Tentang Dia

spinner.gif

Bolehkah aku titipkan pesanku pada angin yang berhembus.. 

Bolehkan aku mengatakan suatu permintaan dari dalam lubuk hatiku terdalam..

Kepadamu yang telah mencuri hatiku.. 

Kepadamu yang telah kutitipkan serpihan rasa di dada.. 

Kepadamu yang selalu terkenang..

Dengarkanlah.. 

Dengarkanlah satu kalimatku..

"Temukan aku.."

---***---

Nana mengerjap. Merasakan denyut nyeri di kepalanya. Memijit pelipisnya, Nana berusaha melangkah ke kamar mandi. 

Pantulan bayangannya di cermin akhir-akhir ini tampak menyedihkan.

Semalaman ini ia habiskan dengan menangis, lagi. Dan ia tak tahu sampai kapan air matanya ini akan benar-benar habis. Raut wajahnya sudah tidak seceria hari lalu. Meski dua tahun belakangan terasa sulit baginya, namun dua minggu ini yang tersulit. 

Dan rasanya ia ingin pergi jauh dari rumah ini. 

Tapi ke mana? Kepada siapa ia akan meminta pertolongan?

Diabaikannya rasa sesak di dada yang semakin hari semakin memperburuk kondisi tubuhnya. Semua gara-gara ucapan Papanya dua hari lalu, dua minggu lagi ia dan Daniel...

Ya Rabbi... Nana menepis jauh-jauh bayangan yang dibencinya dari pikirannya. Ia berharap hal yang direncanakan kedua orang tuanya tidak akan berhasil. Terjadi hambatan, atau apapun. Hingga ia dapat tenang menunggu... 'Dia'

Nana membasuh wajahnya yang semakin hari semakin memucat. Selera makannya hilang, menguap entah ke mana. Dan seharian kemarin bahkan ia mengurung dirinya di kamar.

Selesai melaksanakan shalatnya, Nana menekan tombol-tombol di ponselnya dengan cepat. Menunggu telponnya diangkat, Nana bersandar pada ranjangnya. 

"Assalamu'alaikum, Na!" Sahut suara di seberang yang terdengar ceria.

Nana tersenyum membayangkan wajah manis Aniqo yang berbahagia. Dua sahabatnya berbahagia, lalu mengapa ia harus bersedih? 

"Wa'alaikumussalam warohmatullah.. Berangkat dari rumah jam berapa, Niq?" Tanya Nana.

"Ehm, aku bareng sama rombongan Mas Ikhsan en keluarga, Na! Sekitar jam delapan. Akad kan jam sepuluh. Jadi kita pingin udah siap di sana sebelum penghulu datang. Kamu jam berapa?"

"Bingung.. Tadinya aku mau berangkat sama kamu, tapi ya udah deh, nggak apa.." Sahut Nana.

"Uh, afwan yah Na.." Kata Aniqo menyesal. "Jam setengah sepuluh kamu udah ada di rumah Tantri aja. Biar bisa lihat akadnya juga." usul Aniqo kemudian.

Nana terdiam, "Berarti dari rumah jam sembilan kurang yah? Kalau gitu, nggak apa deh.. Aku ke sana jam segituan. Insyaa Allah."

"Oke, deh.. Sampai ketemu di sana, yah.. Assalamu'alaikum!"

Setelah menjawab salam dari Aniqo, Nana kembali memejamkan matanya. Lelah. Ia sangat lelah. Bukan fisiknya, tapi batinnya.

---***---

Nana memarkirkan motor bebeknya di halaman rumah Tantri yang ramai. Beberapa lelaki terlihat sedang berbincang di sisi halaman lainnya. Di sana ada Mas Ikhsan bersama teman-teman dekatnya.

Aniqo muncul dari pintu, menghambur memeluk Nana, "Nana! Kemarin ke mana? Kok nggak ke kampus?"

"Mau tahu aja, sih!" Sahut Nana enteng sembari melangkah mengiringi Aniqo, masuk ke dalam rumah Tantri.

Nana melirik pada Mas Ikhsan dan beberapa lelaki yang masih asik mengobrol, dan pandangannya beradu dengan seorang pria. 

Pria yang dikenalnya..

Sejenak Nana terpana, namun detik berikutnya ia menunduk. Mengabaikan pria itu yang masih menatap langkah Nana, Nana memasuki rumah Tantri begitu saja.

Nana termenung di kamar Tantri. Tantri tampak begitu cantik dengan riasan di wajahnya tadi. Nana bahkan dibuatnya terkejut. Tantri adalah gadis sederhana yang tidak pernah menonjolkan kecantikkannya. 

Dan hari ini, untuk suaminya, ia berdandan habis-habisan. 

Nana menatap kosong ke luar jendela, entah kapan ia akan berada di posisi sebahagia Tantri. 

Tapi jika bersama Daniel,, mungkinkah ia dapat sebahagia Tantri? 

Nana terdiam cukup lama, sampai-sampai Aniqo datang menghampiri dan meminta Nana menemani Tantri di ruang tengah agar dapat mendengar ijab qobul.

"Nana.. Aku deg-degan." Ucap Tantri sembari meremas jemari Nana gugup.

Nana meletakkan satu tangannya ke atas tangan Tantri, menggenggamnya sembari menatap Tantri dengan tersenyum, "Kamu bisa mengatasinya, Insyaa Allah.. Wajar aja sih kalau deg-degan. Semua pengantin pasti begitu."

Tantri mengangguk membalas senyum tulus Nana, "Aku nggak suka lihat sahabat aku murung di hari istimewa aku. Telpon aku begitu acara selesai." Pinta Tantri sembari menatap Nana penuh selidik. 

Tantri menyadari ada sesuatu yang telah terjadi pada sahabatnya yang tidak diketahuinya. Raut wajah Nana berbeda, terlihat sedih. Namun seperti biasa, sahabatnya itu terus mengumbar senyumannya. Padahal lingkar matanya memerah, kurang tidur dan menangis. Itu yang terlintas di benak Tantri saat melihat Nana.

Nana mengerucutkan bibirnya, "Kamu itu cukup memikirkan hari bahagia ini. Nggak usah yang macam-macam." Gerutu Nana sembari mencubit pipi Tantri.

---***---

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Cast

Angelina Titianas Nana
Ayudyah Tantrias Tantri
Aniqo Salsabilahas Aniqo

Who's Reading

Recommended