|
||||||||
![]() |
||||||||
|
|
||||||||
|
|
1
Lebaran di Kampung Koko
By osolihin Ogi menunggu anteng di sebuah halte. Di depannya ada tas punggung yang penuh muatan pakaian dan seabrek makanan kecil. Ia mengamati setiap angkot yang berhenti di halte itu. Kali aja orang yang ditunggu datang. Yup, Ogi lagi menunggu Koko dan Jamil. Ceritanya, Ogi mau nyobain gimana sih rasanya lebaran di kampungnya Koko. Menurut pengakuan Koko, ia tinggal di sebuah desa di kawasan Bogor. Pokoknya Bogor ke dalam lagi deh. Makanya Ogi pernah ngeledekin Koko dengan sebutan DKNY, alias Dari Kampung Nih Yee. Nah, Ogi yang tahun ini nggak mudik ke kampung ortunya memilih berlebaran di kampungnya Koko. Supaya lebih seru, Ogi ngajak Jamil. Maklum, Jamil kan orangnya suka heboh kalo udah gabung sama Ogi. Apalagi ini acara liburan. Ditanggung antimanyun kalo gaul sama Jamil. Setelah hampir lima belas menit Ogi nunggu, sebuah angkot mampir di halte. Sejurus kemudian, muncul makhluk manis bernama Jamil dari dalam angkot. Lengkap dengan barang bawaannya. Ogi buru-buru menjemput Jamil. "Wah, kayak mau mudik jauh aja nih Mil" kata Ogi sambil mengangkat kardus yang dibawa Jamil. "Kamu bisa aja, Gi" komentar Jamil sambil tangannya menyodorkan uang ke sopir angkot. "Koko belum datang, Gi" tanya Jamil "Belum tuh," jawab Ogi singkat. "Ngomong-ngomong, apa sih yang di dalam kardus itu?" Ogi penuh selidik. Matanya menatap Jamil. "Yang jelas bukan petasan apalagi bom," Jamil sekenanya sambil tersenyum. "Coba aku tebak, ini pasti mainan kamu ya? Kamu kan MKKB, alias Masa Kecil Kurang Bahagia," Ogi terkekeh. "Enak aja, ini oleh-oleh buat ortunya Koko," Jamil akhirnya terus terang. Lagi asyik ngobrol, Koko turun dari angkot yang berhenti di halte itu. Ogi dan Jamil kompak ngomentarin, "Akhirnya, jadi juga kita lebaran di kampung..." keduanya tertawa lebar. Koko cuma mesem-mesem aja ngelihat tingkah makhluk aneh bin ajaib itu. "Mau langsung berangkat neh?" "Tentu dong Ko. Aku udah nggak sabar lagi neh pengen lihat sawah," Ogi antusias. "Kalo aku udah nggak tahan pengen nyebur di kali yang airnya masih bersih..." Jamil nggak mau kalah. Koko nggak banyak omong, lalu meraih tas punggungnya. Ia berjalan menuju stasiun kereta Manggarai. "Gi, siap-siap berjibaku ya... soalnya nih KRL musti penuh jam segini," ujar Koko sambil melirik jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul empat sore. "Tenang aja Ko, kita naik duluan ke KRL, Ogi suruh belakangan sambil bawa barang-barang kita..." Jamil asal ngomong. "Wacks...sembarangan! Emang enak berebut masuk KRL sambil bawa barang bawaan sebanyak ini?" Ogi setengah menggerutu. "Aduh, janganlah engkau memasang emoticon sejutek itu kepada hamba," Jamil mulai muncul jahilnya sambil tertawa cekikikan. "Tuh KRL-nya mulai datang..." Koko mengingatkan Ogi dan Jamil. "Wah, KRL dari Tanah Abang lagi. Berabe. Jelek sih..." Jamil rada kecewa. "Nggak apa-apa lah Mil, kita naik aja daripada nunggu dari Kota. Bisa lama," Koko menenangkan. Benar, biasanya jam segitu, KRL Jabotabek kudu ngalah dulu, untuk memberikan kesempatan kepada kereta-kereta jurusan Jawa yang diberangkatkan dari Stasiun Gambir. Nggak lama, ketiga anak cowok itu udah berada di gerbong keempat yang sesak. Maklumlah, KRL kelas ekonomi. Harus rela berjubelan bermandi peluh. Tapi apa mau dikata, kalo naik bis, selain mahal, juga nggak efektif, kudu berkali-kali ganti kendaran, belum macetnya. Naik KRL kan efektif, murah, dan nyaman. Bisa lebih cepet lagi. Tapi ya, itu tadi, KRL Jabotabek kelas ekonomi memang terkenal paling padat dan nggak nyaman. Kalo punya uang sedikit banyak, bolehlah ber-AC-ria di kelas bisnis dan eksekutifnya KRL Pakuan. Kalo cekak? Cukup puas berdesak-desakkan di kelas ekonomi, yang nggak jarang harus satu gerbong dengan ayam, kambing, bahkan pernah juga dengan kodok yang dibawa berkarung-karung oleh seorang penumpang. Wacks... nggak cocok bagi yang nggak tahan bau. Tepat saat maghrib, KRL udah datang di Stasiun Bogor. "Alhamdulillah, akhirnya nyampe juga. Kaki kamu masih ada Gi," tegur Jamil sambil merapikan barang bawaannya. "Aku malah khawatir ketuker sama kaki kamu, Mil. Abisnya padat banget," Ogi menyunggingkan senyum tipis ke arah Jamil. Keluar dari stasiun mereka langsung menuju Masjid Agung yang jaraknya cuma seratus meter dari stasiun kereta. "Nanti sekalian kita buka di masjid aja. Suka banyak makanan," Koko ngasih tahu. "Asyik.. dapat makanan gratis..." Jamil setengah girang. Koko dan Ogi tersenyum kecut lihat tingkah Jamil. Setelah buka dan sholat maghrib berjamaah di Masjid Agung, ketiga anak muda itu melanjutkan perjalanan ke kampungnya Koko.
|
|||||||
|
© WP Technology Inc. 2009
User-posted content is subject to its own terms. |