Previous Page of 7Next Page

gang ini punya mama

spinner.gif

"Mah... celana mama mengganggu nih. Aku buka saja ya mah?", tanyaku minta izin 

sambil memandang ke arah nya. 

Mama enggak segera menjawab, tapi kuperhatikan mama mengangguk sedikit.

Tanpa berlama-lama walaupun aku masih ragu, segera kutarik turun cdnya dan 

ketika bagian bawah pantat mama sulit kutarik, mama malah membantunya dengan 

mengangkat badannya sedikit sehingga cdnya dengan mudah kupelas dari kedua 

kakinya. Lalu sekalian saja kulepas beberapa kancing baju tidur nya yang tersisa 

dengan salah satu tanganku dan dengan cepat, kupelas juga kaos dan celana yang 

melekat di tubuhku.

Dan cerita dewasa pun berlanjut dibawah ini, setelah lanjut baca

"Mah, kemana saja sih kok sudah sebulan ini baru datang?", tanyaku sengit ketika 

Mama ku datang mengunjungiku di Bandung. 

"Mama sudah dapat pacar baru ya? sampe enggak sempet datang? Pokoknya aku 

enggak mau kalo Mama dapat Papa baru". 

Mama ku terlihat kaget ketika aku marah, padahal beliau baru saja datang dari 

Jakarta hari jumat sore itu. Tetapi ketika kepalaku di elus-elusnya dan mama 

mengatakan minta maaf karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan sekaligus 

juga mengatakan kalau mama tetap sayang denganku, perasaan marahku pun jadi 

luluh. 

"Masak sih Mas (namaku sebenarnya Pur tetapi mama selalu memangggilku Mas 

sejak aku masih kecil), kamu enggak percaya sama mama? Mama terlalu sayang 

padamu, jadi kamu jangan curiga kalau mama pacaran lagi", katanya terisak sambil 

menciumi pipiku dan akhirnya kami berpelukan. 

Setelah makan malam, lalu kami berdua ngobrol di ruang tamu sambil melihat 

acara TV. 

"Mas, rambutmu itu sudah mulai banyak lagi yang putih... sini mama cabutin", kata 

mama yang biasanya selalu mencabuti ubanku bila datang ke Bandung. Segera saja 

aku bergegas ke kamar untuk mengambil cabutan rambut lalu duduk menghadap 

kearah TV di lantai sambil sandaran di sofa yang diduduki mama. 

Terus terang, aku paling senang kalau mama sudah mulai mencabuti ubanku, 

soalnya bisa sampai ngantuk. 

"Banyak betul sih Mas ubanmu ini?", komentar mama sambil mulai mencabuti 

ubanku. 

"Habis sih... Mama sudah lama enggak kesini... cuman ngurusin kerjaan melulu." 

"Ya sudah, sekarang deh mama cabutin ubanmu sampai habis." 

Kami lalu diam tanpa berkata kata. 

"Mas""ngomong2 kamu sudah punya pacar apa belum?", tanya mama tiba2, sambil 

masih tetap mencabuti ubanku di kepala bagian belakang. 

"Belum kok Ma"..masih dalam penjajakan", sahutku. 

"Tuh... kan. Kamu ngelarang mama cari pacar, tapi kamu sendiri malah mau 

pacaran.", sahut mama dengan nada agak kesal. 

"Pokoknya, mama enggak mau lho kalau kamu mulai pacaran, apalagi masih 

sekolah bisa2 pelajaranmu jadi ketinggalan dan berarti kamu juga sudah enggak 

sayang lagi sama mama", tambahnya. 

"Enggak kok Ma, aku masih sayang kok sama mama." 

"Sudah selesai Mas yang belakang, sekarang yang bagian depan", perintahnya. 

Lalu kuputar dudukku menghadap ke arah Mama dan tetap duduk dilantai diantara 

kedua paha mamaku serta Mamapun langsung saja meneruskan mencabuti 

uban-ubanku. 

"Mas, kamu kan sekarang sudah tambah dewasa, apa enggak pingin punya pacar 

atau pingin meluk atau dipeluk seorang perempuan?", kata mama tiba2. 

"Atau kamu sudah jadi laki-laki yang enggak normal barangkali ya, Sayang?", lanjut 

Mama. 

"Ah, mama ini kok nanyanya yang enggak2 sih?", sambil kucubit paha mama yang 

mulus dan putih bersih. 

"Habisnya selama ini kan kamu enggak pernah cerita soal temen wanita kamu, Mas.", sahut mama. 

"Aku ini masih laki-laki tulen Mah. Kalau mama enggak percaya, boleh deh 

dibuktiin atau di test ke dokter.", tambahku sambil kuelus-elus paha mama. Kata 

Mama, aku enggak boleh pacaran dulu, tambahku. 

"Naaah... gitu dong Mas. Pacarannya nanti-nanti saja deh Mas, kalau kamu sudah 

lulus". 

"Tapi, kamu kan sudah dewasa, apa enggak kepingin meluk dan mencium lawan 

jenis kamu", tanyanya lagi. 

"Kadang-kadang sih kepingin juga sih Ma, apalagi banyak teman-temanku yang 

sudah punya pasangan masing-masing. Tapi ngapain sih Ma, kok nanya2 gituan?" 

"Ya... enggak apa apa sih, mama cuman pingin tahu saja.", sahut mama sambil 

tetap mencari ubanku. 

Karena aku duduk menghadap mama dan jaraknya sangat dekat, tanpa kusadari 

mataku tertuju kebagian dada mama dan karena Mama ku hanya memakai baju 

tidur putih yang tipis sekali, maka tetek dan puting susunya secara transparan 

terlihat dengan jelas. 

"Mah... ngapain sih Mama pake baju tidur ini?" 

"Lho... memangnya kenapa mas dengan baju tidur mama ini? emangnya kamu 

enggak suka ya Mas?", tanya mamaku, tanpa menghentikan kerjanya mencabuti

Previous Page of 7Next Page

Comments & Reviews (1)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended