Halaman sebelumnya of 141Halaman selanjutnya

pedang pembunuh naga

spinner.gif

 

To Liong To/ Thio Boe Kie 1 - 10

 

 

KISAH MEMBUNUH NAGA 

 

MUSIM semi gembira-ria,

Setiap peringatan Han-sit,

Bunga Lee-hoa mekar semua.

Sutera putih licin,

Bau harum bertebaran,

Pohon2 bagaikan giok,

Tertutup salju berhamburan.

Malam yang sunyi,

Sinar yang mengambang,

Cahaya, yang dingin.

Diantara bumi dan langit,

Sinar perak menyelimuti semesta a1am.

Ah, dia bagaikan Dewi dari gunung Kouwsia,

Bakatnya cerdas dan suci,

Wataknya agung dan murni.

Laksaan sari bunga besar kecil tak ketentuan,

Tapi siapa berani mengatakan, dia tak

berendeng dengan bunga2 kenamaan?

Jiwanya gagah,

Kepintarannya berlimpah2,

Sesudah rontok, semua sama.

Maka itu, dia pulang kekeraton langit

Guna melihat keindahan nan ABADI.

 

 

Sajak diatas sajak "Boe siok liam" (Cita2 hidup bebas dari segala keduniawian), adalah uah kalam seorang ahli silat ternama dijaman Lan-song (kerajaan Song Selatan). Orang itu she Khoe bernama Cie Kie (Kee) bergelar Tiang coen coe, salah seorang dari Coan cin Cin Cit coe (Tujah Coe dari agama Coan cin kauw)

 

Dalam sajak itu Khoe Cie Kie bicara tentang bunga Leehoa. Tapi sebenarnya, dalam melukiskan keagangan bunga Leehoa, is ingin memberi pujian kepada seorang wanita cantik yang mengenakan pakaian serba putih. la membandingkan wanita itu seperti "Dewi dari gunung Kouw sia, bakatnya cer dasdan suci, wataknya agung dan murni." Ia memujinya sebagai manusia yang "jiwanya gagah' kepintarannya ber-limpah2."

 

Siapakah wanita yang mendapat pujian sedemikian tinggi dari seorang, beribadat yang berilmu itu ?

 

Ia adalah Siauw Liong Lie, seorang jago betina parte Kouw bok pay ( parte Kuburan tua). Ia suka mengenakan pakaian serba putih, sehingga se-olah2 pohon giok yang tertutup salju

Dengan sifat2nya yang bersih dingin is se-akan2 sinar rembulan yang menyelimuti semesta alam dengan sinarnya yg teduh dan dingin.

 

Waktu masih berdiam di Ciong Lan Sam Siauw Liong Lie pernah jadi tetangga Kho Cie Kie dan sesudah melihat gadis itu yang elok luar biasa. Cie Kie segera menulis sajak "Boe siok-liam" untuk memujinya.

 

Tapi sekarang Kho Cie Kie sudah lama meninggal dunia, sedang Siauw Liong Lie pun sudah menikah dengan Sintiauw Tayhiap Yo Ko.

 

Akan tetapi, pada suatu hari, dijalanan gunung Siauw sit san, di propinsi Holam, terlihat

seorang gadis remaja yang sedang berjalan sambil menundukkan kepada dan menghafal sajak "Boe siokliam."

 

Gadis itu, yang berusia kira-kira delapan belas tahun dam mengenakan pakaian warna kuning menunggang seekor keledai kurus. Perlahan-lahan binatang itu mendaki jalanan gunung yang sempit. Sambil termenung2 diatas tunggangannya, sinona berkata dalam hatinya. "Ya ! Memang juga, hanyalah seorang seperti Liong Cie-cie yang pantas menjadi isteri dia."

 

"Dia" adalah Sintiauw Tayhiap Yo Ko.

 

Keledai berjalan terus, perlahan-lahan.

 

Si nona menghela papas dan berkata dengan suara perlahan. "Berkumpul gembira, berpisahan menderita."

 

Gadis tersebut, yang berpakaian sederhana dan yang pada pinggangnya tergantung sebatang pedang pendek, berjalan dengan paras muka tenang, sehingga dengan muka sekelebatan saja, orang bisa menebak, bahwa ia adalah seorang yang sadah biasa berkelana dalam dunia Kangouw. Ia berada dalam usia remaja, usia riang gembira. Menurut akuran biasa, dalam usia belasan, pemuda atau pemudi tak mengenal apa yang dinamakan penderitan atau kedukaan.

 

Akan tetapi, nona itu berada di luar dari ukuran biasa. Pada paras mukanya yang cantik bagaikan sekuntum bunga mawar, terlihat sinar yang guram. Alisnya berkerut, seolah-olah serupa pikiran berat sedang menindih hati iya.

 

Nona itu she Kwee bernama siang, puteri ke dua dari Tayhiap Kwee Ceng dan Liehiap Oey Yong. Dalam duniaRimba Persilatan,ia di juluki sebagai "Siauw-tong-sia" (si Sesat kecil dari Timur). Dengan seekor keledai dan sebatang pedang, ia berkelana untuk menghilangkan kedukaan. Tapi diluar dugaan semakin jauh ia berkelana mendaki gunung2 yang indah dan sunyi semakin besar kedukaannya.

 

Jalan kecil itu, dibuat atas perintah Kaizar Kocong dari kerajaan Tong, untuk memudahkan lalu lintas kekuil Siau-lim-sie.

Sesudah berjalan beberapa lama, Kwee Siang melihatlima buah air terjun digunung seberang dan dibelakang sebuah tikungan, apat2 telihat tembok dap genteng dari se buah kuil yang besar luar biasa.

Halaman sebelumnya of 141Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan (4)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan