|
||||||||
![]() |
||||||||
|
|
||||||||
|
|
13
Ontel Playboy Desa
"Le....kamu mau ke sekolah seperti mau nonton bioskop. Wangi tenan kowe le....?" "Mbok...mbok. Saya ini kan mau jadi seperti Bung Karno. Pintar tapi perlente. Necis itu kan tidak diharamkan, tho...mbok?" Lagipula, alasan si Mbok memberi nama aku Karno kan supaya aku bisa seperti Bung Karno. Bukan begitu, Mbok? "Kamu ini memang pintar berkelit. Yo wess sana, cepat pergi. *** Karno mengayuh sepeda ontel merk Gazelle kuno yang setiap pagi selalu ia kilapi dengan semir besi. Yeah....sebagai seorang ontelis, Karno memang nyentrik. Bahkan, ia pernah punya tiga sepeda ontel. Selain Gazelle, yang kini menjadi satu-satu ontel miliknya, kedua ontel lainnya yang sudah ia jual bermerek Batavus dan Humber. Jika dihitung dengan nilai antik kedua sepeda ontel itu, sebenarnya tidak setimpal dengan alasan Karno menjual kedua ontelnya. Bayangkan, ontel Batavus kunonya itu dijual hanya untuk modal berburu murid baru di sekolahnya, seorang perempuan manis, yang segera saja menjadi kembang sekolah. Sedangkan, ontel Humber-nya ia jual hanya untuk mendapatkan cinta anak Pak Cantrik, juru tulis yang tinggal di tenggara desa. Begitulah, Karno memang seorang playboy, yang nyentrik dan cukup rupawan. *** Sekarang, Karno sedang menjomblo. Si kembang sekolah sudah memutus cintanya kepada Karno. Perkaranya sepele, Karno ternyata tak setajir yang dikira. Begitu belang Karno, yang hanya anak seorang anak janda ketahuan, si perempuan berpaling dari Karno. Sedangkan, anak perempuan Pak Cantrik tak berani meneruskan asmaranya dengan Karno karena diancam Bapaknya. "No....Bapakku marah jika aku pacaran dengan kamu. Soalnya, Bapak bilang kamu itu playboy." "Kenapa harus malu. Lha wong, Bung Karno saja terus terang kok menjadi playboy. Bung Karno ndak pernah menutup-nutupi jika ia itu seorang playboy. Ia seorang playboy sejati, playboy budiman yang begitu menghormati martabat perempuan," jawab Karno sejam sebelum putus cinta. "Ia ndak seperti, playboy-playboy elite zaman sekarang yang menutup-nutupi lelaku playboy-nya. Diam-diam; sembunyi-sembunyi. Ah...ndak gentle." "Ya... tapi itu kan Bung Karno. Orang besar. Lha, kamu itu kan cuma seorang pemuda ndeso, No. Lulus sekolah pun belum. Apalagi jadi insinyur seperti beliau. Sudahlah, No.... aku sudah bulat. Kita putus!!!" "Yo wess... aku ikhlas. Kita putus!!!" Di dalam hati, suara tersembunyinya berkata, "No... sebagai playboy sejati ndak usah pusing. Masih banyak perempuan lain. " *** Belasan sudah, Karno gonta-ganti teman dekat perempuan. Selain dua perempuan istimewa tadi, Karno tak perlu menjual sepeda ontel. Cukup dengan tebar pesona dan menggombal setinggi gunung. Apalagi, wajahnya cukup rupawan. Konon, ia keturunan seorang anak haram hasil perselingkuhan letnan kumpeni dengan putri seorang bekel desa di masa penjajahan silam. Jadi, wajar jika hidung Karno sedikit agak mbangir. Juga, kulitnya yang putih bersih. "Mbok... ontelku mau aku jual" "Ojo... Le. Itu kan ontel peninggalan bapakmu. Dulu, itu ontel kesayangannya. Sewaktu kamu jual dua ontel antikmu yang lain, si Mbok ndak keberatan. Tapi, ontel yang tinggal satu, jangan dijual ya. Dulu, waktu si Mbok pacaran dengan almarhum bapakmu, si Mbok sering mbonceng" "Tapi... Mbok, aku perlu uang" "Untuk apa, No? Buat merayu siapa lagi?" Selama ini, si Mbok sebenarnya sudah tahu kelakuan anak semata wayangnya yang playboy itu. Namanya juga anak tunggal, si Mbok sepertinya terlalu mendiamkan. Tampaknya, si Mbok terlalu memanjakan Karno. "Tari....." "Ya, namanya Tari, Mbok. Ia mirip sekali Dewi Soekarno. Ia penyanyi organ tunggal di desa kita. Mbok, aku tergila-gila padanya." "Kenapa harus dia, No?" "Karena dia cantik, Mbok. Dewasa dan pandai ngemong. Aku bosan pacaran dengan perempuan seusiaku." "Ndak, No. Kali ini si Mbok tidak setuju. Ndak ada lagi ontel yang terjual. Apalagi untuk perempuan lonte seperti dia" Rupanya, si Mbok mengenali reputasi Tari. Selain sebagai penyanyi organ tunggal, kasak-kusuk orang desa berbunyi: "Ssssst..... Tari itu ternyata nyambi menjadi lonte." "Ndak....No. Tobat, No. Kamu ini masih anak sekolahan. Mbok ya... pacaran dengan anak seusiamu." "Aku bosan, Mbok. Mereka terlalu manja. Berbeda dengan Tari. Cintanya tulus, Mbok. Ia perlu uang untuk membayar hutang-hutangnya sehingga ia tak perlu lagi melonte. " "Ndak....No." "Mbok, jika dulu ontel ini menjadi simbol cinta kasih si Mbok dengan almarhum Bapak. Biarlah, ia juga menjadi simbol pengorbanan kasihku untuk Tari. Mungkin, itu sudah menjadi takdirnya, Mbok. Takdir yang menjadikannya sebagai monumen cinta, Mbok.
|
|||||||
|
© WP Technology Inc. 2009
User-posted content is subject to its own terms. |