Previous Page of 3Next Page

Bulikku yang manis

spinner.gif

                 Bulikku  Yang Manis

                 By : Andi Nonok

Aku sekarang tinggal di ibu kota, bekerja di suatu perusahaan telekomunikasi asing di kawasan

Sudirman. Kisahku ini terjadi ketika aku masih 17 tahun, kelas dua SMA di kota Y. Aku tinggal di suatu

kampung di pinggiran kota Y. Di samping rumahku tinggal keluarga kecil dengan dua anak yang masih

kecil-kecil. Kebetulan keluarga ini masih famili dengan keluargaku tepatnya masih adik sepupu dengan

Ibuku. Paklikku bekerja sebagai kepala sekolah SMP di kota. Setiap hari, beliau sudah pergi bekerja

pagi-pagi sekali, dan pulangnya juga sudah sore, karena jauhnya tempat bekerja. Kasihan juga!  Bulikku

(tanteku) bekerja di Puskesmas yang tidak terlalu jauh dari rumah. Bulikku ini orangnya ramah, supel,

dan cukup manis. Sudah lama aku membayangkan dapat tidur dengannya, tapi itu cuma impian semata.

Kalau ingat dia pasti aku langsung onani.

Tiap pagi Bulik menyapu halaman belakang , aku pun demikian. Suatu pagi kami dapat bersama

beberapa saat di halaman belakang ketika kami sama-sama lagi menyapu. Kami ngobrol-ngobrol

sebentar. Bulikku ini nakal juga pikirku. Dia pake kaus oblong warna putih, dan nggak pake beha, ahh.

Aku ereksi habis waktu itu. Dengan nakal Bulik memperhatikan selangkanganku, begitu juga aku

meperhatikan dadanya yang membusung itu. Tampak jelas putting susunya yang berwarna coklat itu.

“Koq ngaceng, kenapa sih Mas.” Bulikku kalau manggil aku pake panggilan Mas, karena anaknya juga

begitu kalo panggil aku. Dengan malu-malu aku jawab, “ Habis Bulik nggak pake beha, jadinya kelihatan

itunya.” Mendadak aku dipanggil ibuku, karena sudah siang dan aku harus berangkat sekolah. Buru-buru

aku mandi, dan nggak lupa coli, enaakkk. Oh Bulikku, biarkan aku mengulum susumu yang montok itu,

begitu imajinasiku tiap hari. Tapi nggak ada keberanian untuk itu.

Pada akhir semester ganjil Paklik pergi bertamasya ke Bandung, mengantar anak didiknya. Bulik tidak

ikut karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Wah ini kesempatan besar buatku, begitu pikirku,

Paklik nggak ada, aku juga libur, ahaa…

Aku sudah susun rencana. Aku akan pura-pura main ke rumah Bulik buat baca koran, maklum rumahku

nggak langganan koran. Pagi itu Bapak Ibuku pergi ke Rumah kakakku, buat nengok cucunya, wah

makin asyik aja nih.  Bolak-balik aku baca koran, nggak ada berita yang menarik, habis pikiranku sudah

nggak di koran lagi. Bulikku lewat didepanku, membawa sabun dan perlengkapan mandi, mau mandi

kayaknya. Aku jadi nggak karu-karuan waktu itu. Pingin rasanya aku ngintip, tapi takut ketahuan.  Lalu

aku lanjutkan baca koran. Mendadak Bulikku memanggil aku dari kamar mandi. “ Mas, tolong ambilkan

handuk di kamar Bulik, ya”. Yessssss, aku langsung berjingkat ke kamar Bulik dan mendapatkan handuk

Previous Page of 3Next Page

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended