Halaman sebelumnya of 4Halaman selanjutnya

BABY, LOVE ME, PLEASE!

spinner.gif

***

Sebulan kemudian….

Acara lamaran Mitha dan Axel yang hanya dihadiri oleh beberapa saudara dari pihak keluarga Mitha dan pihak keluarga Axel berlangsung dengan khidmat dan lancar.

                Jantung Mitha berdegup dengan kencang selama acara berlangsung, namun ia melihat bahwa Axel tampak tenang-tenang saja.

                Hari ini Mitha mengenakan dress sutera lengan pendek berwarna silver yang panjang roknya di bawah lutut. Sedangkan Axel mengenakan kemeja hitam tanpa dasi, jas berwarna abu-abu dan celana bahan dengan warna senada.

                Hari ini Axel luar biasa tampan! pikir Mitha terpesona.

                “Selamat ya, Mit, sudah tunangan.” Anita memeluknya.

                “Bukan tunangan, ini hanya lamaran. Lagipula tidak ada cincin.” Mitha tersenyum, membalas pelukan sepupunya itu.

                “Oya….” Anita berdehem. “Kakak Axel yang usianya 30 tahun dan masih bujangan itu, ganteng banget, ya!”

                Mitha terkekeh. “Sana kenalan, dong.”

                Anita menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. “Baiklah, aku akan kenalan, doakan ya.” Anita melangkah dengan ragu ke arah Gerald, kakak Axel yang nomor dua, yang sedang duduk sendiri di dekat jendela sambil meminum frozen cappuccino buatan Axel.

                Mitha menyemangati sepupunya. “Good luck, cousin.”

                “Apa aku sudah mengatakan kalau hari ini kau sangat cantik?”

                Mitha menoleh terkejut. Ia mendongak. “Axel!”

                Axel tersenyum. Ia memberikan semangkok kecil sop buah kuah jus stroberi untuk Mitha.

                Mitha menerimanya. “Terima kasih, Axel. Kau, eh, hari ini, tampak luar biasa….”

                Axel mengangkat alisnya. “Luar biasa?”

                “Luar biasa tampan.”

                “Aku ini selalu luar biasa tampan.”

                Mitha meninju bahunya. “Mau kusuapi sop buahnya?”

                Axel tersenyum menggodanya. Ia menyentuh bibirnya sendiri. “Boleh, lewat mulut.”

                Jantung Mitha berdegup kencang. “Ba-baiklah….”

                Axel menepuk-tepuk kepala Mitha. “Aku hanya bercanda. Nanti kalau ayah dan ibumu melihat, bagaimana?”

                “Biar saja, mereka kan punya mata untuk melihat.”

                Axel tergelak. “Kau meniru kata-kataku.”

                Mitha tersenyum geli lalu memakan sop buahnya. “Aku suka semua makanan dan minuman buatanmu.”

                “Ayo buka café kecil.”

Halaman sebelumnya of 4Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan (22)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan