Previous Page of 234Next Page

Gajah Mada 1

spinner.gif

Gajahmada 

Gajahmada 

ii 

Gajahmada

 

Gajahmada 

Gajahmada 

iii

Langit Kresna Hariadi

 

TIGA SERANGKAI 

SOLO

iv 

Gajahmada

 

Gajahmada 

Langit Kresna Hariadi 

Editor: Sukini 

Desain sampul: Hapsoro Ardianto 

Penata letak isi: Nugroho Dwisantoso 

Cetakan pertama: 2004 

Cetakan kedua: 2005 

Cetakan ketiga: 2006 

Cetakan keempat: 2006 

Penerbit Tiga Serangkai 

Jln. Dr. Supomo 23 Solo 

Anggota IKAPI 

Tel. 62-271-714344, Fax. 62-271-713607 

http:// www.tigaserangkai.co.id 

e-mail: tspm@tigaserangkai.co.id 

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) 

Hariadi, Langit Kresna 

Gajahmada/Langit Kresna Hariadi- Cet. IV - Solo 

Tiga Serangkai, 2006 

x, 582 hlm. ; 21 cm 

ISBN 979-668-558-2 

1. Fiksi I. Judul

¬©Hak cipta dilindungi oleh undang-undang 

All Rights Reserved

Dicetak oleh PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

Gajahmada 

v

Kata Pengantar Penerbit

 

Sejarah adalah guru kehidupan. Sosoknya yang usang justru 

kerap memberi ilham pencerahan. Pembacaan atas sejarah dapat 

mempertemukan manusia dengan segenap kearifan. Pada titik 

paling spektakuler, sejarah yang terangkum dalam karya Ilahiah 

bernama kitab suci, bahkan mampu mengantarkan manusia tunduk 

di haribaan Tuhannya atas nama keimanan. 

Fiksi, sebagai karya seni boleh saja lahir dan besar dari ranah 

imajinasi. Akan tetapi, arti penting karya fiksi bagi pembentukan 

dan pelestarian peradaban tidak dapat dikecilkan hanya karena ia 

menyandang label sebagai buah imajinasi. 

Imajinasi dalam novel-novel Jules Verne mampu membimbing 

ilmuwan semacam J.D. Watson menemukan DNA, Auguste 

Pichard menemukan lampu neon. Penemuan-penemuan lain seperti 

balon udara, kapal selam nuklir, hujan buatan, dan rudal, sedikit 

banyak berutang pada imajinasi Verne. 

Keteguhan pada komitmen-komitmen moral yang kemudian 

diekspresikan melalui karya fiksi jualah yang membuat orang- 

orang semacam Pramudya Ananta Toer, Gao Xingjian, dan Boris 

Pasternak tergusur dari kesempatan menjalani hidup secara wajar. 

Atas nama karya fiksi tokoh-tokoh ini harus rela hidupnya 

dinistakan dengan segala kenelangsaannya.

vi 

Gajahmada

 

Sejarah dan fiksi, dua hal besar, penting, kadang ekstrem, 

bahkan tidak masuk akal. Lantas, kemungkinan seperti apa yang 

bakal lahir dari sintesis dua hal dahsyat ini? Pasti, bukan hal yang 

remeh-temeh, apalagi kosong. 

Gajahmada dan Majapahit adalah ikon yang akan selalu hadir 

dalam pentas sejarah panjang perjalanan bangsa ini. Hanya, 

barangkali tidak terlalu banyak yang mengetahui bahwa di balik 

dua nama besar ini tersimpan kisah amat memesona, penuh gejolak, 

dan menggugah. 

Fakta sejarah inilah yang ditautkan dengan fiksi sehingga lahir 

sebuah epos berjudul Gajahmada. Eksplorasi kesejarahan ini akan 

mengabarkan kepada Anda bahwa nama besar Majapahit bukan 

hanya terbangun karena luas wilayahnya, ketangguhan Gajahmada, 

pemerintahan Raden Wijaya, atau Jayanegara. Di balik segala 

kemegahan itu ada pasukan elite bernama Bhayangkara yang 

sumbangsihnya membuat kita mengenal Majapahit dengan segala 

kebesarannya seperti sekarang ini. 

Semoga karya ini mampu menjadi "teman" bagi Anda yang 

ingin melakukan pembacaan sejarah dan menghikmati kearifan di 

dalamnya karena hidup manusia mestinya adalah sebuah hidup yang 

menyejarah.

 

Tiga Serangkai

Gajahmada 

vii

Mengais Kepingan Sejarah

Mempelajari sejarah dengan tidak sedang belajar sejarah, 

itulah yang Anda lakukan dengan membaca buku tebal ini yang 

oleh sang pengarang tidak diniatkan menjadi buku sejarah. Ini hanya 

novel, epos sejarah yang berkesanggupan menjebak benak Anda 

untuk tidak dapat menghindarinya. Lembar demi lembar bagai 

bahasa gambar dalam film, yang bertutur amat rinci bagaimana 

silsilah raja-raja masa silam menjadikan Anda paham tidak dengan 

niat berusaha memahami, apalagi menghafalkan. Kelebihan luar 

biasa yang dimiliki sang pengarang yang terefleksikan dalam 

bagaimana cara menghadirkan sosok Gajahmada dan sepak 

terjangnya, menghadirkan pasukan kecil Bhayangkara dengan segala 

keuletannya, sekaligus mengajak kita berwisata kembali ke masa 

lampau. Sungguh, cara pengarang dalam menghadirkan kembali 

sebuah istana yang bahkan tak tersisa satu pilar pun penyangganya 

benar-benar membuat saya miris. 

Sejarah, adalah sebuah wilayah yang dari dimensi waktu berada 

di bagian lalu. Saya pernah memperoleh sebuah pendapat dari salah

Previous Page of 234Next Page

Comments & Reviews (1)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended