Halaman sebelumnya of 46Halaman selanjutnya

Novel Wiro Sableng

spinner.gif

____________________________________________________________ 

http://ebooksters.blogspot.com/2010/04/wiro-sableng-maut-bernyanyi-di.html

WIRO SABLENG 

PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 

KARYA: BASTIAN TITO

MAUT BERNYANYI DI PAJAJARAN

SATU 

Di bawah terik panasnya matahari di siang bolong itu maka bertiuplah angin kencang 

dan gersang. Debu pasir di pedataran beterbangan ke udara, memekat tebal, menutup 

pemandangan beberapa saat lamanya. 

Suara siulan aneh yang melengking-lengking membawakan lagu tak menentu terdengar 

di lereng bukit di ujung pedataran. Siulan aneh ini seperti mau menerpa dan menumbangkan 

hembusan angin gersang yang datang dari pedataran. 

Tiba-tiba sekali suara siulan aneh ini terhenti! 

Sebagai gantinya mengumandangkan suara tertawa mengekeh di seantero bukit. 

Pemuda berpakaian putih yang ada di puncak bukit saat itu memandang ke samping. 

Sebelum jelas telinganya menangkap suara tertawa tadi sejenis cairan harum telah melesat ke 

arahnya. Kalau saja dia tidak cepat-cepat melompat ke belakang pastilah sebagian mukanya 

kena disambar cairan itu. Cairan yang tak mengenai si pemuda baju putih rambut gondrong ini 

menghatam pohon besar. Bukan olah-olah hebatnya semburan cairan aneh tadi itu!.... 

Si pemuda sendiri kejutnya bukan kepalang. Baru saja setengah harian berjalan tahu- 

tahu sudah ada orang lain yang inginkan nyawanya! Dia memandang ke arah datangnya 

semburan cairan aneh tadi. Baru saja dia palingkan kepala mendadak dari atas menderulah 

ratusan tetes cairan tadi laksana air hujan yang deras ditiup badai! 

Pemuda itu berseru nyaring dan hantamkan tangan kanannya ke atas. Ratusan tetes 

cairan itu muncrat kembali ke atas dan ratusan lagi menyibak ke samping. Daun-daun pohon 

tembus berlubang-lubang sedang batang-batang kayu seperti kena tusukan paku! 

Gelak mengekeh menggema lagi di seantero puncak bukit. Anehnya si pemuda belum 

juga dapat mencari dengan matanya, manusia yang telah mengeluarkan suara tertawa itu. Padahal 

jelas dekat sekali kedengarannya. 

Hatinya penasaran sekali. Sambil garuk kepala dia memandang berkeliling. Kedua 

matanya kemudian tertuju lekat-lekat pada sebatang pohon raksasa yang tinggi menjulang ke 

langit, mungkin lebih dari tiga puluh meter tingginya. Suara tertawa itu datang dari atas pohon 

tapi orangnya masih tak kelihatan. Mungkin tertutup oleh daun-daun pohon yang lebar-lebar dan 

lebat. 

"Manusia di atas pohon!," bentak pemuda itu: "Kalau berani buka urusan, berani unjuk 

diri!" Sehabis berkata begitu pemuda itu pukulkan telapak tangan kanannya ke atas. Serangkum 

angin yang dahsyatnya laksana topan melanda pohon raksasa itu. Ranting dan cabang berpatahan. 

Daun-daun berguguran. Hampir sekejapan mata saja maka pohon raksasa yang menjulang ke 

langit itu sudah menjadi ranggas gundul! 

Dan di puncak batang pohon yang masih utuh kelihatanlah duduk seorang laki-laki tua 

berselempang kain putih. Karena tingginya pohon itu tampangnya tak kentara betul. Tapi 

jenggotnya yang panjang sampai ke dada dilihat jelas berkibar-kibar ditiup angin gersang dari 

pedataran. Pada pangkuannya ada sebuah bumbung bambu yang panjangnya sekira satu meter. 

Bumbung bambu seperti itu masih ada satu iagi tergantung di belakang punggungnya. Dan kedua 

bumbung bambu itu berisi tuak murni yang harum sekali dan lezat rasanya. Tuak itulah tadi yang 

telah disemburkannya kepada pemuda yang di bawah pohon! 

Pukulan tangan kosong si pemuda yang telah meluruhkan cabang-cabang dan daun-daun 

pohon mau tak mau akan membuat mental si orang tua berjanggut putih diatap pohon. Sekurang- 

kurangnya akan membuat terluka tubuhnya di sebelah dalam. Tapi anehnya saat itu si janggut 

putih tetap saja duduk enak-enak berpangku kaki di puncak pohon yang gundul itu, bahkan 

sambil meneguk tuaknya dan tertawa-tawa, seakan-akan tak ada terjadi apa-apa! 

Bukan main geramnya pemuda itu. Tapi untuk bertindak gegabah dia tidak mau. Manusia 

tua di puncak pohon tinggi berjanggut putih dengan dua buah bumbung tuak itu pernah 

diceritakan oleh gurunya waktu dia masih di puncak Gunung Gede. Dia adalah seorang pendekar 

sakti dari empat puluh tahun yang lalu jarang memperlihatkan diri dan dia adalah golongan 

persilatan putih, artinya yang mempergunakan ilmu silat dan kesaktian untuk maksud-maksud 

baik. Tapi mengapa tadi dia telah mempergunakan tuaknya untuk menyerang adalah tidak 

dimengerti si pemuda rambut gondrong. 

"Orang tua!" seru si pemuda. Bibirnya bergetar tanda ucapannya disertai tenaga dalam 

agar dapat sampai ke puncak pohon raksasa yang tingginya lebih dari tiga puluh meter. "Kalau

Halaman sebelumnya of 46Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan (1)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Media

Wiro Sableng - Maut Bernyanyi Di Pajajaran

Siapa yang Membaca

Disarankan