Halaman sebelumnya of 37Halaman selanjutnya

Wiro Sableng Wasiat Iblis

spinner.gif

Bastian Tito 

Serial 

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 

Wiro Sableng 

Wasiat Iblis 

SATU 

DUA penunggang kuda hentikan kuda masing-masing ketika tiba-tiba hujan turun menerpa 

bumi. Walau tidak lebat namun hawa tanah basah yang naik ke udara menyekat liang 

hidung membuat dua orang tadi mendengus beberapa kali. 

"Tanda celaka apa pula ini! Hujan turun padahal matahari bersinar terik di atas 

batok kepala!" Berkata penunggang kuda di sebelah kanan. Dia mengenakan pakaian hitam 

berupa jubah panjang. Wajah dan kepalanya kelihatan aneh. Matanya sebelah kanan besar 

membeliak tapi yang kiri kecil seolah terpejam. Kepalanya sulah namun hanya sebelah kiri 

saja sedangkan sebelah kanan ditumbuhi rambut lebat. Pada keningnya terdapat tiga buah 

guratan tegak. Guratan di sebelah tengah lebih tinggi dari dua di kiri kanan. Kumis 

melintang dan berewok sangar liar menutupi hampir separuh wajahnya. 

Jubah hitam, keadaan wajah dan kepala, tanda di kening serta sepasang mata yang 

aneh merupakan tanda pengenal yang tidak dapat disangsikan lagi oleh orang-orang rimba 

persilatan untuk adanya manusia satu ini. Dia adalah tokoh silat golongan hitam dikenal 

dengan julukan Tiga Bayangan Setan. 

Orang ini muncul membawa kegegeran dalam dunia persilatan sejak satu tahun 

lalu. Kabarnya dia membabat banyak tokoh-tokoh silat di kawasan timur. Lalu 

menghantam ke barat. Bahkan pesisir utara ikut disapunya. Selama malang melintang tak 

satu lawanpun sanggup merobohkannya. Tiga Bayang Setan tak mempan senjata tajam dan 

kebal terhadap pukulan sakti. Karenanya tidak salah kalau dia kini menjadi momok nomor 

satu dalam rimba persilatan. Beberapa tokoh silat golongan putih berusaha membuat 

perhitungan dengannya. Namun Tiga Bayangan Setan bukan saja berhasil lolos bahkan 

dengan kejam dia menghabisi tokoh-tokoh silat yang berani menantangnya. 

Penunggang kuda kedua mengenakan pakaian kain tebal robek-robek, dekil dan 

bau. Dia duduk di atas punggung kuda sambil rangkapkan kedua tangannya di depan dada. 

Lengannya ditumbuhi bulu-bulu lebat. Sebatas pergelangan tangan sampai ujung jari, 

sepasang tangan orang ini tidak menyerupai tangan manusia melainkan berbentuk kaki 

atau cakar elang raksasa berwarna merah dengan kuku-kuku runcing mencuat hitam pekat 

mengerikan. Konon bentuk tangannya inilah yang membuat dia dijuluki Elang Setan. 

Bicara soal tampang orang ini memiliki daging muka hancur rusak seperti dicacah. 

Kelopak matanya sebelah bawah menggembung bengkak berwarna sangat merah dan 

selalu basah. Di antara sepasang mata yang angker tapi juga menjijikkan itu melintang 

hidung tinggi bengkok seperti paruh burung elang. Tak salah kalau dirinya dijuluki Elang 

Setan. 

Dengan tangannya yang berbentuk cakar itu dia mampu mematahkan tombak, 

pedang atau golok lawan. Dengan cakar setannya dia mampu membobol perut, 

membongkar isi perut atau membetot lepas jantung lawan. Kabarnya kuku-kuku hitam di 

ujung cakar mengandung racun sangat jahat. Jangankan terkena cengkeram, tergurat saja 

sudah dapat membuat seseorang sekarat keracunan! 

Seperti Tiga Bayangan Setan, Elang Setan yang muncul hampir bersamaan setahun 

lalu telah pula membuat heboh dunhia persilatan dengan melakukan pembunuhanpembunuhan 

atas diri tokoh-tokoh silat ternama. Dia sengaja mencari tokoh silat tersohor 

untuk ditantang lalu dikalahkan dan dibunuh! Selama ini tak ada satu lawanpun yang 

sanggup menghadapinya. 

Antara Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan konon telah saling sumpah 

mengangkat saudara satu dengan lainnya. Sumpah itu disertai upacara melukai lengan 

masing-masing, lalu menempelkan luka setelah itu yang satu menghisap darah yang 

lainnya! Jika dua Setan bergabung jadi satu dapat dibayangkan bahaya apa yang kini 

tengah mengancam seantero dunia persilatan. 

Hujan telah berhenti. Elang Setan usap-usap rambutnya yang basah dengan cakar 

setannya. Dia memandang berkeliling. 

"Kau benar saudaraku! Hujan turun matahari mencorong! Membawa alamat yang 

tidak baik! Tapi apakah itu perlu ditakutkan?!" 

Tiga Bayangan Setan tertawa lalu meludah ke tanah. "Kau tahu, kira-kira di daerah 

mana kita saat ini?!" 

Elang Setan memandang berkeliling dengan sepasang matanya yang berkelopak 

gembung merah. "Sulit aku menebak. Tak kelihatan gunung tak nampak bukit. Namun 

ancar-ancarnya kalau aku tak salah kita mungkin berada jauh di barat Gunung Wilis." 

"Kalau dugaanmu benar berarti paling cepat saat matahari terbenam kita baru 

sampai di Kartosuro," ujar Tiga Bayangan Setan pula. 

"Kita teruskan perjalanan sekarang juga. Makin cepat sampai makin baik. Dadaku

Halaman sebelumnya of 37Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan