Halaman sebelumnya of 4Halaman selanjutnya

Fertilitas

spinner.gif

2.1 Pengertian Fertilitas 

Fertilitas atau kelahiran adalah istilah dalam demografi yang mengindikasikan jumlah anak yang dilahirkan hidup oleh seorang atau sekelompok wanita (proses reproduksi). Atau dalam pengertian lain fertilitas adalah hasil reproduksi yang nyata dari fekunditas seorang wanita, fekunditas ini berarti potensi fisik seorang wanita untuk melahirkan anak. Natalitas mempunyai arti sama dengan fertilitas hanya berbeda ruang lingkupnya. Fertilitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk sedangkan natalitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk dan reproduksi manusia. 

2.2 Sumber Data Fertilitas 

Ada beberapa sumber data fertilitas antara lain: 

1. Registrasi 

2. Sensus 

3. Survei 

2.3 Konsep-konsep: 

1. Lahir Hidup (Live birth) menurut UN dan WHO, adalah suatu kelahiran seorang bayi tanpa memperhitungkan lamanya didalam kandungan, dimana si-bayi menunjukkan tanda-tanda kehidupan, missal: bernafas, ada denyut jantung atau gerakan-gerakan otot. 

2. Lahir mati (Still birth) yaitu kelahiran seorang bayi dari kandungan yang berumur paling sedikit 28 minggu, tanpa menunjukkan tanda-tanda kehidupan. 

3. Abortus yaitu kematian bayi dalam kandungan dengan umur kehamilan kurang dari 28 minggu. Ada 2 macam abortus: disengaja dan tidak disengaja. 

4. Masa Reproduksi yaitu masa dimana wanita masih mampu melahirkan disebut juga usia subur (15-49). 

2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas menurut (Kingsley Davis & Blake, 1956): 

1. Tahap hubungan seksual (intercourse) 

a. Masa perkawinan 

b. Peluang Intercourse dalam perkawinan 

2. Tahap pembuahan (conception) 

a. Fekunditas atau infekunditas yang disebabkan hal-hal yang tidak disengaja.  

b. Pemakaian kontrasepsi.  

c. Fekunditas atau infekunditas yang disebabkan hal-hal yang disengaja(sterilisasi).  

3. Tahap kehamilan (gestation) & melahirkan (parturition) 

a. Mortalitas janin karena sebab-sebab yang tidak sengaja.  

b. Mortalitas janin karena sebab-sebab yang disengaja.  

2.5 Perbedaan tingkat fertilitas di desa dan di kota: 

Pada umumnya tingkat fertilitas di daerah pedesaan lebih besar daripada di daerah perkotaan. Hal ini dikemukakan berdasarkan tinjauan dari berbagai aspek, diantaranya adalah aspek pendidikan, aspek tingkat mortalitas anak, aspek umur perkawinan pertama, aspek lingkungan dan tempat tinggal, aspek pendapatan, aspek pengetahuan dan perilaku kontrasepsi, dan aspek pengalaman kerja. 

1. Perbedaan tingkat fertilitas di desa dan di kota ditinjau dari aspek pendidikan: 

• Umumnya wanita di daerah pedesaan berpendidikan rendah. 

• Berbeda halnya dengan wanita di daerah pedesaan, wanita daerah perkotaan lebih mementingkan karir (berpendidikan tinggi). 

• Secara umum, semakin tinggi pendidikan seseorang maka orang tersebut akan berpikir jauh sebelum mengambil sebuah tindakan. 

• Dalam hal ini, wanita di daerah perkotaan yang umumnya berpendidikan tinggi cenderung hanya ingin memiliki anak yang sedikit. 

• Sebaliknya, wanita di daerah pedesaan yang umumnya berpendidikan rendah cenderung ingin memiliki banyak anak. 

• Dengan demikian, tingkat fertilitas di kota lebih kecil dibanding di desa. 

2. Perbedaan tingkat fertilitas di desa dan di kota ditinjau dari aspek tingkat mortalitas anak: 

• Bayi ataupun Balita sangat rentan terhadap masalah-masalah yang menyebabkan kematian, seperti penyakit. 

• Di daerah perkotaan banyak terdapat layanan kesehatan dan tingkat kualitas kesehatanpun tinggi. 

• Dengan adanya layanan dan fasilitas kesehatan yang lengkap, maka jaminan seorang anak tidak akan meninggal semakin tinggi dan fertilitaspun menurun. 

• Di daerah pedesaan, layanan dan fasilitas kesehatan terbatas. 

• Hal ini membuat kemungkinan kematian anak semakin tinggi sehingga mereka lebih cenderung untuk memiliki banyak anak sebagai penanggulangan masalah tersebut. 

• Dengan demikian, tingkat fertilitas di kota lebih kecil jika ditinjau dari aspek ini. 

3. Perbedaan tingkat fertilitas di desa dan di kota ditinjau dari aspek umur kawin pertama: 

• Umur kawin pertama sangat mempengaruhi tingkat reproduksi seseorang. Makin tua umur kawin, masa reproduksi jadi semakin pendek dan akhirnya jumlah kelahiran akan berkurang.  

• Di daerah pedesaan umumnya menikah pada usia muda. Hal ini biasanya disebabkan oleh dorongan Orang tua dan masalah ekonomi atau budaya. 

• Di daerah perkotaan, wanita cenderung menunda pernikahannya dengan alasan untuk mengejar karir.  

Grafik Hubungan Umur dengan Persentase Peluang Melahirkan

Halaman sebelumnya of 4Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan (1)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan