Halaman sebelumnya of 292Halaman selanjutnya

Istana Pulau Es

spinner.gif

Serial Bu Kek Sian Su (5)
Istana Pulau Es (I)

 

Episode 1
Kebiasaan lama (tradisi) yang dilanggar akan menimbulkan kutuk dan malapetaka bagi si

pelanggar, demikian pendapat kuno. Padahal hakekatnya, semua itu tergantung daripada

kepercayaan. Bagi yang percaya mungkin saja pelanggaran akan dihubungkan dengan sebab

terjadinya suatu halangan. Sebaliknya bagi yang tidak percaya, juga tidak apa-apa dan

andaikata terjadi suatu halangan, hal ini dianggap terpisah dan tidak ada hubungannya dengan

pelanggaran tradisi.
Betapapun juga, apa yang terjadi di Khitan, yang menimpa Kerajaan Khitan oleh semua

rakyatnya dianggap sebagai kutuk para dewata oleh karena dosa besar yang telah dilakukan

oleh Sang Ratu mereka! Kerajaan Khitan mengalami kemerosotan hebat sekali. Musim dingin amat

lama dan hebat menimpa kerajaan ini, hasil buruan amat kurang, hasil cocok tanam buruk,

penyakit menular, wabah yang aneh-aneh menimpa rakyat Khitan dan semua ini diperburuk dengan

bentrokan-bentrokan, yang timbul di antara Para bangsawan sendiri yang memperebutkan

kedudukan, di antara rakyat sendiri yang keadaannya amat miskin, dan perselisihan dengan

suku bangsa lain karena memperebutkan air dgn daerah subur!
Semua ini adalah kutukan dewa! Demikian anggapan kaum tua di Khitan. Terkutuk oleh dewa

karena pelanggaran hebat yang dilakukan oleh Sang Ratu Yalina, yaitu ibunda Raja Talibu yang

sekarang menjadi Raja Khitan. Di dalam ceritaMUTIARA HITAM telah diceritakan betapa Ratu

Yalina itu diam-diam menjadi isteri pendekar Sakti Suling Emas, bahkan secara rahasia pula

telah melahirkan dua orang bayi kembar, laki-laki dan perempuan. Menurut kebiasaan lama

bangsa itu, bayi kembar laki perempuan setelah dewasa harus dikawinkan, akan tetapi Ratu

Yalina kembali melanggar, tidak menjodohkan kedua anaknya. Yang laki-laki, yaitu Raja Talibu

sekarang ini, dijodohkan dengan Puteri Mimi puteri Panglima Khitan. Sedangkan anaknya yang

perempuan, yaitu Kam Kwi Lan atau terkenal di dunia kang-ouw sebagal pendekar sakti Mutiara

Hitam, menikah dengan Tang Hauw Lam murid Bu-tek Lo-jin dan kini suami isteri itu malah

meninggalkan Khitan dan merantau entah ke mana.
Nah, semenjak Ratu Yalina bersama suaminya Si Pendekar Suling Emas, pergi pula meninggalkan

Khitan atas kehendak Suling Emas untuk bertapa di puncak puncak Pegunungan Go-bi maka

mulailah tampak hari-hari buruk menimpa Kerajaan Khitan! Hal ini bukan sekali-kali karena

rajanya, yaitu Raja Talibu, kurang memperhatikan kerajaannya, atau berlaku lalim terhadap

rakyatnya. Sama sekali tidak! Raja Talibu agaknya mewarisi watak ayahnya, Si Pendekar Sakti

Suling Emas, hatinya tidak keras seperti watak Ibunya. Dia tenang dan sabar mencinta

rakyatnya dan memerintah dengan keadilan. Akan tetapi sepandai-pandainya seorang raja, dia

hanya seorang manusia juga dan apakah kekuasaan seorang manusia yang dapat dilakukan oleh

seorang Raja Talibu terhadap bencana-bencana alam berupa musim dingin panjang disusul musim

kering yang menghabiskan air serta tanah yang tidak berhasil menjadi subur? Apakah yang

dapat ia lakukan terhadap ketamakan dan nafsu para bangsawan yang saling bermusuhan? Dia

hanya dapat menggunakan kekuasaannya untuk meredakan keadaan, untuk mengadili segala perkara

dengan bijaksana, namun tidak berdaya menahan lajunya kemunduran kerajaannya!
Raja Talibu dengan isterinya, Puteri Mimi yang cantik jelita, hanya mempunyai seorang anak

perempuan mungil dan cantik jelita seperti ibunya, lincah nakal dan penuh keberanian seperti

watak neneknya. Anak ini diberi nama Puteri Maya dan pada waktu itu telah berusia sepuluh

tahun. Karena ayah bundanya adalah keturunan pendekar-pendekar yang berilmu tinggi, biarpun

dia seorang puteri raja, semenjak kecil Maya suka sekali dengan ilmu silat. Raja Talibu

sebagai putera pendekar Suling Emas dan Ratu Yalina yang juga memiliki ilmu silat luar

biasa, tentu saja tidak melarang puterinya belajar ilmu silat. Sebaliknya ia sendiri malah

menggembleng puterinya itu dengan ilmu silat tinggi sehingga Puteri Maya menjadi seorang

anak perempuan yang gagah berani dan suka pergi berburu sejak kecil, malah dia mempunyai

pasukan pengawal sendiri yang menemaninya pergi berburu binatang buas. Biarpun usianya baru

Halaman sebelumnya of 292Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan (2)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Media

Istana Pulau Es (I)

Siapa yang Membaca

Disarankan