Cinta kau seperti apa?

spinner.gif

CINTA KAU SEPERTI APA?? 

 

 

" ada yang kau suka dariku...? " tanyaku peduli. 

 

" ada! " jawabnya lugas tanpa memandang dari mana arah pertanyaan itu. matanya jeli mendekuri setiap gulungan ombak yang datang silih berganti. 

 

" apa...? " tanyaku lagi. 

 

dan kali ini dia tak segera menjawabnya. matanya beralih menatapku, tajam dan beringas. 

 

" kekayaanmu..." dan sekali-kalipun tak ada kebohongan disorot mata itu. jujur dan apa adanya. 

 

 

" jadi hanya kekayaanku yang membuatmu bertahan selama ini. tak adakah sedikitpun arti bahwa aku berharga untukmu. " 

 

hening sesaat, deburan ombak kian terasa gemuruh menghantam karang. dan kau mengunci rapat-rapat jawaban itu untuk sesaat lamanya. dan menit berikutnya, kudengar hembusan nafas yang terbuang begitu berat. 

 

 

" iya kekayaanmu lah yang menjamin hidup keluarga miskinku. terutama ibuku yang terbaring lemah di ranjang peotnya. juga adik-adikku yang perlu makan dan biaya sekolah. " jawabnya datar tanpa emosi. 

 

 

" tak adakah cinta sedikitpun untukku...? 

 

 

" perlukah aku menjawabnya, " jawabnya kemudian. 

 

" cinta? seperti apakah itu... aku melayanimu tulus, hati miskin ini telah membunuh kata cinta dalam hidupku. hanya demi sesuap nasi dan kehidupan keluargaku aku menjual diriku. aku pun melakukan karena cintaku. bahkan saking cinta nya aku juga memberikan tubuhku untuk dinikmati mereka yang kesepian. lalu aku bertemu kamu dan menjadi simpananmu. 

 

masih pantaskah kau tanyakan cinta itu padaku? 

 

 

suasana pun kembali hening. kubiarkan mata inii lajang memandang setiap buih ombak dan senja di peraduannya. detik-detik sang surya tenggelam pun amat mempesona. meskipun setiap kami seperti tak saling mengenali lagi. entah kenapa pula aku tiba-tiba menanyakan semua ini. aku sudah tau jawabnya tapi aku mengulanginya lagi. aku tak sakit hati olehnya. aku mencintainya sangat mencintainya, tapi aku tak bisa meresmikan dia menjadi pendamping sejati hidupku. ada yang lebih berhak yaitu ibu dari anak-anak ku, yang tak boleh terpisah dari tanggung jawab dan janjiku sewaktu mengikatnya dulu. 

 

dan dia? aku bertemunya di tempat pelacuran. aku bukan lelaki suci, tapi aku tak pernah lupa tanggung jawab dan janji. termasuk juga janjiku padanya, mengikatnya untuk memenuhi kebutuhannya juga keluarganya. dan sebatas itu hubungan kami. 

 

 

kugandeng tangannya, meremas jemari-jemari kecilnya dalam jemariku. dia menoleh dan tersenyum. 

 

" ayo kita pulang, " ajakku kemudian. 

 

hanya senyum dan anggukan kepalanya menjawab semua. dan tak akan ada lagi pertanyaan cinta untuknya.

 

please leave your coment, thanks..

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended