Kopi dan Gula

spinner.gif

Aku menarik nafas panjang dengan berat, mencoba menahan air mata yang semakin lama tidak mampu ku tampung lagi. Ternyata benar, tak lama setelah itu, sebutir air mata jatuh membasahi pipiku dan disusuli oleh teman-temannya yang lain. Anehnya, entah itu kebetulan atau tidak, hujan turut membasahi bumi ini sederas air mata ku yang tidak mau diajak kompromi lagi.

Mungkin, mata dan hatiku tidak dapat menahan semua sakit ini (lagi). Yah, mungkin setelah air mata ini terjun bebas dari mataku, aku akan mendapatkan sebuah kelegaan. Memang sih, nangis tidak akan membuat semuanya menjadi lebih baik tapi setidaknya malam ini aku harus membuka topengku dan menerima kenyataan bahwa aku tidak sekuat yang kupikir.

Aku memang tidak kuat. Tidak pernah kuat. Aku sadar itu, tapi bukankah dengan berpura-pura semuanya baik-baik saja akan mensugestikan diriku bahwa aku memang kuat. Lalu, apa jika aku membuka topengku, orang akan peduli dan mau tahu dengan masalahku? Tidakkan?

Aku berhenti menunjukkan jati diri ku yang sebenarnya kepada orang-orang, bahkan orang terdekatku sekalipun. Mereka mungkin berpikir mereka mengenaliku, hanya saja mereka sebenarnya mengenali 'topeng' yang selama ini aku gunakan. 

Kepergianmu -seseorang yang sempat kupercaya- mengajariku bahwa hanya diriku sendiri lah yang dapat ku percaya.

Dulu, aku memercayai semua perkataan yang kau ucapkan dan tindakan yang kau lakukan. Semua tentangmu seakan-akan menghipnotisku dan aku masuk ke dunia yang selalu berpikir 'kamu sempurna'. Tapi, bukankah setiap orang yang sedang... hm..... jatuh cinta akan berpikir orang yang dicintai itu sempurna? Aku sempat merasa gila tapi aku tahu bukan hanya aku yang merasa begitu.

Buaian lembut tanganmu, hangatnya pelukanmu, indahnya tatapanmu, dan manisnya perkataanmu menjebakku ke duniamu. Kau memberikanku beribu impian dan aku -bodohnya- selalu memercayai itu. Ingatkah kamu bahwa kamu pernah berjanji untuk tidak akan meninggalkanku? Ingatkah? Aku -orang yang langsung memercayai kata manismu itu- masih sangat meningatnya, mungkin tidak akan pernah kulupakan.

Kamu sekarang sudah bahagia dengan duniamu, tanpa aku. Tapi, tahukah kamu betapa sesaknya aku merindukanmu? Tahukah kamu betapa perihnya aku mengetahui bahwa alasan kebahagiaanmu bukan LAGI aku? Tahukah kamu betapa perihnya mengatakan 'gue udah gapeduli sama dia lagi' saat orang-orang menanyaiku tentangmu? Tahukah kamu dibalik semua senyumku saat bertemu kamu selalu tersimpan air mata? Tahukah kamu betapa hancurnya aku mengetahui kamu memperlakukan orang lain sama seperti kamu memperlakukan aku DULU? Tahukah kamu betapa inginnya aku mendekapmu di pelukanku lagi? Hahaha, sudahlah, lupakan. Aku tidak punya hak untuk menanyaimu semua itu. Aku sadar, aku bukan siapa-siapa lagi dan tidak sepantasnya aku mengusik hidup bahagiamu dengan rasa rindu bodoh yang selalu kurasakan.

Dingin hujan malam itu merasuki tubuhku dan menyadarkanku dari ingatan bodohku tentangmu. Airmataku tidak lagi turun tapi masih menyisa di pipiku. Aku mengambil secangkir kopi hitam yang mulai mendingin karena sedaritadi ku 'kacangin'. Aku meneguknya perlahan, sedikit sensasi panas yang masih tersisa menghangatkan dadaku dan pahitnya kopi itu memberikanku sebuah kesadaran...

Kopi hitam itu rasanya pahit sekali, sama seperti hidupku yang sekarang. Orang umum tidak akan tahu bahwa cangkir yang berisi kopi hitam itu rasanya seberapa pahit ketika tidak meminumnya, sama seperti orang-orang yang mengenaliku hanya 'cangkir'nya saja atau yang sedari tadi ku sebut 'topeng'. Dan, aku lah pembuat sekaligus peminum kopi itu. Dulu, kopi itu manis karena kamu bersedia menjadi gulanya tapi ketika kamu pergi dan menjadi gula untuk kopi orang lain, aku kehilangan manismu.... Seharusnya, aku sebagai pembuat kopi sadar bahwa aku harus menambah gulaku pada kopi ku. Tenanglah, aku tidak akan mengambilmu dari kopi orang lain itu tapi aku akan mencari gulaku sendiri.........

Mungkin, melupakanmu dan menggantikanmu tidak segampang teori kopi sederhanaku itu tapi hanya 'pembuat kopi' bodoh yang hanya terdiam menantikan 'gula-nya' datang dengan sendirinya......

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended