welcome!  login | sign up   Facebook Connect
 
Read what you like. Share what you write.

Posted by

maedhanie

on Jul 18, 2009
Become a fan

Mengingkari Nikmat Allah

2


MENGINGKARI NIKMAT ALLAH


Memang benar jika dikatakan
bahwa sebagian besar
manusia itu adalah orang
yang tidak mau bersyukur
atau tidak pandai berterima
kasih. Bagaimana tidak,
ketika Alloh Ta'ala telah
begitu banyak memberinya
nikmat, baik yang sifatnya
dzohir maupun batin, hal itu
tidak membuat mereka sadar
dan tergerak untuk semakin
menambah ibadah mereka
kepada Alloh.

Meskipun bukan berarti Alloh
butuh terhadap ibadah
tersebut sebagai balasan atas
nikmat yang telah Alloh
berikan. Bahkan sebaliknya,
kenikmatan itu justru
membuat mereka semakin
jauh dari ibadah kepada Alloh
Ta'ala. Lalu bagaimana sikap
yang benar yang harus
dilakukan oleh seorang
hamba?

Kewajiban Seorang Hamba
Adalah Bersyukur Serta Tidak
Kufur

Banyak sekali dalil-dalil yang
terdapat di dalam Al-Kitab
maupun As-Sunnah yang
memerintahkan kita untuk
senantiasa bersyukur kepada
Alloh 'Azza wa Jalla dan
melarang kita untuk kufur
terhadap nikmat-Nya.

Alloh Ta'ala berfirman yang
artinya, "Karena itu, ingatlah
kamu kepada-Ku niscaya Aku
ingat pula kepadamu, dan
bersyukurlah kepada-Ku dan
janganlah kamu kufur
terhadap (nikmat)-Ku." (QS. 2
: 152)

Syaikh Abdurrahman Naashir
As-Sa'di rohimahulloh
berkata, "Yakni bersyukurlah
kalian terhadap nikmat yang
telah Allah berikan kepada
kalian dan juga terhadap
tercegahnya adzab dari
kalian. Di dalam syukur harus
terkandung pengakuan dan
kesadaran bahwa nikmat itu
semata-mata dari Alloh
semata, dzikir dan pujian yang
diucapkan melalaui lisannya
serta ketaatan anggota
badannya untuk semakin
tunduk dan patuh dalam
melaksanakan perintah-
perintah-Nya dan menjauhi
larangan-larangan-Nya".
Beliau menambahkan, "Dan
karena lawan dari syukur
adalah kufur, maka Alloh
Ta'ala telah melarang
darinya: 'Dan janganlah kamu
kufur terhadap (nikmat)-Ku'.
Yang dimaksud dengan kufur
di sini adalah sesuatu yang
menjadi lawan dari syukur,
yakni kufur terhadap nikmat-
Nya. Namun terkandung juga
di dalamnya, makna kufur
yang sifatnya umum, yang
paling besar adalah kufur
kepada Alloh, kemudian
berbagai macam dan jenis
maksiat." (Taisir Karimir
Rohman)

Di tempat lain Alloh juga
berfirman yang artinya,
"Mereka mengetahui nikmat-
nikmat Alloh, (tetapi)
kemudian mereka
meningkarinya dan
kebanyakan mereka adalah
orang-orang yang kafir." (QS.
16: 83)

Dalam menafsirkan ayat ini,
Mujahid berkata bahwa
maksudnya adalah kata-kata
seseorang, 'Ini adalah harta
kekayaan yang diwariskan
oleh nenek moyangku'. Aun
bin Abdulloh mengatakan,
"Yakni kata mereka, 'Kalau
bukan karena fulan tentu
tidak akan menjadi begini'."
Dan menurut tafsiran Ibnu
Qutaibah, "Mereka
mengatakan, 'Ini berkat
syafaat sesembahan-
sesembahan kita'." (Kitaabut
Tauhid, Syaikh Muhammad At-
Tamimy)

Segala Nikmat yang Kita
Terima adalah Murni
Datangnya dari Alloh

Alloh berfirman yang artinya,
"Dan tidak ada kenikmatan
yang ada pada kalian kecuali
datangnya dari Alloh." (QS. 16
: 3). Syaikh Sholih Alusy-
Syaikh hafidzohulloh berkata,
"Ini adalah dalil yang tegas
dan jelas yang menunjukkan
bahwa nikmat apa saja itu
adalah dari Alloh, karena
lafadz 'nikmat' dalam ayat ini
datang dalam bentuk
'nakiroh' dan dalam konteks
penafian. Sehingga ketika
lafadz 'nikmat' dalam ayat ini
menunjukkan sesuatu yang
umum (maksudnya nikmat
apa saja -ed), maka tidak bisa
dikecualikan darinya suatu
macam nikmat tertentu itu
datangnya selain dari Alloh.
Maka nikmat apa saja, baik
yang besar maupun yang
kecil, yang banyak maupun
yang sedikit, itu semua
datangnya dari Alloh semata.

Adapun hamba hanyalah
merupakan sebab sampainya
nikmat tersebut ke tangan
mereka atau kepadamu.
Apabila ada hamba yang
menjadi sebab
terselamatkannya dirimu dari
kesusahan atau menjadi
sebab dalam keberhasilanmu,
maka tidaklah menunjukkan
bahwa hamba tersebut adalah
waliyyun ni'mah (yang
memberikan nikmat), kerena
sesungguhnya waliyyun
ni'mah hanyalah Alloh Azza
wa Jalla. Keyakinan seperti ini
termasuk kesempurnaan
tauhid seorang hamba,
karena seorang muwahhid
(orang yang sempurna
tauhidnya) akan meyakini
dengan seyakin-yakinnya di
dalam hatinya bahwa di sana
tidak ada yang dapat
memberikan manfaat dan
mudhorot kecuali hanyalah
Alloh Robbul 'alamin." (At
Tamhid Lii Syarhi Kitabit
Tauhid).

Menjadi Hamba yang
/ 3 Next Page

Comments & Reviews ^top


Login to post your comment.
Be the first to comment on this!


Recommended


Adab-Adab Makan Seorang Muslim

MUSYAWARAH BURUNG

Listrik, nikmat Allah yg jarang disyukuri

Bagampiran dalam Masyarakat Banjar

Kuyang Banjar - Makhluk Langka yang Dicari

Ontel Playboy Desa

SUKU BANJAR