Previous Page of 158Next Page

Musashi (Eiji Yoshikawa) - Buku 4 (Angin)

spinner.gif

Ladang yang Layu

PARA pemain pedang Perguruan Yoshioka berkumpul di ladang tandus yang menghadap pintu masuk Nagasaka ke jalan raya Tamba. Di balik pohonpohon yang membatasi ladang itu, kilau salju pegunungan barat laut Kyoto menyergap mata seperti kilat.

Seorang dari mereka menyarankan membuat api, karena mata pedang mereka yang seolah tersarung menjadi semacam penyalur dingin langsung ke tubuh mereka. Waktu itu awal musim semi, hari kesembilan Tahun Baru. Angin dingin bertiup turun dari Gunung Kinugasa. Bahkan suara burung-burung pun terdengar sedih.

"Bagus nyalanya, kan?"

"Tapi lebih baik hati-hati. Jangan sampai membakar semak."

Api yang berdetak-detak suaranya itu menghangatkan tangan dan wajah mereka, tapi tak lama kemudian Ueda Ryohei menggerutu sambil mengipas-ngipas asap dari matanya. "Terlalu panas!" Sambil menatap orang yang hendak memasukkan lebih banyak daun ke api, katanya, "Cukup sudah! Berhenti!" Satu jam berlalu tanpa banyak kejadian. "Tentunya sudah jam enam lebih."

Tanpa pikir panjang lagi mereka semua mengangkat mata ke arah matahari.

"Hampir jam tujuh."

"Tuan Muda harus sudah di sini sekarang." "Ah, dia datang sebentar lagi."

Dengan wajah tegang mereka memandang kuatir ke jalan dari kota. Tak sedikit di antara mereka menelan ludah gelisah. "Apa yang terjadi dengannya?"

Seekor sapi menguak memecahkan ketenangan. Ladang itu memang pernah digunakan sebagai tempat penggembalaan sapi-sapi Kaisar. Di sekitarnya masih ada sapi-sapi tak terpelihara. Matahari naik lebih tinggi, membawa serta kehangatan serta bau tahi binatang dan rumput kering.

"Apa menurutmu Musashi sudah ada di lapangan dekat Rendaiji?" "Mungkin."

"Mesti ada yang melihat ke sana. Cuma sekitar enam ratus meter dari sini." Tapi tak seorang pun mau melakukannya. Mereka terdiam kembali. Wajah mereka menyala dalam bayangan yang ditimbulkan asap. "Tak ada salah pengertian tentang pengaturannya, kan?"

"Tidak. Ueda menerimanya langsung dari Tuan Muda tadi malam. Tak mungkin ada kesalahan."

Ryohei membenarkan. "Betul. Aku tak heran kalau Musashi sudah ada di sana. Barangkali Tuan Muda sengaja terlambat untuk bikin Musashi gelisah. Mari kita tunggu dulu. Kalau kita membuat gerakan keliru dan menimbulkan kesan pada orang banyak bahwa kita memberikan bantuan kepada Tuan Muda, itu akan bikin malu perguruan. Kita tidak dapat melakukan sesuatu sebelum dia datang. Apa sih Musashi itu? Cuma seorang ronin. Tak mungkin dia hebat."

Para murid yang telah menyaksikan aksi Musashi di dojo Yoshioka tahun sebelumnya lain sikapnya. Tapi bagi mereka pun mustahil Seijuro akan kalah. Kesepakatan yang mereka capai adalah bahwa sekalipun guru mereka pasti menang, kecelakaan bisa saja terjadi. Dan lagi, karena pertarungan itu diumumkan luas, akan banyak penonton yang kehadirannya menurut mereka tidak hanya akan menambah wibawa perguruan, melainkan juga meninggikan nama baik guru mereka.

Sekalipun ada perintah khusus dari Seijuro agar dalam keadaan apa pun mereka tidak membantunya, empat puluh orang berkumpul di sini untuk menantikan kedatangannya, untuk memberikan ucapan selamat jalan, dan berjaga-jaga, barangkali saja diperlukan. Disamping Ueda ada lima dari Sepuluh Pemain Pedang Perguruan Yoshioka yang hadir.

Sekarang sudah lewat pukul tujuh. Ketenangan yang dianjurkan Ryohei pada mereka berkembang menjadi kebosanan, dan mereka menggerutu tak senang.

Para penonton yang hendak melihat pertarungan, bertanya-tanya apakah telah terjadi kekeliruan.

"Di mana Musashi?"

Previous Page of 158Next Page

Comments & Reviews (2)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Media

Musashi (Eiji Yoshikawa) - Buku 4 (Angin)

Who's Reading

Recommended