Previous Page of 10Next Page

Cerpen Terjemahan

spinner.gif

Mawar Dan Penawar

Penerjemah : Mata Malaikat

Suasana rumah sakit hari ini tak seperti biasanya, begitu ramai oleh kerumunan wartawan untuk mendapatkan berita terbaru yang selama ini menjadi tanda tanya masyarakat luas. Jutawan muda yang mengalami kecelakaan dan cedera parah, bahkan divonis akan lumpuh seumur hidupnya.

"Mbak Qistina keadaan Hakim sekarang?"

"Hmmm... Maaf saya tak bisa menjawab pertanyaan itu, kita harus menunggu penjelasan dari dokter yang menanganinya"

"Tapi kami mendapat kabar bahwa dia akan lumpuh seumur hidup? Apakah Mbak Qistina akan meneruskan pernikahan yang sudah dirancang itu?"

Qistina terhenti memandang ke arah wartawan yang mengajukan pertanyaan itu. Otaknya sulit berfikir, siapkah dirinya menikah dengan orang yang akan cacat? Siapkah dia nanti mendorong kursi roda Hakim seumur hidupnya?. Matanya dipejamkan mencoba menolak apa yang bermain di fikirannya. Serasikah model terkenal seperti dirinya bersanding dengan orang yang berkursi roda?

Hakim menatap tajam. Wajah wanita pujaannya, kenapa Qistina dari semalam mendesaknya untuk berbuat apa yang tak sepatutnya dilakukan? Kenapa?!!

"Sudah...!! aku tak ingin bertemu siapapun. Apakah semua orang disini tuli?"

"Tapi Hakim, kamu harus. Semua wartawan ingin berjumpa denganmu, sayang.. mereka ingin tahu apa yang terjadi padamu"

"Kamu ingin aku memberi tahu apa pada mereka? Kamu ingin aku bicara kalo aku tak akan bisa berjalan lagi? Aku akan lumpuh seumur hidup, begitu?"

Qistina mendengus kasar, bosan ia mendengar rungutan Hakim. Ingin ia menjerit melontarkan apa yang terbetik di hatinya. Hakim menatap wajah Qistina yang terlihat kesal dan seperti tidak sudi lagi menyentuhnya. Jijikkah ia pada tubuh yang penuh luka ini??

*****

Dokter Firdaus mencatat sesuatu dalam dalam buku catatannya, sambil matanya menatap ke arah Irahazla. Wanita itu terlihat teliti membersihkan luka Pak Mat penghuni kamar 43 sejak seminggu lalu.

"Pak Mat jangan banyak bergerak, nanti lukanya sakit lagi"

"Baiklah sayang" gurau Pak Mat sambil tersenyum.

Dahi Dr. Firdaus berkerut. Ehh orang tua ini main sayang-sayangan.

"Eh Pak Mat punya niat nambah istri lagi ya?"

"Ehhh ngak lah.. Tapi kalo pak Dokter mau, saya bisa mencarikannya" sekali lagi dia tertawa. Irahazla hanya tersenyum.

Mereka berjalan meninggalkan ruangan itu. Irah berjalan perlahan mengikut langkah Dr.firdaus. Hari ini ia mengantikan posisi Aina sebagai asisten Dr. Firdaus yang absen.

Previous Page of 10Next Page

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended