Halaman sebelumnya of 4Halaman selanjutnya

Calon Tunanganku

spinner.gif

‘Tangan siapa ini ?’ Kulebarkan kedua mataku pada sosok di depanku .

Namun perbuatanku ini sia-sia, orang ini tidak menunjukkan dirinya siapa, bahkan berbicarapun tidak .Tebakanku mungkin saja ia adalah Ibram, namun genggamannya kali ini terasa berbeda .

Bibirku ingin berucap sesuatu hendak menanyakan siapa dia, ketika tiba-tiba jantungku berdetak dan sebuah suara membuatku shock.

“Sica? Kau baik-baik saja?” Ucap sebuah suara yang sangat familiar di telingaku ,  Geraldo!

Ya benar ! Mengapa si brengsek ini bisa salah orang sih ?.

Begitu mengenalinya, aku langsung melepaskan genggamannya seolah takut tertular penyakit darinya. Namun lagi-lagi tangan itu menarikku mendekatinya. Wah ini tidak benar, aku harus segera pergi darinya.

“Tungg..” Belum sempat aku selesai berbicara, ia melingkarkan lengannya di pundakku dan merangkulku dari belakang. Sepertinya ia menghirup aroma rambutku.

“Lepaskan aku!” Teriakku seraya menyergah tubuhnya yang menangkup punggungku.

Saat itu juga lampu menyala dan alunan suara ayumi hamasaki berputar kembali.

Kulihat wajahnya Nampak kaget pada awalnya, namun ia bisa segera menguasai dirinya seolah tak terjadi apapun.

“Mengapa kau bisa ada di sini?” Ucapnya dingin

Aku melotot

“Mana kutahu? Apa kau amnesia? Kau lah yang menarikku!” Ucapku setelahnya aku meninggalkan pesta ini, benar-benar meninggalkan semua orang yang ada di sini.

Sudah cukup puaskah ia membuatku kesal hari ini? Ia bertanya padaku seolah aku lah yang menuntun ia untuk mendekatiku. Mungkin jika kubiarkan, kejadian ini akan berlanjut ke sebuah acara ciuman karena kulihat ada beberapa pasangan yang keasikan berciuman disebelahku.

Setelah kupikir-pikir apa benar Gerald akan memberikan ciuman pada ‘Jessica bohongan’ yang tadi dipeluknya? Brengsek ! mengapa aku malah memikirkan hal itu? Sangat absurd memang aku marah karena apa, karena tadi Gerald melakukannya dengan tidak disengaja. Apa aku marah karena iri dengan Jessica? Aku sungguh muak.

Bahkan aku sendiri kesulitan mendefinisikan perasaan apa ini. Tersakiti ? Ah lupakan!

 

 

Sesampainya di rumah, aku tidak langsung tidur di ranjangku namun lebih memilih menaiki atap rumah yang kini menjadi greenhouse karena banyaknya tanaman yang ditanam di sini.

Greenhouse ini dulunya sangat dirawat oleh ayah, namun sejak ayah meninggal kegemarannya itu digantikan oleh aku, Nena maupun ibu walaupun tidak lebih dari mengingat hobi ayah.

 Kusandarkan tubuhku pada tembok dibelakangku dan beringsut untuk duduk. Atap rumah ini selalu saja kudatangi saat suasana hatiku diliputi kegalauan, entah galau karena apapun aku pasti kemari. Senang aku kemari, sedihpun aku kemari.

Maka tak heran ibu selalu marah-marah saat esok paginya menemukan berbagai macam bungkus makanan ringan. Tanpa ditanyapun,  aku pasti mengakuinya.

Kali ini yang kubawa bukan beraneka ragam snack, melainkan 2 buah telur rebus yang sangat kugemari. Kutangkup satu buah telur yang agak hangat lalu kutempelkan ke dahiku dan kubenturkan pelan sehingga terasa sensasi menyenangakan.

 Kebiasaan ini selalu diikuti oleh Nena karena menurutnya, meski aneh memecah telur rebus dengan kepala namun ada seni tersendiri dan rasa nikmat di kepala dipercaya bisa menghilangkan pusing. Entahlah mitos darimana itu?! Yang jelas aku merasa sepertinya kurang jika aku hanya membawa dua biji saja.

“Nay! Kau tak berniat ingin bunuh diri kan?” Suara Nena membuyarkan lamunanku.

Ia beringsut mengikutiku dan duduk di sebelahku. Ditatapnya aku bersama dengan telur rebusku. Aku hanya meliriknya gusar.

“Lihat dirimu! Tidak akan ada yang merebut makananmu! Makanlah pelan pelan!” Ia terkekeh sekilas karena melihat mulutku penuh dengan potongan telur-telur ini.

“Aku punya kabar , apa kau mau tahu ?” Ia mendekatiku

“Aphvaa?” Ucapku sambil mengunyah masih dengan mulut penuhku

“Kau dengarkan saja, aku yang bicara!” Aku mengangguk cepat

“Kutanya sebentar, cukup anggukkan kepalamu jika setuju. Mengerti ?”

“Kau adikku ?” Aku mengangguk,

pertanyaan macam apa ini?

“Kita sama-sama mencintai ibu kan?” Aku mengangguk lagi

“Tidak ingin ibu sedih, tidak ingin ibu kecewa, apalagi menangis” Aku mengangguk

“Kau juga tahu bahwa dua bulan lagi aku lulus dari sekolah menengah dan berangkat ke jerman untuk meneruskan program sarjana kedokteran yang sudah kuimpikan dari dulu” lagi lagi aku mengangguk.

Halaman sebelumnya of 4Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan (2)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Media

Awal mulanya

Pemain

Lee Donghae as Geraldo
Moon Geun Youngas Nayla
Song Seung Hoonas Ibram
Kang Min Hyukas Richard
Jessica Jungas Jessica

Siapa yang Membaca

Disarankan