MADRIDISTA

spinner.gif

MEDAN

- DPD Gerakan Pemuda Marhaenis (GMP) Sumut dan DPC Gerakan Mahasiswa Nasional

(GMNI), pekan lalu, menggelar seminar dalam rangka peringatan 80 tahun Sumpah

Pemuda dengan menghadirkan pembicara Budiman Sutjadmiko, MSc, M.Phil dan Prof.

Dr. M. Arif Nasution.

AIDI

YURSAL

 

WASPADA

ONLINE

 

MEDAN

- DPD Gerakan Pemuda Marhaenis (GMP) Sumut dan DPC Gerakan Mahasiswa Nasional

(GMNI), pekan lalu, menggelar seminar dalam rangka peringatan 80 tahun Sumpah

Pemuda dengan menghadirkan pembicara Budiman Sutjadmiko, MSc, M.Phil dan Prof.

Dr. M. Arif Nasution.

 

Pada

seminar yang diketuai Ir. Taufan Agung Ginting itu, Budiman Sutjadmiko dalam

makalahnya menyebutkan, kelahiran marhaenisme dilatarbelakangi atas rasa

kepedulian seorang Soekarno Muda dalam melihat kondisi bangsa Indonesia yang

tertindas kekuasaan kaum penjajah sekaligus sebagai kristalisasi dari pemikiran

Bung Karno.

 

Selain

itu menurut Sutjadmiko, marhaenisme juga sebagai kekuatan ideologi perjuangan

yang bersifat progresif revolusioner dalam menantang kaum penjajahan di Indonesia dan menggalang persatuan 

perjuangan

nasional dalam mewujudkan Indonesia

yang merdeka dan berdaulat.

 

Malah,

kata Sutjadmiko di hadapan 500 peserta seminar dan undangan lainnya,

marhaenisme itu akhirnya tumbuh menjadi suatu kekuatan ideologi besar dunia

dengan menantang paham kapitalisme yang disuarakan dan diterapkan bangsa-bangsa

penjajah.

 

Begitupun,

Sutjadmiko mengakui bahwa dalam pejalanan marhaenisme pada era Orde Baru

terjadi 'diskontiunitas' yang menghambat pergerakan marhaenisme itu sendiri,

akibat kebijakan politik penguasa Orde Baru waktu itu yang memberangus ajaran

Bung Karno. Bukan sampai situ saja, Sutjadmiko mengakui adanya pemberlakuan

diskriminasi besar-besaran terhadap para pengikut Bung Karno hingga menimbulkan

jutaan korban jiwa.

 

Petaka

Waspada Online 

http://www.waspada.co.id Menggunakan Joomla! Generated: 5 May, 2009, 14:19 

yang menimpa marhaenisme waktu era Orde Baru, menurut pembicara, tidak terlepas

dari campur tangan negara-negara kapitalis secara langsung ataupun tidak

langsung. "Sekarang kita bisa merasakan betapa hebatnya hegemoni kekuatan

negara-negara kapitalis di Indonesia,"

katanya yang membuat terdiam ratusan beserta.

 

Sementara

itu, Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA sebagai pembicara kedua dalam memaparkan

makalahnya mengajak agar bangsa Indonesia

tetap konsiten dan komitmen untuk menjadi multikulturalisme dalam upaya menjaga

Negara Kesatuan RI.

 

Menurut

Arif Nasution, adalah tugas utama pemuda Indonesia

untuk menjaga kebhinekaan Indonesia

yang mulai dari Sabang sampai Merauke. "Kita mesti mewaspadai politik adu domba

'devide et impera' yang akan

senantiasa dilancarkan negara-negara kapitalisme di era penjajahan gaya baru saat ini."

 

Sedangkan

Ir. Taufan Agung Ginting dalam kapasitas sebagai Ketua DPD Gerakan Pemuda

Marhaenis Sumut dalam sambutannya mengingatkan, agar pemuda Indonesia sudah saatnya menyadari perannya

sebagai elemen penting dalam menentukan arah perjalanan bangsa Indonesia.

Arizky

Alparizi, Sekretaris DPC GMNI Medan dalam sambutannya menyebutkan, mahasiswa

yang merupakan bagian dari unsur kekuatan pemuda mesti mampu mengambil peran

dan menunjukkan eksistensinya sebagai kekuatan intelektual muda dalam mengawasi

setiap kebijakan maupun regulasi yang dikeluarkan pemerintah.

 

Pada

seminar sehari itu turut hadir sejumlah anggota DPRD Sumut dan Medan, pimpinan

organisasi kemahasiswaan, Ormas kepemudaan, para aktifis mahasiswa, pimpinan

NGO dan sejumlah pemimpinan partai politik, termasuk Ketua Partai Pelopor,

Yunus, SH.

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended