Halaman sebelumnya of 3Halaman selanjutnya

The Story of Anna

Didedikasikan untuk
RainyDanRaynan
spinner.gif

Entah kenapa senyuman yang tak henti ku tebarkan itu mendadak sirna setelah aku berada di halaman rumahku. Mataku menyipit untuk memperjelas penglihatanku terhadap sosok yang tengah duduk diam di atas motor hitam besar, menatap rumput-rumput disekitar kakinya. Aku segera melangkah mendekati sosok yang ku pikir itu adalah seorang cowok.


"Phillip?" tanyaku yang memandanginya dengan tampang heran.


"Eh, kau? sudah pulang rupanya." jawabnya setelah melihatku berada dihadapannya.


"Kau... menungguku?"


"Ya, siapa lagi? Oh ya, Anna, ada sesuatu yang harus ku tunjukkan padamu, sekarang."

KRASAK!!!

Semak-semak diseberang jalan mendadak berisik.
Aku dan Phillip saling berpandangan.

"Paling hanya angin. Cepatlah..." katanya, kemudian ia menghidupkan mesin motornya, sementara aku? masih diam mematung, tak mengerti dengan ucapannya tadi.


"Naiklah cepat!" perintah Phillip.

Dengan tampang polos, aku langsung menaiki motor besar itu.


"Tunggu! Apa yang mau kau tunjukkan padaku?" tanyaku yang sudah duduk dibelakangnya.

"Ibumu."

 


* * * * *

 

"Phillip, ini dimana?"


Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Aku sama sekali tak mengenal daerah ini. Yang ku tahu, aku sedang berada disebuah gang yang gelap. Yah, gelap! Aku melirik jam tanganku, jarumnya menunjukkan pukul 19.04. Aku juga harus bersiap jika setiba di tumah, Dad akan menggorok leherku.


"Kita akan ke cafe itu." ujar Phillip yang sudah memakirkan motornya dan kemudian menunjuk sebuah bangunan yang diluarnya diterangi dengan sedikit lampu beraneka warna.
Bangunan yang dibilang cafe oleh Phillip itu, terletak di ujung gang ini.


"Apa kau gila? Kau mengajakku bepergian jauh hanya untuk mengunjungi cafe itu? Hei, kau tak tau ini sudah jam berapa?" protesku.


"Anna, bukankah kau ingin menemui ibumu? Disinilah tempatnya." ujarnya sambil menatapku.


"Apa? maksudmu - ibuku bekerja di cafe itu?"


"Kau akan tau nanti..."


Phillip lalu melangkah, berjalan mendekati cafe itu. Aku hanya mengikutinya dari belakang. Terpaksa. Kalau bukan karena ibuku, aku tak mau berada di tempat ini. Rasa takut terbenam dibenakku.

 

'GOTHIC CAFE'


Aku membaca tulisan dipapan pamflet yang tak terlalu besar itu. Kini, aku dan Phillip tepat berada di depan pintu cafe.


"Phillip, apa kau yakin ini tempatnya? Aku takut..."


Aku menatapnya, berharap Phillip akan menjawab tidak, agar aku bisa pulang saat ini juga.
"Trust me."


Phillip tersenyum, ia lalu meraih tanganku dan berjalan memasuki cafe yang aku pikir terkesan lebih mirip 'klub'.


Aku tertegun saar kami sudah berada ditempat yang tak ku sukai ini. Bunyian musik yang diputar terlampau keras, membuat gendang telingaku ingin pecah, sorot cahaya lampu kerlap-kerlip yang menghiasi ruangan penuh manusia ini, menganggu pandanganku.Riuh suara-suara manusia yang tengah berjoget ria ditengah ruangan, mengikuti alunan musik bergenre dance.


"Kau lihat bar disebelah sana?" Phillip berbisik sambil menunjukkan ke sisi kanan.


Aku lantas menoleh, melihat apa yang ditunjuk oleh Phillip tadi. Aku mendapati sebuah bar kecil dengan beberapa pria dan wanita yang sedang sibuk menghidangkan dan melayani pesanan orang-orang yang sedang sibuk berpesta. Aku menoleh ke arah Phillip, memasang wajah tak mengerti.


Phillip mendesah, "Ibumu ada di antara itu."


Dahiku mengernyit, lalu mataku kembali melirik bar yang berjarak 3 meter dari tempatku berdiri. Ku pikir maksud ucapan Phillip barusan, Mom ada di antara orang-orang yang bekerja di bar itu, mungkin.


Aku maju beberapa langkah untuk memperjelaskan pandanganku. Yang terlihat dimataku, hanya seorang pria yang tengah asyik menuangkan air berwarna sedikit kuning, mungkin itu sejenis wine, anggur atau apapun itu, ke dalam gelas yang sangat minim. Lalu, pria lain tengah menata botol-botol minuman dilemari berukuran sedang.


Tak jauh dari situ, ku lihat seorang wanita berpakaian yang sama dengan orang-orang sibuk melayani pesanan, sedang asyik bercengkrama dengan seorang pria, yang sudah pasti tidak aku kenali siapa mereka, karena mataku hanya melihat punggung wanita berambut cokelat sebahu itu.
Aku mendengus sebal, berdiri mematung dan tak menemukan sosok mom.

Halaman sebelumnya of 3Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan (9)

Login or Facebook Sign in with Twitter


undian library_icon_grey.png Tambah

Disarankan

SMA SERIBU MERDEKAJourney ErrorWe Are Friends,.Remember?Our Little Time [Sehun Fan Fiction]