Previous Page of 4Next Page

FIQIH WUDHU

spinner.gif

FIQIH WUDHU

Tanya: Niat apakah yang  

dimaksudkan dalam  

berwudhu dan mandi (wajib)?  

Apa hukum perbuatan yang  

dilakukan tanpa niat dan apa  

dalilnya?

Jawab: Niat yang dimaksud  

dalam berwudhu dan mandi  

(wajib) adalah niat untuk  

menghilangkan hadats atau  

untuk menjadikan boleh suatu  

perbuatan yang diwajibkan  

bersuci, oleh karenanya  

amalan-amalan yang  

dilakukan tanpa niat tidak  

diterima. Dalilnya adalah  

firman Allah, "Dan mereka  

tidaklah diperintahkan  

melainkan agar beribadah  

kepada Allah dengan  

memurnikan ketaatan kepada- 

Nya dalam (menjalankan)  

agama dengan lurus." (QS. Al- 

Bayyinah: 5)

Dan hadits dari Umar bin al- 

Khaththab, bahwa Rasulullah  

bersabda, "Sesungguhnya  

segala amalan itu tidak lain  

tergantung pada niat; dan  

sesungguhnya tiap-tiap orang  

tidak lain (akan memperoleh  

balasan dari) apa yang  

diniatkannya. Barangsiapa  

hijrahnya menuju (keridhaan)  

Allah dan rasul-Nya, maka  

hijrahnya itu ke arah  

(keridhaan) Allah dan rasul- 

Nya. Barangsiapa hijrahnya  

karena (harta atau  

kemegahan) dunia yang dia  

harapkan, atau karena  

seorang wanita yang ingin  

dinikahinya, maka hijrahnya  

itu ke arah yang ditujunya."

Tanya: Apakah wudhu itu?  

Apa dalil yang menunjukkan  

wajibnya wudhu? Dan apa  

(serta berapa macam) yang  

mewajibkan wudhu?

Jawab: Yang dimaksud wudhu  

adalah menggunakan air yang  

suci dan mensucikan dengan  

cara yang khusus di empat  

anggota badan yaitu, wajah,  

kedua tangan, kepala, dan  

kedua kaki. Adapun sebab  

yang mewajibkan wudhu  

adalah hadats, yaitu apa saja  

yang mewajibkan wudhu atau  

mandi [terbagi menjadi dua  

macam, (Hadats Besar) yaitu  

segala yang mewajibkan  

mandi dan (Hadats Kecil)  

yaitu semua yang mewajibkan  

wudhu].

Adapun dalil wajibnya wudhu  

adalah firman Allah, "Hai  

orang-orang yang beriman,  

apabila kamu hendak  

mengerjakan shalat, maka  

basuhlah mukamu dan  

tanganmu sampai dengan  

siku, dan sapulah kepalamu  

dan (basuh) kakimu sampai  

dengan kedua mata kaki."  

(QS. Al-Maidah: 6)

Tanya: Apa dalil yang  

mewajibkan membaca  

basmalah dalam berwudhu  

dan gugur kewajiban tersebut  

kalau lupa atau tidak tahu?

Jawab: Dalil yang mewajibkan  

membaca basmalah adalah  

hadits yang diriwayatkan oleh  

Abu Hurairah dari Nabi,  

beliau bersabda, "Tidak sah  

shalat bagi orang yang tidak  

berwudhu dan tidak sah  

wudhu orang yang tidak  

menyebut nama Allah atas  

wudhunya."

Adapun dalil gugurnya  

kewajiban mengucapkan  

basmalah kalau lupa atau  

tidak tahu adalah hadits,  

"Dimaafkan untuk umatku,  

kesalahan dan kelupaan."  

Tempatnya adalah di lisan  

dengan mengucapkan  

bismillah.

Tanya: Apa sajakah syarat- 

syarat wudhu itu?

Jawab: Syarat-syarat (sahnya)  

wudhu adalah sebagai berikut:

(1). Islam, (2). Berakal, (3).  

Tamyiz (dapat membedakan  

antara baik dan buruk), (4).  

Niat, (5). Istishab hukum niat,  

(6). Tidak adanya yang  

mewajibkan wudhu, (7). Istinja  

dan istijmar sebelumnya (bila  

setelah buang hajat), (8). Air  

yang thahur (suci lagi  

mensucikan), (9). Air yang  

mubah (bukan hasil curian - 

misalnya-), (10).  

Menghilangkan sesuatu yang  

menghalangi air meresap  

dalam pori-pori.

Tanya: Ada berapakah fardhu  

(rukun) wudhu itu? Dan apa  

saja?

Jawab: Fardhu (rukun) wudhu  

ada 6 (enam), yaitu:

Membasuh muka (temasuk  

berkumur dan memasukkan  

sebagian air ke dalam hidung  

lalu dikeluarkan). 

Membasuh kedua tangan  

sampai kedua siku. 

Mengusap (menyapu) seluruh  

kepala (termasuk mengusap  

kedua daun telinga). 

Membasuh kedua kaki sampai  

kedua mata kaki. 

Tertib (berurutan). 

Muwalah (tidak diselingi  

dengan perkara-perkara yang  

lain). 

Tanya: Sampai dimana  

batasan wajah (muka) itu?  

Bagaimana hukum membasuh  

rambut/bulu yang tumbuh di  

(daerah) muka ketika  

berwudhu?

Jawab: Batasan-batasan wajah  

(muka) adalah mulai dari  

tempat tumbuhnya rambut  

kepala yang normal sampai  

jenggot yang turun dari dua  

cambang dan dagu (janggut)  

memanjang (atas ke bawah),  

dan dari telinga kanan sampai  

telinga kiri melebar. Wajib  

membasuh semua bagian  

muka bagi yang tidak lebat  

rambut jenggotnya (atau bagi  

yang tidak tumbuh rambut  

jenggotnya) beserta kulit  

yang ada di balik rambut  

jenggot yang jarang (tidak  

lebat). Karena anda lihat  

sendiri, kalau rambut  

jenggotnya lebat maka wajib  

membasuh bagian luarnya  

dan di sunnahkan menyela- 

nyelanya. Karena masing- 

masing bagian luar jenggot  

yang lebat dan bagian bawah

Previous Page of 4Next Page

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended