Previous Page of 3Next Page

Siluet Merpati

spinner.gif

“Dear Diary,

Aku masih hidup. Andre sudah tiada. Lantas apa yang harus aku lakukan ya Tuhan? Kau bilang jodoh itu ada di tanganmu. APA BUKTINYA? Bertahun - tahun aku mencari cinta, dan aku tak pernah menemukan jodohku sendiri. Dan ketika aku menemukan seseorang yang tepat untukku, Engkau mencabut nyawanya. Ya Tuhan, izinkan aku untuk mengejar Andre. Aku tak bisa hidup sendirian lagi di dunia ini...”

Pena sederhana itu masih menempel di tangan Andin. Namun ia tidak mau meneruskan tulisannya barusan. Mendadak ia jadi ingat Andre, mantan pacarnya yang baru saja tewas kecelakaan sebulan yang lalu.

Terakhir kali bertemu mereka membicarakan acara pertunangan mereka yang akan dilaksanakan sebulan lagi. Ya, jika Andre masih ada mungkin hari ini adalah tepat hari pertunangan mereka. Itulah sebabnya mengapa Andin menulis buku harian untuk yang terakhir kalinya. Tali tambang yang tebal sudah ia siapkan tepat di sebelah buku hariannya. Beberapa jam lagi ia sudah siap untuk mengejar Andre ke alam yang berbeda.

Pena sederhana itu masih menempel di tangannya seolah – olah hendak menuliskan beberapa kalimat lagi di buku hariannya namun ia bingung mau menulis apa lagi. Sedangkan sunset sudah terlihat jelas lewat jendela kecil yang tepat berada di depannya. Buku hariannya sudah tersinari matahari sore yang keemasan. Andin sudah berjanji dengan dirinya sendiri, tepat saat buku harian ini sudah tidak tersentuh matahari sore lagi maka ia akan menggantungkan diri di kamarnya. Ya, tepat saat matahari terbenam sepenuhnya maka ia akan langsung mencekik dirinya sendiri.

Tiba – tiba ada bayangan yang membuat buku hariannya tidak tersentuh sinar matahari lagi. Andin mendongak. Seekor merpati berwarna putih dengan mata agak kemerah – merahan hinggap di jendelanya. Andin terus memperhatikan burung itu. Tepat di kakinya ada secarik kertas yang terikat sebuah pita berwarna merah. Andin mengambilnya.

“Hi”

Hanya dua huruf itu saja yang ia lihat di secarik kertas kecil itu. Ia bingung. Sedangkan si burung merpati masih saja terdiam menunggu Andin membalas surat itu.

Andin membuka buku hariannya tepat pada halaman paling belakang. Lalu menyobeknya sedikit untuk menulis surat balasannya.

“Kau siapa?”

Sejenak Andin menggulung kertas itu lalu mengikatkannya ke kaki merpati dengan pita yang sama. Burung itu kembali terbang keluar. Andin hanya bisa memperhatikan ke luar. Matahari terus saja turun ke bawah. Ia tidak peduli siapa pengirim surat itu. Ia tetap kukuh dengan pendiriannya untuk segera bunuh diri malam ini. Meski sang pengirim surat itu terus menghalanginya...

Andin menutup buku hariannya. Ia rasa sudah tidak ada lagi yang harus ditulis. Seketika bayangan burung merpati kembali menghalangi cahaya matahari. Andin kembali mengambil secarik kertas di kaki burung merpati itu,

“Rahasia”

Andin terdiam. Pena sederhana itu masih ada di tangannya. Kembali ia buka buku hariannya lalu ia sobek sedikit kertas dari halaman belakang buku hariannya itu. Namun kali ini agak besar,

“Biar kudatangi tempatmu sekarang juga! Tolong jangan main – main dengan saya ya”

Merpati itu kembali terbang untuk mengantarkan pesan dari Andin ke orang tak dikenal itu. Namun tak sampai satu menit berlalu, burung itu sudah hinggap lagi di jendela kamar Andin. Dengan cekatan Andin membuka pesan itu,

“Silahkan saja, aku ada di dekatmu”

Emosi Andin tiba – tiba berubah menjadi rasa takut yang teramat sangat. Dengan perlahan Andin memperhatikan sekitarnya. Sepi. Orang tua Andin sedang mengantarkan Didi, adik Andin yang hari ini wisuda. Dan mereka semua belum pulang hingga detik ini.

Previous Page of 3Next Page

Comments & Reviews (7)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended