Penjelasan Tentang Doa QUNUT dalam shalat

spinner.gif

Syaikh Muhammad bin Sholih 

Al Utsaimin pernah ditanya: 

Bagaimana pendapat empat 

Imam Madzhab mengenai 

qunut? 

Syaikh rahimahullah 

menjawab: 

Pendapat imam madzhab 

dalam masalah qunut adalah 

sebagai berikut. 

Pertama: Ulama Malikiyyah 

Mereka berpendapat bahwa 

tidak ada qunut kecuali pada 

shalat shubuh saja. Tidak ada 

qunut pada shalat witir dan 

shalat-shalat lainnya. 

Kedua: Ulama Syafi'iyyah 

Mereka berpendapat bahwa 

tidak ada qunut dalam shalat 

witir kecuali ketika separuh 

akhir dari bulan Ramadhan. 

Dan tidak ada qunut dalam 

shalat lima waktu yang lainnya 

selain pada shalat shubuh 

dalam setiap keadaan (baik 

kondisi kaum muslimin 

tertimpa musibah ataupun 

tidak, -pen). Qunut juga 

berlaku pada selain shubuh 

jika kaum muslimin tertimpa 

musibah (yaitu qunut nazilah). 

Ketiga: Ulama Hanafiyyah 

Disyariatkan qunut pada shalat 

witir. Tidak disyariatkan qunut 

pada shalat lainnya kecuali 

pada saat nawaazil yaitu kaum 

muslimin tertimpa musibah, 

namun qunut nawaazil ini 

hanya pada shalat shubuh saja 

dan yang membaca qunut 

adalah imam, lalu diaminkan 

oleh jama'ah dan tidak ada 

qunut jika shalatnya munfarid 

(sendirian). 

Keempat: Ulama Hanabilah 

(Hambali) 

Mereka berpendapat bahwa 

disyari'atkan qunut dalam 

witir. Tidak disyariatkan qunut 

pada shalat lainnya kecuali 

jika ada musibah yang besar 

selain musibah penyakit. Pada 

kondisi ini imam atau yang 

mewakilinya berqunut pada 

shalat lima waktu selain shalat 

Jum'at. 

Sedangkan Imam Ahmad 

sendiri berpendapat, tidak ada 

dalil yang menunjukkan bahwa 

Nabi shallallahu 'alaihi wa 

sallam pernah melakukan 

qunut witir sebelum atau 

sesudah ruku'. 

Inilah pendapat para imam 

madzhab. Namun pendapat 

yang lebih kuat, tidak 

disyari'atkan qunut pada 

shalat fardhu kecuali pada 

saat nawazil (kaum muslimin 

tertimpa musibah). Adapun 

qunut witir tidak ada satu 

hadits shahih pun dari Nabi 

shallallahu 'alaihi wa sallam 

yang menunjukkan beliau 

melakukan qunut witir. Akan 

tetapi dalam kitab Sunan 

ditunjukkan bahwa Nabi 

shallallahu 'alaihi wa sallam 

mengajarkan Al Hasan bin 'Ali 

bacaan yang diucapkan pada 

qunut witir yaitu "Allahummah 

diini fiiman hadayt ...". 

Sebagian ulama menshahihkan 

hadits ini [1]. Jika seseorang 

melakukan qunut witir, maka 

itu baik. Jika 

meninggalkannya, juga baik. 

Hanya Allah yang memberi 

taufik. (Ditulis oleh Syaikh 

Muhammad Ash Sholih Al 

'Utsaimin, 7/ 3/ 1398)[2] 

Adapun mengenai qunut 

shubuh secara lebih spesifik, 

Syaikh Muhammad bin Sholih 

Al Utsaimin menjelaskan 

dalam fatwa lainnya. Beliau 

pernah ditanya: "Apakah 

disyari'atkan do'a qunut witir 

(Allahummah diini fiiman 

hadayt ...) dibaca pada raka'at 

terakhir shalat shubuh?" 

Beliau rahimahullah 

menjelaskan: "Qunut shubuh 

dengan do'a selain do'a ini 

(selain do'a "Allahummah diini 

fiiman hadayt ..."), maka di 

situ ada perselisihan di antara 

para ulama. Pendapat yang 

lebih tepat adalah tidak ada 

qunut dalam shalat shubuh 

kecuali jika di sana terdapat 

sebab yang berkaitan dengan 

kaum muslimin secara umum. 

Sebagaimana apabila kaum 

muslimin tertimpa musibah - 

selain musibah wabah 

penyakit-, maka pada saat ini 

mereka membaca qunut pada 

setiap shalat fardhu. 

Tujuannya agar dengan do'a 

qunut tersebut, Allah 

membebaskan musibah yang 

ada." 

Apakah perlu mengangkat 

tangan dan mengaminkan 

ketika imam membaca qunut 

shubuh? 

Dalam lanjutan perkataannya 

di atas, Syaikh Ibnu 'Utsaimin 

mengatakan: 

"Oleh karena itu, seandainya 

imam membaca qunut shubuh, 

maka makmum hendaklah 

mengikuti imam dalam qunut 

tersebut. Lalu makmum 

hendaknya mengamininya 

sebagaimana Imam Ahmad 

rahimahullah memiliki 

perkataan dalam masalah ini. 

Hal ini dilakukan untuk 

menyatukan kaum muslimin. 

Adapun jika timbul 

permusuhan dan kebencian 

dalam perselisihan semacam 

ini padahal di sini masih ada 

ruang berijtihad bagi umat 

Muhammad shallallahu 'alaihi 

wa sallam, maka ini 

selayaknya tidaklah terjadi. 

Bahkan wajib bagi kaum 

muslimin -khususnya para 

penuntut ilmu syar'i- untuk 

berlapang dada dalam 

masalah yang masih boleh ada 

perselisihan antara satu dan 

lainnya. " [3] 

Dalam penjelasan lainnya, 

Syaikh Muhammad bin Sholih 

Al Utsaimin mengatakan, 

"Yang lebih tepat makmum 

hendaknya mengaminkan do'a 

(qunut) imam. Makmum 

mengangkat tangan mengikuti 

imam karena ditakutkan akan 

terjadi perselisihan antara 

satu dan lainnya. Imam Ahmad 

memiliki pendapat bahwa 

apabila seseorang 

bermakmum di belakang 

imam yang membaca qunut 

shubuh, maka hendaklah dia 

mengikuti dan mengamini 

do'anya. Padahal Imam Ahmad 

berpendapat tidak 

disyari'atkannya qunut shubuh 

sebagaimana yang sudah 

diketahui dari pendapat 

beliau. Akan tetapi, Imam 

Ahmad rahimahullah 

memberikan keringanan 

dalam hal ini yaitu mengamini 

dan mengangkat tangan 

ketika imam melakukan qunut 

shubuh. Hal ini dilakukan 

karena khawatir terjadinya 

perselisihan yang dapat 

menyebabkan renggangnya 

hati (antar sesama 

muslim)." [4] 

Hanya Allah yang memberi 

taufik. 

Disusun di Batu Merah, kota 

Ambon, 5 Syawal 1430 H 

Penulis: Muhammad Abduh 

Tuasikal 

Artikel http://rumaysho.com 

[1] Hadits ini diriwayakan oleh 

At Tirmidzi, Abu Daud, An 

Nasa-i, Ibnu Majah, dan Ad 

Darimiy. Syaikh Al Albani 

mengatakan bahwa hadits ini 

shahih dalm Misykatul 

Mashobih 1273 [20]. 

[2] Majmu' Fatawa wa Rosa-il 

Ibnu 'Utsaimin, 14/97-98, Asy 

Syamilah 

[3] idem, 14/78 

[4] idem, 14/80

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended