Previous Page of 265Next Page

Pendekar Cacad

spinner.gif

Jilid 2  

Tiba-tiba Mo Hui-thian tertawa kering, kemudian berkata, "Apabila pihak Kay-pang ingin mengangkangi sendiri harta karun Mo-lay-cing-ong, hanya dengan mengandalkan kemampuan Liu Khi serta Han Siau-liong saja hal itu jauh tidak cukup." "Bagaimana pun juga kemampuan Kay-pang rasanya masih jauh lebih mengungguli kemampuan perkumpulan Kiam-liongkiam- san-ceng." Liu Khi balas mengejek.  

"Hehehe, perkataan Liu-heng memang tepat," Mo Hui-thian tertawa kering, "cuma pedang Lohu ini bukanlah pedang yang bisa dihadapi seenaknya." "Aku tahu, pedang Mo-loji paling tidak masih mampu membacok batok kepala beberapa anggota Put-gwa-cin-kau, kami Kay-pang ingin meminjam pedangmu itu." "Mana ... mana, mengapa Liu-heng tidak mulai terlebih dahulu?" "Atas dasar kemampuan kita bertiga, rasanya masih belum cukup untuk menghadapi orang-orang Put-gwa-cin-kau," jawab Liu Khi dingin.  

"Omitohud!" tiba-tiba Hong-kong Hwesio memuji keagungan Buddha, "perkataan Liu-sicu memang benar, perubahan situasi yang kita hadapi sekarang membutuhkan kerja sama untuk menghadapi musuh tangguh Put-gwa-cinkau, kita wajib menghancurkan dan mematahkan mereka terlebih dahulu." Mo Hui-thian tertawa, selanya, "Seandainya beberapa orang di antara kita bersedia bekerja sama, aku yakin kekuatan yang kita himpun ini sanggup untuk menghadapi serbuan pihak Put-gwa-cin-kau, sayang, kita semua masih belum seia-sekata." Selesai berkata, dia berpaling dan memandang sekejap Bong Thian-gak.  

Tentu saja Bong Thian-gak memahami maksud Mo Huithian itu, maka ujarnya kemudian dengan suara hambar, "Biarpun pihak Kay-pang serta perkumpulan Kim-liong-kiamsan- ceng mempunyai dendam kesumat dengan Hiat-kiam-bun, tapi permusuhan itu tidak sedalam permusuhan kami dengan pihak Put-gwa-cin-kau." "Kalau begitu kita bisa bersatu-padu sekarang," ujar Mo Hui-thian sambil tertawa. "Nah, kita turun tangan lebih dulu menggasak habis manusia-manusia cecunguk itu." "Yang perlu kita musnahkan pertama-tama adalah Si-hunmo- li," kata Liu Khi tiba-tiba.  

Selesai berkata, lengan tunggalnya segera diayunkan ke depan, dua batang pisau terbang yang telah disiapkan sejak tadi disambitkan ke muka.  

Berubah hebat paras muka Bong Thian-gak mendengar perkataan itu, serunya dengan cepat, "Tunggu sebentar!" Mo Hui-thian tertawa dingin, jengeknya, "Beberapa kelompok di antara kita ini memang selamanya tak mungkin bisa bersatu." "Barang siapa di antara kalian berani memukul Si-hun-moli, Pek-hiat-kiam di tanganku ini tak akan memberi ampun kepadanya," ancam Bong Thian-gak dengan suara dalam.  

Sembari berkata, Pek-hiat-kiam di tangannya segera disilangkan di depan dada, kemudian dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh dia mengawasi semua orang dengan seksama.  

Suasana di halaman gedung itu seketika tercekam dalam keheningan, rasa tegang dan napsu membunuh yang menggidikkan menyelimuti benak setiap orang.  

Han Siau-liong segera menimbrung, "Bong-buncu, kau sudah merasakan sendiri betapa lihainya Si-hun-mo-li, seandainya perempuan itu tidak kita lenyapkan lebih dulu, kemungkinan besar kita semua akan terluka oleh pukulan Sohli- jian-yang-sin-kangnya." "Perkataanku tadi sudah cukup jelas," kata Bong Thian-gak dengan wajah serius, "aku tak mengizinkan orang melukainya, bila Liu Khi berani melepas pisau terbangnya, maka Pek-hiatkiam ini akan segera memenggal pula batok kepalanya." Liu Khi yang mendengar perkataan itu tertawa dingin, "Sekali pun pisau terbang Liu Khi sudah dicekal dalam genggaman, tak pernah berlaku dalam kamusku untuk menyimpannya kembali." "Aku tahu kepandaian silat yang kau miliki sangat hebat, tapi pada saat kau melepaskan pisau terbangmu itu, mustahil bisa menghindar dari babatan Pek-hiat-kiam, maka kunasehati kepadamu, lebih baik jangan menyerempet bahaya." Mendadak Mo Hui-thian mengangkat pedangnya dan dari kejauhan diarahkan pada Bong Thian-gak, setelah itu katanya sambil tertawa kering, "Sebetulnya aku merupakan penengah, tapi setelah diperhitungkan untung ruginya, aku lebih condong berpihak ke Liu-heng, dengan posisi demikian apakah Bong Thian-gak masih tetap bersikeras melindungi Si-hun-mo-li?" "Omitohud!" tiba-tiba Hong-kong Hwesio berkata memuji keagungan Buddha, "kuminta Sicu sekalian jangan bertindak kelewat gegabah, lebih baik kita bersama-sama merundingkan cara pemecahan yang bijaksana." Tiba-tiba Bong Thian-gak menghela napas panjang, lalu berkata, "Kuharap kalian bersedia mendengarkan perkataanku, sesungguhnya Si-hun-mo-li adalah seorang perempuan yang patut dikasihani, aku Bong Thian-gak pernah berhutang budi kepadanya, oleh sebab itu bila kalian berharap bantuanku malam ini untuk menghadapi orang-orang Putgwa- cin-kau, maka kalian harus memenuhi syaratku lebih dulu, yakni tidak boleh mencelakai jiwa Si-hun-mo-li." Baru selesai perkataan itu, mendadak terdengar suara dingin yang menggidikkan berkumandang dari sudut halaman gedung, menyusul kemudian seseorang berkata dengan suara sedingin salju, "Dengan mengandalkan kemampuan kalian, aku rasa masih belum mampu membunuh Si-hun-mo-li." Mendengar perkataan itu, para jago segera berpaling, dari sudut halaman sebelah utara pelan-pelan muncul dua orang.  

Previous Page of 265Next Page

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended