Pesan Untuk Embun

spinner.gif

: Langit Senja
Sore itu aku memberanikan diri bertanya kepadanya soal kalimat suram yang ia sampaikan padaku tempo hari. Tentu aku takmendatanginya karena jarak kami amat jauh. Aku hanya bertanya padanya melalui sebuah surat elektronik berisi seikat alasan keberanianku menanyakan keberadaanku dalam kisah hidupnya. Aku mengiriminya sebuah alasan panjang tentang kebahagiaan atas kisah panjang perjalananku bertemu dengan-Nya.

Penyelinap    : Seperti biasa, kau selalu hebat

Langita             : Kau juga hebat. lalu masihkah aku memiliki kemungkinan itu?

Penyelinap    : Kemungkinan itu hanya milik Allah Ta. Namun, kali ini aku takbisa melanjutkan kisah itu. Hanya itu.

Langita     : Okey! Paling tidak, aku sudah memberanikan diri untuk bertanya.

Penyelinap    : Kau harus mencoba mencari lelaki yang lebih baik dariku.

Langita        : Hanya Allah yang bisa menyamakan persepsi antara pesan panjang  yang  kukirim dengan isi hatimu.

Setelah percakapan itu, aku berani mengatakan, perempuan itu mungkin bukan aku. Waktu bicara soal pernikahan, ia sedang berbasa-basi, melemparkan pertanyaan kosong tentang kegamangannya atas masa depan. Jawabannya membuatku sadar. Serupa tangan yang menampar pipiku saat taksadar tertidur di perjalanan. Kalimatnya mengingatkanku tentang kesiaan yang kupupuk berlipat-lipat waktu.

Pada waktu yang telah lama berlalu, aku sepertimu, berbahagia dalam kegelisahan. Dulu ia sempat pergi dariku, mengasingkanku dari hidupnya. Namun, perlahan ia timbul tenggelam dalam hari-hariku. Prilakunya itu membuatku kembali berpikir, “Ia sedang berjuang membenahi hidupnya, maka akupun harus ikut berjuang, bertahan dalam sebuah keyakinan akan kembalinya.” Berkemasnya kami waktu itu kupikir akan berakhir pada sebuah pertemuan di ujunga jalan. Bahkan aku sudah mengantongi sebuah pernyataan yang kusimpan rapi bila suatu hari nanti ia benar-benar kembali. “Jangan pernah pergi lagi!” Hmm.. Pernyataan itu benar-benar tersimpan rapi bahkan terkunci dalam palung hatiku. Ia terpencil kini. Ia terkucil oleh realitas yang mendesaknya pergi jauh.

Embun.. dia bukan lelaki yang singgah dan hanya berani ada didepan pintu. Dia bukan hanya lelaki yang takberani mengetuk apalagi masuk, seperti yang kau katakan. Dia adalah manusia ruang tunggu. Dulu.. dulu sekali, sejak pertama kami mengenalnya, aku pernah berkata padanya, “Jika kau lelah menunggu, sesekali bergeraklah ke luar, bukalah pintu, dan carilah takdirmu. Bolehjadi ia ada di depan pintu sedang menunggumu.” Ia pemalu. Ia amat pemalu. Lalu akulah perempuan penyelisihnya yang ia permalukan di muka bumi ini.

Aku seperti tertidur di musim dingin dan terbangun di musim panas. Keyakinanku seperti pakaian lengkap musim dingin yang seketika harus kutanggalkan di musim panas. Pernyataannya seperti petir yang menyambarku saat bermain-main di rintik hujan, di sisi taman. Dalam kondisi ini, apa dayaku selain benar-benar membenahi hati, berpikir kembali soal kecenderungan hati yang tidak dapat dicampuri kecuali oleh Pemilik langit dan bumi. Ia tersembunyi amat lubuk, jauh di dalam sana. Tidak dapat ditaksir dari raut muka. Ia digenggam erat oleh Pemilik semesta. Ia takterjangkau olehku yang renta.

Kini tugasku mengobati hati yang tertikam berkali-kali. “Jangan panik!” itu saja yang kuwanti-wanti pada diri ini. Hadapi apapun dengan biasa-biasa saja. Apapun, jika Ia tidak menghendaki, tidak akan terjadi. []

 

Bersambung…..

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended