Previous Page of 3Next Page

KARMA CINTA

spinner.gif

“Duuuuh capeeeeeek nyaaaa!!” desah Nasha lega.

 

Nasha celingak-celinguk mencari keberadaan Aga, tapi nggak ditemukannya. Melihat Aga tidak ada disekitar tempatnya, Nasha bernafas  lega lalu dia dengan hati-hati duduk dikursi yang tepat dibawah pohon berdaun rindang, menjadikan tempat itu dingin dan sejuk. Nasha duduk disitu untuk melepaskan dahaga setelah berkerja rodi tadi.

 

 

 

Nasha duduk bersandar sambil mengingat perlakuan Aga yang menurutnya sangat kejam. Kenapa kejam? Huh! Gimana Nasha nggak bilang Aga kejam, Aga menyuruhnya membersihkan rumput ditaman sekolah yang rumput-rumputnya udah setinggi dengkul Nasha itu sampai bersih, klimis – emang nyukur jangkut apa! –.

 

 

 

 Nasha heran kok rumput ditaman itu sampai rimbun dan tinggi-tinggi gitu apa nggak dibersihkan sama pengurus SMA-nya?. Dan setelah Nasha mencoba bertanya sama Aga, itupun Nasha rada takut-takut nanya sama Aga yang auranya angker banget itu, tapi Nasha berusaha mati-matian untuk berani nanya.

 

 

 

“Ini rumput nggak pernah dibersihin ya Kak?,” tanya Nasha hati-hati dengan suara pelan hampir berbisik, Aga sampai nggak mendengar saking pelannya.

 

 

 

“Apa?” tanya Aga datar, pandangannya kedepan, tanpa menatap si-penanya. Nasha mendesah pelan, dongkol juga sih, dengan hati-hati Nasha mengucapkan pertanyaannya tadi “Ini rumput nggak pernah dibersihin sama pengurus taman sekolah ya Kak?” ulang Nasha lebih jelas, takutnya seniornya ini marah-marah – bisa ya?—

 

 

 

Aga berbalik melihat Nasha dengan pandangan datar dan dingin. Membuat Nasha yang melihatnya merinding tegang “Ini memang sengaja nggak dibersihin…,” jawab Aga dengan nada malas.

 

“Kenapa?,” tanya Nasha lagi, tanpa tahu orang didepannya itu malas diajak ngomong. *dasar Nasha! Lemot*

 

 

 

Aga mendesis kesal, dia paling nggak suka orang banyak nanya. Padahalkan Aga sudah bilang dengan jelas, tapi Nasha malah nggak tanggap. Atau Aga-nya yang emang ngejawabnya nggak detail ya? *Aga irit ngomong*

 

 

 

“Ini sengaja buat hukuman anak-anak yang membuat pelanggaran saat MOS, ngerti? Jangan nanya lagi!,” jawab Aga panjang, jelas, skak.

 

 

 

“Ooooo…,” Nasha mengangguk mengerti. Lalu matanya kembali melihat rumput-rumput yang banyak itu. Nasha meneguk air liurnya melihat semua itu, duh! Bakal penyok tubuh gue kalau sebanyak ini desah Nasha dalam hati.

 

 

 

Nasha menoleh kearah Aga yang setelah mengucapkan itu hanya diam, Nasha bingung setelah ini apa yang harus dia lakukan. Masa dia harus diam disini dan bermetamorfosis menjadi hiasan patung tanaman SMA Bintang Jaya gitu. mana si Aga nggak ngasih alat yang harus Nasha pakai untuk membasmi rumput-rumput itu lagi. Nasha cuman didiemin. Nasha mencoba sabar dan ikut diam, mungkin aja setelah ini Aga ngasih alat untuk membersihkan taman ini. hening, yang ada cuman suara kicauan burung dan suara kaki Nasha yang menggesek permukaan tanah kering disitu.

 

 

 

Semenit sudah berlalu…..nggak ada suara.

 

 

 

Dua menit berlalu………nggak ada suara dan nggak ada tindakan sama-sekali oleh Aga.

 

 

 

Dan saat berjalan menit ke-tiga, Nasha sudah nggak tahan lagi!

 

Dengan memberanikan diri Nasha mendekati Aga yang masih berdiri diam ditempat. Aga mengira Nasha sudah melakukan suruhannya tadi. Jadi saat Nasha menjawil sedikit baju Aga dan menarik-nariknya pelan, Aga kaget dan seketika langsung berbalik menghadap Nasha. Saat sudah menghadap Nasha, Aga mengernyit bingung tapi tetap dengan tatapan datar dan dingin untuk Nasha.

 

 

 

Melihat tatapan Aga yang menbekukan itu membuat Nasha menyesal sudah memanggil Aga. Glek! Kayaknya sekarang gue harus nyesal atas tindakan gue. Bodoh! Nasha bodoh, gerutunya dalam hati sambil memukul-mukul pelan kepalanya.

 

 

 

Melihat kelakuan aneh Nasha, Aga berdeham dan mengulangi perkataanya “Apa?”

 

Previous Page of 3Next Page

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended