Zion Academy | Volume 1 | Chapter 2

7.5K 80 4

"Ready to Love"

Chapter 2

Aku berlari kencang menuju tanah lapang. Latihan menembak seperti biasa. Yang berbeda adalah aku terlambat. Biasanya aku datang paling awal, tapi kali ini aku terlambat. Ini semua gara-gara Fla yang memaksaku menemaninya bertemu Niel dari kelas Dovexple tahun yang sama denganku dan Fla. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas lama sekali. Karena kesal aku tinggalkan Fla disana. Aku tidak mau kehilangan waktu latihan menembak sedetikpun.
"Sorry, Mr. Louch. I'm late," kataku dengan nafas terengah-engah.
Mr. Louch melihat ke arahku dan tersenyum simpul. "It's okey, Jeje. Please take your gun. We already begun the exercise," kata Mr. Louch.
Aku mengangguk dengan semangat. Lantas mengambil sebuah pistol yang biasa disebut triplegun. Pistol yang bisa diisi 3 jenis peluru. Diamondbullet untuk monster, silverbullet untuk vampire dan goldbullet untuk vamangitch. Untuk mengganti peluru saat akan menembak sasaran, cukup dengan memutar tempat peluru. Agak merepotkan tapi cukup akurat. Hanya dengan satu tembakan sudah bisa membunuh musuh tapi asalkan mengenai jantung. Tapi untuk vamangitch, butuh 2 peluru untuk melumpuhkannya.
"Kamu siap?" tanya Mr. Louch.
"Iya," kataku sambil memutar pistol di kedua jempol tanganku.
"Gadis pintar. Sekarang saya memberimu tugas khusus," kata Mr. Louch.
Tugas khusus? Aku menatap Mr. Louch dengan bingung.
"Guncassi digunakan untuk jarak jauh. Dan di sana..." Mr. Louch menunjuk ke ujung lapangan. Ada deretan papan bundar berwarna putih berjejer di sana. Ukurannya mungkin semeter dengan bulatan merah yang tersebar di seluruh penjuru papan.
"Lalu?" tanyaku penasaran.
"Selalu ada kemungkinan musuh juga bersenjata. Jadi kamu harus menembak papan itu tepat di bulatan-bulatan kecil di sana dan menghindar secepat mungkin. Karena..."
Mr. Louch menghentikan penjelasannya. Sebelum sempat aku bertanya, dia telah mengambil pistol dan menembakkannya ke papan.
Dorr! Tembakan yang sangat bagus, tepat mengenai bulatan merah. Tapi...
Syut! Peluru itu kembali ke arah Mr. Louch. Dia menghindar dan peluru menancap sempurna di batang pohon di belakang kami. Aku mengerti kenapa aku harus menghindar dengan cepat. Karena aku bisa terkena peluru itu.
"Untuk keamanan yang lain, saya memasang panel penghalang peluru. Dan kamu, Jeje, saya beri kesempatan pertama untuk mencoba."
Aku menelan ludah. Wow! Ini tantangan yang sangat menegangkan. Aku berjalan memasuki arena seoptimis mungkin. Aku mengambil nafas panjang dan ancang-ancang. Huft! Jeje, kamu harus berhasil.
"Mulai!" seru Mr. Louch. Dia menaikkan panel pelindung dan aku mulai menembak.
Ada 10 bulatan di tiap papan. Karena pelurunya kecil, bulatannyapun kecil. Aku menarik pelatuk lima kali di setiap pistol. Dan aku berlari secepat mungkin. Aku tidak tahu pasti tembakanku kena atau tidak. Aku sibuk menembak lalu lari.
"Selesai!" seru Mr. Louch.
Aku melempar tubuhku ke rerumputan dengan nafas hampir putus. Benar-benar melelahkan. Aku capek!
"Good job, Jeje!" kata Gia, teman sekelasku. Ia melempar sebotol minuman dingin padaku.
"Not bad. Ada 3 yang meleset. Thanks," kataku sambil mengacungkan botol minuman darinya.
"No problem. Oya, aku dengar Fla jadian dengan Niel. Apa benar?" tanyanya.
Aku berhenti minum lalu mengangkat bahu. "Mungkin. Aku tidak tahu pasti."
"Begitu. Aku rasa mereka serasi."
"Entahlah. Biasa saja rasanya," kataku.
Gia memajukan bibirnya. Mungkin kesal dengan tanggapanku. Aku memang tidak begitu tertarik dengan cinta. Untuk kak Dae, itu pengecualian. Dia baik. Karena itu aku menyukainya. Sebatas suka, tidak lebih.
"Kamu belum merasakan yang namanya cinta," gumam Gia. Aku hanya menjulurkan lidahku. Aku memang belum pernah jatuh cinta. Ah, tidak. Hanya sekali. Saat aku berumur 6 tahun. Benar-benar cinta yang aneh. Aku tidak ingat orang itu sedikitpun.
"Oya, elfbracelletmu ada pada Mr. Gavin," kata Gia tiba-tiba.
"Ya, aku akan mengambilnya nanti."
"Gianivez!" seru Mr. Louch.
"Oh, giliranku. Doakan aku berhasil ya," kata Gia.
"Okey!"
§

Aku memanggul tas ranselku di pundak kiriku dan tangan kananku menenteng pedang yang ku dapatkan pada pelajaran teori shawsword. Aku berjalan lurus menyusuri koridor belakang. Lantas berbelok menerobos taman dan sampai di bangunan megah di seberang taman. Ruang kepala sekolah. Aku mengetuk pintu sekali dan pintu itu langsung terbuka. Aku berjalan menyusuri ruang kosong yang penuh dengan lilin bergantungan di langit. Sedikit menyeramkan karena cahayanya redup. Aku berhenti tepat di depan pintu kayu Etz berwarna coklat tua di depanku. Pintu ruang kepala sekolah. Sebelum sempat ku ketuk pintunya, pintu itu telah terayun terbuka dan sosok Ms. Amybeth muncul dari balik pintu.
"Ah, Jeje," kata Ms. Amybeth. Sepertinya dia kaget akan kedatanganku. Aku tersenyum simpul.
"Hai, Mom Amy. Apa kabar?" sapaku seperti biasa. Aku memang terbiasa memanggilnya dengan Mom.
"Baik, Jeje. Kamu pasti mau mengambil elfbracelletmu. Ah, elfbracelletmu ditahan Drion. Kamu harus merayunya untuk bisa mengikuti latihan memanah di darkwood minggu depan. Kamu tahu kan kalau ayahmu selalu takluk pada Drion," jelas Ms. Amybeth.
Aku mendengus pelan. Mr. Gavin yang merupakan kepala sekolah Zion Academy adalah ayah angkatku, jadi kak Drion adalah kakak angkatku yang menjadi waliku. Ayah Gavin memang takluk pada kakak. Jadi aku harus merayu kak Drion mau tak mau. Bagaimanapun caranya aku harus bisa mengikuti latihan memanah minggu depan di darkwood.
"Ah, baiklah. Aku memang harus merayu kakak yang menyebalkan itu," kataku.
"Ya, semoga berhasil seperti sebelum-sebelumnya," kata Ms. Amybeth sebelum meninggalkanku di depan pintu ruang kepala sekolah.
Aku mengetuk pintu sekali dan langsung membukanya. Di dalam ruang kepala sekolah, sudah ada ayah dan kak Drion. Ayah duduk dengan tenang di atas kursinya dan kakak nampak kesal dalam posisi berdiri.
"Hai," sapaku seramah mungkin. Senyum manis ku sunggingkan di bibir tipisku.
"Tidak usah menunjukkan senyum manismu. Aku tidak akan memberi izin ataupun menyerahkan elfbracellet ini!" kata kakak keras.
Aku mendengus pelan. Apa-apaan dia? Aku tidak suka tingkah over protectivenya. Ini sudah berlebihan. Kalau aku tidak boleh latihan, kenapa dulu dia memaksaku masuk ke Zion Academy. Padahal aku jelas-jelas menolaknya.
"Baiklah, terserah kakak," kataku singkat. Dan segera ku angkat kaki dari ruang kepala sekolah.
"Hei! Kenapa tidak merayu kakak seperti biasa?" seru kakak.
Aku tersenyum kecil. "Untuk apa aku merayumu, kalau akhirnya aku harus memakai dress yang menjijikan itu."
"Kamu tidak ingin latihan memanah? Kamu yakin?" Bisa ku tebak wajah kakak pasti gelisah.
"Ya, aku yakin. Aku bisa latihan sendiri. Cukup dengan keluar dari Zion Academy, dan datang ke Blackburrow, maka aku akan mendapatkan semua latihan yang kakak larang," kataku sinis.
"Ah! Tidak! Tidak! Kau tidak boleh ke Blackburrow! Aku akan memberi izin dan ini elfbracelletmu!" kata kakakku sambil meletakkan elfbracellet ke tanganku. Wajah kakak nampak ngeri.
Aku tersenyum penuh kemenangan. Hanya dengan mengancam ke Blackburrow, kakak langsung patuh. Blackburrow mungkin terdengar menyeramkan. Sebenarnya memang iya, tapi disana semua orang bisa latihan apapun yang mereka mau. Tapi tidak ada yang menanggung mereka hidup ataupun mati. Banyak orang yang mati atau tidak bisa kembali begitu masuk ke Blackburrow.
"Thanks, kakak," kataku dengan senyum kemenangan terlukis di bibir.
Kakak mendengus kesal. "Ah, aku bodoh sekali! Kenapa aku termakan umpan gadis kecil ini! Mana mungkin dia berani ke Blackburrow!"
Kakak mulai meratapi kebodohannya. Sementara aku tertawa puas sambil mengenakan elfbracelletku. Aneh! Kenapa elfbracelletku berwarna silver? Padahal punya Fla dan Gia berwarna gold.
"Ayah! Kenapa ini-"
Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, ayah sudah memotongnya.
"Itu silver elfbracellet, yang paling kuat. Aku memberikannya khusus untukmu. Peninggalan berharga dari ibumu," kata ayah.
Lidahku tercekat. Aku menatap elfbracelletku dalam diam. Ini milik ibuku. Akhirnya aku punya sesuatu yang pernah menjadi milik ibuku. Air mata haru mulai menetes ke pipiku.
"Jangan menangis," kata kakak sambil memelukku.
"Hiks...ini tangis kebahagiaan kok," kataku membela diri.
"Aish! Kau mau berbohong pada kakak? Hah? Aku tahu betul ini tangisan kesedihanmu karena ingat pada ibumu kan?"
Aku diam tak menjawab. Aku memang tidak bisa berbohong pada kakakku satu ini.
"Oya, karena kamu sudah punya pedang, kakak akan mengajarimu tekhnik menggunakan pedang. Kau tahu kan kalau kakak itu hebat," celoteh kakakku.
Aku jadi curiga. Tidak biasanya kakakku mau berbagi soal latihan pedang. Dia biasanya melarangku berlatih pedang ataupun yang lain. Pasti ada yang disembunyikan olehnya.
"Kakak tahu kan kalau aku orang yang teliti dan aku yakin kau menyembunyikan sesuatu!" kataku.
Kakak tertawa aneh. "Sial! Darimana kau belajar seteliti ini."
Dia menatap ayah dan menunjukkan ketidaksukaannya. "Ayah, ayolah, jangan beritahu dia."
"Itu sudah peraturannya, Drion. Kita tidak bisa melarangnya," kata ayah dengan bijak.
Beritahu apa? Apa yang mereka bicarakan? Aku tidak mengerti. "Ayah, ada apa?"
Ayah melayangkan senyum padaku. "Selamat! Sehari setelah latihan memanah, kamu mendapat tugas ke Orbplan. Melawan vampire dan monster disana," kata ayah.
Aku tersenyum puas. Aku langsung memeluk ayah erat-erat.
"Thanks, ayah!" kataku senang.
"Walaupun aku tidak satu tim denganmu, setidaknya kamu satu tim dengan Dae, Fla dan Niel. Aku bisa menyuruh Dae menjagamu!" kata kakakku.
Aku tersentak kaget. Aku satu tim dengan kak Dae? Apa aku bermimpi? Ah tidak!
"Pasti kakak yang mengaturnya kan!" omelku. Aku memukul bahu kakakku karena gemas. Dia berlari dan aku mengejarnya.
Inilah mengapa aku tidak bisa tergila-gila pada kak Dae secara terbuka. Karena kak Dae adalah teman baik kakakku. Sama-sama di tingkat 4 dan mereka sangat akrab. Aku menyukai kak Dae, juga karena kakakku sering mengajaknya ke rumah. Aku tidak tahu apa aku menyukainya sebagai kakak atau sebagai laki-laki. Aku hanya tulus menyukainya.