Halaman sebelumnya of 3Halaman selanjutnya

Rudyard House

spinner.gif

"Maksud nona bagaimana?? Membuat tuan Russel tidak tertarik de-dengan rumah ini?" Oskar nampak terkejut dengan ucapan Brenda.

"Yup, aku punya ide bagus, dan aku membutuhkan bantuanmu dan Emma."

"Ide? Ide apa nona?"

"Hemm, kamu dan Emma akan tau besok Oskar." Brenda terus tersenyum misterius kearah Oskar.

 

***************************

 

"Bagaimana tuan Russel, apa urusan anda sudah beres?" tanya seorang pria, umurnya sekitar empat puluh tahun.

Russel menghempaskan tubuhnya yang tinggi tegap ke sebuah sofa yang besar, "Sudah. Benar-benar melelahkan. Aston, siapkan jet pribadi, minggu ini aku akan kembali, dan kita akan ke Rudyard House." ucap Russel tenang kepada pengawal pribadinya itu.

"Apa tuan yakin kita akan ke Rudyard House? Kita sudah lama sekali tidak kesana tuan."

Mata biru Russel menatap Aston dengan tatapan tajam, "Kau mau membantahku, Aston?"

Aston menjadi gelagapan ditatap dingin oleh tuannya itu, " Tidak. Ma-maafkan saya tuan." Aston lalu membungkukan badannya. Russel lalu berdiri dari sofanya, berjalan menuju kamar pribadinya.

"Oia, Aston. Kalau ada Lucy mencariku, bilang kalau dia tidak perlu menemuiku lagi, karena........aku sudah bosan dengannya." ucap Russel dengan entengnya, lalu melanjutkan langkahnya.

Lagi-lagi Aston membungkukkan badannya kearah Russel. Ia sangat mengetahui tabiat tuannya itu. Tuan Russel memang dikenal sering bergonta ganti wanita, lebih karena wanita yang mengejar-ngejarnya, namun tidak pernah ada satupun yang dibawa kejenjang yang lebih serius.

 

*******************************

 

"APA??!" ucap Oskar dan Emma berbarengan sambil membelalakan matanya, seakan tidak percaya. Mereka benar-benar sangat terkejut dengan rencana nona mudanya itu.

Brenda yang melihat dua orang didepannya itu terkejut malah tertawa, "Hey, kalian kompak sekali kagetnya." Brenda terus tertawa sambil terus mengunyah sarapannya.

"Nona, apa nona serius dengan ide gila itu?" tanya Emma sambil terus meremas serbet ditangannya.

Tanpa menatap Emma, Brenda menjawab, " Aku sangat yakin Emma. Aku rasa ini cara satu-satunya."

"Memangnya tidak ada ide lain?" kali ini Oskar yang berbicara. Brenda sedang sarapan bersama dengan Oskar dan Emma di meja makan rumahnya.

Brenda menatap Oskar, "Sebenarnya ada, mungkin aku bisa menggodanya? Tapi aku tidak akan melakukannya."

"Bukannya lebih baik anda menggodanya saja, nona?" tanya Emma sambil tersenyum tipis.

Brenda memanyunkan bibirnya, "Oh, come on Emma. Aku tidak akan berbuat serendah itu. Lagian aku malas menggoda om-om tua itu."

"Tapi banyak wanita yang jatuh kedalam pelukannya, nona. Lagi pula umurnya baru tiga puluh tahun." ucap Oskar terkekeh.

"Ya, ya, ya,, semua wanita tapi bukan aku, Oskar." ucap Brenda dengan cuek.

"Jadi mulai kapan kita menjalankan rencana kita?" tanya Oskar.

"Hemm, secepatnya. Sebelum tuan muda terhormat itu datang kemari."

 

****************************

 

"Apa semuanya sudah siap, Aston?" tanya Russel sambil membaca korannya.

"Sudah tuan, semua sudah siap untuk keberangkatan anda besok." 

"Bagus kalau gitu." tanpa memalingkan wajahnya dari koran.

"Tuan Russel, nona Lucy berulang kali menelfon kemari mencari anda." ucap Aston.

"Cih, mau apa lagi wanita itu?" tanya Russel dingin lalu menoleh ke arah Aston.

"Katanya, dia…dia sangat merindukan belaian anda." ucap Aston sambil menahan tawanya.

Russel membuang mukanya dari hadapan Aston, karena kesal dan malu namun terlihat masih dingin. "Biarkan saja dia. Toh, kita juga akan segera pulang. Jangan lupa siapkan semua keperluanku."

"Emm, tuan, apa kita tidak memberitahu nona Poppy tentang kepulangan kita ini?"

"Tidak perlu, aku yakin dia juga tidak akan peduli." ucap Russel tenang. "Oia, apa kamu sudah menelfon ke pihak Rudyard House, kalau kita akan datang?" lanjut Russel.

"Be-belum tuan, karena perbedaan waktu, maka baru sekitar dua jam lagi saya akan menelfon pihak Rudyard House memberi tahu kalau kita akan datang."

 

*****************************

 

Pagi yang cerah menyambut Brenda yang sudah sangat semangat. Ia menggunakan celana pendek dan t-shirt longgar, lalu mengkuncir asal rambut ikalnya ke atas. 

"Okey, Oskar, Emma apa kalian sudah siap?" tanya Brenda dengan sangat bersemangat untuk menjalankan rencananya.

Halaman sebelumnya of 3Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan (8)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Media

Part 2

Siapa yang Membaca

Disarankan