Previous Page of 237Next Page

Hoei-Ho-Gwa-Toan (Kisah Si Rase Terbang)

spinner.gif

Hoei-Ho-Gwa-Toan (Kisah Si Rase Terbang)

Harus diketahui, bahwa meskipun tak bisa meiihat, dengan   menggunakan ketajaman kuping, Biauw Jin Hong mengetahui,   bahwa kemahiran Ouw Hui dalam menggunakan Ouw-kee Tohoat,   tak nanti dapat dilakukan oleh orang lain, kecuali ahli   waris tulen dari keluarga Ouw. Ouw It To mempunyai satu   putera, tapi sepanjang pengetahuannya, putera itu sudah mati   tenggelam di dalam sungai. Maka itulah, ia menduga, bahwa   Ouw Hui adalah ke-ponakan dari Liao-tong Tayhiap.   

Ouw Hui tertawa sedih. "Ouw It To bukan Peh-hu dan juga   bukan Siok-huku," jawabnya.   

Biauw Jin Hong merasa sangat heran, karena ia yakin,   bahwa Ouw-kee To-hoat tak akan sem-barangan diturunkan   kepada orang luar. "Pernah apakah kau dengan Ouw It To,   Ouw tayhiap?" ia tanya lagi.   

Ouw Hui merasa duka, tapi karena ia masih belum dapat   membuka tabir rahasia yang menyc-lubungi hubungan   mendiang ayahnya dan Biauw Jin Hong, maka ia tak mau   lantas bicara sebenarnya. "Ouw Tayhiap," ia menegas.   

"Mereka sudah meninggal dunia lama sekali. Mana aku   mempunyai rejeki begitu besar untuk mengenalnya?" Ouw Hui   mengucapkan kata-kata itu dengan suara sedih. 'Jika aku bisa   memanggil ayah dan ibu dan sekali saja mereka bisa   menjawab panggilanku, aku sudah merasa sangat puas dan   tidak menginginkan suatu apa lagi dalam dunia ini,' katanya di   dalam hati.   

Biauw Jin Hong berdiri bengong dan kemudian ia berjalan   masuk ke dalam kamar dengan tindakan perlahan.   

Melihat paras muka Ouw Hui yang guram, dalam hati Leng   So segera timbul satu keinginan untuk menggembirakannya.   

"Ouw Toako," katanya. "Kau sudah capai sekali. Duduklah!"   "Aku tak capai," jawabnya.   

"Kau duduklah," mendesak si nona. "Aku mau bicara."   Ouw Hui tidak membantah lagi, tapi baru saja pantatnya   menyentuh kursi, mendadak terdengar suara kedubrakan dan   kursi itu berantakan jatuh di lantai menjadi beberapa potong.   

Leng So menepuk-nepuk tangan dan berseru sembari   tertawa: "Aduh! Kerbau yang beratnya lima ratus kati, tak   seberat badanmu!"   Sebagai orang yang berkepandaian tinggi, ke-dua kaki Ouw   Hui sangat teguh dan biarpun kursi itu berantakan secara   mendadak, ia tak sampai turut jatuh terguling. Tapi ia   sungguh merasa heran dan tak mengerti, bagaimana bisa   terjadi begitu.   

Leng So tertawa dan lalu memberi keterangan. "Daun Citsim   Hay-tong yang ditempel di mata, mengakibatkan   kesakitan yang sepuluh kali lebih hebat daripada luka biasa.   

Jika kau yang kena, mungkin kau akan berteriak setinggi   langit."   Ouw Hui turut tertawa dan sekarang baru ia mengerti,   bahwa untuk menahan sakit Biauw Jin Hong telah   mengerahkan tenaga dalamnya yang mengakibatkan   hancurnya kursi itu.   

Sesudah itu, dengan gembira kedua orang muda tersebut   menanak nasi dan memasak liga rupa sa-/ur, kemudian   mengundang Biauw Jin Hong untuk makan bersama-sama.   

"Apa aku boleh minum arak?" tanya Kim Biau Hud sesudah   menghadapi meja makan.   

"Boleh," jawab Leng So. "Sama sekali tak ada pantangan."   Biauw Jin Hong lalu mengambil tiga botol arak yang   kemudian ditaruh di depan setiap orang. "Tuanglah sendiri,   jangan sungkan-sungkan," katanya sembari menuang satu   botol ke dalam mangkok yang lalu diteguk kering isinya.   

Ouw Hui yang doyan arak, juga lantas meminum setengah   mangkok. Leng So sendiri tak minum arak, tapi ia menuang   setengah botol ke dalam mangkok dan lalu menyiram Cit-sim   Hay-tong dengan arak itu. "Inilah rahasianya," kata si nona.   

"Jika kena air, pohon ini akan segera mati. Itulah sebabnya,   sesudah berusaha belasan tahun, saudara-saudara   seperguruanku masih belum bisa menanamnya." Sem-bari   berkata begitu, ia menuang sisa arak yang setengah botol !agi   ke mangkok Biauw Jin Hong dan Ouw Hui.   

Previous Page of 237Next Page

Comments & Reviews (3)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended