hangus terbakar! Dalam keadaan tidak sadar akan kekuatan sendiri, Han Han telah "mengisi" lengan kiri dengan tenaga inti Im-kang, sedangkan tangan kanannya mengandung tenaga inti Yang-kang. Kekuatan dan kedahsyatan setiap gerak tangannya tidak kalah oleh ilmu pukulan Swat-im Sin-kang maupun Hwi-yang Sin-kang! Karena dia tidak menyerang hanya memapaki mereka yang menyerang saja, maka dalam gebrakan-gebrakan itu robohlah tujuh orang murid Siauw-lim-pai dalam keadaan tak bernyawa lagi, sedangkan Liong Tik dan seorang sutenya yang lebih tinggi ilmunya dapat meloncat ke belakang sehingga terhindar dari bahaya maut, akan tetapi juga senjata mereka itu remuk oleh hantaman hawa pukulan yang keluar dari tangan Han Han.
Pada saat itu keadaan Han Han benar-benar mengerikan sekali. Ia masih berdiri seperti tadi karena ia telah merobohkan tujuh orang murid Siauw-lim-pai dalam keadaan tak mengubah kedudukan kaki sama sekali. Ia berdiri menghadapi Liong Tik dan sutenya, siap menerima serangan, matanya mengeluarkan cahaya yang tajam sekali, mulutnya tersenyum mengerikan seperti senyum setan mengejek sehingga wajahnya yang tampan itu kelihatan menyeramkan, kedua lengannya dikembangkan ke kanan kiri. Karena fihak lawan yang tinggal dua orang itu terbelalak dan tidak menyerangnya, maka ia pun diam tak bergerak dan sesaat keadaan di situ menjadi sunyi karena Lie Cit San, Ok Sun dan semua anggauta piauw-su juga terbelalak dengan hati ngeri.
Derap kaki kuda terdengar jelas di saat yang sunyi itu dan Lulu menengok ke kanan. Seekor kuda hitam datangseperti terbang cepatnya dan di atas kuda itu duduk seorang gadis cantik. Bukan duduk, lebih tepat berdiri karena gadis itu memang berdiri dengan kaki di kanan kiri perut kuda, di atas tempat kaki. Dapat berdiri seperti itu selagi kuda membalap dengan miring membuktikan betapa pandainya gadis cantik ini menunggang kuda. Akan tetapi wajah gadis itu diliputi kedukaan dan kegelisahan. Melihat betapa anak murid Siauw-lim-pai banyak yang tewas dan kereta yang membawa dua buah peti berada di situ dalam keadaan ditinggalkan karena para piauwsu tadi menyambut penyerbuan para murid Siauw-lim-pai, gadis itu mengeluarkan teriakan nyaring dan tiba-tiba tubuhnya meluncur cepat sekali mendahului kuda dan tahu-tahu ia telah berada di belakang kereta. Para piauwsu terkejut, akan tetapi sebelum ada yang sempat bergerak, gadis itu sudah menggerakkan tangan dua kali.
"Brakkkkk! Brakkkkk!!"
Dua buah peti itu terpukul bagian atasnya oleh dua tangan yang kecil halus, akan tetapi seketika bagian tutupnya remuk dan terbukalah kedua peti itu. Si gadis cantik menjenguk ke dalam peti-peti itu dan terdengar teriakannya menyayat hati.
"Liok-suhu…..! Chit-suhu….!!" Dan gadis itu menangis tersedu-sedu.
Para piauwsu tercengang keheranan, apalagi setelah Liong Tik dan seorang sutenya berlari menghampiri kereta, menjenguk isi peti dan menjatuhkan diri berlutut pula sambil menangis. Lie Cit San dan Ok Sun, diikuti para piauwsu lari pula mendekat dan ketika mereka melihat isi peti, mereka terbelalak.
"Aihhhhh….!!" Lie Cit San dan Ok Sun terhuyung ke belakang dengan muka pucat sekali. Kiranya di dalam dua buah peti itu terisi dua sosok mayat orang yang bukan lain adaiah Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek, orang ke enam dan ke tujuh dari Siauw-lim Chit-kiam!
Gadis cantik itu sudah menghentikan tangisnya lalu bangkit berdiri. Sikapnya dingin sekali, penuh hawa amarah meluap-luap, penuh dendam sakit hati yang harus dilampiaskan. Ia bertanya kepada Liong Tik dan sutenya.
"Siapa yang membunuh saudara-saudaramu itu?"
"Sukouw (Bibi Guru)….. mohon bantuan…. para Sute dibunuh oleh bocah iblis itu….!" Liong Tik menuding ke arah Han Han yang masih berdiri seperti arca. Tadi ia seperti kemasukan pengaruh yang aneh, terdapat rasa gembira sekali ketika kedua tangannya merobohkan para pengeroyoknya. Akan tetapi kini Han Han memandang mayat-mayat yang bergelimpangan itu dengan bengong. Ia baru sadar ketika ada suara wanita membentak di depannya.
"Siapa engkau yang begini kejam telah membunuh tujuh orang murid keponakanku?"
Tiba-tiba Lulu yang berdiri di belakang Han Han tertawa geli sehingga suasana tegang itu menjadi terpecah.
"Hi-hi-hi, aneh sekali! Melihat muka dan tubuhmu, usiamu tidak akan banyak selisihnya dengan usiaku, akan tetapi engkau mempunyai keponakan-keponakan yang sudah tua-tua. Aneh dan lucu, hi-hi-hik!"
Akan tetapi gadis itu tidak mempedulikannya, bahkan seperti tidak mendengarnya karena gadis itu kini sedang memandang Han Han penuh perhatian, bahkan wajahnya yang cantik kini menjadi agak pucat, sinar matanya penuh keheranan dan tidak percaya.
Han Han yang sadar akan teguran suara wanita, mengangkat muka dan begitu ia memandang wajah gadis cantik di depannya itu, ia terbelalak dan sampai lama tidak dapat menge1uarkan suara. Kedua orang ini saling pandang, kadang-kadang meragu, kemudian merasa yakin dan Han Han berkata lirih.
“…. Suci….!!”
"Engkau….? Engkau….. Han Han….? Dan engkau membantu Hoa-san-pai, menjadi anjing penjajah Mancu….?”
“Suci…., sama sekali tidak….”
"Kau bukan Suteku 1agi! Kau musuh yang harus mati di tangankuI" Gadis itu menyerang dengan dahsyat sekali. Biarpun dia menyerang dengan pukulan tangan ke arah dada Han Han, namun tangan kosong gadis cantik ini jauh lebih berbahaya daripada serangan senjata para murid Siauw-lim-pai tadi. Datangnya antep, cepat dan mengandung tenaga sinkang yang kuat.
"Dukkkkk…!” Han Han yang tidak menangkis itu terpukul dadanya, terhuyung mundur dua langkah. Akan tetapi gadis itu sendiri terbanting roboh! Gadis itu yang sesungguhnya adalah Lauw Sin Lian, terkejut dan meloncat bangun. Tangan kanannya yang memukul itu menjadi kebiruan dan tubuhnya menggigil kedinginan! Cepat-cepat ia menahan napas dan mengerahkan hawa dari pusarnya sehingga rasa dingin itu dapat diusir. Ia memandang kepada Han Han dengan mata terbelalak, kemudian ia menoleh kepada dua orang murid keponakannya sambil berkata, suaranya mengandung isak tertahan.
"Naikkan jenazah para Sute itu ke at as kereta." Dua orang murid Siauw-lim-pai itu segera melaksanakan perintah ini dengan air mata bercucuran. Lauw Sin Lian meloncat ke atas kereta, diikuti dua orang murid keponakannya, kemudian setelah sekali lagi menoleh ke arah Han Han dengan pandang mata penuh kebencian, ia lalu memekik nyaring dan menarik kendali kuda. Empat ekor kuda itu meringkik dan meloncat ke depan, lalu membalap. Para piauwsu tidak ada yang berani berkutik. Mereka masih terkejut dan bingung menyaksikan kenyataan yang amat mengerikan tadi.
"Suci…..!" Han Han mengeluh perlahan, kemudian ia membalikkan tubuhnya perlahan-lahan, menghadapi anak murid Hoa-san-pai yang masih berdiri pucat. Pandang mata Han Han mengandung sesuatu yang membuat dua orang ini bergidik.
“Kalian…. Kalian…… manusia-manusia iblis! Kiranya kalianlah yang jahat, dan kalian membuat aku membunuh mereka yang tak berdosa….!" Suara Han Han
perlahan seperti mendesis, namun hal ini bahkan menambah keseramannya. Dua orang murid Hoa-san-pai itu menggeleng kepala. "Tidak…. tidak…..!"
Akan tetapi kedua tangan Han Han sudah menyambar, melakukan gerakan menampar ke deparn. Jarak antara mereka masih jauh, ada dua meter, namun tamparan ini mengandung hawa sinkang yang hebat, mengandung hawa pukulan yang biasa ia latih di Pulau Es, pukulan-pukulan yang dapat membuat air membeku menjadi bongkah-bongkah es sebesar anak lembu!
Dua orang murid Hoa-san-pai itu roboh tanpa dapat bersambat lagi, roboh dengan tubuh kaku membeku dan tewas seketika! Para anak buah piauwsu menjadi putat sekali, akan tetapi Han Han sudah menghadapi mereka dan berkata.
"Kalian hanya anak buah, tidak tahu apa-apa…. !" Tanpa berkata apa-apa lagi Han Han lalu menyambar tangan adiknya dan ditariknya lalu diajak pergi cepat-cepat dari tempat itu. Sebentar saja kedua orang muda ini lenyap dari tempat itu dan barulah para anggauta piauwkiok itu sibuk mengurus jenazah kedua orang pimpinan mereka dan empat orang jenazah itu, dengan penuh duka dan masih menggigil kalau teringat kepada pemuda yang mereka anggap iblis itu, mereka kembali ke Kwan-teng untuk melaporkan peristiwa itu kepada ketua mereka.
“Eh-eh, berhenti dulu, Han-ko….!" Lulu merenggut tangannya dan terpaksa Han Han berhenti. Wajah pemuda ini keruh tanda bahwa pikirannya kalut dan hatinya terganggu oleh peristiwa dalam hutan tadi.
"Han-ko, semua peristiwa tadi amatlah mengherankan hatiku. Siapakah gadis cantik yang kau sebut Suci tadi? Benarkah dia itu Kakak Seperguruanmu?"
Han Han yang masih kalut pikirannya itu mengangguk. "Dia Suciku, dia P uteri guruku yang pertama. Dia puteri Lauw-pangcu…" Baru Han Han teringat dan kalau bisa ia hendak menelan kembali semua kata-kata yang sudah dikeluarkan. Namun terlambat karena Lulu sudah mendengar semua dan gadis itu tiba-tiba menjerit, lalu membalikkan tubuh dan lari secepatnya.
“Eh, Moi-moi…., tunggu dulu….!!” Han Han meloncat dan cepat mengejar. Sebentar saja ia dapat menyusul dan memegang tangan Lulu. Akan tetapi Lulu merenggutkan tangannya dan dengan cemberut memandang Han Han dengan muka merah dan air mata memmbasahi pipinya.
"Jangan dekat-dekat! Jangan pegang-pegang! Kau kiranya murid musuh besarku! Apakah kau hendak membelanya? Mulai sekarang aku tidak sudi berdekatan denganmu!"
"Eh, Lulu jangan begitu. Aku tetap Kakakmu, dan aku tidak akan membela siapapun juga kecuali engkau Adikku…."
"Bohong! Mana mungkin membelaku kalau musuh besarku adalah Gurumu sendiri? Kakek jahat she Lauw itu adalah Gurumu, baru puterinya saja sudah kau bela tadi! Sudahlah, karena kau murid musuh besarku, berarti engkau musuhku juga. Nah, kau lekas serang dan bunuh aku……, lekas bunuh aku….. tak mungkin aku dapat membalas kematian keluargaku karena engkau murid musuhku. Bunuh aku, engkau murid musuh besarku!" Saking berduka dan marah, omongan Lulu menjadi kacau-balau tidak karuan dan bercampur dengan isak yang ditahan-tahannya. Sepasang matanya yang lebar dan yang biasanya bersinar seperti sepasang matahari kembar itu kini menyuram, dan dua butir air mata jernih seperti mutiara menggantung di bulu matanya yang lentik.
Han Han melangkah maju dan memegang kedua pundak Lulu, tersenyum duka dan berkata, "Baiklah, lulu. Engkau menganggap aku musuhmu, nah, ini dadaku sudah terbuka di depanmu. Kauhantamlah aku sampai mati, kalau kau menganggap aku musuhmu."
Sepasang mata yang lebar indah itu memandang ke arah dada Han Han, dada kakaknya yang selama ini menjadi tempat ia bersandar, dan ia bergidik, akan tetapi mulutnya masih mencela.
"Kau mengejek! Kau tahu bahwa betapapun keras aku memukul, takkan melukai dadamu, engkau kuat dan kebal….."
"Adikku yang manis. Sekali ini aku tidak akan melawan, dan aku akan senang mati di tanganmu, kalau hal itu memang kaukehendaki dan akan menyenangkan hatimu. Apakah kau akan senang hatimu kalau kau dapat memukul mati Kakakmu ini, Moi-moi?"
Lulu menengadahkan mukanya, mereka berpandangan dan Lulu terisak menangis sambil menubruk kakaknya, menyembunyikan mukanya di dada yang ditawarkan untuk ia pukul itu. Air matanya membasahi baju dan dada Han Han yang mengelus-elus kepala adiknya penuh kasih sayang.
"Lulu, sudahlah jangan menangis. Aku bukan musuhmu melainkan Kakakmu."
"Akan tetapi kau murid Lauw-pangcu musuh besarku."
"Sekarang tidak lagi, Lulu. Itu dahulu ketika aku masih kecil. Engkau mendengar sendiri betapa puterinya tadi mengatakan demikian pula, bahwa dia bukan Suciku dan aku bukan Sutenya. Puterinya itu pun kini telah menjadi seorang tokoh Siauw-lim-pai yang hebat….."
Lulu mengangkat mukanya memandang. Mukanya masih agak basah, kulit muka yang halus itu kemerahan dan kemarahan sudah menghilang dari pandang matanya yang kini menatap wajah kakaknya penuh selidik dan juga penuh kekhawatiran. "Koko, engkau….. mencinta dia…?"
"Siapa?"
“Dia, puteri musuh besarku itu….”
"Aha! Kaumaksudkan Lauw Sin Lian tadi? Dia bekas Suciku, ahhh….. tidak, aku tidak tahu tentang cinta, jangan bertanya yang bukan-bukan!"
"Syukurlah, aku akan bingung sekali kalau sampai engkau mencinta puteri musuh besarku. Akan bagaimanakah sikapku? Dia puteri musuh besarku akan tetapi juga….. eh calon So-so (Kakak Ipar), kan merepotkan hati namanya!"
"Hussh, kau memang nakaI, Moi-moi. Apakah lupa baru saja kau mengamuk dan menangis? Sekarang sudah menggoda orang!"
Lulu tersenyum, giginya yang rapi dan putih berkilat di balik kemerahan bibirnya. "Tapi aku girang, tak mungkin kau menikah dengan Lauw Sin Lian. Dia sudah marah dan benci kepadamu karena kau telah membunuh murid-murid keponakannya!"
Han Han menghela napas panjang dan menggeleng-geleng kepalanya. "Lulu, jangan menganggap hal itu seperti main-main! Aku tadi telah salah membunuh orang. Kusangka tadinya orang-orang Siauw-lim-pai itu yang jahat dan menjadi perampok, kiranya piauwsu-piauwsu anak murid Hoa-san-pai itu yang jahat, menyembunyikan dua orang tokoh Siauw-lim-pai yang mereka bunuh di dalam peti-peti itu."
Seketika wajah Lulu menjadi serius dan membayangkan kekhawatiran. "Wah, kalau begitu engkau akan dimusuhi oleh Siauw-lim-pai, Koko?"
Han Han tersenyum dan pandang matanya membayangkan ejekan. "Aku tidak takut! Mengapa mesti takut karena memang aku membunuh mereka karena salah sangka? Juga sikap mereka itu sendiri yang mendorongku membunuh mereka. Bahkan aku akan pergi ke Siauw-lim-pai, mencari Sin Lian untuk menjelaskan peristiwa itu."
"Bagus sekali! Mari kita ke sana, Koko. Engkau ingin memberi penjelasan kepada Sin Lian dan aku akan bertanya di mana adanya Ayahnya agaraku dapat membalas dendam! Engkau tentu akan membantuku membunuh Lauw-pangcu, bukan?"
Han Han merasa serba salah, akan tetapi dengan sungguh-sungguh ia berkata, "Kurasa sekarang engkau telah cukup lihai untuk mengalahkan Lauw-pangcu, Lulu. Bagaimana mungkin aku dapat turun tangan terhadap dia yang dahulu amat baik kepadaku? Aku hanya berjanji akan melindungimu jika kau sekiranya kalah, akan tetapi untuk membantumu membunuhnya….., wah, berat juga."
"Tidak apalah tidak kaubantu juga! Kalau aku kalah, aku dapat belajar lagi darimu dan lain kali kucari lagi dia dia. Mari kita ke Siauw-lim-pai mencari Sin Lian, Koko!"
Akan tetapi Han Han menggeleng kepala. "Tidak sekarang, Moi-moi. Aku akan pergi dulu mencari pusat Pek-eng-piauwkiok itu! Aku telah kesalahan tangan membunuh murid Siauw-lim-pai dan semua itu hanya karena kejahatan dan kepalsuan orang-orang Pek-eng-piauwkiok. Mungkin dua orang piauwsu yang mengawal dua peti terisi mayat dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam itu pun hanya petugas saja. Tentu ketua piauwkiok itu yang menjadi biang keladi dan yang bertanggung jawab. Dia yang harus menebus semua kesalahan ini. Setelah aku menghukum orang yang menjadi biang keladi peristiwa di hutan itu, yang menjadi pembunuh dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, barulah aku akan mengajakmu pergi ke Slauw-lim-pai."
'Tapi, ke mana kau akan mencari Pek-eng-piauwkiok, Koko? Kita tidak mengenal mereka….."
"Wah, kau bodoh sekali, Lulu! Kita pergi saja ke jurusan dari mana mereka datang, kemudian kita bertanya-tanya orang, apa sukarnya?" Tanpa memberi kesempatan kepada adiknya yang cerewet itu membantah lagi, Han Han menyambar tangan Lulu dan digandengnya, kemudian mengajak dara itu pergi meninggalkan tempat itu. Biarpun lama berada di Putau Es, namun Han Han masih belum kehilangan kecerdikannya kalau tak dapat dikatakan dia makin cerdik karena ada sesuatu yang aneh dalam dirinya, yang membuat otaknya dapat bekerja, lebih cepat. Tepat seperti yang diduganya, dengan mudah mereka dapat mencari keterangan tentang Pek-eng-piauwkiok. Piauwkiok yang besar dan terkenal ini berada di kota Kwan-teng, dan dua orang muda itu segera pergi ke kota Kwan-teng, tidak peduli akan tatapan pandang mata keheranan dan kagum dari orang-orang yang berjumpa dengan mereka. Heran melihat Han Han yang aneh dan rambutnya riap-riapan, kagum menyaksikan Lulu yang cantik jelita. Pandang mata heran dan kagum ini lama-lama terbiasa bagi mereka. Di dalam hatinya, Han Han mengambil keputusan untuk menebus semua pembunuhan. yang ia lakukan di hutan tadi, pembunuhan-pembunuhan yang ia lakukan seakan-akan di luar kesadarannya. Entah bagaimana, sekali bertemu tanding, ia mendapat perasaan gembira dan senang sekali merobohkan para lawannya tanpa dasar apa-apa! Dan begitu keluar pulau, dia telah melakukan pembunuhan terhadap orang-rang Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai, dua partai persilatan yang besar! Karena itu, dia harus membereskan urusan ini, mencari siapa yang bersalah dan siapa yang menjadi biang keladinya.
***
Memang tidak salah pendapat Han Han bahwa Hoa-san-pai adalah sebuah partai persilatan yang besar dan terkenal, sungguhpun tidaklah sebesar partai Siauw-lim-pai yang seolah-olah menjadi sumber partai persilatan di Tiongkok. Hoa-san-pai yang berpusat di puncak Gunung Hoa-san itu mempunyai banyak sekali anak murid yang pandai-pandai dan dapat dikatakan bahwa hampir seluruh anak murid Hoa-san-pai adalah tokoh-tokoh persilatan yang gagah perkasa dan terkenal sebagai pendekar-pendekar pembela keadilan.
Pek-eng-piauwkiok dipimpin oleh Hoa-san Pek-eng Tan Bu Kong, seorang tokoh Hoa-san-pai yang tinggi ilmu silatnya. Di dalam anak tangga tingkat Hoa-san-pai, Tan Bu Kong menduduki tingkat lima. Di samping para sutenya yang tentu saja lebih rendah tingkatnya, dia telah berhasil membuat nama besar, tidak hanya mengakibatkan kemajuan dan keuntungan piauwkiok yang ia pegang, akan tetapi juga sekaligus mengangkat nama besar Hoa-san-pai. Apalagi karena di samping perusahaannya ini diam-diam Pek-eng-piauwkiok menjadi tempat pertemuan tersembunyi di antara para patriot yang melakukan gerakan menentang pemerintah penjajah Mancu.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Pek-eng-piauwkiok didatangi seorang gadis Mancu yang cantik jelita dan juga aneh, yang mengirimkan dua buah peti panjang dengan biaya amat mahal itu. Setelah dua buah peti itu diberangkatkan, hati Tan Bu Kong yang menjaga di rumah menjadi amat tidak enak dan selalu gelisah. Dia memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penjagaan ketat dan hatinya makin tidak enak ketika sampai sore sutenya yang ia suruh mengikuti dan menyelidiki gadis Mancu itu belum juga kembali. Sutenya itu, Teng Lok, memiliki kepandaian yang boleh diandalkan dan terutama sekali ginkangnya amat tinggi, tidak kalah oleh dia sendiri. Mengapa sampai sore belum juga sutenya itu kembali?
Menjelang malam, Tan-piauwsu mendengar suara ribut-ribut di luar. Cepat ia, meloncat dan berlari keluar dengan jantung berdebar, siap menghadapi segala kemungkinan karena agaknya para anak buahnya ribut-ribut oleh sesuatu yang tentunya tidak beres. Ketika ia tiba di luar dan memandang, wajahnya menjadi pucat dan cepat ia menyongsong ke depan dan berseru.
"Teng-sute…..!"
Adik seperguruannya itu sedang digotong oleh anak buahnya dan agaknya begitu tiba di depan gedung piauwkiok, adik seperguruannya itu roboh pingsan. Tidak aneh kalau melihat keadaannya yang demikian mengerikan. Lengan kanannya buntung sebatas siku dan lehernya terluka mengeluarkan darah. Cepat orang she Teng ini digotong masuk direbahkan di atas dipan dalam kamar. Setelah menerima perawatan, akhirnya dia mengerang dan siuman. Luka di lehernya tidak membahayakan, hanya lengannya yang bunltung itu benar-benar mengerikan. Ketika ia menengok dan memandang suhengnya duduk di situ menjaganya, ia mengeluh.
"Ahhh, Suheng….. untung siauwte masih hidup….. dan dapat bercerita kepada Suheng……"
Tan Bu Kong menekan pundak sutenya dan dengan terharu berkata, "Tenanglah, Sute dan ceritakan perlahan-lahan dan seenaknya, engkau masih amat menderita….”
"Tidak, harus sekarang juga Suheng dengar. Gadis Mancu itu bukan manusia! Dia seperti iblis! Ketika aku mengikuti keretanya, kusangka tidak ada yang tahu dan aku terus membayanginya sampai kereta itu berhenti di luar kota raja di mana terdapat sebuah gedung peristirahatan yang mewah, entah punya siapa, yang jelas tentu milik seorang pembesar Mancu. Diam-diam aku lalu menyelidik dan akhirnya aku dapat membekuk seorang pelayan, kuseret keluar dan di bawah ancaman, dia mengaku bahwa gedung itu tempat peristirahatan Puteri Nirahai yang katanya adalah puteri Kaisar Mancu dari selir. Akan tetapi pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu dan gadis Mancu itu telah berada di situ tanpa kuketahui sama sekali. Dia menyindir bahwa aku sejak tadi membayangi keretanya dan untuk kelancangan itu aku harus dihukum. Aku menyatakan bahwa sebagai pimpinan piauwkiok, aku wajib mengetahui alamat pengirim barang. Dia tidak peduli dan minta supaya aku membuntungi lengan kananku dengan pedang sendiri!"
“Ah….., terang dia bersikap tidak baik terhadap kita!" kat a Tan Bu Kong marah.
"Bukan hanya tidak baik, bahkan telah direncanakannya, Suheng! Aku tentu saja tidak mau dan hendak pergi, akan tetapi aku selalu terguling roboh setiap kali tangannya bergerak mendorongku. Agaknya dia memiliki sinkang yang luar biasa dan dengan pukulan jarak jauh selalu merobohkan aku setiap aku hendak pergi. Aku menjadi marah, mencabut pedang dan menyerang gadis penjajah laknat itu!" Muka Teng Lok menjadi merah karena ia masih penasaran dan marah terhadap gadis bangsa Mancu itu.
"Lalu bagaimana, Sute?"
"Dia lihai sekali. Entah bagaimana aku sendiri tidak tahu, tiba-tiba pedangku telah dirampasnya dan di lain saat, lenganku telah terbabat buntung dan leherku terluka. Hanya dengan mengandalkan ginkang saja aku dapat melarikan diri untuk melapor kepadamu, Suheng."
Pucat wajah Tan Bu Kong, pucat karena kaget dan marah. Dia maklum akan gawatnya persoalan. Andaikata gadis itu bukan puteri Mancu, apalagi puteri kaisar sendiri, tentu dia akan mengerahkan tenaga untuk mendatangi dan membalas semua ini. Akan tetapi gadis itu adalah puteri Mancu, kalau diganggu, tentu berarti merupakan perang terbuka menentang Pemerintah Mancu dan hal ini akan menyeret pula Hoa-san-pai!
“Itu belum semua, Suheng," kata pula Teng Lok sambil memandang wajah suhengnya yang berkerut. "Ketika aku lari, aku tahu bahwa jika dia menghendaki, tentu dia akan dapat mengejar dan membunuhku. Akan tetapi dia hanya tertawa dan mengatakan bahwa kita harus bersiap-siap menanti serbuan orang-orang Siauw-lim-pai. Entah apa maksudnya, akan tetapi aku khawatir sekali, Suheng. Gadis itu seperti iblis betina yang entah pekerjaan terkutuk apa yang sedang dia lakukan….."
"Hemmm….., tentu ada hubungannya dengan peti-peti itu. Baik kitat unggu saja dan engkau beristirahatlah, Sute sambil merawat diri. Kelak, karena lengan buntung, tentu Suhu akan dapat memberi ilmu yang khusus untukmu. Sementara ini, aku akan memperkuat penjagaan, bersiap menanti datangnya bahaya yang terasa benar olehku sedang mengancam kita."
Semenjak sore hari itu, sampai tiga hari tiga malam lamanya, Tan Bu Kong makin gelisah, duduk salah berdiri pun tak enak, makan tak sedap tidur tak nyenyak, dan selalu menanti-nanti kembalinya rombongan sutenya yang pergi mengawal dua buah peti itu ke selatan. Dapat dibayangkan betapa terkejut hatinya ketika pada suatu sore, sepekan kemudian, rombongan anak buahnya berlari-lari datang dengan wajah kusut, tanpa membawa kereta piauwkiok dan tanpa dipimpin oleh dua orang sutenya yang bertugas mengantar dua buah peti itu. Tan-piauwsu membentak para anak buahnya yang bercerita simpang-siur dan amat gaduh, lalu memerintahkan seorang di antara mereka, yang tertua, menceritakan semua pengalamannya.
Piauwsu tua itu bercerita sambil mencucurkan air mata, menceritakan semua peristiwa yang terjadi, betapa kereta mereka dihadang oleh serombongan anak murid Siauw-lim-pai yang hendak memaksa membuka dua buah peti itu, kemudian betapa mereka bertanding meJawan anak-anak murid Siauw-lim-pai dan munculnya seorang pemuda aneh yang rambutnya riap-riapan bersama seorang dara remaja jelita yang secara mengerikan telah merobohkan dan menewaskan tujuh orang anak murid Siauw-lim-pai, kemudian betapa muncul seorang gadis anak murid Siauw-lim-pai yang lihai dan yang membuka dua buah peti dengan secara paksa.
"Dibuka? Apa isinya…..?" Tan-piauwsu bertanya dengan suara keras saking tegang hatinya.
"Isinya adalah dua mayat manusia, mayat dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam….”
"Hayaaa…..!!!" Tan Bu Kong mencelat bangun dari kursinya dengan muka pucat sekali. “Celaka….!"
Piauwsu itu lalu melanjutkan ceritanya. Betapa gadis murid Siauw-lim-pai itu menyerang Si Pemuda aneh namun dapat dikalahkan dan kemudian gadis itu membawa pergi jenazah-jenazah dalam peti dan jenazah para anak murid Siauw-lim-pai. Kemudian, dengan suara terengah-engah dia menceritakan betapa pemuda aneh itu menjadi marah kepada para piauwsu, dan dengan sekali gerakan telah membunuh Lie Cit San dan Ok Sun!
"Ahhh! Siapakah pemuda yang ganas dan kejam itu?" Tan-piauwsu berseru dengan alis berdiri.
"Entahlah, hanya kami mendengar gadis murid Siauw-lim-pai yang lihai itu mengenalnya dan pemuda itu malah menyebut Suci kepada murid Siauw-lim-pai itu, dan gadis itu menyebut namanya Han Han….."
Akan tetapi, biarpun kedua orang sutenya tewas, hal ini tidak mengurangi kekhawatiran hati Tan-piauwsu dan kemarahannya terhadap Si Puteri Mancu. Sebagai seorang yang berpengalaman, tahulah dia bahwa fihaknya, yaitu Pek-eng-piauwkiok yang tentu saja dapat juga dianggap mewakili Hoa-san-pai, telah diadu domba secara licin dan keji sekali oleh Puteri Mancu yang lihai itu! Pantas saja puteri itu menyindir kepada sutenya, Teng Lok bahwa Hoa-san-pai harus bersiap-siap untuk menghadapi penyerbuan Siauw-Hm-pai! Kini jelaslah sudah bahwa dua orang tokoh Siauw-Hm-pai itu, kedua orang dari Siauw-lim Chit-kiam, telah dibunuh oleh puteri Mancu yang kemudian memasukkan dua jenazah itu ke dalam peti dan sengaja menyuruh Pek-eng-piauwkiok mengawalnya ke selatan. Dan ia dapat menduga pula bahwa tentu fihak Siauw-lim-pai secara diam-diam diberi tahu oleh puteri iblis itu sehingga mereka menghadang kereta dan minta lihat isi peti! Hal ini kalau dipikirkan amat sederhana, sebuah tipu muslihat yang mudah, akan tetapi betapa kejinya! Tentu saja fihak Siauw-lim-pai berkeyakinan bahwa dua orang tokoh mereka itu terbunuh oleh Hoa-san-pai dan tentu akan timbul dendam dan bentrokan hebat antara kedua partai besar ini.
Tan-piauwsu termenung. Si pembuat urusan ini adalah puteri Mancu itu, tak salah lagi, sungguhpun ia bergidik kalau mengingat betapa dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam sampai dapat terbunuh! Padahal dia tahu bahwa Siauw-lim Chit-kiam adalah tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai yang sakti, yang memiliki tingkat ilmu kepandaian amat hebatnya, masing-masing merupakan tokoh Siauw-lim-pai tingkat tiga! Kalau biang keladinya adalah puteri Mancu, dan yang menjadi korban adalah Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai, dua buah partai yang menentang Mancu, maka mudah saja diduga sebabnya! Tentu fihak Pemerintah Mancu sengaja mengadu domba Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai agar dua partai yang me musuhi Mancu ini menjadi lemah dan saling gempur sendiri. Dan hal ini amatlah berbahaya!
Malam hari itu juga Tan Bu Kong menyuruh seorang sutenya untuk pergi keHoa-san, miengabarkan peristiwa hebat ini kepada pimpinan Hoa-san-pai agar dapat mengambil langkah-langkah seperlunya untuk-mencegah terjadinya pertentangan hebat antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai yang akan timbul sebagai akibat taktik adu domba yang amat keji itu. Juga mengundang tokoh-tokoh sakti Hoa-san-pai untuk diajak mengambil tindakan terhadap puteri Mancu yang amat sakti dan aneh itu, karena dia maklum bahwa dia sendiri takkan mungkin dapat mengalahkan puteri Mancu yang telah berhasil membunuh dua orang sakti seperti dua di antara Siauw-lim Chit-kiam. Atau, andaikata bukan puteri itu yang membunuh, karena dia masih tidak percaya seorang puteri remaja seperti itu akan sanggup membunuh dua di antara Siauw-lim Chit-kiam, tentu ada orang sakti di belakang puteri itu yang tentu akan melindungi Sang Puteri.
Pada keesokan harinya, tanpa. disangka-sangka muncullah seorang pemuda tinggi besar yang gagah dan tampan bersama seorang gadis baju kuning yang cantik manis. Kedatangan dua orang in sedikit menghibur hati Tan Bu Kong karena mereka itu, biarpun terhitung sute dan sumoinya, namun murid-murid dari supeknya ini memiliki ilmu kepandaian yang jauh melampauinya! Sutenya itu adalah seorang pemuda yang tampan dan tinggi besar, usianya dua puluh tahun lebih, gerak-geriknya halus, wajahnya periang dan peramah, namun sesungguhnya dia inilah pendekar muda Hoa-san-pai yang berjuluk Hoo-san Gi-hiap (Pendekar Budiman dari Hoa-san)! Adapun gadis cantik manis berusia antara delapan belas tahun itu pun bukan sembarang orang karena dialah tokoh kang-ouw yang amat terkenal yang berjuluk Hoa-san Kiam-li (Dewi Pedang Hoa-san)! Biarpun masih muda, dua orang pendekar Hoa-san ini telah membuat nama besar dengan perbuatan-perbuatan mereka yang menggemparkan dalam membela kebenaran dan keadilan.
Ketika melihat wajah suheng mereka yang keruh, pemuda dan dara ini cepat bertanya apa yang terjadi sehingga menyusahkan hati Tan-piauwsu.
"Kami berdua menerima pesan Suhu untuk datang membantu usaha Suheng menghimpun orang-orang gagah yang bergerak menentang kekuasaan penjajah Mancu," kata pemuda tampan itu. "Mengapa Suheng kelihatan tidak bersemangat dan berduka?”
Dapat dibayangkan betapa kaget hati dua orang muda perkasa itu ketika tiba-tiba Tan-piauwsu mengeluh, menarik napas panjang dan matanya menjadi basah dengan air mata! Suheng mereka, yang gagah perkasa dan banyak penga.laman di dunia kang-ouw itu, menangis! Tentu terjadi sesuatu yang amat hebat!
"Sute dan Sumoi, kedatangan kalian ini merupakan cahaya penerang bagi hatiku yang sedang gelap, akan tetapi aku membutuhkan bantuan para Lo-cian-pwe, para Susiok dan Suhu kita di Hoa-san-pai karena tanpa mereka, kiranya sukar untuk membikin terang perkara yang amat gelap in!" Tan Bu Kong lalu menceritakan semua peristiwa yang terjadi semenjak puteri Mancu itu menitipkan dua buah peti untuk dikirim ke selatan.
Mendengar semua itu, Hoa-san Gihiap mengepalkan tinjunya. "Ah, jelas. Puteri Mancu itulah yang mengatur semua rencana terkutuk itu! Biarlah aku akan pergi menangkapnya, kemudian menyeretnya ke Siauw-lim-pai, memaksanya mengaku akan semua perbuatannya. Hanya dengan jalan itu, semua perkara dapat dlbereskan, Suheng."
"Betul pendapat Wan-suheng!" kata Hoa-san Kiam-li penuh semangat. "Biar aku membantu Wan-suheng menangkap iblis betina yang palsu itu!"
Tan Bu Kong mengangkat tangan dan menggeleng kepala. "Bukan aku kurang percaya akan kesanggupan Sute dan Sumoi, akan tetapi sungguh sembrono sekali kalau hal itu dilakukan. Pertama, ada kemungkinan puteri itu memiliki kelihaian yang amat luar biasa kalau benar dia yang membunuh dua orang dari Siauw-lim Chit-kiam. Kelihaiannya telah dirasakan oleh Suheng kalian Teng Lok, akan tetapi akan lebih hebat lagi kalau dia dapat membunuh dua orang Locian-pwe dari Siauw-lim-pai itu. Selain itu, mungkin dia mempunyai kawan-kawan yang berilmu tinggi dan hal ini tidak mengherankan kalau diingat betapa datuk-datuk besar golongan hitam banyak yang menghambakan diri kepada penjajah Mancu. Hal itu saja sudah menjadi sebab yang harus kita perhatikan dan sama sekali tidak boleh dianggap ringan. Ada lagi hal yang harus dipikirkan masak-masak sebelum kalian mengambil keputusan untuk menangkap puteri itu. Dia adalah puteri dari Kaisar Mancu sendiri, sungguhpun puteri selir namun kedudukannya amat tinggi sehingga kalau sampai dia kita tawan, tentu akan timbul geger dan Hoa-san-pai tentu akan diserang secara terang-terangan oleh bala tentara Mancu. Dalam hal ilmu kepandaian, tentu Sute dan Sumoi jauh melampaui aku, namun dalam hal pengalaman, aku jauh lebih tua dan lebih banyak mengalami hal-hal yang sulit. Sehaiknya, Sute dan Sumoi secara diam-diam melakukan penyelidikan terhadap Puteri itu. Tentu saja kalian harus berhati-hati, jangan sampai terjadi hal yang menimpa diri Sute Teng Lok. Cukup kalau Sute dan Sumoi mengetahui latar belakang puteri itu, apakah ada orang-orang sakti di sana, dan siapa sesungguhnya puteri yang aneh dan lihai itu."
Mau tidak mau kedua orang muda perkasa itu harus tunduk dan merasa kagum akan pandangan yang luas dari suheng mereka itu. Mereka menyanggupi dan pertemuan antara murid-murid seperguruan itu dilanjutkan dengan makan minum dalam suasana prihatin.
"Sebaiknya Sute dan Sumoi melakukan penyelidlkan di waktu siang saja agar tidak berbahaya. Kita menanti kembalinya utusanku ke Hoa-san, dan setelah para Locianpwe dari Hoa-san tiba, barulah kita mengambil keputusan berdasarkan pendapat beliau-beliau itu, agar sepak terjang kita tidak simpang-siur." Demikian pesan Tan Bu Kong yang dipatuhi oleh dua orang adik seperguruannya.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dua orang muda perkasa itu sudah meninngalkan piauwkiok dan melakukan penyelidikan ke tempat yang ditunjuk oleh teng Lok, yaitu di luar kota raja yang tidak begitu jauh dari situ, hanya dalam jarak perjalanan seperempat hari saja.
Pada sore harinya menjelang senja, selagi Tan-piauwsu dan para anak buahnya duduk menanti kedua orang sutenya itu, juga menanti berita dari Hoa-san, tiba-tiba muncul dua orang muda di depan pintu gerbang piauwkiok. Melihat mereka ini, para pengawal yang tempo hari ikut mengawal dua peti jenazah, menjadi pucat dan gugup. Ada yang berbisi-bisik.
“Dia datang…! Dia datang….!!”
Ketika Tan Bu Kong menengok dan melihat seorang pemuda yang berambut panjang riap-riapan, berwajah tampan dan aneh, sinar matanya tajam sekali dengan sikap tenang muncul di depan pintu menggandeng tangan seorang dara remaja yang cantik jelita, kemudian mendengar suara orang-orangnya, hatinya berdebar dan ia dapat menduga bahwa tentu inilah pemuda aneh yang telah membunuh tujuh orang murid Siauw-lim-pai dan membunuh pula dua orang sutenya, yaitu Lie Cit San dan Ok Sun. Sejenak Tan-piauwsu terbelalak keheranan, sama sekali tidak mengira bahwa orang yang dikabarkan amat aneh dan amat lihai itu hanyalah seorang pemuda remaja yang kelihatannya terlalu tenang dan terlalu lemah, bahkan terlalu sederhana mendekati tidak normal! Yang membiarkan rambutnya terurai seperti itu biasanya hanyalah kaum pertapa yang tidak peduli lagi akan keadaan dirinya!
"Apakah di sini Pek-eng-piauwkiok?" Han Han, pemuda itu, bertanya sambil memandang ke arah Tan-piauwsu yang baru muncul dari dalam dengan langkah lebar.
Tan Bu Kong mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan sambil menjawab, "Benar, di sini adalah kantor Peng-eng-piauwkiok. Kalau Siauw-enghiong (Pemuda Gagah) ada keperluan, silakan masuk, kita bicara di dalam!"
Betapapun juga, Han Han yang sudah hafal akan sopan santun dan belajar tentang kebudayaan dan kesusastraan semenjak kecil, menjadi kikuk juga dan terpaksa ia pun membalas dengan mengangkat kedua tangan depan dada sambil melangkah masuk, diantar oleh tuan rumah memasuki ruangan dalam yang luas. Di belakang Tan-piauwsu, para pengawal mengikuti dengan wajah tegang. Teng Lok masih beristirahat di dalam kamarnya dan di situ hanya terdapat empat orang sute Tan-piauwsu yang tingkat kepandaiannya belum dapat diandalkan, sungguhpun tentu saja sebagai murid-murid Hoa-san-pai jauh lebih lihai daripada semua pengawal yang bekerja di Pek-eng-piauwkiok.
"Siauw-enghiong dan Lihiap, silakan duduk," kata Tan-piauwsu.
Akan tetapi Han Han tetap berdiri dan Lulu juga berdiri karena melihat kokonya tidak duduk. Gadis ini hanya memandang ke kanan kiri, mengagumi perabot rumah yang biarpun tidak seindah perabot di Istana Pulau Es, namun jauh berbeda. Han Han berkata dengan kening dikerutkan.
"Harap tidak usah repot-repot karena saya datang untuk mencari pemimpin Pek-eng-piauwkiok."
Tan-piauwsu memandang tajam, lalu menjawab, “Saya Tan Bu Kong adalah pemimpin Pek-eng-piauwkiok. Enghiong siapakah dan ada keperluan apa mencari saya?" Sebagai seorang yang berpengalaman, piauwsu ini tidak langsung menyatakan mengenai pemuda ini, melainkan pura-pura bertanya akan maksud kedatangan pemuda itu yang, memang belum dapat ia menduganya.
"Bagus sekali! Jadi engkau pemimpin piauwkiok ini? Tan-piauwsu, tidak perlu main sandiwara lagi! Tentu orang-orangmu telah menceritakan betapa aku telah membunuh kedua orang pembantumu. Engkau tentu yang bertanggung jawab tentang pengiriman dan pembunuhan dua orang tokoh Siauw-lim-pai, dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam. Karena itu, aku datang untuk membunuhmu sebagai tebusan kejahatanmu. Bersiaplah!" Han Han sudah bergerak hendak memukul.
"Nanti dulu, Siauw-enghiong! Yang kaubunuh itu adalah dua orang Suteku, justeru aku ingin bertanya mengapa engkau membunuh mereka? Dan mengapa pula engkau hendak membunuhku?”
"Sudah jelas, kalian telah membunuh dua orang dari Siauw-lim Chit-kiam dan memasukkan jenazah mereka dalam peti. Karena salah sangka, aku membantu orang-orangmu dan kesalahan tangan membunuh orang-orang Siauw-lim-pai. Engkaulah yang bertanggung jawab. Aku bukan algojo, tukang bunuh orang tanpa sebab, maka engkau yang menjadi biang keladinya harus menebus dosa!" Setelah berkata demikian, Han Han menggerakkan tangan kirinya melakukan pukulan dengan jari tangan terbuka.
"Wesssss….!" Angin pukulan yang amat dingin menyambar. Tan-piauwsu mengenal tenaga sakti yang menyambar ganas. Ia berseru kaget dan cepat ia meloncat ke kanan untuk mengelak. Sebuah meja yang berdiri dua meter dibelakangnya menggantikannya kena sambaran tenaga pukulan itu dan pecah berantakan, terlempar sapai jauh!
Tan Bu Kong merasa ngeri, dan cepat ia melompat mundur sambil berseru, "Nanti dulu, Siauw-enghioog! Aku sama sekali tidak mengerti tentang jenazah-jenazah itu. Bukan kami yang bertanggung jawab, kami pun terperosok dalam perangkap musuh…."
“Sudah ada bukti hendak menyangkal lagi? Koko, orang ini pintar mainkan lidah, jangan kena dibohongi. Sikat saja!” kata Lulu yang ingin agar urusan ini cepat selesai sehingga ia dapat mengajak kakaknya mencari lauw Sin Lian agar dapat ia bertanya tentang musuh besarnya, ayah dari gadis itu.
Han Han juga berpendapat seperti Lulu. Sudah jelas buktinya bahwa peti-peti yang berisi jenazah itu diangkut oleh Pek-eng-piauwkiok, dan jelas pula bahwa ketika orang-orang Siauw-lim-pai minta supaya peti-peti itu dibuka, para pengawal Pek-eng-piauwkiok rnencegahnya mati-matian. Andaikata bukan orang Siauw-lim Chit-kiam, setidaknya Pek-eng-piauwkiok tentu bersekutu untuk rahasiakannya.
"Tidak perlu banyak cakap lagi!" katanya karena hatinya amat kesal kalau ia teringat betapa ia telah membunuh tujuh orang Siauw-lim-pai yang tidak berdosa dan karenanya Sin Lian, gadis yang dahulu amat baik terhadap dirinya, yang telah berkali-kali menolongnya, dan yang dengan rajin sekali memberi petunjuk-petunjuk kepadanya ketika ia mula-mula berlatih silat, menjadi marah-marah dan membenci kepadanya. Ia memukul lagi dengan tangan kirinya. Akan tetapi Tan-piauwsu yang sudah siap sedia dan yang melihat gerakan pemuda aneh itu maklum betapa pemuda itu gerakannya kaku namun memiliki hawa sakti yang menggiriskan, telah berkelebat cepat, mempergunakan ginkangnya meloncat tinggi dan melewati tubuh Han Han sambil mengayun tangan menotok pundak pemuda itu. Tan Bu Kong berjuluk Hoa-san Pek-eng (Garuda Putih dari Hoa-san), dan julukan ini saja menunjukkan bahwa dia dapat bergerak tangkas dan cepat seperti seekor burung garuda putih. Kecepatannya yang luar biasa ini membuat Han Han tak dapat menghindarkan totokan sehingga dua jari tangan piauwsu itu dengan keras menotok pundaknya.
"Dukkk!"
"Aduhhhhh….!" Bukan Han Han yang mengaduh, melainkan Tan-piauwsu sendiri karena tulang kedua jari tangannya hampir patah ketika ia menotok pundak yang keras dan panas seperti besi membara! Han Han menjadi marah, lalu memutar tubuhnya sehingga kedua kakinya bersilang, tangan kanan diayun ke depan mendorong ke arah tubuh Tan-piauwsu yang baru saja turun ke atas lantai.
"Aihhh….!!" Tan Bu Kong cepat meloncat lagi ke atas.
"Byarrr….!!" Pukulan tangan kanan Han Han mengandung tenaga sakti Yang-kang dan karena pukulannya dielakkan, maka hawa pukulannya terdorong terus menghantam tiang balok besar. Separuh dari tiang kayu itu rontok dan mengepulkan asap, sebagian besar gosong seperti terbakar api!
Tan-piauwsu dan para sutenya yang menyaksikan kehebatan pukulan ini, menahan napas dan mereka telah bersiap-siap untuk mengeroyok. Namun Han Han tidak mempedulikan mereka, terus mengejar Tan-piauwsu yang mempergunakan gerakan-gerakan ginkang untuk menghindarkan diri dari setiap pukulan jarak jauh.
Betapapun cepat gerakan Tan-piauwsu, ternyata gerakan Han Han yang memiliki tingkat sinkang jauh lebih kuat masih menang cepat! Pemuda ini mulai meloncat-loncat pula sehingga dalam belasan kali serangan saja, Tan-piauwsu telah kehilangan lubang untuk mengelak, sehingga ketika ia untuk ke sekian kalinya meloncat ke atas untuk menghindarkan diri, ia kurang cepat dan pundak kirinya masih terkena sambaran hawa sakti dari dorongan tangan kiri Han Han. Biarpun tidak tepat kenanya, hanya diserempet saja, namun tubuh Tan-piauwsu terguling dan dia menggigil karena kedinginan. Namun, piauwsu yang sudah banyak pengalaman ini masih sempat mencegah sute-sutenya dengan teriakan,
 "Sute, mundur semua!" Dan ia sendiri lalu meloncat ke atas karena dorongan tangan kanan Han Han telah menyusulnya.
"Desssss!"
lantai menjadi berlubang dan mengepulkan asap ketika terkena sambaran hawa yang keluar dari tangon kanan pemuda sakti itu. Ia mulai merasa penasaran dan ketika ia hendak menerjang tubuh Tan-piauwsu yang masih melambung itu tiba-tiba berkelebat bayangan orang yang cepat sekali gerakannya, kemudian tahu-tahu tubuh Tan-piauwsu telah disambar orang itu sehingga kembali pukulan Han Han luput!
 
Ternyata yang datang dan sempat menolong Tan-piauwsu dari bahaya maut itu adalah seorang pemuda tampan sekali, bertubuh tinggi besar dan di belakangnya berdiri seorang gadis cantik yang sudah mencabut pedang dan sikap keren berdiri memandang Han Han.
Pemuda itu adalah Hoa-san Gi-hiap dan gadis itu bukan lain adalah sumoinya, Hoa-san Kiam-li. Mereka berdua baru saja pulang dari penyelidikan mereka ke gedung tempat tinggal puteri Mancu. Ketika mereka memasuki piauw-kiok, mereka melihat pertandingan itu dan terkejut sekali mereka menyaksikan suheng mereka terancam bahaya. Hoa-san Gi-hiap yang tingkat kepandaiannya lebih tinggi daripada Tan-piauwsu, sekali pandang saja maklum bahwa pemuda rambut panjang itu memiliki sinking yang luar biasa sekali dan bahwa untuk menolong suhengnya, jalan satu-satunya hanya menyambar tubuhnya dan membawanya pergi. Maka ia cepat meloncat, menggunakan ginkangnya dan un tung ia tidak terlambat sehingga Tan-piauwsu terhindar dari bencana maut.
"Siapakah engkau yang datang membikin kacau di sini?" Hoa-san Gi-hiap menegur setelah ia menurunkan tubuh Tan Bu Kong yang segera bersila di lantai sambil mengatur napas untuk melawan hawa dingin yang menerobos masuk melalui pundaknya.
"Hemmm, dan kau sendiri siapa berani berlancang tangan mencampuri urusan orang lain?" Han Han juga menegur.
Dua orang muda itu berhadapan, saling memandang dengan sinar mata tajam. Mereka sama tinggi, hanya Han Han kalah gemuk karena dia memang agak kurus, sama tampan dan usia mereka pun agaknya sebaya. Para murid Hoa-san-pai dan para pengawal memandang dengan hati tegang. Pemuda rambut riap-riapan itu lihai sekali, akan tetapi mereka pun maklum bahwa pemuda tokoh Hoa-san-pai itu memiliki ilmu kepandaian yang jauh melampaui tingkat Tan-piawsu sendiri. Juga Hoa-san Kiam-li amat lihai sehingga dengan adanya dua orang muda itu, hati mereka menjadi lega.
Han Han dan jago muda Hoa-san-pai itu masih saling berpandangan, tidak menjawab pertanyaan masing-masing yang sama maksudnya. Akan tetapi pandang mata mereka kini berubah, tidak lagi penuh penasaran dan kemarahan seperti tadi, melainkan penuh keheranan, keraguan dan menduga-duga.
 "Ya Tuhan….! Bukankah kau….. kau Sie Han? Yang dahulu disebut Han Han, jembel
baik budi yang membagi-bagi roti?" Hoa-san Gi-hiap berseru penuh keheranan.
"Dan kau….., jembel cilik nakal, kau Wan Sin Kiat yang dahulu kepingin menjadi perwira! Benarkah?" teriak Han Han.
Dua orang muda itu saling pandang, kemudian tertawa bergelak lalu saling tubruk, saling rangkul sambil tertawa-tawa! Semua orang yang berada di situ memandang dengan mata terbelalak, mereka tertegun dan hanya dapat mernandang dua orang muda yang tadinya diharapkan akan bertanding dengan hebat kini malah berpelukan dan tertawa-tawa
itu.
"Koko, siapakah dia ini? Jembel cilik nakal? Kawan jembelmu di waktu kecil? Wah, ketika aku dahulu menjadi jembel cilik, aku tidak punya sahabat baik!" kata Lulu yang menghampiri mereka.
Han Han masih tertawa-tawa ketika ia melepaskan rangkulannya dari pundak Sin Kiat atau Hoa-san Gi-hiap itu. Ia lalu menoleh kepada adiknya.
 "Lulu, dia ini bernama Wan Sin Kiat, sahabat baikku, seorang jantan tulen! Sin Kiat, ini Adikku, namanya Lulu. Manis, ya?"
Sin Kiat yang tentu saja tidak biasa dengan sikap tulus wajar seperti itu, menjura kepada Lulu dengan muka merah. Jantungnya terasa seperti copot tersendal keluar oleh sinar mata yang menyorot dari sepasang mata yang seperti in tang kembar itu. Ia menahan napas karena harus ia akui bahwa selama hidupnya belum pernah ia bertemu dengan seorang dara sejelita ini. Dan dara ini adik Han Han!
Setelah menjura dengan hormat tanpa dibalas oleh Lulu yang hanya memandang kagum melihat wajah tampan dan sikap halus ramah itu, Sin Kiat menoleh kepada sumoinya yang juga sudah menghampiri mereka. "Han Han, dia adalah Sumoiku, namanya Lu Soan Li. Sumoi, inilah Sie Han, sahabat baikku di waktu kecil!"
Han Han masih ingat untuk melakukan penghormatan dengan merangkap kedua tangan di depan dada, akan tetapi mulutnya langsung menyatakan isi hatinya tanpa disadarinya,
"Nona cantik sekali!" 
Lu Soan Li menjadi merah mukanya, semerah udang direbus dan semua orang mendengarkan sambil menahan napas. Akan tetapi Soan Li tidak marah, hanya tersenyum dan membalas penghormatan Han Han. 
"Sute! Apa artinya ini? Dia…. dia sahabatmu?" Tiba-tiba Tan Bu Kong menegur dan piauwsu ini sudah dapat berdiri, memandang dengan mata terbelalak penuh rasa heran dan penasaran. 
Sin Kiat teringat akan suhengnya. "Suheng, dia ini Sie Han, sahabatku. Han Han, dia ini Tan-suheng. Eh, mengapa kau tadi bertempur melawan Suheng? Kau hebat bukan main, untung aku keburu datang. Kenapakah kau memusuhi Suhengku yang baik hati ini?"
Alis Han Han berkerut. "Ah, dia Suhengmu, Sin Kiat? Hemmm sungguh tidak menyenangkan sekali. Harap kauingat akan persahabatan kita dan jangan mencampuri urusan ini. Aku datang hendak membunuh orang jahat ini!"
"Eh, apa artinya ini? Han Han, mengapa begitu?"
"Sute, mengapa engkau begini lemah? Biarpun di waktu kecil sahabat, akan tetapi sekarang dia musuh besar kita! Dia seorang kejam yang telah membunuh kedua Suhengmu Lie Cit San dan Ok Sun!"
Sin Kiat dan Soan Li melangkah mundur sampai tiga tindak dengan muka pucat. Apalagi Sin Kiat, dia terheran-heran dan sejenak menjadi bingung mendengar keterangan yang baginya seperti halilintar menyambar ini. "Han Han! Benarkah itu? Engkau yang membunuh dua orang Suhengku yang mengawal kereta?"
Han Han mengangguk. "Benar, Sin Kiat. Dan aku akan membunuh Tan-piauwsu ini pula, harap engkau jangan mencampurinya!"
Dengan wajah pucat Sin Kiat memandang sahabatnya di waktu kecil itu. "Han Han, benarkah engkau menjadi begini kejam sekarang? Ceritakan mengapa engkau membunuh dua orang Suhengku yang mengawal kereta dan mengapa pula kau hendak membunuh Tan-suheng. Aku sudah mendengar penuturan para pengawal Pek-eng-piauwkiok, akan tetapi sepak terjangmu sungguh membuat aku tidak mengerti."
"Sin Kiat, bukan urusanmu. Minggirlah!"
"Tidak! Kalau kau tidak mau memberi penjelasan, lebih baik kau membunuh aku pula, dan tentu akan kucoba melawanmu sekuatku."
Mereka berpandangan pula. Han Han menghela napas. "Engkau keras kepala seperti dulu! Aku membunuh dua orang piauwsu itu karena mereka jahat, mereka menyembunyikan jenazah dua orang dari Siauw-lim Chit-kiam dalam kereta, melarang orang-orang Siauw-lim-pai melihat jenazah, sehingga aku menjadi tertipu pula, membantu mereka dan kesalahan tangan membunuh tujuh murid Siauw-lim-pai yang tidak berdosa. Karena itu aku membunuh dua orang piauwsu itu dan kini aku akan membunuh pula Tan-piauwsu yang sebagai pemimpin menjadi biang keladi utama!"
Sin Kiat mengangkat tangannya."Wah, semua adalah kesalahfahaman yang amat besar! Semua adalah sahabat-sahabat, baik antara Siauw-lim-pai dengan Hoa-san-pai, maupun antara engkau pribadi dengan kami. Kita semua telah menjadi korban perbuatan terkutuk, korban tipu muslihat yang dipasang oleh puteri Mancu yang lihai itu.. Tan-suneng, Han Han tidak dapat dipersalahkan telah membunuh Lie-suheng dan Ok-suheng setelah dia membantu mereka menghadapi orang-orang Siauw-lim-pai. Han Han, akulah yang menanggung bahwa kami semua, terutama Tan-suheng, sama sekali tidak bersalah dalam urusan dua jenazah dalam peti. Mari kita bicara dan dengarlah penuturanku." Sin Kiat menggandeng tangan Han Han, menariknya duduk menghadapi meja besar di ruangan itu. Lulu mengikuti kakaknya, dan Soan Li juga mengikuti suhengnya, kedua orang gadis ini tidak ikut bicara karena maklum betapa tegangnya urusan antara mereka itu.
Setelah mereka mengambil tempat duduk, Wan Sin Kiat menceritakan semua peristiwa yang terjadi dari semula ketika gadis Mancu, yang ternyata adalah Puteri, Nirahai seperti ia ketahui dari hasil penyelidikannya hari itu, mendatangi Pek-eng-piauwkiok mengirimkan dua buah peti dengan biaya mahal namun dengan janji takkan dibuka dan apabila tidak sampai di tempatnya, Pek-eng-piauwkiok akan dibasmi dan dianggap pemberontak.
"Kami tidak mungkin dapat menolak permintaannya yang luar biasa itu, Sie-enghiong," Tan-piauwsu memotong cerita sutenya, "karena mengingat bahwa dia itu adalah seorang puteri Kaisar sehingga apabila kami menolak, tentu kami akan dicap menentang pemerintah. Dan sebagai orang-orang gagah yang memegang teguh janji, tentu saja para pembantuku tidak mau membuka peti-peti .itu, biarpun dengan taruhan nyawa karena hal itu telah menjadi tugas mereka. Kalau saja kami tahu bahwa isi dua buah peti adalah jenazah manusia, apalagi jenazah kedua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam yang terkenal, biar dihukum mati sekalipun tentu saja kami tidak sudi menerima permintaan puteri iblis itu."
Wan Sin Kiat lalu melanjutkan ceritanya, selain tentang pengawal kereta yang dihadang oleh anak-anak murid Siauw-lim-pai, juga tentang suhengnya, Teng Lok yang membayangi Puteri Nirahai dan kemudian terbuntung lengannya. Ia menutup penuturannya dengan kata-kata, "Nah, kau kini mengerti Han Han, bahwa peristiwa ini sama sekali bukanlah kesalahan fihak kami, juga terutama sekali bukan kesalahan Tan-piauwsu. Semua ini tentu telah diatur oleh puteri iblis itu yang sengaja hendak mengadu domba antara fihak Hoa-san-pai dan fihak Siauw-lim-pai. Siasat kejinya itu pasti akan berhasil baik dan kedua fihak tentu melakukan pertandingan saling membunuh dalam hutan itu kalau saja tidak muncul engkau yang mengacaukan semua rencana keji itu, akan tetapi biarpun mengacau, tetap saja merugikan kedua fihak karena engkau yang masuk pula dalam perangkap telah membunuh tujuh anak murid Siauw-lim-pai dan dua orang murid Hoa-san-pai. Keadaan ini gawat sekali, Han Han. Betapapun juga, fihak Siauw-lim-pai tentu tidak mau menerima kematian tujuh orang murid mereka sebagai tambahan kematian dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam. Bagi mereka hal itu merupakan malapetaka hebat dan tentu saja semua kesalahan ditimpakan kepada Hoa-san-pai karena engkau sendiri pun tentu dianggap seorang dari Hoa-san-pai, atau setidaknya menjadi pembantu Hoa-san-pai."
Han Han bukan seorang bodoh. Ia segera dapat melihat, mengerti setelah mendengar penuturan itu. Mudah saja diperkirakan bagaimana jalannya tipu muslihat yang licin itu. Hatinya merasa menyesal dan kecewa sekali. Nasibnya benar-benar amat buruk. Dia telah membunuh tujuh orang murid Siauw-lim-pai yang tidak berdosa karena salah sangka. Kemudian, dalam marahnya oleh kesalahan tangan itu ia membunuh pula dua orang murid Hoa-san-pai yang ternyata kemudian tidak berdosa pula! Han Han mengerutkan keningnya, menggeleng kepala dan berkata.
“Aahhh…. kalau begitu semua kesalahan tertimpa di pundakku! Baik Siauw-lim-pai maupun Hoa-san-pai tentu menyalahkan aku karena aku telah membunuh anak murid mereka. Tan-piauwsu, harap kaumaafkan kekasaranku tadi." Ia bangkit menjura kepada Tan-piauwsu yang cepat membalas. Piauwsu ini memandang kagum dan menghela napas karena selama hidupnya baru sekali ini ia bertemu seorang pemuda yang demikian anehnya dan demikian kuat sinkangnya.
"Engkau juga tidak boleh terlalu disalahkan, Sie-enghiong. Andaikata engkau tidak turun tangan dan terlibat dalam urusan ini, kurasa antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai tetap saja akan terjadi pertentangan yang mungkin membawa akibat lebih parah dan lebih berlarut-larut lagi."
Sejenak keadaan menjadi sunyi, semua orang tenggelam dalam lamunan masing-masing menghadapi urusan yang amat tidak menyenangkan hati itu. Tiba-tiba terdengar suara Lulu.
"Wah, sialan benar, Koko! Kau membantu rombongan piauwsu ternyata salah tangan membunuh murid-murid Siauw-lim-pai yang tak berdosa! Kemudian kau membunuh dua orang piauwsu untuk membela kematian murid-murid Siauw-lim-pai dan ternyata yang kaubunuh itu juga tidak bersalah! Itulah kalau kau terlalu bernafsu untuk menolong orang, Koko! Sekarang semua kesalahan ditimpakan kepadamu!"
Semua orang tertegun. Dara remaja yang cantik jelita ini bicaranya amat kasar, jujur dan tanpa sungkan-sungkan lagi. Akan tetapi Sin Kiat memandang dengan mata kagum. Semenjak tadi, tiap kali ia memandang Lulu, jantungnya berdebar tidak karuan dan setiapgerak-gerik Lulu selalu menarik hatinya, bahkan ketika Lulu mencela Han Han, ia tersenyum dan di dalam hati membenarkan dara ini seribu prosen! Memang demikianlah kalau cinta kasih telah mencengkeram hati seorang pemuda. Apa pun yang dilakukan, diucapkan dan dipikir dara yang dicintanya, selalu benar dan menarik hati! Tanpa disadarinya sendiri, sekali bertemu dengan Lulu, Wan Sin Kiat pendekar muda Hoa-san-pai ini telah bertekuk lutut, hatinya jungkir-balik dalam cengkeraman asmara.
"Menurut pendapat saya, Saudara Sie tidaklah salah. Dia melakukan pembunuhan-pembunuhan itu dalam pertempuran dan dengan dasar hendak berbuat baik. Pembunuhan atas diri tujuh orang murid Siauw-lim-pai terjadi karena Saudara Sie mengira mereka itu perampok yang hendak mengganggu rombongan pengawal Pek-eng-piauwkiok. Kemudian, pembunuhan yang dia lakukan atas diri kedua orang Suheng kami pun didasari pendapat bahwa mereka berdua itu amat jahat terhadap orang-orang Siauw-lim-pai. Hanya sayang sekali bahwa Saudara Sie terlalu terburu nafsu, seandainya tidak terburu nafsu dan agak sabar sambil meneliti keadaan, belum tentu terjadi hal yang amat menyedihkan ini." Ucapan yang keluar dari mulut Lu Soan Li terdengar sungguh-sungguh, dan pandang matanya yang ditujukan kepada Han Han penuh simpati dan pembelaan. Hal ini terasa pula oleh Han Han sehingga ia bangkit menjura kepada nona itu sambil berkata.
"Nona Lu benar-benar amat adil dan aku mengucapkan terima kasih, juga aku harus mengakui semua kelancanganku yang telah mengakibatkan bencana ini. Biarlah akan kuhadapi semua akibatnya, bahkan aku akan menghadap Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai untuk menerima hukuman kalau perlu!"
Jawaban ini memancing keluar sinar mata yang penuh kekaguman dari pandang mata Lu Soan Li. Seperti halnya suhengnya yang sekaligus tergila-gila kepada Lulu, gadis pendekar Hoa-san-pai ini pun amat tertarik akan pribadi Han Han yang aneh dan penuh dengan sifat-sifat liar ganas namun gagah perkasa.
"Ah, engkau tidak boleh dipersalahkan, Han Han!" Tiba-tiba Wan Sin Kiat berkata. "Yang bersalah adalah Puteri Nirahai yang seperti iblis betina itu! Aku bersama Sumoi sehari tadi pergi menyelidik dan mendapat kabar bahwa dia itu adalah puteri selir Kaisar Mancu bernama Nirahai dan bahwa kini dia sedang pergi ke kota raja; agaknya untuk melaporkan hasil muslihatnya kepada Kaisar. Terkutuk benar puteri Mancu itu. Dan orang-orang Mancu memang amat jahat, penjajah laknat yang sepatutnya dibasmi dari muka Bumi ini!" Dalam kemarahan terhadap penjajah Mancu, Sin Kiat bangkit dari kursinya. Memang semua anak murid Hoa-san-pai adalah patriot-patriot yang merasa marah melihat tanah air dijajah bangsa Mancu, sehingga menimbulkan rasa benci kepada bangsa Mancu.
Tiba-tiba semua orang, terutama sekali Sin Kiat sendiri, dikejutkan oleh bentakan Lulu yang sudah bangkit berdiri pula lalu bertolak pinggang, matanya yang lebar memancarkan kemarahan, sepasang pipinya menjadi merah sekali, mulutnya yang kecil cemberut, kepalanya bergerak-gerak sehingga rambut yang dikepang dua itu bergoyang, satu di depan dada, yang lain di belakang punggung. Manis bukan main dalam pandangan Sin Kiat, akan tetapi pada saat itu pemuda ini memandang terbelalak dengan kaget mendengar bentakan Lulu.
"Eihhh…… eihhhhh….., seenaknya saja membuka mulut, ya?!" Telunjuk tangan kirinya diangkat menuding ke arah hidung Sin Kiat, sedangkan tangan kanannya masih bertolak pinggang. "Wan Sin Kiat, apakah engkau hendak menyamakan satu bangsa manusia dengan seladang gandum saja?"
Sin Kiat terbelalak heran. "Apa….. apa….. maksudmu, Nona….?" Baru sekali ini selama hidupnya, pendekar muda yang biasanya lincah, ramah, tabah dan pandai bicara itu kehilangan akal dan menjadi gugup.
Lulu memandang tajam dengan sepasang matanya yang lebar dan indah sehingga Sin Kiat menjadi makin bingung dan gugup, seolah-olah menjadi seorang pesakitan yang menghadapi jaksa penuntut. "Kalau ada beberapa batang gandum yang busuk, orang menganggap seladang gandum itu busuk. Akan tetapi kalau ada beberapa orang Mancu jahat, apakah patut kalau seluruh bangsa Mancu dianggap jahat semua? Kalau begitu, karena aku mendengar bahwa banyak bangsa Han yang menjadi pengkhianat bangsa, semua bangsa Han adalah pengkhianat, termasuk engkau! Dan aku tahu bahwa banyak sekali perampok bangsa Han, maka semua bangsa Han adalah perampok, termasuk engkau! Ada pula bangsa Han yang jahat sekali maka semua bangsa Han adalah jahat, terutama engkau! Begitukah pendapatmu??"
Muka Sin Kiat menjadi merah, kemudian pucat, dan dengan gugup ia berkata.
"Tentu saja tidak, dan…. eh, itu lain lagi…. akan tetapi…. ahhh, mengapa kau marah-marah karena aku mencela bangsa Mancu yang menjadi musuh kita, Nona?"
"Tentu saja marah! Kau mengatakan aku jahat dan patut dibasmi dari muka bumi, dan kau masih bertanya mengapa aku marah? Hayo, kau basmilah aku! Kaukira
Han Han hanya memandang sambil tersenyum. Rasakan kau, Sin Kiat, pikirnya dengan hati geli. Rasakan kau menghadapi adikku yang liar ini. Ketemu tanding kau!
"Eh, kapan aku mengatakan demikian, Nona? Bagaimana ini, Han Han?"
"Tak usah mencari pelindung! Dan seorang laki-laki tidak patut plin-plan, bicara mencla-mencle! Bukankah kau tadi mengatakan bahwa semua bangsa Mancu jahat dan patut dibasmi dari muka bumi ini?"
"Benar demikian, akan tetapi tidak menyangkut dirimu, Nona….”
"Kau bilang semua bangsa Mancu dan kini mengatakan tidak menyangkut diriku? Aku seorang gadis Mancu, tahukah engkau??"
“Aihhh….." Sin Kiat terkejut sekali dan semua orang yang berada di situ pun terkejut, cepat bangkit berdiri dalam keadaan siap siaga. Kalau gadis ini seorang Mancu, berarti bahwa rahasia Pek-eng-piauwkiok sebagai anggauta pejuang menjadi bocor!
"Hayo, siapa yang menganggap aku jahat dan patut dibasmi? Maju! Aku tidak takut!!" bentak Lulu dengan mata dilebarkan dan sikap mengancam. Lu Soan Li yang sejak tadi memperhatikan Han Han secara diam-diam dan melihat betapa pemuda rambut terurai itu tersenyum-senyum geli, dapat lebih dulu menguasai hatinya. Ia melangkah maju dan memegang pundak Lulu sambil berkata, "Aihhh, Adik Lulu yang baik, siapa sih yang mau memusuhimu? Suheng telah salah bicara, apakah kau begini kejam untuk menekannya? Lihat, dia sudah amat menyesal dan kebingungan!"
Dengan muka merah Wan Sin Kiat lalu menjura. "Harap Nona Sie suka memaafkan mulutku yang lancang."
Lulu cemberut dan mengerling ke arah pemuda tinggi besar itu. "Habis, kau terlalu menghina sih….!”
Han Han tertawa lalu berkata nyaring setelah menyaksikan ketegangan membayang di wajah semua orang yang hadir, "Tak perlu disembunyikan, memang Adikku ini adalah seorang gadis Mancu, akan tetapi sekarang telah menjadi Adikku, she Sie dan namanya tetap Lulu. Hendaknya dikethui bahwa semenjak kecil, Adikku ini hidup sebatangkara dan menderita karena Ayah Bundanya dan seluruh keluarganya dibasmi habis oleh para pejuang."
"Ahhhhh…..!" seruan ini keluar dari mulut Sin Kiat.
"Apa ah-ah-uh-uh-uh sejak tadi? Biar keluargaku dibunuh habis oleh orang Han, aku tidak begitu tolol untuk menganggap semua orang Han musuh-musuhku yang harus kubasmi habis dari muka bumi!"
Wajah Sin Kiat makin merah dan ia benar-benar terpukul. Seolah-olah dibuka matanya betapa kelirunya mendendam kepada bangsa lain hanya karena terjadi perang, karena sesungguhnya tidak semua orang dari sesuatu bangsa itu jahat semua atau baik semua.
"Aku telah mengaku salah, harap Nona maafkan dan mau hukum apa pun juga aku siap menerimanya."
Han Han tersenyum lebar. "Lulu, dia sudah mengaku salah dan minta dihukum. Hayo, kau hukumlah dia kalau kau mau!"
Aneh sekali, digoda kakaknya begini, Lulu yang biasanya lincah dan nakal, kini hanya cemberut, kemudian melengos dengan kedua pipinya merah. Semua orang merasa lega bahwa tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, akan tetapi tetap saja masih ada rasa tegang di antara mereka setelah mendengar bahwa dara jelita itu adalah seorang gadis Mancu. Mereka semua telah menjadi korban kekejian seorang puteri Mancu, kini di situ terdapat seorang gadis Mancu, bagaimana mereka tidak akan menjadi gelisah dan tidak enak hati?
"Keadaan menyedihkan seperti yang kini timbul dalam hati Sin Kiat dan Lulu adalah akibat perang yang terkutuk!" demikian Han Han berkata setelah semua orang duduk kembali. "Perang yang hanya dicetuskan oleh beberapa gelintir orang yang berambisi, yang memperebutkan kekuasaan dan kedudukan, membakar hati semua rakyat, menimbutkan kekejaman-kekejaman, menimbulkan dendam, menimbulkan kebencian antara bangsa yang sesungguhnya adalah sesama manusia. Perang menjadikan keluargaku terbasmi orang-orang Mancu dan sebaliknya menjadikan keluarga Adikku Lulu terbasmi oleh orang-orang Han. Yang suka akan perang hanyalah mereka yang rnenginginkan kedudukan tinggi dan kemuliaan di kerajaan. Dengan dalih membela nusa bangsa, mereka ini mempergunakan kekuatan rakyat yang sebetulnya membenci perang karena perang hanya mendatangkan malapetaka bagi rakyat jelata, sebaliknya mendatangkan kemuliaan duniawi bagi para penggerak perang yang mendapat kemenangan! Rakyat Mancu ditipu oleh para pimpinan mereka, dijadikan bala tentara yang setiap saat kehilangan nyawanya. Sebaliknya, rakyat pribumi ditipu oleh pimpinan
mereka, dijadikan pula tentara yang mengorbankan nyawa. Dalihnya berlainan, namun selalu yang muluk-muluk memabukkan dan membodohi rakyat, padahal semua itu hanya ditujukan kepada pamrih yang satu, yaitu kemuliaan dan kemenangan bagi para pimpinan!"
Mendengar ucapan penuh nafsu dari pemuda aneh yang rambutnya terurai kacau itu, Tan-piauwsu sendiri melongo. Ucapan itu mengandung penuh kepahitan, namun memang pada kenyataannya demikianlah. Dan pendirian seperti yang diucapkan pemuda ini bahkan menjadi pendirian pula dari banyak partai persilatan termasuk Hoa-san-pai sendiri ketika terjadi perang saudara. Akan tetapi hanya dalam perang saudara saja para tokoh kang-ouw tidak suka mencampurkan diri, diperalat oleh mereka yang memperebutkan kedudukan dengan saling bunuh antara sebangsa sendiri! Akan tetapi sekarang, yang menjajah negara adalah bangsa Mancu sehingga pendapat Han Han itu lebih luas lagi, tidak lagi mengenal bangsa melainkan berlaku untuk seluruh manusia sedunia! Ia maklum bahwa tentu bocah itu terpengaruh oleh kasih sayangnya terhadap adik angkatnya, gadis Mancu itu sehingga pertalian persaudaraan antara mereka melenyapkan rasa benci kepada bangsa Mancu, sungguhpun keluarganya sendiri terbasmi oleh orang-orang Manchu.
"Tepat sekali, Koko!" Lulu bersorak girang. "Aku akan senang sekali melihat para kaisar yang gendut karena banyak makan dan terlalu senang hidupnya, berikut semua pembesar-pembesar tinggi, mengadakan perang sendiri, tidak membawa-bawa rakyat jelata! Biarkan mereka itu berperang, kaisar lawan kaisar, menteri lawan menteri, dan pembesar lawan pembesar. Tentu badut-badut itu akan terkencing-kencing ketakutan menghadapi
ancaman maut!"
.Kembali semua orang terheran. Tidak ada yang mau membantah pendapat dua orang muda yang aneh itu karena mereka tidak ingin timbulnya satu kesalahfahaman lagi. Bahkan Tan-piauwsu lalu membelokkan percakapan.
"Yang terpenting sekarang kita harus menghadapi kenyataan. Tak dapat disangkal lagi bahwa fihak Siauw-lim-pai tentu akan memusuhi Sie-enghiong, juga fihak pimpinan. Hoa-san-pai akan salah faham terhadap Sie-enghiong. Oleh karena itu, sara harap Ji-wi suka sementara tinggal di sini menanti datangnya mereka itu. Saya yakin bahwa orang-orang Siauw-lim-pai tentu akan datang ke sini, mengingat bahwa peristiwa ini timbul dari Pek-eng-piauwkiok yang membawa dua peti jenazah. Kalau Sie-enghiong berada di sini, ada kami yang akan menjadi saksi dan yang akan menerangkan duduknya perkara sebenarnya sehingga semua fihak mengerti bahwa yang menjadi biang keladinya adalah puteri Mancu itu."
Han Han mengerutkan keningnya. "Akan tetapi, kami tidak suka mengganggu Cu-wi sekalian. Lebih baik aku dan Adikku pergi, karena aku pun ingin sekali-kali bertemu dengan puteri Mancu yang demikian lihainya, dan tentang kemarahan fihak Siauw-lim-pai maupun pimpinan Hoa-san-pai, biarlah kami sendiri yang menanggungnya."
Wan Sin Kiat memegang tangan sahabatnya itu. "Aih, Han Han. Mengapa kau banyak sungkan? Kita berada di antara sahabat sendiri. Aku ingin sekali bercakap-cakap denganmu. Tinggallah di sini barang sepekan. Apakah engkau sudah melupakan sahabatmu ini? Sahabat senasib sependeritaan di waktu kecil? Aku ingin mendengar semua pengalamanmu, juga ingin menceritakan pengalaman-pengalamanku. Demi persahabatan kita, kuharap kau dan Nona Sie sudi untuk tinggal beberapa hari lamanya di sini."
Berat juga rasanya hati Han Han untuk menolak. Apalagi ketika Lu Soan Li merangkul Lulu dan berkata, "Adik yang manis, kuharap kau tidak menolak undangan kami. Aku ingin sekali belajar satu dua pukulan darimu yang lihai agar bertambah pengertianku!"
"Aih, Cici. Engkau merendahkan diri. Sebagai tokoh Hoa-san-pai, agaknya aku yang harus berguru kepadamu!" Dua orang gadis itu bersendau-gurau, keduanya sama muda remaja, sama cantik jelita. Han Han merasa kasihan kepada adiknya dan tidak tega untuk memaksanya pergi sekarang juga. Sudah terlalu lama Lulu tinggal menyendiri di pulau, terlalu lama jauh dari pergaulan mesra. Kini bertemu dengan gadis Hoa-san-pai itu, timbul kegembiraan hati Lulu dan sebaiknya kalau mereka tinggal di situ beberapa lamanya. Juga, ia tidak dapat membantah bahwa ia merasa am at suka kepada sahabat lamanya yang kini telah menjadi seorang pemuda tampan yang gagah perkasa itu, di samping merasa suka kepada Lu Soan Li yang cantik manis, pendiam dan memiliki sifat-sifat gagah dalam gerak-geriknya.
Demikianlah, Han Han dan Lulu tinggal di Pek-eng-piauwkiok, dijamu dan diperlakukan dengan manis dan hormat oleh Tan-piauwsu dan para anah buahnya. Mereka telah melupakan rasa dendam bahwa pemuda ini telah membunuh Lie Cit San dan Ok Sun. Kini mereka maklum bahwa pemuda ini melakukan hal itu tanpa dasar membenci Hoa-san-pai. Bahkan tadinya pemuda itu membantu Lie Cit San dan Ok Sun menghadapi orang-orang Siauw-lim-pai sehingga membunuh tujuh orang murid Siauw-lim-pai. Kemudian pemuda itu membunuh dua orang tokoh Hoa-san-pai itu hanya karena menganggap mereka ini jahat. Semua terjadi karena kesalahfahaman, terjadi sebagai akibat daripada tipu muslihat keji yang diatur oleh Puteri Nirahai yang selain lihai juga amat cerdik itu.
Lulu benar-benar mendapatkan kegembiraan di tempat ini. Dia merupakan sahabat yang amat cocok dengan Lu Soan Li, bahkan ia bersikap manis terhadap Wan Sin Kiat. Juga Han Han merasa suka kepada Lu Soan Li yang manis budi dan pendiam. Empat orang muda ini setiap hari berkumpul, bercakap-cakap dan Han Han mendengarkan penuturan Wan Sin Kiat dengan hati tertarik.
Ternyata dari penuturan tokoh muda Hoa-san-pai itu bahwa tidak lama setelah berpisah dari Han Han, Wan Sin Kiat bertemu dengan seorang tosu aneh. Tosu ini sesungguhnya adalah seorang tokoh Hoa-san-pai, akan tetapi berbeda dengan tokoh-tokoh Hoa-san-pai yang lain, tokoh ini adalah seorang tosu perantau yang selain wataknya aneh, juga memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi karena ilmu-ilmunya dari Hoa-san-pai mendapat kemajuan pesat setelah ia banyak merantau dan menyempurnakan ilmu-ilmunya dengan membandirigkannya dengan ilmu dari lain golongan. Tosu ini berjuluk Im-yang Seng-cu dan selain Sin Kiat, dia juga mengambil seorang murid wanita, yaitu Lu Soan Li yang hidupnya juga sudah sebatangkara, ditinggal mati keluarganya dalam sebuah bencana banjir Sungai Huang-ho.
Berkat gemblengan suhu mereka yang memiliki kesaktian melebihi tokoh-tokoh Hoa-san-pai lainnya, Sin Kiat dan Soan Li menjadi jago muda yang lihai sekali, sehingga biarpun menurut tingkat mereka itu terhiturtg masih sute dan sumoi dari Tan-piauwsu, akan tetapi dalam ilmu silat, mereka jauh melampaui tingkat kepandaian sang suheng ini. Sudah banyak mereka melakukan perbuatan-perbuatan menggemparkan dunia kang-ouw dengan separk terjang mereka sebagai pendekar-pendekar muda yang perkasa, bahkan semenjak ada gerakan perjuangan melawan pemerintah penjajah Mancu, kedua orang muda ini sudah banyak berjasa. Tentu saja ketika menceritakan pengalamannya Sin Kiat tidak menceritakan tentang perjuangan ini, khawatir kalau-kalau akan membikin hati Lulu menjadi tidak enak. Apalagi karena ia mengenal pendirian Han Han yang agaknya tidak ingin melibatkan dirinya dalam urusan perang. Ia hanya menceritakan tentang pertemuannya dengan Im-yang Seng-cu, kemudian betapa bersama sumoinya dia digembleng oleh gurunya sambil merantau sampai jauh ke selatan dan ke barat. Diceritakannya pula pertandingan-pertandingan melawan kaum penjahat dalam usaha mereka membasmi kejahatan sehingga Sin Kiat mendapat julukan Hoa-san Gi-hiap dan sumoinya dijuluki Hoa-san Kiam-li. Nama mereka terkenal di dunia kang-ouw sebagai tokoh-tokoh muda Hoa-san-pai yang mengagumkan.
Han Han dan Lulu mendengarkan dengan amat tertarik. Apalagi Lulu. Dia mendengarkan penuturan pemuda tampan tinggi besar itu seperti mendengar dongeng yang amat menarik hati. Ia seolah-olah berubah menjadi arca, pandang matanya melekat dan bergantung kepada bibir Sin Kiat yang bergerak-gerak ketika bercerita. Baru setelah selesai cerita itu, Lulu menghela napas panjang, memejamkan matanya sejenak lalu berkata.
"Wahhh kalian hebat sekali…! Kalian ini pendekar-pendekar muda yang amat mengagumkan….!" Ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Sin Kiat, Lulu melihat betapa pandang mata pemuda itu bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri seolah-olah ucapan Lulu tadi mendatangkan rasa bahagia yang luar biasa. Tentu saja Lulu tidak mengerti atau dapat menduga akan isi hati Sin Kiat, hanya dia pada saat itu merasa betapa wajah pemuda ini sungguh tampan dan gagah. Entah mengapa, jantungnya berdebar dan pipinya tiba-tiba terasa panas. Untuk menghindarkan perasaan yang tidak dikenalnya ini, Lulu berpaling kepada Soan Li dan berkata, "Enci Soan Li, engkau hebat sekali, lain waktu kau harus memberi pelajaran ilmu pedang kepadaku!"
Soan Li merangkulnya dan mengerling kepada Han Han. "Adik Lulu, engkau seperti mutiara terpendam, tidak dikenal akan tetapi dalam hal kepandaian, agaknya aku boleh berguru kepadamu!"
"Wah, Adikku dan aku ini sama sekali tidak memiliki kepandaian, mana dapat dibandingkan dengan Sin Kiat dan kau, Nona Lu?" Han Han berkata sambil tersenyum. Gadis itu memandangnya dan sejenak pandang mata mereka bertemu, bertaut dan seolah-olah ada sesuatu yang membuat mereka sukar sekali untuk melepaskan pandang mata mereka dari pertemuan yang melekat itu.
Lulu bertepuk tangan. "Hi-hik, dari tadi tiada hentinya kalian saling memandang saja. Ada apakah dengan Enci Soan Li, Koko? Dan mengapa kau mengerling saja kepada Kakakku, Enci Soan Li?"
"Ihhh, genit kau, Adik Lulu!" Soan Li menjadi merah sekali mukanya dan ia mencubit paha Lulu sehingga gadis ini menjerit.
Han Han juga merasa betapa mukanya menjadi panas, maka ia tertawa dan memandang, "Lulu, kita mempunyai mata untuk memandang! Apa salahnya dipakai memandang sesuatu yang indah dan menarik?"
Ucapan Han Han yang terus terang ini membuat Soan Li menjadi makin malu dan jengah lagi. Dia sendiri diam-diam menjadi amat heran akan diri sendiri. Sudah banyak kali terjadi, ia menjadi marah-marah kalau mendengar ada laki-laki mengeluarkan ucapan-ucapan tentang dirinya, memuji-muji kecantikannya dan sebagainya. Bahkan ada laki-laki kurang ajar yang dibunuhnya hanya karena mengeluarkan ucapan-ucapan yang bermaksud kotor dan kurang ajar. Kini, mendengar ucapan-ucapan Han Han yang memuji kecantikannya dengan blak-blakan di depan banyak orang ketika mereka diperkenalkan, kini secara terang-terangan pula dalam menjawab godaan Lulu, mengapa dia tidak marah malah menjadi….. berdebar jantungnya, berdebar karena girang? Akan tetapi pemuda ini lain daripada laki-laki lain, dia membela perasaannya sendiri yang tidak wajar. Pemuda ini secara terang-terangan menyatakan isi hatinya, tanpa tedeng aling-aling, akan tetapi juga bersih daripada niat-niat kurang ajar, hal ini dapat dilihat dari pancaran pandang matanya yang wajar dan biasa, sinar mata kagum yang tidak ditutup-tutupi, seperti kewajaran sinar mata orang mengagumi bintang di langit atau mawar di taman.
Sin Kiat hanya tersenyum saja melihat sumoinya digoda Lulu, kemudian ia berkata kepada Han Han, "Han Han, sekarang tiba giliranmu untuk bercerita kepada kami. Tentu pengalamanmu amat menarik hati, terutama tentang pertemuan dengan Adikmu, dan tentang Gurumu yang tentu amat sakti, melihat akan kelihaianmu."
"Nanti dulu, Sin Kiat. Aku teringat akan ketekadan hatimu dahulu. Bukankah kau dahulu pernah menyatakan kepadaku bahwa engkau ingin menjadi seorang perwira Mancu? Kenapa sekarang engkau sebaliknya malah menjadi orang yang emusuhi perwira-perwira Mancu?"
Sin Kiat menarik napas panjang. "Ada sebabnya memang. Ingatkah engkau dahulu betapa kau telah membelaku ketika aku dipukuli oleh bangsawan muda Ouw-yang Seng murid datuk hitam Kang-thouw-kwi itu? Nah, semenjak itu, aku berbalik haluan, apalagi setelah bertemu dengan Suhu, menerima pelajaran dan juga mendengarkan wejangan-wejangannya. Han Han, sekarang ceritakanlah kepadaku, bagaimana engkau bertemu dengan Nona Lulu?"
"Wah, aku menjadi kikuk sekali kausebut Nona! Usiamu tentu tidak banyak selisihnya dengan Han-koko, maka aku akan menyebutmu Wan-koko dan kau pun menyebut aku Adik seperti biasa Koko menyebutku. Kalau tidak mau, aku selamanya tidak akan mau bicara dengan.mu!" Tiba-tiba Lulu berkata kepada Sin Kiat. Pemuda ini menjadi merah mukanya dan hatinya menjadi girang bukan main.
"Baiklah, Lulu-moi, dan terima kasih atas kebaikanmu," Sin Kiat berdiri dan menjura.
"Wan, kebetulan sekali usul Lulu ini. Aku pun hendak mencontohnya dan kuminta Nona Lu Soan Li juga jangan bersungkan-sungkan lagi, mulai sekarang mau tak mau kusebut Moi-moi dan harap suka menyebut Kakak kepadaku!”
Jantung di dalam dada Soan Li berdebar. Dia merasa makin suka kepada kakak beradik yang baru dikenalnya ini. Mereka berdua itu begitu jujur, begitu polos, dan juga ia dapat menduga bahwa mereka itu memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa sekali. "Terima kasih atas kebaikanmu, Han-twako."
"Sebetulnya tisak ada yang banyak dapat diceritakan tentang kami berdua," kata Han Han. "Engkau sudah tahu bahwa aku dahulu di waktu kecilku adalah seorang bocah jembel seperti engkau, Sin Kiat. Dan aku bertemu dengan adikku Lulu ini yang juga seorang bocah jembel setelah hidup terlunta-lunta karena keuarganya terbasmi semua. Nah, kami saling bertemu dan mengangkat saudara sampai sekarang kami menjadi kakak beradik yang tak pernah berpisahan."
"Han-twako, belehkah aku mengetahui, siapakah Suhumu yang mulia?" tiba-tiba Soan Li bertanya, mendahului suhengnya, karena ia ingin sekali mendengar siapa adanya guru dari pemuda yang amat mengagumkan hatinya ini. Han Han dan Lulu saling berpandangan sejenak. Mereka berdua selama ini berlatih di Pulau Es, berlatih tanpa guru, hanya mempelajari ilmu dari kitab-kitab dan berlatih secara ngawur. Ataukah biruang itu dapat dianggap menjadi guru mereka? Ah, tidak biruang itu hanya teman berlatih. Guru mereka adalah penghuni-penghuni Pulau Es, pemilik-pemilik istana yang meninggalkan kitab-kitab pelajaran, akan tetapi siapakah dia itu? Han Han memiliki pikiran yang tidak lumrah, dapat berpikir cepat melebihi manusia biasa, dapat mengambil keputusan yang amat tepat dalam sedetik dua detik pemikiran saja. Ia tahu bahwa Sin Kiat dan Soan Li adalah murid-murid Hoa-san-pai yang menentang Mancu, dan dia tidak boleh sekali-kali memperlihatkan sikap bermusuh atau mengaku sebagai fihak yang bermusuhan. Dia telah belajar ilmu dari Lauw-pangcu, kemudian mencuri ilmu dari Kang-thouw-kwi Gak Liat. Akan tetapi dua orang ini tidak boleh dia sebut-sebut, karena menyebut nama Lauw-pangcu berarti menyinggung hati Lulu, menyebut Kang-thouw-wi Gak Liat sebagai guru lebih tidak mungkin lagi karena Setan Botak itu adalah kaki tangan Mancu. Dan dia tidak suka berbohong maka ia mendapat jalan tengah yang baik.
"Guruku adalah Suhu Siangkoan Lee..."
"Ahhh….!" Sin Kiat dan Soan Li benar-benar terkejut mendengar ini. "Ma-bin Lo-mo…?”
Han Han memandang wajah Sin Kiat. "Benar, mengapa? Apakah kau mengenal Suhu? Dia juga seorang yang amat setia kepada Kerajaan Beng-tiauw, bahkan kalau tidak salah dia bekas menteri….."
"Tentu saja kami telah mendengar namanya. Ah, Ma-bm Lo-mo, seorang di antara datuk-datuk hitam yang amat sakti. Pantas saja kau begini lihai, Han Han. Kiranya engkau murid tokoh besar itu!"
Lulu yang mendengarkan ucapan Han Han itu pun diam saja, hanya memandang dengan sinar mata nakal. Ia menganggap bahwa kakaknya ini tidak terlalu berbohong, karena memang kakaknya menjadi murid banyak orang sakti, di antaranya Ma-bn Lo-mo Siangkoan Lee yang hampir membunuhnya, bahkan yang telah berusaha membakar mereka berdua di perahu. Ia tidak mengerti mengapa kakaknya seolah-olah tidak mau bercerita terus terang bahwa mereka berdua telah belajar ilmu di Pulau Es.
Biarpun Lulu dan Han Han baru tinggal di Pek-eng-piauwkiok selama beberapa hari, namun hubungan empat orang muda ini menjadi amat akrab. Apalagi karena di situ ada Lulu yang wataknya lincah jenaka, yang nakal dan tak pernah malu-malu, jujur dan tidak mengenal palsu, sebentar saja rasa jengah yang membatasi pergaulan mereka menjadi lenyap. Berkat kelincahan Lulu, Lu Soan Li menjadi tidak malu-malu lagi terhadap Han Han, juga Sin Kiat makin tertarik kepada gadis Mancu yang benar-benar telah menjatuhkan hatinya itu.
Sepekan kemudian, ketika Lulu sedang mengumpulkan bunga-bunga yang dipetiknya dalam taman bunga tak jauh dari gedung Pek-eng-piauwkiok, ia dikejutkan oleh suara Sin Kiat, "Wah, Lulu-moi, setiap pagi kau tentu berada di sini memetik bunga!"
Dara jelita itu menoleh dan tersenyum. Bagi Sin Kiat, senyumnya amat manis dan hangat, sehangat matahari di pagi hari itu. Taman bunga itu menjadi makin cerah dan makin jernih bagi Sin Kiat.
"Tentu saja, Twako. Bertahun-tahun aku tidak berkesempatan melihat bunga, sekarang ada begini banyak bunga indiah di sini. Dahulu aku hanya melihat bunga-bunga es melulu…." Tiba-tiba gadis itu teringat akan larangan kakaknya untuk bercerita kepada siapa juga tentang Putau Es, maka ia terikejut dan menghentikan kata-katanya.
Akan tetapi Sin Kiat telah mendengar kalimat terakhir itu dan dia mendekat.
"Bunga es? Apa maksudmu, Moi-moi?"
"Eh….. oh….. tidak apa-apa….." Lulu yang biasanya. amat jujur polos dan tidak biasa membohong itu menjadi gagap. Ia tidak senang sekali untuk menyembunyikan atau merahasiakan sesuatu, karena untuk ini, terpaksa ia harus pula membohong, padahal ketidakwajaran ini terasa amat asing dan amat sukar baginya.
Sin Kiat memandang tajam, hatinya merasa tidak enak, bahkan sakit karena ia mengerti bahwa dara yang dikaguminya ini menyembunyikan sesuatu dari padanya dan hal ini menimbulkan kesan bahwa Lulu tidak menaruh kepercayaan penuh kepadanya! Dengan nada sedih ia lalu berkata, tanpa disadarinya ia memegang kedua tangan Lulu yang penuh bunga.
"Moi-moi, mengapa engkau tidak percay a kepadaku? Ahhh, sungguh mati, aku tidak ingin memaksamu untuk membuka sesuatu yang kau rahasiakan, akan tetapi….. ah, ketidakpercayaanmu ini menyakitkan hatiku, Moi-moi. Tidak tahukah engkau, tidak merasakah engkau betapa aku…… aku cinta kepadamu, Lulu?"
Lulu tersenyum dan dengan gerakan halus menarik tangannya sehingga terlepas dari genggaman jari tangan pemuda itu, yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
"Aku merasakan itu dan aku tahu, Twako. Akan tetapi, tidak kelirukah cintamu itu kaujatuhkan atas diriku? Ingat, aku seorang gadis Mancu, musuhmu!"
Sin Kiat memandang penuh keharuan. "Moi-moi, tak dapatkah kau memaafkan kesalahan ucapanku ketika pertama kali kita bertemu? Tidak, aku tidak memusuhi seluruh bangsa Mancu, dan aku hanya akan menentang yang jahat, siapapun dia dan bangsa apa pun dia. Engkau bagiku bukan bangsa apa-apa, engkau adalah Lulu, satu-satunya gadis yang pernah dan akan menjadi pujaan hatiku, menjadi satu-satunya wanita yang kucinta!"
Tiba-tiba Lulu tertawa. Hati Sin Kiat makin sakit, mengira bahwa dara yang dicintanya ini mentertawakan pernyataan cinta kasihnya! Tidak ada hal yang lebih menyakitkan hati bagi seorang pria daripada cinta kasihnya ditertawai oleh wanita yang dicintanya.
"Hi-hi-hik, alangkah lucunya!"
"Apa yang lucu, Moi-moi? Mengapa engkau tertawa?" Sin Kiat bertanya, mukanya menjadi agak pucat.
"Habis, lucu sekali sih! Engkau dan Sumoimu keduanya telah jatuh cinta kepada aku dan Kakakku, bukankah ini lucu sekali namanya?"
Sin Kiat memandang wajah jelita itu dengan kaget. "Apa? Sumoi mencinta Kakakmu? Ah, bagaimana engkau bisa tahu?"
"Apa sih sukarnya mengetahui itu? Aku tahu bahwa Sumoimu mencinta Han-koko dan bahwa engkau mencintaku. Mau bukti? Mari, kau ikut denganku!" Lulu menancapkan bunga-bunga yang dipetiknya di atas tanah, kemudian ia memegang tangan Sin Kiat dan menarik pemuda itu, diajak pergi ke sebelah selatan taman bunga, di mana terdapat pondok yang bercat kuning dan disebut pondok Cahaya Matahari karena pondok ini menghadap ke timur dan setiap pagi menerima sinar matahari sepenuhnya. Memang pondok ini dipergunakan untuk mandi cahaya matahari oleh keluarga Tan-piauwsu.
Sin Kiat menjadi tegang dan juga girang. Ia merasa betapa kulit telapak tangan yang halus dan hangat menggandengnya. Akan tetapi ia pun gelisah kalau mengingat bahwa perbuatan dara ini menggandengnya terdorong oleh sifatnya yang polos dan kekanak-kanakan, bukan sekali-kali terdorong oleh cinta kasih seperti yang ia harapkan.
Setelah mereka tiba di pondok, Lulu menaruh telunjuknya di depan mulut sebagai isyarat agar pemuda itu tidak mengeluarkan suara berisik, kemudian berendap-indap ia mengajak Sin Kiat measuki pondok dari pintu belakang, terus menembus sampai ke ruangan depan pondok. Lulu berhenti dan memandang Sin Kiat dengan sinar mata penuh kebanggaan dan kemenangan. Tangan kanannya bertolak pinggang, sedangkan tangan kiri menuding ke sebelah luar di mana tampak Han Han duduk di atas anak tangga pondok itu sambil bercakap-cakap dengan Soan Li dalam suasana mesra dan ramah.
"Nah, betul tidak keteranganku? Itu mereka mengobrol dengan asyiknya! Sumoimu mencinta Kakakku dan setiap pagi mereka berdua tentu duduk dan mengobrbl mesra di situ. Semenjak semula sudah kuduga, dalam pertemuan pertama mereka sudah saling lirak-lirik, hi-hik!"
"Wah, ini sama sekali tidak boleh….!" kata Sin Kiat dengan alis dikerutkan.
"Apa kau bilang? Apanya dan mengapa tidak boleh? Jangan main-main kau, ya? Apa kau hendak menghina Kakakku? Menganggap Kakakku kurang berharga untuk Sumoimu?" Kini Lulu menghadapi Sin Kiat dengan mata terbelalak marah, kedua tangan di pinggang, sikapnya menantang.
"Bukan…., bukan begitu, akan tetapi Sumoi….. dia…. dia telah ditunangkan oleh Suhu…. dia sudah mempunyai calon suami….."
Kini Lulu yang terbelalak kaget. "Apa kau bilang? Dan engkau calon suaminya?"
"Bukan, bukan! Calon suaminya adalah seorang sastrawan…."
"Taihiap….! Para pimpinan Hoa-san-pai telah tiba, Taihiap diminta untuk menyambut….!" Seruan ini keluar dari mulut seorang anak buah Pek-eng-piauwkiok yang datang berlari-lari. Ia berteriak-teriak sehingga tidak saja Sin Kiat dan Lulu yang menengok kaget dan percakapan mereka terputus, juga Han Han dan Soan Li menjadi kaget danmenengok, lalu menghampiri mereka.
Sepintas lalu Sin Kiat melihat betapa wajah sumoinya berseri-seri, agak kemerahan sehingga hatinya makin tidak enak. Dia akan merasa bahagia sekali kalau sumoinya dapat menjadi calon isteri Han Han, andaikata dia belum bertunangan. Akan tetapi sumoinya telah ditunangkan kepada orang lain! Berbeda dengan wajah Soan Li, Lulu maupun Sin Kiat melihat betapa wajah Han Han biasa saja.
Semua urusan mengenai sumoinya itu segera terhapus dari ingatan Sin Kiat karena pada saat itu ada urusan yang lebih gawat, yaitu dengan datangnya para pimpinan Hoa-san-pai yang tentu akan timbul persoalan yang amat gawat dengan Han Han.
"Han Han, tokoh-tokoh Hoa-san-pai telah tiba, sebaiknya engkau bersamaku pergi menyambut mereka agar persoalan ini lekas beres."
Han Han mengangguk, sikapnya tenang sekali, berbeda dengan Sin Kiat dan sumoinya yang mengerutkan kening dan kelihatan gelisah. Han Han sudah membunuh dua orang murid Hoa-san-pai, apa pun alasannya, tentu akan membikin hati para pimpinan Hoa-san-pai menjadi tidak puas. Sungguhpun Sin Kiat dan Soan Li merupakan dua orang tokoh Hoa-san-pai, namun mereka tidak banyak mengenal para pimpinan Hoa-san-pai karena mereka itu digembleng oleh guru mereka, Im-yang Seng-cu, dalam perantauan dan hanya satu kali mereka disuruh guru mereka pergi menghadap ketua Hoa-san-pai di Puncak Hoa-san. Maka, hanya ketua Hoa-san-pai saja yang mereka kenal, sedangkan para susiok (paman guru) lainnya, mereka tidak kenal.
Ketika empat orang muda itu tiba di ruangan dalam yang lebar, di situ Tan-piauwsu dan para sutenya telah menghadap tiga orang tosu tua dengan sikap hormat. Sin Kiat dan Soan Li sebagai murid-murid Hoa-san-pai, cepat melangkah maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan tiga orang tosu itu yang duduk berjajar di atas bangku-bangku kehormatan.
"Suhu dan Ji-wi Supek (Dua Uwa Guru), ini adalah Sute Wan Sin Kiat dan Sumoi Lu Soan Li." Tan-piauwsu memperkenalkan dua orang muda itu.
“Hemmm….!” Tosu yang berjenggot pende, guru Tan Bu Kong, mengangguk-angguk dan berkata, "Agaknya kalian inikah murid-murid Sute Im-yang Seng-cu?"
"Tidak salah dugaan Sam-wi Supek. Teecu berdua adalah murid-murid Suhu Im-yang Seng-cu. Teecu berdua menghaturkan hormat kepada Sam-wi Supek," kata Sin Kiat sambil memberi hormat, yang dicontoh oleh Soan Li.
"Bagus! Kalian tidak mengecewakan menjadi murid-murid Hoa-san-pai. Pinto telah mendengar akan sepak-terjang kalian di dunia kang-ouw," kata tosu ke dua yang lebih tua dan yang didahinya terdapat cacad bekas luka memanjang. "Duduklah baik-baik di bangku di pinggir sana." Tosu ini menunjuk bangku-bangku dengan sikap tidak begitu mengacuhkan. Betapapun juga, dua orang muda ini hanyalah murid-murid keponakan mereka, dan mereka bertiga datang untuk membereskan urusan yang amat gawat.
Dengan sikap hormat, Sin Kiat dan Soan Li duduk di atas bangku-bangku yang ditunjuk oleh tosu codet (luka di dahi) itu, dan diam-diam Han Han, terutama sekali Lulu, merasa tidak puas menyaksikan sikap angkuh Si Tosu terhadap sahabat-sahabat baik mereka. Akan tetapi mereka tidak peduli dan hanya berdiri di pinggiran, tidak jauh dari tempat duduk dua orang sahabat mereka itu. Tiga orang tosu tua yang melihat Han Han dan Lulu, tidak mengacuhkannya pula karena mereka ini mengira bahwa Han Han dan Lulu tentulah orang-orang muda tak berarti, anggauta keluarga atau pembantu-pembantu di Pek-eng-piauwkiok.
Tiga orang tosu Hoa-san-pai ini adalah tosu-tosu tingkat tiga, karena mereka ini adalah murid-murid langsung dari ketua Hoa-san-pai, yaitu yang bernama Thian Cu Cinjin, seorang tosu yang amat sakti dan sudah berusia tinggi. Mereka bertiga ini adalah kakak beradik seperguruan. Yang paling tua adalah tosu tinggi kurus yang berjenggot panjang bernama atau lebih tepat berjuluk Bhok Seng-cu, yang ke dua adalah tosu codet yang luka dahinya, berjuluk Kong Seng-cu. Adapun tosu ke tiga adalah guru dari Tan-piauwsu yang berjuluk Lok Seng-cu. Mereka ini rata-rata sudah berusia enam puluh tahun lebih, namun masih nampak sehat dan berwibawa, penuh semangat karena sesungguhnya, tiga orang tosu inilah yang bertugas untuk melaksanakan segala peraturan di Hoa-san-pai. Mungkin karena terpengaruh tugas mereka yang harus dilaksanakan secara baik-baik dan penuh disiplin, maka tiga orang tosu ini sudah biasa berwatak keras asal benar! Mereka bertiga tidak begitu ramah ketika diperkenalkan kepada Sin Kiat dan Soan Li, karena sesungguhnya mereka bertiga tidak suka kepada Im-yang Seng-cu, tokoh Hoa-san-pai yang dianggap menyeleweng, yaitu menyeleweng daripada aturan Hoa-san-pai, tidak suka menjadi tosu di Hoa-san-pai melainkan lebih suka mengembara dan berkeluyuran! Juga perasaan tidak suka ini timbul pula karena Im-yang Seng-cu diinggap tidak setia kepada Hoa-san-pai, mempelajari ilmu silat-ilmu silat lain golongan, bahkan berani "mengawinkan" IImu silat Hoa-san-pai yang aseli dengan ilmu silat golongan lain. Apalagi kalau diingat bahwa mereka itu tidaklah seguru dengan Im-yag Seng-cu karena Im-yang Seng-cu bukanlah murid Thian Cu Cinjin, melainkan murid dari Tee Cu Cinjin yang sudah meninggal dunia, yaitu sute dari Thian Cu Cinjin.
"Tan Bu Kong, kami mendengar akan pelaporanmu dari mulut utusan Pek-eng-piauwkiok, karena mengingat akan gawatnya persoalan, maka kami bertiga dating sendiri untuk memberi hukuman kepada dia yang berdosa. Benarkah bahwa kedua orang Sutemu Lie Cit San dan Ok Sun dibunuh orang?"
Mendengar pertanyaan ini, berkerut alis Wan Sin Kiat. Para supeknya ini ternyata adalah orang-orang yang berhati keras dan yang dipentingkan adalah urusan kematian anak murid Hoa-san-pai, padahal di batik urusan ini tersembunyi hal yang lebih gawat lagi, yaitu ancaman permusuhan dengan fihak Siauw-lim-pai. Ataukah mungkin laporan utusan Tan-piauwsu yang tidak jelas menyampaikan laporan? Namun, ia tidak berani mengganggu, hanya mendengarkan saja.
"Benar, Suhu. Sute Lie Cit San dan Sute Ok Sun tewas, bahkan Sute Teng Lok juga terluka hebat, buntung lengannya. Semua ini terjadi karena tipu muslihat keji seorang gadis Mancu, seorang puteri Kaisar sendiri yang bernama Puteri Nirahai….”
"Siapakah yang membunuh dan melukai Sute-sutemu? Apakah dia murid Siauw-lim-pai?”
"Bukan, Suhu. Memang terjadi bentrokan dengan fihak Siauw-lim-pai, akan tetapi semua itu adalah akibat tipu muslihat keji Puteri Mancu Nirahai. Sebaiknya teecu menceritakan asalu mula terjadinya peekara yang hebat ini." Melihat betapa tiga orang tosu tua itu diam saja dan semua memandang kepadanya, Tan Bu Kong segera menceritakan asal mula terjadinya peristiwa itu. Betapa puteri itu datang mengirim dua buah peti ke selatan dan betapa dia tidak berani menolak karena tidak ingin dicurigai oleh pemerintah Mancu akan perjuangan Hoa-.an-pai menentang penjajah. Kemudian betapa Teng Lok sampai buntung lengannya ketika menyelidiki keadaan puteri aneh itu. Diceritakannya pula betapa rombongan piauwsu yang mengantar dua buah peti ke selatan, di tengah jalan dihadang oleh anak-anak murid Siauw-im-pai yang memaksa mereka membuka peti sehingga terjadi pertempuran.
"Pinto telah mendengar penuturan itu dari utusanmu, tak perlu diulangi lagi," Lok Seng-cu memotong tak sabar sambil menggerakkan tangan kirinya ke atas sehingga ujung lengan bajunya bergetar dan bergoyang. "Pinto hanya tertarik mendengar akan kematian murid-murid Lie Cit San dan Ok Sun. Siapakah yang membunuh mereka?"
Berkerut kening Han Han. Ingin ia melangkah maju dan menjawab pertanyaan itu, mengaku bahwa dialah yang membunuh dua orang murid Hoa-san-pai itu. Akan tetapi ketika bertemu pandang dengan Wan Sin Kiat, ia melihat pemuda itu menggeleng-geleng kepala perlahan sehingga ia membatalkan niatnya.
Tan-piauwsu juga bingung sekali atas pertanyaan gurunya yang mendesak-desak itu, seolah-olah tidak hendak memberi kesempatan kepadanya untuk menjelaskan semua agar kesalahan tangan Han Han itu dapat diperingan dengan alasan kuat.
Akan tetapi, piauwsu ini yang sudah. merasa yakin akan kebersihan hati Han Han dalam pembunuhan terhadap dua orang sutenya itu, memberanikan hatinya dan melanjutkan ceritanya.
"Pertempuran berat sebelah itu tentu akan berakibat terbasminya semua anak buah piauwsu yang mengawal kalau saja tidak secara kebetulan muncul seorang pendekar muda yang membantu fihak Hoa-san-pai dan pemuda itu memukul tewas tujuh orang anak murid Siauw-lim-pai. Kemudian fihak Siauw-lim-pai memaksa membuka dua buah peti kiriman puteri Mancu dan isinya ternyata adalah…."
"Mayat-mayat Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek, dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam! Pinto sudah tahu semua akan hal itu. Bu Kong, katakan, siapa yang membunuh dua orang Sutemu?"
"Pendekar muda yang tadinya membantu Hoa-san-pai dan membunuh tujuh orang Siauw-lim-pai ketika melihat bahwa dua peti itu berisi mayat tokoh-tokoh Siauw-lim, menjadi menyesal dan marah sekali, mengira bahwa fihak Hoa-san-pai yang bersalah, maka dalam kemarahannya ia turun tangan membunuh kedua orang Sute, tidak tahu bahwa baik fihak Siauw-lim-pai maupun fihak Hoa-san-pai tidak bersalah karena mereka semua telah termasuk dalam perangkap dan siasat adu domba puteri Mancu itu…."
"Tan Bu Kong! Engkau berfihak kepad a siapakah? Katakan, di mana adanya orang yang membunuh dua orang murid Hoa-san-pai itu!" bentak Lok Seng-cu dengan nada marah sehingga Tan-piauwsu menjadi jerih dan menundukkan mukanya.
"Totiang, akulah orangnya yang membunuh dua orang muridmu itu!" Tiba-tiba terdengar suara Han Han memecah kesunyian sehingga suasana menjadi tambah sunyi lagi karena kini kesunyian itu dicekam ketegangan yang memuncak ketika tiga orang tosu tua itu menoleh dan memandang kepada Han Han penuh perhatian. Han Han sudah melangkah maju dengan sikap tenang, kemudian 'berdiri menghadapi tiga orang Hoa-san-pai itu sambil melanjutkan kata-katanya.
"Memang aku yang telah membunuh mereka, hat ini tidak kupungkiri dan aku mohon maaf kepada Totiang bertiga sebagai guru-guru mereka. Aku merasa menyesal sekali telah membunuh mereka berdua seperti rasa penyesalanku telah membunuh tujuh orang murid Siauw-lim-pai yang tak bersalah. Akan tetapi aku tidak merasa bersalah karena aku membunuh dua orang murid Hoa-san-pai dengan persangkaan bahwa Hoa-san-pailah yang membunuh dua orang tokoh Siauw-lim-pai dan kusangka bersikap palsu sehingga menyebabkan aku kesalahan tangan membunuh murid-murid Siauw-lim-pai. Hal itu telah terjadi di luar kesalahanku, dan aku pasti akan mencari biang keladinya, Puteri Mancu itu. Nah, kurasa cukup lama aku tinggal di sini bersama Adikku. Tan-piauwsu, dan juga kalian berdua, Sin Kiat dan Adik Lu Soan Li, aku harus pergi dari sini setelah bertemu dengan tokoh-tokoh Hoa-san-pai dan minta maaf. Aku hendak pergi menemui pimpinan Siauw-lim-pai untuk menjelaskan persoalan. Sampai jumpa kembali….."
"Berhenti!" Tiba-tiba Bhok Seng-cu yang tinggi kurus dan berjenggot panjang membentak. Suaranya mengejutkan semua orang karena mengandung getaran yang menusuk rongga dada, tanda bahwa kakek ini telah mempergunakan khikang yang amat kuat.
Han Han yang tadinya, sudah melangkah hendak keluar diikuti oleh Lulu, berhenti dan membalikkan tubuhnya. Sikapnya tenang saja, demikian pula dengan Lulu sehingga Bhok Seng-cu sendiri menjadi terheran-heran. Hapir semua yang hadir di situ, kecuali Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li yang rnemiliki tingkat kepandaian yang lebih tinggi, menjadi pucat sekali wajah mereka karena pengaruh bentakan tadi, akan tetapi dua orang muda ini saa sekali tidak terpengaruh, kaget sedikit pun tidak!
 “Orang muda, apakah sedemikian murahnya kau menghargai nyawa dua orang anak murid kami? Cukup dengan pernyataan menyesal dan minta maaf? Sungguh engkau memandang rendah ke-pada Hoa-san-pai!" kata Bhok Seng-cu dengan alis terangkat.
"Habis apa yang harus kulakukan,Totiang? Aku telah lama menanti kedatangan Totiang di sini, hal itu karena aku memandang Hoa -san-pai," jawab Han Han dengan sikap yang masih tenang.Pandang mata pemuda ini bertemu dengan pandang mata Bhok Seng-cu dan kakek Hoa-san-pai ini bergidik dan mengalihkan pandang matanya.
"Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa!" bentak Lok Seng-cu, guru Tan-piauwsu yang menjadi marah sekali kalau teringat betapa murid-muridnya terbunuh hanya oleh seorang pemuda yang tak di kenaI sama sekali, bukan pula murid Siauw-lim-pai, bahkan seorang pemuda yang kelihatannya liar. Andaikata kedua orang muridnya tewas di tangan seorang tokoh besar, atau setidaknya oleh anak murid Siauw-lim-pai yang pandai, dia tidak akan begitu malu. "Suheng," katanya kepada Bhok Seng-cu, “bukan hal yang mustahil kalau pemuda ini menjadi kaki tangan Mancu yang sengaja membunuh murid-murid Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai agar taktik adu domba berhasil baik. Bocah setan ini tak boleh diberi ampun!"
"Suhu dan Ji-wi Supek, Han Han bukanlah kaki tangan Mancu….!" Tiba-tiba Wan Sin Kiat berseru dari tempat duduknya karena tidak tahan lagi mendengar ucapan-ucapan suhunya dan supeknya yang nadanya menekan Han Han. "Teecu mengenal dia baik-baik semenjak dia masih kanak-kanak karena dia adalah sahabat baik teecu di waktu kecil."
"Wan Sin Kiat! Tak patut engkau sebagai anak murid Hoa-san-pai bicara seperti itu terhadap seorang yang telah membunuh dua orang Suhengmu! Di mana kesetiaanmu terhadap Hoa-san-pai? Apakah kalau dia ini menjadi sahabat baikmu di waktu kecil, lalu tak mungkin lagi menjadi kaki tangan Mancu? Pandangan picik sekali!" bentak Bh'ok Seng-cu sambil menatap wajah pemuda itu dengan mata melotot.
Sin Kiat menunduk, akan tetapi ia menjawab dengan suara tenang, "Maaf,
Supek. Bukan karena itu, melainkan karena dia adaJah murid Ma-bin Lo-mo Siang-koan Lee……. "
"Ahhhhh !" Seruan ini keluar dari mulut ketiga orang tosu tua itu karena
mereka benar-benar merasa kaget sekali mendengar bahwa pemuda ini adalah
murid seorang di antara tokoh-tokoh datuk hitam yang amat terkenal itu. Dan
mereka pun maklum bahwa biarpun seorang tokoh datuk hitam, namun Siang-
koan Lee bukanlah seorang yang tunduk kepada pemerintah penjajah Mancu. Kini mereka kembali memandang kepada Han Han penuh perhatian dan dengan pandang mata agak meragu. Akan tetapi hanya sebentar saja mereka meragu karena segera terdengar suara Bhok Seng-cu yang kaku dan tegas.
"Kalau dia murid Ma-bin Lo-mo, memang bukan kaki tangan Mancu. Akan tetapi biarpun demikian, dia telah membunuh dua orang murid Hoa-san..pai, dan dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Biarpun murid Ma-bin Lo-mo tidak boleh menghina kami orang orang Hoa-san-pai!"
"Suheng, nanti dulu, Suheng!" Tiba-tiba Kong Seng-cu berkata dan tiba-tiba tubuh tosu ini sudah bangkit berdiri dari tempat duduknya dan dengan langkah lebar menghampiri Lulu. Ia menghampiri dan memandang gadis itu penuh perhatian, mulutnya menggerutu, "Adiknya……..? ini Adikmu………?"
Han Han yang merasa sebal menyaksikan sikap congkak dari tiga orang Hoa-san-pai ini berkata, "Benar, Totiang. Dia Adik angkatku."
Lulu yang dipandang penuh perhatian,bahkan kini tosu yang dahinya terhias bekas luka itu berjalan mengelilinginya sambil memandang seperti orang memeriksa kuda yang hendak dibelinya, tersenyum-senyum dan melirak-lirik dengan sikap lucu dan mentertawakan. Akhirnya tosu itu kembali ke bangkunya,
duduk dan berkata, "Gadis ini adalah seorang wanita Mancu!"
Semua orang yang mendengar ini menjadi terheran, bagaimana tosu codet ini dapat merlduga sedemikian tepatnya.
"Wanita Mancu?" Bhok Seng-cu dan Lok Seng-cu berseru kaget. Lok Seng-cu memandang kepada Tan-piauwsu dengan pandang mata bengis lalu membentak, "Tan Bu Kong! Betulkah bahwa gadis ini seorang wanita Mancu dan sudah kau biarkan dia menjadi tamumu?"
Sebelum Tan-piauwsu sempat menjawab, Lulu sudah melangkah maju dan menjawab dengan suara Ian tang sambil menmandang kepada Kong Seng-cu, "Benar sekali! Aku adalah seorang gadis Mancu dan namaku Lulu, she Sie karena Kakakku ini pun she Sie. Tosu codet, matamu benar-benar tajam sekali!"
“Siancai……. ! Apa kata pinto? Dalam jarak sepuluh Ii, pinto sudah dapat mengenal wanita Mancu! Suheng dan Sute biarpun orang she Sie ini murid Ma-birlLo-mo, akan tetapi dia mempunyai Adik angkat wanita Mancu! Terang bahwa dia telah berkhianat, dan mungkin sekali dia sekarang menjadi kaki .tangan Puteri Mancu itu! Wah, berbahaya kalau begini,sama sekali tidak boleh membebaskan dia."
"Tosu codet, selain matamu awas sekali, juga hatimu busuk sekali. Tentu karena kebusukan hatimu maka dahimu menjadi codet, bekas terluka senjata tajam. Sayang di dahi, sebaiknya di mulut agar mulutmu tidak dapat mengham-burkan ucapan-ucapan busuk lagi.” Lulu yang diam-diam m:arah kini mulai mem-permainkan tosu itu. Semua orang ter-kejut sekali, bahkan Sin Kiat menjadi pucat wajahnya.. Gadis yang dicintanya itu benar-benar berani mati, mengeluar-kan omongan yang seperti itu terhadap Kong seng-cu, seorang di antara ketiga murid ketua Hoa-san-pai yang berilmu tinggi! Pemuda perkasa ini maklum bah-wa ucapan itu akan rnempunyai akibat yang berbahaya sekali bagi Han Han dan Lulu, maka ia memandang dengan jantung berdebar dan muka pucat.
Juga para anak buah Pek-eng-piauw-kiok terutama sekali Tan Bu Kong, menjadi khawatir sekali, apalagi karena Tan-piauwsu maklum bahwa perbuatannya menerima seorang gadis Mancu sebagai tamu benar-benar akan menimbulkan salah faham dari para supeknya.
"Suhu, harap maafkan teecu. Biarpun dia seorang gadis Mancu, akan tetapi dia lain lagi, sama sekali tidak menganggap kita sebagai musuh dan dan dia adalah Adik angkat Sie-taihiap ………"
Ucapan ini malah merupakan angin yang membesarkan api kemarahan di
dada tiga orang tosu itu, terutama sekali Kong Seng-cu yang dihina dan dimaki oleh seorang gadis Mancu.
"Bocah Mancu, mampuslah!" bentak Kong Seng-cu dan tanpa bangkit dari tempat duduknya, kakek berdahi codet ini mengirim pukulan jarak jauh dengan. dorongan tangan kanannya ke arah dada Lulu. Jarak antara mereka ada empat
meter dan kakek ini yang mermandang rendah gadis Mancu itu yang disangkanya gadis biasa saja, menaksir bahwa pukulan-nya ini cukup kuat untuk merusak isi dada gadis yang dianggapnya jahat dan musuh rakyat itu
Angin pukulan yang dahsyat menyambar ke arah Lulu dan jelas tampak betapa baju gadis itu di bagian dadanya berkibar disambar angin pukulan, akan tetapi gadis itu sendiri berdiri sambil tersenyum-senyum manis, sama sekali tidak bergerak, seolah-olah ia tidak merasakan datangnya angin pukulan jarak jauh ini seperti sebongkah batu gunung ditiup angin semilir! Dan memang se-sungguhnyalah bahwa Lulu sama sekali tidak tahu bahwa dia dipukul orang! Akan tetapi mengapa pukulan jarak jauh yangmengandung tenaga sakti arnat kuat dari tokoh Hoa-san-pai itu sarna sekali tidak terasa olehnya? Apakah Lulu sudah memiliki kesaktian yang luar biasa seperti Han Han?
Sebetulnya tidaklah demikian. Seperti kita ketahui, ketika berdiam di Pulau Es,Lulu juga tekun belajar di bawah bimbingan Han Han. Akan tetapi berbeda dengan Han Han yang memiliki dasar tidak karuan, bahkan secara paksa menggembleng diri dengan ilmu dari aliran hitam. Lulu sebaliknya mempelajari kitab-kitab peninggalan manusia sakti pemilik Istana Pulau Es. Gadis ini berlatih samadhi dan pengumpulan hawa murni untuk membentuk tenaga sakti menurut petunjuk kitab yang dibacanya di pulau itu, dan ternyata ia dapat memiliki sinkang yang murni dan bersih yang amat kuat dan yang kini telah menjadi satu dengan darah daging dan pernapasannya sehingga tenaga sakti ini akan bergerak dengan sendirinya setiap kali ada bahaya mengancam tubuhnya. Juga gadis ini melatih ilmu silat tangan kosong dan ilmu pedang dari dua buah kitab lain yang sudah amat tua dan tidak berjudul lagi, ilmu silat tangan kosong yang lebih mirip ilmu tari karena gerakan-gerakan-nya indah sekali sehingga sering kali jika Sedang berlatih, lulu ditertawai dan digoda Han Han, dikatakan bahwa tarian adiknya amat indah dan 'bahwa' adiknya bukan mempelajari ilmu silat melainkan ilmu tari. Namun, dengan "ilmu tari" ini,.Lulu sudah dapat membuat biruang es mengaku kalah! Adapun ilmu pedangnya juga amat indah, akan tetapi karena dipulau itu mereka tidak mempunyai pedang, Lulu selalu berlatih mempergunakan sebatang ranting. Dengan adanya sinkang yang sudah mendarah daging itulah maka tadi ketika Kong Seng-cu melancarkan pukulan jarak jauh yang mengandalkan tenaga sinkang, begitu angin pukulan menyentuh kulit, otomatis sinkang di tubuh Lulu bergerak dan me-nolak serangan dari luar itu maka gadis ini tidak merasakan apa-apa sungguhpun bajunya sampai berkibar dilanda angin pukulan jarak jauh tokoh Hoa-san-pai itu!
Wan Sin Kiat menjadi pucat mukanya,dan pandang matanya menjadi kagum dan heran bukan main. Sebagat murid tersayang dari im-yang Seng-cu seorang tokoh yang biarpun tingkatnya hanya saudara seperguruan tiga orang tosu ini namun memiliki ilmu kepandaian jauh lebih tinggi, dan sebagai seorang yang ahli dalam ilmu silat Hoa-san-pai, Sin Kiat tadi dapat rnelihat jelas gerakan Kong Seng-cu dan maklum bahwa supeknya itu dengan secara keji sekali telah melakukan pukulan jarak jauh yang di-sebut jurus Sian-jin-hian-ko (Dewa Mem-beri Buah) dan yang mengandung tenaga sinkang amat kuat. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa heran dan kagum nya ketika melihat bahwa gadis yang telah membuat jantungnya jungkir balik dan bertekuk lutut itu sama sekali tidak rnerasakan pukulan itu, bahkan berkedip pun tidak, malah senyumnya makin lebar dan makin manis, mata yang lebar itu makin bersinar-sinar!
"Eh, Tosu Codet. Engkau mengeluarkan ilrnu hitam apakah?" Setelah bajunya berkibar dan dadanya agak berdenyut kulitnya, barulah Lulu sadar bahwa tosu itu tadi telah memukulnya dengan pengerahan sinkang, maka ia sengaja mengejek dan diarn-diam gadis ini bersikap waspada dan hati-hati karena maklum bahwa para tosu Hoa-san-pai itu benar-benar hendak memusuhi dia dan Han Han.
Sementara itu, ketika melihat betapa pukulan jarak jauh yang dilontarkan Kong Seng-cu kepada gadis Mancu itu sama. sekalj tjdak berhasil, tiga orang tokoh Hoa.-san-pai inj diam-diam terkejut dan berhati-hati. Mereka maklum bahwa. gadis Mancu yang masih remaja itu telah memiliki tenaga sinkang yang hebat dan tidak lumrah dimiliki seorang gadis yang demikian muda. Tiga orang tosu itu menjadi serba salah. Mau merintahkan anak murid turun tangan terhadap Han Han dan Lulu, mereka maklum bahwa murid-murid yang berada di situ agak-nya bukanlah lawan pemuda berambut riap-riapan dan adiknya yang bertenaga sinkang hebat itu. Mau turun tangan sendiri, mereka masih merasa tidak enak dan malu karena amatlah menurunkan derajat bagi mereka untuk turun tangan terhadap dua orang yang masih amat muda, boleh disebut setengah dewasa itu!
Tiba-tiba pandang meta Bhok Seng cu yang memandangi para anak murid Hoa-san-pai dan anak buah Pek-eng-piauwkiok itu menatap ke Satu arah. Ketika Lok Seng-cu dan Kong Seng-cu yang ragu-ragu menoleh ke arah suheng mereka yang tentu saja sebagai, orangtertua di antara mereka merupakan pe-nentu terakhir, mereka berdua pun mengikuti arah pandang mata suheng mereka itu dan wajah mereka berseri. Mengertilah kedua orang tosu ini akan jalan pikiran suheng mereka dan merekapun setuju sekali. Tanpa mengeluarkan suara,tiga orang tosu Hoa-san-pai ini telah bersepakat untuk memerintahkan Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li menghadapi Han Han dan Lulu! Mereka itu sarna mudanya sehingga tidak akan menurunkan nama Hoa-san-pai, mereka berdua itu pun mu-rid-murid Hoa-san-pai yang lihai ilmunya sehingga di dunia kang-ouw terkenal dengan julukan Hoa-san Gi-hiap dan Hoa-san Kiam-li. Dan yang menggirangkan hati ketiga orang ,tosu ini, dua orangmuda itu adalah murid-murid Im-yang Seng-cu, seorang tokoh Hoa-san-pai yang mereka anggap menyeleweng dan murtad sehingga kalau dua orang murid itu sampai kalah, Hoa-san-pai tidaklah terlalu merasa malu dan memang tiga orang tosu ini dalam kebenciannya terhadap Im-yang Seng-cu, menjadi tidak suka pula kepada Sin Kiat dan Soan Li.
Rasa benci terhadap Im-yang Seng-cu bukan semata karena tokoh Hoa-san-pai ini meninggalkan Hoa-san-pai, melainkan lebih banyak terdorong rasa iri hati. Im-yang Seng-cu membuat nama besar bukan bersandar kepada Hoa-san-pai karena ilmu silatnya telah bercampur dengan ilmu-ilmu silat lain, dan di sam-ping ini, Im-yang Seng-cu tidak lagi hidup terikat dan terkurung di Hoa-san, melainkan hidup sebagai seorang pendekar dan petualang yang bebas dan bebas pula menikmati kesenangan dunia-wi!
"Murid-murid Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li! Pinto memerintahkan kalian untuk menangkap musuh Hoa-san-pai dan adiknya, gadis Mancu itu. Kerjakan perintah pinto sebagai murid-murid Hoa-san-pai yang baik!" Bhok Seng-cu berkata dengan nada suara halus dan muka berseri. Dua orang sutenya mengangguk-angguk dan tersenyum sambil meraba-raba jenggot mereka.
Sin Kiat dan Soan Li menjadi terkejut bukan main mendengar perintah ini. Wajah mereka berubah dan jantung mereka berdebar karena mereka tersudut kedalam keadaan yang serba salah. Untuk membantah, perintah itu keluar. Dari mulut supek mereka dan dikeluarkan atas nama Hoa-san-pai. Untuk mentaati perintah, bagaimana mereka dapat memusuhi dua orang muda yang menjadi sahabat baik mereka, bahkan dua orang muda yang masing-masing telah menjatuhkan hati mereka? Mereka tak tahu harus berbuat apa, merasa mundur salah maju tidak sesuai dengan suara hati mereka. Apalagi ketika mereka melihat betapa Han Han dan Lulu kini menoleh dan memandang mereka dengan sikap tenang dan bahkan Lulu tersenyum-senyum me-mandang Sin Kiat karena gadis nakal ini agaknya merasa geli, sama sekali tidak kasihan melihat pemuda itu yang ia tahu menjadi bingung. Baru saja menyatakan cinta, kini disuruh menyerang !
Teringatlah dua orang murid Hoa-san-pai ini akan pesan suhu mereka, yaitu Im-yang Seng-cu, "Kalian memang dapat disebut murid-murid Hoa-san-pai, akan tetapi ilmu yang kuberikan kepada kalian sesungguhnya bukanlah ilmu aseli dari Hoa-san-pai. Karena itu, kalian harus berhati-hati terhadap Hoa-san-pai. Para tosu Hoa-san-pai, yaitu Suheng-suheng dan Sute-suteku, adalah tosu-tosu yang kukuh dan terlalu kaku memegangperaturan sehingga kadang-kadang mereka itu keras sekali. Memang demikian watak orang-orang yang terikat oleh keadaan pada lahirnya namun sesungguhnya batinnya belum dapat mereka sesuaikan dengan keadaan lahir. Mereka banyak yang merasa iri hati melihat kehidupan orang-orang di luar lingkungan tosu yang hidup serba bebas dan dapat mengecap enikmatan hidup tanpa pantangan-pantangan. lebih baik kalau kalian menjauhkan diri dari urusan Hoa-san-pai.
Demikianlah pesan suhu mereka dan kini, di luar kehendak mereka, mereka dihadapkan dengan urusan yang amat sulit yang menyangkut Hoa-san-pai.
"Mengapa kalian tidak lekas turun tangan? Apakah kalian hendak menen-tang perintah pinto dan hendak menjadi murid murtad Hoa-san-pai pula?" kini suara Bhok Seng-cu terdengar keras dan tidak senang, mengandung tekanan menyindir bahwa guru kedua orang muda itu adalah seorang murid murtad Hoa-san-pai
Soan Li hanya dapat memandang kepada suhengnya dengan pandang mata penuh permohonan agar suheng ini dapat mengambil keputusan. Sin Kiat menghela napas panjang lalu berkata.
"Supek, mohon maaf, bukan sekali-kali teecu membantah. Hanya teecu teringat akan pesan Suhu bahwa segala perbuatan teecu berdua harus didasarkan kebenaran. Teecu menganggap bahwa Saudara Sie Han dan Lulu tidak bersalah dalam urusan ini, bagaimana mungkin teecu berdua harus memusuhi mereka?"
"Wan Sin Kiat! Bocah ini telah membunuh dua orang murid Hoa-san-pai yang terhitung Suheng-suhengmu sendiri dan kau masih hendak membelanya? Dan gadis ini, sudah terang dia itu gadis Mancu, seorang musuh bangsa kita, dan engkau pun hendak membelanya? Pelajaran macam apakah ini yang diberikan Gurumu kepada kalian?" bentak Kong Seng-cu.
Ucapan keras yang menambah ketegangan itu disusul suara Lulu yang perlahan akan tetapi karena keadaan yang amat sunyi, terdengar oleh semua telinga, "Koko, Tosu Codet itu galak sekali! Kalau terjadi pertempuran, kau bikin mukanya bertambah satu codet lagi, baru puas hatiku!"
"Sssttttt, Lulu, jangan lancang mulut…..!" Han Han menjawab lirih, akan tetapi tentu saja terdengar pula oleh semua orang. Kong Seng-cu hampir tak dapat menahan kemarahannya dan ia memandang kepada Lulu dengan mata melotot. Untuk turun tangan sendiri, ia merasa malu hati, tidak turun tangan,
jantungnya serasa ditusuk-tusuk oleh sindiran dan ejekan gadis Mancu itu.
"Supek," jawab Sin Kiat dengan suara tenang, "Suhu mengajarkan agar teecu tidak sembrono dalam sepak terjang teucu, tidak menurutkan panasnya nafsu hati melainkan menggunakan pertimbangan pikiran dan liangsim (hati nurani). Biarpun Han Han membunuh kedua orang Suheng teecu, akan tetapi dia membunuh bukan karena kejahatan, melainkan karena tertipu muslihat Puteri Mancu. Adapun Adik Lulu ini……..dia bukanlah musuh.dia tidak memusuhi kita.
"Kreeekkkkk!" Lengan kursi yang di.duduki Bhok Seng-cu hancur berkeping-keping karena dicengkeram tangan tosu lihai ini yang sudah tak dapat mengendalikan lagi kemarahannya. "Murid murtad!" Ia menudingkan telunjuknya kepada Sin Kiat, kemudian menoleh ke arah Tan Bu Kong, Kwee Twan Giap, dan murid-murid Hoa-san-pai pembantu Tan-piauwsu yang lain sambil berseru, "Tangkap dua orang murid murtad ini, dan kami akan turun tangan sendiri menangkap bocah dan gadis Mancu itu!"
"Serrr….serrrrr……!" Bhok Seng-cu menggerakkan tangan kanannya, dua sinar hitam menyambar ke arah Han Han dan Lulu. Itulah hancuran kayu lengan kursi yang dicengkeramnya tadi, kini ditimpukkan dengan pengerahan sinkang sehingga merupakan senjata rahasia yang amat berbahaya, menyambar ke arah dada Han Han dan Lulu yang sejak tadi hanya berdiri dengan sikap tenang di tengah ruangan itu.
Han Han mengibaskan tangannya sehingga hancuran kayu itu runtuh ke bawah, sedangkan , Lulu dengan sikap lincah meloncat ke samping, mengelak sambil tertawa mengejek, "Wah, sayang luput Tosu galak!"
Tan-piauwsu dan para sutenya, juga anak buah Pek-eng-piauwkiok yang sudah menganggap diri mereka sebagai anak buah Hoa-san-pai, tidak berani membantah perintah itu dan mereka telah mencabut senjata masing-masing, kini telah mengurung ruangan itu! Di luar tahunya semua orang, Kwee Twan Giap sute termuda dari Tan-piauwsu yang amat cerdik, telah memberi tanda dengan jari tangan agar Sin Kiat dan SoanLi cepat melarikan diri saja sehingga terhindar pertandingan antara murid Hoa-san-pai sendiri. Melihat ini, Sin Kiat dan Soan Li mencatat dalam hati mereka akan ikhtikad baik Kwee Twan Giap.
Akan tetapi, sebelum dua orang murid Im-yang Seng-cu ini sempat melakukan sesuatu, tiba-tiba terdengar pekik .melengking keras sekali yang membuat semua orang tertegun, bahkan banyak diantara mereka meremang bulu tengkuk-nya mendengar suara ini. Suara ini keluar dari mulut Han Han yang sudah meloncat ke depan sambil melengking keras, kemudian berkata.
"Majulah semua! Tosu-tosu picik, hayo majulah kalian. Kalau kekerasan yang kalian kehendaki, kekerasan yang kalian dapat!"
Lulu juga meloncat ke dekat kakaknya sambil membusungkan dadanya yang sudah membusung, "Jangan mengeroyok Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li, keroyoklah kami kalau kalian sudah bosan hidup!"
Akan tetapi tiba-tiba Han Han sudah menggerakkan kedua tangannya, mendorong ke kanan kiri dan terdengarlah suara hiruk-pikuk jatuhnya beberapa buah senjata pedang dan golok karena pemiliknya rebah terguling disambar hawa pukulan hebat luar biasa, yaitu yang menyambar keluar dari kedua telapak tangan Han Han. Amat mengerikan akibatnya karena empat orang itu roboh de-ngan lengan kanan sebatas siku gosong seperti dibakar. Masih untung bahwa Han Han menyerang mereka mengarah lengan, kalau tubuh mereka yang terkena sambaran hawa pukulan yang merupakan inti dari Hwi-yang Sin-ciang ini, pasti nyawa mereka telah melayang!
Lulu menjadi gembira, tubuhnya berkelebat ke kiri dan sebuah tendangan
membuat seorang anak buah piauwkiok menjerit kesakitan, lengan tangannya
patah tulangnya dan pedangnya mencelat ke atas. Tubuh Lulu meloncat dengan
gerakan indah dan cepat, seperti seekor burung walet terbang dan tahu-tahu pe-
dang itu telah berada di tangannya, dan la melayang turun, berdiri tersenyum-senyum menimang-nimang dan memandang pedang, sikapnya seperti seorang anak kecil mendapatkan sebuah boneka.
"Pedang yang bagus sekali!'" Ia memainkan ronnce-ronce pedang yang berwarna kuning itu dan mengelus-elus mata pedang yang tajam.
Melihat ini, Tan-piauwsu dan para sute serta anak buah mereka mau tak mau lalu maju menyerbu, bukan menyerbu Sin Kiat dan Soan Li, melainkan me-nyerbu Han Han dan Lulu yang telah bergerak terlebih dulu. Biarpun sampai mati dalam pertandingan, mereka ini memilih mati di tangan Han Han dan Lulu yang merupakan orang-orang lain, bahkan boleh juga dianggap musuh karena Han -Han telah membunuh dua orang murid Hoa-san-pai sedangkan Lulu adalah seorang gadis Mancu. Kalau mereka me-nyerbu Sin Kiat dan Soan Li, berarti mereka bermusuhan dengan murid-murid Hoa-san-pai sendiri dan kalau tewas berarti mati konyol!
“Han Han…..Lulu-moi…., kasihanilah mereka yang tak berdosa, jangan bunuh mereka….!" Sin Kiat berteriak dengan hati sedih dan amat terkejut menyaksikan sepak terjang Han Han.
Lulu mendengar getaran suara Sin Kiat ini dan ketika ia mengerling kepada kakaknya, ia melihat bahwa kakaknya telah diserang nafsunya yang aneh, yang kadang-kadang datang seperti ketika kakaknya ini menyiksa ular merah di Pulau Es. Ia cepat berbisik.
"Koko, jangan bunuh orang……."
Pada saat itu, Han Han memang telah kemasukan nafsu iblis yang selalu menyerangnya apabila ia mengerahkan sinkang di tubuhnya. latihan-latihan yang ia tempuh selama bertahun-tahun adalah latihan-latihan ilmu golongan hitam yang selalu menimbulkan nafsu ingin menyiksa dan membunuh. Begitu menyaksikan sikap tiga orang tosu Hoa-san-pai, kemarahan-nya bangkit dan sekali ia mengerahkan sinkang, nafsu membunuh ini telah bangkit di dadanya, sepasang matanya yang amat tajam itu menjadi agak kemerahan, napasnya agak terengah dan ia merasa seolah-olah ia bukan bernapas hawa melainkan api. Akan tetapi aneh sekali, bisikan suara Lulu itu merupakan embun dingin sejuk yang seketika dapat menekan gairahnya untuk membunuh musuh
sebanyaknya, dan ia mengangguk sambilberkata lirih.
"Lulu, kautahan mereka itu, biar aku menghadapi tiga orang tosu sombong!" ,.
Lulu tersenyum, menggerakkan tubuh ke kanan menghindarkan bacokan seorang anak buah piauwkiok, tangan kirinya menyambar tengkuk dan orang itu mengeluh dan roboh dengan mata mendelik, pingsan! Jurus-jurus pukulan Lulu amat aneh, selain karena memang ilmu silat tangan kosong yang dilatihnya dari kitab kuno di Pulau Es memang aneh, juga di-tambah dengan gerakan-gerakan yang ia ciptakan di luar kesengajaannya ketika ia berlatih dengan biruang es yang lihai sekali. Biasanya, kalau ia memukul tengkuk biruang es dengan tangan miring, biruang itu kadang-kadang dapat mengelak atau menangkis, dan kalau terkena juga, biruang es itu hanya akan terhuyung. Siapakira orang ini sekali kena disambar tengkuknya terus roboh pingsan!
Hebat bukan main sepak terjang Lulu. Dia kini telah meloncat dekat kakak nya menyerahkan pedang dengan sikap seperti anak kecil dan berkata, "Aku titip dulu,Koko, jangan sampai hilang pedangkul" Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat, berputaran seperti orang menari,namun cepat bukan main sehingga para anak buah Peng-eng-piauwkiok hanya melihat bayangan berkelebatan di sekeliling mereka dan mencium keharuman yang keluar dari rambut dan pakaian Lulu dan pada detik-detik berikutnya, senjata-senjata di tangan mereka beterbangan dan orangnya pun mengaduh-aduh, ada yang patah tulang lenganya, ada yang terkilir kakinya kena tendangan, ada yang pening kepalanya dengan mata berkunang ,karena ditempiling, dan ada pula yang mulas perutnya kena dicium ujung sepatu gadis itu. Mereka seolah-olah melawan bayangan setan, membacok ,dan menusuk secara ngawur karena tidak dapat melihat jelas lawannya, dan tahu-tahu dua puluh orang lebih telah kehilangan senjata dan tubuh mereka malang-melintang di ruangan itu!
"Bukan main !" Sin Kiat berseru sambil menahan napas saking kagumnya. Dia sendiri adalah seorang ahli silat kelas tinggi, memiliki ginkang yang hebat, akan tetapi menyaksikan gerakan Lulu, ia menjadi bengong karena gerakan gadis itu seolah-olah terbang saja! Betapa mungkin dara remaja itu memiliki ginkang setinggi itu? Siapakah gerangan gurunya? Melihat gerakannya yang jelas membayangkan ilmu dari golongan bersih,kaum putih, ia tidak percaya kalau Lulu juga murid Ma-bin Lo-mo. Kalau Han Han memang amat boleh jadi, karena gerakan dan pukulan pemuda mengerikan sekall, Jelas termasuk Ilmu dari kaum sesat.
Kini hanya tinggal Tan Bu Kong, Kwee Twan Giap dan dua orang sutenya yang lain saja di antara para piauwsu yang belum roboh. Mereka berempat ketika nnenyaksikan betapa semua anak buah piauwkiok roboh oleh gadis Mancu itu menjadi kaget akan tetapi juga marah. Tanpa dikomando lagi mereka sudah mencabut senjata dan menerjang maju.Tentu saja sebagai murid-murid Hoa-san-pai yang sudah bertingkat empat atau lima ilmu silat mereka sudah hebat dan gerakan mereka ketika menyerang Lulu tak boleh disamakan dengan gerakan para anak buah Pek-eng-piauwkiok tadi.
"Pergilah……!" Terdengar bentakan Han Han yang tidak membiarkan adiknya .dikeroyok murid-murid Hoa-san-pai ini.Dia membentak dan kedua tangannya mendorong ke kanan kiri……dan empat orang murid Hoa-san-pai itu terpental sampai empat meter ke belakang, roboh tak dapat bangkit kembali karena tulang pundak mereka remuk disambar hawa yang keluar dari kedua telapak tangan Han Han. Untung bagi mereka bahwa Han Han masih ingat akan cegahan adik nya sehingga ia membatasi dorongannya dan hanya membuat mereka roboh pingsan dengan tulang remuk saja.
"Siancai…… pemuda iblis…….!”
Bhok Seng-cu dan Lok Seng-cu dengan gerakan tenang namun sesunggunnya cepat dan mengandung tenaga sinkang yang amat kuat, meloncat turun dari kursi mereka diikuti oleh Kong Seng-cu.
Melihat tiga orang kakek tokoh Hoa-san-pai itu hendak turun tangan, diam-diam Sin Kiat dan Soan Li menjadi khawatir sekali. Mereka maklum akan kelihaian tiga orang supek mereka ini dan karena sekali ini yang turun tangan adalah tokoh tinggi yang berkepandaiqn hebat, maka akibatnya pun tentu mengerikan. Mereka masih bingung dan serbasalah, tidak tahu harus berbuat apa. Membantu sana salah membantu sini tak benar. Maka mereka hanya memandang bengong dan jantung mereka serasa ber-henti berdetik.
"Koko, mana pedangku! Biar kauserahan Si Codet galak itu kepadaku!" kata Lulu yang agaknya tidak mengenal bahaya. Pedang itu tadi oleh Han Han ditancapkan di atas tanah ketika ia membantu Lulu dan merobohkan empat orang murid Hoa-san-pai. Kini Lulu menyambarpedang itu dan terus dimainkan sambil mengejek ke arah Kong Seng-cu.
"Hayo, Tosu Codet, beranikah engkau melawan pedang wasiat jimat keramat-ku?
"Kong Seng-cu yang sudah sejak tadi diejek dan dipermainkan Lulu, memuncak kemarahannya. Ia lupa diri, lupa bahwa adalah pantangan pertama dan terutama bagi seorang ahli tapa seperti dia untuk mudah dirangsang nafsu amarah. Dengan seruan keras ia telah mencabut pedang-nya dan menerjang Lulu. Sinar pedangnya yang gemilang kehijauan itu bagaikan kilat menyambar ke arah leher Lulu!
"Cring……iiihhhhh…..! Pedangmu bagus sekali, Tosu Codet! Wah, kauberikan saja pedangmu itu padaku dan aku serta kokoku akan mengampunimu. Hayo, serah-kan pedangmu sebagai pengganti nyawa-mu!”
Lulu berteriak kaget dan mandang pedangnya yang tinggal sepotong. Ketika menangkis tadi, pedang rampasannya bertemu dengan pedang Kong Seng-cu yang bersinar kehijauan, dan sekali beradu pedang rampasannya buntung. Maka ia menjadi tertarik sekali dan wajah serta matanya berseri memandang pedang kehijauan yang dipegang Kong Seng-cu.
Dapat dibayangkan betapa marah dan mendongkol hati Kong Seng-cu mendengar ucapan gadis itu. Sudah terang bahwa sekali serang saja, biarpun gadis itu berhasil menangkisnya, namun pedang gadis itu menjadi buntung sehingga hal ini dapat dipakai ukuran bahwa dia sudah menang dalam satu gebrakan. Namun gadis itu masih mengeluarkan ucapan untuk menukar pedangnya dengan nyawa. Seolah-olah gadis itu baru mau mengampuninya kalau dia sudah memberi "thiap" (sogokan) kepada gadis Mancu itu berupa pedangnya! Padahal pedangnya itu bukanlah sembarang pedang! ltulah pedang Cheng-kong-kiam (Pedang Sinar Hijau), sebuah pusaka Hoa-san-pai! Cheng-kong-kiam ini dahulu amat terkenal didunia kang-ouw sebagai senjata ampuh dari para pimpinan Hoa-san-pai dan kini berada di tangan Kong Seng-cu karena dia merupakan seorang diantara pemimpin Hoa-san-pai dan di antara ketiga orang tosu itu, dialah yang paling pandai dalam kiam-sut (ilmu pedang) Hoa-san-pai. Dan sekarang, pedang itu diminta oleh Lulu sebagai barang "sogokan". Sung-guh keterlaluan sekali!
"Perempuan Mancu keparat, engkau tak patut dibiarkan hidup!" Kong Seng-cu yang sudah memuncak kemarahannya itu kini menerjang maju dengan ganas, mengeluarkan jurus-jurus maut dari Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-sut.
"Ayaaaaa……, Tosu Codet selain galak juga ganas sekali !" Mulut Lulu berkata demikian, akan tetapi sesungguhnya dia tidak berpura-pura dan menjadi kaget sekali. Kasihan dara remaja ini. Biarpun dia telah mewarisi ilmu silat yang amat tinggi dan aneh dari Pulau Es, akan tetapi dia kurang pengalaman dan selamanya dia hanya berlatih dalam pertandingan pura-pura melawan biruang es. Kini dia diserang oleh seorang tosu Hoa-san-pai tingkat empat yang memegang sebatang pedang pusaka Hoa-san-pai pula, yang sudah menjadi ahli pedang sebelum dia terlahir. Tentu saja dia terkejut dan kewalahan. Baiknya, selama di Pulau Es, gadis ini telah berlatih secara aneh dan hebat sehingga dia memiliki sinkang dan ginkang yang tidak lumrah manusia biasa sehingga biarpun terdesak ia, selalu dapat bergerak cepat, menghindar diri dengan meloncat ke sana kemari, mengelak terus karena tidak berani menangkis dengan pedangnya yang tinggi sepotong.
"Sing-sing-sing……siuuuuutttt……aihhh...…" Untuk ke sekian kalinya,. hampir saja ujung pedang bersinar hijau itu mencium kulit leher Lulu yang putih halus sehingga gadis itu membelalakkan matanya dan untung ia masih dapat cepat sekali menarik tubuh ke belakang lalu meloncat keatas dan berjungkir-balik empat meter disebelah belakangnya. Namun Kong Seng-cu yang sudah marah dan penasaran itu menerjang terus tanpa mengenal kasihan.
Kong Seng-cu tidak malu menyerang dengan pedangnya karena tadi Lulu juga memegang pedang, bahkan biarpun sekarang pedang gadis itu tinggal sepotong, namun masih terus dipegangnya sehingga gadis itu dapat dikatakan "bersenjata" dan dia tidak akan disebut menyerang seorang yang bertangan kosong dengan senjatanya. Berbeda dengan Bhok Seng-cu dan Lok Seng-cu. Mereka berdua setelah menyaksikan betapa Kong Seng-cu sudah turun tangan terhadap gadis Mancu yang telah merobohkan para anak buah Pek-eng-piauwkiok, lalu melangkah maju menghampiri Han Han pula. Mereka berdua maklum bahwa pemuda ini memiliki kepandaian yang hebat juga, maka mereka pun tidak malu-malu untuk turun tangan berdua, sungguhpun mereka masih merasa sungkan menggunakan senjata. Mereka percaya bahwa andaikata seorang diri masih diragukan untuk dapat menundukkan pemuda liar itu, berdua tentu akan dapat menawannya untuk diseret kedepan ketua Hoa-san-pai. Dengan demi-kian, barulah nama besar dan wibawa Hoa-san-pai tidak akan tercemar karena tewas dan robohnya beberapa orang anak murid Hoa-san-pai di tangan bocah ini.
"Pemuda iblis, menyerahlah!" Lok Seng-cu menggerakkan tangan mencengkeram ke arah pundak Han Han .
Pemuda ini sudah menjadi marah,apalagi melihat betapa Lulu diserang dengan pedang oleh Kong Seng-cu. Kini menghadapi cengkeraman tangan Lok Seng-cu, ia sama sekali tidak mengelak, bahkan menggerakkan tangan pula me-angkis sambil mengerahkan tenaga dengan lengan kiri.
“Plakkkkk ……..!"
"Ayaaaaa……...!" Tubuh Lok Seng-cu terpelanting dan hampir saja tosu ini roboh kalau saja dia tidak cepat meloncat ke atas dan berjungkir-balik, wajahnya pucat dan lengan kirinya agak membiru. Hawa dingin seperti es menusuk nusuk lengannya itu. Dia sudah mendengar akan kelihaian Ma-bin Lo-mo yang kabarnya memiliki ilmu pukulan Swat-im Sin-ciang (Tangan Sakti Inti Es) yang mengandung Im-kang yang amat kuat. Akan tetapi sungguh sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa murid datuk hitarn itu rnemiliki sinkang sekuat ini! Cepat Lok Seng-cu menghimpun tenaga dalarnnya dan segera rasa dingin rne-nusuk-nusuk itu lenyap kernbali.
Melihat sutenya hampir roboh dalam segebrakan, Bhok Seng-cu terkejut bukan main dan cepat ia pun menubruk maju dari sebelah kanan pemuda itu dan mengirim dorongan dengan telapak tangan-nya ke arah dada Han Han. Dorongan ini .bukan sembarang dorongan, melainkan pukulan sakti yang dilakukan dengan pengerahan sinkang yang kuat sekali. HanHan dapat merasai sambaran angin dahsyat yang panas, maka ia pun segera membuka tangan kanan dan memapaki telapak tangan kakek itu yang mendorong-nya.
"Plak……!" Dua telapak tangan yang mengandung hawa Yang-kang bertemudan melekat! Bhok Seng-cu kembali tertegun dan cepat-cepat mengerahkan sinkangnya untuk memperkuat Yang-kang yang mendorong keluar dari telapak tangannya. Pemuda ini menggunakan Yang-.kang yang amat panas! Hal ini benar-benar mengagetkan Bhok Seng-cu karena hawa panas yang menyambut telapak tangannya itu hampir tak tertahankan olehnya!
 Melihat betapa suhengnya telah turun tangan akan tetapi belum mampu merobohkan pemuda itu, Lok Seng-cu menjadi penasaran dan ia pun menerjang maju dan kini ia memukul dengan mengerahkan hawa Im-kang. Sebagai seorang tokoh tingkat tinggi Hoa-san-pai, tiga orang tosu ini tentu saja telah kuat sekali sinkangnya sehingga mereka pun menguasai tenaga Yang-kang maupun Im-kang. Lok Seng-cu yang sudah merasai betapa pemuda itu tadi menerima ceng-keramannya dengan tangkisan yang mengandung hawa sakti dingin, kini me-nyerang pula dengan Im-kang karena ia maklum pula melihat jurus yang dipergunakan suhengnya bahwa Bhok Seng-cu menyerang pemuda itu dengan Yang-kang dan bahwa pemuda itu menyambut dorongan suhengnya dengan hawa sakti panas pula. Kesempatan bagus pikirnya.
Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tangan kiri pemuda itu menerima telapak tangannya dengan sinkang yang berhawa dingin pula! Betapa mungkin ini? Dengan tangan kanannya pemuda itu melawan hawa panas Bhok Seng-cu dengan hawa panas pula, dan dengan tangan kirinya menghadapi Lok Seng-cu dengan sinkang yang berlawanan, yaitu dengan hawa dingin! Lok Seng-cu juga merasa betapa hawa dingin yang keluar dari telapak. tangan pemuda itu amat luar biasa dan hampir ia tidak kuat menahannya. Terpaksa ia mengerahkan seluruh tenaga saktinya untuk melawan. Adapun Bhok Seng-cu yang sudah berkeringat dahinya karena hawa panas menjalari seluruh tubuhnya, juga mengerahkan tenaga dengan mata setengah dipejamkan untuk melawan sinkang pemuda itu yang benar-benar amat luarbiasa. Tiga orang ini, dengan telapak tangan beradu, hanya berdiri tak bergerak, telapak tangan mereka saling melekat.
Melihat ini, Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li menjadi bengong saking heran dan kagumnya. Han Han seorang diri mampu menahan pukulan-pukulan sakti kedua orang supek mereka! Mereka sudah menduga bahwa Han Han adalah seorang pemuda yang memiliki kesaktian luar biasa, akan tetapi sungguh jauh melampaui batas dugaan mereka bahwa pemuda itu mampu menahan serangan hawasakti kedua orang kakek itu, dan bahkan Han Han masih dapat menengok dan memperhatikan keadaan Lulu yang terdesak hebat oleh pedang Kong Seng cu yang lihai. Dua orang muda ini menjadi makin gelisah dan bingung. Melihat anak buah Pek-eng-piauwkiok terluka semua termasuk Tan-piauwsu dan tiga orang sutenya sehingga ruangan itu penuh dengan mereka yang rebah dan merintih-rintih, kini melihat betapa Lulu terancam maut di ujung pedang Kong Seng-cu, dan melihat Han han juga bergulat dengan maut, mereka menjadi bingung tak tahu harus berbuat apa. Betapapun juga, Han Han dan Lulu jelas merupakan musuh atau lawan fihak Ho-san-pai, sehingga menurut patut, sebagai murid-murid Hoa-san-pai pula, mereka semestinya membantu para supek mereka. Kalau mereka yang memiliki ilmu silat tinggi, tidak banyak selisihnya dengan tiga orang tosu itu, bahkan dalam hal ilmu silat mungkin mereka lebih lihai, pada saat itu turun tangan membantu, tentu Han Han dan lulu takkan dapat bertahan lebih lama lagi. Namun hati mereka tidak mengijin kan mereka turun tangan dan karena itu,mereka hanya memandang dengan muka pucat. Apalagi Sin Kiat yang jatuh cinta kepada lulu, menjadi bingung sekali hatinya ingin sekali membantu lulu membebaskan gadis itu dari desakan berbahaya pedang Kong Seng-cu, namun bagaimana mungkin ia melawan supeknya sendiri? Sementara itu, Han Han memandang ke arah adiknya dengan hati penuh kekhawatiran. Ia maklum bahwa menghadapi ilmu pedang tosu itu, adiknya takkan.mampu mempertahankan diri lebih lama lagi. Jangankan lulu, dia sendiri pun kalau harus bertanding mempergunakan atau mengandalkan ilmu silat, bukanlah tandingan tosu-tosu Hoa-san-pai ini. Han Han maklum bahwa menghadapi mereka,ia hanya dapat mengandalkan kekuatan sinkangnya, karena dalam hal ilmu silat, dia tidak lebih pandai daripada Lulu kalau tidak mau dikatakan bahkan lebih rendah lagi karena Lulu telah mempelajari ilmu silat dari kitab peninggalan pemilik Pulau Es. Untuk menolong adiknya, ia harus cepat menundukkan dua orang kakek ini.
"Aiiiggghhhhh…….!!" Seruan dahsyat ini keluar dari dada Han Han dan kedua orang tosu yang mempertahankan desakan sinkangnya menjadi kaget seperti disambar petir ketika tiba-tiba mereka merasakan perubahan pada kedua lengan pemuda itu. Bhok Seng-cu yang tadinya menghadapi hawa Yang-kang panas dari tangan Han Han, tiba-tiba merasa betapa telapak tangan pemuda itu berubah menjadi dingin sekali, terlalu dingin sehingga seluruh lengannya seperti ditusuk-tusuk jarum! Di lain fihak, Lok Seng-cu yang tadinya menghadapi Im-kang dingin, tiba-tiba merasa betapa tangan pemuda itu berubah menjadi panas luar biasa. Cepat kedua orang tosu itu pun mengubah sin-kang mereka untuk menyesuaikan diri,akan tetapi kembali Han Han menukar sinkangnya secara tiba-tiba. Dua orangtosu itu hampir tidak dapat percaya ke pada perasaan tangannya sendiri. Selama hidup mereka, belum pernah mereka menyaksikan hal seperti ini. Betapa mungkin mengubah-ubah sinkang secara mendadak seperti itu? Karena perubahan-perubahan ini, mereka menjadi kacau dan tak kuat bertahan lagi, sehingga ketika Han Han mengerahkan tenaga mendorong tubuh mereka mencelat ke belakang dan mereka roboh terbanting dengan napas megap-megap hampir putus karena dada mereka terluka oleh sinkang mereka yang.membalik secara tiba-tiba. Cepat mereka bersila dan memejamkan mata untuk menolong nyawa mereka yang terancam maut.
Han Han sudah meloncat ke dekat adiknya dan sekali kedua tangannya mendorong ke depan, Kong Seng-cu tak dapat bertahan. Tosu ini merasa betapa seluruh tubuhnya menjadi dingin, seolah-olah darah di tubuhnya membeku. Ia menggigil dan tanpa dapat ia cegah lagi,pedang pusaka Cheng-kong-kiam terlepas dari tangannya yang menjadi kaku. Lulu cepat menyambar pedang itu dan ter-tawa tawa girang sekali, tidak mempedulikan lagi Kong Seng-cu yang sudah cepat duduk bersila, seperti kedua orang saudara seperguruannya, mengerahkan tenaga sakti untuk menolong nyawanya yang terancam maut.
 Suasana menjadi sunyi, yang terdengar hanya rintihan beberapa orang anak buah Pek-eng-piauwkiok yang tak dapat menahan nyeri. Namun, tak seorang pun tewas dalam pertempuran aneh yang hanya memakan waktu sebentar saja itu. Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li terlampau terheran-heran sehingga mereka itu masih bengong. Han Han menggandeng tangan Lulu yang masih mengagumi pedang rampasannya, kemudian Han Han menoleh kepada dua orang murid Im-yang Seng-cu sambiJ berkata.
"Sin Kiat dan Adik Soan Li, selamat tinggal. Kami berdua harus pergi sekarang juga."
Lulu juga menoleh kepada dua orang muda itu, tersenyum manis dan mengedipkan matanya yang lebar kepada Sin Kiat sambil berkata, "Selamat berpisahdan sampai jumpa pula, ya?"
Hati Sin Kiat terasa sakit dan ia bersedih harus berpisah dari gadis yang telah merampas hatinya itu, akan tetapi pada saat seperti itu dia tidak dapat berkata apa-apa, apalagi menahannya, bahkan ia maklum. bahwa paling baik kedua orang itu cepat pergi dari tempat itu. Juga Soan Li hanya dapat memandang punggung Han Han yang bidang sampai bayangan kedua orang itu lenyap dari situ, keluar dari piauwkiok melalui pintu gerbang yang sudah tidak terjaga lagi.
Sin Kiat memandang ke arah tiga orang supeknya yang masih duduk bersila dengan wajah pucat akan tetapi napas mereka tidak begitu sesak lagi, kemudian memandang kepada para suhengnya yang terluka. Hatinya berduka sekali. la segera menghampiri Bhok Seng-cu dan berkata dengan suara terharu.
“Supek, sungguh teecu merasa menyesal sekali telah terjadi malapetaka ini.”
" Teecu mohon maaf tidak dapat membantu Supek," kata pula Soan Li:
" Dia terlalu hebat, seperti dewa……..andaikata teecu berdua melawan pun tidak akan ada gunanya….." kata pula Sin Kiat, masih kagum bukan main menyaksikan sepak terjang Han Han tadi.
Bhok Seng-cu membuka matanya memandang kepada Sin Kiat dan Soan Li .Dua orang muda ini terkejut dan otomatis melangkah mundur melihat betapa sinar mata Bhok Seng-cu penuh dengan api kemarahan.
 "Manusia-manusia khianat! Murid-murid murtad! Pergilah! Mulai detik ini kalian bukanlah murid, melainkan musuh Hoa-san-pai" .
"Supek……"
"Pinto bukan Supek kalian, keparat!, pergi !!" bentak pula Bhok Seng-cu.
Sin Kiat dan Soan Li saling pandang Di mata gadis itu tampak dua butir air
mata yang ditahannya agar tidak runtuh Sin Kiat menghela napas panjang, bangkit berdiri karena tadi mereka berlutut, lalu berkata lirih kepada Soan lie
"Marilah kita pergi, Sumoi. Kelak Suhu tentu akan dapat mengerti keadaan kita……." Soan li juga bangkit berdiri dan pergilah kedua orang muda itu meninggalkan rumah piauw.kiok itu pergi dengan hati perih karena sebagai tokoh-tokohmuda Hoa-san-pai yang sudah membuat nama besar dan mengharumkan nama Hoa-san-pai, kini mereka diusir pergi dan tidak diaku sebagai murid. Padahal julukan mereka pun memakai nama Hoa-san
***
Siauw-lim-pai merupakan perkumpulan atau partai silat yang bukan saja paling tua. Banyak orang mengatakan bahwa Siauw-lim-pai merupakan sumber dari semua partai persilatan yang kemudian timbul, dan sudah tentu saja ilmu silat yang keluar itu bercampur baur dengan gerakan-gerakan dari lain golongan dan suku bangsa sehingga ratusan tahun kemudian, ilmu silat dari partai lain sudah tak dapat dibedakan lagi dengan sumbernya. Tentu saja amat berbeda dalam lagak ragam dan kembangannya saja karena kalau dilihat lebih mendalam pada dasarnya memang tiada perbedaan dalam ilmu silat yang hanya terdiri dari dua pokok, yaitu menjaga diri serapat mungkin dan menyerang lawan setepat mungkin.Semenjak pertama kali didirikan olehtokoh besar dalam dunia persilatan maupun Agama Buddha, yaitu Tat Mo Couw-su, Siauw-lim-pai selalu berada di bawah bimbingan para hwesio sehingga di mana-mana didirikan kuil Siauw-lim atau Siauw-lim-si. Sesuai dengan alam fikiran manusia yang selalu berubah ubah, di dalam Siauw-lim-pai sering kali terjadi perubahan yang tentu saja ditentukan oleh pimpinan setempat dan terdorong oleh keadaan pula. Perubahan peraturan yang kadang-kadang amat menyolok. Pernah terdapat peraturan dalam kuil Siauw-lim-si yang mengeJuarkan pantangan bagi seluruh murid untuk berdekatan dengan wanita! Bahkan ada larangan keras bagi tamu-tamu wanita yang datang bersembahyang ke kuil untuk melangkah melewati pintu tengah yang sudah dijadikan garis demarkasi! Mungkin peraturan ini dikeiuarkan untuk memperkuat batin para murid yang sedang digembleng agar jangan sampai ternoda oleh nafsu berahi karena sesungguhnya, terutama bagi mereka yang sedang melatih sinkang, hubungan dengan wanita merupakan pantangan dan penghalang besar sekali bagi penghimpunan tenaga murni.
Akan tetapi, peraturan yang kelihatan seolah-olah "anti wanita" ini pun tidak dapat dipertahankan dan kembali terjadi perubahan di mana para tokoh Siauw-lim-pai ada yang mulai menerima murid-murid wanita. Hal ini terutama sekali terjadi atas kesadaran para tokoh Siauw-lim-pai bahwa dalam keadaan negara kacau, fihak wanitaiah yang sering kali mengalami penghinaan dan kekejian-kekejian karena fihak wanita termasuk golongan lemah. Maka,dalam keadaan negara kacau dan kejahatan merajalela, perlu sekali wanita diharuskan menjadi nikouw (pendeta),sekarang murid murid itu, baik pria maupun wanita tidak diharuskan mencukur rambut menjadi pendeta, akan tetapi tentu saja mereka ini sekaligus menjadi pula murid murid agama Budha. Hal ini adalah penyebarluasan agama mereka melalui perguruan silat.
Demikianlah, peraturan bebas kewajiban menjadi pendeta ini sudah berjalan seratus tahun lebih, jauh sebelum bangsa Mancu menyerbu pedalaman dan menjajah dengan mendirikan Kerajaan Ceng sehingga di dalam Siaw-lim-pai terdapat tokoh-tokoh bukan pendeta seperti Kang-lam Sang-eng, dan bahkan tujuh orang
tokoh Siauw-lim-pai sendiri, murid-murid langsung dari ketua Siauw-lim-pai, yaitu
Siauw-lim Chit-kiam, terdiri dari hanya dua orang hwesio dan lima orang bukan
hwesio. Pada masa itu, anak murid Si-auw-lim-pai tersebar luas di kalangan
rakyat jelata, ada yang menjadi petani,nelayan, piauwsu, kauwsu (guru silat)
dan banyak pula yang menjadi pendekar-pendekar perantau.
Pada waktu itu, yang menjadi ketua Siauw-lim-pai adalah guru Siauw-limChit-kiam berjuJuk Ceng San Hwesio. Hwesio ini usianya kurang lebih delapan puluh tahun, bertubuh tegap agak kurus,berwajah keren dan penuh wibawa. Seperi halnya Hoa-san-pai dan banyak perkumpulan silat lainnya, diam-diam Siauw-lim-pai juga menentang bangsa Mancu yang datang menjajah. Sunguhpun tidak secara terang-terangan, namun banyak para pendekar Siauw-lim-pai membantu perjuangan para patriot yang berusaha menentang dan mengusir penjajah yang.makin lama makin kuat itu. Apalagi karena Ceng San Hwesio sendiri adalah seorang yang anti penjajahan, sehingga sejak penjajahan Mancu, lenyaplah sebagian besar kesabarannya sebagai seorang hwesio dan semangat patriotnya timbul, mengeraskan hatinya dan mengeraskan wajahnya. Di dalam setiap per-temuan dengan murid-muridnya, dia selalu memberi wejangan agar para anak murid Siauw-lim-pai melakukan segala usaha untuk menentang bangsa Mancu kalau perlu dengan taruhan nyawa.
Sebagai ketua Siauw-lim-pai, tentu saja Ceng San Hwesio memiliki ilmu
kepandaian yang hebat sekali. Dia seorang ahli lweekeh yang sudah matang
sehingga benda apa pun juga yang beradadi tangannya dapat menjadi senjata yang ampuh. Akan tetapi Ceng San Hwesio tidak pernah mempergunakan senjata, tidak mau mempergunakan tongkat hwesio sebagai senjata seperti kebiasaan para ketua lainnya, melainkan lebih suka mengandalkan tasbih putih yang terbuat dari pada biji jagung jali yang besar-besar.
Seperti telah dlsinggung; di bagian de beberapa kali telah terjadi bentrokan-bentrokan antara anak murid Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai. Akan tetapibentrokan-bentrokan ini hanya terjadi karena urusan pribadi dan berkat kebijaksanaan para pimpinan kedua fihak, bentrokan antara kedua partai yang sama-sama menjadi pembantu-pembantu para pejuang itu dapat diredakan, bahkan diantara para pimpinan telah menghukum murid masing-masing dan saling minta maaf sehingga urusan dianggap telah selesai.
Ceng San Hwesio yang memegang keras peraturan, berdisiplin terhadapmurid-muridnya, selain memberi hukuman kepada murid-murid yang menimbulkan.bentrokan juga mengeluarkan ancaman bahwa siapa yang membuat gara-gara keributan dan menimbulkan bentrokan baru dengan fihak Hoa-san-pai, akan dihukum berat.
Akan tetapi, beberapa hari kemudian ketika hwesio penjaga pintu membuka pintu gerbang Siauw-lim-si dan siap untuk menyapu pekarangan, dia melihat tubuh tiga orang menggeletak di depan pintu. Ketika diperiksa, hwesio ini kaget sekali mendapat kenyataan bahwa mereka adalah murid-rraurid Siauw-lim-pai yang membuka toko obat di kota Seng-kwan. Segera ia berseru minta tolong dan beberapa orang hwesio mengangkat tiga batang tubuh itu ke dalam. Dua di antaranya sudah tewas, sedangkan seorang diantara mereka masih hidup akan tetapi sudah empis-empis napasnya dan keadaannya payah sekali.
Kebetulan sekali pada waktu itu, dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam
berada di kuil itu. Mereka ini adalah Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek orang ke enam dan ke tujuh dari Siauw-lim Chit-kiam. Ketika mendengar ribut-ribut, dua
orang pendekar pedang Siauw-jim yang sedang menghadap suhu mereka, segera keluar untuk melihat mewakili Ceng San Hwesio. Mereka berdua kaget seka!i dan cepat memeriksa. Tiga orang anak muridSiauw-lim-pai itu terluka oleh pedang yang menggorok leher mereka. Yang dua orang hampir putus lehernya dan telah mati, sedangkan yang masih hidup terluka parah, tak dapat diharapkan lagi dapat tertolong.
Liong Ki Tek yang bersikap tenang, cepat menotok beberapa jalan darah dipundak clan punggung orang yang terluka hebat itu sehingga rasa nyeri tidaklah terlalu hebat lagi. Begitu rasa nyeri mereda, orang yang sekarat itu mengeluarkan suara yang tidak jelas, berbisik dan seperti mengorok tertahan di kerongkongannya. Akan tetapi Liong Ki Tekclan Liok Si Bhok sudah dapat mendenga rapa yang dimaksudkan anak murid yangsekarat itu.
"……..Hoa-san-pai…….Tee-kong-bio…..” Setelah mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas itu, anak murid Siauw-lim-pai itu pun menghembuskan napas terakhir menyusul kedua orang saudaranya yang tewas lebih dulu.
Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek lalu menghadap guru mereka untuk merundingkan peristiwa menyedihkan itu. Ceng San Hwesio yang biasanya bersikap tenang saat itu menjadi merah mukanya dan jelas sekali bahwa hwesio tua ini diserang nafsu kemarahan yang besar.
"Kalian pergilah, carilah mereka di Tee-kong-bio, akan tetapi jangan bunuh tangkap mereka dan seret ke sini. Pinceng menghendaki agar dia menjadi tawanan kita sehingga ada pimpinan Hoa-san-pai yang datang untuk mendengarkan kekejaman-kekejaman anak murid mereka. Sungguh keji sekali !"
Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek segera berangkat meninggalkan kuil Siauw lim-si untuk mencari Tee-kong-bio (Kuil Dewa Bumi) yang terletak di luar dusun Ciu-si-bun. Kuil ini sebenarnya hanyalah bekas kuil, karena sudah tidak dipakai lagi tidak dipergunakan sebagai kuil. Letaknya pun di luar kota, di pinggir jalan sebuah hutan dan karena tidak ada yang merawatnya, maka menjadi kotor dan rusak. Akan tetapi, perlengkapan kuil itu masih ada, seperti meja-meja sembahyang yang reyot, arca-arca dan ukiran-ukiran di dinding yang sudah berlumut.Tidak ada yang berani mengambil benda-benda di situ atau mengganggunya karena menurut desas-desus di dusun-dusun sekeliling tempat itu, Tee-kong-bio sekarang dihuni oleh mahluk-mahluk halus atau iblis-iblis sehingga tempat itu menjadi angker.
Karena keadaan kuil yang dianggap angker inilah maka ketika Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek keluar dari dusun Ciu-si-bun menuju ke kuil itu, keadaan disekeliling tempat itu sunyi seperti kuburan. Waktu itu sudah menjelang senja, dan sungguhpun cuaca belum gelap, namun tidak ada penduduk dusun yang berani berada di daerah angker ini. Kesunyian itu amat terasa oleh dua orang tokoh Siauw-lim-pai ini dan mereka berjalan terus dengan tenang dan penuh kewaspadaan.
“.Liong-sute, aku masih ragu-ragu akan kebenaran ucapan murid yang sudah dalam sekarat itu. Mereka adalah pedagang pedagang obat di kota, bagaimanama mereka bisa menyebut nama Hoa-san-pai di Tee-kong-bio?"
"Entahlah, Liok-suheng. Aku sendiripun ragu-ragu. Akan tetapi, agaknya tidak sembarangan dia mengatakan itu tentu ada hubungannya. Aku yakin ter-dapat rahasia dalam peristiwa itu dan rahasianya terletak di kuil depan itu."
Liok Si Bhok yang sudah berusia enampuluh tahun lebih itu mengangguk-angguk. Dia merupakan tokoh ke enam dari Siauw-lim Chit-kiam, seorang yang bertubuh pendek gemuk namun tubuhnya itu dapat bergerak dengan gesit sekali, wajahnya bundar dan selalu kelihatan serius, namun mulutnya hampir tersenyum selalu menandakan bahwa dalam keseriusannya itu sebetulnya dia adalah seorang yang peramah. Adapun Liong Ki Tek, orang ketujuh atau yang termuda dari Siauw-lim Chit-kiam, usianya kurang lebih limapuluh lima tahun, berbeda dengan suheng ke enam itu, tubuhnya tinggi kurus sehingga tinggi suhengnya hanya sampai dipundaknya. Sikap orang termuda. Dari Tujuh Pedang Siauw-lim-pai ini amat tenang sehingga kelihatan lamban, akan tetapi biji matanya yang bergerak-gerak terus itu menandakan bahwa biarpun tenang ia sarna sekali tidak lamban melainkan terus waspada dan setiap urat syaraf di tubuhnya sudah siap.
Ketika kedua orang tokoh Siauw-lim-paj ini memasuki pekarangan kuil Tee-kong-bjo yang sunyi, tiba-tiba mereka mendengar kepak sayap burung. Dengan kaget mereka mengangkat muka memandang. Kiranya ada tiga ekor burung gagak terbang dari atas genteng kuil itu, agaknya terkejut oleh kedatangan mereka. Melihat ini, kedua orang itu saling pandang dan menjadi agak kecewa. Terbangnya tiga ekor burung itu dapat diartikan bahwa di kuil itu tidak ada orangnya tentu burung yang ketakutan melihat mereka datang itu tidak akan berani tinggal di situ.
Akan tetapi mereka melangkah maju terus, melewati pekarangan yang lebardan yang tertutup rumput agak tinggi itu, sampai di anak tangga yang cukup tinggi, ada dua puluh anak tangga banyaknya sehingga ruangan depan kuil itu tingginya hampir dua meter dari tanah dipekarangan. Biarpun mulut kedua orang kakek ini tidak mengeluarkan suara, namun keduanya seperti te!ah bersepakat dan melangkahlah mereka menaiki anak tangga dengan langkah ringan dan sikap tenang. Begitu mereka melangkahi anak tangga terakhir dan tiba di ruangan depan, terdengar suara bercicit keras daan keduanya siap untuk menghadapi serangan senjata rahasia ketika pandang mata mereka yang tajam dapat menangkap meluncurnya dua buah Benda hitam dari sebelah dalam kuil. Akan tetapi sebelum benda itu menyerang mereka, benda benda itu menyambar ke atas dan mengeluarkan bunyi bercicit, dan ternyata dua buah benda hitam itu adalah dua ekor kelelawar .besar!
Li-ok Si Bhok dan Liong Ki Tek saling pandang, tersenyum dan menghela napas panjang. Mereka tadi sudah merasa agak tegang, dan kini ternyata mereka kecelik. Bahkan keluarnya dua ekor kelelawar dari sebelah dalam kuil ini lebih meyakinkan dugaan mereka bahwa kuil itu kosong karena kalau memang ada orang-nya, tentu dua ekor kelelawar itu sudah sejak tadi terbang pergi, tidak menanti kedatangan mereka yang mengejutkan binatang itu.
"Aht Chit-te (Adik ke Tujuh), tempatini tidak ada orangnya…….." kata Liok Si Bhok, kecewa.
"Sebaiknya kita menyelidiki keadaan di dalam Liok-heng (Kakak ke Enam)," jawab Liong Ki Tek. Karena hubungan diantara Siauw-lim Chit-kiam amat erat sehingga mereka itu bukan hanya merupakan kakak beradik seperguruan melainkan merasa seperti kakak beradik sekandung kadan-kadang mereka menyebut kakak dan adik.
Mereka maju terus akan tetapi karena hati mereka merasa makin yakin                                                                                                                                                                                                                                                                bahwa kuil itu kosong,mereka tidaklah menjadi tegang lagi, bahkan ada sebagian atapnya yang runtuh. Arca-arca yang tidak terawat di situ bahkan kelihatan makin menyeramkan. Mereka melangkah maju terus, meneliti setiap ruangan yang mereka lalui. Tiba-tiba keduanya menghentikan langkah karena pada saat yang sama kedua orang gagah perkasa ini mencium bau yang amat harum. Bau minyak harum yang biasa dipakai wanita! Mereka mengerutkan kening. Seperti para suheng mereka, baik yang menjadi hwesio seperti Lui Kong Hwesio dan Lui Pek Hwesio orang ke dua dan ke lima dari Siauw-lim Chit-kiam, kedua orang ini. Pun merupakan murid-murid angkatan lama sehingga mereka pemah mengalami pelajaran pantangan mendekati wanita. Bahkan mereka itu, seperti suheng-suheng mereka, tidak pernah kawin. Maka, begitu mencium bau harum minyak wangi yang menandakan bahwa di situ ada wanitanya, mereka mengerutkan kening. Bukan hanya karena mereka segan berurusan dengan wanita, melainkan juga mereka terkejut menghadapi kenyataan ini. Kalau di situ ada orangnya, apalagi wanita, hal ini berarti bahwa wanita atau siapa adanya orang yang memaka iwangi-wangian itu tentu memiliki ilmu kepandaian yang hebat! Sedemikian halus dan ringan tentu gerakan-gerakannya sehingga kelelawar dan burung gagak yang berada di kuil itu sampai tidak tahu dan tidak menjadi kaget.
" Sahabat-sahabat Hoa-san-pai, silakan keluar. Kami dua orang utusan Siauw-lim-pai ingin bertemu dan bicara!” Liok Si Bhok berseru sambil mengerahkan khikangnya sehingga suaranya bergema diseluruh kuil, bahkan menggetarkan sarang laba-laba yang banyak terdapat di sudut-sudut ruangan itu. Mereka berdiri ditengah-tengah sebuah ruangan lebar dimana terdapat empat buah pintu, menjurus ke empat penjuru. Daun-daun pintunya tertutup, hanya sebuah yang menuju keluar terbuka karena mereka yang membukanya tadi ketika masuk dari luar. Hati mereka makin yakin bahwa kuil ini ada penghuninya ketika melihat bahwa berbeda dengan ruangan-ruangan lain dibagian depan, ruangan yang paling lebar dan berada di bagian belakang kuil ini lantainya bersih seolaholah sering disapu
Gema suara Liok Si Bhok mengaung menyeramkan, kemudian sunyi kembali. Selagi dua orang tokoh Siauw-lim-pai jtu meragu apakah benar-benar adapenghunjnya kuil itu, terdengar suara tertawa merdu, suara ketawa wanita yang halus dan bernada genit, seperti suara ketawa kuntilanak yang menyeramkan. Biarpun dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu merupakan pendekar-pendekar yang gagah perkasa dan tidak pernah mengenal takut, namun suasana di kuil itu dan suara ketawa ini membuat bulu tengkuk mereka meremang. Namun mereka dapa segera menindas perasaan ngeri ini dan
Liong Ki Tek lalu membentak.
"Manusia atau siluman, kami orang keenam dan ke tujuh dari Siauw-lim Chit-kiam tidak merasa takut!"
"Hi-hi-hi-hik, Liok Sj Bhok dan Ljong Ki Tek mengantar kematiannya, masih bermulut besar!"
Perlahan-lahan tiga buah daun pintu terbuka dari luar dan masuklah tiga orang dari tiga buah pintu itu. Dari pintu belakang masuk seorang wanita yang usianya tentu sudah empat puluh tahun lebih, akan tetapi masih kelihatan cantik sekali, berpakaian mewah dan bersikap genit, terutama sekali matanya yang penuh dengan sinar rafsu berahi. Akan tetapi yang. amat mengerikan adalah kedua buah tangannya. Tangan yang kecil berjari runcing halus bagus sekali, hanya warnanya merah seolah-olah kedua tangan itu berlumur darah!
Dari pintu kiri muncul seorang kakek yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam seperti dipulas arang, usianya mendekati enam puluh tahun namun masih jelas tampak bahwa dia kuat sekali dan bertenaga besar. Kesombongan bersinar dari sepasang matanya yang bulat dan lebar. Adapun dari pintu kanan muncul seorang kakek yang usianya sebaya akan tetapi dalam segala hal merupakan lawan merupakan lawan kakek muka hitam karena kakek ini tubuhnya pendek kecil mukanya putih seperti dibedaki, keliahatannya lemah tak bertenaga dan pandang matanya seperti orang mengatuk, matanya sipit.
Liok Si Bhok dan Liok Ki Tek adalah orang-orang yang sudah banyak pengalaman di dunia kang-ouw, bahkan sudah mengenal tokoh-tokoh besar. Maka begitu melihat tiga, orang ini, jantung mereka berdebar keras karena mereka mengenal mereka itu sebagai tokoh-tokoh sakti dari golongan sesat! Wanita cantik genit itu bukan lain adalah Ma Su Nio yang terkenal dengan julukan Hiat-ciang Sian-Ii (Dewi Bertangan Darah), seorang tokoh sakti yang cabul genit dan kejamnya seperti iblis betina! Adapun kakek bermuka hitam yang tinggi besar itu adalah Hek-giam-ong (Raja Maut Hitam), se-dangkan kakek bermuka putih adalah Pek-giam-ong (Raja Maut Putih). Mereka berdua adalah kakak beradik.dan terkenaldengan sebutan Hek-pek Giam-ong yang selalu muncul berdua dan setiap kali turun tangan tentu berdua sehingga merupakan lawan yang amat tangguh. Tiga orang ini adalah murid-murid dan juga pembantu-pembantu Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak, seorang di antara datuk-datuk golongan hitam atau kaum sesat!
Akan tetapi, dari tiga orang yang muncul ini tidak ada tercium bau harum tadi. Memang Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio ada juga membawa bau wangi, akan tetapi berbeda dengan keharuman tadi, bahkan di antara bau wangi, yang datang dari tubuh Dewi Tangan Darah ini tercium bau amis darah! Adapun Hek-pek Giam-ong sama sekali tidak membawa bau harum, kalau ada membawa bau, paling-paling juga bau apek karena pakaian berkeringat yang tak pernah dicuci.
Setelah kini semua pintu yang menembus ruangan itu terbuka, bau harum itu makin keras dan ternyata datangnya dari atas. Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek cepat memandang ke atas dan……jauh di atas balok melintang tampak duduk dua orang muda, seorang gadis cantik dan yang seorang lagi pemuda yang tampan. Gadis itu cantik sekali, tubuhnya ramping padat hidungnya mancung dagunya runcing dan sepasang mataya seperti mata burung hong jantan. Rambutnya yang hitam panjang itu hanya diikat dengan sutera di belakang tengkuk, dibiarkan melambai ke punggung. Kepalanya ditutup atau lebih pantas dihias sebuah topi buIu putih yang kecil, dengan sebatang buIu burung menjadi penghias.Kedua telinganya digantungi sepasang anting-anting emas dan kedua lengannya bergelang emas pula. Gadis yang usianya sukar ditaksir, kurang lebih dua puluhtahun ini, tersenyum-senyum dan agaknya bau wangi yang sedap harum itu keluar dari tubuh dan pakaiannya. Di sebelah kirinya duduk pula di atas balok itu,seperti si gadis, dengan kedua kaki ongkang-ongkang, seorang pemuda tampan dan gagah, Usianya sebaya dengan gadis itu. Pemuda ini tubuhnya tinggi tegap wajahnya ganteng dan pakaiannya amat indah, dari sutera disulam menyaingi keindahan pakaian gadis itu. Wajahnya yang ganteng itu terawat baik, berklulit putih halus dan rambut nya pun tersisir rapi dan halus kelimis. Sayang bahwa wajah yang tampan itu memiliki hidung yang agak besar terlalu besar dan melengkung, dengan sepasang mata yang mengandung sinar tajam, bengis dan kejam.
Dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu terkejut bukan main. Mereka tidak me-.: ngenal dua orang muda itu, akan tetapi kenyataan bahwa mereka itu dapat ber-ada di situ sejak tadi tanpa mereka ketahui bahkan tanpa diketahui kelelawar dan burung yang hanya terbang setelah mereka berdua datang, membuktikan bahwa dua orang muda itu bukanlah orang sembarangan. Akan tetapi karena tidak tahu siapa adanya kedua orang muda itu, dan tidak tahu pula apa hubungannya mereka dengan tiga orang murid Kang-thouw-kwi ini, dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu hanya menggunakan seluruh perhatian untuk menghadapi Hek-pek Giam-ong dan Hiat-ciang Sian-Ii.
” Hemmm, kirananya Hiat-cian Sian-Ii dan Hek-pek Giam-ong yang berada didalam kuil ini. Sungguh tidak kami sangka. Akan tetapi karena ternyata Sam wi (Tuan Bertiga) yang berada di sini,kiranya Sam-wi dapat memberi keterangan kepada kami tentang tiga orang anak murid Siauw-lim-pai yang terluka parah ……”
Tiga orang murid Setan Botak itu kelihatan terkejut clan mereka memandang ke atas dengan sikap tenang.
" Kongcu (Tuan Muda), bagaimana mereka ini bisa tahu...?" kata Hiat-ciang Sian-lie
"Hemmm, agaknya Suheng bekerja kurang sempurna sehingga di antara mereka ada yang belum mampus dan membuka rahasia……" pemuda tampan itu mencela.
Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek adalah tokoh-tokoh yang sudah banyak pengalaman. Begitu mendengar percakapan ini, mengertilah mereka akan duduk perkara. Kiranya murid-murid Setan Botak yangmemang menjadi kaki tangan pemerintah penjajah Mancu yang telah membunuh tiga orang murid Siauw-lim-pai dan agaknya mereka itu menyamar sebagai orang-orang Hoa-san-pai untuk menjalankan siasat adu domba antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai! Hanya mereka merasa heran mendengar betapa pemuda itu menyebut suheng kepada murid-murid Setan Botak yang menjadi tanda bahwa pemuda itu murid Setan Botak pula, akan tetapi mengapa Hek-pek Giam-ong dan juga Hiat-ciang Sian-Ii menyebutnya kongcu? Siapakah pemuda itu yang melihat sikapnya dan mendengar ucapannya seolah-olah yang menjadi pemimpin di antara mereka?
"Bagus sekali!" Liong Ki Tek sudah membentak marah, "Kiranya kalian ini orang-orang sesat yang membunuh anak murid kami kemudian menyamar sebagai orang Hoa-san-pai untuk mengadu domba!" Sambil membentak demikian, Liong Ki Tek sudah mencabut pedangnya, berbareng dengan suhengnya.
.Tiba-tiba terdengar suara merdu dan halus, akan tetapi lidahnya asing sehing ga bahasa yang diucapkannya terdengar lucu, "Lebih baik lagi begini! Sudah kukatan bahwa memancing ikan besar harus menggunakan umpan besar pula! Tiga orang itu hanya merupakan ikan teri,kurang besar untuk dijadikan umpan. Kalau kita menggunakan yang besar ini sebagai umpan, pasti berhasil. Siauw-lim-pai sukar dipancing, hendak kulihat nanti kalau mereka melihat mayat dua orang ini. Ouwyang-twako, jangan khawatir,rencana kita sekali ini pasti berhasil. Eh,kalian bertiga tidak lekas turun tangan, hendak menunggu apa lagi?"
Berbareng dengan teriakan-teriakan mereka, tiga orang murid Setan Botak itu maju menyerbu. Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek memutar pedang melindungi diri, dan di dalam hati mereka timbul pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka menjadi heran terhadap gadis itu.Jelas bagi mereka bahwa gadis itu adalah seorang gadis Mancu yang agaknya malah lebih berpengaruh dari pada si pemuda she Ouwyang itu, terbukti dari ucapannya yang nadanya seperti orang bicara kepada bawahannya!
 Akan tetapi, dua orang tokoh Siauw-lim-pai ini tidak dapat memecah perhatian mereka karena tiga orang lawan mereka sudah mengirim pukulan-pukulan maut yang amat berbahaya. Mereka itu adalah murid-murid pilihan dari Kang-thouw-kwi Gak Liat. yang terkenal sebagai seorang ahli Yang..kang. Tidak mengherankan apabila kedua orang kakek Hek-pek Giam-ong itu amat lihai, karena keduanya mempunyai ilmu pukulan berdasarkan Yang-kang disebut Toat-beng Hwi-ciang (Tangan Api Pencabut Nyawa) dan setiap kali mereka mengirim pukulan, tangan mereka didahului menyambarnya hawa yang amat panas melebihi panasnya api! Mereka berdua inilah yang telah membunuh tiga orang anak murid Siauw-lim-pai dan karena mereka itu hendak menimbulkan kesan seolah-olah orang-orang Hoa-san-pai yang biasa menggunakan pedang, mereka tidak menggunakan pukuIan Toat-beng Hwi-ciang mereka ketika membunuh tiga orang anak murid Siauw-lim-pai itu, melainkan dengan sebatang pedang. Akan tetapi, andaikata mereka itu memegang pedang sebagai. manapun juga.
Akan tetapi, lebih hebat lagi daripada dua orang Raja Maut itu adalah serangan yang keluar dari sepasang tangan merahMa Su Nio. Hawa pukulan wanita. Ini juga mengandung panas yang hebat, namun di samping hawa panas ini juga membawa bau amis dan mengeluarkan suara bercicitan sangat tinggi menggetarkan jantung. Sesuai dengan julukannya, kedua tangan wanita ini memiliki pukulan-pukulan beracun yang amat hebat karena yang teracun oleh pukulan ini adalah darah lawan yang langsung akan membunuh lawan dari dalam!
 Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek maklum akan kelihaian tiga orang lawan mereka. Biarpun lawan mereka itu bertangan kosong, namun sesungguhnya gerak pukulan mereka lebih berbahaya dari pada datangnya luncuran anak panah beracun. Mereka memutar pedang melindungi tubuh, namun karena terus menerus diserang secara bertubi tubi, pedang mereka itu hanya dapat dipergunakan untuk pertahanan, sama sekali mereka tidak mendapat kesempatan untuk menggerakkan pedang membalas. Karena ini, mereka segera mengeluarkan suara keras dan itulah suara sebagai tanda bagi Siauw-lim Chit-kiam untuk mengeluarkan ilmu yang mereka andalkan, ilmu pedang yang amat ampuh yang khusus diajarkan oleh ketua Siauw-lim-pai kepada tujuh orang tokoh Siauw-lim itu, yaitu Chit-seng-sin-kiam (Pedang Sakti Tujuh Bihtang). Begitu kedua orang ini mainkan Chit-seng-sin-kiam dengan pedang .mereka, tiga orang lawan mereka berseru kaget dan meloncat mundur.
Ilmu pedang Chit-seng-sin-kiam ini memang hebat luar biasa, diciptakan oleh ketua Siauw-lim-pai dengan bantuan suhunya yang masih hidup dan sudah berusia tua sekali. Bukan sembarangan ilmu pedang, melainkan ilmu pedang yang digerakkan dengan sinkang yang kuat sehingga sinar pedangnya menjadi bergulung-gulung panjang dan dapat melukai lawan dari jarak jauh. Apalagi kalau dimainkan oleh ketujuh orang Siauw-lim Chit-kiam, keampuhannya menggila sehingga pernah Siauw-lim Chit-kiam ini dapat menandingi Setan Botak yang terkenaI sebagai seorang di antara datuk-datuk hitam yang sakti. Sungguhpun akhirnya Siauw-lim Chit-kiam terdesak, namun tidaklah mudah bagi datuk hitam itu untuk mencapai kemenangan. Kini,dimainkan oleh orang ke enam dan ketujuh dari tujuh pendekar pedang Siauw-lim itu, sudah cukup hebat sehingga membuat ketiga orang murid Setan Botak terdesak mundur, gentar menghadapi sinar pedang yang berkilauan dan mengandung hawa yang dingin namun berbahaya itu.
Dua gulungan sinar pedang itu kini bersatu, merupakan sinar kilat yang membentuk lingkaran-lingkaran aneh mengurung dan menindih tiga orang tokoh hitam yang terpaksa harus meloncat kesana kemari untuk menghindarkan diri dari sinar pedang yang berbahaya itu.
“Rebahlah!!” Bentakan ini keluar secara berbareng dari mulut Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek dan sinar pedang mereka tiba-tiba berpisah, terpecah dua dan secepat kilat membabat tangan Hek-giam-ong dan Pek-giam-ong yang melakukan pukulan mendorong. Kedua orang kakek ini terkejut sekali, cepat menarik kembaJi tangan mereka, akan tetapi sinar pedang itu dari kanan kiri meluncur kearah dada mereka!
"Aihhhhh………!" Hek-giam-ong terpaksa mengerahkan tenaga di tangan kanannya,menangkis sinar itu sambi! Mengerahkan Toat-beng Hwi-ciang. la berhasil menangkis pedang itu, akan tetapi lengannya-tergores ujung pedang dan terluka sehingga mengeluarkan darah.
Pek-giam-ong yang tenaganya tidaksehebat Hek-giam-ong, tidak berani menangkis melainkan cepat membuang diri ke belakang, akan tetapi pundaknya tetap saja kena dlserempet pedang sehingga terluka.
"Hiaaaaattt……..!!" Ma Su Nio menggunakan kesempatan itu memukul dengan kedua tangannya yang merah ke arah lambung kedua orang tokoh Siauw-lim-pai itu, akan tetapi dengan gerakan otomatis kedua orang pendekar pedang itu menyabetkan pedang mereka ke belakan sambil memutar tubuh.      
"Ayaaaaa.…...!" Hiat-ciang Sian-Ii Ma Su Nio menjerit dan cepat ia menarik kembali kedua lengannya yang berbalik menjadi terancam. la dapat menyelamat kan kedua lengannya, akan tetapi tubuhnya terhuyung ke belakang dan saat itu dipergunakan oleh Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek untuk menerjang maju, mengirim tusukan maut ke arah tubuh wanita iblis yang amat lihai itu.
"Tranggg…….! Tranggggg……..!!”
Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek terkejut, sekali karena pedang mereka ter-pental dan hampir terlepas dari tangan mereka. Terutama sekali Liok Si Bhok yang merasa betapa pedangnya tergetar sehingga setelah tertangkis masih tergetar mengeluarkan suara mengaung, tanda betapa penangkisnya memiliki sinkang yang hebat sekali. Lebih kaget dan heran dia ketika melihat bahwa yang menangkis pedangnya itu hanyalah sebatang payung di tangan gadis Mancu yang tadi duduk di atas tiang balok melintang. Adapun yang menangkis pedang Liong Ki Tek adalah sebatang pedang bersinar kuning di tangan pemuda tampan tadi. .Kedua orang tokoh Siauw-lim-pai itu maklum bahwa mereka terancam bahaya. Dua orang muda itu ternyata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, sedangkan tiga orang murid Kang-thouw-kwi Gak Liat hanya terluka kecil saja. Bahkan Hiat-ciang Sian-Ii Ma Su Nio hanya mengalami kekagetan saja, belum terluka. Kalau mereka itu mau pula membantu tentu mereka berdua akan terancam bahaya maut. Akan tetapi, sebagai pendekar-pendekar besar, mereka tidak menjadi gentar, bahkan saling berdekatan,berdampingan sambil menyilangkan pedang mereka di depan dada. Liok Si Bhok dengan sikap dan suara tenang bertanya.
"Siapakah kalian orang-orang muda?"
Gadis Mancu yang cantik itu tersenyum, pandang matanya melebihi tajamnya pedang diangan pemuda itu dan lebih runcing daripada ujung payung ditangannya, namun senyumnya amat manis, membuka sepasang bibir yang indah bentuknya, memperlihatkan kemerahan rongga mulut di. balik deretan gigi seperti mutiara.
"Memang amat tidak enak mati dalam penasaran. Kalian berdua orang Siauw-lim-pai yang keras hati dan keras kepala sudah menghadapi kematian, agar tidak mati dalam penasaran baiklah kalian mengenal kami. Aku adalah Puteri Nirahai, puteri ke tujuh belas dari Kaisarl Adapun dia ini adalah Ouwyang Seng, putera Pangeran Ouwyang Cin Kok, murid bungsu namun paling lihai dari Kang-thouw-kwi Gak Liat.”
"Kedua orang pendekar pedang itu terkejut. Biarpun mereka belum pernah mendengar nama kedua orang muda ini,namun melihat gerakan mereka dan tenaga sinkang mereka, tentu mereka ini merupakan lawan berat Apalagi kalo gadis ini benar benar seorang puteri kaisar, tentu di situ terdapat banyak pe-ngawal-pengawal istana yang setiap saat dapat datang mengeroyok mereka. Mereka tidak takut, akan tetapi ingin sekali mengetahui apa yang menyebabkan puteri ini melakukan semua perbuatan ini.
"Mengapa kalian membunuh tiga orang anak murid Siauw-lim-pai, melemparmayat mereka di depan kuil dan meng-gunakan nama Hoa-san-pai?" tanya pula Liok Si Bhok.
"Adik Nirahai, kita bunuh saja mereka!" Ouwyang Seng, pemuda tampan itu berkata sambil mengerutkan alisnya yang hitam tebal.
Akan tetapi gadis Mancu itu sambil tersenyum menggoyang tangan kirinya yang kecil dan berkulit halus. "Jangan membikin mereka mati penasaran, Ouw-yang-twako. Mereka toh pasti akan mati di tangan kita, mengapa tergesa-gesa? Biar mereka tahu lebih dulu akan duduknya persoalan, toh kita tidak usah khawatir kelak roh mereka. akan membuka rahasia kepada para pimpinan Siaw-lim-pai dan Hoa-san-pai."
Dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu bergidik. Gadis ini bicara dengan sikap dingin, tidak sombong akan tetapi mengandung wibawa yang mengerikan.
 "Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek, dengarlah baik-baik. Tiga orang muridmu itu memang kami yang membunuhnya dan sengaja kami pergunakan untuk mengadu domba antara Siauw-lim-pai dan .Hoa-san-pai. Akan tetapi siapa nyana, kalian keras kepala dan tidak mau masuk perangkap, bahkan seorang muridmu yang belum mati membuka rahasia sehingga kalian dapat menemukan tempat ini. Sekarang kami hendak membunuhmu, dan akan kami atur agar para pimpinan Siauw-lim-pai menganggap bahwa kematianmu berada di tangan orang-orang Hoa-san-pai. Takkan dapat dicegah lagi, Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai akan bermusuhan, bertanding dan berbunuh bunuh-an sampai keadaan mereka menjadi lemah. Bukankah ini merupakan siasat yang baik sekali!"
 "Keji! Iblis betina yang keji!" Liong. Ki Tek memaki. “Kalau benar kalian ini puteri Kaisar, tentu mengerti akan peradaban, kebudayaan dan setidaknya mengenal prikemanusiaan! Akan tetapi engkau palsu dan keji, lebih patut menjadi puteri siluman!"
"Manusia biadab lancang mulut !” Ouw-yang Seng membentak dan hendak menyerang, akan tetapi kembali ia ditahan oleh Puteri Nirahai yang masih tetap tersenyum-senyum dan sedikit pun tidak kelihatan marah. Hal ini saja sudah mengagetkan hati kedua orang tokoh Siauw-lim-pai itu. Gadis masih begitu muda remaja sudah pandai menguasai perasaan tanda bahwa dia betul-betul memiliki..ilmu yang tinggi lahir batin!
"Orang-orang Siauw-lim-pai, pandanganmu amat picik. Aku melakukan semua itu semata-mata untuk kepentingan kerajaan Ayahku yang menjadi Kaisar, untuk kejayaan bangsaku, untuk kemenangan negaraku. Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai diam-diam menentang Kerajaan Ceng merupakan musuh-musuh dan karena kedua partai ini amat kuat dan berbahaya maka perlu sekali dibikin lemah. Siasat ini merupakan siasat perang, dan kulakukan dengan dasar berbakti kepada Ayah dan negara, kepada bangsa yang tercinta. Apakah bedanya dengan perbuatanmu menentang kerajaan kami? Kalian melakukan hal itu dengan dalih mengabdi bangsa, aku pun melakukan hal ini dengan dasar mengabdi bangsa, apa bedanya? Perbuatan kalian mungkin dianggap patriotik dan gagah perkasa oleh bangsa-mu dan kalian dianggap sebagai pahlawan oleh bangsamu. Akan tetapi aku pun dianggap seorang pahlawan wanita .oleh bangsaku! Antara kalian dan aku hanya ada satu perbedaan, yaitu perbedaan dalam penilaian. Kalian berjuang untuk kebaikan, aku pun demikian. Yang menjadi pertanyaan besar, apakah itu yang dikatakan kebaikan?"
“Akan tetapi, kami penjunjung kegagahan, kebenaran dan keadilan pantang untuk melakukan siasat-siasat busuk yang hina seperti yang kaulakukan!" kata pula liok Si Bhok setelah tercengang sejenak mendengar ucapan yang tidak pantas keluar dari mulut seorang gadis remaja berusia dua puluh tahun itu.
"Hi-hik , ucapanmu itu menandakan bahwa engkau bukanlah seorang ahli perang! Mengandalkan kejujuran dan welas asih dalam perang, mana mungkin dapat menang? Perang ialah mengadu siasat, makin keji makin baik, mengadu kekerasan dan kekejaman. Sudahlah, kini bersiaplah kalian untuk mati!
"Baru saja ucapan ini habis dikeluar kana tiba-tiba Liok Si Bhok melihat sinar .hitam yang lebar sekali mengembang didepannya dan gadis itu tiba-tiba lenyap, kemudian tahu-tahu ujung payung yang runcing telah meluncur secepat kilat menusuk dadanya! Kaget sekali pendekar ini, namun tidak percuma ia menjadi orang ke enam dari Siauw-lim Chit-kiam karena pedangnya sudah bergerak dengan pemutaran pergelangan tangannya, langsung menangkis ujung payung dar samping.
"Cringgggg !" Liok Si Bhok terpaksa meloncat ke belakang sambil memutar pedang melindungi tubuhnya. Lengan kanannya seperti kesemutan, pedangnya masih tergetar dan diam-diam ia kaget dan kagum bukan main. Kiranya gadis itu telah menggerakkan payungnya secara luar biasa dahsyatnya. la memandang dengan penuh perhatian. Senjata itu adalah sebuah payung biasa yang batangnya tentu terbuat dari baja pilihan yang amat kuat .Gagangnya melengkung seperti payung biasa, ruji-rujinya dari baja keras pula dan payungnya dari kain tebal berwarna hijau, ujung batangnya runcing seperti pedang. Tadi ketika gadis itu menyerangnya, payung itu berkembang sehingga menyembunyikan tangan dan tubuh gadis itu dan disinilah letak kehebatan senjata ini. Kalau payung berkembang, lengan dan tangan yang memegang payung tersembunyi dan tidak tampak oleh lawan. Padahal, dalam bertanding, yang penting adalah memperhatikan gerak lawan yang dapat dilihat sebelum senjata digerakkan dari gerakan tangan, lengan dan pundak. Kalau semua bagian tubuh ini tersembunyi, maka gerakan-gerakan selanjutnya dari lawan takkan tampak dan perkembangan serangannya takkan dapat diduga terlebih dulu.
Sementara itu, Ouwyang seng juga sudah enerjang Liong Ki Tek dengan pedangnya. Liong Ki Tek cepat menangkis, akan tetapi pada saat pedang bertemu, tangan kiri Ouwyang Seng yang terbuka itu mendorong ke depan dan serangkum hawa panas yang lebih hebat daripada ilmu Toat-beng Hwi-ciang dari Hek-pek Giam-ong menyambar ke depan.
"Aihhh…….!" Liong Ki Tek cepat meloncat ke belakang dan agak terhuyung saking kagetnya.
Ouwyang seng tertawa mengejek dan menerjang terus ke depan dengan pedangnya diseling pukulan-pukulan yang lebih berbahaya daripada pedang itu sendiri karena pemuda ini menggunakan pukulan sakti Hwi-yang sin-ciang!
Di dalam jilid-jilid yang lalu banyak diceritakan tentang Ouwyang seng ini sebagai murid Gak Liat yang lihai dan sejak kecil sudah memiliki watak yang
keras dan kejam. Namun di samping watak ini, dia merupakan seorang murid
yang amat tekun dan disayang oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat, maka setelah kini
berusia dua puluh tahun, ia telah menjadi seorang murid yang paling pandai di
antara semua murid Si Setan Botak! Bah-kan Hwi-yang Sin-ciang yang tidak dapat dimiliki murid-murid lain, telah dikuasai oleh Ouwyang Seng yang ikut berlatih bersama suhunya dengan masakan batu batu bintang. Toat-beng Hwi-ciang boleh jadi amat lihai, dan Hiat-ciang lebih dahsyat lagi, akan tetapi dibandingkan dengan Hwi-yang Sin-ciang, kedua ilmu pukulan yang berdasarkan Yang-kang itu masih kalah jauh!
 Setelah dewasa, tentu saja Ouwyang Seng yang terkenal dengan sebutan Ouw-yang-kongcu menjadi seorang yang penting kedudukannya dalam tokoh-tokoh pembela Kerajaan Ceng. Ayahnya seorang pangeran yang terkenal juga, Pangeran Ouwyang Cin Kok yang menjadi seorang di antata para penjilat yang terlihai di dekat Kaisar Mancu. Dan mengingat akan kepandaiannya yang tinggi, Ouwyang-kongcu ini bergerak dalam bidang pengamanan kerajaan terhadap ancaman para pejuang yang bergerak secara rahasia menentang pemerintah Mancu.
Siapakah wanita cantik yang amat hebat itu? Dia memang seorang puteri,bernama Puteri Nirahai, puteri dari Kaisar Mancu yang lahir dari seorang selir berbangsa Khitan. Puteri Nirahai ini rnemiliki kepandaian yang dahsyat, bahkan lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Ouwyang-kongcu sendiri! Dibandingkan dengan tingkat para tokoh datuk hitam, dia hanya kalah sedikit! Memang sukar untuk dipercaya bagaimana seorang gadi berusia dua puluh tahun telah mem:iliki ilmu kepandaian sedahsyat itu, akan tetapi hal ini tidak akan mengherankan orang lagi kalau diingat bahwa dia adalah ahli waris dari kitab pelajaran ilmu-ilmu silat tinggi dari mendiang puteri Ratu Khitan yang dahulu terkenal diseluruh dunia kang-ouw dengan ulukan Mutiara Hitam! Mutiara Hitam adalah seorang pendekar wanita sakti yang amat hebat ilmu kepandaiannya dan memiliki banyak kitab kitab pusaka ilmu silat yang aneh-aneh dan amat tinggi. Kitab-kitab itu adalah peninggalan seorang tokoh wanita sakti yang berjuluk Tok-siauw-kwi (Setan Cilik! Beracun) Liu Lu Sian yang bukan lain adalah ibu kandung Suling Emas yangt amat terkenal(baca cerita Suling Emas, Cinta Bernoda Darah dan Mutiara Hitam). Selama puluhan tahun, tidak ada kabar ceritanya tentang kitab-kitab itu dan secara kebetulan beberapa buah diantara kitab-kitab itu terjatuh ke tangan Puteri Nirahai inilah.
Di antara ilmu-ilmu silatnya yang hebat, Nirahai dapat mewarisi tiga buah ilmu kepandaian Mutiara Hitam, yaitu pertama adalah Ilmu Silat Sin-coa-kun (Ilmu Silat Ular Sakti), ke dua Ilmu, Pedang Pat-mo-kiam-hoat (Ilmu Pedang De-lapan Iblis), dan yang ke tiga adalah ilmu senjata rahasia Siang-tok-ciam (Jarum Racun Wangi). Yang amat hebat adalah ilmu pedangnya Pat-mo-kiam-hoat yang sukar dicari bandingnya karena memang dahsyat dan ganas sekali. Apalagi gadis ini mainkan ilmu itu dengan senjatanya yang istimewa yang disebut Tiat-mo-kiam (Pedang Payung Besi), maka kehebatannnya bertambah. Dapat dibayangkan betapa lihainya permainan pedang yang tersembunyi di batik payung sehingga lawan tak dapat' melihat gerakan-gerakannya. Sebetulnya ilmu ini tadinya merupakan ilrnu pedang, akan tetapi dengan senjata seperti itu, sama dengan permainan pedang dibantu perisai, namun disatukan sehingga merupakan senjata yang ampuh dan jika tidak dipakai bertanding, dapat dipergunakan sebagai payung biasa untuk berlindung dari serangan hujan dan panas, juga menambah gaya bagi seorang gadis jelita seperti Nirahai.
Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek adalah dua orang tokoh Siauw-lim-pai yang sudah tinggi tingkat ilmu kepandaiannya.Mereka adalah dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, Tujuh Pedang Siauw-lim yang amat disegani orang. Mereka adalah murid-murid langsung dari ketua Siauw-lim-pai yang selain ahli dalam bermain pedang, juga memiliki tenaga sinkang yang amat kuat, di samping pengalaman bertanding yang sudah luas.
Akan tetapi sekali ini, bertemu dengan Nirahai dan Ouwyang Seng, sebentar saja dua orang tokoh Siauw-lim-pai ttu terdesak hebat. Ilmu pedang yang dimainkan Nirahai dengan senjata payung luar biasa sekali dan tidak sampai lima puluh jurus, Liok Si Bhok yang bertubuh gemuk pendek itu tak mampu balas menyerang lagi karena dari balik payung hitam itu menyambar-nyambar sinar pedang bagaikan sinar kilat dari balik awan hitam yang tebal. Tiba-tiba Nirahai mengeluarkan suara melengking tinggi dari balik payung menyambar sinar berkeredepan yang berbau harum ke arah leherl Liok Si Bhok. Tokoh ini terkejut, maklum bahwa itulah senjata rahasia yang amat berbahaya. Dan memang dugaannya benar karena yang menyambar ltu adalah Siang-tok-ciam, segenggam jarum beracun yang berbau harum. Liok Si Bhok cepat mengelak dengan miringkan diri ke kiri, akan tetapi ternyata bahwa serangan jarum itu hanya merupakan pancingan karena kini tahu-tahu ujung paying itu telah menusuk perutnya.
 "Cringgggg!" Pedang di tangan Liok Si Bhok tergetar, bertemu dengan ujung payung dan melekat! Pada detik berikut nya, dari batik payung itu menyambar kaki Nirahai yang kecil bersepatu indah, menendang dengan gerakan cepat sekali dan tahu-tahu telah mengenai lambung liok Si Bhok. Tokoh Siauw-ljm-pai yang bertubuh gendut pendek ini mengeluh dan tubuhnya terbanting ke belakang. Dua kali ia masih berhasil menangkis sinar pedang Nirahai, akan tetapi yang ketiga kalinya, tangkisamya meleset dan ujung payung itu menancap memasuki lehernya menembus dari kanan ke kiri. Tanpa sempat berteriak lagi Liok Si Bhok tewas dengan leher hampir putus!
"Ouwyang-twako, jangan robohkan dia dengan sin-ciang! Pukulan itu akan dikenaI orang dan menggagalkan rencana-ku!" Niraha~ berseru ketika melihat betapa Ouwyang Seng mendesak Liong Ki Tek dengan pedang dan pukulan-pukulan Hwi-yang Sin-ciang.
Ouwyang Seng yang melihat betapa puteri itu telah berhasil merobohkan lawannya, menjadi penasaran dan malu.Tanpa mengandalkan Hwi-yang Sin-ciang, bagaimana ia akan mampu merobohkan lawan yang tangguh ini? Akan tetapi pada saat itu, Nirahai telah menerjang maju dan menyerang Liong Ki Tek dengan .payungnya yang hebat itu. Seperti juga Liok Si Bhok tadi, kini menghadapi serangan payung, Liong Ki Tek terkejut dan bingung. Tahulah pendekar ini mengapa suhengnya tewas di tangan puteri ini, ternyata bahwa senjata payung pedang itu benar-benar sukar dilawan. Ia mengerahkan tenaganya menangkis dan terdengar suara keras diikuti muncratnya bunga api. Dibandingkan dengan suheng-nya, Liong Ki Tek yang tinggi kurus ini memiliki tenaga yang lebih kuat sungguhpun ilmu pedangnya tidak sehebat Liok Si Bhok. Akan tetapi tangkisannya yang mengandung tenaga kuat itu pun tidak mampu membikin payung terpental,bahkan kini pedangnya melekat pula pada ujung payung itu, tak dapat ia lepaskan. Dan saat ini dipergunakan dengan baik oleh Ouwyang Seng yang sudah menusukkan pedangnya ke perut Liong KI Tek sampai tembus ke punggung.
"Ihhh…….., kau kasar sekali, Twako!" Nirahai menarik payungnya dan cepat meloncat ke belakang agar jangan terkena semburan darah dari perut Liong Ki Tek.
Ouwyang Seng menjadi merah mukanya. Memang, tadi ia menyerang dengan kasar saking gemas dan penasaran bahwa ia harus dibantu oleh gadis ini untuk merobohkan tokoh Siauw-lim-pai ini sehingga kekasaran serangannya itu nyaris mendatangkan noda darah yang menyembur keluar dari perut Liong Ki Tek pada baju nona itu. ,
"Sesudah dua orang tokoh Siauw-lim- pai ini tewas, apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Adik Nirahai? Kurasa permainanmu terlalu berbahaya sekarang." Untuk menutupi kenyataannya bahwa dia tidak secepat Nirahai merobohkan lawan.bahkan mendapat bantuan gadis perkasa itu, Ouwyang Seng menekan gadis itu dengan kata-kata yang sifatnya menegur ini. "Mereka adalah dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, dan kekuatan Siauw-lim-pai sama sekali tidak boleh dipandang ringan."
Nirahai tersenyum manis. "Tenanglah, Ouwyang-twako dan serahkan saja padaku karena aku telah membuat rencana yang baik sekali, jauh lebih baik dari pada rencana semula. Engkau tahu,Twako. Untuk memancing ikan besar harus menggunakan umpan besar dan dua orang dari Siauw-lim Chit-kiam ini merupakan umpan besar sekali yang kematiannya akan membikin geger Siauw-lim-pai dan sekali lni kutanggung bahwa Siauw-lim-pai akan memusuhi Hoa-san-pai sehingga kita tidaklah harus bersusah payah lagi menggempur keduanya.” Dengan wajah manis dan sikap tenang gadls itu lalu menceritakan rencananya kepada Ouwyang Seng. Pemuda ini mendengarkan penuh perhatian, makin lama makin tertarik dan setelah gadis itu menyelesaikan penuturan tentang rencana dan siasatnya, ia bangkit berdiri dan men jura kepada Nirahai sambi! berkata.
"Wah, engkau hebat sekali, Adik Nirahai! Sungguh mengagumkan! Makin besar dan berbahagialh hatiku kalau aku teringat bahwa engkau yang begini cantik jelita, begini lihai ilmu silatnya, begini cerdik pandai adalah tunanganku…."
"Hemmm, jangan tergesa-gesa, Twa-ko….." Nirahai memotong, sepasang alisnya yang kecil panjang dan hitam itu berkerut, akan tetapi bibirnya yang me-
rah tersenyum tenang.
"Adikku sayang…… Nirahai….. aku tidak tergesa-gesa, akan tetapi……. bukankah sudah setengah resmi perjodohan kita……?" Ouwyang Seng berlutut dan suaranya gemetar penuh perasaan. "Diantara Ayahmu dan Ayahku……
"Nirahai menundukkan muka memandang wajah pemuda yang tampan itu. Ia suka kepada pemuda yang se!alu pandai mengambi! hatinya ini akan tetapi…….Ouwyang Seng bukanlah pria yang memenuhi idaman hatinya. "Ouwyang-twako yang akan berjodoh adalah kita, bukan Ayab!'. Kita……"
"Nirahai…...!" Ouwyang Seng memandang dengan sinar mata penuh cinta kasih dan permohonan sehingga Nirahai menjadi kasihan, mengulurkan tangannya. Ouwyang Seng menangkap jari-jari tangan yang halus meruncing itu dengan kedua tangannya, lalu menciumi jari-jari tangan.itu penuh nafsu birahi dan cinta kasih. "Ohhh, Nirahai puteri jelita, pujaan hati-ku. Aku cinta padamu….”
 Sejenak puteri itu membiarkan jari tangannya dibelai dan dicium,akan tetapi mulutnya berkata halus, "Aku tahu bahwa engkau mencintaku, Twako. Akan, tetapi aku tidak……ah, belum lagi aku dapat menjatuhkan cinta kasihku kepada seseorang…….”
"Aku dapat menanti, sayang. Aku dapat bersabar, akan kunanti penuh harapan berseminya cinta kasih di hatimu terhadap diriku. Nirahai……."
Puteri itu menarik tangannya terlepas dan berkata, biarpun mulutnya masih tersenyum namun suaranya agak dingin, “Cukuplah, Twako. Kita sedang bertugas,dan aku tidak senang bicara tentang hal itu. Harap kau suka mempersiapkan pasukan pengawal dan sediakan dua buah peti mati akan tetapi jangan kelihatan seperti peti mati, melainkan peti untuk mengirim barang berharga. Aku hendak menyampaikan berita kematian ini kepada anak murid Siauw-Jim Chit-kiam yang kebetulan berada di kota Kok-lee-bun tak jauh dari sini, kemudian aku akan ke Kwan-teng menemui Tan-piauwsu kepaIa Pek-eng-piauwkiok. Siasatku ini harus berjalan lancar dan harus berhasil,Twako."
Ouwyang Seng adalah seorang pemuda yang cerdik, maka ia dapat menangkap nada suara dingin itu dan tidak berani melanjutkan rayuannya tentang cinta. Ia bangkit berdiri, menghela napas dan berkata, "Baiklah, Adik Nirahai. Aku sudah maklum akan rencanamu tadi."
Nirahai lalu berkelebat cepat ke arah belakang kuil tua itu, meloncat ke punggung kuda yang disembunyikan jauh dari situ kemudian membalap untuk melaksanakan siasatnya. Apakah siasat puteri yang cerdik ini? Seperti telah diceritakan di bagian depan, siasatnya mengadu domba antara Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai ternyata hampir berhasil atau hanya setengah berhasil karena secara tak tersangka-sangka muncul tokoh aneh yang mengacaukan urusan, yaitu Han Han dan Lulu!
Keadaan dalam kuil Siauw-lim-si yang menjadi pusat Siauw-lim-pal dan diketuai oleh Ceng San Hwesio kini diliputi awan kedukaan dan penasaran. Beberapa hari yang lalu, datanglah Lauw Sin Lian murid terkaslh Siauw-Iim Chit-kiam bersama beberapa orang anak murid Siauw-lim-pai mengawal sebuah kereta yang terisi dua peti yang terisi mayat-mayat Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek! Juga mayat tujuh Qrang anak murid Siauw-lim-pai tingkat rendah.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan berduka hati Ceng San Hwesio dan para tokoh Suw-lim-pai ketika melihat dua mayat tokoh Siauw-lim-pai yang telah rusak itu. Mayat-mayat itu cepat diperabukan dan setelah mereka semua berkabung, Ceng San Hwesio lalu mengumpulkan anak murid dan adik-adik seperguruan untuk berunding. Biarpun Lauw Sin Lian terhitung hanya cucu murid ketua Siauw-lim-pai ini, akan tetapi karena tingkat kepandaian Sin Lian sebagai murid terkasih Siauw-lim Chit-kiam sudah amat tinggi dan pula karena gadis inilah menjadi saksi utama mengenai bentrokan dengan Hoa-san-pai, maka Sin Lian juga hadir dalam pertemuan besar itu.
"Sungguh tidak nyana sekali Hoa-san-pai menjadi perkumpulan yang rendah dan dapat diperalat oleh kaum penjajah !” Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim pa imengerutkan alisnya dan mengepal tasbih di tangannya erat-erat, wajahnya yang kurus itu menjadi merah sekali warnanya. "Amatlah keji perbuatan mereka terhadap dua orang muridku itu dan agaknya mereka itu sudah menyatakan permusuhan secara terbuka. Sute, mulai saat ini, harap Sute suka mengatur seluruh anak murid kita untuk melakukan penjagaan ketat siang malam menjaga keamanan kuil Semua anak murid yang berada di dalam
kuil tidak diperbolehkan keluar dan segala bentrokan dengan golongan apa pun juga harus ditiadakan. Selain itu, Sute harap mengutus anak murid untuk mengundang semua saudara dan murid untuk berkumpul di sini, selambatnya sebulan. Sebelum tenaga kita berkumpul semua dan kedudukan kita cukup kuat, jangan ada yang lancang turun tangan terhadap anak murid Hoa-san-pai. Nanti kalau semua tenaga sudah terkumpul, pinceng sendiri yang akan memimpin pasukan Siauw-lim-pai menuju ke Hoa-san-pai dan menuntut balas atas kekejaman Hoa-san pai terhadap kita!"
Kalau seorang ketua perkumpulan besar seperti Siaw-Lim-pai sudah rnenyatakan hendak rnemimpin sendiri penyerbuan, hal in.i menandakan bahwa ketua itu sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Dan memang demikianlah keadaan Ceng San Hwesio yang sudah marah sekali. Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek adalah dua di antara murid-murid yang paling ia sayang, kini melihat murid-muridnya itu tewas dalam keadaan mengenaskan, hwesio tua ini tak mampu lagi mengendalikan kemarahannya. Sutenya, Ceng To Hwesio yang bertugas menjaga kuil dan membantu pekerjaan suhengnya yang menjadi ketua, juga merupakan guru dan pelatih dari sebagian besar murid-murid Siauw-lim-pai, menariknapas panjang dan berkata.
"Baiklah, Suheng. Penjagaan akan diperkuat, dan pinceng akan mengutus murid-murid mengumpulkan tenaga. Akan tetapi, maaf, Suheng. Mengenai hal yang menyangkut permusuhan dengan fihak Hoa-san-pai ini, apakah tidak sebaiknya kalau kita bertanya nasihat kepada Su-pek?""Bagaimana kita dapat mengganggu Supek dengan urusan ini? Supek sudah bertahun-tahun bertapa dalam sebuah diantara kamar-kamar penyiksaan diri, tidak mau diganggu. Biarpun bagi kita urusan ini adalah urusan besar yang tidak hanya menyangkut nyawa murid-murid kita, juga menyangkut nama dan kehormatan Siauw-lim-pai, akan tetapi bagi Supek yang sudah mengasingkan diri dari dunia ramai, tidak melibatkan diri dengan urusan dunia, tentu merupakan hal yang tidak ada artinya sama sekali.
Tidak, Sute, tidak semestinya kalau kita
mengganggu Supek untuk urusan ini.Urusan mengenai Siauw-lim-pai menjadi
tugas pinceng sebagai ketua dan tugas semua anak murid Siauw-lim'-pai."
"Terserah keputusan Suheng, pinceng hanya mentaati perintah," jawab Ceng To Hwesio yang menjadi tegang hatinya karena maklum bahwa kalau suhengnya itu mengumumkan perang terhadap Hoa-san-pai, akan terjadi geger dan tentu akan mengambil korban yang banyak sekali di kedua fihak.
"Bagus, Sute. Dan engkau Sin Lian,engkau mengatakan bahwa menurut dugaanmu, kedua orang Gurumu itu terbunuh oleh seorang pemuda bernama Sie Han. Mungkinkah itu? Seorang pemuda dapat membunuh dua di antara tujuh orang Gurumu?"
"Teecu tidak ragu-ragu lagi, Sukong (Kakek Guru). Han Han…eh, Sie Han itu kini ternyata telah menjadi seorang pemuda yang pandai ilmu iblis!"
"Coba ceritakan keadaannya dan bagaimana engkau dapat mengenai dia?"
"Ketika masih kecil, Sie Han ini adalah seorang gelandangan. seorang pengemis yang terlantar. Kemudian Ayah yang menaruh kasihan, membawanya dan mengambilnya sebagai murid. akan tetapi hanya sebentar karena dia itu berkhianat,malah kemudian menjadi murid atat pelayan dari Kang-thouw-kwi Gak Liat....."
" Omitohud….!" Ceng San Hwesio berseru kaget. Nama tokoh datuk hitam ini selalu mengejutkan hati semua orang pandai. "Dia menjadi murid setan itu Akan tetapi…….andaikata benar menjadi muridnya. pinceng tetap masih meragukan apakah bocah itu mampu mengalahkan Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek "
"Teecu tidak ragu-ragu lagi, Sukong. Ketika berusaha menghajar orang-orang Hoa-san-pai dan bergebrak dengan Han Han itu, dalam bentrokan tenaga teecu mendapat kenyataan bahwa tenaga sinkang bocah itu melampaui sinkang semua suhu."
" 0mitohud………, mana mungkin…….?” Ceng San Hwesio kembali berseru.
"Teecu tidak membohong, Sukong. Ketika itu, teecu menyerangnya dan mengirim pukulan engan pengerahan lweekang sekuatnya. Pukulan teeucu itu adalah jurus Cam-liong-jiu (Pukulan Mem-bunuh Naga) dan dia sama sekali tidak menangkis! Teecu yakin bahwa tujuh orang Suhu tidak akan dapat menerima pukulan itu dengan dada, akan tetapi Han Han menerima dengan dadanya dan akibatnya teecu sendiri yang terbanting roboh dan tangan teecu membengkak!"
"Hemmm……!" Ceng San Hwesio mengulur lengannya ke depan dan membuka tangan dengan telapak di atas. "Coba engkau menggunakan Cam-liong-jiu dengan kekuatan seperti yang kaugunakan memukul bocah itu, dengan mengukur kekuatan pukulanmu dapat kiranya sedikit banyak menilai kepandaiannya."
Lauw Sin Lian maklum akan maksud kakek gurunya Itu, maka ia lalu mengerahkan tenaga dan mengayun kepalan tangannya, memukul ke arah telapak tangan kakek tua itu.
"Plakkk!!" 'Sin Lian merasa betapa kulit tangannya panas dan tergetar, maka ia cepat menarik kembali tangannya.
"Omitohud , sukar dipercaya kalau bocah itu mampu menerima pukulanmu tadi dengan dadanya!" ketua Siauw-lim-pai berseru kaget.
"Memang dia luar biasa, Sukong."
“Kalau murid Hoa-san-pai semuda itu takkan mungkin memiliki sinkang yang cukup kuat untuk menerima pukulanmu tadi. Akan tetapi kalau dia murid Gak Liat yang menjadi kaki tangan penjajah,bagaimana dia dapat membantu Hoa--san-pai yang selama ini anti penjajah?"
"Siapa tahu Hoa-san-pai menyeleweng atau mungkin hanya Pek-eng-piauwkiok atau sebagian murid Hoa-san-pai saja yang bersekutu dengan kaki tangan penjajah. Urusan ini amat berbahaya, kalau Sukong mengijinkan, biarlah teecu pergi menyusul lima orang Suhu untuk diundangke sini."
Ceng San Hwesio mengangguk. "Memang, semua murid Siauw-lim-pai harus berkumpul. Terutama sekali para Gurumu yang tinggal lima orang itu….." Kakek gundul ini menarik napas duka teringat akan dua orang muridnya yang tewas. "Apakah engkau tahu di mana mereka itu kini merantau?"
“Teecu mendengar bahwa para Suhu merantau ke Telaga Barat, tentu masih berada di sana. Teecu akan menyusul mereka dan menyampaikan berita duka tentang kematian Liok-suhu clan Jit-suhu (Guru ke Enam dan ke Tujuh)."
"Baiklah, Lian-ji (Anak Lian), berangkatlah sekarang juga. Pinceng amat membutuhkan bantuan guru-gurumu."
Pada hari itu juga, berangkatlah Lauw Sin Lian pergi menyusul guru-guru nya untuk menyampaikan berita kematian dua orang gurunya dan undangan ketua Siauw-lim-pai, dan selain Sin Lian, berangkat pula murid-murid Siauw-lim-pai yang diutus oleh Ceng San Hwesio untuk mengundang tokoh-tokoh Siauw-lim-pai yang kebetulan melakukan perjalanan, atau yang memang tidak lagi bertempat ting-gal di pusat ini
****
Beberapa hari kemudian semenjak para murid Siauw-lim-pai pergi melakukan tugas masing-masing menghimpun tenaga yang diundang ke pusat, para hwesio penjaga pintu gerbang Siauw-lim-pai menyambut datangnya dua- orang tamu dengan pandangan mata penuh kecurigaan. Tamu ini bukan lain adalah Han Han dan Lulu. Seperti biasa, pemuda ini tenang-tenang saja menghampiri pintu gerbang, diikuti dari belakang oleh Lulu yang juga bersikap tenang. Dara ini makin cantik jelita saja, apalagi kini di punggungnya tampak sebatang pedang yang amat indah gagangnya, yaitu pedang pusaka Cheng-kong-kiam yang dirampasnya dari tangan Kong Seng-cu tokoh Hoa-san-pai. Biarpun di luarnya kelihatan tenang, namun di sebelah dalam dada gadis ini terjadi ketegangan karena ia ingin sekali segera bertemu dengan Sin Lian untuk bertanya di mana adanya Lauw-pangcu, musuh besarnya.
 SembiIan orang hwesio penjaga yang segera datang ke pintu gerbang itu mengangkat tangan sebagai tanda penghormatan dan seorang di antara mereka ber-tanya.
"Ji-wi (Tuan Berdua) hendak mencari siapakah?"
Dengan sikap tenang akan tetapi membalas penghormatan itu, berbeda dengan Lulu yang memandang ke kanan kiri penuh perhatian, Han Han lalu menjawab.
"Saya ingin bertemu dengan Nona Lauw Sin Lian, dan dengan ketua dari Siauw-lim-pai.”
Para hwesio penjaga itu saling pandang. Keadaa:n pemuda yang aneh    Ini mencurigakan. Pakaian pemuda ini sederhana dan bersih, akan tetapi rambutnya dibiarkan riap-riapan begitu saja, sungguh mencurigakan, dan lebih-lebih sepasang-mata itu yang amat tajam mengerikan.
“Nona Lauw Sin Lian tidak berada disini, sedangkan keinginan Kongcu (TuanMuda) untuk berjumpa dengan Ketua, agaknya hal ini tidaklah mudah dilaksanakan. Hendaknya Kongcu berdua suka memberitahukan nama dan keperluan barulah kami akan menyampaikan keatasan apakah permohonan Kongcu, menghadap dapat dikabulkan." ,
Han Han mengerutkan alisnya yang tebal, masih dapat menahan kesabarannya, akan tetapi Lulu yang mendengar bahwa Sin Lian yang dicarinya itu tidak -berada di kuil itu, sudah kehilangan kesabarannya dan ia membentak.
"Wah-wah, seorang pendeta biarpun sudah menjadi ketua, masa lagaknya melebihi seorang raja saja? Orang mau berjumpa saja sukarnya setengah mati!"
Para hwesio penjaga itu memandang dengan muka tidak senang dan wakil pembicara mereka segera menjawab, "Nona, kalau yang kau maksudkan raja penjajah, memang ketua kami jauh lebih tinggi dan terhormat! Ada perkumpulan ada pula peraturan, dan Siauw-lim-pai adalah perkumpulan besar yang memegang teguh peraturannya, siapa pun tidak berhak melanggarnya!"
"Waduh-waduh, galaknya! Eh, hwesio-gundul, apakah engkau ini ber-liamkeng (membaca doa) dan bersembahyang, memantang makanan berjiwa yang enak-enak, bertapa susah payah, hanya untuk belajar galak kepada orang lain? Kalau sikapmu masih galak dan tidak ramah-tamah terhadap orang, tidak baik budi,percuma saja dong rambutmu dibuang! Ternyata kepalamu menjadi bertambah panas!" .,
Sikap dan omongan Lulu yang ugal-ugalan ini membuat para hwesio menjadi merah mukanya, akan tetapi karena kata-kata itu tepat menusuk hati dan merupakan sindiran bagi mereka, sejenak mereka tak mampu membantah. Kalau mereka menuruti nafsu kemarahan, hal ini hanya membuktikan betapa tepatnya ucapan gadis nakal itu, kalau tidak marah, hati yang tidak kuat!
"Heiii, dia inilah bocah setan itu! Dia yang membunuh saudara-saudara kita, dia yang membela orang-orang Hoa-san-pai!" Tiba-tiba terdengar suara dua orang anggauta Siauw-lim-pai yang bukan lain adalah LiongTik dan seorang sutenya, dua orang di antara sembilan murid Sauw-lim-pai yang tidak tewas ketika mengeroyok Han Han.
"Kepung, jangan sampat dia lari!" Liong Tik yang marah sekali melihat musuh besarnya ini telah mengeluarkan senjatanya, sepasang tombak cagak dan para hwesio lainnya telah pula siap dengan senjata masing-masing. Dua oranghwesio sudah berlari masuk memberi laporan.
Han Han masih bersikap tenang, dan Lulu sudah berkata lagi, " Wah, tidak hanya galak, malah agaknya para pendeta Siauw-lim-pai terkenal sebagai tukang mengeroyok orang. Apakah kalian masih belum kapok, hendak mengeroyok Kokoku?"
Han Han berdiri dengan kedua kaki terpentang, tegak dan matanya melirik ke kanan kiri ketika kini berdatangan belasan orang hwesio yang sudah me-ngurungnya. Ia tidak ingin berkelahi karena kedatangannya lni hendak men-jelaskan persoalan yang timbul antara Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai.
"Bocah iblis, apakah engkau datang hendak mengacau Siauw-lim-pai?" Liong Tik membentak, masih ragu-ragu untuk menyerang karena ia maklum akan kepandaian pemuda itu yang amat menggiriskan hati.
"Cu-wi sekalian harap sabar. Aku datang sama sekali bukan hendak mengacau, bukan pula hendak menimbulkan perkelahian. Aku datang untuk bicara dengan Nona Lauw Sin Lian, dan dengan ketua Siauw-lim-pai untuk menjelaskan persoalan yang baru-baru ini terjadi."
"Engkau sudah membunuh saudara-saudara kami, masih datang hendak bicara dengan ketua kami?" Pertanyaan ini timbul dari hati yang terheran-heran.
Alangkah beraninya pemuda ini! Ataukah karena sombongnya maka sengaja datang hendak menantang ketua Siauw-lim-pai?”
Han Han tersenyum dingin. " Kalau aku tidak datang memberi penjelasan, bagaimana urusan dapat dibereskan? Semua terjadi karena salah faham….."
"Jahanam! Sudah membunuh banyak orang, enak saja mengatakan bahwa semua terjadi karena salah faham! Saudara-saudara, mari kita basmi iblis ini!” Liong Tik berkata marah, akan tetapi sebelum mereka turun tangan, terdengar bentakan halus.
"Para murid Siauw-Lim-pai, minggir-lah!"
Mendengar suara ini, para murid yang tadinya mengurung Han Han serentak minggir dan membentuk lingkaran kipas yang lebar. Han Han memandang mereka yang datang dan ternyata dari dalam kuil keluarlah lima orang hwesio yang usianya .rata-rata sudah lima puluh tahun lebih. Sikap mereka agung dan keren, dan seorang di antara mereka pincang kakinya sehingga jalannya dibantu sebatang tongkat. Pakaian mereka sederhana, namun menyaksikan gerak-gerik mereka yang tenang dan keren, dapat diduga bahwa mereka ini merupakan tokoh-tokoh penting dari Siauw-lim-pai. Dan dugaan Han-Han ini memang benar karena lima orang hwesio itu adalah murid-murid kepala dari Ceng To Hwesio, sute dari ketua Siauw-lim-pai itu. Tingkat kepandaian lima orang hwesio ini sudan tinggi, bahkan tugas mengajar semua murid yang menjadi tugas Ceng To Hwesio, diwakili oleh lima orang ini. Biarpun tingkat mereka masih kalah sedikit kalau dibandingkan dengan tingkat Siauw-lim Chit-kiam, namun karena mereka terhitung adik-adik seperguruan Siauw-lim Chit-kiam, maka mereka merupakan tokoh-tokoh tingkat tiga di Slauw-tim-pai.
Han Han yang dapat mengenal orang-orang pandai segera rnengangkat kedua tangan depan dada dan berkata, " Saya Sie Han dan adik saya Lulu mohon perkenan Losuhu sekalian agar dapat bertemu dan bicara dengan ketua Siauw-tim-pal dan dengan Nona Lauw Sin Lian."
Lima orang hwesio itu tadi sudah mendapat laporan bahwa yang datang ini adalah pemuda lihai yang membantu Hoa-san-pai dan yang telah membunuh tujuh orang anak murid Siauw-lim-pai, bahkan yang mungkin juga menjadi pembunuh dua orang suheng mereka, Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek. Kini, melihat betapa pemuda itu masih amat muda, mereka sudah terheran-heran sekali, apa lagi menyaksikan sikap pemuda ini yang sopan santun, mereka menjadi ragu-ragu dan hampir tidak percaya bahwa seorang pemuda seperti ini dapat memiliki kepandaian yang tinggi.
Mereka segera membalas penghormatan Han Han karena biarpun tamu itu masih muda, adalah menjadi kewajiban para hwesio untuk bersikap hormat dan lemah lembut kepada siapa saja.
"Sicu hendak bertemu dengan murid kami Lauw Sin Lian?" berkata seorang diantara mereka yang mukanya kurus. "Sayang sekali, Nona Lauw sedang melaku-kan tugas keluar kota, tidak berada disini. Akan tetapi Supek kami, ketua Siauw-lim-pai, berada di dalam. Kalau Sicu berdua hendak menghadap Supek, silakan masuk."
Han Han mengangguk dan hatinya lega. Kiranya tokoh-tokoh Siauw-lim-pal adalah orang-orang gagah yang mudah diajak urusan, tidak seperti anak buahnya tadi yang bersikap kasar, sungguhpun ia dapat memaafkan kekasaran mereka kalau ia ingat bahwa dia telah membunuh tujuh orang saudara mereka. Dengan langkah lebar dan tenang ia memasuki pintu gerbang didahui oleh lima orang hwesio itu. lulu menyentuh tangan Hanl Han dari belakang sehingga pemuda itu menengok dan memandang-nya. Gadis itu berbisik,
"Koko, aku merasa khawatir sekali. Jangan-jangan kita masuk perangkap mereka.”
“Nona, kami menjunjung tinggi kegagahan dan kebenaran, anti akan segala kejahatan dan kecurangan. Tidak perluk hawatir!" terdengar jawaban dari hwesio pincang bertongkat yang masih berjalan di depan, tanpa menengok. Dapat mendengar bisikan Lulu yang begitu perlahan cukup membuktikan betapa tajam pendengaran para hwesio ini.
Rombongan lima orang hwesio yang mengantar Han Han dan Lulu itu kini
memasuki ruangan depan kuil besar yang menjadi pusat perkumpulan Siauw-lim-pai itu. Bersih dan luas sekali ruangan itu dan dari situ tampak meja sembahyang di sebelah dalam yaitu di dalam ruangan sembahyang yang kelihatan tenang dan sunyi, yang mengebulkan asap tipis berbau harum dari mana terdengar lirih suara hwesio bemyanyi dan berdoa. Adapun para hwesio lain yang menjadi anak buah dan bertugas menjaga hanya berkumpul di pekarangan depan tidak diperkenankan masuk karena kini dua orang tamu itu telah berada di dalam tangan lima orang hwesio kepala ini
Dengan slkap tenang akan tetapi alis berkerut karena dapat menduga bahwa para hwesio Siauw-lim-pai ini menyambut nya dengan penuh kecurigaaan dan sikap bermusuhan, Han Han memasuki ruangan depan yang bersih ltu, diikuti oleh Lulu yang sikapnya biasa saja bahkan gadis itu seperti biasa tidak dapat menahan rasa ingin tahunya dan menonton ke kanan kiri memandangi keadaan di situ.
"Sicu dan Nona, silahkan masuk ruangan disebelah, para pimpinan Siauw-tim-pal telah menanti di sana. Pinceng berlima hanya bertugas mengantar Ji-wi (Anda Berdua) sampai di luar pintu sidang pengadilan," berkata hwesio pengantar, sedangkan ernpat orang hwesio lainnya hanya berdiri dan rnengangkat tangan memberi hormat. Han Han mengerutkan alisnya yang hitam dan hatinya merasa tidak enak mendengar bahwa ia dipersilakan rnasuk "ruangan sidang pengadilan" ini.
"Koko, jangan percaya kepada mereka ini!" kata Lulu. "Biar kita menanti disini saja dan suruh mereka panggil keluar Lauw Sin Lian dan ketua mereka!"
"Mengapa mesti takut? Kita adalah tamu dan tamu harus tunduk akan peraturan tuan rumah. Kalau mereka menghendaki dengan peyambutan besar besar-an, biarlah, Adikku. Mari kau ikut aku,tak usah taku
“Siapa takut?" Lulu menjebikan bibir-nya. "Aku hanya berhati-hati, bukannya takut!"
.Dengan langkah lebar dan dada terangkat, Han Han dan lulu memasuki
pintu yang menembus ke ruangan samping yang sesungguhnya adalah ruangan
terbesar karena ini adalah ruangan lian-bu-thia (belajar silat) yang luas sekali.
Begitu Han Man dan Lulu memasuki ruangan ini, tampak oleh mereka sepasukan hwesio muda berdiri berbaris di tengah ruangan. Mereka terdiri dari tiga belas orang, berdiri dengan sikap berbaris,bertangan kosong .dan nampaknya kuat-kuat. Lengan baju mereka digulung sampai ke siku dan, mereka berdiri dengan bhesi (kuda-kuda) yang amat kuat, yaitu kuda-kuda Ji-ma-she dengan kedua kaki terpentang dan lutut ditekuk, kedua kepalan tangan di kanan kiri lambung.
Tiga belas orang hwesio muda itu hanya berdiri dalam keadaan siap sarnbil memandang ke arah Han Han, tanpa mengeluarkan kata-kata, tanpa bergerak. Han Han tidak tahu harus berbuat apa karena barisan ini menghalang di jalan. Akan tetapi terdengarlah suara keren dari mulut seorang hwesio tua yang berdiri di sudut, hwesio tua yang bermata tajam dan suaranya nyaring
."Khong-jiu-tin (Barisan Tangan Kosong) Siauw-lim-pai merupakan ujian pertama bagi orang yang berani minta berjumpa dengan ketua Siauw-lim~pai!"
Mendengar ini, Lulu meloncat maju dan menudingkan telunjuknya yang kecil runcing kepada hwesio tua ini sambil memaki, "Hwesio busuk Orang mau berjumpa dengan ketua Siauw-lim pai pakai diuji segala macam! Peraturan apakah ini? Hayo suruh minggat barisan yang tiada gunanya ini, dan panggil ketuamu ke sini untuk bicara dengan Kokoku!"
Hwesio tua itu yang sesungguhnyaadalah Ceng To Hwesio, mengerutkan keningnya dan matanya memandang marah. "Nona, pernah ada jaman di mana wanita dilarang masuk ke ku.il Siauw-lim-si dengan ancaman hukum mati. Pinceng akan senang sekali kalau peraturan itu kini masih berlaku. Sayang kini peraturan diperlunak dan kalau kalian tidak berani menghadapi ujian kami, lebih baik pergi saja dari sini.”
"Eh, hwesio sombong, siapa yang tidak berani? Biar ditambah lima kali ini, aku tidak takut!" Lulu sudah bergerak maju hendak menerjang barisan itu. Tiba-tiba tiga betas hwesio itu menggerakkan kaki dan menggeser kaki, kiri ke belakang mengubah kuda-kuda. Gerakan mereka itu mantap dan kuat juga amat rapi sehingga Han Han yang melihat ini cepat berkata.
"Lulu, mundurlah. Kalau memang begini peraturan Siauw-lim-pai, biar ku
coba menghadapi tin (barisan) ini."
Lulu melangkah mundur dan mengomel, "Hemmm. hwesio-hwesio sial Sekali ini agak baik nasib kalian sehingga tidak jadi mati ditanganku. Kakakku terlalu baik hati untuk membunuh kalian sehingga kalian hanya akan luka-luka ringan saja. Katau aku yang maju sendiri……hemmm, jangan tanya-tanya lagi ten tangdosa!"
 Biarpun sikapnya masih kekanak-kanakan namun Lulu sebetulnya adalah seorang yang cerdik dan dapat menyembunyikan kecerdikannya di balik sikap kekanak-kanakannya. Ia sudah mengenal watak kakaknya yang setiap kali berhadapan dengan lawan-lawan tangguh dalam sebuahah pertandingan lalu timbul watak beringas dan kejam seolah-olah haus darah dan ia tahu pula bahwa fihak lawan tentu akan toboh tewas kalau bertemu dengan kakaknya yang luar biasa. Dia tidak menghendaki kakaknya menjadi seorang kejam yang membunuhi manusia seperti membunuh semut saja, maka tadi ia sengaja berkata demikian untuk mengingatkan Han Han agar tidak membunuh lawan. Han Han mengerti akan sindiran Lulu maka ia berkata.
"Lulu, tewas atau luka dalam pertandingan adalah hal biasa. Yang penting, kalau sampai terjadi pertandingan, hal itu bukanlah kehendak kita, melainkan dikehendaki oleh para hwesio ini.Minggirlah !".
Lulu minggir dan Han Han lalu melangkah lebar menghampiri barisan yang sudah siap menyambutnya. Dengan sinar matanya, Han Han menyapu barisan itu dan diam-diam ia merasa amat kagum karena sikap dan kedudukan pasangan kuda-kuda tiga belas orang hwesio yang rata-rata berusia tiga puluh tahun itu amatlah kuat dan kokoh seperti batu karang. Dari pasangan kuda-kudanya saja dapat diketahui bahwa Siauw-lim-pai memiliki murid-murid yang baik-baik dan ilmu silat Siauw-lim-pai bukanlah omong kosong belaka.
" Majulah!" Han Han berseru dan menerjang maju, kedua tangannya dengan jari-jari terbuka dilambaikan ke depan dari kanan kiri. Ia tidak ingin menyerang lebih dulu dan ingin sekali menyaksikan bagaimana kehebatan Khong-jiu-tin ini.Setelah belajar ilmu di Pulau Es, Han Han amat suka melihat ilmu silat dan ingin sekali meluaskan pengalamannya dengan menyaksikan ilmu-ilmu silat didunia kang-ouw.
"Sambut serangan!" Tiba-tiba bentakan ini keluar dari tiga belas buah mulut secara serentak dan bergeraklah tiga belas orang hwesio itu menyerang Han Han. Gerakan mereka amat cepat dan langkah-langkah mereka teratur, pukulan-pukulan yang dilancarkan mantap dan kuat.
Han Han menggunakan ginkangnya,tubuhnya bagaikan tubuh seekor wallet saja ringannya dan dengan kecepatan yang mengagumkan ia telah mengelak dari setiap pukulan yang menyerangnya. Akan tetapi betapapun cepat gerakannya, ia tidak dapat mengatasi kecepatan gerakan tiga belas orang sekaligus. Apalagi ketika tiga belas orang itu ternyata bukan sembarangan bergerak mengandalkan kepandaian perorangan, melainkan bergerak menurut ilmu barisan yang aneh dan hebat. Ke manapun Han Han mengelak, di situ telah menanti pukulan tangan kosong lain hwesio yang disusul dengan pukulan-pukulan lain dari segala jurusan sehingga bagi Han Han seolah-olah tidak ada jalan keluar lagi. Terpaksa pemuda ini menggunakan lengannya menangkis. Beberapa kali saja menangkis, terdengar seruan-seruan kesakitan daripara hwesio yang tertangkis lengannya,dan segera gerakan para hwesio itu berubah, kini tidak pernah mereka membiarkan lengan mereka tertangkis lagi! Tiap kali lengan meereka ditangkis, mereka sudah menarik kembali tangan mereka untuk disusul dengan lain pukulan dari lain jurusan oleh hwesio lain.
Han Han makin kagum. Sudah beberapa kali terdengar suara bak-bik-buk ketika beberapa buah pukulan para pengeroyoknya tak dapat ia elakkan dan terpaksa ia terima dengan tubuhnya yang sudah kebal. Ia maklum bahwa andaikata ia tidak memiliki sinkang yang jauh lebih tinggi sehingga ia dapat mengandalkan kekebalan tubuhnya yang dilindungi sinkang dan mengandalkan pula kecepatan gerakannya mengandalkan ginkang, kira-nya ia akan celaka di tangan tiga belas orang ini. Kalau hanya mengandalkan ilmu silat, agaknya akan sukarlah menandingi barisan yang hebat ini. Ia mulai memperhatikan gerakan mereka dan mengertilah ia bahwa sesungguhnya Khong- jiu-tin yang terdiri dari pada tiga belas orang itu adalah dua macam barisan yang digabung menjadi satu. Pertama barisan Pat-kwa-tin yang terdiri dari delapan orang, ke dua barisan Ngo-heng-tin yang terdiri dari lima orang. Kedua barisan itu kadang-kadang melakukan gerakan terpisah saling membantu, kadang-kadang membentuk lingkaran dengan Pat-kwa-tin di sebelah luar dan Ngo-heng-tin di sebelah dalam.
Karena dalam hal ilmu silat Han Han memang belum dapat dikatakan mahir, menghadapi kedua barisan yang digabung merupakan Khong-jiu-tin yang mengandung jurus-jurus Ilmu Silat Lo-han-kun yang amat hebat dari Siauw-lim-pai ini, tentu saja Han Han tidak mampu melawannya dan terpaksa ia harus mengandalkan sinkangnya yang membuat tubuhnya kebal dan menerima belasan kali pukulan-pukulan keras sebelum ia sempat melihat jalannya barisan yang amat mengagumkan itu. Karena khawatir kalau-kalau pukulan-pukulan yang makin berbahaya melanda tubuhnya, Han Han mengerahkan khikangnya, mengeluarkan suara melengking nyaring dan kedua lengannya mendorong ke arah lawan yang mengeroyok dengan pengerahan tenaga sakti Im-kang. Dapat dibayangkan betapa hebatnya dorongan-dorongan tenaga Im-kang ini kalau diingat bahwa bertahun-tahun pemuda ini melatih diri di Pulau Es yang amat dingin, sehingga ia telah dapat menyedot inti sari hawa dingin, membuat Im-kangnya yang dipelajari menurut kitab-kitab Ma-bin Lo-mo menjadi hebat, lebih hebat dari Swat-im Sin-ciang milik Ma-bin Lo-mo sendiri!
Terdengar keluhan-keluhan ketika tiga belas orang itu terhuyung-huyung dan roboh semua dengan muka pucat dan tubuh menggigil kedinginan! Untung bahwa Han Han teringat akan sindiran Lulu tadi sehingga ia tidak menurunkan tangan maut, membatasi tenaga dorongannya sehingga darah tiga belas orang itu tidak membeku.
"Omitohud….., luar biasa……!" terdengar Ceng To Hwesio berseru. Tiga belas orang hwesio anggauta barisan Khong-jiu-tin itu saling bantu can mundur. Tempat mereka kini diganti oleh sebuah barisan lain yang terdiri dari sembilan orang hwesio-hwesio tua berusia antara lima puluh tahun, rata-rata bertubuh kurus kering dan kelihatannya lemah sekali.
"Eh, hwesio curang! Sudah jelas barisan tadi tidak mampu menahan Kakakku, sekarang hwesio-hwesio tua kurus kering ini mau coba lagi?" bentak Lulu yang menghampiri kakaknya dan mengusap-usap leher kanan Han Han yang agak merah karena tadi terpukul, bahkan sebelah kanan bibirnya pecah dan berdarah sedilkit, bajunya robek-robek. "Koko tidak sakitkah?"
Han Han menggeleng kepala dan dengan halus mendorong tubuh adiknya kepinggir sambil berkata, "Lulu ,tenanglah barisan yang datang ini lebih berat."
"Apa? hwesio-hwesio kurus kering ini? Jumlahnya pun hanya sembilan orang, Sekali dorong saja roboh Tak usah di dorong kautiup saja mereka akan roboh semua Koko! Mereka ini hanyalah penderita-penderita penyakit encok dan batuk!"
Ceng To Hwesio tldak rnempedulikan ulah dan kata-kata kakak beradik itu lalu berkata dengan suara nyaring. "Ujian pertamaa dapat di lalui, ujian ke dua menyusul. Lo-han-tin (Barisan Orang Tua) dari Siaw-lim-pai, hadapilah, orang muda !"
Barisan ini jauh sekali bedanya dengan barisan Khong-jiu-tin tadi. Kalau barisan pertama tadi terdiri dari hwesio hwesio yang bertubuh tegap dan gerakan mereka mantap mengandung tenaga kuat barisan ke dua ini terdiri dari hwesio-hwesio tua yang lemah sedangkan gerakan mereka pun kelihatan tak bertenaga. Namun Han Han yang biarpun belum berpengalaman namun sebagai seorang ahli sinkang dan karena sudah banyak membaca kitab-kitab ilmu silat tinggi, dapat menduga bahwa barisan ini terdiri dari ahli-ahli sinkang yang tak boleh dipandang ringan. Dugaannya memang benar. Sembilan orang ini adalah murid-murid kepala dari Ceng To Hwesio dan tingkat mereka hanya sedikit lebih rendah daripada tingkat lima orang hwesio murid utama Ceng To Hwesio yang tadi menjadi pengantar kedua orang muda itu dan yang kini tidak tampak lagi.
"Hemmm, beginikah peraturan Siauw-lim-pai? Kurasa hanya ditujukan kepada tamu-tamu yang tak dikehendaki saja," kata Han Han sambil tersenyum mengejek. "Para Losuhu, kalau tidak malu mengeroyok seorang muda, majulah!"
Sembilan orang hwesio itu adalah sebuah barisan yang hanya mentaati perintah, maka tentu saja tidak mengandung perasaan pribadi dan ucapan Han Han itu tidak membuat mereka menjadi rikuh, bahkan kini mereka bergerak maju dan mulai mengurung lalu mengirim serangan-serangan yang kelihatannya lambat, namun sesungguhnya cepat dan dahsyat sekali, jauh lebih berbahaya dari pada penyerangan Khong-jiu-tin karena kini setiap pukulan mengandung tenaga lweekang yang hebat
Melihat pukulan-pukulan yang berbahaya ini Han Han cepat meloncat ke atas dan ia pun mengerahkan sinkang ditubuhnya, berjungkir balik di udara dan kini tubuhnya menukik ke bawah dengan kedua tangan didorongkan, lalu ditarik kekanan kiri untuk menangkis sambutan para pengeroyoknya yang sudah mengirim pukulan-pukulan pula. Begitu hawa pukulan itu bertemu dengan hawa sinkang yang keluar dari kedua lengan Han Han sembilan orang kakek itu terhuyung dan mereka berseru heran. Akan tetapi mereka sudah menerjang lagi maju dan kini gerakan tangan mereka mengeluarkan angin sebagai tanda bahwa mereka telah mengerahkan seluruh tenaga sakti yang ada pada diri mereka.
Seperti juga tadi ketika menghadapi pengeroyokan Khong-jiu tin, Han Han tidak dapat melawan IImu silat Lo-han-kun yang dimainkan sembilan orang Ahli itu. Biarpun ia sudah mempergunakan ginkangnya sehingga kadang-kadang tubuhnya lenyap dari pengurungan sembilan orang hwesio Itu, dan sudah mempergunakan kecepatannya untuk mengelak atau menangkis, namun tetap saja masih ada bebera buah pukulan yang "mampir" dl tubuhnya. Dan kali Ini pukulan-pukulan yang mengenal tubuhnya sama sekali tidak boleh disamakan dengan pukulan-pukulan barisan pertama tadi karena pukulan-pukulan kali ini adalah pukulan yang mengandung tenaga lweekang. Biarpun tubuh Han Han amat kebal karena kuatnya sinkangnya, dan memang ternyata bahwa tenaga dalamnya jauh lebih kuat dari pada para pengeroyoknya, namun pukulan-pukulan itu masih menggetarkan isi dada dan isi perutnya sehingga sebuah pukulan yang cukup keras pada dadanya membuat darah keluar mengucur dari mulutnya! Dia tidak terluka, akan tetapi getaran dan goncangan itu ditambah pukulan yang mampir dl lehernya membuat mulut dan hidungnya berdarah. Marahlah Han Han, kemarahan yang tidak dibuat-dibuat, yang timbul dengan sendirinya, yang meembuat , mukanya tampak bengis, sepasang mata nya menyorotkan pandang mata seperti kilat, penuh kebencian penuh nafsu membunuh. Seolah olah semua wajah para pengeroyoknya berubah menjadi wajah wajah tujuh orang perwira Mancu yang membasmi keluarganya sehingga menimbulkan kebencian yang meluap luap di dalam hatinya, mendatangkan nafsu membunuh. Ia mengeluarkan suara teriakan melengking yang terdengar mengerikan, lalu tubuhnya digoyang seperti seekor harimau menggoyang tubuh untuk mengeringkan bulu, kemudian ia menerjang maju dengan kedua tangan menyambar-nyambar kedepan.
"Koko…… jangan……!!” Lulu berteriak ngeri menyaksikan keadan kakaknya itu. Han han dapat mendengar jerit ini dan untunglah demikian, karena kedua tangannya yang menyebar maut dengan pukulan-pukulan Swat-im Si-ciang dan Hwi-yang Sin-cian secara berganti-ganti itu dapat ia tahan kekuatannya sehingga sembilan orang hwesio itu hanya terjenkang dan muntah-muntah darah terluka arah akan tetapi tidak ada yang tewas
“Omitohud…..!” Ceng To Hwesio berseru marah. “ Kejam sekali engkau…..!”
Pada saat itu dari luar menyambar sinar-sinar berkeredapan dan ternyata lima orang hwesio murid utama Ceng To Hwesio sudah muncul sambil menyambitkan senjata rahasia mereka ke arah Han han. Hal ini mereka lakukan bukan sekali-kali untuk bermain curang, melainkan terdorong oleh kekhatiran dan karena mereka ingin menolong para sute mereka agar jangan sampai dipukul lagi oleh Han han. Mereka mengira bahwa pemuda itu tentu akan membunuh semua sute mereka yang sembilan orang itu
"Hwesio-hwesio curang!" Lulu sudah mencabut pedangnya. Sinar' hijau menyilaukan mata berkelebat dan semua senjata rahasia yang disambar sinar ini menjadi patah-patah seperti buah-buah mentimun bertemu pisau yang amat ta-jam. .
"Cheng-kong-kiam !" teriak hwesio pincang bertongkat ketika melihat pedangitu.
"Omitohud kiranya benar-benar murid Hoa-san-pai yang mengacau!- Tang-kap!" bentak Ceng To Hwesio ketika mengenal Cheng-kong-kiam sebagai pedang pusaka Hoa-san-pai. Memang pedang ditangan Lulu itu adalah Cheng-kong-kim yang dirampasnya dari tangan Kong Seng-cu dan pedang ini sudah amat terkenal di dunia kang-ouw sehingga para hwesioSiauw-lim-pai juga mengenalnya.
Lima orang hwesio itu menyerang dengan hebat, mengurung Han Han dan mereka mempergunakan senjata mereka. Si Pincang mempergunakan tongkatnya, dua orang hwesio mempergunakann. Toya yang sudah mereka pegang ketika mereka,muncul, sedangkan yang tertua dan yang nomor dua memegang pedang. Serangan.mereka Itu birarpun tidak sehebat ilmu pedang Siauw-lim Chit-kiam. namun karena mereka adalah tokoh tokoh Siauw-Lim-pai tingkat tinggi, tentu saja serangan mereka ini hebat bukan main. Boleh jadi dalam hal kekuatan singkang, Han Han yang telah memiliki tenaga mujijat itu sukar ditandingi para hwesio yang mendapat sinking secara latihan wajar, tidak seperti Han Han yang berlatih dengan cara-cara golongan sesat akan tetapi dalam hal IImu silat, Han Han sunguh ketingalan jauh kalau dibandingkan dengan lima orang hwesio murid Ceng To Hwesio itu. Adapun Lulu yang juga memiliki tenaga sinkang yang tidak lumrah kalau dibandingkan dengan gadis
seusia yang sejak kecil belajar silat, dan telah mempelajari ilmu silat yang tinggi sekali, namun dia kurang mendapat bimbingan yang benar sehingga ilmu pedangnya yang amat indah dan tinggi mutunya itu kekurangan isi. Tentu saja diapun bukan lawan tokoh-tokoh Siaw-lim—pai itu.
Si hwesio tua yang pincang kakinya menghadapi Lulu dengan tongkatnya. Ternyata hwesio ini bukan main ketika bergerak menerjang Lulu dengan tongkat di tangan. Gerakanya gesit dan biarpun kakiknya melebihi kecepatan orang yang tidak cacad. Ketika Lulu menangkis dengan pedangnya terdengar suara keras, ujung tongkat kayu Itu terbacok putus sedikit saking tajmnya pedang pusaka Hoa-san-pai Itu, akan tetapi telapak tangan Lulu tergetar hebat saking kuatnya tongkat di tangan hwesio pincang.
"Nona muda, lebih baik engkau menyerah saja. Siauw-lim-pai adalah perkumpulan besar yang adil dan tentu akan mengadakan sidang pengadilan yang tidak sewenang-wenang. Melawanpun tiada gunanya,” hwesio pincang ltu berkata dengan suara halus. Dia seorang tokoh Siuw-lim-pai yang berilmu tinggi, sudah puluhan tahun malang-melintanl di dunia, kang-ouw sehingga kini merasa sungkan untuk bertanding melawan seorang gadis remaja yang menjadi cucu muridnya!
"Hwesio sombong, apa kaukira akan dapat mengalahkan, aku? Lihat pedang!" Lulu berteriak marah dan pedangnya sudah berkelebat menyambar lagi, merupakan segulungan sinar hijau yang tebar dan panjang.
"Omitohud, orang muda yang bersemangat baja!" Hwesio pincang itu berseru, tidak marah karena sebagai seorang hwesio tentu saja ia telah memiliki kesabaran besar, bahkan ia merasa kagum menyaksikan sepak-terjang gadis cantik ini. Cepat ia menggerakkan tongkatnya dan sekejap kemudian bertandinglah mereka dengan hebat. Biarpun tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi, namun hwesio pincang itu harus bersilat dengan amat hati-hati karena ginkang gadis itu sudah mencapai tinkat yang tinggi pula,membuat tubuhnya berkelebatan seperti seekor burung walet. dan tenaga sinkang yang tersembunyi di tangan halus. Yang memegang pedang pun tak boleh dipandang ringan.
Sementara itu, Han Han juga mengamuk, dikeroyok oleh empat orang hwesio lain. Agaknya para hwesio itu tidak ingin gagal untuk memenuhi perintah suhu mereka, yaitu menangkap Han Han, maka mereka berempat maju serentak dengan tangan kosong, membiarkan hwesio pincang seorang diri menghadapi. Lulu yang mereka pandang rendah. Mereka:sudah mendengar akan kelihaian Han Han ini dan karena Han Han telah membunuh orang-orang Siauw-lim-pai secara mengerikan, bahkan disangka membunuh dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, tentu saja mereka maklum bahwa pemuda ini amat lihai, maka mereka maju mengeroyok dan berlaku hati-hati sekali.
Pening rasa pandang mata Han Han ketika ia melihat geakan para pengeroyoknya yang selain cepat juga amat mantap itu. Ke manapun ia menggerakkan kedua tangannya sambil mengerahkan tenaga Hwi-yang Sin-ciang atau Swat-im Sin-ciang, selalu serangannya dapat dihindarkan keempat orang hwesio itu yang cepat mengelak dan sama sekali tidak berani menangkis. Memang dahsyat mengerikan sekali sambaran kedua tangan Han Han ini, kadang-kadang mengandung hawa yang panas seperti api membara kadang-kadang dingin seperti es
Ilmu silat yang dimainkan oleh, empat orang hwesio itu adalah ilmu silat tinggi Siauw-lim-pai yang amat terkenal dengan ilmu silat tangan kosongnya. Dibandingkan dengan Ilmu Silat Lo-han-kun yang dimainkan oleh barisan Khong-jiu-tin yang tadi mengeroyoknya, memang tidak ada bedanya, akan tetapi kini dimainkan dengan tenaga yang jauh lebih kuat dan gerakan yang lebih mantap. Seperti juga tadi, Han Han tidak dapat mempertahankan dirinya, tidak dapat menghindarkan diri dari gebukan-gebukan dan tendangan-tendangan yang tentu akan membuatnya roboh pingsan sekiranya dia tidak memiliki tubuh yang penuh dengan hawa sinkang amat kuatnya. Beberapa kali ia kena dijotos dadanya sampai tubuhnya terjengkang dan roboh bergulingan, namun setiap kali ia bangkit lagi dan mengamuk leblh hebat lagi. Setelah berkelahi, hawa yang aneh memenuhi tubuh Han Han dan matanya berubah beringas, wajahnya merah menyeramkan, mulutnya yang berdarah Itu membayangkan kekejaman dan nafsu membunuh, hidungnya yang jga berdarah itu berkembang-kempis, matanya seperti meta harimau gila, kerongkongannya mengeluarkan suara rnengereng-gereng dan kadang-kadang melengking-lengking.
Ernpat orang hwesio murid Ceng To Hwesio kagum bukan main dan berkali-kali mereka mengeluarkan seruan terkejut saking herannya melihat betapa pemuda itu dapat menerima hantaman mereka tanpa mengalami cedera atau terluka sedikit pun, hanya sedikit darah mengalir dari mulut atau hidungnya setiap kali menerima pukulan. Hampir mereka tak dapat percaya bahwa ada seorang pemuda remaja memiliki kekebalan seperti itu!
Sungguhpun tubuh Han Han tidak sampai terluka di sebelah dalam, namun sesungguhnya Han Han menderita bukan main. Seluruh tubuhnya terasa nyeri dan tidak karuan, kepalanya pening, pandang matanya berkunang dan telinganya mendengar suara mengiang-ngiang tiada hentinya. Kemarahannya memuncak. Ketika empat orang hwesio itu untuk ke sekian kalinya menerjang. maju dari empat jurusan, ia sengaja tidak mau mengelak lagi, juga tidak menangkis hanya menanti sampai pukulan mereka tiba. Mendadak Han Han mengeluarkan suara melengking tinggi, tangan kirinya menghantam ke kiri dengan pengerahn tenaga sakti Swat-im Sin-ciang sedangkan tangan kanan menghantam ke kanan dengan tenaga sakti Hwi-yang Sin-ciang. Karena pemuda ini sengaja mengorbankan tubuhnya menjadi sasaran dan berbareng pada detik itu mengirim pukulan-pukulan, maka terdengar jerit mengerikan ketika pukulan-pukulannya mengenai sasaran. Hwesio di sebelah kirinya roboh dengan muka biru dan darah membeku sedangkan yang berada di sebelah kanannya roboh pula dengan muka menjadi hitam gosong seperti terbakar! Akan tetapi dia sendiri pun menerima pukulan-pukulan yang membuat tubuhnya bergoyang-goyang dan tiba-tiba ia muntahkan darah segaryang banyak juga!
"Koko…..!" Tiba-tiba Lulu menjerit dan Han Han cepat menengok. Ternyata bahwa pedang adiknya itu telah terpukul tongkat dan terlepas dari pegangan tangan adiknya itu. Ia melihat Ceng To Hwesio menggerakkan tangan seperti melambai dan……pedang adiknya itu terbang ke arah tangan Si Hwesio yang membentak marah.
"Bocah setan, engkau kembali membunuh dua orang murid pinceng! Kau tidak boleh dibiarkan hidup lagi!”
Kini mereka semua menyerbu mengeroyok Han Han. Ceng To Hwesio dan muridnya yang tinggal tiga orang karena hwesio pincang itu setelah melihat dua orang sutenya tewas lalu meninggalkan Lulu dan ikut mengeroyok Han Han.
Tidak seperti tadi ketika dilkeroyok empat orang hwesio bertangan kosong, kini Han Han dikeroyok empat orang hwesio yang semuanya bersenjata. Hwesio pincang memegang tongkat, dua orang hwesio lain memegang toya dan Ceng To Hwesio memegang pedang Ceng-kong-kiam dari Hoa-san-pai,
Dalam kemarahanya, Han Han tldak takut menghadapi bahaya apapun juga. Ia menjadi nekat dan memutar kedua lengannya mengirim pukulan-pukulan dengan hawa sakti Hwi-yang Sin-ciang yang dahsat sehingga empat orang hwesioa itu tidak berani terlalu mendekatinya.
"Omltohud…..keji sekali….!" Ceng To Hweslo berseru dan pedangnya berubah menjadi sinar hijau menuju pusar Han Han, Pemuda itu terkejut, cepat ia melompat ke atas seperti terbang saja dan pada saat itu, tongkat hwesio pincang menyambar kakinya. Namun Han Han menggerakkan kaki menendang sehingga tongkat itu hampir terlepas dari tangan pemeganya. Pada saat itu, sinar hijau berkelebat ke lehernya. Han Han membuang tubuh ke belakang, namun masih saja pedang itu menyerempet pundaknya sehingga bajunya berikut kulit dan sedikit daging pundak robek den berdarah.
"Koko……!" Lulu menjerit dan menubruk Han Han, matanya melotot memandang empat orang hwesio itu dan mulutnya memaki-maki
"Hwesio....hwesio jahat! Beginikah hwesio-hwesio Siauw-lim-pai Tukang keroyok dan tukang bunuh?
Melihat gadis itu yang melindungi tubuh Han Han, empat orang hwesio itu menjadi sungkan untuk menyerang. Han Han tldak, lngin melihat adiknya terancam bahaya, maka ia lalu meraih pingang adiknya dibawa meloncat sambil membentak.
"Minggir kalian!!”
Bentakan Han Han Ini mengandung suara aneh yang memiliki pengaruh mujijat. Tanpa mereka ketahui mengapa, empat orang hwesio itu segera mundur ke pinggir dan membiarkan Han Han lewat bersama Lulu. Setelah pemuda itu berlari ke depan, memasuki kuil, barulah Ceng To Hwesio berseru.
"Omitohud….., mengapa kita diam saja…..?" Ia amat terkejut, demikian pula tiga orang muridnya dan serentak mereka mengejar ke dalam kuil.
Han Han berkelebat cepat memasuki kuil sampai ke ruangan belakang. Ternyata kuil itu luas sekali dan mempunyai banyak ruangan. Melihat betapa para hwesio kosen itu mengejar, Han Han berlari terus sambil menarik tangan Lulu Karena para pengejarnya yakin bahwa pemuda itu tidak dapat meloloskan diri, apalagi kalau dilihat kenyataannya bahwa Han Han malah lari memasuki kuil, maka mereka ini agaknya tidak mau ribut-ribut, dan mengejar seenaknya saja.
Han Han yang menggandeng Lulu terus lari sampai di ruangan belakang yang amat luas. Tampak banyak daun-daun pintu tertutup dan ketika Han Han tiba di ruangan itu, tiba-tiba terdengar suara halus namun penuh wibawa.
"Orang muda yang diperalat iblis berlututlah dan menyerah!"
Han Han dan Lulu mengangkat muka ke atas karena suara jtu seperti datang dari atas, akan tetapi diatas tidak tampak apa-apa kecuali langit-langit rumah. Ketika mereka menoleh ke kiri, ternyata di situ telah berdiri seorang hwesio tua bermuka kurus bertubuh kecil jangkung yang berwajah angker penuh wibawa. Hwesio kurus ini kepalanya gundul kelimis, alisnya tebal dan kumis jenggotnya jarang, tangan kirinya memegang seuntai tasbih dan pakaiannya sungguhpun sederhana namun masih jelas berbeda dengan pakaian para hwesio lain, juga kepalanya diikat tali dengan “hiasan” benda kecil runcing seperti jimat di atas kepala. Hwesio ini adalah Ceng San Hwesio, ketua Siauw-lim-pai yang memandang Han Han dengan sinar mata penuh teguran.
Han Han menarik tangan Lulu hendak lari keluar lagi. Melihat hwesio tua itu, Han Han maklum bahwa dia berhadapan dengan orang pandai, akan tetapi begitu ia membalikkan tubuhnya, Ceng To Hwe-sio dan tiga orang muridnya sudah tiba di situ dan berdiri memenuhi ambang pintu yang menuju keluar. Mereka berempat ini memandang dengan sinar mata penuh kemarahan.
"Suheng, dia inilah bocah yang telah membunuh murld-murid Siauw-lim-pai, bahkan di luar tadi telah membunuh dua orang muridku. Mohon keputusan ketua !" berkata Ceng To Hwesio sambil menahan kemarahannya. Kalau menurutkan kemarahan hatinya, ingin ia turun tangan terus membunuh bocah itu, akan tetapi karena yang berkuasa memutuskan sesuatu adalah Ceng San Hwesio sebagai ketua Siauw-lim-pai, ia menahan kemarahannya dan menyerahkan keputusannya kepada Ceng San Hwesio.
"Omitohud, malapetaka menimpa Siauw-lim-pai tiada henti-hentinya…….semoga Tuhan mengampuni kita sekalian……!” Ceng San Hwesio menekan kemarahannya dan berdoa, kemudian memandang kepada Han Han sambil berkata, "Orang muda, engkaukah yang bernama Sie Han, pemuda yang telah membunuh murid-murid pinceng Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek, kemudian membunuh pula beberapa orang anak murid Siauw-lim-pai dan kini bahkan membunuh dua orang murid keponakanku? Heh, orang muda yang berhati kejam, apakah sebabnya engkau melakukan pembunuhan-pembunuhan itu? Apakah enskau murid Hoa-san-pai?”
Han Han menjura penuh hormat setelah kini la tahu bahwa hwesio itu adalah ketua Siauw-lim-pai. "Harap Locianpwe sudi mempertimbangkan dan tidak tergesa-gesa sepertl yang lain menjatuhkan tuduhan yang bukan-bukan. Saya bukanlah murid Hoa-san-pai, juga tidak mempunyal hubungan apa-apa dengan Hoa-san-pai. Adapun tentang pembunuhan yang saya lakukan terhadap anak murid Siauw-lim-pai ketika mereka bentrok dihutan dengan murid-murid Hoa-san-pai tidak perlu saya sangkal, dan memang saya melakukan pembunuhan itu sunggupun hal itu bukan menjadi kehendak saya. Juga tewasnya dua orang hwesio yang mengeroyok saya di luar itu terjadi bukan atas kehendak saya. Akan tetapi tentang kematian dua orang murid Locianpwe, dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, saya tidak tahu-menahu dan justeru kedatangan saya ini hendak menjelaskan semua duduknya perkara sehingga timbul bentrokan antara Hoa-san-pai, dan Siauw-lim-pai, kemudian yang me-, nyeret diri saya sebagai orang luar karena kebetulan saja dan karena salah pengertian sebagai korban dari tipu muslihat keji seorang Puteri Mancu."
"Orang muda, setelah membunuh sekian banyaknya murid-murid Siauw-lim-pai, engkau datang ke sini dengan alasan hendak memberi penjelasan, akan tetapi sambil membunuh pula dua orang murid Siauw-lim-pai lainnya. Begitukah caramu hendak memberi penjelasan? Apakah engkau hendak menghilangkan dosa dengan pembunuhan lain lagi?"
"Maaf, Locianpwe. Sudah kukatakan tadi bahwa tewasnya Losuhu di luar itu bukanlah kehendak saya. Saya dikeroyok dan mereka berkeras menolak keinginan saya bertemu dengan Nona Lauw Sin Lian dan dengan Locianpwe sebagai ketua untuk memberi penjelasan, akan tetapi mereka menggunakan kekerasan. Terpaksa saya melawan untuk membela diri dan akhirnya dua di antara para losuhu tewas….."
"Suheng! Setan cilik ini telah menginjak-injak kehormatan .Siauw-lim-pai telah membunuh dengan cara keji tujuh orang murid-murid Siauw-lim-pai kemudian sekarang membunuh pula dua orang murid tingkat pertama, bahkan kematian Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek tentu akibat perbuatannya pula karena memang dia memiliki ilmu setan. Harap Suheng sekarang memberi keputusan agar saya dapat turun tangan menangkap atau membunuhnya," kata Ceng To Hwesio yang merasa marah sekali atas kematian dua orang muridnya yang tersayang.
Tidak hanya Ceng To Hwesio yang merasa sakit hatinya oleh kematian para murid Siauw-lim-pai. Biarpun ketua Siauw-lim-pai sendiri, Ceng San Hwesio, juga merasa sakit hati. Akan tetapi sebagai seorang ketua yang berpikiran luas dan berpemandangan jauh ia tidak mau bertindak sembrono. Urusan Siauw-lim-pai dengan Hoa-san-pai jauh lebih penting dan lebih besar dari pada urusan dendam terhadap orang muda ini, pikirnya. Maka ia menindas perasannya dan berrtanya.
"Orang muda she Sie, engkau hendak menyampaikan penjelasan tentang sebab-sebab bentrokan antara Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai. penjelasan yang kauawali dengan pembunuhan baru lagi. Penjelasan apakah gerangan? Coba kausampaikan kepada pinceng untuk dlpertimbangkan."
Han Han maklum bahwa keadaannya terhimpit dan terancam. la malah merasa pening dan seluruh tubuhnya sakit-sakit, sedangkan Lulu yang memegang lengannya dari belakang kelihatan pucat dan tangan gadis itu agak gemetar tanda bahwa hatinya tegang dan takut. Kenyataan bahwa kedatangannya ini menimbulkan pembunuhan-pembunuhan baru membuat perkara menjadi makin ruwet. Akan tetapi karena memang hatinya tidak mengandung pamrih apa-apa, tidak pula mempunyai niat untuk menonjolkan atau menguntungkan diri sendiri, melainkan hanya bertindak untuk membela diri dari serangan-serangan maut, dengan suara tenang ia lalu berkata.
"Locianpwe, semua peristiwa yang terjadi sehingga mengakibatkan korban-korban yang tewas di antara murid-murid Siauw-lim-pai dan juga Hoa-san-pai, adalah disebabkan oleh siasat adu domba yang amat licin dari seorang puteri Mancu yang bernama Puteri Nirahai. Mula-mula terjadi pembunuhan atas diri dua orang Locianpwe dari Siauw-lim Chit-kiam yang merupakan rahasia, akan tetapi yang pertama kali membawa datang kedua jenazah itu adalah Puteri Nirahai itulah." Kemudian dengan tenang Han Han menceritakan semua peristiwa yang didengarnya dari fihak Hoa-san-pai tentang pengiriman peti oleh puteri Mancu, dan betapa peti-peti itu dikawal oleh murid Hoa-san-pai kemudian di tengah jalan dihadang oleh murid-murid Siauw-lim-pai sehingga terjadi pertempuran.
"Saya dan adik saya kebetulan lewat di tempat pertempuran dan karena saya mengira bahwa murid-murid Siauw-lim-pai adalah perampok-perarnpok yang hendak merampas kereta yang dikawal Pek-eng-piauwkiok, saya lalu membantu Pek-eng-piauwkiok dan dalam pertandingan itu saya dikeroyok dan akibatnya tujuh orang murid Siauw-lim-pai yang saya kira perampok ltu tewas. Setelah muncul Nona Lauw Sin Lian yang saya kenaI diwaktu kecil, yang membuka dua peti terisi jenazah, barulah saya menjadi kaget dan kembali saya salah sangka, mengira bahwa fihak Hoa-san-pai yang jahat dan turun tangan membunuh dua orang pimpinan Pek-eng-piauwkiok yang menjadi murid-murid Hoa-san-pai. Saya sudah menjelaskan persoalan ini kepada pimpinan Hoa-san-pai, dan biarpun hasilnya, tidak begitu memuaskan, saya tetap mendatangi Siauw-lim-si untuk memberi penjelasan pula kepada ketua Siauw-lim-pai dan kepada Nona Lauw Sin Lian. Sungguh menyedihkan bahwa kedatangan saya dikeroyok dan akibatnya dua orang murid Siauw-lim-pai tewas. Sekarang terserah kepada keputusan Locianpwe."
Ceng San Hwesio diam-diam terkejut sekali dan mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan bohong tidaknya cerita yang ia dengar dari mulut pemuda aneh ini. Kalau tidak bohong, benar-benar Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai terancam kehancuran kalau melanjutkan permusuhan yang dijadikan umpan perpecahan oleh fihak penjajah. Akan tetapi siapa tahu kalau cerita itu hisapan jempol belaka? Pemuda ini amat aneh dan lihai, siapa dapat menjenguk isi hatinya?
"Suheng, harap jangan percaya dia! Masih ingat pinceng akan cerita Sin Lian bahwa bocah ini adaJah murid Kang-thouw-kwi Gak Liat dan tadi pun dia mengeluarkan pukulan Hwi-yang Sin-ciang! Tentu kedua orang murid Suheng dia pula yang membunuhnya!" Ceng To Hwesio berkata. bukan untuk memanaskan hati suhengnya, melainkan karena ia menduga keras bahwa Han Han adalah seorang musuh besar.
Sinar mata Ceng San Hwesio berkilat. “Hemmm, Gak Liat manusia yang keji dan jahat. Sekarang muridnya lebih kejam lagi……, omitohud! Sie Han, kau lebih baik menyerahkan diri, jangan melawan. Kau harus menjadi tawanan kami untuk kemudian diperiksa lebih lanjut.”
" Locianpwe, sebagai seorang ketua perkumpulan besar, apakah Locianpwe tidak dapat menggunakan kebijaksanaan? Kakakku tidak bersalah, memaksa diri datang kesini untuk memberi penjelasan agar jangan terjadi permusuhan berlarut-larut antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai. Akan tetapi sampai disini malah hendak ditawan. Hayo kembalikan pedangku dan biarkan kami berdua pergi dari sini kalau Locianpwe tidak suka mendengarkan penjelasan Kakakku!" Lulu yang tadinya kelihatan takut-takut itu kini melangkah maju dan bicara dengan suara membentak-bentak kepada ketua Siauw-lim-pai .
Jari-jar itangan kiri Ceng San Hwesio menggerak-gerakkan tasbihnya ketika ia memandang Lulu ,alisnya berkerut dan ia bertanya halus, "Nona muda, siapakah namamu?"
"Namaku Lulu dan aku adalah adik Kakakku Han Han ini."
"Nona bukan murid Hoa-san-pai?"
"Bukan, juga Kakakku bukan murid Hoa-san-pai, bukan pula murid Gak Liat.”
Bibir hwesio tua itu tersenyum. "Hem, Nona bicara tidak karuan. Kalau bukan murid Hoa-san-pai, bagaimana pedang Cheng-kong-kiam bisa berada di tangan-mu? Pedang itu adalah pedang pusaka Hoa-san-pai dan biasanya hanya dipergunakan oleh fihak pimpinan Hoa-san-pai."
"Ohhh, itu? Pedangku yang dirampas oleh hwesio jahat ini? Sama saja dengan hwesio itu, Locianpwe, aku merampas dari tosu Hoa-san-pai?”
"Hemmm, merampas dari tosu Hoa-san-pai?"
"Apa bedanya dengan hwesio ini? Dia pun merampas pedangku! Aku diserang tosu Hoa-san-pai dan aku merampas pedangnya."
Tiba-tiba Ceng To Hwesio maju dan berkata, "Nona muda yang lancang mulut. Benarkah engkau Adik pemuda ini? Pinceng tidak percaya!"
Lulu membelalakkan matanya kepada hwesio yang dibencinya itu, yang telah memegang pedangnya. "Kau percaya atau tidak bukan urusanku! Aku adalah adik angkat Kakakku ini dan aku tidak membutuhkan kepercayaanmu!"
"Suheng, gadis ini adalah keturunan Mancu!" tiba-tiba Ceng To Hwesio berkata. "Lihatlah matanya, lihat hidungnya dagunya Dia berdarah Mancu!”
" Memang aku gadis mancu, habis engkau mau apa?" .
" Omitohud……kalau begitu benar. Mereka ini adalah mata-mata penjajah yang dipergunakan untuk mengadu domba antara Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai. Bocah kejam, terpaksa pinceng. Turun tangan kepadamu!" Ceng San Hwesio berseru dan tiba-tiba dia menggerakkan kaki maju dua langkah dan tangan kanan-nya mendorong ke depan, mencengkeram ke arah pundak Han Han.
Pemuda yang sudah sakit-sakit rasa tubuhnya ini ketika mendengar suara mencicit keluar dari tangan ketua Siauw-lim-pai, terkejut bukan main. Cepat ia miringkan tubuh, agak merendah dan dengan nekat ia mengangkat tangan menangkis ke arah tangan hwesio yang terulur itu.
" Plakkk!”
" Omitohud…..,mentakjubkan!" CengSan Hwesio berseru dan meloncat ke
belakang untuk mematahkan daya dorong yang dapat. merusak kuda-kuda kakinya. Akan tetapi Han Han terpental ke belakang dan roboh terguling-guling. Ternyata bahwa dalam hal tenaga, bahkan kakek ketua Siauw-lim-pai ini sendiri tak mampu mengatasi Han Han, akan tetapi karena kakek ini amat lihai, ketika tangan mereka bertemu tadi Ceng San Hwesio telah menggerakkan pergelangan tangan sehingga Han Han terdorong dari samping dan kena dilontarkan ke belakang!.
"Kalian benar-benar menghendaki nyawaku? Hemmm…….majulah, aku Sie Han bukannya orang yang takut mati!" bentak Han Han, kemarahannya membuat wajahnya menjadi merah sekali dan kelihatannya beringas menyeramkan, sinar maut terpancar dari sepasang matanya. Ceng San Hwesio maklum bahwa anak muda ini benar-benar merupakan bahaya dan bahwa kalau dia sendiri tidak turun tangan, tentu akan sukar bagi murid-muridnya menundukkan Han Han tanpa mengorbankan nyawa banyak anak murid Siauw-lim-pai lagi. Sebagai ketua Siauw-lim-pai, tentu saja dia berpantang membunuh, akan tetapi karena maklum bahwa pemuda ini sukar dikalahkah dan memiliki sinkang yang amat luar biasa, ia lalu melangkah maju, siap menurunkan tangan menyerang. Juga Ceng To Hwesio bersama tiga orang muridnya sudah maju mengurung Han Han yang beringas dan marah sedangkan Lulu masih berdiri terbelalak penuh kekhawatiran memandang kakaknya.
Keadaan itu amat menegangkan, terutama sekali bagi Lulu yang seolah-olah melihat betapa kakaknya yang tercinta itu hendak disembelih, hendak dibunuh di depan matanya. Ia amat bangga dan yakin akan kelihaian kakaknya, akan tetapi kini ia mengerti bahwa kakaknya bukanlah lawan hwesio-hwesio yang saktii ini. Ia pun bersiap-siap untuk menyerbu untuk membela kakaknya, karena kalau sampai kakaknya tewas, ia pun tidak mau hidup lebih lama lagi ingin mati disamping kakaknya. Dalam detik seperti itu terasa benar di hati Lulu betapa ia mencinta kakaknya, betapa di dunia ini dia tidak punya siapa-siapa lagi, betapa hidupnya akan kosong dan hampa kalau Han Han mati. Perasaan ini seperti duri-duri menusuk jantungnya, membuat Lulu tanpa disadarinya memekik nyaring.
"Koko……! Aku ingin mati bersamamu……!”
Jeritan melengking yang keluar dari mulut Lulu ini langsung keluar dari hatinya, maka mengandung getaran hebat. Ceng San Hwesio bersama sutenya dan tiga orang muridnya itu, sudah siap menerjang maju membinasakan Han Han tergetar oleh jeritan ini. Mereka adalah hwesio-hwesio y.ang berilmu, hwesio-hwesio yang mengutamakan kebajikan yang penuh dengan welas asih dan cinta kasih terhadap sesama hidup. Mereka sama sekali bukanlah orang-orang kejam, bahkan mereka telah berhasil mengusir jauh-jauh nafsu kebencian. Kalau mereka hendak turun tangan membunuh Han Han, hal ini dilakukan dengan perasaan demi menjaga keutuhan den kelangsungan Siauw-lim-pai yang terancam kedudukannya. Kini mendengar lengking itu, hati mereka tertusuk dan sejenak mereka berdiri melongo memandang Han Han yang berdiri dengan muka beringas dan darah mengalir dari pundak, hidung dan ujung bibirnya.
Pada detik-detik yang sunyi itu terdengarlah suara halus yang seolah-olah terbawa asap dupa yang mengepul keluar dari balik daun pintu tertutup sebelah kiri, suara yang penuh getaran pula.
"Siancai…..,hidupnya belum terisi, mengapa ingin mati? Aduhai, sebentar lagi tubuh itu terbujur di dalam tanah, busuk menjijikkan, tanpa kesadaran, tidak ada, gunanya seperti kayu habis dimakan api….! Omitohud….,Ceng San…., apa yang hendak kaulakukan di luar? Kesinilah segera!"
Mendengar suara ini, lima orang hwesio yang mengurung Han Han itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut dengan muka menghadap daun pintu tertutup dari mana mengepul keluar asap dupa harum itu. Kemudian Ceng San Hwesio lalu melompat sambil berlutut dan tubuhnya yang masih berlutut itu melayang ke arah daun pintu, tangan kanan mendorong daun pintu terbuka dan tubuhnya terus meluncur masuk ketika daun pintu itu tertutup kembali. Han Han memandang penuh kagum. Mengertilah ia bahwa kepandaiannya masih amat jauh ketinggalan kalau dibandingkan dengan hwesio-hwesio tokoh Siauw-lim-pai ini. la maklum bahwa biarpun Ceng San Hwesio sudah pergi, namun tetap saja ia tidak akan dapat menghindarkan diri dari maut kalau ia melawan Ceng To Hwesio, apalagi jika hwesio sakti ini dibantu oleh tiga orang muridnya. Maka ia lalu menggandeng tangan Lulu dan berlarilah Han Han menuju ke pintu yang tadi dimasuki Ceng San Hwesio.
"Hei, berhenti kau….!” Ceng To Hwesio membentak dan ketika Han Han tidak mempedulikannya, Ceng To Hwesio mengirim pukulan jarak jauh dari belakang. Kembali Han Han mendengar suara bercuit dari belakang dan ia maklum bahwa ia dipukul dengan hawa sakti yang amat kuat. Maka ia cepat menarik tubuh Lulu agar berlindung di belakang, kemudian. ia membalik sambil menggerakkan tangan menangkis. Namun tetap saja tubuhnya terlempar bersama tubuh Lulu, menabrak dinding akan tetapi malah dekat dengan pintu itu yang cepat ia buka sambiI melompat masuk dan menarik tangan adiknya. Kepalanya pening sekali, napasnya sesak dan kemarahannya makin memuncak.
"Koko, kita ke mana ?" tanya Lulu terengah-engah.
"Biarlah…..akan kucari Ceng San Hwesio….kalau perlu aku mati bersama dia! Aku akan mengadu nyawa dengan ketua Siauw-lim-pai….,mati di tangannya tidak penasaran.”
"Koko…..!" Lulu menjadi pucat akan tetapi ketika ia menengok dan melihat betapa Ceng To Hwesio dan tiga orang muridnya tidak berani mengejar, bahkan sudah berlutut lagi menghadapi pintu, hatinya menjadi lega. Memang tidak seorang pun hwesio Siauw-lim-pai, termasuk ketuanya, berani memasuki kamar-kamar yang daun pintunya berjajar diruangan luas sebelah belakang kuil ini. Itulah kamar-kamar yang disebut "ruangan penyiksaan diri" dan merupakan tempat terlarang bagi para hwesio lainnya. Kalau tadi tidak medengar suara supek-nya memanggil, Ceng San Hwesio sendiri tidak akan berani memasuki kamar melalui daun pintu itu. lnilah sebabnya mengapa Ceng To Hwesio dan tiga orang muridnya tidak berani mengejar Han Han dan Lulu yang memasuki kamar terlarang ini.
Dengan alis berkerut dan wajah masih beringas darah masih menetes-netes dari hidung dan mulut sebagai akibat gempuran pukulan terakhir Ceng To Hwesio tadi, mata masih berkunang dan kepala berdenyut-denyut, Han Han memasuki lorong yang menembus pintu tadi, dipegang lengannya oleh Lulu yang memandangnya penuh kekhawatiran. Han Han seperti terbetot asap dupa harum karena kakinya bergerak melangkah maju menempuh asap dupa dan menghampiri kamar dari mana dupa itu mengepul keluar. Ia melangkah ke ambang pintu kamar itu dan berdiri tertegun sambil memegangi pundaknya yang terasa perih karena darahnya keluar lagi ketika terbanting tadi. Seperti terpesona. Han Han memandang ke dalam kamar sedangkan Lulu yang juga memandang ke dalam kamar dan melihat tiga orang hwesio di .kamar itu, memandang kakaknya dengan hati gelisah. Dengan sinar matanya ia seolah-olah hendak melarang kakaknya turun tangan, karena betapa mungkin kakaknya melawan tiga orang hwesio tua itu?
Ternyata Han Han tidak turun tangan, bahkan berdiri seperti arca, terpesona oleh pemandangan den pendengaran di dalam itu. Di atas sebuah dipan bamboo sederhana duduk seorang hwesio yang amat tua, begitu tua dan kurusnya seperti rangka terbungkus kulit. Kepalanya gundul halus mengeluarkan sinar, alis, kumis dan jenggotnya Seperti menjadi satu berjuntai ke bawah berwarna putih, mukanya tunduk dan matanya terpejam, tubuhnya terbungkus kain kuning yang kasar dan tangan kanannya memegang sebuah kipas daun. Hwesio ini duduk bersi!a dan di sebelah kirinya, di dekat kaki dipan, duduk bersila sambil menundukkan muka pula seorang hwesio lain yang keningnya selalu berkerut, mulutnya cemberut dan matanya terpejam. Hwesio ini pun sudah tua sekali, dan agaknya dialah yang melayani segala keperluan hwesio tua di atas dipan. Sebuah pedupaan berada di dekat hwesio pelayan ini dan agaknya dia pula yang membakar dupa bubuk di pedupaan itu. Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim-pai tampak duduk berlutut di depan hwesio tua renta itu dengan sikap penuh hormat. Kamar itu sendiri kosong dan buruk tua, tidak ada hiasan apa-apa kecuali dipan itu dan sebuah meja kayu di mana terdapat sebuah guci air.
Terdengar oleh Han Han suara yang halus seperti suara tadi yang keluar dari daun pintu bersama asap dupa dan sungguhpun bibir kakek tua itu tidak bergerak, namun ia dapat menduga bahwa itulah suara hwesio tua yang bersila diatas dipan.
"Jangan menilai perbuatan orang lain yang tidak patut maupun dosa-dosa dan kejahatan orang lain, melainkan perbuatan dan penyelewengan diri sendirilah yang harus selalu diperhatikan. Harum semerbaknya bunga-bunga tagara, malika dan kayu cendana tak dapat tersebar melawan arahnya angin, akan tetapi harum semerbaknya nama baik seseorang bahkan sampai tersebar melawan arahnya angin. Sama seperti dionggokan sampah kotor tumbuh bunga teratai yang bersih dan indah, demikian pula seorang murid Buddha tetap bijaksana seperti teratai diantara orang-orang sesat. Wahai, Ceng San, apakah engkau sudah melupakan semua pelajaran itu?"
Han Han terpesona, tak berani bergerak dan tak berani berkedip, memandang kakek tua itu dan mendengarkan kata-katanya. Ia pernah membaca kata-kata yang keluar dari dalam mulut kakek itu, mengenal kata-kata itu dari kitab-kitab Agama Buddha yang pernah dibacanya. Akan tetapi entah bagaimana dia sendiri tidak mengerti, mendengar kata-kata bersajak itu keluar dengan suara getaran aneh dari tubuh hwesio ini, terasa dingin sejuk dan sekaligus membuka mata batinnya, membuatnya terpesona dan ingin mendengarkan terus.
"Teecu selalu ingat akan semua pelajaran dan tidak pernah melupakannya. Akari tetapi, Supek, urusan yang melanda Siauw-lim-pai ini adalah urusan besar sekali. Teecu bukan bertindak berdasarkan dendam kebencian melainkan karena ingin menjaga nama besar Siauw-lim-pai. Siauw-lim-pai yang didirikan ratusan tahun yang lalu oleh Couwsu kita, kalau tidak dijaga dan dipertahankan, bukankah hal itu merupakan dosa besar terhadap Couwsu? Siauw-lim-pai diadu domba dengan Hoa-san-pai, murid-murid Siauw-lim-pai pilihan telah dibunuh orang, kini pembunuhnya muncul pula di kuil kita dan membunuh pula murid-murid Siauw-lim-pai, bahkan mengajak datang seorang gadis Mancu mengotori kuil kita. Mohon petunjuk, Supek. Apakah teecu bersikap dungu kalau teecu hendak membasmi manusia sesat dan keji itu dari permukaan bumi agar perbuatan-perbuatannya tidak menimbulkan mala petaka yang lebih hebat lagi? Tidak benarkah perbuatan teecu seperti itu?"
Terdengar suara halus itu keluar dari balik jenggot tanpa pergerakan bibir dan kini suara itu mengeluarkan nyanyian halus yang ternyata adalah ayat-ayat kitab suci dari Agama Buddha yang pernah pula dibaca Han Han:
"Si dungu dengan perbuatannya
mencipta diri sendiri
menjadi musuh banyak manusia
di mana pun dia melakukan kejahatan
yang menimbulkan banyak penderitaan.
Tidak benarlah perbuatan
yang menimbulkan duka nestapa
penyesalan, ratap tangis dan air mata.
Benarlah perbuatan
yang mendatangkan manfaat
kegembiraan dan kebahagiaan.”
Biarpun ucapan itu ditujukan kepada Ceng San Hwesio, namun secara aneh sekali meresap ke dalam sanubari Han Han dan pemuda ini merasa seolah-olah ucapan itu ditujukan kepada dirinya sehingga menimbulkan pertanyaan di hatinya apakah selama ini perbuatannya itu benar? Ia mengangapnya benar, akan tetapi melihat akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perbuatannya, setelah mendengar ucapan kakek itu, ia menjadi ragu-ragu. Betapa banyaknya kekacauan dan keributan timbul sebagai akibat perbuatan-perbuatannya itu! Siapakah yang untung, gembira dan bahagia oleh perbuatannya? Tidak ada? Siapa yang rugi! Yang jelas saja, Hoa-san-pai memusuhi nya karena dia telah membunuh beberapa orang anak muridnya, kini Siauw-lim-pai juga memusuhinya, belum lagi diingat Sin Lian yang begitu baik kepadanya kini menjadi sakit hati dan membencinya!
Dengan hati perih seperti ditusuk pedang dan perasaan penuh keharuan, Han Han lalu menjatuhkan diri berlutut dan menghadap ke arah kakek di atas dipan itu sambil berkata.
"Aduh, Locianpwe yang mulia……., boanpwe Sie Han merasa menyesal sekali atas segala kejahatan yang boanpwe lakukan……mohon Locianpwe segera turun tangan menghukum……"
Lulu juga berlutut, bukan berlutut untuk menghormat kakek itu melainkan untuk merangkul pundak kakaknya dengan penuh kekhawatiran. "Koko, mengapa begini? Kita tidak bersalah apa-apa, engkau tidak melakukan kejahatan. Mari kita pergi saja, Koko….., kalau mereka tidak sudi mendengarkan penjelasanmu, mari kita pergi saja !" Suara Lulu terdengar begitu menyedihkan dan sepasang mata yang lebar itu mengucurkan air mata.
"Diamlah, Lulu, diamlah……biarkan Kakakmu mendengarkan wejangan Locianpwe yang mulia ini, dan kau juga…..perlu mendengarkan, Lulu….." kata Han Han tanpa mengalihkan pandang matanya dari wajah kakek tua renta yang masih menunduk.
Sementara itu, tanpa mempedulikan kehadiran Han Han dan Lulu, Ceng San Hwesio berkata pula dengan suara penasaran, "Mohon maaf, Supek. Kalau Supek menganggap bahwa keputusan teecu untuk membunuh pemuda jahat itu tidak benar, habis bagaimanakah teecu harus berbuat menurut pendapat Supek? Teecu mengambil keputuan berdasarkan pertimbangan yang masak dan adil. Pertama, bocah ini adalah murid Gak Liat dan mengingat betapa Gak Liat telah merusak hidup cucu murid teecu sendiri, Bi-kiam Bhok Khim maka berarti bahwa muridnya ini pun bukan manusia baik-baik……”
Tiba-tiba terdengar suara keras dan dinding tebal di sebleah kanan jebol dan berlubang besar, kemudian muncullah seorang wanita dari dalam lubang itu, seorang wanita yang memondong seorang anak laki-laki berusia kurang lebih enam tahun, dan keadaan wanita itu sungguh mengerikan. Pakaiannya hitam compang-camping, rambutnya panjang riap-riapan sampai ke pinggul, wajahnya yang masih jelas membayangkan kecantikan itu kotor dan menyeramkan sekali karena pandang matanya berkilat dan mulutnya tersenyum mengejek. Anak laki-laki itu tampan dan mukanya putih, juga memakai pakaian hitam yang tidak karuan bentuknya, kaki nya telanjang dan rambutnya pun panjang.
"Hi-hi-hik! Biar gurunya jahat, murid-nya mungkin baik. Biar gurunya baik, banyak sekali muridnya yang jahat. Kang-thouw-kwi adalah setan neraka jahanam, akan tetapi bocah ini tidak jahat. Sama sekali tidak……dia berani menentang setan itu dahulu untuk menolongku."
Sementara itu, Ceng San Hwesio memandang wanita itu dengan mata terbelalak, dan setelah wanita itu mengeluarkan kata-kata tadi, barulah ketua Siauw-lim-pai ini agaknya dapat menekan kekagetannya dan berkata, "Bhok Khim...!Kau…. kau…. dan anak itu…."
Wanita itu membalikkan tubuhnya menghadapi ketua Siauw-lim-pai yang masih berlutut, wajahnya berseri aneh ketika ia berkata, "Hi-hi-hik, Sukong, engkau heran melihat anak ini? Dia ini anakku! Hi-hik, engkau ketua Siauw-lim-pai pun tidak tahu bahwa di dalam kamar penyiksa diri aku melahirkan anakku ini. Hi-hik! Selama ini Siauw-lim-pai tidak mampu membasmi Kang-thouw-kwi, biarlah aku sendiri yang akan membunuhnya." Sambil berkata demikian,tubuhnya membalik dan berkelebat cepat sekali pergi dari ruangan itu.
"Supek, apakah artinya itu? Mengapa Bhok Khim menjadi seperti itu….?” Ceng San Hwesio bertanya kepada supeknya.
Hwesio tua itu menarik napas panjang lalu terdengar suaranya, "Kehendak Thian tak dapat diubah oleh siapapun juga. Dia telah mencuri belajar ilmu yang pinceng berikan kepada Siauw Lam, dan keadaan jiwanya yang tertekan membuat ia keliru mempelajari ilmu-ilmu itu. Dunia akan bertambah seorang tokoh yang akan membikin geger. Ceng San muridku, orang muda ini seorang yang menderita, sama halnya dengan Bhok Khim tadi. Betapun juga, pinceng tidak melihat dasar-dasar jahat. Menurut pinceng, sebaiknya membebaskan orang muda ini, akan tetapi karena engkau yang menjadi ketua Siauw-lim-pai, keputusannya terserah kepadamu. Nah, cukuplah pinceng bicara."
Ceng San Hwesio memberi hormat lalu bangkit berdiri, mukanya agak keruh ketika ia berkata, "Mendengar perintah Supek, bagaimana teecu berani membantahnya? Biarlah sesuai dengan perintah supek, teecu akan membebaskan. Dia dan gadis Mancu itu untuk sekali ini. Akan tetapi, mengingat akan kematian para murid-murid, teecu tidak mungkin dapat membebaskan dia untuk seterusnya dan lain kali dalam lain kesempatan, tentu teecu akan memerintahkan untuk menangkap dan kalau perlu membunuh dia." Setelah berkata demikian, kembali Ceng San Hwesio memberi hormat kepada supeknya, lalu membalikkan tubuh keluar dari kamar itu dengan wajah muram.
"Siancai……, siancai……, lahir dan batin memang selalu bertentangan, betapa mungkin disatukan? Siauw Lam, tahukah engkau, apa yang harus dilakukan manusia yang hidup di tengah antara dua kekuatan raksasa lahir dan batin?" Kakek itu bertanya tanpa menoleh
Hwesio pelayan yang bernama Siauw Lam Hwesio, masih duduk bersila. Dan kini terdengar suaranya yang pertama kali, suara yang kasar dan serak seperti kaleng diseret.
"Karena sifatnya bertentangan, menyatukannya berarti menghentikan hidup karena justeru keadaan hidup yang membuat keduanya bertentangan. Yang seyogianya dilakukan manusia adalah menyesuaikan dan menyelaraskan keduanya sehingga berimbang."
"Baik sekali pendapatmu, Siauw Lam. Eh, orang orang muda, engkau masih di sini? Apakah yang kaukehendaki?"
Han Han yang sejak tadi masih berlutut, lalu menjawab, "Boanpwe yang banyak melakukan hal-hal yang menimbulkan malapetaka bagi orang lain, boanpwe merasa bingung sekali dan mohon peunjuk Locianpwe apa yang harus boanpwe lakukan selanjutnya dalam hidup yang penuh pertentangan ini."
Kini tubuh hwesio tua itu bergerak sedikit, mukanya diangkat menghadapi Han Han dan mata yang terpejam itu bergerak-gerak, terbuka sedikit, menyipit, akan tetapi kagetlah Han Han ketika dari balik garis mata itu menyambar keluar sinar mata yang lembut dan tenang sekali, setenang lautan yang luas.Sejenak mereka saling pandang dan kalau sinar mata Han Han yang pada saat itu masih dikuasai kemarahan itu dapat di umpamakan api bernyala-nyala, maka.sinar mata kakek itu seperti air yang tenang dan dingin. Di dalam sinar mata Han Han terdapat pengaruh mujijat yang membawa isi pikirannya dengan tenaga batin yang luar biasa kuatnya sehingga kakek itu merasa betapa dia dipaksa oleh tenaga gaib untuk memberi petunjuk kepada orang muda itu. Kakek yang puluhan tahun lamanya mengasingkan diri dan bertapa ini, mengeluarkan suara halus penuh kekaguman.
"Siancai……patut dikasihai orang muda yang malang. Pinceng hanya dapat memberi dua nasihat kepadamu. Pertama ambillah pedang dan potonglah kaki kiri mu. Dan ke dua, belajarlah mengalah terhadap siapapun juga. Nah, pergilah orang muda."
Han Han masih berlutut, mukanya pucat dan matanya terbelalak, hampir ia tidak percaya akan ucapan kakek itu.Tadinya ia amat terpesona dan terpengaruh oleh semua ucapan kakek itu, akan tetapi bagaimana kini kakek itu memberi nasihat seperti ini kepadanya? Disuruh membuntungi kakinya sendiri! Kalau disuruh belajar mengalah ia masih dapat menerimanya, akan tetapi disuruh membuntungi kaki sendiri?
"Eh, hwesio tua, kiranya engkau pun sarna saja, sama jahatnya dengan yang lain-lain! Apakah semua orang di sini sudah begitu palsu sehingga perlu menyembunyikan sifat jahat dan dengkinya di balik kepala gundul dan pakaian pendeta? Hanya orang gila yang menasihati orang disuruh membuntungi kakinya, dan hanya orang gila pula yang akan menuruti nasihat gila itu!" Lulu membentak dan kini bangkit berdiri, menarik tangan kakaknya sehingga Han Han pun bangkit berdiri pula. Akan tetapi kakek. Yang dimakinya itu telah bersamadhi pula dan sama sekali tidak terpengaruh, wajah yang seperti tengkorak terbungkus kulit itu seperti telah mati. Hanya hwesio pelayan itu yang kini mengangkat mukadan tiba-tiba matanya terbuka sambil berkata.
"Nona, memang dunia ini seperti panggung orang-orang gila bermain komidi, gila oleh nafsu mereka sendiri. Harap kalian pergi dan jangan mengganggu kami.
"Lulu menjadi makin marah. Ia kaget melihat sinar mata hwesio pelayan itu seperti dua bola api menyerangnya, akan tetapi gadis itu memiliki keberanian luar biasa kalau dia merasa benar. " Memang penuh orang-orang gila dan kalian lebih gila daripada orang-orang gilla!” teriaknya. "Apa artinya hidup kalian ini? Apakah gunanya bertapa mengasingkan diri di sini? Apa untungnya bagi dunia? Apa manfaatnya bagi manusia lain? Paling-paling berguna dan bermanfaat bagi diri kalian sendiri. Phuhhh, berlagak suci dan……”
“Lulu, diam…..!" Han Han terkejut sekali mendengar keberanian adiknya yang memaki-maki seorang hwesio tua yang dijadikan junjungan oleh para murid Siauw-lim-pai. Ia sudah menarik tangan adiknya diajak berlari keluar dari kamar itu. Mereka berdua terus berlari keluar melalui ruangan belakang, ke ruangan tengah kemudian terus ke ruangan luar. Mereka melihat para hwesio Siauw-lim-pai, akan tetapi mereka semua seolah-olah tidak melihat dua orang muda yang berlari keluar itu. Yang membersihkan kuil tetap bekerja, yang membaca doa tidak menghentikan tugas mereka, Dan yang menjaga di luar pun seolah-olah tidak melihat mereka.
Han Han menggandeng tangan Lulu, berlari terus sampai jauh meninggalkan kuil dan setelah mereka memasuki sebuah hutan, barulah Han Han melepaskan tangan Lulu, kemudian ia duduk bersila dan mengatur pernapasan untuk memulihkan tenaganya dan menenangkan batinnya yang terguncang. Akan tetapi, biarpun ia tidak menderita luka parah, tubuhnya terasa sakit-sakit, sungguhpun rasa nyeri di tubuhnya tidak seperti rasa perih dihatinya kalau ia terkenang akan ucapan-ucapan hwesio tua di datam kamar penyiksa diri yang seolah-olah membuka mata batinnya betapa sepak terjangnya selama ini mendekati perbuatan sesat, betapa mudahnya ia membunuhi orang-orang yang tidak berdosa, membunuhi orang-orang gagah murid-murid Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai. Hatinya merasa menyesal sekali dan pikirannya menjadi bingung.
****
Sebuah negara betapa kecil pun, tak kan mungkin dapat ditundukkan dan di jajah negara lain yang lebih besar apa bila rakyatnya bersatu-padu dan berjiwa patriotik, memiliki rasa cinta kasih dan setia bakti kepada tanah airnya. Sebaliknya, betapapun besarnya negara itu, kalau rakyatnya tidak bersatu, dan banyak pula yang berjiwa pengkhianat, negara besar ini mudah saja dijajah oleh negara.yang jauh lebih kecil. Sebagaimana tercatat dalam sejarah,Tiongkok merupakan negara amat besar yang rakyatnya selalu bertentangan sendiri satu kepada yang lain. Perang saudara tak pernah berhenti karena oknum-oknum yangi memperebutkan kedudukan. Apabila ada negara asing yang datang menyerbu dan menjajah barulah bersatu, melupakan permusuhan antara saudara sendiri den bersama-sama menghadapi musuh asing. Sayang sekali, begitu musuh asing dapat diusir keluar dari tanah air pertentangan satu sama lain timbul kembali, memecah-mecahah kekuatan mereka sehingga memungkinkan masuknya kekuatan asing lain lagi ke dalam negeri.
Ketika bangsa Mongol menyerbu Tiongkok, negara ini pun sedang dalam keadaan kacau dan rusak oleh perang saudara sehingga menjadi lemah dan mudah saja ditaklukkan dan dijajah bangsa Mongol.
Setelah seluruh negeri dijajah bangsa Mongol, barulah rakyat bersatu-padu dan tentu saja rakyat yang luar biasa besar jumlahnya itu tidak sukar merobohkan kekuasaan Mongol dan mengusir penjajah ini. Akan tetapi, begitu penjajah Mongol terusir, timbul kembali perang saudara yang tak kunjung henti, susul-menyusul yang melemahkan negara itu sendiri. Karena perang saudara inilah maka kekuasaan Mancu mulai menyelundup memasuki Tiongkok. Dengan dukungan para oknum penjilat yang tidak segan-segan menjual negara dan bangsa demi sekelumit kesenangan duniawi bagi diri pribadi, cepat sekali bangsa Mancu menguasai Tiongkok. Cerita ini dimulai pada tahun 1645 di mana tentara Mancu menyerbu ke selatan dan sekarang, delapan tahun kemudian, hampir seluruh Tiongkok dikuasai bala tentara Mancu yang mempunyai kaisar baru, yaitu Kaisar Kang Hsi, kaisar ke empat dari Kerajaaan Ceng-tiauw atau kerajaan bangsa itu.
Di bawah pimpinan Kaisar Kang His inilah diadakan pembersihan secara besar-besaran terhadap para pejuang yang mempertahankan tanah air menentang penjajah Mancu. Para pejuang melakukan perlawanan mati-matian dan sebagai pusat perjuangan, atau sebagai pucuk pimpinan gerakan para pejuang ini bersumber di Se-cwan di mana Bu Sam Ki menjadi raja muda yang tak pernah mau tunduk terhadap penjajah Mancu.
Seperti lajim dalan jaman perang seperti itu, golongan-golongan terpecah dua, juga golongan kaum kang-ouw. Banyak di antara mereka yang terjun ke dalam perjuangan menentang kekuasaan Mancu, akan tetapi tidak sedikit pula yang mempergunakan kesempatan itu untuk mencari kedudukan, kemuliaan dan kemewahan secara mudah, yaitu menjadi pembantu pemerintah Mancu dan menen¬tang bangsa sendiri yang oleh fihak me¬reka disebut pengacau dan pemberontak.
Tanpa disadari oleh manusia sendiri, kehidupan manusia semenjak masih kanak-kanak dan mulai memiliki pengertian tentang perbedaan, tentang baik buruk, senang susah, rugi untung, enak tidak enak, sepenuhnya dicengkeram dan dikuasai oleh nafsu-nafsu mementingkan diri pribadi, nafsu mencari kesenangan duniawi bagi diri pribadi. Namun, karena pada dasarnya manusia memiliki sifat kebajikan, maka terjadilah perang di dalam hati nurani manusia sendiri. Satu fihak merupakan dorongan nafsu yang mendorong manusia memperebutkan kesenangan bagi diri pribadi, di lain fihak merupakan kesadaran manusiawi yang mencegah manusia melakukan perbuatan¬-perbuatan yang tidak benar. Maka lahirlah perbuatan-perbuatan yang sesungguhnya merupakan hamba nafsu namun yang berkedok kebenaran! Perbuatan yang dilakukan demi dorongan nafsu mementing¬an diri pribadi terhibur oleh anggapan bahwa perbuatan itu demi kebenaran. Otak dan akal manusia tidak kekurangan bahan untuk mencari “kebenaran” yang menopengi perbuatan menghamba nafsu ini. Ada saja alasan, yang diperaya pula oleh diri sendiri, bahwa perbuatan ini adalah benar dan demi kebenaran! De¬ngan demikian, setiap perbuatan di dunia ini selalu dianggap benar oleh si pembuat sendiri, dan terciptalah pertempuran-pertempuran dalam memperebutkan ke¬benaran! Benarnya sendiri-sendiri! Benarnya masing-masing! Benar bagi diri sen¬diri yang belum tentu benar bagi fihak lain. Dan terciptalah KEBENARAN NAF¬SU, yaitu bahwa apa saja yang menda¬tangkan enak, senang dan untung bagi AKU, maka itu adalah BENAR!
Negara adalah wadah sekumpulan manusia yang dipimpin deh manusia pula, oleh karena itu, kebenaran nafsu itu pun dianutnya. Bangsa Mancu yang men¬jajah itu pun menganggap mereka benar! Mudah saja! Negara Tiongkok kacau-balau, perang saudara tiada hentinya, rakyat hidup sengsara, ditindas oleh raja-raja muda dan oleh mereka yang berkuasa, terjadi hukum rimba! Kami, bangsa Man-cu, datang untuk membebaskan rakyat daripada jurang kesengsaraan, kami da¬tang untuk berusaha mendatangkan kebahagiaan bagi rakyat. Karena itu, serbuan bangsa Mancu ke selatan adalah benar pula! Sungguhpun harus diakui bah¬wa akal budi membuat mereka mencari alasan yang cukup kuat dan memang kenyataannya demikian, namun pada ha¬kekatnya yang bersembunyi di balik se¬mua itu adalah keuntungan! Keuntungan yang didapat dalam penjajahan ini, yang sekaligus membuat bangsa Mancu me¬miliki negara yang amat besar dengan penghasilan yang melimpah-limpah serta harta benda yang amat banyak.
Perasaan benar ini bukan dibuat-buat dan memang setulusnya mereka itu me¬rasa dirinya benar. Nafsu-nafsu telah menyelubungi kesadaran batin manusia, seperti mendung-mendung hitam tebal menyelubungi sinar matahari. Kegelapan menyelimuti kesadaran sehingga mereka itu tidak sadar lagi bahwa mereka men¬jadi permainan dan hamba-hamba nafsu. Banyak sekali orang yang menjadi korban seperti ini, menganggap bahwa apa yang diperjuangkan itu benar dan suci sehingga rela dibela mati-matian.
Demikian pula, di dalam Kerajaan Ceng, banyak terdapat orang-orang gagah yang membela gerakan Mancu ini mati-matian karena merasa bahwa apa yang diperjuangkannya itu adalah demi ke¬benaran. Terutama sekali bagi mereka yang menjadi anggauta bangsa Mancu, tentu saja menganggap bahwa berjuang membasmi para “pemberontak” adalah pekerjaan yang semulia-mulianya, peker¬jaan orang-orang gagah yang patut dipuji. Banyak sekali tokoh-tokoh kang-ouw yang ternama membantu Kerajaan Ceng-tiauw ini karena mereka itu menganggap bahwa bangsa Mancu yang gagah perkasa telah berhasil mendatangkan kemakmuran di Tiongkok, meredakan perang saudara dan mereka ini mempunyai harapan besar bahwa pemerintah baru ini benar-benar akan dapat mengangkat nasib rakyat jelata. Tentu saja ini hanya alasan mereka, karena banyak sekali di antara mereka melihat “nasib baik” mereka sendiri yang terutama sebagai landasan ban¬tuan mereka. Banyak pula datuk-datuk golongan hitam yang memiliki tingkat kepandaian amat tinggi membantu dan hal ini adalah hasil kecerdikan Pangeran Dorgan yang memegang tampuk pimpinan sebagai pengganti Kaisar Abahai karena putera kaisar itu masih sangat muda. Pangeran Dorgan memang cerdik sekali. Pandai mengambil hati para orang pan¬dai dan tidak regu-ragu untuk mengeluar¬kan biaya besar dalam usaha ini. Di antara tokoh pandai yang terus merupa¬kan pengawal-pengawal pilihan dan yang masih terus membantu setelah Kaisar Kang Hsi naik tahta, adalah Kang-thouw-kwi Gak Liat yang merupakan jago yang diajukan oleh Pangeran Ouwyang Cin Kok, seorang di antara para pangeran bangsa Han yang telah menghambakan diri kepada Kerajaan Mancu.
Pada suatu hari, para tokoh yang menjadi pengawal-pengawal istana dan penasihat-penasihat mengenai usaha Ke¬rajaan Mancu membasmi para pemberon¬tak, mengadakan pertemuan atas undang-an Pangeran Ouwyang Cin Kok. Pangeran ini telah banyak jasanya terhadap Kerajaan Mancu, telah terbukti kesetiaannya ketika berkali-kali pangeran ini dengan pengaruh¬nya yang besar dan para pembantunya yang pandai menghancurkan golongan pemberon¬tak. Karena kepercayaan yang amat besar ini, Pangeran Dorgan pada beberapa tahun yang lalu menghadiahkan seorang puteri Mancu kepada Pangeran Ouwyang Cin Kok, bahkan setelah Kaisar Kang Hsi menduduki tahta kerajaan, Pangeran Ouwyang Cin Kok yang kini telah dianggap “keluarga kaisar” telah diangkat menjadi panglima bagian ke¬amanan yang bertugas melakukan operasi pembasmian terhadap para pemberontak. Dan untuk merundingkan tugas inilah maka pada pagi hari ini Ouwyang Cin Kok meng-undang semua pembantunya dan pembantu para pembesar lain, termasuk pengawal-pengawal kaisar sendiri ke dalam istananya. Dengan pakaian kebesaran sebagai seorang pangeran Kerajaan Ceng-tiauw, Pa¬ngeran Ouwyang Cin Kok duduk di atas se¬buah kursi yang terukir indah sekali. Pange¬ran ini usianya sudah enam puluh tahun, akan tetapi masih tampak tampan dan gan¬teng, tubuhnya tinggi besar mukanya me¬rah, pakaiannya indah rapi dan rambut ser¬ta jenggot kumisnya juga terpelihara baik-baik. Di sebelah kirinya duduk seorang wa¬nita Mancu yang cantik, bermata tajam lin¬cah, usianya tiga puluh tahun lebih, tubuh¬nya montok dan menggairahkan. Itulah pu¬teri Kerajaan Mancu, puteri selir Pangeran Dorgan yang diberikan sebagai hadiah kepada Ouwyang Cin Kok dan kini menjadi selir terkasih pangeran ini. Selir ini paling dikasihi, bukan hanya karena cantik mon¬tok dan mudanya, melainkan juga terutama sekali karena selir ini menjadi “lambang” kekuasaannya, sebagai pangeran mantu Kerajaan Mancu! Dan untuk mem¬perlihatkan kedudukannya yang tinggi ini pulalah maka ketika menyambut datang¬nya tokoh-tokoh berilmu yang membantu kerajaan baru, Ouwyang Cin Kok di¬temani oleh sang selir.
Dengan dikipasi kebutan terbuat dari bulu-bulu indah burung dewata, dilayani oleh para pelayan wanita muda-muda dan cantik-cantik, Ouwyang Cin Kok dan selirnya itu duduk menanti kunjungan para tokoh berilmu. Berturut-turut mereka datang menghadap dan dipersilakan duduk di ruangan itu yang telah diatur untuk menerima kunjungan mereka.
Yang pertama kali muncul adalah putera Sang Pangeran sendiri, Ouwyang Seng murid terkasih dari Kang-thouw-kwi Gak Liat, se¬orang pemuda tinggi tegap yang berwajah tampan berpakaian indah, pesolek dan amat tinggi ilmu kepandaiannya karena dia telah mewarisi Hwi-yang Sin-ciang gurunya. Ber¬sama pemuda ini datang pula Nirahai yang segera disambut oleh Pangeran Ouwyang Cin Kok dengan ramah, karena Nirahai adalah puteri kaisar sendiri dari selir. Tentu saja sebagai puteri kaisar, Nirahai amat dihormat. Puteri Nirahai segera berangkulan dengan selir Ouwyang Cin Kok karena selir Mancu itu masih ter¬hitung bibinya, sungguhpun bibi yang sudah jauh. Kemudian mereka berdua ini bercakap-cakap dengan asyiknya yang sama sekali tidak ada hubungannya de¬ngan tugas membasmi kaum pemberontak, melainkan percakapan antara wanita yang sudah lama tidak bertemu.
Pangeran Ouwyang Cin Kok dan pute¬ranya lalu sibuk menyambut para tokoh berilmu yang berdatangan. Kang-thouw-kwi Gak Liat datang bersama tiga orang muridnya yang lain, yaitu Hiat-ciang Ma Su Nio yang cantik dan genit, dan kedua kakak beradik Hek-giam-ong dan Pek-giam-ong. Ketiga orang murid Setan Botak ini merupakan tenaga-tenaga yang penting dan berjasa pula karena ilmu kepandaian mereka sudah amat tinggi. Selain empat orang ini, muncul pula beberapa panglima-panglima yang berpangkat tinggi, di an¬taranya adalah dua orang perwira Mancu yang terkenal berjasa dan berpengaruh. Mereka ini adalah orang-orang Mancu aseli, akan tetapi seperti juga kaisar dan para panglima dan menteri yang ber¬pangkat tinggi, mereka ini pun meng¬gunakan nama Han, dan berpakaian se¬perti pembesar-pembesar Han. Seorang di antara mereka adalah seorang panglima tinggi besar gagah menyeramkan, jeng¬gotnya yang rapi memenuhi mukanya dari rambut terus melalui pipi bersam¬bung ke dagu. Panglima ini bernama Giam Cu, nama baru. Adapun panglima ke dua juga memakai she Giam, namanya Kok Ma. Giam Cu adalah panglima golok besar, sedangkan Giam Kok Ma adalah panglima berkuda bertombak panjang, keduanya memiliki kepandaian tinggi dalam mengatur barisan, juga memiliki ilmu silat yang lihai. Kemudian muncul pula dua orang tokoh kang-ouw yang namanya menggemparkan, yaitu kakak beradik she Bhong. Mereka ini terkenal dengan julukan Tikus Kuburan, karena dahulu pekerjaan mereka adalah mem¬bongkar-bongkar kuburan baru untuk men-curi perhiasan-perhiasan yang dipakai mayat-mayat yang dikubur dan dalam hal membongkar kuburan, juga membongkar rumah, mereka adalah ahli-ahli yang sukar dicari keduanya. Yang tua bernama Bhong Lek, mukanya kaya tikus, ram¬butnya panjang riap-riapan, kumisnya jarang seperti kumis tikus, adapun Bhong Poa Sik, adiknya, mempunyai ciri yang aneh pa¬da kepalanya, yaitu bagian ubun-ubun ke¬palanya menonjol seperti telur besar.
Semua tamu dipersilakan duduk, ke¬cuali seorang yang datang paling akhir. Orang itu biarpun dipersilakan duduk, namun tetap berdiri, bahkan berdirinya aneh sekali, yaitu hanya dengan kaki kiri, sedangkan kaki kanannya diangkat menempel pada lutut kiri, persis seperti seekor burung bangau berdiri di tengah sawah! Hebatnya, orang ini pun mem¬punyai kepala yang bentuknya seperti kepala burung, bukan kepala burung yang indah, melainkan kepala burung yang diberunduli bulunya sehingga kelihatan buruk, lucu dan juga mengerikan. Lehernya panjang kecil, kepalanya kecil lonjong, kedua telinganya memakai anting-anting emas, matanya agak juling, mulutnya selalu menyeringai, tampak giginya yang panjang-panjang karena bibirnya cupet, kumisnya meruncing ke depan menyerupai paruh burung, kepalanya botak dan hanya ada beberapa helai rambut saja menambah keburukannya. Tubuhnya kecil kurus, akan tetapi perutnya gendut seperti perut anak menderita cacingan. Akan tetapi tangan kirinya memegang sebuah senjata yang menakutkan orang, bergagang panjang yang melengkung se¬perti gendewa dan ujungnya dipasangi sabit yang amat tajam. Ia berdiri di sudut seperti seekor burung mengintai katak, matanya yang juling tak berkedip-kedip, mulutnya yang menyeringai tidak bergerak-gerak, seolah-olah dia telah berubah menjadi arca yang mati!
Hanya seorang yang aneh inilah yang agaknya tidak dikenal oleh sebagian be¬sar mereka yang hadir. Yang mengenal¬nya hanyalah Puteri Nirahai, Pangeran Ouwyang Cin Kok, dan selir pangeran itu. Bahkan Ouwyang-kongcu sendiri ti¬dak mengenalnya dan pemuda ini meman¬dang tokoh itu dengan penuh keheranan.
Melihat betapa para tamunya, termasuk puteranya, memandang ke arah manusia aneh itu dengan pandang mata penuh keheranan dan pertanyaan, Pange¬ran Ouwyang Cin Kok tertawa dan memberi isyarat dengan tangan agar para pelayan yang cantik-cantik dan sedang mengeluarkan hidangan dan arak itu mun¬dur. Mereka ini menyelesaikan tugas menghidangkan makanan dan minuman, kemudian mengundurkan diri dari ruangan yang lebar itu.
“Cu-wi sekalian agaknya belum me¬ngenal tokoh ini,” kata pangeran itu sambil memandang kepada manusia berkepala seperti burung itu, “Padahal se¬menjak bangsa Mancu yang jaya bergerak ke selatan, hasil yang baik dari gerakan itu sebagian mengandalkan kelihaian tokoh ini.”
Kang-thouw-kwi Gak Liat mengerutkan alisnya sambil memandang tokoh itu dengan pandang mata merendahkan. Hatinya tidak senang mendengar betapa majikannya menyanjung-nyanjung nama orang lain. Siapakah adanya tokoh yang jasanya lebih besar daripada dia? Maka ia segera berkata sambil tertawa.
“Bangsa Mancu yang jaya adalah bangsa yang besar dan yang sudah ditakdirkan untuk menguasai seluruh dunia, semua itu berkat jasanya rakyat seluruhnya, bukan jasa perorangan. Harap Paduka sudi mem¬perkenalkan hamba kepada orang gagah ini.”
“Ha-ha-ha, Gak-lo-sicu, apa yang Lo-sicu ucapkan sungguh tepat. Bukan mak¬sud kami untuk menonjolkan jasa sese¬orang dan mengurangi jasa lain orang, karena masing-masing memiliki jasanya sendiri-sendiri. Losuhu ini adalah tokoh berasal dari Khitan yaag amat terkenal akan tetapi karena selalu menyembunyikan diri, tidak mengheranken apabila orangnya tidak dikenal, hanya namanya saja. Nirahai, keponakanku yang manis, tolonglah engkau yang memperkenalkan Ciam-losuhu kepada para Lo-sicu yang hadir.” Ucapan terakhir ini ia tujukan kepada Nirahai dengan suara yang halus dan ramah, sehingga dalam kesempatan itu, Pangeran Ouwyang Cin Kok sekalian memperlihatkan kepada yang hadir bahwa dia adalah sanak dekat kaisar dan berhak menyuruh seorang puteri kaisar begitu saja karena, bukankah puteri kaisar itu terhitung keponakan selirnya.
Nirahai adalah seorang gadis yang selain memiliki ilmu kepandaian yang tidak lumrah, juga memiliki kecerdikan melebihi kebanyakan orang. Melihat sikap tuan rumah, ia tersenyum manis dengan hati penuh maklum. Ia lalu bangkit ber¬diri, senyum menghias wajahnya menam¬bah gemilang, gerakan tubuhnya ketika bangkit begitu lemah gemulai seperti seorang penari, sama sekali tidak mem-bayangkan kesaktian seorang ahli silat.
“Tidaklah terlalu mengherankan apa¬bila Gak-cianpwe dan saudara-saudara lainnya belum mengenal Si Burung Hantu karena memang dia jarang sekali keluar di dunia ramai.”
“Apa? Sin-tiauw-kwi Ciam Tek?” Se¬tan Botak Gak Liat berseru kaget, juga para panglima dan tokoh-tokoh pengawal yang berada di situ terkejut sambil me¬mandang kakek yang memegang senjata mengerikan itu. Nama ini, terutama se¬kali julukan Sin-tiauw-kwi (Burung Raja¬wali Hantu) atau lebih terkenal lagi Si Burung Hantu, terkenal sebagai tokoh dalam dongeng di Khitan! Maka begitu kini mereka diperkenalkan dengan tokoh¬nya, biar Gak Liat sendiri memandang dengan sinar mata tidak percaya.
Nirahai mengerti akan pandang mata mereka itu, maka ia tersenyum dan ber¬kata, “Tentu cu-wi menghubungkan nama julukan itu dengan burung hantu yang kabarnya dipelihara Kaisar Khitan di jaman dahulu, bukan? Hendaknya dike¬tahui bahwa memang Ciam-locianpwe ini adalah seorang tokoh Khitan. Cu-wi ten¬tu maklum bahwa Khitan menjadi sum¬bernya orang-orang pandai. Pendekar besar tanpa tanding. Suling Emas sendiri adalah suami seorang Ratu Khitan, dan pendekar wanita sakti Mutiara Hitam adalah puteri mereka! Di samping keluarga kaisar yang memiliki kesaktian luar biasa itu, banyak pula ponggawa dan Panglima Khitan yang memiliki ilmu kepandaian hebat-hebat. Sin-tiauw-kwi Ciam Tek ini adalah satu-satunya orang yang beruntung mewarisi ilmu kepandaian peninggalan Hek-giam-lo (Raja Maut Hitam) yang amat terkenal di jamannya Pendekar Suling Emas enam tujuh abad yang lalu. Karena Khitan dan Mancu bersekutu dan berkeluarga, tentu saja semua tokoh Khitan membantu gerakan Mancu sekarang ini.”
Kang-thouw-kwi Gak Liat dan yang lain-lain mengangguk-angguk. Tentu saja mereka pernah mendengar nama-nama besar yang disebutkan gadis itu. Gak Liat lalu bangkit berdiri dan menjura ke arah Sin-tiauw-kwi Ciam Tek sambil berkata dalam bahasa Khitan dengan lancar karena Si Botak ini paham hampir semua bahasa daerah.
“Selamat berjumpa, Saudara Ciam Tek. Mudah-mudahan di antara kita akan terdapat kerja sama yang erat.”
Si Burung Hantu itu memandang Gak Liat dengan mata julingnya, kemudian mengeluarkan suara seperti burung men¬cicit akan tetapi hanya dapat dimengerti oleh Gak Liat karena hanya suaranya saja yang mencicit namun sesungguhnya merupakan kata-kata dalam bahasa sela¬tan yang pelo dan menggelikan hati para pendengarnya.
“Sudah lama aku mendengar nama Setan Botak, kiranya begini saja orangnya!” Setelah berkata demikian, Si Burung Hantu berdiri diam lagi dengan satu kaki, acuh tak acuh! Gak Liat tidak menjadi marah, sudah biasa ia meng¬hadapi sikap dan watak aneh-aneh dari tokoh-tokoh besar, maka ia malah ter¬tawa bergelak dan berkata.
“Ha-ha-ha, lain kali aku ingin sekali merasai lihainya patukanmu dan cakaran¬mu, Burung Hantu!”
Pangeran Ouwyang Cin Kok tertawa pula. Biarpun dia sendiri bukan termasuk golongan kang-ouw, akan tetapi sudah terlalu banyak pembesar ini mengenal tokoh-tokoh aneh di dunia kang-ouw se¬hingga ucapan Gak Liat yang seolah-olah menantang itu dianggapnya biasa saja dan tidak mengkhawatirkan. “Cu-wi sekalian kami kumpulkan saat ini karena kami hendak membicarakan hal-hal yang amat penting. Berkat bantuan-bantuan cu-wi sekalian, pemerintah kita dapat memperoleh kemajuan-kemajuan di selatan dan kini, sungguhpun tak dapat dikatakan bahwa fihak pemberontak telah terbasmi semua, namun mereka itu sudah kehilangan kekuatan dan hanya bergerak secara sembunyi-sembunyi dan dalam ke¬lompok kecil atau malah secara perorang¬an. Yang penting kita harus mencurahkan perhatian ke Se-cuan, karena Bu Sam Kwi merupakan kekuatan terakhir yang merongrong kita. Bala tentara kita sudah menghimpit dan mengurung, lambat-laun tentu pertahanannya dapat dijebolkan pula. Tugas kita yang terpenting seka¬rang adalah mencegah agar sisa pemberontak di sini tidak mengadakan hubung-an dengan Se-cuan agar kekuatan mereka tetap terpecah-pecah. Usaha yang ditaku¬kan Puteri Nirahai dan puteraku Ouwyang Seng untuk memecah belah persatu¬an antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai, menemui kegagalan. Akan tetapi ada pula untungnya, yaitu timbulnya ganjalan hati antara mereka sehingga tidak me¬mungkinkan mereka itu akan bekerja sama. Pula, kedua partai besar itu pun tidak melakuan perlawanan dan pembe¬rontakan secara terang-terangan.”
“Akan tetapi, mengapa tidak kita gempur saja Se-cuan sampai hancur? Setelah kita dapat menguasai seluruh da¬ratan, mengapa wilayah sebesar Se-cuan saja tidak dapat segera dikalahkan? Beri¬lah hamba lima laksa perajurit berkuda, akan hamba hancur lumatkan Bu Sam Kwi dan seluruh anak buahnya!” Panglima brewok tinggi besar berkata dengan sikap gagah.
“Betul apa yang dikatakan oleh Giam-ciangkun,” kata Bhok Lek orang pertama dari kakak beradik Tikus Kuburan. “Kabarnya benteng Se-cuan amat kuat, akan tetapi kalau benteng itu dikurung dan hamba berdua dibantu tenaga-tenaga ahli melakukan penyusupan ke dalam dengan menggali terowongan, akan mudah menghancurkan pertahanan mereka!”
“Tidak begitu mudah,” bantah Puteri Nirahai. “Saya mendengar bahwa di sana banyak terdapat orang-orang yang me¬miliki kepandaian tinggi.”
“Hemmm, kalau ada jago di fihak musuh, serahkan saja kepada hamba. Hamba sanggup menghadapi lawan yang bagaimana lihai pun!” Setan Botak Gak Liat menyombong sambil tersenyum.
Ouwyang Cin Kok mengangkat kedua tangan ke atas sebagai isyarat agar se¬mua orang yang sedang ribut-ribut me¬ngemukakan pendapat bulat untuk me¬nyerang Se-cuan itu tenang, kemudian sambil tersenyum ia berkata.
“Tidak dapat kita membawa kehendak sendiri dan bertindak sesuka hati. Setiap gerakan kita harus disesuaikan dengan taktik dari Hongsiang (Kaisar). Dengarlah baik-baik, cu-wi sekalian, agar tahu apa yang menjadi siasat negara pada saat ini, menghadapi Bu Sam Kwi di Secuan.”
Semua orang mendengarkan penuh perhatian, termasuk Nirahai karena biar¬pun dia ini puteri selir kaisar sendiri, namun tentang urusan politik ia tidak sepaham pangeran yang menjadi pena¬sehat kaisar ini.
“Kalau kita ingin berhasil menangkap semua ikan di kolam, kita harus mengacaukan air dan mengejar ikan-ikan itu dengan membiarkan sebagian tempat itu tetap tenang sehingga semua ikan akan melarikan diri sembunyi di bagian air yang tak terganggu itu. Baru setelah semua ikan berkumpul di tempat kecil itu, kita tutup jalan keluar dan kita sergap di tempat kecil itu sehingga tak ada ikan yang dapat lolos. Demikian pula dengan para pemberontak yang tersebar di empat penjuru. Kita harus kejar-kejar mereka, melakukan operasi-operasi pem¬bersihan dengan teliti sehingga para pemberontak itu kehilangan tempat bersem¬bunyi dan terpaksa mereka akan ber¬sembunyi semua ke Se-cuan. Hal ini lebih mudah bagi kita daripada kalau kita hancurkan Se-cuan sehingga para pem¬berentak itu melarikan diri tersebar di mana-mana sehingga sukar untuk ditumpas karena daerah Tiongkok luas sekali. Inilah sebab pertama mengapa kita tidak boleh memukul Se-cuan pada sekarang ini.”
Semua orang yang mendengarkan mengangguk-angguk, kagum akan siasat ini, siasat menggiring ikan-ikan supaya berkumpul di suatu tempat.
“Adapun sebab ke dua adalah karena Kaisar dengan secara bijaksana memutuskan bahwa rakyat sudah terlalu lama menderita akibat perang, karena itu se¬mentara ini tidak perlu lagi mengadakan perang karena Se-cuan tidak begitu pen¬ting artinya bagi kita. Sekarang rakyat perlu ditenangkan hatinya dengan pem¬bangunan-pembangunan, bukan dengan perang baru yang akan membikin rakyat mendapat kesan buruk terhadap pemerin¬tah baru. Tidak perlu dengan kekerasan, cukup dengan dikepung dan dimatikan jalan hubungan mereka ke timur, mereka di Se-cuan akan hidup serba kekurangan dan sengsara, akhirnya akan menjadi lemah dan kalah tanpa diserang.”
Kembali Gak Liat menjadi kagum. Dalam soal taktik perang dan siasat pemerintahan tentu saja dia tidak mengerti apa-apa.
“Sekarang sebab ke tiga yang timbul dari kebijaksanaan Kaisar,” terdengar pula suara Ouwyang Cin Kok. “Pemerin¬tah baru menghadapi tugas membangun negara dan menciptakan suasana adil makmur bagi rakyat jelata, mendatang¬kan kehidupan damai dan tenteram sehingga dengan demikian tidak sia-sialah bangsa Mancu yang jaya telah mengor¬bankan banyak nyawa untuk mengusir raja-raja lailm dari bumi Tiongkok. Un¬tuk pekerjaan pembangunan yang amat besar itu, kita amat membutuhkan bantu¬an tenaga-tenaga orang pandai. Harus diakui bahwa di antara para pemberontak banyak terdapat orang-orang pandai. Sungguh amat sayang kalau mereka itu dibunuh demikian saja. Karena ini pula, bentrokan perang dengan Se-cuan harus diundurkan agar kita mendapat banyak waktu untuk menarik orang-orang pandai itu agar membantu kita. Untuk keperluan itulah Kaisar menyediakan biaya yang amat besar, kemungkinan-kemungkinan pangkat dari mereka, dan di samping itu tentu saja mengandalkan kepandaian cu-wi untuk menundukkan mereka. Makin banyak orang pandai membantu Kerajaan Ceng, makin baik. Mengertikah cu-wi sekarang mengapa kita tidak diperbolehkan menyerbu Se-cuan secara kasar?”
Semua orang mengangguk, bahkan dari mulut Sin-tiauw-kwi Ciam Tek terdengar suaranya yang pelo memuji, “Hebat sia¬sat ini! Hidup Kaisar!”
Biarpun pelo, namun ucapannya itu membangkitkan semangat semua orang dan terdengarlah seruan mereka, “Hidup Kaisar!”
Kang-thouw-kwi Gak Liat adalah se¬orang datuk hitam yang tidak bercita-cita untuk negara maupun untuk kaisar, melainkan untuk diri sendiri. Karena itu, di dalam hatinya mana ada kesetiaan terhadap pemerintah Mancu? Namun, dia seorang cerdik dan tidak mau ketinggalan pula ia ikut mengucapkan kata-kata itu.
“Biarpun kita tidak menyerbu Se-cuan, akan tetapi untuk keperluan menarik orang-orang pandai ke fihak kita dan mencegah mereka berhubungan dengan Se-cuan, maka pekerjaan kita bukanlah ringan. Kita harus dapat menguasai seluruh dunia kang-ouw, dapat mengetahui keadaannya dan hal ini kami serahkan ke dalam pimpinan keponakanku Puteri Ni¬rahai yang sudah cu-wi ketahui akan kecerdikannya dan juga akan kepandaian¬nya yang tinggi.”Kembali Si Burung Hantu mengangguk, berkata polos, “Puteri Nirahai mewarisi kepandaian Puteri Mutiara Hitam, dia hebat....”
Juga Gak Liat mengangguk berkata, “Aku sudah mengetahui kelihaian Puteri Nirahai.”
Gadis cantik itu mengelilingkan pandang matanya dan girang bahwa tidak ada yang menentang pengangkatannya sebagai pimpinan. Siapakah yang berani menen¬tang? Selain dia memiliki ilmu kepandai¬an tinggi, juga amat pandai bersiasat, cerdik dan banyak akal, juga dia adalah puteri kaisar sendiri!
“Terima kasih atas kepercayaan cu-wi kepadaku yang muda. Tentu saja aku tidak dapat bekerja sendiri dan mengan¬dalkan bantuan dari cu-wi sekalian, baru tugas kita akan dapat berhasil baik. Di dunia kang-ouw ini banyak terdapat to¬koh-tokoh besar yang belum membantu kita. Di antara mereka itu adalah Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee.”
“Hemmm, Si Muka Kuda itu sejak dahulu menentang Kerajaan Ceng-tiauw!” kata Gak Liat sambil mengeluarkan suara menghina.
“Itulah sebabnya mengapa kita harus berdaya upaya agar dia tertarik kepada kita dan suka membantu, Gak-locianpwe. Karena kalau dia sudah mau membantu, tentu para muridnya yang kudenger ada banyak sekali yang pandai, akan suka menjadi sekutu kita pula. Kita harus menyelidiki ke In-kok-san di Pegunungan Tai-hang-san yang dijadikan pusat perguruannya. Bahkan aku mendengar bahwa Si Nenek sakti Toat-beng Ciu-sian-li juga berada di sana.”
“Iblis betina itu berbahaya sekali, akan tetapi agaknya akan lebih mudah dibujuk untuk bekerja sama. Dia tidak sesukar dan sekokoh Ma-bin Lo-mo pendiriannya. Biarlah persoalan mereka itu serahkan saja kepadaku, aku akan ber¬usaha mendekati mereka.”
Puteri Nirahai berseri wajahnya dan ia menjura ke arah Gak Liat. “Terima kasih banyak. Bantuan Gak-locianpwe dalam hal ini benar-benar amat kami harapkan.” Gadis itu lalu mengerutkan keningnya dan berkata, “Ada sebuah hal yang amat memusingkan, dan membutuhkan perhatian. Menurut hasil penyelidikan para mata-mataku yang kusebar di mana-mana, sekarang aku telah mendapatkan keterangan jelas tentang sebab-sebab kegagalan siasatku mengadu domba an¬tara Siauw-lim-pai dan keterangan itu amat mengejutkan dengan munculnya seorang tokoh muda yang luar biasa se¬kali.”
“Hemmm, siapakah dia dan apa yang telah dia lakukan?” Ouwyang Seng ber¬tanya dengan hati tak senang mendengar betapa gadis yang dicinta dan dipujanya ini agaknya merasa kagum terhadap se-orang “tokoh muda”.
“Siasatku gagal karena pemuda aneh itu,” kata Nirahai. “Ketika dua peti ber¬isi jenazah dua orang tokoh Siauw-lim-pai yang dikawal Pek-eng-piauwkiok itu dihadang oleh murid-murid Siauw-lim-pai yang sudah kuberi kabar secara diam-diam dan bentrokan hebat antara murid-murid kedua partai sudah hampir terjadi, tiba-tiba muncul orang muda itu bersama adiknya perempuan, menggagalkan ben¬trokan itu dengan mengalihkan permusuh¬an kepada dirinya sendiri!”
“Eh, apakah maksudmu, Adik Nirahai?” Ouwyang-kongcu bertanya heran.
“Pemuda itu yang mengira bahwa murid Siauw-lim-pai hendak merampok, sekali turun tangan membunuh tujuh murid Siauw-lim-pai. Kemudian, ketika mengetahui kekeliruannya, ia turun ta¬ngan pula membunuh murid-murid Hoa-san-pai!”
“Ihhh, hebat sekali!” Gak Liat ber¬seru. Bagi datuk hitam ini, setiap per¬buatan kejam amat mengagumkan hati¬nya, makin kejam makin tinggi dalam penilaiannya.
“Kemudian pemuda itu bahkan men¬datangi Pek-eng-piauwkiok, dan di sana dia mengamuk, mengalahkan tokoh-tokoh Hoa-san-pai.”
“Luar biasa....!” Bhong Poa Sik, si Tikus Kuburan Kecil, berseru kaget.
“Kemudian, tahukah cu-wi apa yang ia lakukan? Ia pun mendatangi Siauw-lim-si dah di sana mengamuk, membunuh dua orang tokoh Siauw-lim-pai pula, me¬robohkan banyak yang lain dan dapat keluar lagi dari Siauw-lim-si dengan se¬lamat.”
“Sukar dipercaya!” kini Gak Liat berseru. Kakek ini maklum akan keadaan kuil Siauw-lim-si, maklum pula akan lihainya tokoh-tokoh di situ. Sedangkan dia sendiri tentu akan berpikir sepuluh kali sebelum berani menyerbu seorang diri ke Siauw-lim-si!
“Memang sukar dipercaya, akan tetapi para penyelidikku adalah orang-orang yang berpengalaman puluhan tahun dan keterangan mereka selalu boleh dipercaya. Keadaan pemuda itu amat meng-herankan. Selain ilmunya yang tinggi luar biasa dan keadaannya yang seperti tidak normal, juga dia mempunyai adik seorang gadis Mancu.”
“Ah, kalau begitu dia Sie Han....!” Gak Liat berseru. “Kalau dia sudah berkepandaian begitu aneh dan tinggi se¬hingga berani mengacau Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai, tentu dia telah berhasil menemukan Pulau Es!”
Mendengar ucapan ini, semua tokoh yang berada di situ menjadi terkejut dan tertarik sekali. Disebutnya Pulau Es ten¬tu saja menarik perhatian semua orang karena semenjak bala tentara Mancu menguasai daratan Tiongkok, pemerintah baru ini pun selalu berusaha untuk me¬nemukan pulau itu dan mendapatkan pusaka yang berada di sana. Bahkan usa¬ha pencarian ini dipimpin Gak Liat sen¬diri.
“Aiiih, kalau benar-benar dia menjadi pewaris pusaka di Pulau Es, tentu dia memiliki ilmu yang hebat dan orang seperti itu patut kita tarik untuk mem¬bantu kita,” kata Puteri Nirahai. “Atau kalau tidak mungkin dia membantu kita, dia akan merupakan lawan yang berbahaya dan perlu dibinasakan. Terutama sekali gadis Mancu itu harus diselamatkan dan diselidiki puteri siapakah dia dan mengapa sampai bisa menjadi adik pemuda yang bernama Sie Han itu.”
“Jangan khawatir, hamba akan dapat membujuknya. Setidaknya dia pernah ikut dengan hamba dan dengan bantuan Ouwyang-kongcu, hamba tentu akan dapat menyelamatkan pula puteri Mancu itu,” kata Gak Liat. Dia menawarkan diri ini sebetulnya adalah dengan mengandung niat yang lain. Begitu mendengar bahwa Han Han telah muncul, ia ingin sekali menemui pemuda itu dan kalau perlu hendak memaksa pemuda itu menyerahkan pusaka-pusaka Pulau Es, atau kalau mungkin mengantarkannya ke Pulau Es!
Puteri Nirahai mengangguk-angguk. “Mendengar pelaporan yang kuterima, memang pemuda itu mencurigakan dan lihai sekali, kiranya hanya Gak-locianpwe saja yang cukup kuat untuk menghadapi-nya. Baiklah, urusan membujuk tokoh-tokoh di In-kok-san dan mencari pemuda itu kuserahkan kepada Gak-locianpwe dan Ouwyang-twako. Aku sendiri mempunyai rencana lain yang boleh cu-wi ketahui. Aku akan pergi ke utara, mendatangi tanah kuburan Kduarga Suling Emas....”
“Eh, Nirahai, bukankah itu berbahaya sekali?” Pangeran Ouwyang Cin Kok berseru kaget. Tanah kuburan keluarga Suling Emas merupakan tempat keramat dari bangsa Khitan dan kabarnya tak seorang asing pun boleh memasukinya. Biarpun Puteri Nirahai termasuk keturun¬an Khitan, namun belum tentu dia diper¬bolehkan masuk oleh penjaganya yang kabarnya amat galak dan memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa.
“Memang berbahaya, akan tetapi ka¬lau tidak saya sendiri yang mendatangi, siapakah orang lain akan mampu melaku¬kannya? Saya ingin membujuk penjaga kuburan, untuk meminjam suling emas yeing disimpan di situ sebagai pusaka. Dengan suling emas peninggalan pendekar sakti Suling Emas, kiranya akan lebih mudah mempengaruhi para tokoh-tokoh kang-ouw untuk membantu Kerajaan Man-cu. Senjata suling emas itu amat dihormati di seluruh dunia kang-ouw, dan dengan senjata itu tentu akan dapat dicapai hasil yang lebih besar dalam membujuk tokoh-tokoh kang-ouw.”
Pangeran Ouwyang Cin Kok dan yang lain-lain mengangguk-angguk menyatakan setuju sungguhpun hati mereka merasa ngeri mendengar bahwa puteri jelita itu hendak mengunjungi tempat keramat yang sukar dikunjungi sembarangan orang itu. Setelah membagi-bagi tugas, pertemuan itu dibubarkan. Ouwyang Seng lalu pergi bersama gurunya untuk me¬lakukan tugas mereka yang tidak ringan. Demikianpun yang lain-lain bubaran dan melakukan tugas masing-masing. Pange¬ran Ouwyang Cin Kok sendiri lalu ber¬siap untuk pergi menghadap kaisar menyampaikan pelaporan mengenai pelak¬sanaan tugas-tugasnya.
Han Han dan Lulu duduk mengaso di dalam hutan. Melihat kakaknya iiu duduk bersamdhi, Lulu juga tidak berani meng¬ganggu, bahkan ia pun lalu duduk bersila dan siulian untuk memulihkan tenaga dan menekan kekecewaan hatinya karena kehilangan pedang yang terampas di Siauw-lim-pai.
Han Han tidak dapat menyatukan panca inderanya. Dia sudah dapat menyalurkan hawa sakti di tubuhnya, dan mengobati akibat-akibat guncangan pukul¬an-pukulan yang ia terima di Siauw-lim-pai, akan tetapi pikirannya bekerja keras. Hatinya terkesan oleh wejangan-wejangan yang didengarnya dari mulut Kian Ti Hosiang, supek dari ketua Siauw-lim-pai tadi. Mengenangkan semua wejangan itu, terjadi perang tanding yang hebat dalam pikirannya sendiri. Perasaan me¬nyesal menggumuli perasaannya, menye¬sal kalau ia kenangkan betapa sepak terjangnya selama ini hanya mendatang¬kan malapetaka dan keributan belaka. Ia sendiri tidak mengerti mengapa kalau datang perasaan marah akan sesuatu yang dianggapnya jahat dan tidak adil, lalu timbul kemarahan yang tak terta¬hankan dan seolah-olah ia baru akan merasa puas, terhindar dari himpitan nafsu amarah kalau sudah ia lampiaskan dengan pukulan-pukulan sakti dari kedua tangannya, kalau sudah ia hajar banyak orang dan membunuhi lawannya! Pemuda ini tidak tahu bahwa sesungguhnya terjadi konflik atau pertentangan hebat dalam dirinya.
Mula-mula pertentangan ini terjadi karena ia mempelajari dua macam sin-kang yang berlawanan yaitu inti sari Hwi-yang Sin-ciang dan inti sari Swat-im Sin-ciang. Pertentangan ini mempe¬ngaruhi jiwanya, ditambah lagi ketika ia membaca kitab-kitab peninggalan peng¬huni Pulau Es yang sifatnya bersih dan berbareng ia mempelajari kitab-kitab Ma-bin Lo-mo dan Siang-mo-kiam (Sepasang Pedang Iblis) yang bersifat kotor. Ter¬jadilah pertentangan hebat sekali dari aliran bersih ditambah kesadaran watak aselinya yang baik berlawanan dengan pelajaran aliran kotor yang ditambah oleh nafsunya, membuat ia kadang-kabang merasa tersiksa sekali. Kini ia mendapat nasihat yang amat aneh dari kakek sak¬ti di Siauw-lim-pai itu. Dia disuruh membuntungi kaki kirinya! Nasihat apa¬kah ini? Betul-betulkah kaki kirinya yang mendatangkan perasaan tersiksa seperti itu?
Makin dipikirkan makin bingunglah hatinya. Kebingungan ini makin memuncak kalau ia pikirkan bahwa semua ma¬lapetaka yang timbul akibat sepak ter¬jangnya itu sama sekali terjadi bukan karena kesalahannya! Dia memang telah membunuh murid-murid Siauw-lim-pai dan murid-murid Hoa-san-pai di hutan dahulu itu, akan tetapi bukankah hal itu terjadi karena salah faham? Bukankah hal itu terjadi bukan karena memang dia bermaksud jahat dan membunuhi mereka? Kemudian kekacauan yang timbul karena perlawanannya menghadapi tokoh-tokoh Hoa-san-pai di gedung Pek-eng-piauwkiok. Dia telah diserang, dituduh yang bukan-bukan, dituduh mata-mata Mancu! Ter¬jadi pertempuran, akan tetapi salahkah dia dalam hal itu? Dan akhirnya peris¬tiwa keributan di Siauw-lim-si. Dia da¬tang dengan iktikad baik, dengan maksud memberi penjelasan kepada para pimpin¬an Siauw-lim-pai untuk melenyapkan kesalahfahaman. Akan tetapi dia disam¬but dengan kekerasan, bahkan seolah-olah dipaksa untuk bertanding. Dia hanya membela diri, karena bukankah itu hak¬nya? Ataukah dia harus membiarkan saja dia ditawan, dipukul, atau dibunuh, juga ¬Lulu ditangkap? Karena membela diri, kembali dia melakukan pukulan-pukulan dan pembunuhan-pembunuhan.
Teringat akan ini semua, timbul kemarahannya. Tidak! Dia tidak bersalah! Akan tetapi kalau ia ingat akan nasihat kakek di Siauw-lim-pai itu dia menyesal karena kenyataannya, apa pun alasannya, sepak terjangnya menimbulkan keributan dah malapetaka, bahkan pembunuhan. Salah kaki kirinyakah?
Tiba-tiba Han Han meloncat bangun, tidak kuasa lagi menahan tubuhnya yang digetarkan dua hawa yang bertentangan, sebagai akibat perang dalam hatinya. Ia mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh seperti orang gagu, tubuhnya bergoyang-goyang, kaki tangannya bergerak-gerak seolah¬-olah ia bertanding melawan dirinya sendiri! Kedua tangannya seperti hendak saling pukul, atau lebih tepat, kalau tangan kiri hendak memukul tubuhnya sendiri penuh penyesalan dan hendak menghukum, tangan kanannya bergerak menangkis dengan keyakinan membela karena dia tidak bersalah. Demikian pula kedua kakinya bergerak menurutkan sua¬ra hati yang berlawan!
Entah berapa lamanya Han Han ber¬hal seperti itu, tubuhnya bergerak-gerak aneh dan kelihatan lucu sekali, padahal ia merasa amat tersiksa baik tubuh mau¬pun batinnya. Tiba-tiba Lulu datang men-dekatinya, dan melihat keadaan kakaknya ini Lulu segera menyentuh lengan Han Han. Akan tetapi gadis ini menjerit ka¬rena lengan yang disentuhnya itu menge¬luarkan getaran yang membuat tangan yang menyentuhnya seperti lumpuh. Ia meloncat ke belakang dan menjerit.
“Han-koko.... sadarlah....! Celaka, ada orang merampas kantung surat-surat itu....!”
Sebelum gadis itu menjerit, Han Han sudah sadar. Sentuhan tangan yang halus dari adiknya itu sudah menyadarkannya dan seolah-olah menariknya kembali ke dunia dari alam khayal yang menakutkan. Ada sesuatu dalam sentuhan dan dalam suara Lulu yang amat mempengaruhi jiwa Han Han sehingga kini dia sadar, menghentikan gerakan-gerakan tubuhnya dan memandang adiknya itu.
“Apa? Apa yang dirampas orang?”
“Karena kau bersamadhi tidak sadar-sadar, aku lalu pergi mencari air untuk mandi. Kemudian aku pergi ke sebuah kuil tua tak jauh dari sini, duduk di depan kuil dan mengeluarkan kantung surat-surat dari Pulau Es untuk kubersih¬kan. Akan tetapi tiba-tiba kantung itu terbang dari tanganku dan ketika aku meloncat dan membalik, ternyata kan¬tung itu telah dipegang oleh seorang kakek yang menyeramkan. Aku minta kembali, bahkan memukulnya, akan te¬tapi ia tidak menjawab, dan ketika ku¬pukul, ia tidak mengelak atau menangkis, bahkan bergoyang pun tidak ketika menerima pukulanku. Aku takut....!”
Merah wajah Han Han mendengar bahwa kantung surat-surat itu dirampas orang. Kantung itu ia anggap sebagai barang yang amat berharga berisi surat-surat penghuni Pulau Es yang ia bawa dan akan ia sampaikan kepada siapa yang berhak menerimanya. Dan kini dirampas orang!
“Hemmm, kenapa aku selalu diganggu orang? Siapakah dia yang merampas kan¬tung kita itu? Mari kita temui dia.”
Lulu memegang tangan kakaknya dan menarik kakaknya itu, diajak lari menuju ke kuil tua yang hanya setengah li jauh¬nya dari situ, di pinggir sebuah sungai kecil. “Tuh dia masih berdiri depan kuil, Koko. Untung dia belum lari!” kata Lulu menuding ke arah tubuh seorang laki-laki tinggi kurus berambut panjang yang berdiri membelakangi mereka.
“Hemmm, kurang ajar, biar kuminta kembali kantung itu!” Han Han meloncat ke depan kakek itu, memandang dan alis matanya bergerak karena kaget.
“Ma-bin Lo-mo....!” teriaknya ketika mengenal kakek penghuni In-kok-san itu.
Kakek itu memang Ma-bin Lo-mo si Iblis Muka Kuda! Dengan wajah bengis ia memandang Han Han dan tidak meng¬ucapkan sepatah pun kata, hanya meman¬dang dengan penuh perhatian, manik ma-tanya bergerak-gerak meneliti Han Han dari kepala sampai ke kaki.
“Siangkoan-locianpwe, harap suka mengembalikan kantung itu kepadaku. Kantung itu hanya terisi surat-surat pri¬badi yang tidak ada gunanya bagi orang lain,” kata Han Han penuh ketenangan setelah ia berhasil menekan hatinya yang kaget.
“Hemmm, murid apakah engkau ini? Tidak menyebut suhu lagi kepadaku?”
Han Han tersenyum pahit. “Lupakah locianpwe bahwa Locianpwe hendak membunuh saya di perahu itu dahulu? Sikap locianpwe bukan seperti guru yang menyayang murid, bagaimana saya bisa menjadi murid yang menghormat guru?”
Bekas guru dan murid ini saling memandang dan delam pertemuan sinar mata itu diam-diam Ma-bin Lo-mo menjadi kecut hatinya dan cepat ia mengalihkan pandang matanya. Ia menghendaki sesuatu dari pemuda itu, maka ia lalu berganti siasat, bersikap lunak dan manis.
“Han Han, kaukembalikan dulu kitab-kitabku.”
Han Han teringat akan kitab-kitab Ma-bin Lo-mo yang ia bawa ke Pulau Es. Tanpa ia sengaja, bahkan ia telah mem¬pelajari ilmu dari kitab-kitab itu yang ia gabung dengan ilmu dari kitab-kitab pe¬ninggalkan Siang-mo-kiam. Ia tidak me¬rasa mencuri kitab-kitab itu, maka ia memperingatkan.
“Saya tidak mencuri kitab-kitab locianpwe.”
Kini Lulu teringat akan Ma-bin Lo-mo, maka ia berkata, “Koko, bukankah dia ini orang jahat yang menangkap kita di perahu dan meninggalkan kita dalam keadaan terikat? Koko, dia jahat, jangan percaya dia!”
Ma-bin Lo-mo tidak memperhatikan gadis Mancu yang dibencinya itu, dan berkata lagi kepada Han Han, “Han Han, kitab-kitabku itu tertinggal di perahu, dan melihat betapa engkau berhasil me-nyelamatkan diri, tentu kitab-kitab itu berada padamu. Akan tetapi tidak apalah, bukankah engkau juga muridku yang berhak mempelajari ilmu dari kitab-kitab¬ku? Sesungguhnya sudah terlalu banyak kesalahan yang kaulakukan terhadapku, Han Han. Pertama, engkau bersaudara dengan seorang gadis Mancu. Ke dua, engkau mengambil kitab-kitabku. Akan tetapi aku mengampunimu akan semua kesalahan itu, bahkan kantung ini yang hanya berisi surat-surat cinta, kukembalikan kepadamu.” Sambil berkata demikian Ma-bin Lo-mo melemparkan kantung ke arah Han Han. Pemuda itu menggerakkan tangan menyambut kantung itu dan menyimpannya dalam baju setelah melihat bahwa isinya tidak lenyap. Ia melakukan hal ini seenaknya dan sewajarnya saja, dan Ma-bin Lo-mo terkejut. Ketika melemparkan kantung tadi, ia sengaja me¬ngerahkan tenaga untuk menguji. Kalau hanya memiliki ilmu kepandaian tinggi biasa saja, tentu pemuda itu akan roboh menerima lontaran kantung itu, atau se-tidaknya terhuyung. Akan tetapi pemuda itu menerima seenaknya seolah-olah pelemparan kantung itu tidak disertai pe¬ngerahan sin-kang yang amat kuat. Tadi¬nya, kalau melihat pemuda itu roboh atau terhuyung saja tentu Ma-bin Lo-mo sudah menerjang maju untuk menangkapnya, akan tetapi melihat sikap Han Han menerima kantung seenaknya itu amat mengejutkan hatinya, maka kakek ini berlaku cerdik sekali dan tidak menyerang.
“Han Han, mengingat akan hubungan lama antara kita, aku tidak akan meng¬ganggumu, hanya akan bertanya kepada¬mu tentang Pulau Es. Engkau tentu telah mendarat di Pulau Es, bukan?”
“Jangan katakan sesuatu kepadanya, Koko!” Lulu yang di dalam hatinya masih menaruh dendam kepada kakek yang pernah hendak membunuh mereka itu, cepat berkata mencegah. Akan tetapi, tanpa dicegah pun Han Han tidak akan bercerita kepada siapa juga tentang pu¬lau rahasia itu.
“Saya tidak dapat bicara apa-apa tentang pulau itu, locianpwe.”
“Jadi engkau telah menemukan pulau itu?”
Han Han tidak menjawab, hanya meng¬geleng kepala tanda bahwa ia tidak mau bicara tentang itu.
“Han Han, ingatlah. Aku hanya ingin engkau menceritakan tentang Pulau Es. Kalau aku menggunakan kekerasan, engkau tentu takkan kuat melawanku. Ingat, dosamu sudah terlalu besar terhadap perguruan kami dan kalau aku menyerah¬kan ergkau kepada Toat-beng Ciu-sian-li, nyawamu tentu tidak akan diampuni lagi. Akan tetapi kalau kau suka bicara denganku tentang Pulau Es, aku yang menanggung agar engkau diampuni.”
“Maaf, sia-sia saja engkau membujuk atau mengancam, locianpwe. Saya tidak bisa bicara tentang pulau itu. Hendaknya locianpwe membiarkan saya dan Adik saya pergi. Saya tidak hendak memusuhi locianpwe sungguhpun locianpwe pernah menyiksa dan hendak membunuh kami berdua. Marilah kita mengambil jalan kita masing-masing dan tidak saling mengganggu, locianpwe.”
Muka Ma-bin Lo-mo menjadi merah saking marahnya. Ucapan Han Han itu cukup sopan, akan tetapi nadanya seperti ucapan seorang yang setingkat saja! Pa¬dahal dia adalah seorang di antara datuk-datuk yang ditakuti orang, sedangkan Han Han adalah seorang muda yang ma¬lah menjadi bekas muridnya!
“Han Han, sungguh engkau keras ke¬pala! Akan tetapi betapapun kerasnya kepalamu, apakah cukup keras untuk menerima pukulanku?” Ia membentak dan melangkah maju dengan sikap mengancam sekali.
Namun Han Han tetap bersikap tenang. “Terserah kepada locianpwe, tapi.... tapi.... harap locianpwe ingat bahwa kalau sampai terjadi bentrokan, hal itu bukanlah kehendak saya, melain¬kan locianpwe yang memaksaku.”
“Uwaaahhhhh, sembongnya bocah ini. Tidak bisa dibujuk dengan omongan halus, agaknya perlu dihajar dulu!” Setelah ber¬kata demikian, Ma-bin Lo-mo menerjang maju mengirim pukulan. Karena dia tidak ingin membunuh mati anak itu yang dia butuhkan untuk memberi petunjuk ten¬tang Pulau Es, maka ia tidak mengirim pukulan Swat-im Sin-jiu, melainkan me¬nampar dengan tangan kanan ke arah pundak disusul cengkeraman tangan kiri ke arah dada. Biarpun tidak menggunakan tenaga Swat-im Sin-ciang, namun daya pukulan kakek ini bukan main.
Han Han mengelak ke kiri dan biar¬pun angin pukulan kakek itu mengenai pundaknya, sedikit pun ia tidak merasai¬nya dan ia berkata penuh rasa menyesal, “Engkau sungguh jahat, Ma-bin Lo-mo, tidak patut menerima penghormatan orang muda.”
“Heh, Han Han. Apakah kau benar tidak mau bicara tentang Pulau Es? Ingat, tebusannya adalah nyawamu dan nyawa bocah Mancu ini. Aku bahkan mau mengampuni bocah ini asal engkau suka memberi penjelasan tentang Pulau Es.”
“Tidak! Dan kalau engkau memaksa, terpaksa aku melawanmu, Ma-bin Lo-mo!”
“Bedebah! Baru memiliki sedikit ke¬pandaian saja engkau sudah berani me¬lawan aku?” Ma-bin Lo-mo mencelat maju dengan gerakan cepat sekali sambil mencengkeram pundak Han Han, namun gerakan Han Han tidak kalah cepatnya, tahu-tahu ia sudah mengelak ke kanan dan cengkeraman itu kembali luput. Ma-bin Lo-mo menjadi penasaran sekali, begitu tubrukannya luput dan kakinya menginjak tanah, tubuhnya sudah melesat lagi ke kanan dan kedua lengannya me¬nyambar dari kanan kiri, membuat gerak¬an menyilang mengarah kepala Han Han. Bukan main cepat dan lihainya serangan ini sehingga Han Han terkejut dan cepat merendahkan diri untuk menghindarkan kedua tangan yang menghimpit kepalanya dari kanan kiri itu. Akan tetapi dengan gerakan susulan, tahu-tahu kaki Ma-bin Lo-mo menendang ke perut pemuda itu.
Selama melatih diri di Pulau Es, se¬sungguhnya Han Han hanya memperoleh inti sari tenaga sin-kang yang amat hebat saja, yang tidak diperoleh ahli lain da¬lam latihan biasa selama puluhan tahun. Akan tetapi dalam hal ilmu silat, diban¬dingkan dengan Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee, tentu saja ia masih kalah jauh. Kini menghadapi gerakan serangan tokoh hi¬tam yang hebat ini, tentu saja ia tidak menyangka sama sekali dan tendangan itu tahu-tahu telah mengenai perutnya! Akan tetapi gerakan hawa sin-kang secara otomatis telah melindungi perutnya, dan ia menangkap kaki itu sambil mendorong ke depan seperti membuang sesuatu yang menjijikkan.
“Dukkk! Aihhhhh....!” Tendangan mengenai perut, akan tetapi tubuh Ma-bin Lo-mo terlempar sampai jauh sekali. Kalau bukan kakek sakti ini tentu tubuh¬nya akan terbanting ke bawah, akan tetapi kakek ini malah melompat ke atas sehingga tenaga dorongan itu terpatahkan dan ia turun lagi ke atas tanah de-ngan mata terbelalak merah karena he¬ran, kagum dan penasaran.
“Huh, kiranya engkau sudah mem¬pelajari sedikit ilmu, ya?” Hati Ma-bin Lo-mo makin tertarik untuk memaksa Han Han bicara tentang Pulau Es, karena tentu saja ia ingin sekali mengetahui rahasia itu dan memiliki pusaka dari Pulau Es. Melihat betapa Han Han sang¬gup menerima tendangannya, dan melihat tenaga hebat ketika pemuda itu men¬dorong kakinya, hatinya makin yakin bahwa pemuda ini tentu telah mewarisi kepandaian dari tempat rahasia itu, maka ia makin tidak ingin membunuhnya dan hanya ingin menangkap dan memaksanya.
Kepalanya yang penuh dengan akal dan muslihat itu bekerja dan tiba-tiba sambil tertawa tubuhnya melesat, bukan me¬nyerang Han Han, melainkan meloncat ke arah Lulu yang berdiri menonton. Dia mendapat akal untuk menangkap Lulu dan menggunakan gadis itu untuk me¬maksa Han Han!
“Ihhh, mau apa engkau?”
Kembali Ma-bin Lo-mo kecelik karena gadis yang ditubruk dan hendak ditang¬kapnya itu, biarpun tergesa-gesa, dapat melesat pergi dengan gerakan yang amat ringan dan tak tersangka-sangka, sehing¬ga ia menubruk angin! Ketika ia mem¬balik dan hendak mengejar sambil me¬ngirim pukulan jarak jauh untuk meroboh¬kan gadis itu, tiba-tiba dari samping terdengar bentakan Han Han, “Jangan ganggu Adikku!” Bentakan ini disusul dengan bertiupnya angin yang hawanya dingin memukul ke arah lambungnya!
Ma-bin Lo-mo cepat menggerakkan tangan menangkis, sekali ini karena pe¬nasaran ia menggunakan tenaga Im-kang untuk membuat pemuda itu roboh.
“Desss!” Dua tenaga raksasa bertemu dan akibatnya kedua orang itu terjeng¬kang ke belakang!
“Eh, eh.... tenaga Im-kang....” Ma-bin Lo-mo yang sudah meloncat bangun lagi berkata penuh keheranan.
“Ma-bin Lo-mo, perlukah pertempuran ini dilanjutkan? Aku tidak ingin bermusuh denganmu!” Han Han berkata lagi.
“Sambutlah ini....!” Ma-bin Lo-mo membentak dan sekali ini ia tidak ragu-ragu lagi untuk menggunakan Swat-im Sin-ciang, menyerang lagi dengan gerakan lambat namun malah amat berbahaya karena setiap gerakannya mengandung hawa dingin yang dahsyat.
Han Han mengenal gerakan itu. Dia telah mempelajari kitab-kitab yang di¬tinggalkan di dalam perahu oleh Iblis Muka Kuda ini, maklum bahwa lawannya telah menggunakan Swat-im Sin-ciang. Ia mulai menjadi marah, bukan saja karena kakek itu mendesaknya terus, terutama sekali karena ia melihat kelicikan kakek ini yang hendak memaksanya dengan berusaha menawan Lulu. Maka ia pun lalu menggerakkan kedua tangannya, dengan gerakan yang sama dan ketika Ma-bin Lo-mo mendorong, ia pun men¬dorong dengan pengerahan tenaga Swat-im Sin-ciang pula!
“Wuuutttt.... desssss!”
Tubuh kedua orang itu bergoyang-goyang, kemudian keduanya mundur ter¬huyung. Han Han dapat mengerahkan tenaga Yang-kang sehingga seketika hawa dingin yang luar biasa itu lenyap, akan tetapi Ma-bin Lo-mo membutuhkan lon¬catan ke atas dan menggoyang-goyang tubuhnya baru ia pulih kembali. Ia me¬mandang dengan mata terbelalak kemudi¬an ia berseru marah.
“Bocah celaka! Engkau telah mencuri Swat-im Sin-ciang!” Akan tetapi sesungguhnya ia merasa heran dan kaget se¬tengah mati mendapat kenyataan bahwa tenaga Swat-im Sin-ciang dari pemuda itu tidak berselisih jauh dengan tenaga¬nya sendiri! Ia sama sekali tidak mimpi bahwa sesungguhnya tenaga Han Han jauh lebih kuat dan hebat daripada tenaga sendiri. Sebaliknya, Han Han maklum betapa lihai dan kejamnya kakek ini dan bahwa sekali lagi, setelah terlepas dari¬pada ancaman maut di Siauw-lim-si, kini ia terancam oleh kakek yang amat sakti ini. Maka timbullah kemarahannya lagi dan ia mengambil keputusan untuk me¬lindungi Lulu dan dirinya sendiri, kalau perlu dengan taruhan nyawa.
Kembali Ma-bin Lo-mo sudah menyerang, kini serangannya hebat sekali kare¬na kakek ini tidak lagi menganggap Han Han seorang lawan ringan. Tubuhnya seperti berpusing dan kedua tangannya seperti berubah banyak ketika ia me¬lancarkan serangan ke arah dada dan pusar pemuda itu. Han Han tetap tenang, namun juga bergerak cepat. Ia memutar kedua lengannya dari kanan kiri menjaga tubuh depan dan kembali ia berhasil menangkis pukulan-pukulan maut Ma-bin Lo-mo. Akan tetapi kakek itu me¬nerjang terus dengan gerakan-gerakan aneh dan cepat dengan perubahan yang tak tersangka-sangka sehingga dalam gebrakan-gebrakan selanjutnya tanpa dapat dielakkannya lagi terpaksa Han Han menerima hantaman-hantaman yang mengenai pundak dan lambungnya. Akan tetapi tubuhnya hanya terpental saja dan sama sekali tidak terluka sehingga diam-diam Ma-bin Lo-mo makin penasaran dan terkejut. Ketika melihat kakek itu me¬ngejarnya, Han Han yang sudah bangkit kembali sehabis terbanting, cepat me¬ngerahkan tenaganya dan menyambut kedatangan lawan dengan pukulan de¬ngan pengerahan tenaga Swat-im Sin-ciang. Ia sudah marah sekali maka ke¬kuatan sin-kangnya dapat dibayangkan hebatnya. Angin menderu keras dan hawa dingin melebihi saiju menyambar ke de¬pan. Ma-bin Lo-mo tentu saja tidak ta¬kut menghadapi pukulan yang menjadi keahliannya sendiri itu. Ia menangkis dengan tenaga Swat-im Sin-ciang juga dan sekali ini dua tenaga sakti bertemu. Hanya bedanya dengan tadi, kini Han Han yang menyerang dan Ma-bin Lo-mo yang menangkis.
“Wesssss....!”
Tubuh Ma-bin Lo-mo tergetar hebat, seolah-olah tubuhnya kemasukan aliran kilat dan sejenak tubuhnya kaku mem¬beku! Kakek ini mengeluarkan seruan aneh, kemudian melempar tubuh ke bela¬kang dan bergulingan sampai lama baru dapat melompat bangun kembali, wajahnya pucat dan matanya terbelalak merah.
“Luar biasa....!” Ia menggumam karena kini ia mendapatkan kenyataan pahit yang amat hebat, yaitu bahwa tenaga Swat-im Sin-ciang pemuda itu jauh lebih kuat daripada tenaganya sendiri!
Didorong oleh kemarahannya yang timbul dari rasa penasaran, kini tubuh Ma-bin Lo-mo menerjang maju seperti badai mengamuk saking hebatnya. Tentu saja Han Han menjadi sibuk sekali dan sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk balas menyerang. Bahkan dia yang kalah jauh ilmu silatnya tak mungkin dapat menghindarkan diri dari serangan yang bertubi-tubi itu dan hanya dapat mengelak dan menangkis, melindungi diri¬nya di bagian-bagian yang berbahaya dan membiarkan bagian-bagian yang dapat menahan pukulan untuk menerima han¬taman-hantaman dahsyat dari lawannya!
Ia menjadi bulan-bulanan dan biarpun tubuh yang tidak berbabaya itu mengandung sin-kang kuat sehingga tidak terluka, namun kerasnya pukulan-pukulan itu membuat tubuhnya berkali-kali terlempar dan bergulingan. Melihat betapa pemuda itu dapat menahan pukulan-pukulannya yang cukup kuat untuk merobohkan lawan tangguh, Ma-bin Lo-mo menjadi makin marah dan penasaran, serangannya makin diperhebat.
Lulu berdiri dengan wajah tegang dan penuh kegelisahan. Seperti ketika ia me¬nyaksikan kakaknya menghadapi tokoh-tokoh Hoa-san-pai di gedung Pek-eng-piauwkiok, dan kemudian menyaksikan kakaknya menghadapi tokoh-tokoh Siauw-lim-pai yang lihai, kini pun ia hanya dapat menonton saja karena ia maklum bahwa untuk membantu kakaknya tingkat kepandaiannya masih jauh daripada cukup sehingga ia bukan membantu malah membahayakan diri sendiri dan mengacaukan pertahanan kakaknya. Kedua orang itu memang bertanding dengan amat seru dan hebat. Keduanya mempergunakan hawa sakti Im-kang sehingga dari tubuh mereka keluar hawa yang amat dingin yang seolah-olah membikin beku keadaan sekeliling mereka, bahkan Lulu yang sudah biasa tinggal di tempat dingin seperti Pulau Es sekalipun kini merasa betapa hawa dingin menyerangnya dan otomatis sin-kang di tubuhnya bekerja sehingga hawa yang hangat timbul me¬lenyapkan rasa dingin.
Han Han tidak berani mencoba untuk menggunakan Yang-kang atau hawa sakti panas. Ia maklum bahwa tingkat kakek ini sudah tinggi sekali, sehingga kalau ia mengeluarkan Yang-kang, berarti ia meng¬hadapi lawan dengan keras lawan keras yang tentu saja resikonya amat besar karena kalah sedikit saja kekuatannya dapat merenggut nyawa. Ia pun maklum bahwa biarpun dalam ilmu silat ia kalah jauh namun dengan pengerahan inti sari dari Im-kang ia masih dapat bertahan karena kekuatan sin-kangnya tidak kalah oleh lawan.
Selagi Han Han terdesak hebat, tiba-tiba terdengar suara ketawa bergelak disambung kata-kata nyaring penuh ejekan, “Ma-bin Lo-mo si Setan Kuda benar-benar sekarang tak tahu malu, mendesak orang muda dan tidak malu-malu mengeluarkan Swat-im Sin-ciang!”
Han Han melirik sebentar dan hatinya kecut ketika mengenal orang yang muncul dan mengeluarkan kata-kata itu ka¬rena orang itu bukan lain adalah Kang-thouw-kwi Gak Liat si Setan Botak ber¬sama seorang pemuda tampan pesolek yang ia kenal sebagai Ouwyang Seng! Celaka, pikirnya. Ma-bin Lo-mo jahat, akan tetapi dua orang yang muncul ini tidak kalah jahat dan sama sekali tidak boleh diharapkan bantuannya!
Akan tetapi, selagi ia menangkis pukulan Ma-bin Lo-mo yang masih mendesaknya tiba-tiba Gak Liat meloncat maju dan memukul Iblis Muka Kuda dengan dorongan kedua lengan yang menimbulkan hawa panas. Itulah Hwi-yang Sin-ciang!
“Eh, Setan Botak, mau apa engkau?” Ma-bin Lo-mo membentak dan cepat ia meloncat jauh ke belakang untuk menghindarkan pukulan itu. Karena loncatannya yang jauh itu kini Han Han berada di tengah, di antara dua orang tokoh hitam itu. Pemuda itu menghadapi Gak Liat dan memandang dengan mata berapi. Kemarahannya sudah membakar hatinya dan kini melihat kakek yang juga amat jahat ini, ia memandang penuh kecurigaan.
“Han Han, lupakah engkau kepadaku? Aku Owyang-kongcu, sahabat lamamu. Kami datang untuk membantumu!” Ouw¬yang Seng sudah cepat berteriak untuk mengambil hati pemuda itu. Tadi ia melihat betapa Han Han dapat menghadapi Ma-bin Lo-mo, biarpun terdesak namun juga tidak dapat dirobohkan. Hal ini saja sudah menyatakan bahwa Han Han se¬karang benar-benar telah memiliki kepandaian tinggi. Biarpun di dalam hatinya ia sama sekali tidak suka kepada Han Han, namun demi tugasnya ia harus men¬taati perintah Puteri Nirahai untuk “menarik” Han Han menjadi kawan, bukan lawan.
“Ouwyang-kongcu, saya tidak mem¬butuhkan bantuan apa-apa darimu atau dari Gak-locianpwe.”
Ouwyang Seng menghela napas pan¬jang dengan muka menyatakan penyesal¬annya, lalu menghampiri Lulu dan men¬jura sambil berkata, “Nona, bukankah Kakakmu itu keliru sekali? Dia diserang dan didesak orang, masa tidak mau di¬bantu?”
Lulu sejenak memandang Ouwyang Seng, kemudian berkata kepada kakaknya, “Koko, kalau mereka memang benar-benar hendak membantu, mengapa kau menolak?”
“Lulu, jangan mencampuri. Mereka itu pun bukan orang-orang yang dapat dipercaya!”
Akan tetapi Lulu memandang wajah Ouwyang Seng yang tampan dan ter¬senyum-senyum itu dan ia merasa heran akan ucapan kakaknya karena dalam pandangannya, pemuda tampan ini sama sekali tidak jahat.
“Han Han, betapapun juga, engkau bukanlah lawan Iblis Muka Kuda. Biarlah aku membantumu mengusir iblis itu, kemudian kita bicara sebagai kenalan-kenalan lama. Bagaimana?”
“Gak-locianpwe, apakah locianpwe juga seperti Ma-bin Lo-mo ini, hendak bertanya tentang Pulau Es kepadaku setelah locianpwe membantuku meng¬enyahkan Ma-bin Lo-mo?”
Pertanyaan yang tiba-tiba dari Han Han ini tepat menusuk hati Gak Liat yang memang ingin sekali mendengar tentang Pulau Es itulah, sehingga ia lupa akan tugasnya dan penuh gairah berteriak, “Ah, jadi engkau sudah berhasil sampai ke sana? Anak baik, mari kubantu eng¬kau membinasakan Iblis Muka Kuda, baru kita bicara tentang Pulau Es!”
Kemarahan hati Han Han meluap. “Kang-thouw-kwi, engkau setali tiga uang (sama saja) dengan Ma-bin Lo-mo. Aku tidak sudi akan bantuanmu!”
Mendengar jawaban ini dan karena mereka yakin bahwa Han Han tak dapat dibujuk, Ouwyang Seng sudah cepat turun tangan untuk melakukan siasat yang ke dua. Yaitu, merampas Lulu terlebih da¬hulu untuk menyelamatkan gadis Mancu itu dan juga untuk dijadikan umpan me¬mancing Han Han ke kota raja, bahkan kelak akan dapat dipergunakan untuk memaksa Han Han tunduk akan perintah Puteri Nirahai. Ia maklum bahwa sekali ini ia tidak boleh menurutkan nafsu be¬rahinya yang berkobar begitu ia melihat gadis Mancu yang cantik molek tidak kalah oleh Puteri Nirahai sendiri itu, karena Lulu adalah seorang gadis Mancu dan keadaan gadis ini sudah menjadi perhatian Puteri Nirahai dan sudah di-umumkan kepada para pembantunya. Cepat ia menubruk untuk menangkap Lulu, akan tetapi alangkah kaget dan herannya kelika tubuh gadis itu seperti seekor kupu-kupu yang hendak ditangkap saja, telah melesat dan mengelak dari kedua tangannya! Itulah gerak otomatis yang sudah ada pada diri Lulu sebagai hasil latihan-latihannya selama berada di Pulau Es bersama Han Han.
Melihat Ouwyang-kongcu tidak ber¬hasil dan gadis itu berkelebat dekat de¬ngannya, Gak Liat lalu menggerakkan tangan kanannya mendorong perlahan. Lulu mengeluh dan roboh dalam pelukan Ouwyang Seng yang sudah cepat me¬nyambar, menotoknya dan memondong tubuhnya.
“Koko....!”
Han Han marah bukan main. “Keparat! Lepaskan Adikku!” Ia mengejar maju akan tetapi dihadang oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat. Melihat ini, dengan muka merah dan pandang mata beringas Han Han menerjang Gak Liat dan memukul dengan pukulan Hwi-yang Sin-ciang!
Gak Liat terkejut bukan main melihat ini dan cepat menangkis.
“Bressss!” Tubuh Kang-thouw-kwi Gak Liat seperti yang dialami oleh Ma-bin Lo-mo tadi tergetar oleh pukulan Hwi-yang Sin-ciang, keahliannya sendiri. Ia tergetar dan terhuyung ke belakang sedangkan Han Han hanya tergetar saja.
“Ha-ha, Setan Botak! Bocah ini se¬karang tak boleh dibuat main-main, dia telah mewarisi pusaka Pulau Es!” Ma-bin Lo-mo mentertawakan Gak Liat.
“Kita berdua harus menundukkannya!” Gak Liat yang amat cerdik berkata. Dari pada memperebutkan bocah itu dan kedua-duanya tidak berhasil, lebih baik menangkapnya bersama dan kelak mem¬bagi-bagi hasilnya. Melihat betapa dalam waktu lima enam tahun saja bocah ini sudah dapat menggunakan Hwi-yang Sin-ciang sedemikian hebatnya, dapat di¬bayangkan betapa luar biasa dan amat berharga pusaka Pulau Es.
Ma-bin Lo-mo bukan seorang bodoh. Ia maklum akan isi hati Gak Liat, maka¬ ia berkata, “Baiklah. Dia harus dapat ditangkap hidup-hidup!”
Gak Liat berteriak ke belakangnya, “Kongcu, lekas bawa pergi Nona itu!”
Ouwyang-kongcu sudah mengempit tubuh Lulu dan menotoknya sehingga kini Lulu menjadi lemas tak dapat bergerak atau berterlak lagi, kemudian ia melari¬kan diri secepatnya meninggalkan tempat itu sambil mengempit tubuh Lulu dengan lengan kirinya.
“Heiiiii, Ouwyang Seng keparat kurang ajar! Lepaskan adikku.... anjing keparat, kulumatkan tubuhmu, kuhancurkan ke¬palamu!” Han Han menerjang ke depan hendak mengejar Ouwyang Seng, akan tetapi ia disambut oleh pukulan Kang-thouw-kwi Gak Liat, bahkan dari belakang ia diserang pula oleh Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee. Han Han mengeluar¬kan suara menggereng seperti biruang es, wajahnya merah dan matanya mengeluarkan sinar beringas. Kemarahan hebat membuat ia menjadi mata gelap dan kebuasannya timbul kembali. Dua pukulan dari depan dan belakang hampir berba¬reng mengenai tubuhnya, akan tetapi seolah-olah tidak dirasakannya dan ia mengamuk, menggunakan Swat-im Sin-ciang dan Hwi-yang Sin-ciang berganti-ganti tanpa aturan lagi sehingga dua orang kakek itu berkali-kali mengeluar¬kan seruan heran dan kaget.
Andaikata lawan-lawannya hanyalah orang-orang yang memiliki kepandaian tidak terlalu tinggi, tentu amukan Han Han ini akan melumatkan tubuh mereka dan tentu kebuasannya sudah mengorban¬kan banyak nyawa-nyawa lagi. Akan te¬tapi sekali ini yang mengeroyoknya ada¬lah dua orang di antara datuk-datuk hitam yang ilmu kepandaiannya luar bia¬sa sekali dan pada jaman itu sukar di¬cari tandingnya, maka betapapun ia meng¬amuk, tetap saja ia tidak dapat memukul lawannya, bahkan tubuhnya berkali-kali harus menerima hantaman-hantaman yang amat berat.
Hantaman-hantaman itu amat kuat dan membuat dada Han Han terasa se¬sak, kepalanya pening dan hal ini menambah kemarahannya melihat adiknya diculik Ouwyang Seng. Ia menjadi nekat dan ketika dua orang kakek itu kembali menyerangnya dari kanan kiri, ia menge¬luarkan pekik melengking dan mengerah¬kan seluruh sin-kangnya menyalurkan Hwi-yang Sin-ciang di tangan kiri menghantam Ma-bin Lo-mo sedangkan tangan kanannya dengan hawa Swat-im Sin-ciang menghantam Gak Liat. Ia balas memukul tanpa mempedulikan datangnya pukulan kedua lawan itu. Karena ia menyalurkan sin-kang secara terbalik dan dengan de¬mikian sekaligus menghadapi kedua lawan itu dengan dua macam tenaga yang ber¬lawanan sehingga keras bertemu keras, terjadilah tabrakan tenaga sakti yang luar biasa sekali.
“Desssss....!”
Gak Liat dan Ma-bin Lo-mo seketika muntahkan darah segar dari mulut mere¬ka akan tetapi Han Han sendiri yang terhimpit oleh dua tenaga raksasa itu roboh pingsan!
Kang-thouw-kwi Gak Liat dan Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee cepat duduk bersila untuk mencegah terluka di da¬lam dada mereka. Sepuluh menit kemudi¬an mereka sudah bergerak kembali dan keduanya memandang Han Han sambil menggeleng-geleng kepala.
“Dia luar biasa sekali, Setan Botak,” Ma-bin Lo-mo berkata perlahan.
“Hemmm, kalau tidak mengalami sendiri mana aku bisa percaya?” jawab Gak Liat dan keduanya cepat mengham¬piri Han Han yang masih rebah pingsan.
Mereka berdua lalu turun tangan me¬notok jalan darah Han Han. Ditotok oleh dua orang ahli dengan dua cara menotok yang berlainan dan amat lihai, seketika tubuh Han Han menjadi lemas dan tak lama kemudian ia siuman kembali. Be¬tapa kaget dua orang kakek itu ketika mendapat kenyataan bahwa pemuda itu tidak mengalami luka sama sekali, padahal mereka berdua nyaris terluka parah di sebelah dalam dada!
Biarpun tidak terluka parah, akan tetapi setelah siuman kembali Han Han merasa betapa seluruh tubuhnya lemas sekali saking lelahnya. Dia tahu bahwa dia telah tertotok dan dia tidak ingin mencoba untuk membebaskan diri, mak¬lum bahwa di tangan kedua orang kakek itu percuma saja baginya untuk melawan. Namun, menyerahkan pun tidak ada se¬dikit juga di dalam hatinya. Ia memandang kakek-kakek yang duduk di dekat¬nya lalu berkata.
“Kalian telah mengalahkan aku, tidak lekas bunuh mau apa lagi?” Suaranya terdengar dingin sekali dan sedikit pun tidak kelihatan gentar sehingga kedua orang kakek datuk golongan hitam itu menjadi kagum.
“Han Han, mengapa engkau amat keras kepala? Kami tidak ingin mem¬bunuhmu.”
“Benar, Han Han. Engkau masih amat muda, tidak sayangkah kalau membuang nyawa secara sia-sia?”
Mendengarkan ucapan kedua orang kakek ini yang halus dan seolah-olah menyayangnya, rasa dada Han Han men¬jadi makin sesak karena marah. Ia me¬ngerti betul bahwa dua orang kakek itu adalah datuk-datuk golongan hitam yang amat kejam, yang kini bersikap halus kepadanya karena ada pamrihnya, sikap yang palsu seperti desis dua ekor ular.
“Sudahlah, bosan aku mendengarnya. Kalian sama-sama menghendaki aku bi¬cara tentang Pulau Es, bukan? Sudahlah, percuma saja bicara. Aku tidak mau bicara dan kalau kalian mau bunuh, ker¬jakan saja. Aku tidak takut mati!”
Gak Liat dan Siangkoan Lee saling memandang. Dalam bertemu pandang itu keduanya bersepakat cara apa yang harus mereka pergunakan. Membujuk bocah yang berhati baja ini akan sia-sia, jalan satu-satunya adalah paksaan dengan jalan penyiksaan.
“Baiklah, hendak kulihat apakah eng¬kau akan kuat mempertahankan kekeras¬an hatimu!” bentak Ma-bin Lo-mo dan jari telunjuknya menotok punggung Han Han di tiga tempat. Han Han tidak tahu ilmu apa yang dipergunakan Iblis Muka Kuda ini ketika menotoknya, akan tetapi seketika ia merasa betapa seluruh tu¬lang-tulang di tubuhnya nyeri, seperti ditusuk-tusuk jarum! Ia mempertahankan diri agar tidak mengeluh, rasa nyeri makin menghebat, sampai berdenyut-denyut di ubun-ubunnya, akan tetapi ia tetap mengeraskan hatinya sehingga mu¬kanya penuh keringat dan mukanya men¬jadi pucat.
“Engkau tidak mau bicara tentang pulau itu?” Ma-bin Lo-mo membentak marah, akan tetapi Han Han diam saja, hanya memandang dengan mata mendelik, sedikit pun tidak mau menjawab.
“Ha-ha, agaknya dia tetap berkeras. Biar kutambah sedikit!” Gak Liat lalu menggunakan tangannya mengurut tengkuk Han Han dan seketika Han Han merasa betapa seluruh tubuhnya gatal-gatal. Bukan main hebatnya penderitaan ini. Rasa tulang tertusuk-tusuk menimbulkan nyeri yang sampai terasa di ubun-ubun, akan tetapi rasa gatal yang tidak nyeri sekali malah ternyata lebih hebat lagi karena merangsang syaraf-syaraf, terasa di bawah kulitnya. Ingin sekali kedua tangannya menggaruk, akan tetapi dia masih tertotok lumpuh kedua kaki tangannya! Hampir ia tak dapat menahan lagi dan ingin menjerit-jerit sekerasnya, namun kekerasan hatinya yang tidak ingin mengeluarkan keluhan membuat ia tidak suara sedikit pun, bahkan ia memejamkan kedua matanya. Begitu kedua matanya dipejamkan, terbayanglah wajah Lulu dan teringatlah ia betapa adiknya itu terancam bahaya yang lebih mengerikan daripada yang dihadapinya sendiri. Kekhawatiran dan kemarahan yang bergelombang hebat dalam dirinya mendatangkan kekuatan kemauan yang tidak lumrah dan seketika ia mengeluarkan pekik dahsyat, tubuhnya bergerak den seketika itu juga ia telah melompat bangun! Hebat sekali memang keadaan tubuh Han Han, kehebatan yang tidak wajar lagi. Semenjak kepalanya dibenturkan oleh perwira yang memperkosa ibunya, terjedi ketidakwajar¬an dalam tubuhnya, menimbulkan kekuat¬an kemauan yang depat mengalahkan kekuatan jasmani dan dengan sendirinya juga dapat memaksa jasmaninya melakukan hal-hal yang tidak semestinya dapat dilakukan manusia biasa. Dalam keadaan tertotok tadi, dia sama sekali tidak mampu bergerak, bahkan tidak mampu mengerahkan sin-kang. Akan tetapi ke¬kuatan kemauannya yang luar biasa, ter¬dorong oleh kemarahannya dan kekhawa¬tirannya memikirkan Lulu, membuat ia mampu mengerahkan sin-kangnya sehingga ia dapat membebaskan totokan pada tubuhnya dan sekaligus juga membebas¬kan totokan dan pencetan yang menimbulkan rasa nyeri-nyeri dan gatal-gatal tadi. Begitu dapat bergerak lagi, Han Han lalu meloncat hendak pergi dari situ mengejar Ouwyang Seng yang membawa lari adiknya. Melihat ini, Setan Botak dan Iblis Muka Kuda yang tadinya bengong dan kesima saking kagetnya me¬lihat pemuda itu tiba-tiba dapat bebas, cepat meloncat dan melakukan pengejaran. Han Han tidak terluka parah di dalam tubuhnya, namun seluruh tubuhnya sakit-sakit akibat pertandingan tadi, maka larinya tidaklah secepat biasanya. Andaikata tidak demikian sekalipun, tentu sukar baginya untuk dapat melarikan diri dari dua orang datuk hitam itu.
“Kau hendak lari ke mana?” Gak Liat mengejek.
“Hemmm, jangan harap dapat melari¬kan diri!” Ma-bin Lo-mo juga mengejek.
Mendengar suara mereka amat dekat di belakangnya, Han Han maklum bahwa lari pun memang tiada gunanya. Ia ter¬ingat akan sesuatu, teringat akan pengalaman-pengalamannya ketika kecil, betapa suaranya kadang-kadang dapat mem¬pengaruhi orang. Hal itu dahulu ia anggap tak masuk akal dan hanya kebetulan saja, akan tetapi dalam keadaan tersudut seperti ini, tiada salahnya mencoba-coba. Ia mengumpulkan seluruh kekuatan ke¬mauannya, kemudian tiba-tiba membalik dan membentak.
“Berhenti kalian!”
Dua orang kakek yang sama sekali tidak menyangka akan dibentak seperti itu, kaget sekali dan mereka berhenti seperti arca, memandang sepasang mata Han Han yang mengeluarkan sinar kilat ketika pemuda itu membalikkan tubuh. Melihat keadaan mereka, Han Han “mendapat hati” dan ia berkata lagi dengan suara penuh wibawa karene didasari kemauan yang amat kuat.
“Gak Liat dan Siangkoan Lee, bukankah kalian saling bermusuhan? Siapa tidak menyerang dulu akan celaka!”
Gak Liat den Siangkoan Lee seperti kemasukan kilat, mereka membalik, sa¬ling pandang dengan mata penuh kema¬rahan.
“Setan Botak. Engkau musuhku!”
“Iblis Muka Kuda, aku harus membunuhmu!”
Kedua orang tokoh besar dalam golongan kaum sesat itu segera saling han¬tam sendiri! Karena Gak Liat memper¬gunakan Hwi-yang Sin-ciang sedangkan Siangkoan Lee mempergunakan Swat-im Sin-ciang tentu saja baku hantam an¬tara dua orang datuk hitam itu amatlah hebatnya dan dua kali gebrakan saja mereka berdua terjengkang ke belakang. Karena mereka berdua memang telah memiliki kekuatan sin-kang dan kekuatan batin yang tinggi, maka pengaruh luar biasa dari pandang mata dan bentakan Han Han itupun hanya sebentar saja menguasai mereka. Setelah terjengkang barulah mereka terheran-heran mengapa mereka saling serang sendiri, dan ketika mereka memandang ternyata pemuda itu telah lari agak jauh! Tentu saja tergopoh-gopoh dua orang kakek itu mengejar sambil menyumpah-nyumpah. Mereka menjadi penasaran den marah, dan tanpa bicara keduanya mengambil keputusan untuk menangkap den menyiksia bocah itu sampai mati kalau tidak mau bicara tentang Pulau Es.
Han Han maklum bahwa kembali dua orang kakek itu sudah mengejar dekar. Ia tidak berani lagi mencoba kekuatan mu¬jijat bentakannya, karena terbukti bahwa mereka itu kini sudah tidak terpengaruh lagi. Ia berlari terus dan tiba di sebuah lereng gunung yang banyak jurang-jurang dalam di kanan-kirinya. Celaka, pikirnya, ke mana lagi harus melarikan diri? Ah, melarikan diri pun tidak ada gunanya dan ia tidak tahu ke mana Lulu dibawa pergi Ouwyang Seng. Daripada berlari yang akhirnya tentu tersusul pula, lebih baik melawan mati-matian. Pikiran ini mem¬buat ia nekat lalu membalikkan tubuhnya dan begitu dua orang lawannya datang dekat, dialah yang mendahului mener¬jang maju dan mengirim pukulan dengan kedua tangannya. Pukulannya ampuh se¬kali dan terpaksa dua orang kakek itu meloncat ke samping sambil mengibaskan lengan menangkis. Kembali Han Han dikeroyok dua dan betapapun ia melawan mati-matian, sebentar saja ia sudah ter¬desak lagi.
Kedua orang kakek itu selain berke¬pandaian tinggi, juga merupakan orang-orang cerdik dan banyak pengalaman. Mereka segera mengerti bahwa dalam hal ilmu silat, Han Han masih belum mahir, dan pemuda ini hanya memiliki sin-kang yang benar-benar amat hebat di samping kekuatan mujijat yang menimbulkan wi¬bawa dan dapat mempengaruhi orang lain. Karena itu, mereka segera memper¬gunakan ilmu silat untuk mendesak dan kini tubuh Han Han montang-manting karena harus menerima hantaman-hantam¬an yang tak dapat ia elakkan atau tangkis lagi. Ia terhuyung ke sana ke mari, dijadikan seperti sebuah bola dipermain¬kan dua orang anak-anak atau seekor tikus dipermainkan dua ekor kucing yang tidak segera membunuhnya, melainkan hendak menyiksanya. Memang orang-orang seperti Setan Botak dan Iblis Muka Kuda ini memiliki watak sadis yang luar biasa. Mereka itu tak pernah memiliki hati jujur, tidak pernah memiliki rasa kasihan, bahkan melihat orang lain menderita dan tersiksa, timbul semacam rasa puas dan gembira, sebaliknya menyaksikan orang lain senang dan bahagia, hati mereka tidak senang, iri hati dan dengki. Karena inilah maka mereka itu menjadi datuk-datuk golongan hitam, orang-orang yang sudah tidak mengenal lagi baik atau buruk, atau tidak mempedulikannya, yang berbuat semata-mata demi kesenangan dan keuntungan diri sendiri saja.
Han Han yang merasa betapa tubuh¬nya seperti akan pecah, rasa nyeri membuat kepalanya pening berdenyut-denyut tetap membungkam dan tidak mau bicara sama sekali, apalagi bicara tentang Pulau Es. Dia malah menggigit bibir sampai berdarah menahan rasa nyeri, dan masih terus melakukan perlawanan sejadinya yang tentu saja tidak ada artinya bagi kedua orang kakek itu.
Sebuah pukulah Kang-thouw-kwi Gak Liat yang mengenai leher Hen Han mem¬buat pemuda ini terpelanting dan sesaat tak dapat bangun karena pandang mata¬nya berkunang-kunang dan segala sesuatu seperti berpusingan. Terpaksa Han Han memejamkan mata dan menanti pukulan maut.
“Masihkah engkau berkeras tidak mau memberi tahu tentang Pulau Es?” Ma-bin Lo-mo membentak dan tubuhnya sudah mendoyong ke depan untuk memberi pukulan maut yang akan menghancurkan kepala Han Han yang kini sudah tak mampu melindungi dirinya lagi itu.
Han Han tidak mau menjawab, bahkan kini ia membuka kedua matanya, terbelalak memandang kepada dua orang kakek itu karena ia hendak menghadapi kematiannya dengan mata terbuka agar depat melihat bagaimana caranya dia mati! Dua orang kakek yang sudah hilang harapan dan kesabaran untuk mem¬bujuk Han Han itu menggerakkan tangan, seolah-olah hendak berlumba pula me¬nikmati kesenangan membunuh pemuda keras kepala itu. Kedua tangan mereka bergerak memukul ke arah kepala Han Han dan.... tubuh mereka terpental ke belakang dan terbanting cukup keras ke atas tanah.
Han Han terbelalak penuh keheranan dan kekaguman ketika ia melihat searang kakek tua renta yang berambut panjang terurai tidak diurus, pakaian sederhana bukan seperti pakaian lagi, berkaki telan¬jang, berdiri tak jauh dari tempat itu. Kakek tua renta itu patutnya seorang yang hidupnya terlantar, seorang jembel tua, dan yang membuat Han Han kagum adalah wajah kakek itu yang masih ke¬lihatan tampan dan mencerminkan ke¬tenangan dan kedamalan hati yang mujijat. Kakek itu berdiri dan tersenyum memandang dua orang datuk golongan hitam itu.
Kang-thouw-kwi dan Ma-bin Lo-mo yang juga terkejut sekali meloncat bangun dan ketika mereka melihat kakek tua renta yang bertubuh tinggi besar itu, mereka mengeluarkan seruan tertahan, sejenak tubuh mereka menegang seolah-olah hendak menerjang kakek tua renta itu, akan tetapi ternyata tidak demikian karena mereka membalikkan tubuh dan.... lari cepat meninggalkan tempat itu. Han Han menjadi heran sekali, akan tetapi tidak sempat bertanya karena kakek tua renta itu pun sudah melangkah pergi perlahan-lahan dari tempat itu tanpa mengeluarkan sepatah pun kata-kata.
Han Han baru mengeluarkan rintihan perlahan setelah dua orang iblis itu pergi dan tidak ada orang lain di tempat itu. Seluruh tubuhnya terasa sakit-sakit, tu¬lang-tulangnya seperti remuk rasanya. Akan tetapi lebih sakit lagi karena me¬mikirkan Lulu. Ia bangun dan bersila, mengerahkan sin-kangnya sehingga hawa yang hangat menjalar di seluruh tubub¬nya mengurangi rasa sakit. Akan tetapi karena teringat akan adiknya, tidak lama kemudian ia bangkit berdiri, agak ter¬huyung dan pening. Mulutnya berbisik.
“Ouwyang Seng, awas engkau kalau mengganggu Lulu....” Ia tahu bahwa Ouwyang Seng tinggal di kota raja. Ten¬tu adiknya itu dibawa ke kota raja. Ia harus mengejar secepatnya ke kota raja. Pikiran ini membuat ia melompat ke depan, agaknya ingin ia dengan sekali lompatan dapat menyusul Ouwyang Seng. Akan tetapi ia mengeluh dan terguling, menggeletak pingsan di pinggir jurang, nyaris tubuhnya terguling ke jurang ka¬lau saja tidak ada sebuah batu meng¬halang tubuhnya yang menelungkup.
***
Setelah Kaisar Kang Hsi naik tahta Kerajaan Mancu pada tahun 1663, me¬mang terjadilah perubahan besar-besaran menuju ke arah perbaikan. Kaisar ini menggunakan tangan besi untuk menyapu para pemberontak, juga melakukan usaha keras untuk membasmi korupsi dan pe¬nyuapan. Dengan cara radikal mengganti para pembesar tua yang korup dengan tenaga-tenaga muda, bukan hanya diambil dari bangsa-bangsa di utara, yaitu bangsa Mancu, Mongol atau Khitan, akan tetapi juga tidak pantang mempergunakan te¬naga bangsa Han sendiri yang sudah jelas mendukung pemerintah baru itu. Bahkan dengan sikap yang manis dan jujur, kai¬sar ini membuka kesempatan bagi kaum muda terpelajar untuk menduduki jabatan-jabatan penting di kota raja melalui ujian yang jujur, bebas daripada pengaruh suapan. Hal ini disambut dengan gem¬bira oleh kaum terpelajar yang semenjak dahulu bernasib sengsara kareng dahulu, betapapun pandainya seseorang, kalau tidak dapat memberi suapan kepada pem¬besar yang bertugas, tak pernah dapat lulus ujian. Sikap kaisar ini memang tepat sekali sehingga pemerintahnya mendapatkan simpati daripada kaum terpelajar.
Namun, di samping sikap lunak dan baik untuk menarik sebanyak mungkin kaum cerdik pandai membantu roda pe¬merintahannya, Kaisar Kang Hsi juga bersikap bengis dan keras terhadap rak¬yat yang tidak tunduk kepada pemerintah Mancu. Pembersihan dilakukan di mana-mana, dan terutama sekali kaum kang-ouw mendapat pengamatan keras. Tepat seperti yang diceritakan oleh Pangeran Ouwyang Cin Kok kepada para pembantu¬nya, bagaikan ikan ikan para tokoh kang-ouw yang menentang pemerintah penjajah ini dikejar-kejar sehingga terpaksa mere¬ka yang dapat menyelamatkan diri lari ke Se-cuan untuk menggabung pada Bu Sam Kwi, raja muda yang merupakan kekuatan terakhir yang menentang pe¬merintah Mancu.
Sudahlah lazim di dunia ini bahwa perubahan-perubahan selalu mendatangkan korban dan selalu menimbulkan ekses-ekses yang kadang-kadang merupakan malapetaka besar. Sudah biasa pula bah-wa perintah yang dikeluarkan dengan kebijaksanaan dan mempunyai dasar yang baik, sering kali berbeda dengan pelak¬sanaannya, atau disalahgunakan oleh si pelaksana demi kesenangan dirinya sen¬diri. Demikian pula dengan perintah kai¬sar. Kaisar memberi perintah untuk mem¬bersihkan kaum pemberontak, dengan maksud agar pertentangan segera ber¬akhir dan dapat segera menujukan se¬luruh kekuatan dan perhatian kepada pembangunan agar kehidupan rakyat men¬jadi tenteram dan jauh daripada perbuat¬an yang mengandung kekerasan.
Akan tetapi bagaimanakah pelaksana¬an daripada perintah ini? Ketika perintah turun sampai ke tangan Ouwyang Cin Kok dan yang menyerahkannya kepada Puteri Nirahai dan para pembantunya, perintah itu masih murni dan dilaksana¬kan dengan baik pula. Akan tetapi se¬telah perintah itu tersebar kepada pasu¬kan-pasukan yang ditugaskan melakukan pengejaran dan pembersihan terhadap orang-orang kang-ouw yang masih me¬nentang, terjadilah penyelewengan-penye¬lewengan dan penyalahgunaan. Pasukan-pasukan Mancu yang beroperasi jauh dari kota raja, jauh dari pengawasan para pembesar, hanya dipimpin oleh perwira-perwira rendahan yang dalam keadaan demikian seolah-olah menjadi raja-raja kecil yang berkuasa penuh, segera me¬lakukan hal-hal yang sama sekali tidak menenteramkan rakyat, bahkan sebalik¬nya! Apalagi kalau ada di antara mereka yang tewas oleh sergapan kaum pem-berontak kang-ouw yang berkepandaian. Kemarahan dan dendam mereka yang tak dapat mereka lampiaskan kepada para pemberontak lalu mereka timpakan ke¬pada rakyat dusun-dusun yang sama sekali tidak tahu apa-apa. Terjadilah pe¬rampokan, perkosaan, pembunuhan dan perampasan tanah untuk diberikan kepada mereka yang dapat mengeluarkan perak dan emas sebagai sogokan!
Bermacam-macamlah peristiwa yang terjadi di jaman sengsara bagi rakyat jelata itu. Kedatangan pasukan-pasukan Mancu yang berdalih melakukan pem¬bersihan terhadap kaum pemberontak itu jauh-jauh sudah didengar oleh penduduk dusun-dusun sebagai kedatangan segerombolan serigala-serigala kelaparan yang haus darah. Ada yang bergegas lari mengungsi, akan tetapi sebagian besar hanya menerima nasib dan menyandarkan nasib keluarga mereka kepada Tuhan. Mau lari mengungsi lari ke mana? Di rumah pun setiap harinya sudah sukar mendapatkan makan, kalau mengungsi tanpa tujuan, tanpa bekal, sama dengan mencari mati kelaparan di perjalanan!
Dan setelah pasukan Mancu memasuki sebuah dusun, benar-benar nasib mereka yang menjadi penghuni dusun itu berada di tangan Tuhan. Tidak ada seorang pun dapat membela mereka. Tuhan yang me¬nentukan siapa di antara penghuni dusun itu yang akan ditimpa malapetaka, siapa yang dibakar rumahnya, dibunuh, diram¬pok, atau diperkosa anak isterinya, siapa pula yang secara aneh terhindar dari malapetaka seolah-olah para pasukan yang berubah ganas melebihi perampok-perampok itu melewati atau tidak melihat rumah itu.
Manusia adalah mahluk yang berakal budi, yang katanya merupakan mahluk-mahluk yang tertinggi tingkat dan de¬rajatnya di antara segala mahluk hidup yang bergerak. Akan tetapi justeru ka¬rena akal budi itulah maka tidak ada mahluk yang lebih kejam dan buas daripada seorang manusia yang menyombong¬kan akal budinya. Sebagian besar manusia menyalahgunakan akal yang dianuge¬rahkan khusus kepada manusia oleh Tuhan. Akal bukan dipergunakan untuk kebaikan, untuk kemanfaatan bagi manu¬sia umumnya dan dunia, melainkan se¬mata-mata akal dipergunakan sebagai alat untuk mencapai kepuasan nafsu-nafsunya yang tak kunjung habis. Akal dipergunakan untuk mengakali (menipu) orang lain, budi dipergunakan sebagai bahan utang-piutang!
Kalau manusia sudah diperhamba nafsunya sendiri, benar-benar mengerikan sekali akibat daripada perbuatan-perbuat¬annya. Mata sudah menjadi gelap oleh nafsu, yang ada hanyalah mengejar ke-nikmatan dan kepuasan nafsu, tanpa mempedulikan lagi apa yang disebut baik dan buruk, tidak lagi sadar bahwa perbuatannya menyengsarakan orang lain bahwa perbuatannya adalah amat jahat.
Dengan dalih pembersihan dan me¬numpas kaum pemberontak, rakyat yang tidak berdosa disembelih, hanya untuk dapat menyita barang-barangnya atau memperkosa isteri dan gadisnya. Di da¬lam sebuah dusun, seorang ibu muda melihat suaminya disembelih di depan matanya, kemudian karena diancam anak¬nya akan disembelih, ibu muda ini ter¬paksa menyerahkan kehormatannya di¬nodai secara bergantian oleh tiga orang tentara Mancu yang menyebut diri me¬reka pahlawan-pahlawan Kerajaan Mancu yang jaya! Setelah ibu muda itu tergolek pingsan, tiga orang manusia itu mem¬bunuhnya, juga membunuh bayinya! Ada pula gerombolan pasukan yang memper¬kosa isteri dan gadisnya di depan tuan rumah yang diikat pada tiang rumah dan dipaksa menyaksikan betapa isteri dan anaknya menjerit-jerit diperkosa seperti dua ekor domba diterkam harimau-harimau buas! Banyak lagi kekejian-kekejian yang kalau diceritakan seakan-akan tidak ma¬suk akal, akan tetapi hal-hal semacam itu banyak terjadi di masa itu, dan terjadi pula di mana-mana di bagian dunia ini, terutama sekali di waktu perang mengamuk. Perang mengubah manusia-manusia beradab menjadi buas melebihi binatang yang paling buas, menjadi jahat melebihi iblis yang paling jahat. Dan semua perbuatan ini mereka lakukan dengan memaksakan pendirian di dalam hati sendiri bahwa yang mereka lakukan itu adalah benar, karena mereka menjatuhkan hukuman bagi musuh-musuh mereka. Mungkin ada, di antara mereka yang setelah tenang kembali menyadari betapa kejinya perbuatan mereka, namun mereka akan menghibur hati sendiri bah¬wa banyak orang menemani mereka da¬lam perbuatan itu, bukan mereka sendiri, maka berkuranglah penyesalan hati mere¬ka, sungguhpun kadang-kadang hati nurani mereka membuat mereka itu tersiksa batin mereka selama hidup mereka.
Di sebuah dusun, sebelah selatan kota raja, hanya sejauh tiga ratus mil saja dari kota raja, terjadilah geger ketika pasukan-pasukan Mancu melanda dusun-dusun di sekitarnya dalam “operasi” mereka.
Memang ada juga hasilnya operasi yang dilakukan pasukan itu demi tugas mereka yang semestinya, yang membasmi peram¬pok-perampok dan mereka yang masih menentang kekuasaan pemerintah Mancu. Di dalam hutan di luar dusun itu sebuah pasukan yang terdiri dari tiga puluh orang telah berhasil membasmi segerombolan perampok yang selain sering meng¬ganggu penduduk dan orang lewat, juga terkenal memusuhi pemerintah Mancu dan sering kali menghadang dan meram¬pok kereta-kereta pembesar Mancu yang lewat dan yang tidak begitu kuat pengawalannya. Sarang perampok dibasmi, banyak yang dibunuh dan ada pula yang melarikan diri. Kepala perampok dibunuh, akan tetapi seorang di antara isteri-isteri perampok itu, yang muda cantik dan genit, tidak dibunuh oleh perwira yang mengepalai pasukan, karena perempuan ini amat pandai mengambil hati dan pandai pula merayu. Perempuan ini men¬ceritakan bahwa dia bukanlah perampok, bahwa dia adalah puteri seorang guru silat yang diculik perampok dan diperkosa. Akhirnya ia dapat jatuh ke tangan kepala rampok itu dan dijadikan selirnya. Karena perwira itu dan pembantu-pembantunya puas dengan rayuan wanita ini, maka dia dibawa sebagai teman penghibur dalam tugas pembersihan yang mereka lakukan. Apalagi ketika wanita itu membuktikan bahwa dia pun pandai silat dan ikut pula melakukan gerakan pembersihan, mem¬bantu para pasukan, dia makin disayang. Hebatnya, perempuan ini mempunyal kesenangan yang amat aneh, yaitu ia paling suka menyaksikan wanita-wanita diperkosa oleh para anak buah pasukan! Bahkan dialah yang sering kali menang¬kapi gadis-gadis dan wanita-wanita muda yang cantik untuk diberikan kepada para anak buah pasukan kemudian dengan ter¬senyum puas ia menyaksikan betapa me¬reka itu diperkosa seperti domba disem¬belih! Hal ini timbul dalam hatinya, me-rupakan semacam penyakit sebagai akibat daripada pengalamannya sendiri. Ketika masih gadis remaja, dia sebagai gadis terhormat seorang guru silat, diculik perampok dan diperkosa oleh banyak orang. Semenjak itu, nasibnya selalu seperti itu, diperkosa ganti-berganti ta¬ngan sampai akhirnya ia jatuh ke tangan kepala rampok dan dijadikan selirnya. Karena penderitaan batin yang amat hebat itulah maka dia akhirnya ingin melihat setiap orang wanita diperkosa seperti yang pernah ia alami sendiri! Ketika pasukan memasuki dusun di selatan kota raja itu dan si wanita cabul dan genit ini mendengar bahwa di situ tinggal seorang guru silat dengan seorang isteri dan seorang gadisnya, timbul kegai-rahan hatinya untuk menimpakan mala¬petaka kepada guru silat dan keluarganya ini seperti yang pernah dialami keluarga ayahnya sendiri. Maka ia lalu berbisik-bisik kepada komandan pasukan yang tertawa terbahak, kemudian menjelang senja wanita itu bersama perwira dan tiga orang pembantunya keluar dari ge¬dung yang dijadikan markas sementara pasukan. Empat orang perwira itu mengenakan pakaian biasa, tidak seperti pakaian yang mereka pakai kalau men¬jalankan dinas, sehingga mereka itu kelihatan seperti tokoh-tokoh persilatan atau pembesar-pembesar sipil karena pakaian yang dipakai secara tiru-tiru oleh orang-orang Mancu ini memang lucu. Namun gerakan mereka ketika ber¬jalan Jelas menunjukkan bahwa mereka adalah tentara tentara Mancu.
Guru silat pemilik rumah yang agak terpencil itu menyambut kedatangan empat orang laki-laki tinggi besar dan seorang wanita cantik itu dengan hati gelisah. Dari sikap mereka itu ia sudah mengenal bahwa empat orang itu tentulah orang-orang Mancu, maka cepat ia menyambut mere¬ka dengan hormat dan bertanya.
“Cu-wi mencari siapakah?”
Empat orang perwira Mancu itu belum pandai benar berbahasa Han, maka Si Wani¬ta yang menjawabnya. “Mereka ini adalah perwira-perwira Mancu yang memimpin pasukan mengadakan pembersihan.”
Wajah guru silat itu menjadi berubah dan ia bertanya hati-hati, “Ada keperluan apakah cu-wi datang mengunjungi saya?”
Wanita cabul itu tertawa dan berkata, “Hanya ada sedikit keperluan yaitu mereka ini hendak meminjam sebentar iste¬rimu yang kabarnya cantik dan anak gadismu!” Empat orang perwira itu ter¬tawa bergelak dan mengangguk-anggukkan kepala.
“Keparat!” Guru silat itu marah sekali dan cepat menyambar goloknya dari atas meja sambil berteriak ke dalam, “A-bwee, ajaklah anakmu lari!”
Empat orang perwira itu tertawa bergelak, dan pemimpinnya lalu berkata. “Bunuh anjing pemberontak ini!” Kemudi¬an ia bersama wanita cabul itu melom¬pat ke dalam den mengejar ibu dan anak yang melarikan diri melalui pintu bela¬kang.
Kauwsu (Guru Silat) itu mengamuk, dikeroyok tiga oleh tiga orang pembantu perwira. Akan tetapi dia adalah guru silat yang kepandaiannya biasa saja sedangkan tiga orang lawannya adalah per¬wira-perwira muda yang kasar dan ber¬tenaga besar, juga hampir setiap hari bertempur, maka begitu dikeroyok dengan serangan-serangan dahsyat, ia hanya da¬pat bertahan belasan jurus saja. Tiga batang golok di tangan lawannya menyambar-nyambar dan guru silat itu ro¬boh mandi darah dan tewas seketika. Sambil tertawa-tawa tiga orang perwira itu menancapkan golok mereka di atas meja lalu berlari menyusul pemimpin mereka ke belakang. Mereka sudah mendengar jeritan-jeritan wanita dan hal ini menambah gairah hati mereka.
Kasihan sekali nasib isteri dan anak guru silat itu. Belum jauh mereka me¬larikan diri sudah disusul oleh perwira dan si perempuan cabul dan cepat mere¬ka itu ditawan. Melihat bahwa isteri guru silat yang berusia kurang lebih tiga puluh itu benar-benar amat cantik, jauh lebih menarik dan lebih matang daripada gadisnya yang berusia lima enam belas tahun, perwira itu langsung menubruk isteri guru silat itu, memeluknya dan menciuminya sambil tertawa-tawa. Akan tetapi isteri guru silat itu meronta, me-lawan dan mencakar. Adapun gadis itu dengan mudahnya dirobohkan si wanita cabul yang menyambar sabuknya. Gadis itu bangkit berdiri dan lari, akan tetapi sabuknya terlepas dan sabuk yang panjang itu membuat tubuhnya berputaran dan ia roboh kembali, sabuknya yang panjang berada di tangan wanita cabul yang tertawa-tawa. Wanita itu membuat laso di ujung sabuk dan mengalungkannya di leher gadis itu. sehingga setiap kali gadis itu meronta, sabuk itu mengikat dan menjerat lehernya dan dia roboh kembali.
Pada saat itu, tiga orang pembantu perwira yang berhasil membunuh si guru silat muncul dan melihat gadis yang meronta-ronta itu, mereka tertawa ber¬gelak. Si wanita cabul memotong sabuk menjadi empat dan berkata, “Nih, ikat kaki tangannya, kita permainkan dia, hi-hik!”
Laki-laki yang buas sebanyak tiga orang itu tertawa-tawa dan dua orang mengikatkan sabuk potongan itu pada kedua tangan Si Gadis, dan seorang lagi mengikatkan sabuknya pada kaki kanan gadis itu. Ketika mereka menarik sabuk, dan si wanita cabul menarik pula sabuk¬nya yang menjerat leher, gadis itu terpentang kaki tangannya dan berdiri de¬ngan kaki kiri, berloncatan dan berteriak-teriak, “Jangan bunuh aku...., jangan bunuh aku....!”
Sementara itu, perwira yang sudah bangkit nafsunya setelah menggumuli isteri guru silat dan mendapat perlawan¬an, bahkan pipinya kena dicakar, men¬jadi marah. Ia menampar muka wanita itu sehingga terpelanting, kemudian ber¬kata marah, “Hemmm, apakah engkau masih menolak? Lihat, anakmu akan kusuruh robek menjadi empat kalau kau menolak. Manis, mengapa kau menolak? Bukankah aku lebih gagah daripada sua¬mimu yang kurus kering itu?”
“Ibu.... Ibu.... tolonggggg....!” Gadis itu menjerit-jerit.
“Akhiuuu.... anakku....!” Si ibu menjerit, kemudian sambil terisak-isak ia berkata, “Baiklah.... baikiah.... lakukanlah sesuka hatimu terhadap aku.... akan tetapi bebaskan anakku.... lepaskan anakku....!”
Sambil menangis terisak-isak isteri guru silat itu tidak meronta lagi, membiarkan saja apa yang dilakukan oleh perwira yang menjadi buas itu dengan pakaian dan tubuhnya. Sementara itu, Si Gadis yang melihat keadaan ibunya, ce¬pat berkata kepada tiga orang dan wa¬nita cabul yang mengikatnya dengan sabuk. “Lepaskan aku...., ah, lepaskan aku. Lihat, Ibuku sudah mau.... lepaskan aku....!” Anak gadis itu yang hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri, agaknya lupa akan keadaan ibunya, lupa betapa ibunya diperkosa orang secara buas, dan lupa betapa ibunya terpaksa mau menerima penghinaan ini hanya demi keselamatannya.
“Lepaskan aku! Ibu sudah tidak menolak lagi....!” Kembali ia menjerit.
Wanita cabul itu tertawa terkekeh-kekeh. “Aduh.... puas hatiku, persis seperti aku dahulu. Hi-hi-hik, alangkah lucunya, hi-hik!” Ia menuding-nuding ke arah isteri guru silat yang menggeliat-geliat dan merintih dalam tangisnya, kemudian me¬ngedipkan matanya kepada tiga orang perwira. “Kita main kucing dan tikus. Lepaskan dia!”
Tiga orang perwira itu maklum dan sambil tertawa-tawa, mereka melepaskan sabuk. Gadis itu jatuh, kemudian bangkit berdiri dan tanpa mempedulikan ibunya ia lalu melarikan diri. Akan tetapi ia menjerit lagi karena tiba-tiba tubuhnya terpelanting dan kiranya sabuk yang mengikat kakinya telah ditarik dari belakang! Ia bangkit lagi, akan tetapi ketika lari ke depan, di situ telah menghadang seorang perwira dan sekali renggut bajunya robek sebagian! Si gadis menjerit dan lari ke kiri, hanya untuk bertubrukan dengan seorang perwira lain yang juga merobek bajunya sambil tertawa-tawa. Gadis itu menjadi panik, lari ke sana ke mari, akan tetapi selalu bertemu perwira yang sengaja menghadangnya dan merobeki bajunya sedikit demi sedikit sehingga hampir telanjang. Wanita cabul yang menonton pertunjukan ini tertawa-tawa penuh kepuasan.
Setelah pakalan gadis itu habis koyak-koyak, seorang perwira menubruk maju dan memeluknya. Gadis itu menjerit, dan pada saat itu, jeritnya diikuti jerit Si Perwira yang menciumnya. Mereka, perwira dan gadis itu, roboh terguling dan masih berpelukan karena sebatang ran¬ting telah menembus tubuh mereka berdua, membuat tubuh mereka seperti dua ekor ikan disate! Dari atas pohon me¬layanglah turun seorang pemuda berpa¬kaian putih sederhana yang bukan lain adalah Han Han! Ketika pemuda ini yang kebetulan tiba di dusun itu dalam pengejarannya kepada Ouwyang Seng, melihat peristiwa yang terjadi di belakang rumah guru silat, kemarahannya tak dapat ia tahan lagi. Dia tidak tahu, bahwa empat orang laki-laki itu adalah perwira-perwira Mancu, akan tetapi melihat perbuatan mereka, dalam pandang matanya wajah mereka berubah seperti wajah perwira-perwira yang telah memperkosa ibunya dan cicinya. Maka ia menjadi mata ge¬lap. Lebih-lebih ketika menyaksikan sikap gadis itu sama sekali tidak patut, se¬orang anak yang puthauw (tak berbakti), yang membiarkan ibunya menjadi korban asal dia sendiri selamat. Dalam kema¬rahannya dan kemuakannya, ia melontarkan ranting pohon dari atas pohon, se¬kaligus membunuh perwira dan gadis itu! Kemudian ia melayang turun dan sekali tangannya menampar, perwira yang se¬dang memperkosa isteri guru sliat itu terguling dengan kepala remuk! Dua orang pembantu perwira dan wanita cabul menjadi kaget sekali. Cepat mereka menerjang maju, akan tetapi sekali saja menggerakkan kedua tangemnya, Han Han membuat mereka bertiga roboh puia dengan kepala remuk dan dada pecah! Isteri guru silat sudah bangkit dan lari menghampiri mayat puterinya sambil me¬nangis, kemudian lari memasuki rumah dan terdengar jeritnya. Han Han menyu¬sul masuk dan melihat isteri guru silat itu menggeletak mandi darah di samping mayat suaminya. Kiranya wanita yang kehilangan suami dan anak ini mengambil keputusan nekat, membunuh diri! Han Han meninggalkan tempat itu cepat-cepat dan menghela napas. Ia me¬mikirkan perbuatan wanita tadi. Salahkah kalau dia membunuh diri? Salah pulakah kalau dia menyerahkan kehormatannya kepada perwira untuk menyelamatkan puterinya? Ah, betapa malang nasibnya. Suaminya dibunuh. Puterinya juga tewas, dan dia sendiri sudah diperkosa. Harapan apalagi dalam hidup? Memang, agaknya kematianlah jalan terbaik.
Ketika Han Han mendengar bahwa yang dibunuhnya itu adalah perwira-per¬wira yang memimpin pasukan Mancu yang berada di dusun itu, ia terkejut dan juga marah. Kiranya di mana-mana pasu¬kan Mancu mendatangkan malapetaka! Bukan hanya Han Han saja yang terkejut mendengar akan kematian empat orang perwira Mancu di belakang rumah guru silat itu. Juga semua penduduk dusun itu terkejut sekali, bukan terkejut bercam¬pur marah seperti Han Han, melainkan terkejut dan ketakutan. Mereka semua maklum apa artinya peristiwa itu, apa yang akan menjadi akibatnya. Tentu pa¬sukan Mancu akan mengamuk, mengang¬gap dusun itu sebagai sarang pemberontak! Maka berbondonglah malam hari itu juga semua penduduk lari mengungsi.
Mendengar bahwa penduduk lari mengungsi, pasukan yang kehilangan pimpinan¬nya itu menjadi makin marah dan meng¬anggap bahwa tentu dusun itu menjadi sarang gerombolan pemberontak. Maka mereka lalu keluar dari gedung yang dijadikan markas, mulai mengamuk dan membakari rumah-rumah yang sudah kosong, lalu melakukan pengejaran terhadap para penduduk yang mengungsi. Akan tetapi, sebelum keluar dari pintu dusun, mereka dihadang oleh Han Han yang berdiri tegak sambil bertolak ping¬gang menghadapi tiga puluh orang pasu¬kan Mancu itu. Malam itu bulan telah keluar sore-sore, dan langit tanpa men¬dung sehingga keadaan cukup terang. Pasukan itu heran menyaksikan ada se¬orang pemuda yang rambutnya riap-riap¬an menghadang di tengah jalan. Mereka maklum bahwa tentu pemuda itu seorang pemberontak, karena hanya para pem¬berontak atau para tokoh petualang kang-ouw saja yang tidak menguncir rambut¬nya. Menguncir rambut ke belakang me¬rupakan peraturan baru yang dikeluarkan pemerintah Mancu, yaitu peraturan yang berlaku bagi rakyat bangsa Han. Di samping peraturan menguncir rambut, juga ada peraturan bahwa bangsa Han atau rakyat pedalaman tidak diperbolehkan membawa senjata tajam!
“Berhenti semua!” Han Han memben¬tak. “Mengapa kalian hendak mengejar rakyat tak berdosa yang ketakutan dan melarikan diri mengungsi dari dusun mereka?”
“Heh, pemberontak cilik, masih ber¬pura-pura lagi! Pemberontak-pemberontak telah membunuh perwira-perwira Mancu, dan semua penduduk ini tentu pemberon¬tak, termasuk engkau dan mereka semua harus dibasmi habis!” bentak seorang perajurit yang brewok.
“Kalian ingin tahu yang membunuh mereka di belakang rumah guru silat itu? Akulah orangnya! Pimpinan kalian telah melakukan perbuatan keji membunuh tuan rumah dan memperkosa ibu dan anak. Aku yang melihat hal itu tentu saja tidak tinggal diam dan turun tangan membunuh mereka. Sekarang, kalau kali¬an hendak membunuh rakyat yang tidak berdosa, aku pun tidak akan tinggal diam dan akan membunuh kalian semua.”
“Wah, keparat, sombongnya! Pimpinan kami memeriksa orang-orang yang dicuri¬gai, menghukum atau membunuh sudah menjadi haknya. Kau.... pemberontak cilik sungguh berani mati. Kawan-kawan, tangkap dan seret ke kota raja!”
Han Han diserbu oleh puluhan orang anak buah pasukan itu. Namun Han Han sudah siap sedia dan dia sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Kedua kakinya tetap terpentang lebar, tubuhnya berdiri tegak, dan hanya kedua lengannya yang bergerak ke sekeliling tubuhnya. Setiap sambaran tombak dan golok yang bertemu dengan tangannya tentu mem¬buat senjata-senjata itu patah atau ter¬lempar, dan setlap kali tangannya menyambar dan mengenai tubuh seorang pengeroyok, tentu orang itu roboh de¬ngan napas putus!
Bagaikan sekumpulan nyamuk mener¬jang api lilin, pasukan itu menyerang untuk roboh sendiri. Bertumpuk-tumpuk mayat para pengeroyok bergelimpangan di sekeliling Han Han dan kedua lengan baju pemuda ini sudah mandi darah para pengeroyoknya. Setelah ada dua puluh orang perajurit roboh binasa, barulah sisanya menjadi gentar dan tanpa diko¬mando lagi, karena pemimpin mereka memang tidak ada, mereka itu membalikkan tubuh dan melarikan diri melalui pintu dusun sebelah utara, berlawanan dengan arah yang ditempuh penduduk dusun yang lari mengungsi.
Han Han menghela napas menyaksikan tumpukan mayat-mayat itu. Kembali hatinya dipenuhi rasa penyesalan karena kembali begitu ia turun tangan melaku¬kan sesuatu, tentu akibatnya banyak nyawa melayang. Apakah hidupnya sudah dikutuk sehingga tindakannya selalu hanya akan menimbulkan malapetaka dan pembunuhan belaka? Ia menarik napas dan mukanya murung. Ia sampai tidak tahu bahwa ada beberapa orang men¬datangi tempat itu dan menghampiri dari jarak jauh.
Ketika akhirnya ia mendengar langkah mereka dan menoleh, kiranya yang datang adalah lima orang laki-laki setengah tua, penduduk dusun itu. Mereka berlima itu segera menjatuhkan diri berlutut dan berkatalah seorang di antara mereka.
“Taihiap telah menolong kami, menyelamatkan orang sedusun. Akan tetapi taihiap telah membunuh banyak orang perajurit, bahkan membunuh empat orang perwira. Hal ini hebat sekali, harap tai¬hiap cepat-cepat meninggalkan tempat ini sebelum barisan besar datang dan melakukan pembersihan di sini.”
“Hemmm, kalian berlima ini siapakah?”
“Kami adalah penduduk dusun ini pula, taihiap.”
“Jangan sebut aku taihiap, aku hanya seorang muda yang sudah banyak mem¬bunuh orang. Mengapa kalian tidak ikut pergi mengungsi?”
“Kami merupakan pengungsi-pengungsi yang paling akhir, yaitu laki-laki yang siap mengorbankan diri menghambat pe¬ngejaran agar anak isteri kami dapat lari selamat. Akan tetapi melihat taihiap menghadang, kami bersembunyi dan menonton. Taihiap telah menyelamatkan kami, harap taihiap suka mendengar nasihat kami untuk meninggalkan tempat ini sekarang juga.”
“Tidak, kalian bantu aku menguburkan semua jenazah ini dan yang berada di belakang rumah guru silat, baru kita pergi. Bagaimana? Ada yang suka mem¬bantuku?”
Lima orang laki-laki itu saling pandang dengan mata heran. Pemuda ini sudah bersusah payah menolong penduduk dan melawan para tentara Mancu, ber¬hasil membunuh, akan tetapi kini tidak lekas-lekas pergi menyelamatkan diri malah mengajak mereka untuk mengubur jenazah-jenazah itu! Akan tetapi, tentu saja mereka tidak berani menolak dan tanpa banyak cakap mereka itu lalu membantu Han Han menggali lubang-lubang kuburan untuk mengubur sekian banyaknya mayat-mayat itu.
Menjelang pagi barulah pekerjaan itu selesai dan Han Han segera berkata, “Sekarang harap kalian suka pergi cepat-cepat dari tempat ini. Aku akan bersembunyi dan melihat apa yang akan ter¬jadi sebagai akibat dari kejadian ini.”
Setelah kelima orang itu pergi cepat-cepat dengan ketakutan kalau-kalau ada pasukan besar Mancu yang akan datang menyerbu ke situ, Han Han lalu meng¬ambil sebuah daun pintu rumah yang ter¬bakar, daun pintu yang lebar dan ia menggunakan telunjuknya dengan kekuat¬an sin-kangnya mencoret-coret beberapa huruf besar yang berbunyi:
“Sie Han membasmi pasukan yang merampok, memperkosa dan mem¬bunuh rakyat yang tidak berdosa. Pe¬merintah yang baik melindungi rakyat, bukan menindas mereka.”
Ia memasang papan pintu itu di tengah dusun yang kini sudah kosong, ke¬mudian ia bersembunyi di pohon-pohon, menanti datangnya pasukan Mancu yang diduga pasti akan datang ke dusun itu. Sambil duduk di atas dahan pohon dan makan kue kering yang ia ambil dari sebuah rumah kosong, Han Han melamun dan mengenangkan semua peristiwa yang dialaminya akhir-akhir ini dengan hati merana. Hanya ada dua hal yang ber¬kesan sekali di hatinya. Pertama, tentu saja terculiknya Lulu oleh Ouwyang Seng yang kini dicarinya dan merupakan tugas pokok dan terpenting baginya di saat itu. Ke dua adalah kakek tua renta berambut panjang yang aneh, yang muncul ketika ia diancam maut di tangan Setan Botak dan Iblis Muka Kuda. Mengapa dia tidak jadi dibunuh? Mengapa dua orang itu roboh dan mengapa pula mereka lalu lari ketakutan? Apa yang telah dilakukan kakek aneh itu? Ia tidak melihat kakek itu melakukan sesuatu! Dan anehnya, ia merasa seperti pernah bertemu dengan kakek itu, hanya ia lupa lagi, entah ka¬pan dan di mana.
Tak lama kemudian tampaklah oleh¬nya berbondong-bondong rakyat dusun melarikan diri dengan wajah ketakutan dan dari sebelah belakang para pelarian ini terdengar derap kaki kuda dan suara-suara makian.
“Pemberontak keparat! Pembunuh-pembunuh keji!”
Makian-makian ini disusul dengan munculnya dua orang penunggang kuda dan melihat pakaian mereka, tahulah Han Han bahwa mereka itu adalah dua orang pengawal. Dua orang pengawal itu me-megang gendewa dan beberapa kali me¬reka melepas anak-anak panah ke depan. Kiranya yang menjerit tadi adalah para pengungsi yang menjadi korban anak panah mereka itu.
Han Han memandang dengan mata terbelalak dan muka merah saking ma¬rahnya. Ia melihat sendiri betapa seorang laki-laki muda dan seorang gadis yang melarikan diri roboh oleh anak panah, bahkan seorang ibu setengah tua yang menggendong bayi dan yang lewat di bawahnya, menjerit ketika sebatang anak panah menancap di punggungnya. Ibu ini roboh terguling, mendekap anaknya yang menangis. Seorang laki-laki setengah tua berteriak kaget dan ternyata dia adalah suami ibu itu. Sambil menangis bapak ini lalu menyambar tubuh anaknya yang masih kecil, kemudian melarikan diri dan terpaksa meninggalkan mayat isterinya untuk menyelamatkan dirinya dan anak¬nya karena kalau tidak lari tentu mereka berdua menjadi korban keganasan dua orang perwira pengawal itu pula.
Han Han tak dapat mengekang kemarahannya lagi. Ia mengeluarkan pekik mengerikan dan tubuhnya sudah melayang turun, langsung menerjang dua orang perwira pengawal yang lewat di bawah¬nya. Dua orang pengawal itu kaget, na¬mun ternyata bahwa mereka pun bukan orang lemah, karena mereka dalam kegugupan diserang secara tiba-tiba itu menghantamkan busur mereka kepada Han Han yang sudah menggerakkan ran¬ting di tangannya.
“Krak-krakkk!” Kedua buah busur dua orang pengawal itu hancur berkeping-keping sehingga mereka terkejut sekali. Akan tetapi Han Han sudah menggunakan kedua tangannya memukul. Dua orang lawannya cepat melempar tubuh sendiri ke belakang, meloncat dari atas pung¬gung kuda.
“Bluk! Krokkk!” Dua ekor kuda tunggangan mereka meringkik keras dan ro¬boh terguling, berkelojotan tak mampu bangun kembali karena tulang punggung mereka patah terkena pukulan kedua tangas Han Han! Dua orang pengawal yang sudah meloncat bangun memandang dengan mata terbelalak.
“Keparat! Siapakah engkau yang mem¬bantu para pemberontak keji?” Seorang di antara perwira pengawal itu sudah mencabut goloknya diikuti oleh kawan¬nya, dan mereka memandang pemuda berambut panjang itu dengan hati gen¬tar.
“Hemmm, di dunia ini penuh dengan orang gila yang memaki orang lain gila, penuh dengan maling yang berteriak ma¬ling. Rakyat lari mengungsi pasti ada sebabnya dan apalagi sebabnya kalau bukan karena kekejian orang-orang ma¬cam kalian? Rakyat mengungsi mencari tempat aman, kalian mengejar dan mem¬bunuhi mereka. Sekarang kalian masih memaki mereka sebagai pemberontak keji! Sungguh menjemukan!”
“Eh, orang muda. Apakah engkau termasuk seorang pemberontak?”
“Aku bukan pemberontak, akan tetapi aku menentang setiap kekejaman seperti yang kalian lakukan terhadap para pengungsi tadi! Mereka adalah orang-orang lemah yang tertindas, yang membutuhkan bantuan orang-orang yang mengaku diri¬nya gagah.”
“Ha-ha! Mereka orang-orang lemah katamu? Hemmm, dengarlah orang muda. Kami adalah dua di antara para penga¬wal yang mengawal Giam-tai-ciangkun bersama isterinya. Tahukah engkau bahwa hampir saja kereta Tai-ciangkun hancur dan ada beberapa orang teman pengawal tewas oleh pengungsi-pengungsi yang kau¬katakan lemah itu? Mereka adalah pemberontak-pemberontak yang menyelinap di antara rakyat jelata!”
“Tidak percaya! Apakah ibu yang menggendong anak ini pun seorang pemberontak?”
Dua orang perwira pengawal itu ke¬lihatan agak malu dan seorang di antara mereka menjawab, “Memang, kurasa bu¬kan. Akan tetapi dalam pembersihan terhadap para pemberontak, bukanlah hal aneh kalau ada rakyat yang terkena aki¬batnya, karena para pemberontak ber¬sembunyi di antara rakyat jelata.”
“Huh, alasan kosong! Para pemberon¬tak berada bersama rakyat, hal itu ha¬nya berarti bahwa rakyatlah yang mem¬berontak? Mengapa rakyat memberontak? Karena rakyat tidak suka akan pemerintah yang menguasainya! Kenapa tidak suka? Karena pemerintahnya tidak benar. Daripada membunuhi rakyat, lebih baik membersihkan diri sendiri agar dapat disuka oleh rakyat!”
“Wah-wah, bicaramu seperti pemberontak pula. Sombong!” Dua orang perwira itu mendengar suara roda kereta dan derap kaki kuda mendatangi, mak¬lum bahwa rombongan panglima yang dikawalnya sudah tiba. Hal ini berarti bahwa kawan-kawan mereka sudah tiba pula, maka timbullah keberanian mereka dan serentak mereka berdua menerjang Han Han dengan golok. Kini Han Han sudah membuang tongkat ranting pohon tadi dan menghadapi kedua orang pengeroyok dengan tangan kosong. Ia melihat betapa gerakan mereka itu baginya lam¬bat sekali, maka dengan tenang ia me¬loncat ke kiri, kemudian dari samping ia menggunakan tangan kanan menampar ke arah mereka. Tamparan yang kelihatan perlahan saja, dipandang sebelah mata oleh kedua orang perwira pengawal yang cepat memutar tubuh menggerakkan go¬lok lagi, bukan saja menangkis tamparan lengan itu akan tetapi juga akan dilan¬jutkan dengan bacokan-bacokan memati¬kan. Tentu saja kedua orang perwira bangsa Mancu ini sama. sekali tidak tahu bahwa tamparan itu mengandung hawa pukulan maut Hwi-yang Sin-ciang! Mere¬ka hanya melihat golok mereka terbang dari tangan mereka, kemudian terasa hawa panas luar biasa menembus dada dan selanjutnya mereka tidak tahu apa-apa lagi karena mereka telah roboh de-ngan dada gosong dan tubuh tak bernyawa lagi!
Robo