Chapter 1

149K 2.4K 26
                                    

Dalam kamar mandi sebuah apartemen mewah yang berada di jantung kota London, tampak seorang pria yang sedang mandi di bawah shower.

Kring....kring...kring.....

Mendengar bunyi telpon berdering, ia pun bergegas memutar keran untuk mematikan airnya kemudian menyambar mantel mandi dan memakainya. Setelah mengikat mantel mandinya, ia menggeser pintu kaca dan berjalan menuju telpon yang tertempel di pojok dinding, dekat wastafel.

"Ya?"

"Pak Alvin" ucap seseorang di ujung sana "Saya sudah sampai di depan pintu"

"Ok. Tunggu sebentar" jawab Alvin kemudian ia kembali meletakkan telponnya dan keluar dari kamar mandi dan terus berjalan melewati kamarnya menuju ruang tamu apartemennya.

Ia berhenti di depan dinding yang terdapat layar kecil yang menunjukkan siapa orang yang berdiri di depan pintu apartemennya. Di sana, ia dapat melihat orang yang tadi menelponnya. Seorang pria kurus berkacamata sedang menatap ke arahnya. Lalu ia menekan sebuah tombol dan 'ceklek', pintu pun otomatis terbuka.

"Selamat pagi, pak Alvin" sapa pria kurus itu menganggukkan kepalanya sambil masuk dan kembali menutup pintu.

"Pagi" sahut Alvin sambil kembali berjalan menuju kamarnya yang segera diikuti oleh pria kurus itu.

"Apa jadwalku hari ini, Kris?" tanya Alvin ketika ia sedang berada di dalam ruang ganti dan memilih-milih pakaian apa yang akan dikenakannya hari ini.

"Hmm...hari ini anda ada janji makan pagi dengan nona Selene di hotel Ritz jam 8" sahut Kris dari luar kamar ganti "Lalu---"

"Tunggu" seru Alvin memotong perkataan Kris "Makan pagi dengan Selene?" tanyanya sambil mengenakan kemejanya.

"Benar, pak Alvin" jawab Kris "Tadi pagi-pagi sekali nona Selene sudah menelpon saya dan berulang kali mengatakan agar saya tidak lupa mengatakannya pada anda---"

Alvin menghela napasnya "Dasar gadis itu. Kemarin aku sudah menolaknya, ia tetap saja memaksa. Benar-benar gadis keras kepala"

Kris tersenyum kecil mendengar perkataan bosnya. Sebenarnya ia sama sekali tidak mengerti mengapa bosnya itu selalu menolak gadis itu padahal Selene adalah gadis yang cantik, sangat cocok bersanding dengan bosnya yang tampan. Tapi bila dipikirkan lagi, selama ia bekerja dengan bosnya itu belum ada satu pun gadis yang berhasil menarik perhatiannya. Padahal di mana pun bosnya berada, ia selalu menjadi pusat perhatian para gadis. Tentu saja hal itu tidak mengherankan. Memangnya siapa yang tidak tertarik dengan pria tinggi, berbadan proposional dan berwajah tampan serta memiliki senyum yang menawan seperti bosnya itu.

Tak lama kemudian Alvin pun keluar dari ruang ganti dengan berpakaian rapi."Kris, kamu telpon balik padanya dan katakan padanya aku tidak bisa" ucapnya sambil memasang arloji di tangannya.

"Itu tidak mungkin dapat dilakukan, pak" ucap Kris.

"Mengapa? Katakan saja padanya kalau aku harus meeting dengan Mr. Gerald"

"Tetap saja tidak bisa, pak" ucap Kris bersikukuh.

"Mengapa?' tanya Alvin lagi.

"Karena nona Selene telah mengatakan pada Mr. Gerald bahwa anda akan datang terlambat karena akan menemaninya sarapan terlebih dahulu"

"Apa? Dia juga mengatakan seperti itu?"

"Benar" angguk Kris.

"Astaga..benar-benar gadis itu" keluh Alvin "ternyata dia memakai cara seperti itu untuk memaksaku"

"Jadi bagaimana, pak?"

Alvin menghela napasnya. "Ya..kalau begini mau bagaimana lagi. Terpaksa aku menemuinya. Siapa suruh Mr. Gerald yang adalah atasanku juga merupakan ayahnya" gerutunya sambil keluar dari kamarnya.

My Careless Cleaning 'Boy'Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang