Previous Page of 531Next Page

bakti pendekar binal

spinner.gif

Cerita silat karya Gu Long (1967), dengan judul asli: Jue Dai Shuang Jiao, atau dalam  

Bahasa Inggris: Legendary Siblings. Disadur ke dalam Bahasa Indonesia oleh Gan KL,  

dengan judul: Pendekar Binal. Pendekar Binal ini merupakan cetakan tahun 1993, terbagi 3  

seri @ 8 jilid.

Suatu hari sampailah Siau-hi-ji di tepi sungai, menghadapi gelombang sungai yang besar itu,  

tanpa terasa ia memperlambat langkahnya, sungguh ia berharap akan dapat melihat pula  

perahu kaum pengelana yang hidupnya terhina tapi berkepribadian luhur itu. Ia ingin melihat  

pula sepasang mata yang besar dan cemerlang itu.

Banyak juga perahu yang hilir mudik di tengah sungai, akan tetapi perahu kaum pengelana itu  

sudah tak nampak lagi bayangannya. Ke mana perginya mereka? Apakah masih tetap  

mengembara dan terombang-ambing kian kemari?

Sampai lama sekali Siau-hi-ji berdiri termangu-mangu di tepi sungai.

Entah sudah selang beberapa lamanya ketika tiba-tiba terdengar kesiur angin di belakang, lalu  

seorang menegurnya, "Maafkan jika saudara harus menunggu terlalu lama."

Meski merasa heran, tapi Siau-hi-ji tidak menoleh dan juga tidak bersuara.

Maka orang itu bertanya pula, "Kenapa saudara hanya sendirian? Di mana dua lagi yang  

lain?"

Siau-hi-ji tetap diam saja.

Dengan gusar orang itu berkata, "Sesuai kehendak kalian Cayhe sudah datang kemari,  

mengapa saudara malah tidak menggubris?"

Akhirnya Siau-hi-ji berpaling, katanya dengan tersenyum, "Mungkin kalian salah wesel, aku  

bukan orang yang hendak kalian cari."

Ketika ia lihat jelas tiga orang yang berdiri di depannya, tertampak orang yang paling kiri  

tinggi besar, memakai baju merah, jelas dia inilah si "baju merah golok emas" Li Beng-sing.

Pendekar Binal karya > Gu Long diceritakan oleh > Gan K.L. > published by buyankaba

Orang yang berada di tengah tampak gagah perkasa, dengan sendirinya dia ayah Li Beng-sing  

yaitu "Kim-say" Singa Emas, Li Tik. Seorang lagi bermuka kelam dan berjenggot pendek,  

yakni "Ci-bin-say", singa muka ungu, Li Ting, yang dahulu bertemu dengan Siau-hi-ji dan  

Kang Giok-long waktu berlayar itu.

Terkejut juga Siau-hi-ji demi melihat ketiga orang ini, wajahnya yang tersenyum hampir saja  

berubah menjadi kaku, untung di malam gelap sehingga ketiga orang itu tidak mengenalnya.

Cahaya bintang hanya berkelip-kelip, pula Siau-hi-ji sudah lebih tinggi daripada dulu,  

mukanya juga kotor, tubuhnya berlepotan minyak goreng, keadaannya lebih mirip seorang  

jembel.

Si Singa Emas Li Tik berkerut kening, katanya, "Kiranya seorang pengemis kecil."

"Untuk apa kau berdiri di sini?" bentak Li Beng-sing.

Previous Page of 531Next Page

Comments & Reviews (1)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended