Previous Page of 7Next Page

The Playboy's Seduction

Dedicated to
BundaFarhan
spinner.gif

HOLAAAAA

aku balik lagi dengan sih abang Kece kita. maaf kalo untuk part ini dikit yah. Sengaja ngepost soalnya biar yang nagih pada diem hehe.

Krtik dan saran selalu ditunggu. Buat yang udah Follow, coment, dan vote aku MAKASIHHHH banget yah. Apresiasi kalian terhadap ceritaku buat aku jadi semangat menulis  :D

 

Happy reading :D

 

“Anti cama papa tidul dimana? Kok Ken tidul cendili di kamal?” tanya Ken membuat gerakan Ellen yang sedang mengoleskan margarin ke rotinya terhenti. Wajahnya langsung merona mendengar pertanyaan polos Ken. Mana mungkin dia menjelaskan apa yang terjadi padanya semalam. Apalagi tawa Hezky yang membuat Ellen semakin keki. Dia langsung melemparkan tatapan tajam pada Hezky agar laki – laki itu menghentikan tawanya.

            “Eh... itu... anti sama papa ketiduran di sofa pas lagi nonton tv, sayang,” jelas Ellen berbohong. Menjelaskan sebenarnya apa yang terjadi semalam pada Ken sama saja menjelaskan rumus albert einsten padanya.

            “Oh...” Ken mengangguk lucu. Membuat Ellen gemas dibuatnya.

            “Papa...” panggil Ken tiba – tiba membuat Hezky yang sedang membaca koran menoleh padanya.

            “Iya, sayang? kenapa?” tanya Hezky lalu melipat korannya dan mengelus rambut Ken.

            “Ken kangen mama,” sahutnya lirih.” Ken mau ketemu cama mama, Pa,” lanjutnya lagi. Wajah Ken terlihat sedih. Sudah empat hari Ken berada di sini, berjauhan dengan mamanya. Dan dia sudah sangat merindukan mamanya. Ellen dan Hezky saling berpandangan. Keduanya bingung harus menjawab apa. Sampai sekarang masih belum ada kabar dari pihak kepolisian mengenai keberadaan orang tua Ken.

            “Eh, nanti kita telpon mama Ken, yah,” ucap Ellen mencoba membujuk Ken.

            “Benelan yah anti?”

Ellen mengangguk,”Iya. Sekarang sarapannya dimakan dulu. Itu roti bakarnya papa yang buat, lho.”

Ken langsung melirik Hezky yang sedang sibuk memotong roti bakarnya,”Yang benel, Pa?” tanyanya tidak percaya.

            “Iya dong. Papa yang buat roti bakarnya,” sahut Hezky bangga. Pagi – pagi tadi sebelum Ellen bangun dia memang sudah sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan spesial. Dari roti bakar, telur mata sapi dan juga bubur jagung untuk Ellen dan Ken. Hezky sudah membayangkan pasti isterinya itu akan bangun kesiangan karena olah raga malam yang keduanya lakukan semalam. Bahkan keduanya baru bisa tertidur saat jarum jam menunjukkan angka dua pagi. Hezky hanya bisa menahan senyum ketika melihat Ellen yang berjalan tertatih menuju kamar mandi. Sebenarnya Hezky ingin menggendong Ellen sampai di depan kamar mandi. Tetapi isterinya itu menolak dan ngambek karena Hezky lah yang menyebabkan dirinya menjadi seperti itu.

            “Enak, Pa. Papa hebat pintel macak,” puji Ken bangga seraya mengacungkan jempol tangannya. Hezky terkekeh mendengar pujian Ken.

            “Eh  sayang mau ngapain?” tanya Hezky ketika melihat Ellen hendak bangkit dari kursi.

            “Mau buatin kamu kopi. Kamu belum buat kopi, kan?”

            “Nggak usah. Khusus hari ini semua pekerjaan kamu aku yang ngerjain. Kamu duduk manis aja di kursi, yah,” ucap Hezky lalu mendudukan kembali Ellen di kursinya semula. Membuat dahi Ellen mengerut bingung. Namun dia tidak protes dan membiarkan Hezky melakukan apapun yang dia mau. Apalagi seluruh tubuhnya masih terasa capek akibat perlakuan Hezky padanya semalam.

 

__________________________________________________________________________

ELLEN

            “Hez...” panggilku pelan lalu mendekati Hezky yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Hezky tengah sibuk dengan laptop di depannya.

Previous Page of 7Next Page

Comments & Reviews (118)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Media

Part 12 : The Secret (1)

Cast

Akihiro Satoas Hezky
Marian Riveraas Ellen

Who's Reading

Recommended