Previous Page of 2Next Page

Kisah Cinta Kahlil Gibran Bernuansa Kesedihan. Mau tau?

spinner.gif

Kisah Cinta Kahlil Gibran Bernuansa Kesedihan. Mau tau? 

Oleh Muhammad Adam Hussein Adamssein

Percaya atau tidak, bahwa kehidupan Cinta Kahlil Gibran penuh dengan kisah sedih dan mengharukan. Jika tetap tak percaya, silahkan baca ulasan dibawah ini.  

Adamssein ucapkan Selamat Membaca!

Dalam perjalanan masa muda Kahlil Gibran ada beberapa hal dan peristiwa yang penuh kesdihan, yaitu; 

rasa cintanya kepada Ibu dan keluarganya, rasa cinta kepada tanah airnya dan hubungan cintanya dengan perempuan-perempuan 

yang pernah dekat dengan perasaannya, baik dengan kekasih maupun sahabat yang mengerti dirinya. Cinta romantiknya 

tak pernah menjadi seperti harapannya dan berakhir dengan kesedihan, meski kemudian dia mencoba menjalin cinta kembali 

dengan beberapa wanita yang amat dekat dan mempengaruhi hidupnya. Sampai akhir hidupnya ia tetap hidup sendiri. 

Pengalaman ini membuat tutur bahasa Gibran tentang cinta hampir semua bernuansa kesedihan.  

Beberapa perempuan yang sangat mempengaruhi Gibran yaitu;

1. Hala Dakhir 

Pada liburan musim panas kedua di Bisharri, Gibran menegnal keluarga Tannous Asad Hanna Dakhir yang terkemuka di masyarakatnya. Kemudian Gibran jatuh cinta terhadap putri Tannous Asad Hanna Dakhir begitupun dengan Hala Dakhir. Di sebuah hutan dekat biara Mar Sarkis adalah tempat pertemuan rahasia mereka berdua oleh karena hubungan cinta Gibran dan Hala dilarang oleh kakak Hala. Hubungan mereka kemudian berakhir dengan perpisahan yang menyedihkan. Dalam "Sayap Sayap Patah", Gibran mengenang Hala dengan nama Selma Karamy yang dipaksa menikah dengan keponakan seorang Uskup. Sayap Sayap Patah menetapkan Gibran sebagai seorang pembela hak asasi perempuan Pertama di Timur Tengah. 

Gibran juga mengutarakan sifat temperamen masa remajanya: "tercabik oleh dua kekuatan. Kekuatan pertama mengangkatnya dan menunjukkan kepadanya keindahan eksistensi llewat mega impian: yang kedua mengikatnya pada bumi dan memenuhi matanya dengan debu serta menguasainya dengan kecemasan dan kegelapan. Dalam The Broken Wings, Gibran dapat meredakan sifat temperamennya ketika hubungan cintanya dimulai dengan Hala Dakhir. (Bushuri dan Joe Jenkins, 2000 : 51)

2. Josephine Preston Peabody 

Seorang penyair wanita yang lembut dan luar biasa cantik ini berusia 24 tahun, berasal dari keluarga ningrat. Josephinelah yang menghibur Gibran ketika Ibunya sakit dan tahun-tahun berduka Gibran ketika meninggalnya. Atas bantuannya lukisan-lukisan Gibran memperoleh sambutan hangat dari masyarakat seni dan sekaligus menjadikannya seorang seniman. Josephine menulis puisi pendek yang diberinya judul "Hits Boyhoos" dan kemudian mengubahnya menjadi "The Prophet". Menurut banyak pengamat bahwa benih-benih agung dalam tulisan Gibran yang terakhir The Prophet kemungkinan tumbuh ketika berteman dengan wanita lembut ini. (Young, 1927 : 107). 

Pada pameran foto Fred Holland Day di Boston Camera Club 1898, adalah pertemuan pertama kali mereka, Gibran yang waktu itu berusia 15 tahun dan Josephine berusia 24 tahun. Tiga tahun kemudian, sepulang Gibran dari Lebanon mereka semakin dekat. Bagi Josephine, hubungannya dengan pemuda Lebanon ini menggugah imajinasinya dan memberinya wawasan ke dalam wilayah pemikiran baru; sedangkan bagi Gibran, Josephine menggerakkan di dalam dirinya perasaan-perasaan kuat di ilhami oleh kecantikannya dan kecemerlangan pikiran-pikiran Josephine. (Brushui dan Joe Jenkins, 2000 : 60-61). Pada ulang tahun Josephine yang ke 31 hubungan mereka berakhir.

3. Mary Elizabeth Haskell 

Perempuan yang menjabat sebagai seorang Kepala Sekolah di Miss Haskell's School for Girls di Malborough Street, Boston yang populer. Pembawaannya anggun dan ramah ia mengilhami murid-muridnya untuk belajar dengan baik. (Bushrui dan Joe Jenkins, 2000 : 139). Bulan Desember 1910 Mary dan Gibran makin sering menghabiskan waktu bersama-sama. Sebagai guru, Mary cermat membantu Gibran menyempurnakan bahasa Ingris lisannya, dan bermalam-malam ia membaca keras-keras puisi Swinburne untuk Mary (Bushrui dan Joe Jenkins, 2000 ; 141). Hubungan mereka yang makin erat, dan cinta mereka satu sama lain makin besar tercermin dalam Jurnal Mary. Karena mengenali semangat yang sama dalam diri Mary pada 10 Desember 1910, Gibran mengatakan kepada Mary "andainya bisa," menikahinya, tapi Mary menolaknya. (Gibran, 1915 : 23). 

Mary amat penting dalam perkembangan Gibran sebagai seorang laki-laki sekaligus filsuf dengan visi penyair. Dalam sebuah kalimat ia mengungkapkan hubungan mereka: "aku tertarik kepadamu dalam suatu cara istimewa, waktu pertama kali melihatmu. Aku kenal banyak orang di Boston waktu itu, orang lain mengganggap aku menarik. Mereka senang mengajakku bercakap-cakap, karena aku tidak lazim bagi mereka. Tetapi kau benar-benar ingin mendengar apa yang ada di dalam diriku. Kau terus membuatku menggali lebih dalam." (Bushrui dan Joe Jenkins, 2000 : 65).

Previous Page of 2Next Page

Comments & Reviews (2)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended