Previous Page of 4Next Page

AT-THUFAIL BIN AMR AD-DAUSI sahabat NABI MUHAMMAD SAW

spinner.gif
AT-THUFAIL BIN AMR AD-DAUSI

“Ya Allah turunkanlah satu ayat untuknya agar dapat membantunya untuk setiap kebaikan yang dia niatkan.”(salah satu doa Rasulullah ' kepada Thufail)

 

Thufail bin Amr ad-Dausi adalah salah seorang pemuka suku ad-Daus pada masa jahiliyyah. Dia juga termasuk salah seorang tokoh di kalangan penduduk arab yang mempunyai derajat yang tinggi. Thufail merupakan salah seorang di antara orang sekian banyak orang yang mempunyai keindahan akhlak.

Bejana miliknya tidak pernah diangkat dari api, pintunya tidak pernah tertutup bagi siapapun yang mengetuk pintu rumahnya. Sa’id selalu  memberi makan orang-orang yang lapar, memberikan keamanan bagi orang yang sedang dilanda ketakukan dan memberikan tempat tinggal bagi orang yang membutuhkannya.

Thufail bin Amir adalah ahli sastra yang sangat cerdas dan pandai; salah seorang ahli syair yang dapat menajamkan perasaan. Perasaannya sangat lembut, sangat mengetahui kata-kata yang manis dan kata-kata yang pedas. Thufail sangat mengetahui kata-kata yang bisa menarik perhatian.

Thufail meninggalkan perkampungannya di Tihamah[1] menuju Makkah. Pada waktu itu terjadi pertikaian antara nabi Muhammad ' dengan orang-orang Kafir Quraisy. Masing-masing dari mereka mencari orang yang dapat menolongnya. Mereka juga saling mencari orang-orang yang dapat membantu kelompok mereka. Adapun Rasulullah ' selalu meminta pertolongan kepada Allah l,, , sedangkan senjatanya adalah kebenaran dan keimanan. Sedangkan orang-orang kafir Quraisy  memerangi dakwah Rasulullah ' dengan berbagai senjata yang ada dan menghalang-halangi manusia dari dakwahnya dengan segala cara.

Thufail menyadari bahwa dirinya masuk ke dalam peperangan tersebut dengan tanpa persiapan. Dia masuk ke dalam peperangan tersebut dengan tanpa tujuan yang jelas.

Thufail  pergi ke Makkah tidak bermaksud untuk mengikuti peperangan tersebut. Tidak pernah sedikitpun terlintas dalam pikirannya masalah orang-orang Quraisy dengan nabi Muhammad.

Dari peperangan inilah terdapat sejarah tentang Thufail bin Amr yang tidak pernah terlupakan. Marilah kita simak kisah-kisahnya,  karena ini merupakan sebuah kisah yang sangat menarik. Thufail bercerita,

Aku pergi menuju Makkah, sesampainya di Makkah para pembesar Quraisy segera mendekatiku dan menyambutku dengan sambutan yang sangat hangat. Mereka mengajakku untuk singgah di rumah orang yang paling mulia di antara mereka.

Para pembesar dan pemuka Quraisy berkumpul padaku dan berkata, “Wahai Thufail, sungguh engkau sudah mendatangi negeri kami. Perlu kamu ketahui bahwa orang yang mengaku nabi tersebut sudah merusak urusan dan memecah belah hubungan kami serta menceraiberaikan persatuan kami. Sesungguhnya kami sangat khawatir jika Muhammad masuk ke dalam negerimu dan memecah belah para pemuka negerimu sebagaimana yang terjadi pada kami. Janganlah engkau mendengarkan perkataan orang tersebut (Muhammad), karena perkataanya sangat memikat laksana sihir. Muhammad akan memisahkan antara seorang anak dan ayahnya, antara satu saudara dengan saudara lainnya, dan antara suami dengan istrinya.”

Thufail berkata, “Demi Allah orang-orang Quraisy selalu menceritakan kepadaku kisah-kisah yang aneh tentang nabi Muhammad. Mereka menakut-nakutiku dan kaumku dengan perilaku Muhammad yang aneh, hingga aku bertekad untuk tidak mendekati Muhammad, mengajak berbicara maupun mendengar perkataannya. Dan ketika aku pergi ke masjid untuk thawaf di Ka’bah dan  meminta berkah kepada semua berhala yang ada di sana, aku menutupi kedua telingaku dengan kapas agar aku tidak mendengar sedikitpun perkataan Muhammad.

Akan tetapi ketika aku masuk ke dalam masjid, aku mendapati Rasulullah ',, sedang melakukan shalat yang berbeda dengan shalat kami dan melakukan peribadatan di Ka’bah yang berbeda dengan peribadatan kami. Lalu tanpa sadar aku mendekatinya sedikit demi sedikit.

Dan ternyata Allah berkehendak lain. Sebagian perkataan Muhammad sampai di telingaku. Aku mendengarkannya dan ternyata perkataan itu sangat indah sekali. Aku berkata dalam diriku, “Wahai Thufail celaka kamu, sungguh engkau adalah ahli sastra yang sangat pandai sekali. Engkau mampu  membedakan kebaikan dan kejelekan. Lalu apa yang menghalangimu untuk mendengarkan apa yang dikatakan laki-laki (Muhammad) itu? Jika yang dia katakan adalah baik, maka aku akan menerimanya. Dan apabila yang dia katakan adalah jelek, maka aku akan  meninggalkannya.

Previous Page of 4Next Page

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended