Previous Page of 317Next Page

Pukulan Naga Sakti

Dedicated to
iwan69
spinner.gif

Jilid 1  

Hari itu, ketika senja menjelang tiba dan sang surya mulai condong kearah barat, seorang pemuda tampan berusia delapansembilan belas tahun sedang duduk ditepi sungai yang penuh dengan rindangnya pohon Liu sambil melamun.  

Tak hentinya wajah yang tampan itu dihiasi senyuman getir, daun kering selembar demi selembar dilemparkan ke dalam sungai dan dibiarkan terbawa arus pergi ke tempat jauh.  

Sudah lama dia melamun disitu, berpuluh-puluh lembar sudah daun kering yang dilemparkan ke dalam sungai.....  

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, bangkit berdiri dan berguman seorang diri : "Thi Eng khi wahai Thi Eng khi! Apakah kau rela hidup kesepian terus sepanjang masa?" Mendadak suara pekikan panjang yang amat keras berkumandang memecahkan keheningan, paras mukanya segera berubah, dengan mata yang tajam dia awasi sekeliling tempat itu, kemudian dengan langkah cepat memburu dari arah mana berasalnya suara tadi.  

Peristiwa itu terjadi di sebuah jalan raya kurang lebih puluhan kaki dari gedung Bu lim tit it keh tersebut, ketika Thi Eng Khi menyusul ke tempat kejadian maka terlihatlah seorang jago persilatan yang berbaju ringkas telah tergeletak diatas genangan darah dalam keadaan yang amat kritis.  

Pemuda itu menjadi tertegun dan berdiri termangu setelah menyaksikan kejadian itu, untuk sesaat dia tak tahu apa yang harus dilakukan.  

Seharusnya dia adalah majikan angkatan ketiga dari gedung Bu lim tit it keh tersebut, berdasarkan asal usul serta sejarah keluarganya, bagaimanapun tidak sepantasnya kalau ia menunjukkan sikap seperti itu.  

Tapi oleh karena pelbagai alasan, bukan saja ia tak dapat menikmati kejayaan serta kemuliaan yang diperoleh kakeknya, malah sebaliknya ia terikat oleh peraturan leluhurnya dan sama sekali tak mampu untuk mengembangkan sayapnya.  

Ketika mendengar suara kaki dari Thi Eng khi tadi, lelaki yang terluka parah itu segera membuka matanya yang sayu dan memaksakan diri untuk berbisik : "Soo... sobat....ber.... bersediakah kau un...untuk menolong....  

see.... seorang yang hampir maa.... mati?" Thi Eng Khi bukan seorang yang bernyali kecil, hatinya juga tidak dingin dan kaku, sikap gelagapan yang diperlihatkan tadi tak lebih hanya ungkapan rasa kagetnya menghadapi peristiwa semacam itu.  

Tapi setelah lelaki itu memohon dengan suara terbata-bata, semangat ksatrianya segera berkobar kembali, tanpa ragu-ragu dia memayang bangun lelaki itu, membiarkan tubuh lelaki tersebut bersandar pada lengan kirinya kemudian ujarnya : "Sobat! Siauseng..... siauseng bersedia membantumu cuma....  

cuma...." Rupanya lelaki yang terluka parah itu memahami ucapan lawan diapun tak tahu bukannya dia enggan membantu adalah dia tak tahu bagaimana harus membantu maka kembali ucapnya : "Daa ..... dalam sakuku ter.... terdapat obat berwarna kuu....  

kuning .... tolong aaam.... ambilkan dan berikan berapa bii.... biji kepadaku!" Dengan cepat, Thi Eng khi membuka sakunya dan mengeluarkan dua buah botol obat, benar juga salah satu diantaranya berwarna kuning. Tanpa pikir panjang lagi, dia segera mengeluarkan semua obat itu dan dijejalkan ke dalam mulutnya.  

Waktu itu, luka yang diderita lelaki tersebut sangat parah, tenggorokan serta lidahnya sudah mengering, bagaimana mungkin ia bisa menelan obat-obat itu? Sayang, ia tak mampu berbicara dan cuma membalikkan matanya yang sayu saja.  

Thi Eng khi bukan anak bodoh, ia lantas memahami keadaan tersebut, sambil tertawa getir dia lari pulang ke rumah, mengambil semangkuk air dingin dan dilolohkan ke dalam mulut lelaki itu berikut obatnya.  

Setelah menelan obat, lelaki itu mengatur pernafasan sejenak, paras mukanya pelan-pelan berubah kembali, akhirnya dengan payah dia berkata : "Aku Ban li tui hong (selaksa li pengejar angin) Cu Ngo, terima kasih banyak atas bantuan tuan kongcu!" Ia menyebut dahulu namanya karena dalam dunia persilatan orang ini pun mempunyai sidikit nama, dia berharap Thi Eng khi jangan sampai memandang rendah dirinya.  

Siapa tahu Thi Eng khi sama sekali tidak mengerti soal dunia persilatan, setelah mendengar nama Ban li tui hong pun wajahnya tidak memperlihatkan sikap menaruh hormat hanya serunya dengan nada datar : "Cu tayhiap, rumahku tak jauh letaknya dari sini, bagaimana kalau kubopong dirimu ke rumah untuk beristirahat dulu." Agaknya Ban li tui hong Cu Ngo merasa agak kecewa, ia segera menggelengkan kepalanya berulang kali.  

Previous Page of 317Next Page

Comments & Reviews (4)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended