Halaman sebelumnya of 6Halaman selanjutnya

Cerpen Terjemahan

spinner.gif

Mawar Dan Penawar

 

Penerjemah : Mata Malaikat

 

Suasana rumah sakit hari ini tak seperti biasanya, begitu ramai oleh kerumunan wartawan untuk mendapatkan berita terbaru yang selama ini menjadi tanda tanya masyarakat luas. Jutawan muda yang mengalami kecelakaan dan cedera parah, bahkan divonis akan lumpuh seumur hidupnya.

 

"Mbak Qistina keadaan Hakim sekarang?"

 

"Hmmm... Maaf saya tak bisa menjawab pertanyaan itu, kita harus menunggu penjelasan dari dokter yang menanganinya"

 

"Tapi kami mendapat kabar bahwa dia akan lumpuh seumur hidup? Apakah Mbak Qistina akan meneruskan pernikahan yang sudah dirancang itu?"

 

Qistina terhenti memandang ke arah wartawan yang mengajukan pertanyaan itu. Otaknya sulit berfikir, siapkah dirinya menikah dengan orang yang akan cacat? Siapkah dia nanti mendorong kursi roda Hakim seumur hidupnya?. Matanya dipejamkan mencoba menolak apa yang bermain di fikirannya. Serasikah model terkenal seperti dirinya bersanding dengan orang yang berkursi roda?

 

Hakim menatap tajam. Wajah wanita pujaannya, kenapa Qistina dari semalam mendesaknya untuk berbuat apa yang tak sepatutnya dilakukan? Kenapa?!!

 

"Sudah...!! aku tak ingin bertemu siapapun. Apakah semua orang disini tuli?"

 

"Tapi Hakim, kamu harus. Semua wartawan ingin berjumpa denganmu, sayang.. mereka ingin tahu apa yang terjadi padamu"

 

"Kamu ingin aku memberi tahu apa pada mereka? Kamu ingin aku bicara kalo aku tak akan bisa berjalan lagi? Aku akan lumpuh seumur hidup, begitu?"

 

Qistina mendengus kasar, bosan ia mendengar rungutan Hakim. Ingin ia menjerit melontarkan apa yang terbetik di hatinya. Hakim menatap wajah Qistina yang terlihat kesal dan seperti tidak sudi lagi menyentuhnya. Jijikkah ia pada tubuh yang penuh luka ini??

 

*****

 

Dokter Firdaus mencatat sesuatu dalam dalam buku catatannya, sambil matanya menatap ke arah Irahazla. Wanita itu terlihat teliti membersihkan luka Pak Mat penghuni kamar 43 sejak seminggu lalu.

 

"Pak Mat jangan banyak bergerak, nanti lukanya sakit lagi"

 

"Baiklah sayang" gurau Pak Mat sambil tersenyum.

 

Dahi Dr. Firdaus berkerut. Ehh orang tua ini main sayang-sayangan.

 

"Eh Pak Mat punya niat nambah istri lagi ya?"

 

"Ehhh ngak lah.. Tapi kalo pak Dokter mau, saya bisa mencarikannya" sekali lagi dia tertawa. Irahazla hanya tersenyum.

 

Mereka berjalan meninggalkan ruangan itu. Irah berjalan perlahan mengikut langkah Dr.firdaus. Hari ini ia mengantikan posisi Aina sebagai asisten Dr. Firdaus yang absen.

 

"Apa kamu tidak ingin melihat jutawan muda yang terkenal itu?"

 

"Ah, untuk apa?"

 

"Saya dengar kalian bergiliran ingin masuk ke kamar VVIP itu"

 

"Saya kurang begitu tau. Dr sudah kesana?"

 

"Mungkin sebentar lagi dia akan jadi pasien saya, jika dia dinyatakan lumpuh?

 

"Lumpuh??!!!!" ada riak terkejut pada wajah wanita itu.

 

"Hm... Katanya tadi tidak berminat, sekarang malah terkejut seperti itu."

 

Irahazla menunduk. Keterkejutannya ternyata disadari oleh Dr Firdaus.

 

"Benarkah dia akan lumpuh Dokter?" sekali lagi dia bertanya perlahan ingin tahu.

 

"Mungkin, tapi kita harus menunggu jawaban dari dokter ahli, kalau kamu mau melihat tidak ada salahnya kok !! Pasti dia akan sembuh jika terkena tangan ajaib mu itu, seperti Pak Mat"

 

"Idih Dokter... Ngak ah, nanti marah kekasihnya yang cantik itu"

 

"Cantik?? Bagi saya justru kamu lebih cantik" goda Dr.Firdaus.

 

"Itu kan kata dokter..." ada kesan sayu dari jawaban itu.

 

"Baiklah dok, saya pamit dulu.." pinta Irah. Ia takut beredar kabar kurang sedap jika terus bersama Dokter muda itu.

 

"Bagaimana dengan acara kita?" tanya Dr. Firdaus.

 

"Lain kali" sempat dia membalas tanpa menoleh ke belakang. Dr.firdaus tersenyum.

 

****

 

"Ira... Jangan dihabisin buah itu, Hakim juga mau"

 

"Nih Ira kasih...." kulit rambutan itu dilemparkan ke arah Hakim.

Halaman sebelumnya of 6Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan