Previous Page of 264Next Page

Hoei-Ho-Gwa-Toan (Kisah Si Rase Terbang)

spinner.gif

Hoei-Ho-Gwa-Toan. Kisah Si Rase Terbang

Saduran : Boe Beng Tjoe. 

 "Ouw It To, Kietie, Thiankie!"   "Biauw Jin Hong, Teecong, Hapkok!"   Demikian terdengar teriakan seorang, disusul dengan   berkelebatnya sinar emas yang menyambar ke arah dua   papan kayu dan empat kali suara "tuk". Sinar yang   menyambar itu adalah senjata rahasia Kimpiauw.   

Di atas sebuah papan dilukiskan peta badan seorang lelaki   brewokan yang berbadan kasar dan di pinggir papan terdapal   tiga huruf: "Ouw It To." Dilain papan terdapat lukisan seorang   lelaki yang bertubuh tinggi kurus dengan tiga huruf "Biauw Jin   Hong." Pada peta badan kedua orang itu digam-barkan pula   jalan-jalan darah. Di bawah papan itu dipasangkan gagang   yang dipegang oleh dua orang laki-laki dan papan itu dibawa   lari berputar-putar di seluruh Lian-bu-teng (ruangan tempat   berlatih silat).   

Di pojok utara timur terdapat sebuah kursi yang diduduki   oleh seorang nenek berambut putih dan berusia lima puluh   tahun lebih. Nenek itulah yang barusan berteriak-teriak   memberi komando dengan menyebutkan nama-nama Ouw It   To dan Biauw Jin Hong.   

Seorang pemuda yang berparas cakap dan ber-usia kirakira   dua puluh tahun, menimpukkan Kimpiauw menurut   komando si nenek. Kedua orang yang menyekal gagang   papan, memakai jala kawat baja di masing-masing kepalanya,   sedang pakaian mereka adaiah baju kapas yang tebal. Mereka   ber-pakaian begitu karena khawatir si pemuda kesalahan   tangan.   

Di luar, seorang wanita muda dan seorang pemuda sedang   mengintip melalui lubang di kertas jendela. Melihat jitunya   timpukan Kimpiauw itu, mereka saling mengawasi dengan   paras muka kaget dan kagum.   

Di luar rumah, hujan turun seperti dituang-tuang dan   saban-saban terdengar gemuruh geledek yang sangat nyaring.   

Karena besarnya hujan, air bereipratan ke badan dua orang   muda itu yang memakai jas hujan dari kain minyak. Mereka   mengintip terus dan mendengar si nenek berkata: "Jitu sih   sudah jitu, hanya kurang tenaga. Hari ini cukuplah berlatih   sampai di sini." Sehabis berkata begitu, perlahan-lahan ia   berbangkit.   

Dua orang muda di luar jendela itu, buru-buru menyingkir   dan berjalan ke arah pekarangan luar.   

"Sumoay (adik seperguruan)," kata si pemuda. "Permainan   apakah itu?"   "Permainan?" yang ditanya menegasi. "Kau toh melihat   sendiri, orang itu sedang berlatih piauw. Timpukannya cukup   jitu."   "Kau kira aku tak tahu orang sedang berlatih piauw?" kata   pemuda itu. "Apa yang aku kurang mengerti adalah namanama   di atas kedua papan itu. Apa artinya Ouw It To dan   Biauw Jin Hong?"   "Kalau kau tidak mengerti, apakah kau kira aku mengerti?"   jawab si nona. "Lebih baik tanya kepada ayah."   Muka pemudi itu yang berusia kurang lebih delapan belas   tahun, berpotongan telur, parasnya cantik, kedua pipinya   bersemu dadu dan pada ke-seluruhannya, gerak-geriknya   lincah dan muda segar. Si pemuda bermata besar, dengan dua   alis yang tebal, sedang mukanya penuh jerawat yang berwarna   merah. Usia pemuda itu kira-kira enam tujuh tahun   lebih tua daripada si nona dan meskipun parasnya kurang   cakap, ia bersemangat dan gagah sekali.   

Selagi mereka berjalan melewati pekarangan, hujan turun   semakin deras, sehingga muka mereka menjadi basah.   

Dengan sapu tangan, gadis itu menyusut air di mukanya yang   bersemu dadu dan yang kelihatannya menjadi lebih segar   serta ayu. Melihat kecantikannya, pemuda itu mengawasinya   dengan mata mendelong. Ketika mengetahui dirinya sedang   dipandang, gadis itu tertawa dan sembari berkata "tolol!", ia   lari masuk ke dalam sebuah ruangan.   

Di tengah-tengah ruangan terdapat perapian yang dikitari   oleh dua puluh orang lebih, yang sedang mengeringkan   pakaian basah. Di sebelah timur berkumpul sejumlah orang   Rimba Persilatan yang mengenakan pakaian ringkas pendek   dan bersenjata semua. Di sebelah barat terdapat tiga orang   yang memakai seragam pembesar tentara Boan. Mereka baru   saja datang dan belum membuka pakaian mereka yang basah.   

Previous Page of 264Next Page

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended