My Evil Bos

spinner.gif

Cuaca di siang ini begitu panas,ditambah lagi kehadiran iblis yang membuat tempat disebelahku ini menjadi terbakar. Iblis yang membuatku begitu tak mengerti tentang arti keadilan. Kau tahu apa yang aku maksud dengan keadilan? Bagaimana kalau kau bergantung pada orang yang membayarmu lebih kecil dari apa yang kau lakukan,seperti menjadi pelayan kafe,menjadi seorang cashier,dan sebagai pembantu yang selalu menempatkanmu di tempat pencucian piring? Dan bayarannya kurang dari separuh uang jajanmu dalam sebulan. Itu kah yang dimaksud keadilan? Ya,aku dan iblis ini,dia bosku yang berperan sebagai tokoh antagonis di pekerjaan sampinganku memperdebatkan masalah gajiku yang sangat tidak adil itu padaku yang masih berstatus sebagai siswa SMA yang masih duduk di kelas XI,aku melakukan ini karena keterpaksaan. Aku tak akan melakukan hal yang sama sekali tidak pernah aku lakukan demi kebutuhanku sendiri. Kedua orangtuaku meninggal sewaktu aku masih kelas 6 SD karena kecelakaan mobil yang ditumpanginya saat mereka menuju rumah sakit untuk menjenguk nenekku. Dan aku yang menggantikan mereka di sini,tinggal sendiri dirumah sederhana tanpa ada yang membantuku ,jangan tanya keluarga lain atau paman-paman bahkan sepupu-sepupuku yang tidak mempedulikan kehidupan orangtuaku karena suatu konflik,jadi hanya akulah yang menerima separuh dari warisan orangtuaku,aku tak mengerti berbicara tentang warisan. Yaampun ,malang sekali hidupku,nasibku. Tapi aku cukup senang karena aku bisa merasakan sendiri. Yah,bekerja sendiri meski itu menyiksa.

Bosku yang aku panggil sebagai My Evil Bos itu sedang menjelek-jelekkanku,mengolok-olokku. Panas sekali.

“Dan kau mau minta gaji lebih? Cah,kamu tidak sadar sudah berapa piring yang kau pecahkan dalam sehari,dan berapa hidangan yang kau tumpahkan,hemm?” Iblis itu bukan sedang memarahiku tapi dalam kata lain ia sedang mengejekku dan menjelek-jelekkanku. Aku tak memandangnya dan terus memainkan kain lap yang baru saja aku gunakan untuk mengelap kaca. Cih,kotor sekali lap ini.

“Apa aku pecat saja ya...”

Brakk!

Ah sial. Apa yang aku lakukan begitu mendengar ucapannya. Meski upahku sedikit aku tetap tidak mau di tendang dengan gampangnya dari pekerjaanku.

“Ups maaf...”

Iblis itu tampak marah ,aku akan membuatnya menyerah untuk mengejekku tapi tidak untuk dipecat. Enak saja aku akan dipecat oleh bos meski aku tidak percaya dia bosku karena dari tampangnya aku lihat usianya di atas umurku 7-8 tahun. Cih.

“Jika kau masih berbuat macam-macam pada pekerjaanmu,aku tak segan-segan akan menurunkan gajimu dari setengah menjadi kurang dari setengah!”

DUAR

Mataku langsung melotot ke arahnya,apa dia bilang? Bagus! Aku bekerja susah payah sampai harus merelakan eskulku yang aku tiggal demi pekerjaanku ini dengan pendapatan yang kurang dan sekarang dia menurunkan gajiku menjadi lebih kecil dari uang jajan anak SD sebulan? Itu gila! Tak bisakah dia sedikit menghargai usaha bekerjaku selama ini? Setidaknya aku dapat upah yang lebih satu kali dalam 3 bulan. Aku tau aku memang payah dalam melakukan pekerjaan berat itu,dari mencuci piring,menyapu,mengelap meja dan kaca,mengantar pesanan. Aku memang sering memecahkan piring dan itu akupun tak sengaja,seenaknya saja iblis itu memperlakukanku sebagai budak. Aku sedikit curiga,apa jangan-jangan dia memilih-milih pekerja yang layak sedangkan yang tidak layak dengan pedasnya ia perlakukan seperti budak,atau jangan-jangan aku yang tidak layak tapi aku terus memaksanya agar dia tidak memecatku. Oh bagus,penderitaanku sangat komplit.

Masih dengan memandangnya tak percaya,seperti halnya seorang ibu membunuh anaknya sediri tanpa ia sadari.

“Sekarang kembali bekerja!”

Sial

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Media

My Evil Bos

Who's Reading

Recommended