Previous Page of 6Next Page

layla dan majnun

spinner.gif

buat sahabat.......

 

Alkisah, seorang kepala suku Bani Umar di Jazirah Arab memiIiki segala macam yang 

diinginkan orang, kecuali satu hal bahwa ia tak punya seorang anakpun. Tabib-tabib di desa 

itu menganjurkan berbagai macam ramuan dan obat, tetapi tidak berhasil. Ketika semua 

usaha tampak tak berhasil, istrinya menyarankan agar mereka berdua bersujud di hadapan 

Tuhan dan dengan tulus memohon kepada Allah swt memberikan anugerah kepada mereka 

berdua. "Mengapa tidak?" jawab sang kepala suku. "Kita telah mencoba berbagai macam 

cara. Mari, kita coba sekali lagi, tak ada ruginya." 

Mereka pun bersujud kepada Tuhan, sambil berurai air mata dari relung hati mereka yang 

terluka. "Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan pohon kami tak berbuah. Izinkan kami 

merasakan manisnya menimang anak dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami 

tanggung jawab untuk membesarkan seorang manusia yang baik. Berikan kesempatan 

kepada kami untuk membuat-Mu bangga akan anak kami." 

Tak lama kemudian, doa mereka dikabulkan, dan Tuhan menganugerahi mereka seorang 

anak laki-laki yang diberi nama Qais. Sang ayah sangat berbahagia, sebab Qais dicintai oleh 

semua orang. Ia tampan, bermata besar, dan berambut hitam, yang menjadi pusat perhatian 

dan kekaguman. Sejak awal, Qais telah memperlihatkan kecerdasan dan kemampuan fisik 

istimewa. Ia punya bakat luar biasa dalam mempelajari seni berperang dan memainkan 

musik, menggubah syair dan melukis. 

Ketika sudah cukup umur untuk masuk sekolah, ayahnya memutuskan membangun sebuah 

sekolah yang indah dengan guru-guru terbaik di Arab yang mengajar di sana , dan hanya 

beberapa anak saja yang belajar di situ. Anak-anak lelaki dan perempuan dan keluarga 

terpandang di seluruh jazirah Arab belajar di sekolah baru ini. 

Di antara mereka ada seorang anak perempuan dari kepala suku tetangga. Seorang gadis 

bermata indah, yang memiliki kecantikan luar biasa. Rambut dan matanya sehitam malam; 

karena alasan inilah mereka menyebutnya Laila-"Sang Malam". Meski ia baru berusia dua 

belas tahun, sudah banyak pria melamarnya untuk dinikahi, sebab-sebagaimana lazimnya 

kebiasaan di zaman itu, gadis-gadis sering dilamar pada usia yang masih sangat muda, yakni 

sembilan tahun. 

Laila dan Qais adalah teman sekelas. Sejak hari pertama masuk sekolah, mereka sudah 

saling tertarik satu sama lain. Seiring dengan berlalunya waktu, percikan ketertarikan ini 

makin lama menjadi api cinta yang membara. Bagi mereka berdua, sekolah bukan lagi 

tempat belajar. Kini, sekolah menjadi tempat mereka saling bertemu. Ketika guru sedang 

mengajar, mereka saling berpandangan. Ketika tiba waktunya menulis pelajaran, mereka 

justru saling menulis namanya di atas kertas. Bagi mereka berdua, tak ada teman atau 

kesenangan lainnya. Dunia kini hanyalah milik Qais dan Laila. 

Mereka buta dan tuli pada yang lainnya. Sedikit demi sedikit, orang-orang mulai mengetahui 

cinta mereka, dan gunjingan-gunjingan pun mulai terdengar. Di zaman itu, tidaklah pantas 

seorang gadis dikenal sebagai sasaran cinta seseorang dan sudah pasti mereka tidak akan 

menanggapinya. Ketika orang-tua Laila mendengar bisik-bisik tentang anak gadis mereka, 

mereka pun melarangnya pergi ke sekolah. Mereka tak sanggup lagi menahan beban malu 

pada masyarakat sekitar. 

Ketika Laila tidak ada di ruang kelas, Qais menjadi sangat gelisah sehingga ia meninggalkan 

sekolah dan menyelusuri jalan-jalan untuk mencari kekasihnya dengan memanggil-manggil 

namanya. Ia menggubah syair untuknya dan membacakannya di jalan-jalan. Ia hanya 

berbicara tentang Laila dan tidak juga menjawab pertanyaan orang-orang kecuali bila mereka 

bertanya tentang Laila. Orang-orang pun tertawa dan berkata, " Lihatlah Qais , ia sekarang 

telah menjadi seorang majnun, gila!" 

Akhirnya, Qais dikenal dengan nama ini, yakni "Majnun". Melihat orang-orang dan 

mendengarkan mereka berbicara membuat Majnun tidak tahan. Ia hanya ingin melihat dan 

berjumpa dengan Laila kekasihnya. Ia tahu bahwa Laila telah dipingit oleh orang tuanya di 

rumah, yang dengan bijaksana menyadari bahwa jika Laila dibiarkan bebas bepergian, ia 

pasti akan menjumpai Majnun. 

Majnun menemukan sebuah tempat di puncak bukit dekat desa Laila dan membangun 

sebuah gubuk untuk dirinya yang menghadap rumah Laila. Sepanjang hari Majnun dudukduduk 

di depan gubuknya, disamping sungai kecil berkelok yang mengalir ke bawah menuju 

desa itu. Ia berbicara kepada air, menghanyutkan dedaunan bunga liar, dan Majnun merasa 

yakin bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya kepada Laila. Ia menyapa

Previous Page of 6Next Page

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended