Previous Page of 6Next Page

Keluarga berencana

spinner.gif

2.1.KB adalah usaha untuk mengukur jumlah dan jarak anak yang diinginkan. Untuk dapat mencapai hal tersebut maka dibuatlah beberapa cara atau alternatif untuk mencegah KB Secara Umum 

Keluarga berencana adalah usaha untuk mengukur jumlah dan jarak anak yang diinginkan. Untuk dapat mencapai hal tersebut maka dibuatlah beberapa cara atau alternatif untuk mencegah KB Secara Umum 

ataupun menuberat.ataupun menunda kehamilan. Cara-cara tersebut termasuk kontrasepsi atau pencegahan kehamilan dan perencanaan keluarga. Berdasarkan penelitian, terdapat 3.6 juta kehamilan tidak direncanakan setiap tahunnya di Amerika Serikat, separuh dari kehamilan yang tidak direncanakan ini terjadi karena pasangan tersebut tidak menggunakan alat pencegah kehamilan, dan setengahnya lagi menggunakan alat kontrasepsi tetapi tidak benar cara penggunaannya. 

Metode kontrasepsi bekerja dengan dasar mencegah sperma laki-laki mencapai dan membuahi telur wanita (fertilisasi) atau mencegah telur yang sudah dibuahi untuk berimplantasi (melekat) dan berkembang di dalam rahim. Kontrasepsi dapat reversible (kembali) atau permanen (tetap). Kontrasepsi yang reversible adalah metode kontrasepsi yang dapat dihentikan setiap saat tanpa efek lama di dalam mengembalikan kesuburan atau kemampuan untuk punya anak lagi. Metode kontrasepsi permanen atau yang kita sebut sterilisasi adalah metode kontrasepsi yang tidak dapat mengembalikan kesuburan dikarenakan melibatkan tindakan operasi. 

Metode kontrasepsi juga dapat digolongkan berdasarkan cara kerjanya yaitu metode barrier (penghalang), sebagai contoh, kondom yang menghalangi sperma; metode mekanik seperti IUD; atau metode hormonal seperti pil. Metode kontrasepsi alami tidak memakai alat-alat bantu maupun hormonal namun berdasarkan fisiologis seorang wanita dengan tujuan untuk mencegah fertilisasi (pembuahan). 

Faktor yang mempengaruhi pemilihan kontrasepsi adalah efektivitas, keamanan, frekuensi pemakaian dan efek samping, serta kemauan dan kemampuan untuk melakukan kontrasepsi secara teratur dan benar. Selain hal tersebut, pertimbangan kontrasepsi juga didasarkan atas biaya serta peran dari agama dan kultur budaya mengenai kontrasepsi tersebut. Faktor lainnya adalah frekuensi bersenggama, kemudahan untuk kembali hamil lagi, efek samping ke laktasi, dan efek dari kontrasepsi tersebut di masa depan. Sayangnya, tidak ada metode kontrasepsi, kecuali abstinensia (tidak berhubungan seksual), yang efektif mencegah kehamilan 100%.

2.2.Sejarah KB 

2.2.1Pada tahun 1953 Masyarakat merintis aktivis KB  

Perintisnya adalah para tokoh intelektual, termasuk dokter dan bidan yang termotivasi dengan kematian ibu yang merisaukan. Pada waktu itu belum ada political will dari pemerintah. Berkat dukungan tokoh-tokoh KB waktu itu, pada tahun 1957 resmi didirikan Perkumpulan Keluarga Berencana (PKB). Pengurus PKB juga melibatkan pekerja sosial yang membantu peloporan KB di Indonesia. Kegiatan penerangan dan pelayanan masih dilakukan terbatas, karena masih adanya larangan tentang penyebarluasan kontrasepsi. Pada masa Orde Baru, masalah kependudukan menjadi fokus perhatian pemerintah. Hal ini berpengaruh terhadap keluarga berencana di Indonesia. KB diimplementasikan sebagai program pemerintah dalam waktu yang singkat. 

2.2.2Pada tahun 1957 Terbentuk perkumpulan keluarga berencana Indonesia (PKBI) yang dibentuk oleh departemen kesehatan seksi Balai kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) 

Terbentuk tanggal 23 Desember 1957, di jalan Sam Ratulangi No. 29 Jakarta. Atas prakarsa dari dr. Soeharto yang didukung oleh Prof. Sarwono Prawirohardjo, dr. H.M. Judono, dr. Hanifa Wiknjosastro serta Dr. Hurustiati Subandrio. 

Pelayanan yang diberikan berupa nasehat perkawinan termasuk pemeriksaan kesehatan calon suami isteri, pemeriksaan dan pengobatan kemandulan dalam perkawinan dan pengaturan kehamilan. 

Visi PKBI 

Mewujudkan masyarakat yang sejahtera melalui keluarga. 

Misi PKBI 

Memperjuangkan penerimaan dan praktek keluarga bertanggungjawab dalam keluarga Indonesia melalui pengembangan program, pengembangan jaringan dan kemitraan dengan semua pihak pemberdayaan masyarakat di bidang kependudukan secara umum, dan secara khusus di bidang kesehatan reproduksi yang berkesetaraan dan berkeadilan gender.

2.2.3Pada tahun 1968 Terbentuk lembaga keluarga berencana nasional (LKBN) 

Lembaga ini hanya merupakan pengembangan dari PKBI hanya saja diperkuat statusnya menjadi lembaga.

2.2.4pada tahun 1970 Terbentuk badan koordinasi keluarga berencana nasional (BKKBN)

Previous Page of 6Next Page

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended