Halaman sebelumnya of 2Halaman selanjutnya

An Artist

spinner.gif

Sudah seminggu sejak kedatangan para artis kurang kerjaan itu syuting di sekolah Vena. Dan selama seminggu itu pula, Vena menggerutu abis-abisan. Gondok banget! Bayangin aja, selama seminggu itu semua cewek di sekolah Vena selalu berdandan kecentilan. Apalagi si Nora, teman sekelas Vena yang semua anak di sekolah tau kalo dia fans berat seorang Verdy Alamsyah. Biasanya dia ke sekolah cuma pake seragam lengkap dan tanpa banyak pernak-pernik, sekarang tiap masuk kelas parfumnya langsung menyebar ke seluruh ke ruangan kelas. Mending baunya enak, ini mah nyengat banget! Vena rasanya mau muntah menghirup parfum kaya gitu.

Dan sekarang semua tempat aman sudah dikepung oleh masa dengan julukan ‘VERDY LOVERS’. Norak banget kan!? Vena jadi ga ada tempat untuk bernanung di sekolah. Dari mulai kelas, lapangan basket, lapangan bola, lapangan voli, taman belakang, kantin, tempat parkir, pokoknya semuanya, pada ngomongin Verdy. Kacau bener! Kasian Vena, dia mau bernaung dimana?

Eits! Tapi ada satu tempat yang belum tersentuh itu semua. Perpustakaan! Ya, tempat itu! Selama seminggu ini, Vena jadi rajin banget ke perpustakaan. Niat untuk baca buku sih engga, cuma pengen menghindari para Verdy Lovers yang kelewatan di luar sana. Baru kali ini Vena merasakan perasaan yang benar-benar tenang. 

Hari ini hari Kamis, seperti biasa jam istirahat kedua Vena langsung melengos ke perpustakaan. Sebenernya sih ini jadwal sholat dzuhur tapi karena Vena lagi kedatangan bulan, jadi Vena dilarang melaksanakan kewajibannya.

Vena mengambil posisi tempat duduk dipojok dekat jendela dan tidak berhadapan langsung dengan AC tapi dinginnya masih tetap terasa. Sambil bersandar di dinding, Vena memasang headset dan langsung menyetel musik dari ponselnya. Lagu pertama adalah lagu Enchanted milik Owl City. Entah kenapa tiba-tiba jari Vena mengklik judul lagu ini, padahal kalo menurut logika, Vena ga lagi suka sama siapa-siapa.

Baru sekitar setengah lagu diputar, tiba-tiba terdengar suara gerasak-gerusuk dari arah pintu perpustakaan. Ya Tuhan, jangan biarkan cewek-cewek ribet dan kurang kerjaan itu menyentuh wilayahku yang damai ini, ucap Vena dalam hati.

Doanya terkabul. Cewek-cewek ribet itu perlahan pergi sambil memasang wajah kecewa mereka. Mungkin mereka mencari Verdy tapi untungnya dia emang ga kesini. Dan emang ga boleh kesini karena ini wilayah Vena!

Baru Vena ingin kembali mendengarkan musik, tiba-tiba ada sesosok tubuh yang baru-buru ini dikenali Vena. Dia berada di balik rak buku, sedang bersembunyi supaya tidak terlihat dari luar. Memakai seragam batik dan celana panjang abu-abu khas SMA Vena. Siapa lagi kalo bukan Verdy?

Vena langsung menutup wajahnya dan memegang kepalanya. Cewek-cewek ribet itu ngilang, malah biangnya yang dateng. Oh God! Why!?

Vena menarik napas dan menghembuskannya perlahan, “Ok, Vena. Jangan peduliin cowok ga penting itu. Tetap tenang dan diam. Lo disini untuk tenang.” ucap Vena kepada dirinya sendiri.

Selama beberapa menit, Vena tenang dalam alunan musik yang didengarnya, sampai ada suara kursi ditarik dengan paksa dan duduk dengan kasar lalu pura-pura membaca buku. Vena kaget dan hampir menggebrak meja tapi langsung ditahan oleh sebuah tangan yang mencengkeram tangannya dengan kencang.

“Aaaa.... Hmmmph... Hmmmph..”

Seseorang menutup mulut Vena dan berbisik, “Eh, diem dong! Plis bantuin gue. Gue lagi ngumpet nih! Tolong diem yah! Kalo ga diem, terpaksa tangan lo gue cengkeram terus.” perintah suara itu.

Vena menurut, bukan karena dia patuh tapi karena emang tangannya udah sakit sekali. Vena itu kurus−yah ga kurus-kurus banget sih, sedeng lah−jadi sangat tangannya dipegang itu langsung kena tulangnya. Dan itu sakit banget!

Akhirnya tangan itu melepaskan tangannya dari mulut dan tangan Vena. Seketika Vena langsung menjerit, “Aaaaawww!! Eh lo gila yah? Sembunyi sih sembunyi tapi jangan gue dong korbannya! Aduuuhh.. Sakit tau!”

“Aduh maaf yah! Maaf banget. Abis gue dalam keadaan genting nih! Temen-temen lo ngejar-ngejar gue dari tadi. Sorry..”

“Lo minta maaf ga akan sembuhin tangan gue kan? Kurang ajar banget sih.... Lo?”

Pertanyaan Vena langsung menggantung begitu dilihatnya Verdy dihadapannya. Verdy? Dihadapannya!? Ya ampun. Kena angin topan apa gue sampe ketemu biang kerok pembuat rusuh sekolah ini? Vena bengong.

“Ternyata lo ganteng juga yah?” ucap Vena pelan dan tanpa sadar.

Halaman sebelumnya of 2Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan