Previous Page of 6Next Page

Kawin Kontrak

spinner.gif

akhirnyaaa....

jangan lupa vote sama komennya ya....

BAB 7

RIMA

 

Aku termangu menatap sosokku di dalam cermin. Memakai kebaya berwarna merah yang bertaburan payet berwarna emas, duduk di ruang rias dengan seorang perias juga asistennya. Seorang perias pengantin jawa yang kenamaan dan seorang asistennya yang setia (membuatku teringat akan film keluarga jaman dulu, dimana bedanya ada di bagian yang setia dipanggil Lessie). Mereka sibuk memoles berbagai macam riasan (yang bahkan aku baru tahu itu ada) di wajahku yang mungil (dan aku mengutuk cermin di depanku yang membuatku sekali lagi mengetahui kenyataan itu). Sesekali aku harus bersabar menatap badan besar perias itu yang menutup cermin di depanku. Membuatku sedikit kehilangan orientasi karena tiba-tiba diliputi kegelapan.

“Cantik ya kulitnya. Nggak pernah pakai make up yo?” tanya perias yang sedari tadi sibuk mewarnai wajahku.

Aku berusaha mengangguk, tapi ketakutan sanggulku terjatuh. Berusaha tersenyum, tapi sedikit sulit dengan tangan perias itu di pipiku. Akhirnya aku hanya bisa menjawab dengan menggeram. Perias itu terkekeh memperhatikan hasil riasannya, seakan dia puas (dan aku sangat terkejut melihat hasilnya yang luar biasa di wajahku).

“Kang mas-nya pasti bakalan pangling iki,” ujar perias itu. Aku bisa melihat asisten perias itu juga ikut tersenyum puas melihat wajahku (tiba-tiba aku merasa bisa mendengar, asisten perias itu mengatakan, “Kau berhasil melakukannya, master! Aku bangga kepadamu.” Kemudian terdengar musik-musik melankols di antara mereka ketika mereka saling memandang haru.)

Perias itu kemudian membimbingku berdiri dan menuntunku berjalan keluar pintu kamar. Di depan pintu, aku melihat sosok Endo berbincang dengan Odea, adikku. Endo memakai setelan jas dan terlihat sangat sempurna dengan pakaiannya. Tubuhnya terlihat tegap, terlihat kuat dan membuatku ingin berlari ke arahnya kemudian berpura-pura pingsan hanya untuk bisa memeluknya (itu cuma khayalan. Mana mungkin aku berani!).

Endo tersenyum melihatku dan meraih tanganku dari lengan perias gendut itu. Dia kemudian menuntunku menuju ruang resepsi dimana semua keluarga sudah menunggu. Udara  di sekitarku tiba-tiba terasa berat dan menyesakkan. Aku melihat wajah-wajah sumringah yang menatap kami, juga wajah-wajah yang terlihat lesu. Salah satunya adalah Ayah dan juga Diva. membuatku menelan ludah mengingat kejadian seminggu yang lalu setelah pertemuanku dengan Endo di cafe.

****

 

 Sendok itu terjatuh di piring dan menimbulkan suara dentingan yang keras. Aku sudah siap menerima berbagai reaksi, termasuk salah satunya reaksi ini. Ayah menatapku tak percaya sementara Diva menunjukkan wajah melongonya (yang pasti dia tidak akan menunjukkan wajah itu di hadapan orang lain selain keluarga ini). Semua reaksi yang sedikit bisa kuprediksi setelah aku menceritakan hasil pertemuanku dengan Endo kemarin (jangan harap aku menceritakan proses diskusinya, karena itu membuatku sangat malu!). Aku meringis sembari berharap mereka segera menghentikan ekspresi kaget itu. Itu sedikit terlihat mengganggu.

“Bisa kita lanjutkan makannya?” tawarku sebelum suara-suara tak setuju itu keluar.

“Bagaimana bisa kau memutuskan hal seperti itu sendiri, Rima!”

Ini salah satunya.

“Ayah…”

“Kau gila, Rima!”

Ini satunya lagi.

“Diva…”

 “Kau tak perlu lakukan itu!”

“Aku akan telpon Endo dan minta dia menghentikan ini semua!”

“Oh…hentikan kalian semua!” sergahku sebelum mereka semakin menjadi. “Ini keputusanku dan tidak akan kurubah. Aku akan menikahi Endo.”

Ayah terdiam, kemudian menyendok sisa nasinya yang terakhir kemudian pergi sambil membawa gelas berisi air. Wajahnya terlihat sangat sedih dan murung, Ayah pergi berlalu tanpa menatapku sama sekali. Itu sungguh membuatku merasa bersalah. Aku hendak menyusul Ayah tapi lenganku ditahan oleh Diva.

“Apa yang terjadi diantara kalian?” tanyanya penuh selidik.

Glek.

“Tidak ada.”

“Jangan bohong, itu tertulis di wajahmu! Pem-bo-hong!”

Deg.

“Bukan apa-apa!”

“Apa kalian sudah…”

Diva melihat ke arah perutku kemudian menatapku lagi.

“Tidak! Aku cuma bertemu dengannya!” jawabku panik.

Previous Page of 6Next Page

Comments & Reviews (32)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended