BE

1.8K 25 3
                                    

Part 1

Rintik hujan di senja yang sunyi,  dikungkung mendung gelap menggantung di langit kelam. Desau angin membawa perih dari luka lama yang kembali terbuka, ranting dan dedauanan tersibak, butiran debu yang basah enggan terbang, memadat seolah akan menjadi penghias abadi jalanan kota Islamabad yang senantiasa ramai setiap maghrib menjelang. Sepi itu dipecah oleh Adzan, seruan suci yang berkumandang dari setiap penjuru kota.

            Tanah berderak saat terinjak oleh dua kaki mungil berlapis sepatu berbahan kulit domba yang jatuh menghentak, laki-laki kecil berjaket kulit coklat itu berlari melawan arus manusia yang berjalan menuju Masjid Syah Faisal. Laki-laki berkulit putih dan berambut hitam pekat sepekat manik mata tajamnya itu mengawasi setiap sudut tempat yang dia lewati, menjelajahi setiap detailnya.

            “Permisi, apa kau melihat adikku?”

Dia menghampiri seorang pemilik bengkel permadani yang baru saja menutup pintu bengkelnya. Pria itu mengerutkan dahinya, memperhatikan bocah yang tinggi badannya baru mencapai dadanya itu.

            “Adikmu?”

            “Iya, namanya Niall. Rambutnya pirang dan bermata biru, dia memakai kaos seperti ini,” Bocah itu menurunkan resleting jaketnya, menunjukkan kaos putih bergambar pohon kelapa yang melekat di tubuhnya.

            “Apa Agha melihatnya?”

            “Nak, dimana orang tuamu?”

Si pria tak menjawab dan justru balik bertanya.

            “Aku mencari adikku, apa Agha melihatnya? Sebentar lagi hujan dan dia harus pulang,”

Si bocah bersikukuh. Pria yang ditanyai memainkan janggutnya yang panjang hingga leher.

            “Aku melihatnya tapi dimana orang,”

            “Agha melihatnya? Anda melihat Niall? Dimana dia?”

Si bocah memotong perkataan pria itu dengan penuh semangat, dia sama sekali tidak peduli pada pertanyaan yang diajukan si pria kepadanya.

            “Tadi dia berlari kesana, sebaiknya kau,”

            “Terimakasih Agha,”

Dan untuk kali kedua dalam percakapan itu di memotong, kali ini bahkan dia langsung berlari menuju arah yang ditunjuk oleh pria itu.

            Angin yang lebih besar datang dan mengoyak pepohonan dengan cara yang lebih beringas. Sebutir buah delima jatuh dari pohonnya, buah yang sudah masak itu menimpa batu besar di bawahnya dan langsung remuk, sebagian isinya mengotori ujung sepatu berbahan kulit domba yang dipakai seorang bocah yang duduk dengan posisi menumpukan dagu di atas lututnya yang tertekuk. Mata birunya mengawasi jemari kecilnya yang mengganggu aktivitas koloni semut yang sedang mengangkut makanan.

            “Argh,” Dia menjerit, suaranya melengking seperti anak perempuan saat punggung tangannya digigit oleh seekor semut. Murka, dia pun meraih sebuah batu dan langsung memukulkan benda keras berwarna hitam itu pada semut-semut di hadapannya.

            “Niall! Baba tidak suka kau membunuh hewan,”

Sebuah suara memperingatkan. Niall, nama bocah pemilik rambut pirang yang mencolok itu sudah hafal benar siapa orang yang memperingatkannya dan itu membuatnya semakin marah, dia menguatkan pukulannya pada tanah yang semut-semutnya bahkan sudah pergi.

            “Niall, Baba tidak suka kau seperti ini. Ayo pulang, baba akan marah kalau kau tidak sholat maghrib bersama,”

            “Baba siapa!”

BEWhere stories live. Discover now