Halaman sebelumnya of 231Halaman selanjutnya

Istana Pulau Es

spinner.gif

Serial Bu Kek Sian Su (5)
Istana Pulau Es (II)


Setelah sibuk membagi-bagi perintah dan mengatur siasat agar gerakan pasukannya yang akan

bergabung dengan pasukan-pasukannya yang akan malam nanti menyerang barisan Sung yang

dipimpin Panglima Suma Kiat, Maya lalu mengundurkan diri, beristirahat mencari angin sejuk

di dalam hutan kecil di belakang perkemahan. Dia memilih tempat sunyi ini untuk beristirahat

dan membayangkan kembali siasatnya untuk serbuan malam nanti agar tidak sampai ada hal yang

sampai terlupa atau terlewat. Malam masih jauh, saat itu baru menjelang senja dan penyerbuan

mereka akan dimulai menjelang tengah malam. Setelah merasa yakin bahwa semua siasat dan

persiapan telah diatur lengkap, dia melamun. Tersenyum-senyum panglima wanita yang perkasa

ini teringat kepada Cia Kim Seng si penggembala domba yang tampan kasar, jujur dan tak kenal

takut itu. Kiranya penggembala yang miskin itu adalah penyamaran Pangeran Bharigan, putera

Kaisar Mancu! Dan selama ini pangeran itu telah menjadi pembantunya yang setia!
Akan tetapi Maya mengerutkan sepasang alisnya yang kecil panjang hitam melengkung indah itu

kalau ia teringat kepada Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa. Mereka itu adalah orang-orang yang

paling dekat dengannya karena mereka adalah murid-murid Mutiara Hitam, bibinya. Dia merasa

sesuatu yang aneh terdapat dalam hubungan di antara kedua orang itu. Ada ia melihat sikap

yang bertentangan dalam kata-kata mereka, akan tetapi sejenak saja sikap bertentangan itu

berubah menjadi kemesraan ketika mereka bergandeng tangan memasang perkemahan berdua! Apakah

kemesraan itu pun hanya akan berlangsung pendek saja, seperti sikap pertentangan mereka?
Dan ia menarik napas berulang-ulang kalau ia teringat kepada Kam Han Ki. Rasa rindu menyesak

dadanya dan biarpun ia mengepalai banyak sekali pasukan namun ia merasa seolah-olah dia

hidup sendiri kesepian. Ke manakah suhengnya itu sekarang? Dapatkah dia bertemu lagi dengan

suhengnya? Ia membayangkan bagaimana kalau ia kembali ke Pulau Es! Apakah suhengnya masih

berada di sana? Dan sumoirya, Khu Siauw Bwee, apakah sumoinya itu pun berada di sana?
Teringat akan suhengnya, Maya melamun jauh dan di dalam hatinya timbul perasaan tidak enak

dan penuh iri hati yang timbul dari cinta kasih yang digoda cemburu! Ia tahu bahwa sumoinya

juga mencinta suheng mereka itu, akan tetapi dia tidak tahu pasti kepada siapakah di antara

mereka hati penuh kasih sayang suhengnya tertambat. Dia pun mengerti bahwa suhengnya amat

sayang kepada dia dan sumoinya, akan tetapi bukanlah itu yang dia dan sumoinya kehendaki,

melainkan kasih sayang pria terhadap wanita! Karena tenggelam dalam lamunan, Maya yang

biasanya berpendengaran tajam itu sampai tidak tahu bahwa sejak tadi ada orang berdiri tak

jauh di belakangnya, memandangnya penuh perhatian dan dengan sinar mata penuh kasih!
"Maya...."
Dara perkasa ini terkejut, menengok dan alisnya berkerut ketika ia melihat Can Ji Kun telah

berdiri di belakangnya. Tanpa bangkit dari atas batu yang didudukinya, Maya berkata,
"Can Ji Kun, ada keperluan apakah engkau menemuiku?"
"Maya.... aku.... aku...." Ji Kun menggagap.
Hati Maya merasa tidak enak mendengar pemuda ini memanggil namanya begitu saja padahal

biasanya menyebutnya "li-ciangkun".
"Ji Kun, apakah yang terjadi? Engkau hendak bicara apa? Katakanlah!"
Ji Kun memandangnya dengan sinar mata penuh selidik, kemudian menghela napas dan berkata,

"Maya, katakanlah, apakah selama aku menjadi pembantumu aku memuaskan hatimu? Apakah

kauanggap aku telah berjasa dan melaksanakan tugasku dengan baik?" Maya mengerutkan kening,

tidak tahu dan tidak dapat menduga ke mana arah jalan pikiran pemuda itu. Ia mengangguk dan

menjawab, "Pekerjaanmu baik sekali, Ji Kun dan aku puas dengan bantuanmu."
"Syukurlah kalau begitu, Maya. Aku jadi lega dan berani menyatakan perasaan hatiku kepadamu.

Sesungguhnya.... eh, semenjak kita bertemu.... sesungguhnya.... aku amat tertarik kepadamu,

Maya. Aku.... aku cinta padamu! Nah, sudah kukatakan sekarang terserah penerimaanmu, Maya.

Aku cinta padamu!"
Maya membelalakkan matanya, dan kedua pipinya menjadi merah sekali. Mendengar pernyataan

seorang pemuda yang mengaku cinta padanya baru pertama kali ini didengarnya dan menimbulkan

Halaman sebelumnya of 231Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan (4)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan