Previous Page of 119Next Page

Seri 7 Senjata

spinner.gif

Kuda Binal Kasmaran (Serial Tuhuh Senjata ke 7)  

Lanjutan dari : Pukulan Si Kuda Binal atau Tombak Maharaja.  

Bab 1.  

Tanggal 11 bulan 9. Hari kedua setelah hari raya Congyang.  

Cuaca cerah ceria.  

Hari ini bukan hari raya, bukan hari besar juga bukan hari  istimewa. Tapi hari paling mujur bagi Siau Ma alias si Kuda  Binal, hari paling mujur dalam jangka tiga bulan belakangan  ini.  

Hari ini Siau Ma hanya berkelahi tiga kali, tiga babak,  tubuhnya hanya kena sekali bacokan golok. Luar biasanya  adalah sampai saat ini masih belum mabuk.  

Malam telah larut, Siau Ma masih berjalan tegap dan kuat  dengan kedua kakinya, ini kejadian luar biasa, kalau tidak mau  dikata keajaiban.  

Bagi orang lain setelah minum arak sebanyak itu, terluka  oleh bacokan golok lagi, apa yang dilakukan kecuali telentang  di tanah merintih dan meregang jiwa menunggu ajal.  

Bagi ukuran Siau Ma, bacokan golok itu tidak dirasa berat,  padahal kalau bacokan golok itu ditujukan ke batang pohon  sebesar paha, pasti pohon itu roboh terpotong jadi dua, coba  bayangkan betapa parah luka yang diderita Siau Ma.  

Serangan golok itu tidak cepat, namun pemilik golok itu  mahir membelah seekor lalat yang sedang terbang di udara,  malah bukan hanya seekor lalat yang berhasil dipotongnya.  

Jikalau peristiwa ini terjadi tiga bulan kemudian, meski ada  tiga atau lima batang golok membacok tubuhnya, Siau Ma  dapat merampas satu dua batang, menendang satu dua  batang di antaranya, sisanya yang sebatang dengan mudah  dia patahkan jadi dua potong.  

Bahwa hari ini si Kuda Binal hanya terkena satu bacokan  golok, bukan lantaran tidak mampu berkelit, tidak bisa  menghindar, juga bukan karena dia mabuk.  

Dia terbacok karena ingin merasakan bacokan golok lawan,  ingin menikmati bagaimana rasa dan betapa nikmat bacokan  golok Peng-lohou dari Ngo-hou-toan-bun-to yang terkenal lihai  itu.  

Bacokan itu tentu tidak enak, tidak nikmat, sampai  sekarang, bacokan golok di tubuhnya itu masih mengalirkan  darah.  

Maklum, baja tajam yang beratnya empat puluh tiga kati,  kalau membacok tubuh orang, orang itu pasti celaka. Manusia  mana yang mau dibacok golok dengan percuma.  

Tapi Siau Ma senang, dia gembira. Peng-lohou yang  membacok dirinya malah celentang tak bergerak di tanah.  

Karena saat goloknya membacok Siau Ma, untuk sementara  bocah ini bisa melupakan penderitaan lahir batin. Siau Ma  memang sengaja menyiksa diri, supaya dirinya menderita.  

Dengan cara apa saja dia ingin melupakan derita batinnya.  

Dia tidak takut mati, tidak takut miskin, biar dunia kiamat,  langit ambruk menindih kepalanya juga tidak peduli. Akan  tetapi derita batin yang satu ini, membuatnya sengsara.  

* * *  Bulan purnama menyinari jalan raya nan sunyi hening,  lampu sudah dipadamkan, penduduk sudah tidur lelap, kecuali  Siau Ma seorang, di jalan raya tidak kelihatan bayangan  manusia. Dari kejauhan, mencongklang datang sebuah kereta  kuda yang besar.  

Kuda gagah dan tegap, kereta megah dan baru, kabin  kereta kelihatan bersih mengkilap seperti kaca, tempat  duduknya baru dan empuk. Enam laki-laki kekar duduk  berdesakan di tempat kusir, yang memegang tali kendali  mengayun cemeti panjang di tangannya, “Tar” suaranya  menggelegar di udara malam nan lelap.  

Bukan saja tidak melihat, seolah-olah Siau Ma juga tidak  mendengar datangnya kereta yang dicongklang cepat di jalan  raya. Di luar dugaan, kereta besar itu mendadak berhenti tak  jauh di depannya, enam laki-laki berpakaian hitam yang duduk  di tempat kusir serentak melompat turun merubung sambil  melotot, mendelik gusar, gerak-gerik mereka cukup gesit dan  cekatan. Seorang yang berdiri paling depan bertanya sambil  menatap tajam, “He, kau ini Siau Ma yang suka mengajak  orang berkelahi itu?”  Siau Ma mengangguk, sahutnya, “Betul, kalau kalian ingin  berkelahi, carilah diriku.”  Orang-orang itu mendengus ejek, jelas Siau Ma dianggap  kucing yang sedang mengantuk dan tidak dipandang sebelah  mata oleh mereka, katanya, “Sayang sekali, kedatangan kami  bukan untuk berkelahi dengan kau.”  “O, bukan untuk berkelahi?” Siau Ma menegas.  

Previous Page of 119Next Page

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Media

Kuda Binal Kasmaran

Who's Reading

Recommended