Ziya menelan ludah dan pipinya serasa memanas melihat Alex memandanginya tanpa berkedip.
" Lex... bisakah loe lepasin gue? " ujarnya pelan.
Tapi bukannya mengikuti ucapan Ziya. Alex semakin mencondongkan kepalanya semakin mendekat ke wajah Ziya.
Ziya semakin memundurkan kepalanya menjaga jarak dari Alex walau tubuhnya seakan beku di peluk oleh tangan kekar Alex.
" Lex... " ucapnya pelan namun lebih terdengar bagai gumaman.
Semakin dekat...
Deg!
Jantung Ziya semakin keras berbunyi tak beraturan.
Tambah dekat...
Alex terlihat semakin fokus tapi Ziya semakin gugup.
Tambah... Tambah dekat...
Ziya membeku pipinya memerah. Alex menyeringai.
Pelan namun pasti bibir Alex semakin mendekat ke bibir Ziya.
Jantung Ziya tak karuan. Deru nafas Alex pun terasa olehnya.
Lebih... lebih dekat...
Mata Ziya refleks terpejam dan...
" hehehe "
Ziya mengerutkan kening namun matanya tetap terpejam.
" hehe... bwuahahahaha!!"
Tawa kecil itu semakin lama semakin mengeras. Ziya langsung membuka matanya. Dan pipinya semakin memerah saat melihat Alex sudah melepas pelukannya. Dia sekarang duduk di sisi kanan kasur mereka seraya tertawa super duper keras. Intinya Alex berhasil mengerjai Ziya.
" Zi... kau benar-benar terlihat lucu haha " tawa-nya senang.
Ziya tak mampu berkata apapun. Sifat menyebalkan Alex berhasil membuatnya geram sekaligus malu. Ziya merajuk dan pergi keluar sambil membanting pintu.
Brakkk!!!
" Ooo... Ziya!! "Panggilnya walau sisa-sisa tawa itu masih terdengar.
Ziya keluar tanpa mengganti baju tidurnya. Ia melangkah dengan amarah segunung. Langkahnya di hentakkan dengan kesal dan keras. Bahkan panggilan kakeknya tak di hiraukan Ziya. Ia terus melangkah dengan kesal sampai ke taman belakang rumahnya.
Ziya bodoh!! kenapa loe terbawa suasana romantis yang di buat iblis itu. Sekarang loe lihat sendirikan! Iblis itu menertawakan sikap bodoh loe!! Hujam batin Ziya pada dirinya sendiri.
Ziya mengambil bola orange-nya, memantulkan dan memasukkan dalam ring basket dengan kasar.
Duk! Duk!
Ziya terus menerus melakukan hal itu berulang kali seraya menggerutu kesal. " Alex bodoh! Menyebalkan!! " gumamnya kesal.
Am Dm G C F Dm E...
Ziya langsung menoleh mendengar cord dari petikan gitar miliknya. Tapi saat melihat si pemetik gitar. Ziya terlihat sinis dan kesal.
Namun Alex tersenyum seraya terus mengalunkan nada-nada indah dari petikan gitar-nya.
" Bila aku salah
Tolong maafkanlah
Ku tak ingin membuat
Kau menangis
Aku tahu kau marah
Aku tahu kau luka
Tapi jangan paksa
‘tuk berpisah
Aku ingin selalu bersamamu
Walau senang walau kita susah
Mungkin aku salah di matamu
Mungkin aku lemah di matamu
Tapi tak pernah terpikir
Kau pergi tinggalkan aku
Bila aku salah di matamu
Bila aku lemah di matamu
Ku hanya bisa memohon
Maaf atas salahku... Istri ku maukah kau memaafkan suami mu ini? " Ucapnya tulus. Alex berdiri tepat di depan istrinya.
"... " Ziya hanya diam tapi bukan ekspresi kesal seperti tadi yang terlihat di raut wajah Ziya.
Hatinya terasa aneh. Mendengar nyanyian Alex rasa kesal Ziya hilang begitu saja dan rasa itu berganti dengan perasaan aneh.
" Sayang... Kamu memaafkan ku-kan? " ujar Alex mesra.
" egh.. Ak- " Ziya terlihat gugup" Gu-Gue mau makan! " Ujar Ziya dengan keringat dingin, pipi memerah, matanya pun menghindari tatapan Alex.
Add to your private library
PerpustakaankuAdd this story to your public reading lists
| Ziya Pratama | as Ziya |
| Alexander Prasetyo | as Alex |
| Ryuki | as Ryu / Kak Ryu |
| Adam Pratama | as Adam ( paman Ziya ) |
| Tania karina | as Tania ( Istri Adam & kakak Alex ) |
| Agung Pratama | as Kakek ( ayah Adam ) |
| Putri Ceria | as Ceria |