Florianne Wizardry

spinner.gif

Prologue

 

Matahari telah menutup setengah badannya. Menyisakan sinar-sinar merah-ungu yang berpendar indah mengelilinginya. Di bawahnya, orang-orang itu sedang berjalan beriringan. Mereka baru saja pulang dari tempat pemberian sihir. Tempat mereka melakukan keburukan, yang bahkan tidak mereka sadari. Mereka memperhatikan kanan dan kiri mereka yang dipenuhi penyihir-penyihir yang sedang menjalankan tugas mereka. Sesekali penyihir-penyihir itu menundukkan kepala mereka sedikit saat keempat orang itu melewati mereka. Mencoba untuk menyapa mereka.

“Suatu saat akan ada seorang penyihir yang sangat hebat,” kata Jarevard–penyihir tertua di antara mereka–pelan. Dan akibat dari perkataannya itu, ketiga saudaranya langsung menoleh cepat. “Bahkan lebih kuat dari kita berempat,” lanjutnya.

“Lebih kuat dari kekuatan keluarga Pedresse? Kurasa itu tidak mungkin.” Nessya menanggapi. Kepalanya menggeleng lemah dan sebuah senyum tidak percaya tertoreh di wajahnya.

“Semua penyihir hebat telah kita segel agar mereka tidak memberontak. Bukan begitu?” Carl menimpali. Ia setuju dengan Nessya.

Rievell tertawa kecil, namun terlihat sekali ia tertawa mengejek. “Apakah ia adalah keturunan penguasa Florianne?” tanyanya merendahkan. “Jelas sekali tidak mungkin. Nudreus telah memilih takdirnya dan ia telah membuat portal untuk dunia fatamorgana itu. Betapa bodohnya ia membesarkan dan mendidik keturunannya dalam dunia fatamorgana itu. Membiarkan mereka hidup dalam kebohongan yang disembunyikan olehnya. Sungguh tragis.”

Nessya mengangguk setuju.

“Kau tidak perlu khawatir, Jarevard. Keturunan ketujuh dari Nudreus telah lenyap. Dan orang-orang dalam dunia fatamorgana itu tidak ada yang mengetahui keberadaan kita. Lalu siapa yang bisa mengalahkan kita? Semua yang tersegel? Penyihir-penyihir bodoh itu?” Rievell menambahkan dengan raut wajah meremehkan.

Jarevard terdiam sejenak. Matanya menerawang ke bintang-bintang yang jauh di langit sana. “Entahlah kenapa aku bisa memiliki firasat seperti itu,” katanya lirih.

“Dia akan mewarisi kerajaan?” Carl bertanya dengan penasaran.

“Aku tidak tahu.” Jarevard menjawab lemah. Ia kembali fokus pada langkahnya. “Yang harus kau ingat, kau tidak bisa mendustakan takdir.”

Ketiga saudaranya mengerutkan kening mereka. Bingung dengan maksud kalimatnya. Jarang ia berbicara seperti itu. Dan dari nada berbicaranya, ia sama sekali tidak bercanda.

“Lalu, siapa kira-kira? Apakah ia adalah salah satu dari yang tersegel? Siapa lagi kalau bukan mereka?” Nessya mulai mempercayai Jarevard sedikit.

Jarevard tidak menanggapi apa-apa. Ia menganggap pertanyaan Nessya angin lalu. Ia menutup tudung jubah hitamnya dengan cepat dan melesat dengan kecepatan angin. Meninggalkan jejak-jejak kebingungan di wajah saudara-saudaranya.

“Kau tidak bisa mendustakan takdir.”

 

***

Komentar dan Ulasan (5)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan