Previous Page of 8Next Page

Out of Focus

Dedicated to
GreenBee
spinner.gif

Maafkan saya karena lama tidak meneruskan cerita ini dan membiarkannya terbengkelai. Terjadi banyak hal, seperti tugas menjelang ujian, ujian yang sebenarnya, dan yang terakhir adalah kerusakan hardisk saya yang menyebabkan hilangnya semua data di laptop saya. Agak sulit juga mengembalikan mood menulis karena saya sebal harus mengulang bab ini dari awal padahal sudah hampir selesai. Btw, terimakasih sudah mau mampir membaca cerita ini lagi.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bab XII

Karena Kamu Sangat ‘Nampak’

Jani POV

Aku berkenalan dengannya baru beberapa hari yang lalu, tapi tiba-tiba saja kami sudah begitu akrab, ngobrol banyak hal, bertukar pendapat tentang karya arsitek, dan juga kadang mengusili orang. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Bram, arsitektur UGM angkatan tua, entah angkatan berapa. Dan ia baru saja pulang dari Bandung sore itu, ketika aku bertemu dengannya pertama kali.

“Kalian ngapain masih di kampus?” tanya mas Dedi karena melihat aku, Mona, dan Sani masih duduk-duduk di bengkel KM.

“Main aja.” Jawabku.

“Kalau emang nggak ngapa-ngapain kamu, kamu, kamu bantui maketan aja sini.” Ujar mas Jojok sambil menunjukku, Mona, dan Sani bergantian. Kami bertiga terkekeh.

Malah ngguyu! –Malah tertawa!-” kata mas Dedi protes kepada kami bertiga. Kami semakin tertawa dibuatnya.

Wah, ra bener kowe kabeh ki. –Wah, nggak bener kalian tuh.-“

Lhoh Bram?! Kowe wis bali seko Bandung?  – Lhoh Bram?! Kamu sudah balik dari Bandung?-“ ujar mas Jojok bangkit dari kursinya. Otomatis aku menoleh ke arah pintu masuk bengkel yang terbuka lebar. Ada seorang laki-laki yang tak kukenal berdiri di ambang pintu.

Mas Jojok menghampirinya, begitu pula mas Dedi. Kami bertiga hanya terdiam sambil saling tatap, saling bertanya apa salah satu diantara kami ada yang tahu. Tapi tidak, bahkan Mona pun tak tahu, apalagi aku.

Mas Jojok menjabat tangan orang itu, bergantian dengan Mas Dedi. Seseorang itu lalu menyerahkan sebuah bungkusan lumayan besar kepada mereka berdua lalu berjalan menuju bangku terdekat, bangku di dekat Mona. Ia masih saja ngobrol dengan mas Jojok dan mas Dedi saat meletakkan tasnya di bangku yang kosong, lalu ketika ia menoleh, ia menatap kami bertiga.

Sopo kui, jok? –Siapa mereka, jok?-” tanyanya kepada mas Jojok.

“Mona, Sani, Unyil.” Ujar mas Dedi sambil menunjuk ke Mona, Sani, lalu aku.

“Jani!” ujarku protes.

“Ah, sama aja.” Jawab mas Dedi melengos sambil membawa bungkusan yang ia terima dari laki-laki itu.

“Oke, Mona, Sani, Un . . . maksudku, Jani, kenalkan, aku Bram.” Ujarnya dengan suara yang rendah, khas laki-laki dewasa.

“Aruna Bramanty, dia baru saja pulang KP (Kerja Praktek) di Bandung. Dia berangkat pas kalian masuk dan baru balik sekarang, jadi kalian pasti nggak ingat atau malah nggak kenal dia.” Kata mas Jojok menjelaskan.

Kalau sudah KP berarti angkatan atas ya?

“Angkatan berapa, kak?” tanya Mona.

“Anggap saja, angkatan tua.” Ujarnya sambil tersenyum. Mas Jojok dan mas Dedi tertawa, lalu laki-laki bernama Bram itu juga tertawa. Kami bertiga saling tatap lalu ikut tertawa. Diantara tawa itu aku bisa melihat, ketertarikan yang amat sangat dari pancaran mata laki-laki itu.

Previous Page of 8Next Page

Comments & Reviews (9)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended