welcome!  login | sign up   Facebook Connect
 
Read what you like. Share what you write.

Posted by

maedhanie

on Jul 13, 2009
Become a fan

Ibrahim Khalil, Misionaris Pendeta Koptik yang Bersyahadat

3


Ibrahim Khalil, Misionaris Pendeta Koptik yang Bersyahadat

Ibrahim Khalil adalah mantan pendeta Koptik Mesir yang belajar Islam demi menemukan kesalahan. Namun hasilnya justru sebaliknya.
Al-Haj Ibrahim Khalil Ahmad, dulu bernama Ibrahim Khalil Philobus, Pendeta Koptik ( dari kata Kopt yakni suku kuno di Mesir) yang belajar teologi dan mendapat gelar master dari Universitas Princeton. Ia belajar Islam untuk menemukan celah menyerang sebagai ganti ia malah menerima islam bahkan bersama keempat putranya, salah satu kini menjadi guru besar di Sorbonne, Paris. Inilah cerita Ibrahim Khalil.
Ia lahir di Alexandria pada 13Januari 1919 dan dikirim ke sekolah Misi Amerika hingga memperoleh sertifikat pendidikan menengah di sana.
Pada 1942 ia mendapat gelar diploma dari Assiut University, dan dimana ia memilih spesialisasi studi agama sebagai awal bergabung dengan Fakultas Teologi.
Menurut Ibrahim, bukanlah hal mudah untuk bergabung dengan fakultas, karena tidak ada satu kandidat dapat bergabung kecuali mendapat rekomendasi khusus dari gereja, dan juga ia harus melewati serangkaian tes sulit.
Saat itu Ibrahim mendapat rekomendasi dari Gereja Al-Attareen di Alexandria dan satu lagi dari Gereja Assembly of Lower Egypt setelah lulus banyak tes untuk mengetahui kualifikasinya untuk menjadi seorang yang benar-benar taat agama.
Lalu ia mendapat rekomendasi ketiga dari Gereja Persekutuan Snodus, termasuk para pendeta dari Sudan dan Mesir.
Snodus memberi kemudahan ia masuk Fakultas Teologi di 1944 sebagai siswa asrama. Di sana ia belajar langsung di tangan-tangan dosen Amerika dan Mesir hingga lulus pada 1948.
Ia seharusnya ditunjuk untuk meneruskan pendidikan di Jerusalem jika saja tidak ada pecah perang di Palestina pada tahun terebut. Ia pun akhirnya dikirim ke Asna, Mesir Atas. Pada tahun yang sama ia mendaftar untuk penggarapan thesis di Universitas Amerika, Kairo. Saat itu ia menulis tentang aktivitas misionari di kalangan Muslim.
"Perkenalan dengan Islam sendiri dimulai di Fakultas Teologi, dimana saya belajar Islam dan seluruh metode ibadahnya dimana melalui itu para siswa mampu mengguncang iman seorang Muslim dan menumbuhkan keraguan dalam pemahaman mereka terhadap keyakinanya," tutur Ibrahim.
Pada tahun 1952 ia mendapat gelar MA dari Princeton di USA dan ditunjuk sebagai dosen di Fakultas Teologi Assiut. Ia mengajarkan Islam di fakultas sesuai dengan pemahaman salah yang disebarkan oleh para misionari dan para penentangnya.
Selama periode itulah ia memutuskan untuk meluaskan studi Islam dan tidak hanya sekedar membaca buku-buku misionaris. "Saat itu saya cukup yakin dengan diri saya untuk membaca dari sudut pandang lain. Lalu saya mulai membaca literatur yang ditulis pengarang Muslim. Saya juga memutuskan untuk membaca Al Qur'an dan memahami artinya," aku Ibrahim panjang lebar.
"Hal itu didorong kecintaan saya terhadap pengetahuan dan digerakkan keinginan menambah lebih banyak bukti untuk menyerang Islam," imbuh Ibrahim.
Titik itulah yang justur mengubah Ibrahim. "Posisi saya mulai terguncang, dan saya mulai merasakan pergolakan kuat, dan saya tidak menemukan kesalahan di pada apapun yang pernah saya pelajari dan saya kotbahkan. Namun saya tidak berani menghadapi diri saya sendiri, dan mencoba mengatasi krisis internal itu dengan meneruskan pekerjaan," ungkapnya.
Kemudian pada 1954, ia dikirim ke Aswan sebagai sekretaris jenderal misi Jerman-Swiss. "Selama in posisi nyata saya hanyalah untuk misi berkotbah menentang Islam di Mesir Atas, terutama di kalangan Muslim," akunya.
Sementara di Aswan merupakan konferensi misionaris diselenggarakan di Hotel Catract, dan ia diberi kesempatan berbicara pada forum. "Hari itu saya berbicara terlalu banyak, mengucapkan semua, konsepsi salah menentang Islam berulang-ulang, dan pada akhir pidato, krisis internal itu tiba-tiba datang lagi dan saya mulai merevisi posisi saya," kata Ibrahim.
Ibrahim berkata, "Saya mulai bertanya pada diri sendiri, 'Mengapa saya harus melakukan semua itu ketika saya tahu pasti saya berbohong, karena itu semua bukan kebenaran? Saya meninggalkan konferensi sebelum berakhir dan pulang sendirian ke rumah,"
"Saya sepenuhnya terguncang. Saat berjalan melalui taman publik Firyal, saya mendengar sebuah ayat di Al Qur'an berbunyi 'Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (QS 72:1)
Lalu dilanjutkan dengan bunyi ayat berikut (QS 72:2)" (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami,"
/ 3 Next Page

Comments & Reviews ^top


Login to post your comment.
Be the first to comment on this!


Recommended


Hamba yang Tahu Berterimakasih

Julius Germanus. Orientalis yang Menemukan Islam

"Pendeta Juga Masuk Islam"

biografi Ibrahim

MUSYAWARAH BURUNG