Previous Page of 5Next Page

Dibalik Senja Ada Luka

spinner.gif

Hari ini sangat panas, tidak seperti biasanya. Rutinitasku ketoko buku untuk melihat buku-buku baru hampir saja tidak kulakukan, karena panas yang sangat menyengat. Tadi malam memang sangat dingin, makanya sekarang sangat panas. Setibanya ditoko buku mataku bergerilya menjelajah buku-buku, siapa tahu ada buku bagus yang membuatku habis melahapnya malam ini. Namun, untuk beberapa saat kakiku seakan membeku tidak dapat bergerak. Aku begitu terkejut. Saat itu, aku terpana melihat kesederhanaannya. Seorang wanita yang sudah lama tidak kulihat semenjak lulus SMP. Sekarang dia sangat cantik, cantik sekali. Dan… cantik sekali. Sepertinya bukan karena wajahnya, karena kalo cantiknya diukur dari segi wajah, Marlina teman sekampusku jauh lebih cantik. Hanya saja, …sepertinya pada dirinya kutemukan sebening keteduhan yang terpancar dari senyumnya. Annisa. Annisa namanya. Nama yang sangat pendek, namun nama itu selalu kuingat.

” Ehm… Pilihan yang bagus.” Sapanya, yang tiba-tiba sudah ada disampingku. Aku hanya bisa tersenyum sembari mengingat siapa perempuan yang tengah mengomentari buku yang kupegang. Aku pun tercengang dan hamper lupa mengedipkan mata. Jantungku langsung berdebar keras, dan kakikupun seolah membeku.

“ Hendra, ini aku. Chaca. Lupa ya?”

“ Ga… ingat kok. Lama tidak kelihatan.” Sahutku seadanya. Karena aku bingung harus berkata apa lagi. Aku bingung setelah aku tersadar aku tersihir oleh yang ada  pada dirinya yang bisa kubilang cantik namun cantiknya adalah cantik yang sederhana, terlihat dari pembawaan dirinya yang tenang dan anggun dan jujur kecantikan seperti ini yang sudah lama ingin kulihat. Alami.

“ Kamu udah pernah baca Bintang Menangis belum?”

“ Belum.”

“ Bagus lho. Tentang seorang perempuan yang terzolimi kehidupannya. Aku aja baca sampe nangis, kalo memang beneran ada kehidupan seperti itu, kayaknya aku ga sangup dech…” Celotehnya panjang lebar. Aku pun menanggapinya hanya dengan senyum.

“ Aku duluan ya ,Ndra. Soalnya buku yang aku cari udah dapet. Assalamu’alaikum.”

“ Wa’alaikumsalam.” Sahutku.

Aku pun pulang dengan penuh takjub, kagum dan juga tanda tanya. Memang sewaktu SD dulu kami sangat dekat karena kami tetangga. Tapi menjelang SMP, kami kemudian entah kenapa tidak pernah saling tegur lagi. Melihat dia tadi, membuatku berpikir Chaca berubah, yang menurutku perubahannya itu sangat total. Karena setahuku sewaktu SMP dia juga berubah menjadi anak yang sangat pendiam dan lebih memilih untuk sendirian dari pada ngumpul sama teman-teman ceweknya.

Diam-diam aku mulai memperhatikannya. Jendela kamarku tepat persis berada didepan jendela kamarnya. Namun, jendelanya lebih sering tertutup dari pada terbuka. Tiap pagi dia pergi bekerja, kata teman-teman tetangga Chaca bekerja ditoko Roti yang dekat pasar.

Aku pun akhirnya pergi lagi ketoko buku dan menanyakan buku Bintang Menangis yang diceritakan Chaca padaku pada pemilik toko. Ternyata buku itu telah habis dan juga itu termasuk buku lama, lalu aku pun memesannya dan buku itu baru datang 2 atau 3 minggu lagi.

Disuatu sore, aku bagaikan teriris-iris silet. Sangat pedih. Aku melihat Chaca keluar dari mobil, dia diantar pulang oleh seorang pemuda yang tidak bisa dikatakan jelek, tidak berpendidikan, pemuda itu sangat tampan dan sangat kelihatan berkelas. Hatiku hancur seketika. Hatiku merasa marah, dengki, benci saat itu juga. Kenapa?Perempuan yang selama ini diam-diam selalu kuperhatikan dari balik jendela sepertinya telah mencuri hatiku dan juga menghancurkannya seketika. Disenyumnya aku mengharap sebening asa, dilangkahnya aku mengharap ada sesejuk tempat untukku. Tiba-tiba seketika itu aku mencari pelindung, agar aku tidak terluka, agar aku tidak hilang dalam nyata yang bicara dan terus terlewat. Namun siapa? Hatiku sangat kesakitan dan tiada tempat bagiku untuk membagikan rasa sakit ini. Kembali aku mengintip Chaca yang asyik berbicara pada pemuda itu diterasnya. Dan yang menjadi focus penglihatanku adalah jilbab Chaca. Jilbab yang dipakai oleh Chaca membuatku bertanya adakah cerita dibalik dia memakai jilbab itu? Yang tiap adzan Maghrib datang, dia bergegas untuk keMesjid dan sholat berjama’ah tanpa menghiraukan pekerjaan yang lain. Apakah Tuhannya itu yang membuatnya terlihat lebih cantik dari pada Marlina yang keturunan bule itu? Apakah Tuhannya itu yang membuatnya sangat sejuk dipandang dan serasa terhilang beban hidupku hanya dengan memandangnya? Lalu mana Tuhan untukku? Tidak perlu untuk membuat aku lebih dari siapapun, aku hanya butuh Tuhan yang menenangkan hatiku untuk saat ini, aku hanya butuh Tuhan untuk mendapatkan Chaca. Aku hanya butuh Tuhan agarku tahu kemana harus aku melangkahkan jalanku dalam setiap pedihku.

Previous Page of 5Next Page

Comments & Reviews (9)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended